Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 114


__ADS_3

...Happy Reading....


Rafa muncul dari balik tembok koridor hotel. Dia menatap ke depan memandangi kepergian Raka dan Ara. Di belakangnya berdiri Wisnu dengan handset terpasang di kedua telinga.


Saat itu dia dan Wisnu sedang berjalan menuju ke ballroom.Tapi saat mendekati kamar Raka, langkah mereka terhenti melihat Raka dan Ara keluar dari kamar sambil bercumbu mesra. Raka menggendong tubuh Ara, menekannya ke diding dan melancarkan ciuman demi ciuman ke wajah, bibir dan leher wanita itu.


Dia dan Wisnu segera berlindung di balik tembok. Sesekali Rafa menengok melihat apa yang mereka lakukan, dan mendengar kata-kata Ara yang meminta untuk berhenti.


Darah Rafa berdesir hebat, terasa panas menjalar keseluruhan tubuh hingga naik ke ubun-ubun saat mendengar ******* dan jeritan lembut, manja dari mulut Ara. Yang menikmati sentuhan Raka sekaligus memelas meminta untuk berhenti, dengan bujukan dan rayuan menggoda.


Nafasnya memburu cepat tak beraturan, dia meremas ujung jasnya dengan kuat, menelan ludah pahitnya berulangkali. Kekhawatiran melanda dirinya ketika mendengar Ara menjerit sakit perut. Dia panik dan khawatir tapi tidak bisa bergerak dari tempatnya. Tapi kemudian dia menarik nafas lega ketika ternyata semuanya itu bohong, hanya untuk menghentikan cumbuan Raka.


Rafa segera menenangkan suasana hati dan pikirannya yang terasa panas.


Beberapa saat kemudian dia teringat sesuatu.


"Apa laki laki itu sudah berada di ballroom?"


Tanyanya pada Wisnu.


Wisnu segera melepaskan alat di telinganya.


"Sudah tuan, Florencia sedang bersamanya."


"Bagus." Rafa segera melangkah.


Wisnu berjalan cepat mendahului tuannya.


Dia meraih ponselnya dan menekan kontak Florencia.


Florencia adalah sala satu anak buah Wisnu yang tergabung dalam geng topeng hitam yang bekerja di Amerika. Wanita bule itu baru tiba dari Amerika atas perintah Wisnu. Karena ada pekerjaan penting yang di akan di kerjakan.


Raka dan Ara masuk ke ballroom setelah mengenakan topeng mereka, sehingga tidak ada yang mengenal mereka, kecuali Maya dan Nesa. Mereka masuk sambil bergandengan tangan. Levina dapat mengenali mereka begitu melihat Ara, karena tak ada yang berpenampilan cupu dan kampungan di ruangan ini selain Ara.


"Mana kakakmu?" tanya Maya pada mereka berdua. Levina segera menyerbu keduanya.


"Mana Rafa? Kenapa dia belum turun? Ini sudah hampir jam 9." katanya gelisah.


"Sebentar lagi kak Rafa akan turun." jawab Raka.


"Kakakmu sudah tiba di hotel ini?" tanya Maya.


"Iya Ma, kami tinggalkan kakak sedang mandi. Mungkin sekarang sedang bersiap."


Maya dan Levina sedikit lega mendengar penjelasan Raka. Mereka mengira Rafa tidak akan akan datang ke Bali.


Sebagian tamu bisnis Rafa dan juga kenalan Maya mendekat ke arah mereka.


"Halo Nyonya Artawijaya, apakah ini Raka?" tanya salah seorang di antara mereka.

__ADS_1


"Iya tuan Suseno, ini Raka anak bungsuku."


"Ternyata Raka sudah besar. Dulu waktu aku masih bersama ayahmu, kau masih sangat kecil." kata pria yang bernama Suseno pada Raka.


Mereka tertawa kecil mendengar ucapan pria itu, tamu yang lain juga segera mendekat menyalami Raka.


"Siapa wanita yang berada di dekat anda tuan Raka? Apa dia kekasih anda?"


"Benar pak Wirham, dia dulu kekasihku, tapi sekarang sudah menjadi istriku sejak aku menikahinya 5 bulan yang lalu." kata Raka tersenyum memperkenalkan Ara dengan sedikit gurauan. Dia memeluk pinggang ramping Ara.


Mereka kembali tertawa.


"Kau memang pandai bergurau sama seperti Almarhum ayahmu." kata Suseno.


Ara mengangkat kedua tangan sebagai isyarat menyalami mereka. Untung saja tema acara ini memakai topeng, jadi wajahnya tidak dapat di lihat orang, hanya bibir dan matanya saja yang terlihat.


"Jadi kau sudah menikah? Kenapa kami tidak mendengar berita pernikahan putramu Nyonya Artawijaya?"


"Acaranya tiba tiba dan hanya keluarga saja yang datang." jawab Maya.


"Itu kemauan dari kami berdua pak Suseno. Kami hanya ingin pernikahan yang sederhana." Raka menyambung kata kata mamanya.


"Artinya Artawijaya sudah mempunyai menantu perempuan. Selamat Nona sudah menjadi Nyonya Artawijaya." ucap mereka bergantian pada Ara dan Raka.


"Dan anda sendiri Levina, bagaimana hubungan mu dengan tuan Ravendro? Kapan kalian menikah?" kata Suseno kembali mengarahkan pandangannya pada Levina yang sejak tadi menatap tidak suka pada Ara.


Ehh? Levina tergagap, salah tingkah. Pertanyaan ini membuatnya panik dan dongkol.


Dia ingin sekali mempermalukan Ara di depan orang banyak dengan penampilannya yang jelek dan kampungan. Tapi wajah gadis itu tertutup topeng.


Tiba tiba ponselnya berdering, dia segera melihat ponselnya. Nomor baru.


"Bentar ya Tan.....aku nerima telepon dulu." katanya pada Maya.


"Jangan lama-lama, sebentar lagi Rafa akan datang." kata Maya


"Iya!" kata Levina dan segera menjauh dari kerumunan itu.


"Halo.....Halo Levina..." Suara dari seberang


"Siapa ini?"


"Tengoklah ke arah samping kanan mu."


Levina segera mengalihkan pandangannya ke arah samping.


"William?" ucapnya terkejut begitu melihat sosok yang tak asing dengan hp telinga dan tatapan mata ke arahnya. Dia segera mematikan telepon. Ngapain William ke sini, siapa yang mengundangnya? gumamnya dalam hati. Dia segera melangkah mendekati William.


"Kamu semakin cantik dan seksi Levina." kata William memperhatikan tubuh Levina dengan

__ADS_1


tatapannya terlihat nakal dan liar.


"Terimakasih William." kata Levina tersenyum.


"Kamu bisa ada di sini William?" sambungnya.


"Aku datang sama temanku sebagai partnernya. Sebenarnya aku tidak mau menemaninya. Tapi ketika mendengar namamu, pikiran ku langsung berubah." bisik William."Aku sangat rindu padamu sayang." bisik William dengan kerlingan mata nakal.


Levina tergagap, dia menoleh ke sana kemari khawatir bila ada yang mendengar ucapan William, terutama Rafa dan keluarganya.


"Jaga ucapan mu William, nanti ada yang dengar." bisiknya menatap tajam.


"Kalau begitu ikutlah dengan ku sebentar." William menarik tangan Levina ke arah pintu samping ballroom.


"Apa yang kau lakukan William, lepaskan."


"Pakai topeng mu biar tidak ada yang mengenal mu." sambil terus menarik Levina dari ruangan itu. Levina mengikuti perkataannya. Mereka berjalan cepat menelusuri koridor hotel. Levina berusaha melepaskan pegangan William, tapi tangan pria Itu terlalu kuat memegangnya.


Tidak berapa lama, William memasuki sebuah kamar hotel.


"William, ini kamar siapa? Untuk apa kamu bawa aku ke sini?" Levina terkejut, meski dia tahu tujuan William mengajaknya ke kamar ini.


"Ini kamar ku Levina, aku menginap di sini demi menemui mu. Aku sangat rindu padamu sayang." kata William. Dia mengunci pintu. Lalu menekan tubuh Levina di tembok dan mencium bibirnya. Dari tadi dia menahan hasratnya ingin mencumbui wanita ini.


Levina berontak.


"Lepaskan William, kamu jangan kurang ajar padaku, kalau Rafa tahu dia akan membunuhmu dan meninggalkanku." sentaknya di sela ciuman liar nakal William.


"Dia tidak akan tahu sayang, tidak ada yang melihat kita ke sini, aku jamin hal itu. Aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" bisik William lembut di telinganya membuat bulu kuduk Levina merinding.


William menciumi punggung dan pundaknya,


tangannya menjalar ke beberapa bagian sensitif tubuh Levina.


Levina mendesah mulai terbuai dan menikmati permainan jemari William di antara ke dua pahanya. Jujur Levina masih merasakan kehangatan yang di berikan pria bule ini meski 9 bulan telah berlalu. Di mana mereka menghabiskan malam panjang berdua tanpa henti hingga sampai pagi.


"Ahh...." Levina mendesah saat jemari William masuk ke dalam bagian pribadinya dan bermain kasar.


William tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia kembali menciumi bibir Levina dengan rakus. Tangannya yang satu merayap masuk ke dada dan meremas isinya.


"Hentikan William, sebentar lagi Rafa akan datang." kata Levina di tengah ******* yang tertahan. Bibirnya berkata menolak, tapi hati dan tubuhnya menginginkan sentuhan ini.


"Kita tidak akan lama sayang, pangeran mu itu masih mempersiapkan diri. Aku akan menyelesaikan ini secepatnya sebelum ia tiba di ballroom." kata William melepas gaun Levina. Terus menciumi leher, tengkuk, pundak dan punggung wanita itu, kemudian mendorongnya ke atas ranjang setelah wanita telanjang polos. Dia segera menerkam Levina dengan rakus seperti orang yang lapar.


Levina semakin terlena dengan sentuhan kenikmatan yang di berikan William.


Jujur dia sangat ingin merasakan kenikmatan seperti ini, tapi dia tidak mendapatkannya dari Rafa. Rafa menyentuhnya hanya sebatas kecupan kening saja, tak ada ciuman bibir.


Levina mulai membalas cumbuan William. Bahkan kini dia sudah berada di atas tubuh William, memegang kendali permainan. Dia tidak menyadari dan mendengar ponselnya berbunyi berulang kali karena telinganya sudah tertutup oleh nafsu dan suara suara mereka yang memenuhi ruangan.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya...


__ADS_2