Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 118


__ADS_3

"Ayo sayang, semuanya sedang menunggu." kata Raka di sela sela musik yang mengalun dan nyanyian para tamu.


Mau tidak mau Ara mengikuti kemauan suami dan kakak ipar tertuanya itu. Dia mendekat lebih dekat pada Rafa, berdiri di depan kue. Lalu mengambil pisau dari Rafa dan memegangnya dengan tangan kanan.


Rafa meliriknya sekilas, lalu memposisikan tubuhnya seperti memeluk Ara dari belakang. Memegang tangan Ara yang menggenggam pisau.


Di rasakan tangan itu agak gemetaran begitu di pegang.


"Apa segitu takutnya dia padaku?" gumamnya dalam hati.


Menoleh sekilas, tapi secara tak sengaja membuat hidungnya menyentuh pipi Ara.


Rafa cepat mengalihkan pandangannya ke depan. Mengarahkan pisau pada kue tart besar dan mewah. Sementara yang di rasakan Ara saat ini adalah nervous.


"Tanganmu gemetar, sepertinya kau terlalu tegang, rileks saja."


kata kata itu terdengar tepat di telinganya. Yang di bisik Rafa tepat di telinganya. Ara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Berusaha menenangkan diri. Dia memang tidak tenang saat ini dan agak takut berdekatan dengan Rafa sedekat ini.


Kilatan cahaya kamera menyorot terus pada mereka.


Potong kuenya ___potong kuenya....


Lagu dari keluarga Artawijaya, Rizal dan para tamu, artis, host yang di iringi musik.


"Mari kita potong kuenya bersama sama." bisik Rafa kembali. Ara mengangguk.


Rafa memegang sedikit kuat tangan Ara, lalu membawa pisau ke atas. Lalu memotong kue dari atas perlahan turun ke bawah kemudian memotong ke sudut Lain lagi,


Tepuk tangan riuh menggema di ruangan itu,


Rafa segera melepaskan pegangannya pada tangan Ara.


Makan kuenya


Makan kuenya


Makan kuenya


Sekarang juga


Sekarang juga


Sekarang juga


"Sayang, ayo suapi kak Rafa, nanti kak Rafa balas menyuapi mu." ucap Raka di antara hiruk-pikuk tepuk tangan dan musik.


"Ayo Rafa, kau duluan suapi Ara." seru Rizal dengan mimik wajah menyuruh, seraya bertepuk tangan sambil bernyanyi makam kuenya.


Ara hendak mengambil sepotong kue, Tapi di dahului oleh Rafa. Lalu di suapi pada mulut Ara. "Ayo gantian sayang, suapi kak Rafa." kata Raka sangat antusias.


Ara mengambil sisa kue dari tangan Rafa, lalu menyuapkan ke mulut Rafa.


Tepuk tangan terdengar riuh berakhirnya suap acara suapan di antara mereka.


"Selamat ulang tahun kakak ipar." ucap Ara tulus.


Rafa menatapnya, memperhatikan wajah di balik topeng.


"Selamat ulang tahun juga untukmu." ucap Rafa lembut dan tulus.


Ara tersenyum. Keduanya menatap beberapa saat. Selanjutnya Rafa meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Tiba tiba saja gerakan itu terjadi tanpa di sadari. Di pikirannya hanya ingin memeluk gadis itu di hari lahir mereka.


Semuanya bertepuk tangan melihat keakraban, kasih sayang di antara mereka sebagai kakak dan adik ipar.


"Selamat ulang tahun." katanya kembali menyapu puncak kepala gadis itu dengan lembut.


"Selamat ulang tahun untuk kalian berdua, aku menyayangi kalian." ucap Raka terharu.


Dia ikut memeluk dari belakang Ara,


memeluk istrinya sekaligus kakaknya, membuat tubuh Ara terhimpit di antara keduanya.

__ADS_1


Nesa dan Maya ikut memeluk dari samping.


Keduanya juga terharu dan bahagia.


Suasana penuh keharuan, rasa sedih bahagia bercampur jadi satu di rasakan oleh mereka bahkan oleh tamu yang hadir.


Rizal ikut memeluk mereka dari belakang Rafa.


Suara tepukan dan rasa kekaguman terucap dari mulut sebagian tamu undangan melihat kebersamaan dari keluarga konglomerat ini,


di selingi lagu happy birthday to you.


Rafa melepaskan pelukannya ketika merasakan tepukan tangan Ara di dadanya,


begitu juga dengan Raka dan Nesa.


Ara mulai susah bernafas karena terhimpit kuat di antara mereka.


Dia mengatur nafasnya perlahan-lahan.


"Kamu gak apa apa?" tanya Rafa melihat Ara yang mengatur nafas. Nada cemas.


Sementara Raka mengelus punggung istrinya.


"Sayang, Kau tidak apa apa?" tanyanya memperhatikannya istrinya dengan cemas.


Ara menggeleng


"Gak apa-apa, aku baik baik saja." katanya.


Rafa menarik lega, begitu juga dengan Raka. Setelah acara inti selesai Rafa memberi isyarat pada Raka untuk turun ke bawah, bergabung bersama rekan bisnisnya. Begitu juga dengan Nesa dan Rizal, turun berbaur dengan teman teman mereka.


Maya memilih kembali ke kamar karena merasa capek dan lelah.


Sang MC datang memberikan mic pada Raka ketika pria itu memberi isyarat untuk bernyanyi. Lalu terdengar musik dengan nada dari lagu " Kado Ulang tahun "


Raka meraih pinggang Ara dan di peluk, menatap mesra dan hangat.


"Spesial lagu untuk istriku tercinta, dan tercantik sejagat raya." ucap Raka


"Juga lagu ini saya persembahkan untuk kakak ku tercinta, kak Rafa." kata Raka kembali sembari melihat Rafa di bawah sana yang langsung di sambut Rafa dengan senyuman.


Lalu Raka mulai bernyanyi mengikuti


irama musik:


Lilin kecil menyala di sini


Ku redupkan kembali lagi


Ku panjatkan doa syukur bagimu


Ku ingat hari ini ulthamu


Semuanya terpesona mendengar suaranya yang indah dan merdu. Semuanya menatap ke pada Raka Yang tak lepas memeluk pinggang ramping istrinya yang terlihat malu, bergelayut manja di lengannya.


Usiamu semakin dewasa


Di masa remaja yang cerah


Bunga bunga di taman hatimu


Yang tumbuh indah wangi kasih


Hanya ku persembahkan untukmu


Selamat ulang tahun ku ucapkan


Sambutlah hari indah bahagia


Selamat ulang tahun untuk kamu

__ADS_1


Panjang umur di dalam hidupmu


Terimalah kadoku buat kamu


Yang kupersembahkan lewat laguku ini


( Raka mengecup lembut kening dan bibir istrinya )


Terdengar tepukan tangan meriah dan suara histeria kekaguman melihat keromantisan Raka pada Ara.


Ara terkejut dan semakin malu wajahnya tambah merah merona seperti udang rebus. Dia menekan wajahnya di sembunyikan di lengan kanan Raka.


Rafa yang saat ini bergabung dengan para rekan rekan bisnisnya ikut senang dan terharu melihat kebahagiaan kedua adiknya.


Mereka kembali terlibat pembicaraan serius setelah selesai melihat pertunjukan Raka. Sesekali terdengar kelakar tawa dari mereka.


Nesa yang juga sedang duduk bersama teman temannya ikut bahagia melihat adiknya bersama Ara, wanita yang di dicintai adiknya itu.


Sedangkan Rizal? dia kelilingi oleh para artis yang hanya membicarakan tentang Rafa.


"Dokter, sangat sulit mendekati Tuan Ravendro, bantu kami dong." kata mereka pada Rizal membuat Rizal kesal dan cemberut."Hey, aku di sini Kalian malah membicarakan Rafa."


Musik di ambil alih sang MC dan di lanjutkan oleh artis artis tanah air yang di undang.


Raka segera mengajak Ara berkenalan dengan teman-teman masa kecilnya yang ikut bersama orang tua di acara ini. Setelan berkenalan mereka terlibat pembicaraan seru mengenang masa sekolah dulu. Ara duduk mendengarkan saja. Hingga perutnya berbunyi, tandanya dia lapar dan minta di isi.


"Kak, aku mau ngambil makanan." bisik Ara.


"Kamu lapar sayang?"


"Iya ...!" Ara mengangguk.


"Ayo kita ambil makanan." ajak Raka hendak berdiri. Tapi di tahan Ara.


"Kakak ngobrol sama temen temen kakak saja, aku pergi sendiri saja."


"Gak apa apa pergi sendiri? biar ku temani sayang."


"Iya, meja makannya dekat kok."


"Baiklah, nanti cepat balik ke sini."


Ara mengangguk, dia pamit pada teman-teman suaminya. Berjalan menuju meja makanan. Dia memberi senyuman ramah pada orang yang di lewatinya.


Ada yang bersikap ramah padanya, ada juga yang menatapnya tidak senang, ada yang biasa saja. Ara tidak perduli, tetap tersenyum dan melangkah berjalan.


Terlihat sekolompok gadis tampak membicarakannya."Beruntung banget dia, di nikahi oleh Raka." kata seorang gadis.


"Apa orang tuanya juga sangat kaya?" kata yang seorang lagi.


"Jelek dan kampungan, coba perhatikan kacamata tebal yang ia kenakan tertutup topeng."


"Mungkin saja acara topeng ini di buat untuk menutupi wajah buruknya?"


"Di beri apa Raka sampai begitu mencintainya? jangan jangan Raka kena pelet olehnya ?"


"Atau apa dia memakai susuk untuk memikat Raka?"


"Bahkan Tuan Ravendro juga menyayanginya. Dia pasti memakai pelet menarik hati keluarga Artawijaya."


Berbagai pernyataan dan argumentasi buruk di dengar oleh telinganya. Ara menoleh ke sekumpulan gadis itu. Menatap sinis tak suka kepadanya. Bahkan ada yang jijik.


"Silahkan di nikmati hidangan nya." hanya itu kata kata yang keluar dari mulut Ara.


Lalu melanjutkan langkahnya.


"Berhenti." kata seseorang dari mereka.


"Pelet apa yang kau pakai memikat hati Raka?" sambung gadis itu.


Langkah Ara terhenti.

__ADS_1


"Astaghfirullah." ucapnya.


Bersambung.


__ADS_2