Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 262


__ADS_3

...Happy Reading....


... ...


Hangatnya guyuran air shower semakin memperdalam ciuman bibir mereka. Dion terus mengeksplor bibir dan mulut Cindy menjelajahi setiap sudutnya. Keduanya saling berperang lidah dengan nafas yang saling memburu cepat. Decapan suara bibir berciuman terdengar memenuhi ruangan kamar mandi.


Dion semakin bersemangat dan bergairah mendengar lenguhan merdu Cindy. Ciumannya turun ke leher Cindy, menggigit dan menjilat bagian putih jenjang ini.


Entah Sejak kapan dress dan bra Cindy sudah lepas dari tubuhnya. Dion menatap nanar kedua buah Cindy yang besar. Dion perlahan menyentuhnya.


Cindy kaget dan langsung membuka mata.


"Kak..."


"Biarkan kakak menyentuhnya."


Cindy terdiam.


Dion kembali menyentuhnya dengan lembut dan pelan. Cindy mengeluh sakit.


"Apa itu sakit?" tanyanya mengingat kedua buah Cindy yang mengalami pembengkakan dan nyeri. Dia melihat Cindy menggigit bibirnya yang tampak bengkak karena di ciumnya lembut dan kasar sejak tadi.


Cindy mengangguk pelan. Dion mengecup bibirnya. Lalu ciuman Dion turun ke bawah.


Mendarat ke dada Cindy. Cindy melenguh merasakan sensasi indah, mata terpejam, kedua tangannya memegang rambut Dion.


Dion teringat kata dokter agar pucuk Cindy cepat mengeluarkan ASI, harus di bantu dengan menyedot dengan mulutnya. Tidak perlu menggunakan alat.


Dion segera melabuhkan wajahnya di kedua buah segar itu. Menyedot pucuknya bergantian secara lembut dan perlahan agar Cindy tidak merasakan sakit. Lenguhan demi lenguhan merdu keluar dari mulut Cindy. Cengkraman semakin kuat di rambut Dion. Dion semakin agresif, gencar melahap kedua buah itu. Berharap pucuknya segera mengeluarkan ASI.


Beberapa saat kemudian Dion menaikkan tubuhnya menatap Cindy. Dia sudah tidak tahan dengan hasratnya yang ingin segera di salurkan. Dia menekan milik pribadinya yang sejak tadi tegang pada paha Cindy.


Cindy kaget, tubuhnya merinding merasakan.


"Cin, bolehkah?" pinta Dion menatap wajah Cindy yang di penuhi kabut gairah. Cindy terdiam dengan nafasnya yang memburu cepat. Dia gugup harus menjawab apa.


Dulu Dion merenggut miliknya dengan paksa di luar kesadarannya. Sekarang kakaknya meminta izin darinya.


Jujur Cindy merasa canggung dan malu untuk melakukan hubungan intim dengan kakaknya sendiri. Meski notabenenya sekarang Dion adalah suaminya.


Dion memegang wajahnya lembut.


"Kau pasti canggung untuk melakukannya karena hubungan kita sebagai kakak dan adik?" kata Dion.

__ADS_1


Cindy mengangguk pelan.


"Kakak pun merasakan hal itu! Membayangkan kita melakukan hubungan suami istri. Tapi lepas dari hubungan kita sebagai kakak dan adik, kita juga adalah pasangan suami istri yang telah sah menikah! Tapi kakak tidak akan memaksa jika kamu belum siap untuk ___!"


"Kakak boleh menyentuhku, kakak berhak melakukannya." Cindy segera memotong ucapannya. Dia memang belum siap melakukan itu dengan Dion. Tapi dia juga tidak tega melihat Dion tersiksa menahan hasratnya.


Entah bagaimana nanti hubungannya dengan Dion kedepannya. Apakah akan tetap bertahan atau akan berakhir setelah Dion mendapatkan wanita yang dia cintai sebagai pengganti Ara.


Cindy sedih memikirkan hal itu. Tapi dia tidak mau egois, dia tidak akan berharap Dion akan mencintainya. Dia akan menerima takdir hidupnya sekalipun itu terburuk. Yang penting baginya, anak anaknya tidak akan lahir sebagai anak haram. Dia akan menerima dengan ikhlas jika nanti Dion meninggalkannya.


Dion tersenyum senang mendengar ucapan Cindy yang tak menolaknya. Dia segera mengangkat tubuh Cindy ke kamar, lalu membaringkan adiknya ini ke atas ranjang.


Dia segera membuka boxernya.


Cindy tidak kaget lagi melihat milik Dion karena dia sudah melihatnya saat insiden buruk yang terjadi pada mereka dulu di kamar hotel Paris.


Dion naik ke atas tubuh Cindy. Mengecup kening dan bibir adiknya lembut.


"Cind, kakak akan memulainya." ucapnya dengan tatapan berat.


Cindy mengangguk pelan.


Dion tersenyum."Kakak menyayangimu." ucap lembut.


"Memang hanya rasa itu yang kakak rasakan kepadaku, hanya rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya, bukan rasa cinta." batin Cindy. Kedua ujung matanya basah.


Dion tak mau berlama-lama lagi, dia segera memposisikan tubuhnya di atas Cindy.


Sejenak dia menatap milik adiknya. Menatap nanar. Untuk pertama kalinya dia melihat milik pribadi Cindy yang terlihat indah. Saat melakukannya di hotel Paris dia tidak sadar. Saat ini nyata dan jelas terpampang di depannya. Dion belum langsung masuk. Dia masih melakukan pemanasan kembali dari tubuh bagian atas Cindy. Kening, mata, bibir, leher,dada, perut, kaki dan paha di ciumnya dengan lembut. Lalu perlahan lahan mulai memasuki tubuh bagian bawah Cindy.


Di awal masih terasa sulit untuk menembus. Dan dia mencoba lagi beberapa kali hingga akhirnya bisa masuk semua.


Dion bermain dengan lembut di selingi kecupan dan ciuman lembut. Cindy memejamkan mata selama permainan.Terlalu malu melihat wajah Dion di atasnya. Hanya lenguhan demi lenguhan merdu yang lolos keluar dari mulutnya.


Hingga akhirnya setelah hampir sejam berlalu, mereka mengakhiri permainan percintaan setelah mencapai puncak.


Dion tak ingin menambah lagi meski dia masih ingin. Tidak tega melihat Cindy kelelahan, juga tubuh kurusnya yang lemah.


Dion memeluk istri sekaligus adiknya dengan penuh kasih sayang, mengecup kening dan bibirnya berulang. Dia berharap hubungan percintaan ini akan mengikis jarak di antara mereka, mendamaikan hubungan mereka, menyelesaikan masalah diantara mereka, menghilangkan segala emosi pada diri mereka, dan akan mendekatkan mereka.


Keduanya tidur saling berpelukan dengan tubuh basah mandi keringat.


Masing masing hanyut dalam pikiran mereka, melamun kan apa yang baru saja mereka lakukan, apa yang terjadi.

__ADS_1


10 menit berlalu.


"Kak Dion__" panggil Cindy pelan.


"Hhmm, ada apa? kau mau lagi?" canda Dion menggoda.


"Ishh kakak__!" Cindy mencubit dadanya.


Dion tertawa. Dia benar benar tidak menyangka akan meniduri adiknya sendiri dan melakukan hubungan intim dengan Cindy. Meski Cindy adalah istrinya.


"Terus ada apa?" tanyanya kembali mengelus lengan Cindy lembut.


"Aku ingin ke rumah Ara. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin berterima kasih setelah kebaikan yang di lakukan pada kita. Kalau kakak tidak mau mengantarku aku akan naik taksi saja. Tapi jangan melarang ku untuk bertemu dengannya." pinta Cindy sambil meraba-raba dada Dion.


Dion menghela nafas panjang.


"Baik. Kakak akan mengantarmu."


"Benarkah?" tanya Cindy senang.


"Iya, tapi bukankah tadi katamu kamu capek, lelah? Sebaiknya kamu istirahat saja. Kakak gak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada janin mu."


"Udah gak lagi kok, udah hilang capeknya," kata Cindy bersemangat.


"Benar? Gak bohong? Kakak gak ingin kamu pusing dan mual lagi."


"Benar kak, aku udah kuat kok." kata Cindy meyakinkan Dion.


"Benar?" tanya Dion kembali.


"Iya kak, benar!" kata Cindy dengan semangat 45.


"Kalau begitu kita main lagi." bisik Dion tersenyum menyeringai.


Hah?? Cindy terkejut.


"Sudah kak, aku tidak kuat lagi." kata Cindy menatapnya dengan wajah cemberut.


Dion kembali tertawa. Dia segera mengangkat tubuh Cindy menuju kamar mandi tanpa melepaskan penyatuan tubuh mereka.


Tapi sebelumnya dia mengirim pesan pada papanya untuk menunggu kedatangan mereka. Keduanya mandi bersama dan melakukannya lagi.


...Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia dengan karya author πŸ™ Dukung ya dengan memberi like rate bintang lima, hadiah dan vote πŸ’•


__ADS_2