
Tok tok tok
terdengar ketukan dari luar kamar Ara.
"Masuk..." kata Rizal.
Pintu di buka, masuklah pak Sam sambil membawa nampan berisi air teh dan makanan.
"Permisi Dokter, Nona Muda. Saya kemari di perintahkan tuan Rafa membawa makanan ini untuk Nona Muda. Kata tuan, teh manis bagus untuk diminum karena Nona baru sadar. Dan makanan ini di minta oleh tuan agar di makan. Karena nona belum makan apapun dari semalam sejak pulang dari bali. Tuan Rafa masih menemani Nyonya Maya dan Nona Nesa." kata Sam.
"Letakkan saja di meja, terima kasih pak Sam." ujar Rizal.
Sam segera meletakkan makanan di meja. Dia bergerak perlahan mendekat ke tempat tidur, mengamati Ara yang sedang menangis terisak.
"Nona muda, maaf jika saya bicara. Nona harus kuat ya, sabar, tabah dan tawakal. Nona jangan berlarut terus dalam kesedihan, nanti nona sakit. Kalau nona sakit, tuan muda pasti akan sangat sedih melihatnya. Nona tahu, tuan muda sangat menyayangi dan melindungi nona Sewaktu tuan muda masih hidup. Dia menjaga nona dengan baik." kata Sam pelan dan sopan.
Ara menatapnya dengan sendu, semua yang di katakan pak Sam memang benar.
"Sama seperti Nona, tuan muda pun pasti tidak ingin pergi secepat ini, berpisah dan meninggalkan nona yang sangat dia cintai. Dia pun ingin mau hidup lebih lama mendampingi nona. Tapi apa daya tuan muda melawan takdir Allah? Kita semua tidak akan bisa menentang apa yang sudah di tetapkan Allah. Hari ini tuan muda yang pergi, besok mungkin saja sala satu di antara kita yang akan menyusulnya. Apa daya kita? Suatu saat nanti, takdir juga akan membawa kita kembali kepadanya." ucap sam kembali pelan dengan mata berkaca-kaca.
Ara semakin terisak mendengar ucapan Sam. Dia bangun dan mendekati Sam. Lalu langsung memeluk tubuh pelayan tua itu sambil menangis keras. Sam terkejut, ingin melepaskan diri. Tapi Rizal cepat memberi isyarat untuk diam.
Hati dan terenyuh ikut menangis mendengar tangisan yang menyayat hati. Perlahan dia menyapu kepala Ara lembut.
"Seandainya takdir boleh di tukar, saya ikhlas dan bersedia menggantikan posisi tuan muda. Saya ingin melihat tuan Raka lebih lama hidup bahagia bersama dengan nona. Tuan muda pernah mengatakan, kebahagiaan dan semangat hidupnya adalah nona. Dia selalu berdoa, Allah memberikan ia kesehatan dan umur yang panjang agar bisa lebih lama hidup untuk mendampingi dan menjaga nona. Tapi, Allah sudah menentukan takdirnya lebih cepat." sambung Sam kembali terbata bata karena sedih.
Ara semakin terisak.
Sam menyapu pelan bahu dan rambutnya.
"Sabarlah nona, mungkin ada hikmah yang telah Allah persiapkan untuk nona. Nona harus tetap kuat dan melanjutkan hidup dengan baik meski tanpa tuan muda." perlahan Sam melonggarkan pelukannya, menatap wajah sendu dengan mata yang semakin membengkak.
__ADS_1
"Nona boleh bersedih atas kepergiannya, tapi jangan sampai kesedihan Nona membuat noan sakit. Tuan muda juga akan kehilangan kebahagiaannya di alam kubur melihat nona menderita begini. Nona tidak ingin kan tuan muda tersiksa dan tidak bahagia di alam keabadiannya?" ucap Sam kembali menatapnya lekat.
Ara menggelengkan kepalanya.
Sam tersenyum.
"Jika nona butuh sesuatu, beritahu saya. Jangan sungkan untuk memberi tahu apa pun yang nona butuhkan. Tidak akan ada yang berubah, saya akan selalu siap melayani nona, meski tuan muda tak lagi ada." ujar Sam.
Ara mengangguk. Dia sangat terharu.
"Terimakasih pak Sam, saya akan berusaha untuk menguatkan hati dan menerima cobaan ini dengan ikhlas dan lapang dada ! Bapak benar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Kita semua akan kembali kepadanya sesuai takdir masing-masing yang telah di atur oleh Allah." ucap Ara pelan.
Sam mengangguk tersenyum, hatinya sedikit lega mendengar ucapan nona mudanya. Sam menepuk bahunya pelan.
"Saya turun dulu, nona makanlah walau hanya sedikit saja." dia menundukkan kepalanya lalu berbalik dan keluar.
Rizal mendekatinya.
"Minumlah walau hanya sedikit, perutmu kosong dari semalam." menyodorkan gelas teh.
Ara menerimanya dan meneguk dua tegukan. Rizal kembali mengambil gelas itu.
Terdengar suara azan dari hp Ara, waktunya shalat Magrib, bersamaan dengan suara panggilan telepon yang masuk di ponsel Rizal.
"Tunggu sebentar." katanya
"Dokter, pergi saja. Pasti dokter ada pekerjaan di rumah sakit, saya nggak apa-apa kok." ucap Ara.
"Nggak, ini bukan telepon penting." Rizal segera mengangkat telepon, berbicara sejenak lalu mematikannya. Kemudian kembali mendekati Ara.
"Kamu makan ya,"
__ADS_1
"Aku nggak lapar dok."
"Bukan nggak lapar, tapi karena tidak ada selera makan. Perut mu kosong, kamu harus mengisinya walau hanya sedikit."
"Nanti aku akan memakannya, aku ingin istirahat dulu sebentar, aku mengantuk." ucap Ara.
"Tidurlah, aku akan menjagamu di sini."
"Itu tidak perlu. Dokter pergi saja, dokter juga harus istirahat, sudah seharian dokter di sini"
"Aku menghawatirkan mu Ara,"
"Dokter tidak perlu cemaskan aku. Aku baik baik saja, aku hanya ingin tidur sebentar." ucap Ara tersenyum berusaha untuk terlihat baik baik saja.
"Baiklah, tapi kalau kau butuh sesuatu hubungi aku oke?" kata Rizal mengalah seraya menyapu lembut puncak kepalanya.
Ara mengangguk.
Rizal segera keluar dan menutup pintu pelan.
Ara meraba-raba pelan tempat di sampingnya, tempat tidur suaminya, sekarang tempat itu kosong. Dia menelan ludah pahitnya.
"Kakak, aku merindukanmu." bisiknya sendu. Ara bangkit perlahan, mengambil pakaian suaminya. Di peluk erat dan di ciumnya berulang kali, menyesap bau aroma wangi tubuh suaminya di sana. Matanya kembali basah, tapi dia berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar.
Ara tidak ingin orang orang di rumah ini mendengarnya kembali menangis. Ara tidak ingin mereka panik dan sibuk mengurusi dirinya. Karena mereka juga sedang di rundung kesedihan sama seperti dirinya. Dia harus berusaha kuat dan tegar, meski hatinya sangat sulit. Entah sudah berapa lama dia menangis dan termenung, akhirnya dia tertidur karena lelah terlalu lama menangis meratapi kesedihan seorang diri.
Beberapa menit kemudian Rafa masuk ke kamar Ara setelah Rizal pamit padanya. Dia baru dari kamar Maya dan Nesa. Menenangkan mama dan kakak perempuannya yang menangis histeris memanggil Raka. Juga menenangkan si kembar yang terus menangis seakan merasakan kepergian Paman mereka. Rafa duduk di bibir ranjang melihat Ara yang tertidur sambil memeluk pakaian Raka. Wajah sembab, merah, kedua ujung mata yang basah. Sesekali terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya sambil menyebut nama Raka. Hati Rafa sangat terenyuh melihat keadaannya yang memprihatinkan. Rafa membelai lembut rambutnya. "Sabarlah, kau harus kuat menghadapi cobaan ini!" ucap Rafa pelan. Dia menoleh pada bingkai foto Raka dan Ara. Meraba lembut wajah adiknya."Adikku, istirahat lah dengan tenang dan damai. Jangan mencemaskan Ara. Kakak berjanji akan menjaganya seperti kau menjaga dan melindunginya. Kakak akan menjaganya seumur hidup kakak." ucapnya sendu menatap wajah Raka. Air matanya kembali meleleh. Dia terus duduk menemani dan menjaga Ara di tempat tidur. Agar saat gadis ini terbangun tidak akan ketakutan dan merasa kesepian melihat Raka tak lagi di sampingnya.
*****
Happy reading, jangan lupa like, hadiah, vote dan komentnya ๐โบ๏ธ
__ADS_1