
Sesampai di pintu kamar.
"Pak Sam istirahatlah." kata Ara pelan
"Apa nona sudah merasa lebih baik?"
Ara mengangguk berusaha tersenyum.
"Bapak jangan khawatir, saya sudah merasa lebih tenang."
Padahal Sam melihat kedua tangan nona mudanya ini masih gemetaran. Kristal bening masih menggenangi di kelopak matanya.
"Saya mau sholat isya, saya belum melaksanakannya." lanjut Ara
"Baik nona, kalau nona butuh sesuatu panggil saya."
Ara mengangguk pelan. Lalu segera masuk dan menutup pintu setelah Sam beranjak pergi.
Perlahan dia menuju kamar mandi dengan tubuh yang masih gemetaran dan lemas.
Membersihkan diri sesaat, mengganti pakaian, lalu mengambil air wudhu. Menyembah sang pencipta, memohon ampunan dengan segenap hati dan jiwanya.
Tangisnya kembali pecah, air matanya tumpah ruah di terakhir sujudnya, mengalir di atas sajadah.
Sam yang sudah kembali dan berdiri di depan pintu kamar nona mudanya mendengar tangisan itu. Sebenarnya tadi dia sudah turun, tapi hanya untuk mengambil makanan karena dia tau Ara belum makan. Dia juga masih merasa khawatir dengan keadaan nona mudanya, makanya dia cepat naik kembali.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tak terdengar lagi suara tangis dari dalam.
"Apa nona sudah tidur?" batin Sam masih terus mematung di depan pintu dengan nampan di tangannya berisi makanan."Nona harus makan, kalau tidak dia akan sakit." batinnya kembali.
Dia mengangkat tangan hendak mengetuk pintu. Tapi tiba tiba pintu terbuka. Ara muncul di balik pintu dengan mata yang sembab dan bengkak dengan masih menggunakan mukena.
"Saya ingin mengantar makanan. Anda belum makan malam. Makanlah dulu." kata Sam.
"Terima kasih pak Sam, saya tidak lapar. Seharusnya bapak istirahat saja." jawab Ara lemah dan tersenyum. Dia melihat makanan itu.
"Saya khawatir dengan keadaan nona." kata Sam.
__ADS_1
"Saya sudah tidak apa apa! Bapak tidak usah khawatir." kata Ara melihat kekhawatiran di wajah kepala pelayan ini. Dia mengambil susu dan meminumnya."Ini sudah cukup mengganjal perut saya." katanya kembali sambil tersenyum.
"Tapi Nona tetap harus makan, sedikit saja."
"Saya tidak lapar kok! Oh ya, saya ingin menanyakan sesuatu." kata Ara teringat keinginannya hendak keluar tadi.
"Silahkan nona."
"Jika suasana di negara kita sekarang adalah malam hari, lalu bagaimana dengan suasana di Amerika?"
Kening pak Sam berkerut.
"Kenapa nona menanyakan hal itu?" tanya Sam dengan wajah mengernyit.
"Saya ingin menghubungi kakak ipar, tapi saya ragu jikalau nanti akan mengganggunya. Kata kak Raka kakak ipar ada di Amerika saat ini. Bolehkah saya meminta nomor teleponnya?" Ara balik bertanya.
"Boleh nona." Sam meraih ponsel di saku celananya, mencari nomor Nesa, karena saat ini Nesa sedang berada di Amerika mendadak pergi tadi subuh.
"Ini nomor HP nona Nesa. Tapi untuk apa non menelponnya?"
"Bukan nomor telepon kak Nesa. Kalau kak Nesa saya punya. Tapi nomor telpon kak Rafa." kata Ara menatap wajah pelayan tua ini.
"Tuan Rafa?"
Ara mengangguk tersenyum.
"Sebenarnya tadi saya ingin menanyakan kepada kak Raka. Tapi saya khawatir menggangu kerjanya, atau mungkin saja saat ini dia sedang tidur! Saya tidak ingin menggangu istirahatnya."
"Maaf nona, kalau boleh saya tau, untuk apa nona meminta nomor telpon tuan Rafa?"
"Saya ingin menyampaikan hal penting. Sebenarnya tadi pagi kak Raka menyuruh saya untuk menelepon kakak ipar. Tapi saya lupa karena seharian ini terlalu sibuk, dan baru teringat tadi ketika selesai sholat." kata Ara.
"Oh ya pak Sam, apa boleh saya menelepon kakak ipar? apa dia tidak akan marah? Karena saya dengar kakak ipar orangnya dingin dan pemarah. Saya ragu dan takut untuk menghubungi nya!" lanjut Ara masih menatap lekat wajah Sam.
"Tuan Rafa memang tidak sembarang menerima telpon. Dan tidak semua orang bisa berbicara dengannya. Bukan hanya di telpon, tapi juga bertemu dan bertatap muka secara langsung." kata Sam.
Ara terkejut. "Oh ya?"
__ADS_1
Dia jadi dua hati untuk menelpon.
"Tuan tidak pernah memegang handphone! Jika ingin berbicara dengan tuan Rafa, Nona hubungi saja Wisnu, sekretaris pribadi tuan Rafa. Semua telpon dan pesan yang masuk akan terhubung pada Wisnu, lalu Wisnu yang akan menyampaikan semua pesan nona kepada tuan Rafa." kata Sam menjelaskan.
"Apa semua orang yang ingin menghubunginya harus melalui sekretaris Wisnu?"
Sam mengangguk.
"Terus jika kak Raka ingin berbicara dengan kakak ipar, apa harus melalui sekretaris Wisnu juga?" tanya Ara lagi.
"Bukan hanya tuan muda Raka, tapi juga semua penghuni rumah ini. Nyonya Maya, nona Nesa, dan juga si kembar."
Ara melongo mendengar penuturan itu.
"Bahkan mama, kak Raka, kak Nesa juga harus melalui sekretaris Wisnu? Mereka kan keluarganya. Ini terlalu berlebihan, sungguh terlalu kak Rafa pada keluarganya sendiri." batin Ara seakan tidak percaya mendengar perkataan Sam tentang kakak ipar keduanya itu.
"Ini nomor telpon sekretaris Wisnu Nona. Silahkan di simpan." Sam menyerahkan ponselnya.
Ara segera menyalin nomor HP sekretaris Wisnu, meski dia ragu.
"Terimakasih pak. Sebaiknya Bapak istirahat saja. Saya mau menghubungi sekretariat Wisnu." kata Ara.
"Jika Nona butuh sesuatu, beritahu saya. Saya permisi."
"Pak Sam, kejadian tadi jangan sampai di ketahui oleh kak Raka ya?"
"Baik nona." Sam menundukkan kepala, lalu segera berbalik dan turun ke bawah.
Ara segera menutup pintu kamarnya.
"Untung saja kak Raka batal pulang malam ini.
Kalau pulang bagaimana jadinya jika dia melihat wajahku bengkak begini," gumamnya sedih mengingat kembali kejadian tadi.
*****
Tak hentinya author meminta dukungan dari para reader tercinta π
__ADS_1
πβΊοΈ