Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 254


__ADS_3

Setelah magrib Dion mengajak Cindy ke dokter kandungan.


"Pada trimester pertama kehamilan, ibu hamil biasa mengalami rasa nyeri, kesemutan, geli, tidak nyaman dan bengkak pada payudara. Hal ini di sebabkan karena meningkatkannya aliran darah dan jaringan PD yang mulai berubah akibat hormon yang terjadi dalam tubuh ibu hamil. Jadi ibu Cindy tidak perlu khawatir karena ini merupakan fase normal yang menjadi pertanda tubuh mulai mempersiapkan diri untuk proses menyusui." dokter menjelaskan.


Sang dokter juga menjelaskan beberapa cara mengatasi rasa nyeri pada PD yang bengkak. Sama seperti yang di katakan oleh dokter pribadi keluarga pada Dion.


Dokter juga menambahkan tentang hubungan **** dalam masa kehamilan.


"Pak Dion, ibu Cindy, mengenai masalah **** dalam masa kehamilan__bercinta setiap hari tidak ada masalah, tapi di sarankan jangan berlebihan hingga membuat ibu hamil kelelahan dan capek."


Cindy tersedak dan batuk batuk kecil mendengar penjelasan itu. Wajahnya merah merona. Dion tersenyum melihatnya yang tertunduk. Dia mengelus punggung Cindy lembut sambil mendengarkan penjelasan dokter.


"Oh begitu ya dok?" ucap Dion menimpali penjelasan dari dokter.


"Benar pak. Sebenarnya bagus berhubungan badan di masa kehamilan karena untuk merangsang rahim ibu Cindy agar kelak nanti lebih mudah melahirkan secara normal. Estrogen juga akan membuat besar PD istri anda, karena hormon ini memperbesar kelenjar kelenjar susu agar menghasilkan ASI pada masa menyusui."


Dion terlihat serius mendengarkan keterangan dokter.


"Apa pucuk anda sudah mengeluarkan air susu? Biasanya di umur kehamilan seperti ini sudah ada air susu yang keluar." sang dokter menoleh pada Cindy.


Cindy terkejut mendengar pertanyaannya.


Dia menoleh sekilas pada Dion.


"Be_belum dokter," jawabnya gugup.


"Bapak dan ibu bisa merangsang air susu dengan alat penyedot air susu. Bisa juga dengan cara pak Dion, dan ini cara mudah tidak merepotkan. Di saat bercinta anda bisa merangsang air susu dengan cara menyedotnya dengan mouth anda, tapi sebelumnya bersihkan dulu kotoran yang menempel pada pucuk istri anda agar saluran ASI tidak tersumbat."


Cindy kembali tersedak. Penjelasan dokter bikin dia tambah pusing. Dia bangkit berdiri.


"Kak, aku mau ke toilet dulu sebentar."


"Kakak antar,"


"Gak usah, kakak di sini saja dengarkan penjelasan dokter. Aku gak lama kok."


"Baiklah, hati hati di dalam. Nanti kakak nyusul."


Cindy mengangguk dan segera menuju toilet yang ada di ruang itu dengan di antar suster.


Selain ingin menghindari pertanyaan dari dokter, dia juga tidak tahan dengan bau obat obatan hingga menyebabkan perutnya mual.


Dokter masih terus memberikan penjelasan seputaran nyeri pembengkakan pada payudara dan juga berhubungan **** yang aman untuk janin. Dokter memperlihatkan beberapa gaya yang aman dalam bercinta kepada Dion. Setelahnya dokter memberikan resep obat dan vitamin untuk penguat kandungan, obat pereda mual dan muntah, serta meringankan nyeri pada PD.


Dion segera pamit ke toilet karena cemas Cindy belum juga keluar.


Di dapatnya Cindy duduk di toilet duduk.


Keadaan Cindy berantakan, tubuh lemah, wajahnya di penuhi bulir keringat.


"Cind, kamu kenapa?" Dion berlutut di depan Cindy. Dia memegang wajah Cindy yang tertunduk lesu. Dia menyapu keringat pada wajah pucat itu.


"Wajahmu pucat, tubuhmu gemetaran." Dion segera mengangkat tubuhnya dan di dudukan di dekat wastafel.


"Aku gak apa-apa. Aku hanya muntah muntah tadi, tubuhku lemah. Aku tidak tahan berada di ruang dokter karena bau obat obatan. Makanya aku memilih menunggu kakak di sini sampe selesai sama dokter." kata Cindy lemah.


Dion merasa iba dan kasihan melihat penderitaan adiknya ini. Dia segera memeluk Cindy.


"Seharusnya kamu manggil kakak! Maafkan kakak Cindy, gara gara kakak kamu tersiksa seperti ini. Seandainya rasa ngidam ini bisa di pindahkan, biar kakak saja akan menanggungnya. Kakak nggak tega lihat kamu menderita terus seperti ini, setiap detik, menit, jam, setiap saat dan entah sampai kapan kau akan merasakan hidup nyaman dan enak."


Cindy membalas pelukan Dion. Menyesap Aroma tubuh kakaknya membuatnya hatinya tenang dan nyaman. Dia mencium aroma tubuh Dion. Rasa mualnya mereda.


"Kakak jangan ngomong begitu. Ini memang sudah menjadi kodrat aku sebagai perempuan. Menstruasi, hamil, mengandung, melahirkan dan menyusui, sudah menjadi takdir bagi perempuan dan tidak bisa di rasakan oleh laki laki," katanya sambil mengendus kan hidungnya di leher Dion.


"Seharusnya sekarang ini kamu sedang menikmati kenyamanan dan kebebasan hidupmu. Tapi karena perbuatan bejad ku....!"


"Semuanya sudah terjadi. Apa yang terjadi di antara kita bukan kesalahan siapa pun, tapi sudah takdir dari Allah." potong Cindy segera.


"Apa kamu menyesal dengan apa yang terjadi pada dirimu? Merasakan ketidaknyamanan seperti ini?" Dion mengangkat wajahnya di hadapkan padanya.


Wajah Cindy mengernyit."Kok menyesal? Justru aku sangat bersyukur karena di beri amanah sama Allah dengan bisa hamil begini dan akan menjadi seorang ibu. Kakak tahu nggak, di luar sana banyak wanita yang kurang beruntung, berjuang keras untuk mendapatkan dua garis merah dan bisa hamil. Kita seharusnya bersyukur di beri kepercayaan dan amanah oleh Allah secepat ini."


Dion cepat mengecup bibirnya.


"Syukurlah kalau kau berpikir seperti itu, kakak senang sekali."


Cindy kaget, bibirnya manyun dengan kecupan itu.


"Jangan kecup kecup ah, nanti ngatain aku bau asam lagi," katanya cemberut.


Dion tertawa dengan mata berkaca-kaca.


mendengar ucapannya.


"Kakak hanya bercanda. Kakak suka kok bau tubuhmu__wangi." mengecup lagi.


Kemudian memeluk kembali tubuh lemah itu.


Cindy ikut membalas pelukannya.


"Biarkan aku memeluk kakak seperti ini sejenak. Aku merasa enakan mencium aroma tubuh kakak, rasa mual ku berkurang. Perasaan ku juga tenang dan jadi enakan." katanya kembali menyesap aroma wangi di sekitar leher dan dada Dion.


Dion membiarkan apa yang dia lakukan.


"Lakukan saja apa yang kau suka selama itu membuat membuat perasaan dan hatimu tenang."


Dia membuka dua kancing kemeja atasnya agar Cindy bisa leluasa mencium Aroma tubuhnya.


Cindy teringat sesuatu."Kak, tanda lukisan karya bibir bela udah hilang belum? Apa kakak udah bersihkan dengan benar?" tanya Cindy di sela menyesap aroma tubuh Dion.


Dion melongo mendengar perkataannya.


"Apa kamu sedih dan kecewa dengan tanda itu?" Dion mengangkat wajahnya. Kembali di hadapkan padanya. Ingin melihat reaksi Cindy dengan tanda itu.


Keduanya bertatapan dengan lekat.


Cindy kemudian tersenyum.


"Sepertinya dia suka sama kakak," jawabnya mengabaikan pertanyaan Dion.


Dion menghela nafas panjang.


"Prioritas utama kakak sekarang adalah kamu dan anak anak. Kalian yang terpenting dalam hidup kakak. Kakak tidak mau memikirkan perempuan lain selain kamu dan anak anak kita." kata Dion seraya mengelus lembut perut Cindy.


"Gak usah bahas dia lagi. Kakak gak punya perasaan apa apa sama dia. Dia hanya teman Dwi dan seorang tamu di rumah mama." sambungnya kembali.


"Sebaiknya kita pulang. Nyium Aroma lanjutin di rumah saja. Kita tebus resep dari dokter dulu, setelah itu pulang," lanjutnya kembali.


Cindy mengangguk dan segera turun.


"Apa kamu kuat berjalan? Gak pusing lagi?" tanya Dion seraya merapikan rambutnya.


"Aku masih kuat, mari kita pergi. Kita udah lama berada di sini, toiletnya nanti mau di pakai sama pasien lain." kata Cindy.


Dion segera memapah Cindy keluar dari toilet dan pamit pada dokter. Keduanya melangkah menuju apotik yang berada di sebelah gedung praktek sang dokter.


"Kak, aku mau eskrim itu," tunjuk Cindy pada penjual eskrim.


Mereka mendekati penjual eskrim dan membeli satu dengan Rasa vanilla. Setelah itu mereka ke Lobby apotik.


"Kamu tunggu di sini sebentar, kakak mau ke dalam," kata Dion sambil mendudukkan Cindy.


"Iya, jangan lama-lama."


Dion mengangguk sambil menyapu puncak kepalanya. Lalu segera melangkah masuk ke dalam apotik.


Sambil menikmati eskrim, Cindy membuka ponselnya. Dia membuka beberapa chat dari Ines dan juga Ara.


Kedua temannya itu menanyakan keadaannya. Cindy merasa terharu dengan kebaikan kedua sahabatnya itu.


"Besok kita ketemuan ya? Aku kangen sama kalian," pesannya pada Ines dan Ara.

__ADS_1


"Cindy," sebuah panggilan dari arah depannya di sertai colekan di hidungnya.


Cindy kaget dan segera menengadah.


"Kak Andry?" ucapnya dengan mata bulat.


Dia langsung tersenyum setelah melihat siapa yang memanggilnya.


"Kamu terlalu serius sama ponselmu sehingga tidak menyadari keberadaan ku." Kata Andry tersenyum, lalu duduk di samping Cindy.


"Aku sedang membalas pesan Ara dan Ines. Maaf tidak menyadari keberadaan kakak di depanku."


"Gak apa apa, aku juga baru nyampe tadi. Nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi. Oh ya kamu di sini lagi ngapain?" Andry menatapnya dalam sehingga membuat Cindy salah tingkah karena jarak mereka yang dekat.


"Lagi nebus resep obat. Kak Andry mau ke apotik juga ya?" balik bertanya menghilangkan kecanggungan.


"Iya, aku mau mengambil obat kakekku. Kamu kesini sama siapa? Sendiri?"


Cindy tersenyum sambil geleng-geleng kepala."Aku ke sini sama kak Dion. Dia lagi di dalam nebus obat." katanya sambil memakan kembali eskrim.


"Ohh...," mulut Andry membulat terus menatap wajah Cindy. Cantik dan manis di matanya.


Andry memperhatikan eskrim yang belepotan


di bibirnya.


"Kamu suka banget ya sama eskrim?" tanyanya sambil melap eskrim di sekitar bibir Cindy.


Cindy kaget. Dia segera menarik mundur wajahnya.


"I_iya kak." katanya gugup.


"Cindy, mari kita pulang." suara Dion yang agak keras mengangetkan keduanya. Dion segera menarik tangan Cindy untuk berdiri sambil menatap tajam penuh amarah pada Andry.


"Permisi kak." kata Cindy pada Andry dengan terburu buru.


Andry menatap kepergian mereka dengan dahi mengerut karena merasa heran dengan sikap Dion yang tidak menyukainya.


Tarikan tangan Dion yang cepat dan kuat membuat eskrim Cindy jatuh.


"Kak, pelan pelan dong jalannya. Eskrim aku jatuh tuh__,"


Dion tak menjawab pertanyaannya. Dia terus menarik tangan Cindy sampai ke mobil.


"Masuk," katanya tegas setelah membuka pintu mobil.


Cindy merenggut kesal dan segera masuk.


Dion ikut masuk duduk di belakang kemudi, lalu memasang sabuk pengaman pada tubuh Cindy.


"Kakak kenapa sih?" ucap Cindy memperhatikan wajahnya yang di depan wajahnya, hembusan nafasnya menerpa di wajah Dion yang sangat dekat di wajahnya.


Dion hanya meliriknya sekilas, lalu kembali ke tempat duduknya dan memasang sabuk pengaman. Setelah Itu menjalankan mobil menuju jalan raya.


Dion terus diam dengan tatapan tegang ke depan sambil mengemudi.


Cindy mengeluh kesal karena di diamin. Dia menyandarkan kepalanya pada jok mobil dengan kepala mengarah ke jendela mobil.


Keduanya diam tanpa kata.


.


.


Kediaman rumah utama Artawijaya.


"Sayangku, malam ini kita tidur di rumah pribadi. Bersiaplah, Wisnu akan menjemputmu." pesan yang dikirimkan oleh Rafa membuat Ara segera bersiap. Pamit pada Maya dan si kembar.


"Ante, jaga adik bayi Cio baik baik ya?" pesan Cio kepadanya sambil meraba perut Ara, lalu mengecup perut Antenya berulang.


Ara mengangguk tersenyum. Lalu mencium kedua bocah itu dengan gemas.


Setelah anak anak itu pulang dari sekolah, keduanya terus bersama Ara. Kata mereka ingin menjaga adik bayi.


"Sekertaris Wisnu, seharusnya anda tak perlu menjemput ku. Aku bisa meminta tolong mang Ucil untuk mengantarku."


"Tuan Rafa ingin memastikan keselamatan anda. Nona sedang hamil, Tuan ingin menjaga anda dengan sebaik-baiknya." jawab Wisnu sopan dari depan.


"Tapi itu akan merepotkan anda. Setelah ini anda pasti akan menjemput kakak ipar lagi bukan?"


"Tidak lagi Nona. Tuan Rafa sekarang sedang menuju rumah pribadi dengan di antar sopir kantor. Lagi pula saya tidak merasa direpotkan, ini sudah menjadi tugas saya. Saya senang melayani Tuan dan Nona muda." jawab Wisnu sopan.


"Syukurlah, aku hanya tidak ingin merepotkan anda. Terimakasih sekretaris Wisnu."


Ponselnya berdering. Rafa yang menelepon.


"Assalamualaikum kak,"


"Waalaikumsalam sayang, kamu sudah di mana sekarang?"


"Udah dekat, bentar lagi sampai. Kakak di mana sekarang?"


"Aku baru nyampe di rumah. Aku menunggumu sayang, hati hati di jalan katakan pada Wisnu,"


"Iya kak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam sayang."


Telepon di matikan.


15 kemudian, mobil memasuki pintu gerbang dan halaman rumah pribadi. Para penjaga keamanan menundukkan kepala begitu mereka lewat.


Mobil berhenti.


Wisnu segera membukakan pintu untuk nona mudanya. Di luar buk Narsih, Sita dan beberapa pelayan menunggu kedatangannya.


"Selamat malam Nona muda." sapa mereka dengan ramah.


"Selamat malam." Ara membalas sambil tersenyum.


Dia melangkah menuju lift di ikuti Sita dan lainnya. Tapi hanya Buk Narsih, Sita dan Wisnu yang masuk begitu lift terbuka.


"Kakak ipar sedang apa buk?" tanya Ara pada buk Narsih.


"Tuan sedang berada di kamar, mungkin tuan sedang mandi." jawab Narsih.


Beberapa saat pintu lift terbuka. Mereka segera keluar. Narsih, Sita dan Wisnu hanya mengantar sampai di depan pintu kamar.


Wisnu segera membuka kan pintu.


"Silahkan Nona muda."


"Iya terimakasih." Ara segera masuk dan menutup pintu dari dalam.


Ara meletakkan tasnya sambil memperhatikan keadaan kamar yang tampak sunyi. Tak ada suaminya di kamar.


Mungkin kakak sedang berada di kamar mandi, batinnya.


Ara melepas blazernya dan di letakkan di atas sofa. Sekilas matanya melihat taburan bunga mawar merah segar yang berceceran di lantai. Dahi Ara mengerut.


"Kenapa bunga mawar bisa ada di lantai?" gumamnya bingung.


Dia terus mengikuti taburan bunga mawar yang di lihatnya memanjang hingga ke balkon. Kedua kakinya mengikuti ceceran taburan bunga itu berjalan perlahan lahan ke balkon. Sesampainya di balkon dia di buat terkejut menganga dengan keindahan yang terdapat di sana. Di mana terdapat dekorasi meja yang terhias indah. Ini seperti meja yang di hias untuk dinner. Walau pun terlihat sederhana, tapi cukup membuat Ara terpukau dengan mata membulat.



"Sayangku." pelukan dari belakang mengagetkannya.


"Kakak?" ucap Ara Setelah mendengar suara dan menghirup aroma parfum suaminya.


Rafa memeluknya dari belakang dan mendaratkan kecupan di pipi dan tengkuknya.

__ADS_1


"Wangi." ucap Rafa mencium dan menyesap Aroma wangi di seputar tengkuk dan leher istrinya.


Ara segera berbalik. Rafa kembali mendaratkan kecupan lembut di bibirnya. Dan terakhir di keningnya.


Rafa memberikan setangkai tulip segar


Ara tersenyum dan mencium aroma wangi bunga.


"Kak, ini ada apa?" tanyanya menatap tersenyum penuh tanya pada suaminya.


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu sayang. Aku ingin dinner berdua dengan mu. Apa kau suka?" memegang lembut wajah istrinya menatap dalam dalam penuh cinta.


Ara mengangguk tersenyum


"Tentu saja suka banget. Ini siapa yang nyiapin?"


"Aku dong! Sebenarnya aku nyuruh Moly buat nyiapin di restoran kita. Tapi aku mikir kamu lagi hamil gak boleh keluar malam. Jadi aku kepikiran buat di balkon kamar kita aja."


"Wah, kakak hebat deh bisa mendekor seindah ini. Ini benar-benar sangat indah." Ara memberikan dua jempol di susul kecupan bibir.


"Terimakasih sayang," ucap Rafa mengecup kedua jempolnya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu." Rafa memeluknya hangat dan mencium bibirnya beberapa saat.


Lalu mengendong tubuh istrinya dan di dudukan pada kursi. Dia berlutut di depan Ara, merangkum dan mengelus lembut perut Istrinya.


"Anak anak ayah, kalian lagi ngapain?" tanyanya sambil mengecup perut Istrinya.


"Kalian istirahat saja ya, ayah mau memanjakan ibumu dulu," sambungnya kembali.


Ara tertawa kecil sambil mengelus rambut suaminya."Kami lapar ayah, kami mau makan," jawab Ara menirukan suara anak kecil.


Keduanya tertawa kecil. Rafa kembali mengecup bibir Istrinya karena gemas.


"Udah ah, aku mau makan." kata Ara di sela tawanya


"Bentar sayang, aku punya sesuatu untukmu." Rafa merogoh sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak kecil mewah. Perlahan dia membukanya. Satu set perhiasan dalam bentuk mungil, meliputi kalung liontin, anting, cincin dan gelang sangat indah terbuat dari batu permata dan berlian yang sangat super mewah dan elegan.


Ara melongo.


"Perhiasan lagi?" mata bulat.


Rafa mengangguk tersenyum.


Ara ingin protes tapi dia tidak ingin membuat suaminya kecewa dan merusak suasana. Karena suaminya adalah orang yang tidak suka di bantah dan di tolak.


Rafa memasangkan cincin di jari manis kanan istrinya, lalu gelang, kalung dan anting.


Meskipun memiliki banyak perhiasan, tak ada satupun barang mewah tersebut melekat di tubuh istrinya, selain cincin kawin Raka dan dirinya yang terpasang di jari manis Istrinya.


Ara tersenyum terharu.


"Ini sangat indah, terimakasih kak," mengecup kening suaminya lembut, lalu memeluk hangat.


Rafa membalas pelukannya penuh kasih sayang, lalu segera melepaskan.


"Sekarang waktunya makan, kamu pasti lapar sayang." ucapnya seraya mengusap lembut perut Ara.


Lalu segera berdiri setelah mengecup anak anaknya lewat perut istrinya. Kemudian duduk di samping Istrinya.


"Terus makanannya mana?" tanya Ara mengamati meja yang hanya ada peralatan makan, serbet, bunga, sebotol minuman sama gelasnya.


Rafa menepuk tiga kali.


Beberapa saat kemudian masuklah Wisnu, Narsih dan Sita membawa troli berisi makanan.


Ara kaget melihat kedatangan mereka. Wajahnya tak lepas dari senyuman. Narsih dan Sita segera menata makanan di meja dengan rapi dan seindah mungkin.


"Terimakasih buk Narsih, mbak Sita." ucapnya pada dua pelayan itu.


Keduanya menundukkan kepala lalu segera pamit keluar di ikuti Wisnu.


Semua makanan yang tersaji adalah makanan favorit Ara, di tambah dengan makanan lainnya yang aman untuk janinnya. Juga sayur hijau dan buah makanan sehat ibu hamil.


"Wah.. semuanya pasti enak dan lezat." Kata Ara sangat berselera. Dia hendak mengambil makanan, tapi tangannya di tahan Rafa.


"Biar kakak yang ambil sayang. Kamu jangan banyak bergerak. Nanti tanganmu capek. Kamu ingin makan yang mana?"


"Apa an sih kakak, hanya ngambil makanan doang." kata Ara menatap cemberut pada suaminya yang terlalu posesif.


"Aku ingin melayani mu sayang." mengecup bibir manyun Istrinya.


"Mau makan yang mana sayang?"


"Semuanya tampaknya enak dan lezat, aku mau makan semuanya. Aku mau menghabiskan semuanya." jawab Ara antusias dan senang. Hidungnya menyesap Aroma wangi makanan dengan mata terpejam.


Rafa terkekeh melihatnya. Dia mengambil menu pertama.


"Makan ini dulu, biar perutmu gak kaget." meletakkan menu pembuka. Rafa menyuapkan ke mulutnya. Ara buru buru membaca doa makan setelah menerima suapan suaminya.


Setelahnya di susul dengan menu utama dan makanan penutup. Mereka makan suap suapan. Ara kekenyangan hingga akhirnya tersandar di kursi sambil mengelus perutnya.


Selang lima menit dia menormalkan perutnya yang kekenyangan, Terdengar alunan musik dengan lagunya yang indah dan romantis.


Ara kaget dan menatap pada suaminya yang tampak tersenyum manis.


Rafa segera bangkit, lalu menyodorkan satu tangannya di depan Ara, satu tangannya di belakang, badan sedikit membungkuk.


"Maukah anda berdansa denganku Nyonya Azahra Rafa Ravendro Artawijaya." pintanya tersenyum simpul.


Ara kaget mata bulat.


"Tentu saja tuan Ravendro, dengan senang hati." katanya kemudian tersenyum sumringah sambil meletakkan tangannya pada tangan suaminya, kemudian segera bangkit berdiri.


Rafa meletakkan kedua tangan istrinya di bahunya, dan kedua tangannya di pinggang Istrinya. Mereka mulai menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik. Keduanya saling menatap dalam penuh cinta.


"Terimakasih Ratuku," ucap Rafa mengecup lembut bibir istrinya.


"Terimakasih juga untuk kejutan dinner romantis dan indah ini Rajaku." ucap Ara balas mengecup bibir suaminya. Keduanya saling menatap lekat dan tersenyum manis, saling menyentuhkan hidung.


Ara tiba tiba bersendawa, keduanya kaget dan tertawa kecil."Aku kenyang banget, habis makanannya enak." ucapnya malu malu.


"Kamu suka sayang?"


"Suka banget karena kakak yang buat." kata Ara sambil mengecup tangan suaminya.


Rafa tersenyum dengan dahi mengernyit.


"Kok tahu aku yang masak?"


"Tahu dong, aku udah hafal masakan kakak."


Rafa kembali tersenyum lebar


"Memang aku yang masak sayang, tapi di bantu sama koki. Aku nggak terlalu tahu cara masak yang lainnya, jadi aku minta bantuan mereka biar enak. Tapi untuk makanan favorit mu, aku yang buat sendiri."


"Terimakasih ya, udah repot repot masak buat aku."


"Nggak repot sayang, aku senang melakukannya untukmu. Apalagi melihatmu makan dengan lahap membuatku bersemangat untuk memasak untukmu."


"Kalau gitu, besok untuk sarapan...buat lagi boleh nggak?" pinta Ara senyum senyum.


Rafa tersenyum lebar.


"Apa pun akan ku lakukan untukmu sayang. Apa pun akan ku lakukan untuk membuatmu senang dan bahagia. Tapi ingat ya sayang.... bayarnya." katanya kemudian sambil mengedipkan sebelah mata menggoda.


"Kakak mulai lagi deh. Masa harus ada balasnya sih. Itu namanya gak ikhlas." Ara mencubit hidungnya dengan bibir manyun.


Rafa kembali tertawa kecil, lalu mengecup benda kenyal merah alami yang selalu membuatnya mabuk kepayang dan kecanduan. Hingga akhirnya kecupannya berubah menjadi ciuman lembut yang lama kelamaan semakin panas. Semakin lama menjalar ke tengkuk, telinga, leher dan dada istrinya. Dan selanjutnya membawa tubuh Istrinya ke kamar, melanjutkan percintaan di atas ranjang.


...Bersambung....

__ADS_1


Maaf baru bisa up, jangan lupa like, rate bintang lima, hadiah dan votenya ya ๐Ÿ™Biar author tambah semangat untuk up terus.


Terimakasih untuk kalian para readers ku ๐Ÿ™โ™ฅ๏ธ Episode berikutnya membahas tentang masa lalu sekretaris Wisnu. Karena banyak yang komentar agar Ines sama sekretaris Wisnu, maka author akan pikirkan bagaimana caranya buat satukan mereka. Dukung author selalu โ™ฅ๏ธ๐Ÿ™


__ADS_2