Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 307


__ADS_3

Ines ngomel ngomel berjalan menuju ruang kerja Wisnu. Berulang kali mendapat SMS dari pria itu, yang memaksanya untuk datang ke ruangannya.


Bukannya tidak mau ke sini, Ines takut suaminya itu akan melakukan hal mesum lagi. Di dalam lift saja Wisnu yang sudah di kuasai api gairah hampir saja memakainya jika dia tidak melakukan drama air mata. Bagaimana nanti jika di ruangannya? Pria itu pasti akan kembali menyerang dirinya. Melanjutkan kembali apa yang tidak tersalurkan tadi.


Ines sampai di depan pintu ruang kerja Wisnu. Ines menatap daun pintu dengan kekesalan yang mendalam. Setelah membuang nafas berat, dia segera mengetuk tiga kali. Lalu membuka pintu pelan pelan, masuk dan menutup kembali.


Ines melongo setelah berbalik dan melihat ke depan. Di meja kerja suaminya tampak duduk dua wanita cantik dan anggun. Sahabatnya, Ara dan Cindy.


Ara sedang duduk di kursi kerja Wisnu dan Cindy berdiri di samping Ara. Keduanya tampak tersenyum manis padanya.


"Kalian?" ucapnya tak bergeming menatap keduanya dengan dahi mengerut. Senyuman langsung mengembang di wajahnya. Sangat senang melihat kedua sahabatnya ini.


"Surprise!" ucap Ara dan Cindy bersamaan sambil merentangkan kedua tangan. Lalu keduanya segera mendekat ke pada Ines.


Begitu juga dengan Ines, berjalan mendekat ke meja kerja Wisnu dengan senyum tak lepas. Pikiran di penuhi tanda tanya dengan keberadaan kedua sahabatnya ini.


"Jadi karena ini dia memaksaku untuk datang ke ruangannya?" batinnya. Mengingat perintah Wisnu yang memintanya datang ke ruangan kerja dengan memaksa.


"Maaf ya nyonya Wisnu Adi Nugroho atas kelancangan kami masuk dan duduk di kursi kebesaran suamimu!" kata Ara menggodanya.


Mata Ines mendelik.


"Maaf...maaf... kantor dan gedung ini punya lo nyonya Presdir." katanya dengan senyuman terus tersungging.


Dia segera memeluk kedua sahabatnya.


"Suatu kehormatan bagiku di kunjungi oleh Nyonya muda Artawijaya dan Nyonya muda Alkas!" celetuknya.


Ketiganya saling berpelukan.


"Bagaimana kabar para keponakanku?" tanya Ines seraya mengelus dan mengecup perut Cindy dan Ara bergantian.


"Alhamdulillah baik bibi Ines!" jawab Cindy dan Ara hampir bersamaan.


"Syukurlah, bibi senang dengarnya. Terus ibu mereka bagaimana?" bertanya lagi sambil melihat Ara dan Cindy bergantian.


"Alhamdulillah, Baik juga bibi Ines." jawab keduanya kembali dengan kompak sambil senyum senyum.


"Ah syukurlah, bibi senang dengarnya!" jawab Ines kembali tersenyum.


Ketiganya tertawa dan kembali berpelukan.


Cindy dan Ara mengambil sesuatu di sofa.


Buket bunga dan coklat yang belum terjamah oleh mata Ines saat masuk.


Keduanya berbisik-bisik karena melihat yang aneh pada Ines.


Wajah Ines mengernyit merasa aneh dengan tingkah mereka."Lagi bisik bisik apa sih?" tanyanya .


Ara dan Cindy tak menjawab, hanya tersenyum.


"Hey, nyonya nyonya Presdir, my birthday telah lewat." kata Ines semakin heran melihat coklat dan buket bunga itu.


"Tentu saja kami tahu, buka mulutmu!" kata Ara.


Masih dengan bingung Ines menurut perkataan Ara. Dia segera membuka mulutnya. Ara dan Cindy segera memasukkan potongan coklat kecil bergantian. Ines mengunyah dengan penuh tanya.


"Ini untukmu!" keduanya memberi buket bunga.


"Ada Apa sih guys? gue nggak lagi punya kejadian istimewa hari ini!" kata Ines semakin bingung.


Ara dan Cindy hanya diam tersenyum tanpa menjawab. Selanjutnya mereka memberikan kado berbentuk indah.


"Dan ini sebagai hadiah kami. Selamat ya, karena sudah di terima bekerja di tempat ini." kata Ara kembali memeluknya.


Cindy juga tersenyum dan memeluknya dari samping.


Ines tersenyum terharu, matanya sampai berkaca.


"Semua berkat lo Ra...gue di terima karena permintaan lo pada suamimu, tuan Ravendro!"


"Meski itu benar, tapi kamu layak di terima dan bekerja di perusahaan ini dengan melihat kompetensimu, karakter mu, attitudemu, grooming dan antusias semangatmu saat wawancara! Bagian HRD yang mengatakan hal itu kepadaku!" Ara menyentuh lengannya.


"Maaf ya terlambat memberi ucapan kepadamu. Sebenarnya kemarin kita mau datang kesini di hari pertama lo kerja. Tapi ada urusan mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan bersama kak Dion. Jadi baru hari ini kami datang menemui mu dengan meminjam ruang sekretaris Wisnu, suamimu! Semoga sukses ke depan dalam karier dan rumah tanggamu." kata Cindy.


"Aamiin!" lanjut Ara mendoakan.


Ines kembali tersenyum terharu. Dia kembali memeluk mereka berdua. Sungguh beruntung memiliki mereka sebagai sahabatnya. Tidak berubah sikap dan sifat dari pertama bertemu saat masuk kuliah hingga kini keduanya telah menjadi istri para pengusaha sukses kalangan atas.


"Eiiit tunggu tunggu.... Kadonya jangan di buka dulu, nanti aja di rumah!" cegah Cindy melihat Ines yang hendak membuka kotak hadiah dari mereka.


Dia dan Ara senyum senyum.


Membuat Ines kembali heran dan bertanya.


"Apa sih senyum senyum begitu? Memang apa hadiahnya? kalian ini sejak tadi aneh membuat aku bingung."


"Aneh apanya? Itu hadiah yang sangat spesial dan sebagai kejutan. Jadi jangan di buka sekarang. Nanti aja di buka bersama Sekretaris Wisnu di rumah saat kalian lagi berdua!!" kata Cindy senyum senyum.


Isi kado itu adalah lingerie. Sengaja mereka berikan untuk mendekatkan hubungan Ines dan Wisnu.


"Gimana hubungan lo sama Mas Wisnu mu itu?" celetuk Cindy kembali.


"Mas?" ulang Ines dengan wajah mengernyit mendengar kata MAS.


"Iya, mas mu itu. Kamu gak manggil sekretaris lagi kan?" sambung Ara.


Dahi Ines mengerut lalu tertawa kecil.


"Aku udah kebiasaan manggil pria menyebalkan itu begitu!"


"Gak boleh gitu Nes. Dia itu suamimu." ucap Ara.


"Masa sih sekretaris Wisnu pria menyebalkan? Menurut aku dan Ara nggak tuh!" kata Cindy sambil melirik pada Ara yang juga melirik padanya. Keduanya kembali tersenyum menggoda. Karena tadi saat pertama berpelukan, keduanya tidak sengaja melihat tanda-tanda ungu di leher Ines. Mereka tentu tahu tanda apa itu. Mereka berpikir hubungan Ines dan Wisnu sudah semakin dekat. Dan Itu sangat baik untuk hubungan rumah tangga mereka ke depan.


"Nes, aku dan Cindy selalu mendoakan yang terbaik buat pernikahan kalian. Semoga hubungan kalian semakin dekat dan harmonis. Rumah tangga kalian akan di penuhi banyak kebahagiaan." kata Ara kembali.


"Dan semoga cepat dapat momongan, sama seperti kita!" sambung Cindy kembali menggodanya sambil senyum senyum.


"Apa an sih kalian ini? aneh deh." ujar Ines dengan mata mendelik, kaget malu malu.

__ADS_1


"Ayo ceritakan gimana mana malam pertama mu sama Mas mu itu." lanjut Cindy kembali menggoda. Dia dan Ara senyum senyum lagi.


Ines kembali kaget dengan pertanyaan itu.


Pura pura menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Ayo Nes, cerita dong ke kita! Aku dan Ara pengen tahu." paksa Cindy. Menyenggol lengannya menggoda.


"Apa sih kalian? Jangan ngomongin hal itu, yang lain saja!" Ines mengalihkan pembicaraan, sangat malu mengingat malam pertama dia dan Wisnu.


"Nes, aku dengar duda tuh ganas di atas ranjang, benar gak sih?" Bisik Cindy dengan tatapan menggoda


"Apalagi Mas mu tuh sudah puasa belasan tahun. Pasti seganas singa dan harimau yang kelaparan di atas ranjang......!" ucapan Cindy terpotong.


"Ihhh Cindy.....!" Ines langsung membekap mulutnya.


Cindy dan Ara tertawa terbahak-bahak.


"Cieee..... akhirnya menyatu juga!" kata Ara.


"Nyatu apa an sih?" Ines berdalih dan semakin malu.


"Tuh buktinya!" kata Cindy seraya menunjuk tanda di lehernya.


Ines kembali terbelalak. Dia segera menutup lehernya. Wajahnya semakin memerah.


Ara dan Cindy semakin tertawa menggodanya melihat tingkahnya yang panik.


"Aku sangat yakin, mas mu tuh pasti sangat ganas menerkam mu....!"


"Ihhh Cindy! Berhenti menggoda ku!" dengus Ines menatap kesal. Dia kembali membekap mulut Cindy.


"Nes, aku sama Cindy tuh sahabatmu. Kita sudah lama bersama, dalam suka dan duka, tawa dan sedih. Susah senang kita lewati bersama. Kita selalu terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Semua tentang lo luar dalam kami tahu. Matamu tuh gak akan bisa membohongi kami!" pungkas Ara memegang kedua tangannya.


Cindy mengangguk membenarkan.


"Kami sangat senang hubungan kalian semakin dekat layaknya pasangan suami-istri istri sebenarnya. Teruslah membuka hati untuk saling menerima satu sama lain, saling memahami karakter masing-masing untuk membina suatu hubungan yang baik demi membangun pernikahan yang sakinah mawadah warahmah!" kata Ara kembali.


"Sama seperti kamu wanita yang sangat baik, sekretaris Wisnu juga pria baik dan bertanggung jawab. Meski terlihat cuek dan dingin. Aku yakin beliau adalah jodoh terbaik yang di pilihkan Allah untuk mu!" sambung Ara kembali memegang wajahnya.


"Aamiin!" ucap Cindy mendoakan.


Ines terharu mendengar ucapan keduanya. Dia memeluk mereka kembali.


"Heh, jangan sedih dong." kata Cindy. Menekan kedua mata Ines yang basah.


"Untuk untuk lebih mendekatkan kau dan suamimu, Aku akan kasih tiket perjalanan gratis untuk kalian honeymoon ke luar negeri. Lo maunya ke mana? Eropa? Amerika? Atau tempat lain? Katakan saja. Gue akan minta kak Dion buat membiayai perjalanan honeymoon kalian. Dan bisa menggunakan hotel dan fasilitasnya yang ada di sana semau kalian." sambung Cindy kembali.


"Setuju banget. Dan aku akan minta kak Rafa untuk memberi cuti liburan selama sebulan untuk kalian bulan madu." timpal Ara antusias.


Ines kembali terkejut. Wajahnya kembali memerah mendengar kata bulan madu.


"Kalian ini....apa an sih?" pekiknya kesal.


"Udah udah! Stop deh jangan menggodaku terus." katanya kembali kesal.


Cindy dan Ara kembali tertawa.


Sementara di ruang kerja Rafa.


"Kau dengar itu Wisnu? Setelah Wisuda, buatlah rencana untuk honeymoon bersama istrimu. Aku akan memberi mu cuti sebulan." kata Rafa.


Wisnu terkejut.


"Aku juga mendukung anda sekertaris Wisnu, seperti perkataan istriku!" Sambung Dion tersenyum mengandung arti.


Wisnu kembali gugup dan salah tingkah dengan perintah dua pimpinan ini.


"Tidak ada bantahan Wisnu. Kau tahu keinginan Ara selalu ku penuhi. Setiap perkataannya adalah perintahku yang harus kau laksanakan! Istriku dan Nyonya muda Alkas sedang hamil. Keinginan ibu hamil harus di penuhi. Istrimu adalah sahabat mereka. Mereka menginginkan yang terbaik untuk hubungan pernikahan dan rumah tangga kalian!" kata Rafa tegas.


Wisnu hanya bisa diam tak bisa membantah lagi.


Rafa dan Dion saling pandang dengan senyum penuh arti. Mereka yang saat itu sedang membicarakan projects penting terhenti. Karena Rafa malah asyik melihat Ara. Dan dia semakin tertarik dan senyum senyum sendiri mendengar obrolan candaan, godaan mereka.


Dion pun penasaran dan meminta izin ikut melihat video tersebut.


Hingga akhirnya urusan pembicaraan bisnis terlupakan dan malah fokus melihat tingkah istri istri mereka yang lucu menggemaskan.


Selanjutnya mereka kembali ke pembicaraan semula setelah Rafa mematikan video. Hingga 20 menit berlalu. Terdengar bunyi dari hp masing masing. Mereka segera memeriksa ponsel masing-masing.


Pesan Ara untuk Rafa yang membuat wajahnya berubah tegang.


"Kak, kami akan ke kafe untuk makan siang sekaligus merayakan bekerjanya Ines di perusahaan! Kakak bekerja saja. Jangan khawatirkan aku. Kami hanya sebentar kok! Aku mencintai kakak!" pesan Ara di selingi ucapan cinta agar Rafa tidak marah.


Dion pun mendapatkan pesan yang sama dari Cindy.


"Kak, aku keluar dulu sebentar bersama Ara dan Ines. Kami mau merayakan bekerjanya Ines di cafe dekat sini. Gak lama kok! Kakak Jangan khawatir, kami akan segera kembali!"


Wisnu pun demikian.


"Ayahnya AA, Ara dan Cindy memaksaku. Aku sudah berusaha menolak! Mereka terus memaksa!" pesan Ines.


Ketiganya saling berpandangan dengan wajah tegang setelah membaca pesan masing masing. Kecemasan seketika menyelimuti hati mereka. Dan selanjutnya segera menghubungi istri masing masing. Wisnu segera pamit keluar. Dia segera menghubungi anak buahnya tanpa menunggu perintah tuannya. Dia juga mengirim pesan Ines.


"Tolong jaga Nona muda Ara dengan baik sama seperti kau menjaga dirimu sendiri! Kau sudah tahu betapa berharganya nona Ara bagi tuan Rafa!" pesan pada Ines.


"Aku tahu." balas Ines lemas dengan wajah di cemberut. Bukan karena di perintah kan menjaga Ara. Tanpa di minta pun dia pasti akan menjaga kedua sahabatnya yang tengah hamil itu dengan baik. Tapi karena Wisnu tidak mencemaskan dirinya, sama seperti Wisnu menghawatirkan Ara.


"Dan tolong jaga dirimu dengan baik. Aku mencemaskan mu saat ini." pesan susulan dari Wisnu, membuat wajah Ines cerah kembali dan langkahnya kembali bersemangat. Ternyata Wisnu juga mencemaskan dirinya.


"Ah, pria dingin itu benar benar menyebalkan," batinnya sambil tersenyum.


Saat ini mereka sudah berada di parkiran menuju mobil mang saleh yang sudah di hubungi Ara dan Cindy sejak masuk ruang Wisnu tadi. Mereka memang sudah merencanakan untuk makan di luar tanpa memberi tahu suami masing masing. Karena jika meminta izin sudah pasti tidak akan di beri.


Ara dan Cindy pun tampak sedang bicara dengan suami mereka.


"Selamat siang Mang...!" sapa ketiganya hampir bersamaan sambil tersenyum pria paruh baya itu.


"Siang Non..." balas mang Saleh sopan.


"Ayo Mang kita pergi, Antar kan kami ke cafe biasa! pelan pelan nyetirnya!" kata Ines.

__ADS_1


"Baik non!" Saleh yang sudah tahu siapa ketiga wanita ini. Dulu mereka hanya gadis gadis kuliahan yang ramah dan sopan. Tapi sekarang mereka adalah istri para penguasa kaya-raya. Dia sangat bangga dengan ketiga wanita ini, tak pernah berubah sikap dan sifatnya.Tetap baik, sopan, ramah tanpa pandang bulu.


Ketiganya segera masuk mobil.


Saleh juga segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Lalu segera menjalankan taksinya.


Jarak 10 meter dua mobil yang merupakan anak buah Wisnu mengikuti mereka.


Saat dekat dengan lampu merah, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menyalip mobil mereka, mendahului mereka, membatasi dengan mobil saleh.


Hingga membuat mobil mereka terhalang dengan mobil Saleh. Di sebelah lampu merah sudah menunggu dua mobil yang meluncur mengikuti mobil saleh. Meninggalkan mobil anak buah Wisnu yang terpaksa terhenti karena lampu merah. Para anak buah Wisnu ingin menerobos, tapi ada mobil di depan mereka. Juga tak ada celah bagi mereka untuk menyalip karena terhimpit mobil yang di sebelah.


Sang sopir mendengus kasar seraya memukul kemudi.


"Jangan sampai kita ketinggalan mobil nona muda. Tuan Wisnu tidak akan mengampuni kita jika terjadi sesuatu yang buruk pada nona muda!" kata salah seorang anak buah Wisnu.


Mereka memperhatikan lampu merah yang terus berjalan yang di rasakan sangat lama.


Wajah mereka tegang dengan hati semakin cemas akan keselamatan Ara.


Terselip rasa takut di hati mereka membayangkan kemarahan Wisnu jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri bos besar mereka, Rafa.


Sementara saat melewati jalan yang sepi.


Mobil saleh di cegat oleh dua mobil dari depan.


Saleh menginjak rem tiba tiba.


Mereka semua terkejut.


"Ada apa mang?" tanya Ines.


"Ada mobil di depan, yang menghalangi mobil kita non!" kata saleh seraya memperhatikan mobil di depan.


"Siapa mereka?" Cindy menyela.


"Mang gak tahu non!"


"Apa mungkin orang orangnya kak Rafa?" batin Ara. Karena setahunya suaminya selalu menyuruh beberapa orangnya untuk menjaga dirinya secara diam-diam saat keluar sendiri.


Keluarlah enam orang Pria bertubuh besar, kekar dan berpakaian gelap. Wajah di tutupi cadar.


Mereka melangkah dengan tergesa-gesa mendekat.


Ara, Cindy dan Ines terkejut sekaligus ketakutan melihat pada mereka yang memegang senjata. Ines memegang erat kedua tangan saja sahabatnya dengan cemas. Bagaimana tidak, kedua sahabatnya itu sedang hamil.


Saleh segera mengunci pintu otomatis.


"Sepertinya mereka orang jahat non!" kata Saleh membuat ketakutan Ara Cindy dan Ines semakin bertambah.


Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Wisnu.


Dulu sewaktu Rafa memberi dia mobil taksi ini, Wisnu memberinya nomor pribadi mengingat Ara selalu naik kendaraannya.Tujuannya untuk keselamatan nona mudanya jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Telpon tersambung.


"Tuan....terjadi sesuatu yang buruk. Mobil kami di cegat oleh sekelompok orang jahat.....!"


"Prangk......!"


Bunyi kaca mobil yang pecah karena terkena benda keras dan kuat mengakhiri kata kata Saleh. Saleh terkejut dan gemetaran.


Ara, Cindy dan Ines itu menjerit ketakutan dan juga gemetar.


Kembali terdengar pukulan keras dan kacah pecah.


Ponsel Ines terlepas dari tangannya. Saat itu dia sedang menghubungi Wisnu, tapi sibuk.


Dia tidak tahu kalau saleh sedang menghubungi Wisnu.


"Apa yang terjadi? Mang Saleh... mang Saleh!" teriak Wisnu dari seberang dengan panik mendengar suara keras dan jeritan. Sudah dapat di pastikan terjadi sesuatu yang buruk pada ketiga wanita itu.


Tak ada jawaban, karena ponsel Saleh telah di rebut oleh salah seorang di antara mereka. Lalu di lemparnya ke jalanan.


"Cepat keluar!" sentak salah seorang di Antara mereka sambil mengayunkan pistol. Dia segera membuka pintu mobil saleh setelah memecahkan kaca pintu mobil di samping Saleh. Dia segera membuka pintu otomatis. Lalu menarik saleh keluar dengan kasar. Pria kekar itu melayangkan pukulan ke wajah saleh berulang kali karena berusaha melawan.


Saleh jatuh terkapar di jalanan.


Pria lainnya segera mengeluarkan Ara dan yang lainnya dengan kasar.


Ketiganya, berteriak teriak meminta tolong dan berontak


Karena terus melawan, para pria itu memukul titik vital pada punggung mereka hingga akhirnya ketiganya pingsan.


Tubuh mereka segera di pindahkan ke mobil mereka, lalu secepatnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi sebelum kendaraan lain datang.


3 menit berlalu, anak buah Wisnu sampai di tempat kejadian. Mereka segera memeriksa mobil saleh yang rusak parah. Juga mengangkat tubuh Saleh terkapar pingsan.


Mereka semakin cemas dan ketakutan.


Segera mereka memberi laporan pada Wisnu yang sedang menuju ke tempat itu bersama Rafa dan Dion.


Sudah dapat di bayangkan bagaimana kemarahan dan kecemasan ketiga pria itu setelah mendapat laporan kejadian buruk yang menimpa pada istri istri mereka.


Mereka langsung memeriksa tempat itu begitu sampai. Berusaha menyadarkan Saleh untuk di mintai keterangan ciri ciri pelaku penculikan.


Rafa dan Wisnu segera menghubungi para geng mafia yang berhubungan dengan mereka.


Para mafia yang pro dan kontra dengan mereka.


Sementara Dion menghubungi polisi dan juga orang tuannya untuk meminta bantuan. Dinda yang mendengar Cindy di culik, syok dan pingsan. Raymond segera meluncur menemui mereka ke TKP.


Setelah sadar, saleh segera menceritakan kronologi kejadian dan juga ciri ciri para penculik. Rafa mendengus geram karena tak ada tanda menonjol yang di katakan saleh dari para penculik itu.


"Tuan....!" kata Wisnu memperlihatkan sesuatu di tangannya. Sebuah benda yang ditemukan di antara rerumputan.


"Beraninya kalian menyentuh istirku!" Rafa menggenggam kuat benda tersebut sampai kepalan tangannya bergetar. Wajahnya memerah, mata menyorot tajam menyala, rahang bergetar menahan amarah yang berapi-api.


*****


Terlalu banyak kesibukan ( sibuk belajar dalam rangka mengikuti ujian CPNS), makanya lama baru Up πŸ™

__ADS_1


__ADS_2