
"Semoga Allah selalu melimpahi kesehatan dan perlindungan untuk kalian. Semoga hidup kalian di penuhi keceriaan dan kebahagiaan." ucap Ara haru.
"Amiinn." jawab mereka yang ada di situ.
Ara segera melepaskan pelukannya. Tersenyum menatap mereka.
"Akhirnya bibi bisa bertemu kalian. Paman Rafa sudah menceritakan tentang kalian. Ternyata paman Rafa benar, kalian anak anak baik dan tampan." kata Ara menoleh sekilas pada suaminya.
Rafa tersenyum kepadanya.
"Bibi Ara juga cantik dan baik Paman Rafa selalu ngomong begitu pada kami. Ayah juga selalu mengatakan kalau bibi orang yang sangat baik. Dan ternyata paman dan ayah benar." jawab Azhar dengan polosnya.
Ara tersenyum malu-malu mendapat pujian seperti itu. Dia melirik pada suaminya yang tampak tersenyum lebar.
Ara segera mengajak mereka duduk, di ikuti yang lainnya. Ara duduk di tengah mereka.
"Terus Azham dan Azhar udah punya teman belum di sini?"
"Punya bibi. Azhar akan kenalin kakak cantik kami pada bibi dan paman." kata Azhar.
"Kakak cantik? jadi temannya perempuan ya?" tanya Rizal.
"Iya paman dokter, kakak cantik orangnya baik." jawab Azham.
"Nanti kenalin pada kita semua ya teman barunya Azhar dan Azham." kata Rafa.
"Baik paman."
Narsih dan Sita datang membawa minuman dan cemilan. Lalu di letakkan di atas meja. Narsih melirik sejenak pada anak anak itu dan tersenyum. Lalu segera beranjak pergi.
"Oh ya Azham Azhar...bibi dan paman punya dua keponakan lho. Kalian bisa kenalan dan temanan sama mereka. Namanya Cio dan Cia. Mereka sama seperti kalian, kembar. Usia mereka di bawah kalian. Keduanya kelas dua SD. Besok bibi akan ajak mereka berdua kesini. Azham dan Azhar bisa main sama mereka."
"Mau bibi, mau___." sorak si kembar girang.
"Wah ....kita akan punya teman baru lagi kak Azham." kata Azhar senang.
Azham angguk angguk kepala ikut senang.
Azhar tiba tiba bangkit berdiri dan melangkah cepat.
"Kakak cantik, kakak cantik." panggilnya begitu melihat Ines yang melangkah ke arah mereka bersama Dion dan Cindy.
Azham juga segera berlari mengikuti adiknya.
"Azhar Azham...???" seru Ines kaget melihat mereka.
Kedua anak itu langsung memeluk Ines dari samping. Ines segera merangkul mereka. Mengecup puncak kepala mereka bergantian.
Semuanya menatap heran ke arah mereka.
Melihat mereka saling berpelukan.
Ara segera mendekati mereka.
"Azham dan Azhar kok bisa ada di sini?" tanya Ines.
"Kami mengunjungi paman dan bibi kami kak." Jawab Azham.
__ADS_1
"Paman dan bibi? Maksud kalian?"
"Paman Rafa dan bibi Ara."
Ines dan Cindy kaget mendengar ucapan Azham. Mereka melihat pada Ara yang baru tiba di depan mereka.
"Nes....." Cindy menanyakan ke dua anak itu dengan bahasa isyarat.
"Nes...kamu kenal sama azham dan Azhar?" Ara ikut bertanya.
"Iya Ra. Itu tuh, teman baru aku dari Amerika yang ku katakan pada kalian di Mall tadi. Mereka yang Akan ku kunjungi malam ini." kata Ines masih merangkul anak anak itu.
"Oohh___!" ucap Cindy dan Ara Kompak
Cindy segera menyapa mereka berdua, begitu juga dengan Dion.
"Cind, sepertinya aku gak bisa pulang bareng kalian." kata Ines.
"Gak apa-apa Nes. Kamu di sini aja dulu sama mereka." kata Cindy.
"Bahagia selalu ya buat kalian."
Cindy mengangguk tersenyum.
Ketiganya berpelukan.
"Hati hati di jalan ya?" kata Ara.
"Iya Ra, makasih atas semua kebaikan mu pada kami."
Ara mengangguk tersenyum.
"Iya kak,"
Dion dan Cindy segera melangkah mendekat ke tempat Rafa. Rafa Rizal dan Moly segera berdiri melihat kedatangan mereka.
Rizal dan Moly kaget melihat keberadaan Dion di tempat ini.
"Tuan Dionel Alkas." Sapa Moly menunduk sopan. Begitu juga dengan Rizal dan Wisnu.
Dion tersenyum membalas sapaan mereka, lalu dia mendekati Rafa dan menatap lekat.
"Aku pamit dulu tuan Ravendro, senang rasanya mengunjungi hunian megah anda ini." menjulurkan tangan pada Rafa.
Rafa mendengus pelan, lalu menjabat tangannya sangat kuat. Dia mendekat kan wajahnya di depan wajah Dion.
"Sekali lagi kau membuat masalah, akan ku bunuh kau." bisiknya tegas dengan tatapan tajam senyuman menyeringai.
Dion kaget tapi segera tersenyum. Dia arti mengerti ancaman itu.
"Aku siap menerima hukuman mu, jika membuat kesalahan lagi." kata Dion berisik.
"Cih..." umpat Rafa. Dia segera menarik tangannya, menyusul tubuhnya mundur kebelakang.
"Wisnu... antar Tuan Alkas dan istrinya ke bawah." perintahnya pada Wisnu.
Wisnu segera bergerak.
__ADS_1
Cindy menunduk sesaat pada Rafa."Terimakasih tuan Ravendro." katanya sebagai ungkapan rasa terima kasih atas bantuan Rafa yang membantu menyelesaikan permasalah dalam rumah tangga mereka. Lalu dia segera mengikuti langkah suaminya.
"Kenapa putra Alkas bisa berada di sini?"
tanya Moly setelah kepergian mereka. Dia melihat pada Rafa.
"Apalagi? Tentu saja menjemput istrinya." Jawab Rafa, tak ingin mengatakan apa yang terjadi pada rumah tangga Dion dan Cindy. Dia duduk kembali seraya memperhatikan Ines, Azham dan Azhar yang tampak dekat. Ketiganya terlihat Akbar di matanya.
Beberapa saat kemudian, Wisnu kembali dan mengambil tempat di belakang tuannya.
"Kak Ines juga ada di sini? Gak nyangka ketemu kakak di sini, kami senang banget." kata Azham.
"Kak Ines juga senang ketemu kalian. Kakak gak sangka bisa ketemu kalian di sini." kata Ines dengan senang.
"Bibi Ara temannya kakak. Juga kakak yang baru saja pergi itu. Namanya kak Cindy. Kami bertiga sahabat. Tadi kami dari kampus dan masih mampir ke sini." kata Ines menjelaskan hubungannya dengan Ara.
"Benar, kami bertiga sahabat." Ara ikut mengangguk tersenyum.
"Terus Azham dan Azhar ke sini sama siapa?" tanya Ines.
"Paman dokter dan bibi Moly." jawab Azham mewakili.
"Ohhh...." ucap Ines.
"Kak, Ayo berdiri, ikut bersama kami." Azhar menarik tangan Ines.
Ines segera berdiri "Mau kemana?"
Azham dan Azhar memegang kedua tangannya, di tarik menuju ke tempat Rafa.
Ara mengikuti di belakang mereka.
Setelah di depan mereka, Azham mendekati Wisnu.
"Kak Ines. Ini ayah kami. Dan ayah, ini kak Ines teman baru kami yang kami katakan pada ayah." kata Azhar memperkenalkan Ines dan tidak Wisnu.
"Apa? Ayah?" ucap Ines terkejut.
"Jadi, sekretaris Wisnu ayah kalian?" tanyanya seakan tak percaya.
"Iya, apa kakak kenal dengan ayah kami?" kata Azhar.
"I-iya....!" Jawab Ines gugup dan memaksa tersenyum seraya menatap pada Wisnu.
Dia tidak menyangka Wisnu ayah anak anak ini. Hampir setiap saat bertemu tapi dia tidak tahu kalau sekretaris menyebalkan ini adalah ayah Azham dan Azhar.
Selanjutnya, Azham juga memperkenalkan Ines pada mereka semua sebagai teman baru mereka.
Beberapa menit berlalu Adzan Magrib berkumandang.
Mereka melaksanakan shalat berjamaah.
Sambil menunggu waktunya makan malam, Ara, Ines dan si kembar bermain bersama.
Sementara Rafa, Wisnu, Moly dan Rizal berada di ruang kerja Rafa. Rafa memeriksa beberapa berkas kerjanya, dan seperti biasa di bantu Wisnu sebagai sekretaris pribadinya.
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya....