
...Happy Reading....
Ara baru saja tiba di rumah utama bersama si kembar. Mereka baru kembali dari panti asuhan dengan di jemput Ucil dan pak Sam.
Saat itu dia sedang duduk duduk taman samping rumah sambil bermain dan bercengkrama dengan dua bocah lucu itu.
Ponselnya berdering di atas meja.
Cia berlari mengambil tanpa di perintah, lalu menyerahkan benda tipis itu pada Ara.
Ara tersenyum mengucapkan terimakasih.
"Makasih ya cantik!" ucap Ara menyapu puncak kepalanya.
"Sama sama Ante!" jawab Cia dengan polosnya, lalu duduk di pangkuan Ara.
Ara segera mengangkat telepon yang di lihatnya berasal dari Ines
"Assalamualaikum Nes__!"
"Waalaikumsalam, Ara__ huuuuu__Araaa !" suara Ines menangis dari seberang.
Ara kaget mendengar suara tangisannya.
"Nes__kamu kenapa?"
"Araaa____huhuuuuuu...!" Ines masih terus menangis.
"Kenapa kamu menangis?!" Ara jadi tak tenang. Dia langsung berdiri dan mendudukkan Cia di kursi sebelah. Dia memberi isyarat pada dua pelayan untuk mengawasi si kembar bermain.
"Ines, apa kamu baik baik saja? Kamu kenapa?" kembali bertanya pada Ines.
Tak ada suara. Hal itu membuat Ara semakin cemas. Sebuah taksi tampak memasuki halaman rumah berhenti tidak jauh dari tempat Ara dan si kembar. Setelah pintu mobil di buka, keluar lah Ines dan langsung berlari menuju pada Ara.
"Araa___!" teriaknya agak keras
"Ines?" Ara segera mematikan ponselnya, lalu melangkah cepat menyambut sahabatnya itu.
Begtu dekat, Ines langsung memeluk Ara sambil menangis.
"Tenangkan dirimu." mengusap punggung Ines pelan.
Ines melepaskan pelukannya setelah tangisnya mereda.
Ara mengajaknya duduk di gazebo tidak jauh dari mereka.
Dia melap air mata sahabatnya itu.
"Sekarang katakan apa yang terjadi dengan mu? Kenapa kamu menangis?" tanyanya kemudian seraya memegang kedua tangan Ines.
Ines balik menggenggam tangan Ara.
"Bukan aku Ra, tapi Cindy. Cindy sedang dalam masalah berat." kedua matanya kembali basah.
"Cindy?" dahi Ara mengerut.
Ines mengangguk.
"Cindy kenapa? Apa yang dengannya?"
"Cindy___Cindy hamil Ra ...!" ucapnya Ines di selingi tangisan yang kembali pecah dan banjiran air mata.
"Apa?" Ara terbelalak.
"Cindy hamil?" tanyanya kembali sangat terkejut.
"Iya Ra, Cindy hamil. Selama ini dia membohongi kita semua. Dia bukan sakit perut seperti yang dia katakan, dan tidak melakukan program diet. Perubahan bentuk tubuhnya yang kurus dan tidak terawat di sebabkan karena dia sedang hamil." kata Ines menjelaskan di sela tangisnya.
Ara kembali tercengang masih tak percaya.
Dia memang melihat banyak perubahan yang terjadi pada diri Cindy. Mual muntah dan tidak punya selera makan saat di ajak makan. Cindy mengatakan sedang melakukan program diet. Tapi ternyata karena hamil?
__ADS_1
"Apa ini benar Nes? Cindy hamil?" kembali bertanya.
"Iya Ra, ini benar. Dia menutupi kehamilannya dan memendamnya seorang diri. Aku juga sangat terkejut dan tidak percaya waktu pertama kali mengetahuinya.Tapi semakin lama ku selidiki, ternyata benar dia hamil. Usia kandungannya sudah memasuki 4 bulan." Ines kembali menangis.
Ara kembali kaget mendengar usia kehamilan itu."Empat bulan?"
Ines mengangguk dengan air mata membanjir.
Ara segera memeluknya. Dia juga sedih mendengar penjelasan Ines.
"Cindy sudah hamil 4 bulan dan kenapa kamu baru menceritakan sekarang kepadaku Nes?"
"Aku juga baru tahu belum lama ini Ra,"
Ines menceritakan saat pertama kali dia mengetahui kehamilan Cindy, dan juga hasil pemeriksaan USG kehamilan Cindy yang di lihatnya kemarin.
"Ya Allah Cindy, begitu menderitanya dirimu. Kenapa kau tidak membaginya pada kami? Kenapa kau menanggung beban derita kehamilan mu seorang diri? Kita sudah berjanji akan selalu terbuka dalam hal apapun dan akan saling membantu sebisa mungkin." Ucap Ara sedih.
Ines kembali menangis mendengar ucapannya, keduanya menangis berpelukan.
Ara melepaskan pelukannya, dan memegang kedua bahu ines.
"Tapi Nes, Cindy kok bisa hamil? Bukannya dia gak punya pacar? Kita sendiri kan tahu dia tidak punya pacar setelah putus dari pacarnya beberapa bulan lalu." kata Ara menatapnya.
"Kalau pun punya pacar, Cindy tidak akan mungkin melakukan zina dan dosa. Lalu kenapa dia bisa hamil? siapa yang menghamilinya?" tanyanya kembali. Karena mereka tahu Cindy tidak punya pacar, juga tidak sedang dekat dengan seorang pria.
Ines kembali terisak isak
"Ara..." ucapnya berurai air mata.
"Kenapa Nes? Apa kamu tahu siapa ayah bayi dalam kandungan Cindy? Kamu tahu siapa lelaki yang telah menghamilinya?"
Ines menyapu air matanya dan mengangguk.
"Cindy hamil anak kak Dion Ra." katanya pelan dan kembali menangis.
Ara kembali terbelalak, sampai sampai mata dan mulutnya terbuka lebar.
Ines kembali mengangguk.
"Awalnya juga aku tidak tahu, dan aku sedang mencari tahu siapa ayah dari anak yang di kandungannya, siapa lelaki yang tega menghamilinya. Dan Alhamdulillah tuhan telah memberikan petunjuknya kepadaku. Aku baru mengetahuinya tadi ini Ra, terus langsung ke sini menemui mu,"
Ines menceritakan perkataan yang di dengar secara tidak sengaja dari mulut Cindy. Tadi, saat itu di rumah kediaman Alkas.....
flash back
Semuanya tampak gagah dengan mengenakan pakaian seragam pesta indah dan mewah. Dion juga tampak semakin tampan dan mempesona dengan jas pengantinnya. Cindy menatapnya dari jauh dengan tersenyum bahagia. Tapi yang sesungguhnya hatinya sangat sedih dan terluka. Dia memaksa tersenyum ikut senang dan bahagia dengan pernikahan ayah dari anak anaknya ini.
Sembari menunggu acara akan di gelar, tuan Alkas mengajak keluarganya menuju gedung tempat di langsungkan acara pernikahan untuk menunggu di sana agar tidak terlambat.
"Cepat naik mobil Cin," seru Dinda saat melewati dirinya dengan Ines di parkiran.
Dinda dan Raymond akan naik satu mobil bersama Dion di mobil khusus pengantin yang sudah terhias sangat indah.
Dion mendekati Cindy."Ayo Cin, kita berangkat sama sama!" ajak Dion.
"Kakak duluan saja! Aku sama Ines naik mobil di belakang."
"Kakak ingin kau ikut dengan kakak. Ingat ya Cin...Alasan lain kakak menerima pernikahan ini karena paksaan darimu. Jadi kau harus hadir di sana menemani kakak!" kata Dion menatap wajahnya.
Cindy termangu mendengar perkataan itu. Kesedihan kembali membuncah. Bagaimana bisa dia hadir di sana menyaksikan pernikahan Dion? Dia tidak akan sanggup.
"Cindy, kamu dengar kakak?"
"Tentu kak, aku akan temani kakak di sana. Kakak naik mobil pengantin bersama paman dan tante Dinda. Aku akan naik mobil iringan pengantin." kata Cindy mengurai senyum.
"Cepat naik Dion!" seru Raymond Alkas dari dalam mobil.
"Ayo kak cepat naik. Paman manggil kakak. Aku akan naik mobil di belakang kakak." kata Cindy. Dia segera menarik lengan Dion membawa masuk ke dalam mobil. Dion duduk di tengah di apit Dinda dan Raymond.
"Ikuti mobil kami" Dion kembali memperingatkan dirinya.
__ADS_1
"Iya...." Cindy mengangguk
Mobil pengantin kembali berjalan.
"Cindy, Ines___kalian berdua ikutlah bersama kami." ajak mama dan papa Cindy dari dalam mobil. Mama Cindy langsung membuka pintu mobil untuk mereka.
Ines langsung masuk merasa tidak enak menolak karena telah di bukakan pintu oleh Rani, mama Cindy.
Tapi Cindy tidak naik karena khawatir akan muntah dalam perjalanan.
"Aku naik mobil iringan pengantin yang lain saja ma. Tuh masih ada di belakang yang kosong." kata Cindy sambil menunjuk tiga mobil iringan pengantin di belakang.
"Cin, kok gitu sih? Ayo kita sama sama saja." kata Ines seraya memegang tangannya di pintu mobil.
"Kamu ikut mama saja ya, aku akan menyusul di belakang. Aku kelupaan sesuatu di dalam. Nanti kita ketemu di sana," Cindy memberi isyarat dengan mengedipkan mata.
"Baiklah," ucap Ines dengan suara lemah mengerti akan arti isyarat itu.
"Jangan sampai telat ya Cin? akad nikahnya setelah magrib." kata mamanya.
"Iya mam...!" jawabnya sambil tersenyum mengangguk.
Mobil berjalan meninggalkan Cindy. Di susul mobil iringan pengantin lain.
Cindy segera berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Tubuhnya lemah dan gemetar, perasaannya campur aduk. Dadanya serasa mau meledak oleh beban berat yang tidak mampu di tahan lagi.
Dia masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi.
Hancur, sedih, kecewa, sakit hati dan pedih yang di rasakan saat ini.
Tangisnya langsung pecah. Tubuhnya seketika melorot kebawah. Terasa hancur berkeping keping hatinya saat ini mengingat Dion akan menikah. Dan dia harus rela mengikhlaskan tanpa memberitahukan kehamilannya.
Lama Cindy menangis mengeluarkan semua emosi yang menghimpit dan menyesakkan dadanya.
Beberapa menit kemudian dia bangkit dan menuju wastafel, membasuh wajahnya seraya menatapi perutnya dari pantulan cermin. Dia mengelus perutnya lembut, berusaha tegar, menguatkan hati, dan tersenyum untuk anak anaknya.
"Biarlah aku yang akan menanggung aib dan kehancuran ini seorang diri, aku rela dan ikhlas demi karier dan masa depanmu kak, demi kehormatan dan nama baik keluarga kita ! Aku akan melahirkan dan merawat anak anakmu dengan baik. Membesarkan mereka sekuat tenaga dan semampuku!" ucapnya dengan derai air mata.
"Selamat menikah kak, selamat menempuh hidup baru. semoga pernikahanmu dengan Sophia di limpahi keberkahan dan kebahagiaan selamanya." ucapnya kembali menangis tersedu sedu dengan linangan air mata yang semakin banyak mengalir.
Ines terbelalak dari belakang pintu mendengar ucapannya.
"Ja - jadi ....Cindy hamil anak kak Dion? jadi anak yang ada dalam kandungannya adalah anak kak Dion?" gumamnya sangat terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya tuhan...!" desisnya seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Dia jadi tidak tenang dan gelisah, mondar mandir di depan pintu kamar mandi, bingung mau melakukan apa. Hanya air matanya yang sudah mengalir ikut merasakan kesedihan Cindy.
Tadi, dia batal ikut bersama orang tua Cindy tadi dan meminta untuk turun. Karena khawatir dengan Cindy yang akan naik mobil sendiri tanpa ada yang menemani, sementara Cindy sedang hamil muda. Dia khawatir Cindy akan mual dan muntah lagi di dalam mobil dan tak kan ada yang menemaninya.
Tak ingin keberadaannya di ketahui Cindy, Ines langsung keluar dari kamar. Untung saja keadaan rumah sudah sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sedang bersih bersih dan tidak begitu memperhatikan keberadaan dirinya.
Ines bersembunyi di belakang sala satu mobil yang terparkir ketika melihat Cindy keluar dari rumah. Dia menelpon Cindy berpura-pura bertanya apa Cindy sudah menuju ke gedung pernikahan.
"Halo Cind, Kamu udah di mana sekarang? Apa kamu udah nyusul kita?" tanya nya
"Aku udah mau ke sana Nes, kamu tungguin aku di sana ya. Kamu duduk dulu sama orang tuaku."
"Baik Cin, aku menunggumu,"
Telepon di matikan.
Cindy menuju sala satu mobil pamannya dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke tempat acara pernikahan di laksanakan.
Setelah Cindy pergi, Ines langsung berlari ke jalan raya mencari taksi, dan menuju ke rumah Ara.
...Bersambung....
Episode 329, lihat setelah episode 310 ya๐
Mohon dukungannya...
__ADS_1
Like, komentar, hadiah kopi, vote, rate bintang lima, masukan ke favorit โค๏ธ