Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 280


__ADS_3

Cindy menggunakan taksi menuju kampus. Dalam perjalanan dia menelpon Ines.


"Nes, apa kau udah di kampus?"


"Iya, gue baru aja nyampe. Lo di mana sekarang?"


"Gue udah dekat. Apa Ara sudah datang?"


"Dia sedang dalam perjalanan."


"Tungguin aku di pintu gerbang ya..?"


"Oke, tapi ada dengan suara lo? serak gitu?" tanya Ines menangkap suara serak Cindy.


"Nggak ada apa apa. Udah ya___bye." telepon di matikan. Dia bukan tidak ingin menjelaskan permasalahan rumah tangga pada sahabatnya itu, tapi sekarang dia berada di dalam taksi. Dia tidak ingin sopir taksi mendengar. Cindy menoleh ke belakang.


Melihat ke mobil karjo yang mengikutinya.


15 menit berlalu taksi berhenti di jalan raya depan kampus. Setelah membayar ongkos, Cindy segera turun menuju pintu gerbang.


Dia melihat Ines berdiri seraya melambaikan tangan ke padanya.


"Hay Ny presdir." sapa Ines tersenyum. Tapi senyumannya langsung surut setelah melihat wajah kusut Cindy, mata cipit bengkak, bawah mata gelap.


"Kau kenapa Cind? kayak baru menangis gitu?" memegang dan mengamati wajah Cindy.


"Nggak apa-apa." Cindy menelan ludah dan mengulas senyum.


"Kau juga datang sendiri hanya naik taksi gak di antar kak Dion. Biasanya kak Dion selalu ngantar kamu kemana mana, apalagi kamu lagi hamil begini."


"Gak apa-apa Nes, ayo kita ke dalam." menarik tangan Ines berjalan. Ines mengikutinya.


Mereka menuju parkiran untuk menunggu Ara, karena Ara meminta menunggunya di situ.


"Apa ada masalah? Apa kau bertengkar dengan kak Dion?"


Cindy geleng-geleng kepala. Tanpa sadar dia mendesah sedih, matanya berkaca-kaca.


"Cindy... ayolah. Bilang ke aku.. jangan menyembunyikan apapun lagi padaku seperti kau sedang hamil dulu. Kau sudah berjanji pada aku dan Ara tidak akan menutupi apa pun jika punya masalah." Ines memegang kedua bahunya.


Kesedihan Cindy langsung membuncah, airmatanya seketika jatuh. Dia langsung memeluk Ines.


"Ada apa Cind?" Ines kaget.


"Ayo cerita ke aku." kata Ines kembali balas memeluknya.


Cindy diam masih terus menangis.


Mobil yang di naiki Ara masuk di parkiran.


Berhenti 10 meter dari tempat mereka.


Wisnu segera keluar dari dalam mobil. Seperti biasa dia selalu memperhatikan sekelilingnya. Matanya berhenti pada Ines dan Cindy yang sedang berpelukan. Wajahnya mengernyit melihat kedua wanita itu tampak sedih.


Di dalam mobil.

__ADS_1


πŸ“ž"Ante udah nyampe di kampus. Nanti ante telepon lagi ya sayang?" kata Ara yang saat ini sedang bicara dengan si kembar Cio Cia di telepon.


πŸ“ž"Jagain baby girl Cio baik baik ya..!" pesan Cio.


πŸ“ž"Iya sayang. Sudah ya, assalamualaikum."


πŸ“ž"Waalaikumsalam ante___" jawab si kembar.


Telepon di matikan.


Semalam dia dan Rafa tidur di rumah utama, karena kerinduannya pada si kembar, dan si kembar juga merindukan mereka.


Kedua bocah itu tak sedikitpun beralih dari Ara. Mengajak bicara pada janin dalam kandungannya, mengecup ngecup perutnya, mengelus dengan lembut. Terutama Cio yang selalu nempel di perut Ara menyebut nyebut baby girl nya.


Cio tak memberi kesempatan pada Rafa berduaan dengan Ara.


Ara mau makan dan minum di ambilin oleh keduanya. Bahkan susu hamil Ara pun di buat oleh Cio dengan bantuan Sita.


Dan itu membuat Rafa kesal dan gemas, hingga keduanya bertengkar. Ara, Maya dan Nesa tertawa melihat keseriusan pertengkaran mereka. Rafa sangat senang dan terharu kedua keponakannya sangat menyayangi Ara dan calon bayinya.


"Sayang. Nanti di kampus hati hati ya? Kalau jalan pelan pelan jangan terburu-buru. Jangan meraih benda pada tempat yang sulit di jangkau. Kalau kau capek istirahatlah di ruangan ku! Aku sudah menghubungi rektor memberi tahukan kalau kau datang ke kampus hari ini. Ada Florencia yang menjagamu. Jika rapatnya udah selesai kakak akan jemput kamu." kata Rafa dengan tangan mengelus lembut perut istrinya.


Rafa sudah melarang Ara untuk ke kampus.


Kalau hanya persoalan mengurus berkas Wisuda, tidak perlu repot-repot untuk menyiapkannya. Satu perintah darinya kepada pihak kampus akan membuat semuanya langsung beres. Tapi Ara tetap memaksa untuk datang karena rindu kampusnya dan juga teman-teman.


"Gak usah kak, kakak kerja saja. Aku akan naik mobil mang saleh. Udah lama aku gak bertemu dan naik mobil beliau." Ara keluar dari pelukan suaminya. Dia segera memakai tasnya.


Rafa membantu merapikan pakaian dan rambutnya.


Ara tersenyum.


"Sayang, cium dulu. Aku perlu vitamin dan energi dari bibirmu. Biar aku kuat dan semangat untuk kerja." memegang wajah istrinya.


Ara manyun manyun melihatnya. Sejak mengetahui kehamilannya, Rafa bukan hanya makin protektif dan posesif, tapi juga manja melebihi Cio dan Cia.


"Minum vitamin sama makan yang banyak dong kak, biar punya energi dan kekuatan." kata Ara menatapnya cemberut.


Rafa tersenyum lebar.


"Sayangku cintaku! Hanya kamu semangat dan kekuatan hidupku. Aku akan lemah, jatuh tak berdaya bila tak ada kau di sisiku." Rafa kembali memeluknya penuh kasih sayang, menyesap aroma wangi.


Lalu mencium lembut bibir istrinya yang tampak bengkak. Kemudian beralih mengecup kening dan perut.


"Hati hati sayang yaaa? Jaga dirimu dan anak kita dengan baik. Aku mencintaimu." mengecup tangan Ara.


"Aku juga mencintai kakak." balas Ara tersenyum.


Rafa segera mengetuk pintu. Pintu di buka dari luar oleh Wisnu. Ara segera keluar, Rafa melambaikan tangannya kepadanya.


"Ines__ Cindy," panggil Ara sedikit keras pada kedua temannya. Dia segera melangkah mendekati teman temannya.


Ines dan Cindy juga segera melangkah menyambutnya.


Setelah terlebih dahulu Cindy melap airmatanya.

__ADS_1


Ketiganya kembali berpelukan kayak Teletubbies.


Rafa tersenyum melihat persahabatan


di antara mereka yang seperti kepompong.


Persahabatan yang sudah terjalin selama empat tahun.


Persahabatan sejati, yang selalu ada di setiap keadaan baik, senang maupun susah. Yang satu bahagia semuanya ikut bahagia.


Dan jika yang satu sakit dan terluka, semua akan merasakannya.


Wisnu segera masuk ke dalam mobil setelah memberi kode pada Florencia yang berpura pura menjadi mahasiswa. Dan juga pada sebuah mobil di belakang mereka. Di dalamnya terdapat empat orang bodyguard di tugaskan khusus menjaga Ara saat Ara lagi berada di luar seperti ini.


Lalu dia segera menjalankan kendaraan menuju jalan raya menuju kantor DRA Group, kantor perusahaan Dionel Raymond Alkas.


Kedatangan Ara Ines dan Cindy untuk mengurus berkas Wisuda terlupakan setelah melihat wajah sedih Cindy yang memprihatinkan. Dengan menggunakan lift yang telah di sediakan oleh suaminya untuknya, Ara mengajak kedua sahabatnya itu kelantai atas di mana terdapat ruang pribadi suaminya sebagai pemilik yayasan Universitas ini.


Seperti yang ada dalam pikiran Rafa tadi, persahabatan mereka yang seperti kepompong. Jika yang satu sakit maka yang lain juga akan merasakan sakit.


Inilah Sekarang yang di rasakan oleh ketiga sahabat ini. Ketiganya menangis tersedu sedu setelah Cindy menceritakan masalah yang menimpa rumah tangganya.


Mereka menangis saling berpelukan ikut meratapi kesedihan sahabat mereka.


Mereka sungguh tidak menyangka Dion akan melakukan hal rendah dan menyakiti Cindy yang sedang hamil.


"Sabar Cind, kau harus kuat. Jangan sampai kau stress. Kasihan janin mu. Nanti aku akan bicara dengan kak Dion." kata Ara menyapu air sahabatnya yang terus mengalir.


.


.


Ruang rapat DRA Group. Yang di hadiri oleh semua pemegang saham yang bekerja sama dengan DRA Group termasuk Rafa. Saat ini sedang di adakan rapat Perdana awal kepempimpinan Dion sebagai direktur utama terpilih untuk menyampaikan visi dan misinya.


Tapi karena permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya membuat Dion tidak fokus. Akhirnya Toni dan Ray yang mengambil alih.


Dion segera keluar meninggalkan ruang rapat untuk menghubungi Cindy.


"Ada apa dengannya?" tanya Rafa pada Wisnu begitu keluar dari ruang rapat.


Wisnu tidak menjawab karena tidak tahu.


"Apa ada masalah?" tanya Rafa kembali.


Dan Wisnu hanya diam lagi tak menjawab.


Langkah mereka melambat ketika mendengar suara orang sedang marah marah dan memaki. Tepatnya di dalam ruang kerja Dion yang pintunya sedang terbuka.


"Pecat dia dan seret ke kantor polisi." teriak Dion keras."****...!" di susul umpatan.


Dia menyuruh staf hotel bagian cctv melihat rekaman video yang terjadi semalam di depan kamar hotel yang di gunakan Bela untuk menjebaknya. Tapi ternyata salah seorang staf yang telah di bayar tinggi oleh Bela menghapusnya. Sehingga dia kehilangan bukti untuk di perlihatkan pada Cindy.


Dion kembali menghubungi Cindy, Tapi nomor istrinya itu tidak aktif. Tadi dia menghubungi Cindy tapi tidak di angkat, sekarang nomor istrinya itu tidak aktif. Dan itu membuatnya sangat khawatir.


"Apa dia sengaja? Angkat Cin... tolong angkat jangan seperti ini." katanya gusar menahan emosi. Dia kembali mengeram keras karena tidak ada jawaban.

__ADS_1


Rafa dan Wisnu kembali melanjutkan langkah.


Bersambung.


__ADS_2