Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 306


__ADS_3

Kediaman pribadi Rafa dan Ara.


Rafa dan Ara baru selesai menyelesaikan ritual mandi mereka. Rafa segera memakaikan bathrobe ke tubuh istrinya. Setelah itu memakai handuk pendek yang hanya menutupi bagian penting miliknya. Lalu mengangkat tubuh istrinya dan di dudukan di meja rias.


Seperti biasa, Rafa mengeringkan rambut Ara yang basah di selingi kecupan kecupan manis di kening, hidung, pipi, bibir dan dagu Ara.


Yaaa..... sebagai jasanya mengeringkan rambut wanitanya yang berharga ini. Sangat berharga melebihi semua apa yang di miliknya. Wanita yang di cintai dengan segenap hati dan jiwanya. Sangat di cintai melebihi dirinya sendiri.


Dan Ara menanggapinya dengan wajah cemberut. Dan lagi-lagi Kecupan lembut mendarat di bibir manyunnya yang bengkak itu.


Mesin pengering terus bergerak. Bersamaan dengan jari jemari Ara yang menyentuh bagian bagian wajah tampan Rafa. Kening, mata, hidung, pipi, dagu, bibir tak luput dari sentuhan jarinya..... seperti kebiasaan anehnya, bawaan dari kehamilannya.


Rafa membiarkan apa yang di lakukannya selagi itu membuatnya senang. Dia berusaha sekuat hati tetap fokus dengan pekerjaannya. Sesekali dia menggigit kecil jemari nakal yang masuk ke lubang hidung dan juga menggelitik telinganya.


Ara tertawa kecil karena merasa lucu melihat Rafa kegelian.


"Sayang, jangan menggodaku!" ucap Rafa menatapnya lembut penuh cinta.


"Baik kak, gak lagi deh!" kata Ara menyudahi kejahilannya dengan tawa kecil.


Rafa mengecup bibirnya sesaat, senang melihat wajah di penuhi binar keceriaan ini.


Ara memeluknya, membenamkan wajahnya ke dada Rafa. Menyesap aroma wangi tubuh suaminya seperti candu baginya. Rafa kembali melanjutkan pekerjaannya setelah keadaan kembali tenang. Dia tersenyum melihat istrinya yang diam tak jahil lagi.


Suasana kembali hening. Hanya suara mesin yang terdengar halus memenuhi ruangan mewah itu.


Dan ternyata, ketenangan yang di rasakan Rafa hanya sesaat, Karena jemari Ara di rasakan bergerak lembut menelusuri batang lehernya.


Terus menekan nekan otot bisep lengan kekarnya.


Ara mulai nakal lagi dengan keinginan anehnya itu....bukan keinginan dirinya, tapi ke empat jabang bayinya. Jemari nakal Ara merambah ke otot dada yang bidang dan atletis, di selingi kecupan kecupan lembut. Di rangkumnya ke dua buah milik Rafa dengan telapak tangannya, memilin nipel yang bewarna pink sambil tersenyum senyum senang. Setelah puas menyentuh otot bisep dada, jemarinya turun menjalar turun ke perut yang menyerupai coklat batangan dan berbentuk kotak seperti roti sobek. Bagian pusarnya di tumbuhi bulu bulu halus. Dengan kulitnya yang putih bersih dan mulus tanpa noda. Kecuali bekas luka yang terlihat sangat samar. Bekas luka yang di perbannya dulu sewaktu pertama kali masuk ke apartemen Rafa tanpa sengaja.


Ara sangat suka menyentuh bagian tubuh pusar suaminya ini. Dia membuat lingkaran pada area pusar Rafa dengan jarinya. Lalu menggelitik lubang pusar itu sambil tertawa senang.


Gerakan jarinya berhenti, karena tangannya di tahan Rafa. Senyuman di wajahnya langsung hilang berganti cemberut karena kesenangannya di ganggu. Dia segera mendongak ke atas. Melihat Rafa yang menatap kepadanya dengan tatapan menggelap di penuhi kabut gairah karena terangsang dengan sentuhan jemarinya. Hasrat gairahnya membuncah menjalar mengaliri sel sel darah dalam tubuhnya.


"Ihh kakak.... kenapa di hentikan? aku lagi senang senang menikmati!" sungut Ara kesal. Tak suka permainannya di hentikan.


Rafa memegang rahang Ara. Di angkatnya ke atas dengan pelan untuk membawa tubuh wanitanya duduk tegak. Keduanya saling bertatapan.


"Kamu senang tapi aku sangat tersiksa sayang!" kata Rafa dengan suara berat. Dia membawa tangan Ara ke dalam handuk pendeknya.


Wajah Ara mengernyit merasakan itu.


"Aku kan gak menyentuhnya. Aku hanya menyentuh wajah, dada dan perut kakak!" katanya acuh dan tak perduli.


Rafa membuang nafas kasar mendengar ucapannya.


"Sayang......!"


"Pokoknya aku gak mau tanggung jawab. Karena aku gak menyentuhnya! Aku gak salah, jadi kakak gak boleh maksa!" potong Ara segera menangkap adanya keinginan suaminya yang sudah pasti meminta pertanggungjawabannya.


Rafa kembali membuang nafas kasar. Dia menarik wajah Ara dan ******* bibirnya.


Tangannya bergerak liar menyentuh bagian-bagian sensitif milik Ara. Dan berhenti melepaskan melihat Ara yang mulai kehilangan nafas.


Ara menatapnya kesal dengan nafas tersengal sengal. Dia mendorong tubuh Rafa.


"Awas, aku mau berganti pakaian!" katanya kesal seraya turun dan menuju ruang ganti. Rafa kembali mendengus kesal menahan segala rasa yang membuatnya tersiksa dan Ara malah tak perduli. Dia segera menyusul istrinya ke ruang ganti. Melihat istrinya yang sedang membuka lemari pakaiannya. Tanpa permisi Rafa segera mengangkat tubuhnya dan di bawah ke tempat tidur.


(Tak perlu author jabarkan apa yang terjadi selanjutnya😁🤭, karena gak akan lolos review, nunggunya berhari hari dan di suruh revisi lagi).


Sejam berlalu.


"Kak....!" suara serak Ara dalam pelukan suaminya.


"Hmmm....!" Rafa mendekapnya hangat yang berbaring di atas tubuhnya. Mengecup puncak kepalanya berulang. Tentu dengan hatinya yang senang dan bahagia karena hasratnya yang telah tersalurkan.


"Aku ingin sesuatu!" kata Ara.


"Apa sayang, kau ingin apa? Apa kau lapar? ingin makan?" mengelus lembut punggung mulus istrinya.


"Aku ingin terbang!" jawab Ara.


Dahi Rafa mengerut mendengar ucapannya.


"Terbang?" ulangnya kaget.


Ara mengangguk.


"Aduh, keinginan apa lagi ini?" Batin Rafa.


Dia segera bangun dan duduk. Ara duduk di pangkuannya. Keduanya saling menatap. Jari Ara nakal lagi mencubit hidung mancung Rafa.


"Gimana bisa terbang sayang, kamu kan gak punya sayap!" kata Rafa bingung dengan keinginan istrinya.


"Anak anak, apa yang telah kalian lakukan pada ibu kalian hingga keinginannya semakin aneh dan gak masuk akal begini?!!" batinnya seraya mengelus perut Ara.


"Pokoknya aku mau terbang seperti burung yang bebas terbang melihat keindahan alam semesta!" rengek Ara mencubit kuat hidungnya hingga memerah.


Rafa membalasnya dengan mengecup tangannya.


"Sayang, meskipun aku bisa membuat kan sayap yang dapat menerbangkan mu, aku tetap tidak ingin kau melakukannya. Kau sedang hamil. Dan kalaupun gak hamil aku tetap tidak akan mengijinkan mu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu! Minta yang lain saja ya.....aku pasti penuhi apa pun itu! Kau ingin aku memakai bikini? lingerie? daster? hijab? nangkap lalat? menghitung pasir dan bintang di langit? Akan ku lakukan sayang! Atau kau mau nyentuh tubuhku lagi? ayo sayang sentuh lah sepuas hatimu.....aku janji dan sumpah gak akan menuntut pertanggung jawabmu!" bujuk Rafa lembut dan manis. Dia membawa tangan Ara menyentuh dada dan perutnya.


Ara segera menarik tangannya dengan kesal.


"Tidak mau. Aku gak mau lagi nyentuh tubuh kakak, dah bosan...!!! pokoknya aku mau terbang.... terbang melihat angkasa!" rengek Ara kembali dengan cemberut. Ngambek terus dengan wajah sedih merengek dalam pangkuan Rafa.


"Baiklah sayang! Sudah, jangan sedih gitu! Tapi gak bisa secepatnya sayang, aku harus mempersiapkannya dulu." mengalah karena tak tega melihat kesedihan di wajah istrinya. Dia mengusap wajah Ara lembut. Bingung bagaimana bisa memenuhi keinginan istrinya.


"Ya ampun, ada ada aja keinginan kalian ini anak anak! Ayah sudah bilang jangan meminta yang aneh aneh yang bikin ibumu susah." batinnya kembali menyentuh anak anaknya dalam perut Ara.


Ara melonjak senang mendengar ucapannya.


"Terima kasih kak! Aku akan menunggu!" katanya tersenyum. Lalu mengecup bibir Rafa.


Dia segera turun dari ranjang, memakai kembali bathrobe menutupi tubuh polosnya.


"Ayo kak, cepat mandi. Aku sudah tidak sabar ingin melayang dan menjelajah angkasa!" katanya penuh antusias. Lalu segera berjalan menuju kamar mandi dengan semangat.


Rafa ikut tersenyum senang melihat kebahagiaan di wajah cantik itu. Tapi senyuman itu langsung redup mengingat kembali keinginan Ara. Dia memijit keningnya sedang berpikir. Memikirkan bagaimana cara memenuhi keinginan aneh istrinya tanpa harus terbang. Gak mungkin dia membiarkan istrinya melakukan hal konyol tersebut.


Mana ada manusia bisa terbang? manusia kan gak bisa terbang seperti layaknya burung yang punya sayap. Kecuali terbang menggunakan mesin jet yang menempel di punggung atau alat semacamnya. Dan dia tetap tidak akan mengizinkan Ara menggunakan benda bersayap tersebut.


Beberapa detik kemudian dia segera turun dari ranjang, memakai handuk dengan asal. Kemudian meraih ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Lalu segera menyusul istrinya ke kamar mandi.


Waktu menunjukkan pukul 8 pagi.


.


.


.


Kantor perusahaan RA Group.


"Sekretaris Wisnu, ada apa dengan wajahmu?" tanya Ara melihat beberapa cakaran di wajah Wisnu. Terus ada tanda lebam gelap di sekitar mata kiri seperti kena tonjokan.


Ara ikut ke kantor karena ada janji dengan Cindy bertemu di kantor suaminya. Mereka berencana Ingin memberi kejutan pada Ines serta memberi ucapan selamat atas di terima nya bekerja di perusahaan ini. Tentunya tanpa sepengetahuan Ines.


Wisnu tergagap mendengar pertanyaannya.


"Saya terjatuh nona muda!' jawabnya berbohong.


"Terjatuh....?" Ara menatapnya penuh tanya.


"Sayang....kamu gak usah pusing dengan Wisnu. Dia gak apa apa! Duduklah. Sambil menunggu sahabatmu, lakukan sesuatu agar kau tidak bosan." timpal Rafa seraya mendudukkan istrinya.

__ADS_1


"Pergilah, kerjakan apa yang ku perintah kan tadi!" Rafa memberi isyarat pada Wisnu untuk keluar agar Ara ini tidak banyak bertanya lagi.


Wisnu menunduk sejenak lalu segera keluar.


Rafa sudah dapat menebak penyebab cakaran dari wajah sekretarisnya itu setelah terlambat datang ke rumah menjemput dirinya seperti biasa. Untuk pertama kalinya Wisnu terlambat dan tergesa-gesa datang ke rumah menjemputnya.


Rafa mengerti hal itu, karena sekarang Wisnu bukan lagi pria singel seperti dulu yang selalu ada untuknya selama 1x24 jam. Kini Wisnu sudah menikah. Dan sudah pasti sebagian waktu, tenaga dan pikirannya untuk keluarganya.


Ara mengambil peralatan melukisnya. Di letakkan di atas meja yang memang telah di sediakan untuknya. Kemudian memutar ayat-ayat suci Al-Qur'an. Satu di sumbatkan pada telinganya. Satunya lagi di letakkan di perutnya. Tak lama kemudian, jari jemarinya mulai bergerak gerak lembut dan lincah di atas kanvas.


Rafa tersenyum mengecup puncak kepalanya. Lalu segera menuju meja kerjanya. Dia melihat istrinya sekali kali di sela kerjanya. Sebenarnya ada rapat penting pagi ini, tapi lebih penting baginya menemani istrinya.


Tidak berapa lama Molly datang. Dia menyapa Ara sebentar lalu mendekati Rafa. Memberi tahu kan bahwa rapat telah selesai. Pernikahannya di tunda karena Rizal punya urusan yang sangat penting di luar negeri. Dan itu membuatnya sangat senang karena masih bisa menyiapkan acara pernikahannya tanpa terburu-buru.


"Bos, persiapannya sudah selesai. Apa kau dan nona Ara akan ikut?" tanya Moly.


"Tidak, aku tidak ingin Ara capek. Katakan kepada mereka untuk segera melakukan pembangunan awal secara bersamaan tanpa kami. Kami akan menyaksikan dari sini!"


"Baik bos!" Molly segera menghubungi pihak pihak Madrasah dan juga panitia yang di beri tanggung jawab mengawasi pembangunan.


Pembangunan 12 Gedung Yayasan Panti Asuhan Azahra dan 6 Panti Jompo Azahra di beberapa tempat wilayah tanah air. 12 titik tempat yang menggugah hati Ara. Di mana banyak terdapat anak anak terlantar, anak yatim-piatu, anak anak miskin tak beruntung dalam hidup dan pendidikan. Hari ini secara bersamaan akan memulai pembangunan. Tentunya dengan acara peletakan batu pertama sebagai awal di laksanakan pembangunan dari gedung gedung tersebut.


Ara mendekat pada mereka.


"Kak Moly, boleh kirim orang ke bawah?" katanya pada Moly.


"Untuk apa sayang?" sela Rafa.


"Cindy sebentar lagi akan tiba, barusan dia menghubungi ku. Katanya sudah dekat! Aku ingin ada yang menjemput dan menemaninya ke sini. Dia sedang hamil, Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya!"


"Sayang...." Rafa segera menariknya dalam pangkuannya. Mengecup pipinya lembut.


Mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.


"Kamu tidak perlu khawatir dengan sahabat mu itu. Dia datang bersama suaminya." kata Rafa kembali.


"Kak Dion?"


Rafa mengangguk.


"Kebetulan juga Putra Alkas ada urusan pekerjaan dengan kakak!"


"Baguslah....! terus bagaimana dengan keinginanku? Apa kakak sudah mempersiapkannya? Aku sudah tak sabar ingin melihat keindahan alam dari ketinggian." kata Ara yang teringat dengan keinginannya.


Rafa dan Moly saling berpandangan.


Moly senyum senyum melihatnya karena stress dengan keinginan Ara itu.


Dia sudah tahu keinginan Ara tersebut, karena Rafa sudah memberi tahu kepadanya meminta bantuan untuk berpikir. Moly memberi saran kepadanya untuk membawa Ara terbang menggunakan terjun payung bersama dirinya. Atau dengan naik balon udara, menggunakan jet mesin, naik pesawat terbang luar angkasa dan masih banyak lagi usulan Moly dan Wisnu.


Tapi Rafa menolak mentah-mentah karena baginya itu usulan gila yang membahayakan istrinya.


Dari Eropa, Rizal juga memberikan jalan keluar dengan cara memberi suntikan zat yang membuat Ara berhalusinasi seolah-olah sedang terbang. Tapi lagi lagi Rafa menolak dengan keras karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak anaknya. Meski Rizal sudah mengatakan kalau zat tersebut aman untuk ibu hamil.


"Kakak kok diam? Katanya tadi mau mengajakku terbang! Ayolah kak, aku gak sabar melihat pemandangan alam dari atas!" pinta Ara kembali merengek.


"Sayang, Sabar ya.... Wisnu sedang mempersiapkan semuanya!" Rafa mengecup dagunya. Menenangkan. Padahal tidak ada sama sekali yang di lakukan. Dia hanya mengulur waktu dan berharap keinginan Ara batal dan di ganti dengan keinginan yang lain. Seperti keinginan Ara yang kemarin kemarin. Sala satunya Ara Ingin melihatnya dirinya memakai daster, tapi tiba tiba saja keinginan Ara berubah meminta dirinya memakai hijab. Rafa berharap keinginan Ara tersebut akan berubah seperti itu.


"Apalagi yang harus di persiapkan? Kita kan bisa terbang menggunakan helikopter jet pribadi! Setelah ku pikir pikir aku sukanya naik helikopter." kata Ara menatapnya lekat.


Wajah Rafa langsung berubah cerah mendengar ucapannya.


"Helikopter?"


"Iya....!" jawab Ara sambil mengangguk.


"Sayang......!" Rafa langsung memeluknya dengan nafas lega dan sangat senang. Mencurahi wajahnya dengan banyak kecupan.


Padahal dia sangat pusing, bingung bahkan tertekan dengan keinginan istrinya ini. Bukan karena tidak mampu memenuhi keinginan istrinya, tapi dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya ini. Jangankan terbang melihat keindahan alam semesta. Pergi ke luar angkasa dan melihat ruang angkasa bisa di penuhi dengan segala apa yang dia punya.


Tapi tidak....dia tidak akan melakukan hal konyol itu, yang bisa saja mengancam nyawa istri dan anak anaknya.


Dia segera memberi isyarat pada Moly untuk menghubungi pihak bandara.


Moly segera keluar.


"Aku sudah tidak sabar lagi!" ucap Ara senang.


"Tapi wajah kakak kenapa aneh gitu?" tanya Ara dengan tatapan heran, melihat wajah suaminya yang tampak sangat senang.


"Aneh gimana sayang? Aku hanya lega dan senang karena tidak perlu membuatkan sayap untukmu!"


"Sayap? Aku kan tidak meminta sayap. Aku hanya ingin terbang seperti burung yang bisa melihat keindahan alam dunia. Kakak salah tanggapi nya. Mana bisa aku terbang? Aku kan bukan burung?! Tapi aku senang melihat wajah kakak tegang dan stress begitu!" kata Ara di susul dengan tawa lepas." Lucu banget.....!" celetuk Ara seraya mencubit kedua pipi Rafa gemas.


"Sayaaang...?!!!! Awas kamu ya suka banget jahilin aku!" kata Rafa seraya menggelitik perutnya. Ara semakin tertawa lebar menahan geli dengan tubuh meliuk seperti cacing kepanasan.


Rafa juga ikutan tertawa. Dia segera menciumi bibir istrinya dengan gemas. Lalu segera memeluknya.


"Sayang, mintalah apa pun yang kau mau! Apa pun itu pasti akan ku penuhi, asal bukan sesuatu yang mengancam keselamatan jiwamu." batinnya dengan hati yang lega dan bahagia. Dia semakin memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


☘️🌸


Saat itu Ines sedang menuju lift. Dia hendak ke lantai yang berada di bawahnya karena di perintah oleh seniornya untuk mengantar sesuatu. Saat hendak masuk lift, tangannya di pegang oleh seseorang. Aldi orang tersebut, menahan tangan Ines.


"Nes...!" panggil Aldi.


"Aldi? Ada apa?" Ines menarik tangannya, tapi Aldi kembali memegangnya.


"Soal semalam....maaf. Aku tidak sempat mengantar mu pulang! Padahal aku udah janji bakalan ngantar kamu."


"Aku gak apa-apa Aldi. Alhamdulillah aku pulang dengan aman sampai ke rumah!" kata Ines berbohong. Tak ingin menceritakan kejadian buruk yang di alaminya semalam.


"Syukurlah....!" kata Aldi lega.


Dia melihat ke wajah Ines yang tampak memar.


Dia mendekat memperhatikan wajah Ines.


Ines kaget dan segera mundur.


"Wajah kamu kenapa Nes?"


"Tidak apa apa Al, aku hanya terjatuh tadi di kamar mandi!" kata Ines kembali berbohong.


Aldi hendak bicara tapi batal dengan kedatangan Wisnu yang tiba-tiba. Wisnu yang saat itu hendak turun ke bawah untuk menjemput Dion dan Cindy atas perintah tuannya. Mata Wisnu menatap tajam pada pegangan Aldi di tangan Ines. Ines buru buru menarik tangannya melihat tatapan menakutkan itu.


"Selamat siang sekertaris Wisnu." sapa Aldi dengan sopan. Sedangkan Ines segera memalingkan wajahnya ke arah lain menghindari tatapan Wisnu. Sejak dari rumah dia menghindari Wisnu karena malu dengan apa yang mereka lakukan semalam. Ines cepat cepat pergi kantor meninggalkan Wisnu yang masih di kamar mandi. Tujuannya ke kantor ingin menyerahkan surat pengunduran diri, tapi Moly menolak dengan alasan peraturan perusahaan dan juga kontrak kerjanya.


Aldi kembali menarik tangan Ines masuk ke dalam lift.


"Lepaskan tanganmu!" sentak Wisnu.


Langkah Aldi dan Ines terhenti. Tapi pegangan Aldi di tangan Ines belum dilepas. Ines menarik tangannya kuat, tapi Aldi Semakin erat menggenggam.


Hal itu membuat darah Wisnu semakin mendidih. Ines semakin takut melihatnya. Wajah yang memerah menahan amarah. Dia sudah sangat tahu bagaimana Wisnu kalau lagi marah, menyerupai monster dan iblis.


"Lepas Al....!" bisiknya pada Aldi menarik tangannya.


Alih-alih melepaskan tangan Ines, Aldi malah mendekat pada Wisnu sambil tersenyum, senyuman candaan.


"Apa ada masalah sekretaris Wisnu? Ines adalah teman saya.....calon pacar saya....hari ini saya akan akan menembaknya." bisiknya dengan bercanda.


Mata Ines membulat sempurna mendengar bisikan itu.


Bugh....


Bogem mentah melayang di wajah Aldi. Pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh ke lantai. Aldi meringis memegang wajahnya. Dia terkejut dengan apa yang di lakukan Wisnu.

__ADS_1


Ines juga terkejut. Beberapa karyawan melihat ke arah mereka, tapi tidak berani untuk mendekat apalagi ikut campur. Karena terlalu takut pada Wisnu yang Dingin.


Ines hendak mendekati Aldi untuk membantu berdiri, tapi lengannya cepat di tarik Wisnu.


"Jauhi istriku, jangan pernah lagi kau menyentuhnya!" kata Wisnu dengan suara di tekan, tatapan tajam seakan ingin memangsa Aldi. Lalu dia menarik tangan Ines menuju lift private meninggalkan Aldi yang kembali terkejut dan bengong mendengar ucapannya.


"Apa katanya? Istriku? Jadi Ines Istrinya?" batinnya. Rasa takut langsung menyeruak di hatinya, melupakan rasa sakit di tubuhnya.


Sama halnya dengan Aldi, Ines juga kaget mendengar Wisnu mengatakan statusnya sebagai istrinya.


Wisnu menekan tubuhnya pada dinding lift.


Tatapan tajam menahan kemarahan.


"Dan kau, jangan dekat dekat lagi dengannya ataupun pria lain! Awas jika aku masih melihatnya! Kau dengar itu?" memegang rahang Ines kuat.


Tubuh Ines bergidik mendengar ancaman itu. Bukan hanya perkataan itu, tapi tatapan tajam menakutkan. Dia segera mengangguk pelan.


"Aldi tidak tahu kalau aku istri Anda. Kenapa anda memukulnya?" katanya pelan memberanikan diri bicara.


Wisnu mendengus geram.


"Jangan menyebut namanya! Dan jangan membelanya!" sentaknya keras membuat Ines kembali kaget dan takut.


"Kenapa kau tidak katakan padanya kalau kau sudah menikah? hah?" Wisnu semakin kuat memegang rahangnya. Ines meringis, sakit. Matanya berkaca-kaca.


Wisnu segera melonggarkan pegangannya.


Dan melepaskan perlahan lahan. Dia menyapu air mata Ines yang telah jatuh di pipi. Memperbaiki rambut, serta pakaian Ines. Dan terkahir menarik tubuh wanita ini ke dalam pelukannya untuk menenangkan dari rasa takut.


"Aku tidak suka kau dekat dekat dengan pria manapun. Aku benci mereka yang menyentuh mu. Jadi mulai sekarang jagalah jarak dan batasan dengan pria manapun!" ucapnya pelan.


"Kau dengar itu ibunya A'A?" membelai lembut punggung Ines.


Ines mengangguk cepat sambil terisak.


"Bagus. Setelah urusanmu selesai, datanglah ke ruang ku!" kata Wisnu kembali.


Ines terdiam mendengar ucapannya.


"Untuk apa?" wajah mengernyit.


"Aku ada perlu dengan mu!"


Ines mencermati ucapannya.


"Perlu? perlu apa? Katakan saja sekarang."


"Kau ini suka sekali membantah ucapanku." Wisnu kembali memegang rahang Ines.


"Aku akan mengatakannya nanti di ruangan ku!"


suara meninggi tatapan tajam.


"Nggak, Aku nggak mau keruangan anda! Apa susahnya katakan saja di sini? Toh kita sekarang lagi bersama!" Ines tetap ngotot tak mau nurut. Dia takut Wisnu akan macam-macam di ruangannya.


"Kenapa? Memangnya apa yang kau pikirkan?" Wisnu tersenyum menyeringai dapat membaca isi kepalanya. Dia mendekatkan wajah mereka.


Jantung Ines semakin berdegup kencang. Keduanya saling menatap lekat dengan jarak wajah yang sangat dekat.


"Kenapa kau tidak mau ke ruangan ku? Apa kau menakutkan ini?????" kata Wisnu seraya ******* bibirnya. Ines terkejut tak sempat menghindar. Berusaha melepaskan diri tapi tangannya di tahan Wisnu.


Sementara Wisnu terus menyerang bibirnya dengan brutal. Satu tangannya memegang tengkuk Ines satu lagi kelayapan di bokong dan dada Ines.


Ines berontak dan berusaha mendorong tubuh kekar berotot ini. Tapi tenaganya kalah kuat.


Yang di takutkan akan di lakukan Wisnu di ruangannya malah terjadi di sini. Pria ini benar benar gila menurutnya, tak melihat tempat dan sembarangan. Di dalam lift ini terpasang kamera CCTV. Wisnu semakin liar, wajahnya bermain rakus di dada Ines, setelah dia membuka blouse Ines sudah terbuka. Satu tangannya sudah masuk ke dalam paha Ines. Rok istrinya ini sudah tersingkap ke atas. Ines semakin takut. Tapi dia tidak bisa lepas apalagi melawan kekuatan pria ini. Dia sangat khawatir jika ada pengunjung lift yang masuk.


Dan bagaimana jika yang masuk adalah pemilik gedung megah ini, pimpinannya? Suami sahabatnya. Mengingat lift ini adalah lift private.


🌸☘️


Mobil Dion berhenti tepat di depan pintu masuk gedung megah RA GROUP.


"Kakak ke kantor saja. Aku akan pergi sendiri! Ara sudah berada di dalam menungguku!" kata Cindy.


"Kakak akan antar kamu sampai ke dalam. Kakak juga punya urusan dengan tuan Ravendro."


"Bisnis?"


Dion mengangguk.


"Bukan ingin tebar pesona pada karyawan karyawan cantik di sana kan?"


Dion tertawa mendengar ucapannya.


"Ampun Cindy....ada ada ajah deh mikirnya kayak gitu." Dia mengecup bibir adiknya ini gemas.


Cindy menatapnya kesal.


"Aku dan Ines udah beberapa kali di ajak Ara ke kantor tuan Ravendro. Karyawan mereka cantik cantik!"


Dion kembali tertawa.


"Tapi bagiku, kamu wanita satu satunya yang tercantik di mata kakak sayang!"


Dia menarik rahang Cindy dan mencium bibirnya dengan rakus. Ciuman panjang terjadi beberapa saat karena Cindy yang terbuai membalas ciuman suaminya.


Beberapa saat Cindy segera menarik kuat tubuhnya merasakan ciuman itu sudah turun menjalar ke telinga dan lehernya.


"Sudah ah.... Yuk turun!" katanya seraya membuka pintu mobil dan turun.


Sementara di dalam mobil Dion mendengus pelan dengan tubuhnya yang sudah tegang.


Cindy tertawa mengejeknya dari luar


kaca mobil yang terbuka.


Dion menatapnya kesal penuh dendam seraya menenangkan diri beberapa saat, lalu segera turun.


Dia memegang tangan Cindy dan mereka segera melangkah.


"Awas ya, matanya jangan jelalatan!" Cindy kembali memperingatkan dirinya dengan jari telunjuk kiri yang di acungkan di depan wajah Dion.


Dion terkekeh.


"Kamu terlalu parno deh sayang."


"Terserah...!" kata Cindy melirik tajam dengan bibir mengerucut.


Dion senyum senyum sambil geleng-geleng kepala. Dia mengecup pipi Cindy dengan cepat. Si empunya terkejut dan malu, untung saja tidak ada yang melihat mereka.


Dion semakin heran dengan sikap Cindy yang semakin cemburuan. Ini kecemburuan Cindy atau bawaan kehamilannya? Padahal adiknya ini sudah tahu sifatnya dari dulu yang tidak suka bergaul dan berhubungan dengan sembarang wanita. Dia yang tidak mudah jatuh hati dan takluk pada wanita secantik apapun, kecuali hanya pada Ara dan juga dirinya.


Dan dia sudah menghilangkan Ara dari hatinya. Dan menerima dan mencintai Cindy dengan segenap hati dan jiwanya.


Dion mengecup tangan Cindy, lalu memegang erat tangan istri sekaligus adiknya ini melangkah.


Di depan pintu, sudah menunggu Toni asisten pribadinya. Toni datang tersendiri terlebih dahulu karena dia tahu Dion akan pergi dengan Cindy. Wisnu juga sudah berada di situ untuk menjemput mereka sesuai perintah tuannya.


Wisnu segera membawa mereka ke lift private.


Dari lobby kantor, sepasang mata wanita yang di tutupi kaca mata hitam memperhatikan mereka dengan kebencian yang mendalam. Menatap mereka dengan tatapan menyeringai. Kedua tangan terkepal kuat menahan amarah.


*****


Yang baru bergabung dan suka dengan cerita ini, dukung author ya😘.

__ADS_1


Masukkan ke fav, like dan komet, hadiah vote dan rate 😘 Terimakasih


__ADS_2