
Waktu menunjukan pukul lima sore.
Dion dan Raymond saat ini sedang berada di kantor polisi bersama pihak kepolisian masih terus melacak dan mencari penculik Cindy dan lainnya. Keduanya semakin cemas karena hingga saat ini pihak kepolisian belum mendapatkan tanda-tanda keberadaan mengenai ketiga wanita ini. Dan hingga detik ini belum ada telpon yang masuk dari si penculik menginginkan tebusan atau hal semacamnya.
Dion berulang kali mengusap wajahnya kasar dengan ******* kesedihan seraya menyebut nyebut nama Cindy dan anak anaknya.
Raymond berusaha menenangkannya meski dia sendiri tidak tenang dan sangat khawatir dengan keadaan keponakan dan cucunya.
Dion berpikir siapa yang berani menculik ke tiga wanita itu?
Ingatannya melayang pada Bela yang akhir akhir ini selalu menghubunginya tapi selalu di hindari.
"Mungkinkah Bela orang yang telah melakukannya?" batinnya.
Segera dia mencari nomor yang biasa di pakai Bela menghubunginya.
Sibuk mencari nomor tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering.
Dion kaget menatap layar ponselnya.
Telepon terus berdering dari nomor baru. Raymond dan komandan polisi segera mendekatinya.
Sang komandan segera memberi isyarat kepadanya untuk segera mengangkat.
Mereka telah siap merekam dan melacak nomor tersebut.
Saat Dion hendak menekan tombol hijau, telepon malah mati.
Ketiganya saling berpandangan.
Dion menghubungi nomor tersebut, tapi batal dengan adanya pesan yang masuk.
Segera Dion membuka pesan tersebut.
"Aku tahu kau sedang bersama pihak kepolisian. Menjauhlah dari mereka jika ingin istrimu selamat. Jangan libatkan mereka dan juga lainnya. Aku tidak main-main... dan kau jangan bermain-main dengan ku, atau menipuku, mengelabuiku. Karena aku dapat melihatmu dan tahu apa yang kau lakukan!" isi pesan entah siapa karena nomor baru.
"Pesan dari siapa tuan Dionel?" tanya inspektur polisi.
Dion sedikit kaget.
"Dari tuan Ravendro. Dia bertanya apa kita sudah mendapatkan perkembangan dari penculikan itu?!" jawabnya gugup.
Inspektur dan Raymond menanggapi dengan tatapan mengernyit.
Dion tersenyum sekilas lalu pamit untuk menghubungi seseorang.
Dia segera melangkah menjauh pergi keluar mengikuti isi perintah pesan.
"Keluar dari ruangan itu dan naik ke mobil.
Tinggalkan tempat itu sekarang juga ! Pastikan tidak ada yang mengikuti mu!" pesan susulan berikutnya.
"Siapa kau berani memerintah ku? kau pikir aku percaya padamu?" balas Dion untuk memastikan apakah Bela yang telah menculik Cindy, Ara dan Ines. Dia tidak segera menuruti keinginan si pengirim pesan, tapi malah duduk di lobi kantor. Kali saja isi pesan tersebut hanya mempermainkan dirinya.
"Terserah dirimu jika ingin istri sekaligus adikmu ini mati di tanganku! Dan pikirkan bagaimana dengan nasib anak anakmu jika ibu mereka mati? apa kau ingin mereka tak melihat dunia? Baiklah tuan Dion....jika itu mau mu. Tak usah kau mengikuti perintah ku." balasan selanjutnya.
Wajah Dion menegang membaca pesan itu.
Hatinya kembali cemas dan takut membayangkan nasib istri dan anaknya.
Dia mengumpat kasar dan langsung berlari ke dalam mobil. Lalu segera meninggalkan tempat itu.
Inspektur polisi menatap kepergiannya dan segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti Dion diam diam.
Dalam perjalanan Dion kembali mengirim pesan.
"Aku sudah mengikuti perintah mu. Sekarang katakan di mana istriku dan kedua sahabatnya?"
Teleponnya berdering.
Dengan cepat Dion menyambungkan dengan kabel headset dan di sumbat kan ke lubang telinganya. Lalu segera mengangkatnya.
"Haloo tuan Presdir yang terhormat!" suara manis dari seberang. Di susul tawa kecil.
Dion mendengus geram setelah mendengar suara itu. Bela.....dia mengenal suara wanita itu.
__ADS_1
"Kau? jadi kau pelakunya Bela?" sentaknya keras.
"Hahaha, ternyata kau masih ingat suaraku tampan...!"
"Di mana istriku Bela?" teriak Dion kembali.
"Hey...jangan teriak teriak seperti itu pak Presdir. Kupingku sakit. Kenapa kau selalu bicara kasar dengan ku? lembut lah seperti aku bicara padamu!"
"Wanita rendah seperti dirimu layak di kasarin. Cepat katakan di mana istriku?" bentak Dion kembali.
"Kau pikir semudah itu mendapatkan istrimu? cih....!" Bela mengumpatnya.
"Kau telah membohongi ku Dionel Alkas. Kau mempermainkan ku. Salahkan dirimu. Kau akan dapatkan balasannya melalui anak dan istrimu!" Sentak Bela.
"Jangan sentuh istri dan anakku Bela. Aku tidak akan memaafkan mu bila terjadi sesuatu pada mereka. Akan ku bunuh kau." teriak Dion keras.
"Uuuuhh.... takuuut! Hahahaha!" ejek Bela menertawainya.
"Bela...!" teriak Dion geram.
Emosinya semakin memuncak.
Bela kembali tertawa dari seberang.
"Sayang, jangan berteriak dan marah seperti itu. Nanti tampan mu hilang. Ayolah bicaralah lembut dan manis kepadaku. Apa kau tahu? aku sangat merindukanmu sayang! Berulangkali aku menghubungi mu tapi kau selalu menghindariku, mengabaikan ku !" ucap Bela manja.
Dion kembali mendengus geram.
Ingin sekali dia mencekik leher wanita gila ini.
Tapi sekuat mungkin dia berusaha menekan kemarahannya. Bicara dengan wanita gila seperti ini hanya semakin menambah kemarahannya.
Dion menenangkan hatinya meredam kemarahannya yang sudah memuncak. Untuk sementara lebih baik mengalah dan menurut kemauan wanita gila ini demi keselamatan Istrinya.
"Baiklah Bela, katakan apa mau mu?" merendahkan suara.
Suara tawa keras Bela terdengar lagi setelah mendengar ucapannya.
"Kau pasti sudah tahu apa mau ku. Keinginanku masih sama, belum berubah! Aku ingin dirimu sayang.... sangat menginginkan dirimu! Aku sangat merindukan dirimu, senyummu, sentuhan mu. Setiap saat aku selalu menghayalkan mu!" ucap Bela lembut.
"Terserah dirimu. Aku tidak akan memaksa ! Tak perlu kau menyesal jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak anakmu!" kata Bela kesal lalu mematikan telepon.
Dion kaget dan panik.
"Ja*ang rendah." makinya geram. Dia meremas kuat ponselnya dengan gigi gemeletuk menahan amarah.
Kembali menenangkan hatinya, lalu segera menelpon nomor Bela.
Bela tersenyum menyeringai dari seberang melihat ponselnya bergetar dan menyala. Tertera nama dan wajah tampan Dion di layar ponselnya. Dia sangat suka melihat wajah tampan ini.
Dia tidak segera mengangkat telpon Dion untuk membuat lelaki yang membuatnya tergila-gila itu panik.
Detik detik panggilan terakhir dia segera mengangkatnya.
"Ada apa lagi? sudah ku katakan aku tidak akan memaksamu!" katanya ketus berpura pura kesal.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan mu. Tapi aku harus pastikan dulu keadaan istriku. Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja. Aku harus melihat istriku terlebih dulu! Aku tidak mau tertipu oleh perkataan mu!" kata Dion.
Bela mendengus pelan.
"Saat ini istrimu sedang tidak baik Dion. Keadaannya akan semakin buruk bila kau menunda waktu dan macam macam. Aku tidak akan memberi mu waktu lama. Semakin kau berulah, kematian istri bodohmu itu semakin cepat. Jika kau perduli pada keselamatan istri dan anakmu segera temui aku. Datang sendiri. Suruh para polisi dan orang orang ayahmu yang mengikuti mu diam diam menjauh darimu dan jangan ikut campur!" katanya tegas dan mengancam.
Dion terhenyak.
Dia tidak menyangka Bela mengetahui pergerakannya. Ternyata wanita ini sangat licik dan sudah memperhitungkan semuanya.
"Baik. Aku akan mengirim pesan pada mereka." katanya kemudian.
Dia segera menulis sebuah pesan pada pihak kepolisian dan ayahnya, padahal dia mengirim pesan pada Wisnu.
Bela tersenyum senang.
"Aku menantikan dirimu sayang. Cepat lah kesini. Aku tak sabar ingin bertemu denganmu, menyentuh mu, bercumbu dan bercinta dengan mu! Nanti aku akan memberi petunjuk padamu!" lalu mematikan telepon karena dia tahu telepon Dion di sadap oleh pihak kepolisian.
"Wanita ja*ang!" maki Dion. Dia segera menambah laju kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Bela tertawa puas.
Lalu melihat pada tiga sosok wanita yang tergeletak pingsan. Dia menatap sinis pada Cindy. Sungguh dia sangat benci wanita itu. Lalu melangkah menuju sebuah kamar kosong yang telah terhias indah dan di beri aroma wangi yang menebar memenuhi ruangan tersebut. Di atas ranjang di taburi kelopak bunga mawar merah. Tempat yang telah di siapkan untuk menghabiskan waktu berdua bersama Dion sepanjang malam. Dia tersenyum sambil berimajinasi mengenai malam indah yang akan di laluinya bersama lelaki pujaan hatinya itu. Di meja Sofa terdapat minuman anggur yang telah di beri obat perangsang untuk menjebak Dion. Pada kursi Sofa tergeletak sebuah paper bag berisi lingerie yang nanti akan di pakai untuk menjerat dan memancing hasrat Dion.
Sementara tak jauh dari tempatnya, Tania tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Wanita itu tampak terkejut dan tegang mendapat laporan tersebut.
Dia segera memberi kode pada anak buahnya untuk mengangkat tubuh Ara, Ines dan Cindy untuk di pindahkan keruang rahasia. Banyak darah tampak berceceran di lantai entah punya siapa. Ketiganya di ikat pada sebuah besi yang melintang. Tidak jauh dari tempat mereka tergeletak sebuah kandang besar yang di penuhi ular ular kobra berbisa ukuran sedang dan besar. Binatang binatang itu tampak merayap rayap di dalam kandang besi yang tertutup. Di buka sedikit saja, binatang itu pasti akan langsung keluar merayap pada Ines Ara dan Cindy yang masih pingsan dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Rafa Ravendro Artawijaya! selamat datang di kediaman ku!" ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
Dia mendapat telepon dari anak buahnya kalau Rafa dan Wisnu Sementara menuju ke kediamannya. Sang ketua terpaksa buka mulut pada Wisnu karena ancaman yang sama mengenai ibu asuhnya. Tapi sang ketua tidak mengatakan kalau dirinya penculik istri Ravendro.
Saat ini Tania berada di kediamannya.
Dia sudah tidak sabar menantikan kedatangan Rafa untuk membalas apa yang telah di lakukan Rafa dulu. Dendamnya pada Rafa dan Wisnu yang begitu besar sudah mendarah daging dalam tubuhnya.
Ingatannya melayang pada kejadian saat anak buah Rafa membuang tubuhnya yang terbuka hanya memakai lingerie ke jalanan hingga menjadi tontonan gratis orang banyak.
Dan lebih miris lagi dia di perkosa oleh preman jalanan setelah di jual oleh seorang wanita yang berpura pura kasihan menolongnya.
Tapi ternyata wanita itu menipunya. Bukannya membawanya pulang. Dia yang tidak berdaya malah di jual murah oleh wanita itu pada preman jalanan.
Dia di bawah ke rumah kosong dan di sekap di sana selama berhari-hari. Di perkosa beramai ramai, bergilir dan jadikan pemuas nafsu mereka.
Dia hanya bisa pasrah tak berdaya melawan karena tangan dan kakinya yang telah di patahkan Wisnu. Hatinya di penuhi amarah dan kebencian yang mendalam pada Rafa dan Wisnu. Karena kedua Pria itu, hidupnya hancur penuh kehinaan setelah beberapa bulan kemudian dia hamil entah anak siapa karena banyak yang memakai dirinya. Tak mau menanggung malu memiliki anak yang tak jelas ayahnya siapa, akhirnya dia menggugurkan kandungannya dan hampir membuat nyawanya melayang.
Selama beberapa waktu berjalan, dia mengajak kepala preman bekerja sama. Untung saja kepala preman itu bisa di perdayainya dengan uang yang banyak, juga bonus tubuhnya. Mereka pun bekerja sama.
Tak lama setelah itu, kepala preman memperkenalkan dirinya pada ketua geng Mafia mereka, king kobra.
Dia mendekati ketua tersebut ingin meminta bantuan untuk balas dendam. Tapi sang ketua tidak mudah untuk di perdayai meski semua cara telah di lakukan termasuk memberikan uang yang banyak dan juga tubuhnya sebagai penyalur hasrat.
Sang ketua memberi tahu kalau Rafa dan Wisnu bukan orang sembarangan. Justru mereka adalah orang-orang yang paling di takuti di antara para geng mafia. Geng mereka sangat kuat dan sudah tersebar di kalangan Mafia penjuru dunia. Hanya tidak banyak yang tahu kalau Rafa dan Wisnu adalah ketuanya. Sang ketua tidak mau mengambil resiko melawan kekuatan Rafa, ketua geng Mafia kelas kakap yang di takuti dan juga di segani oleh musuh-musuhnya. Ketua king kobra memperingatkan dirinya jangan berurusan dengan geng Mafia tersebut. Karena tidak akan mampu melawan kekuatan Rafa. Dan ujung ujungnya malah nyawa taruhannya. Karena geng Mafia topeng hitam tidak segan segan membunuh dengan sadis dan kejam.
Penjelasan dari ketua tersebut membuatnya kaget dan tidak menyangka ternyata Rafa termasuk Mafia dan malah sebagai ketua dari geng tersebut.
Tapi dia tidak mau mundur dan takut.
Dia terus menekan ketua king kobra.
Selama bersama dengan ketua mafia tersebut, dia terus berusaha mencari cara. Hingga akhirnya dia mendapatkan kelemahan ketua tersebut, yaitu ibu asuhnya.
Dia menculik wanita tersebut begitu ada kesempatan. Dan menggunakannya sebagai ancaman agar sang ketua membantunya untuk membalaskan dendamnya.
Tak berkutik dan tak berdaya karena ibu asuhnya telah di culik, Akhirnya sang ketua menyerahkannya anak buahnya untuk membantunya mencari tahu tentang Rafa dan kehidupan pribadinya, terutama wanita yang di cintai Rafa, yaitu Ara Istrinya.... yang merupakan kelemahan Rafa. Wanita yang di cintai melebihi nyawanya sendiri. Wanita yang berharga dari semua apa yang dimilikinya.
Dan bukan hanya berharga bagi Rafa, tapi juga sangat berharga bagi anak buahnya dan rela mengorbankan nyawa demi nona muda mereka tersebut.
Keuntungan kembali berpihak kepadanya, setelah anak buahnya memberi laporan kalau Wisnu telah menikah. Makanya dia ikut menculik Ines. Karena dia juga sangat benci dan dendam pada Wisnu.
Sebenarnya dia bisa saja menculik anak anak Wisnu dan juga ibunya. Tapi ketiga orang itu di lindungi oleh anak buah Wisnu yang selalu menjaga dan mengikuti mereka 1x24 jam secara diam-diam. Baik di Amerika maupun di tanah air. Penjagaan bukan hanya di dalam rumah saja, tapi juga saat mereka keluar rumah. Banyak anak buah Wisnu yang di tugaskan menjaga anak dan ibunya. Dan Anak buahnya tak mampu melawan kekuatan anak buah Wisnu yang merupakan orang orang pilihan profesional memiliki kemampuan ilmu bela diri yang tinggi.
Sama seperti kejadian yang menimpa Ines di toilet kafe dulu. Para preman tersebut adalah orang orang suruhannya untuk mencelakai Ines. Tapi tak mampu melawan kekuatan Wisnu hanya seorang diri. Mereka malah mati di tangan Wisnu.
Hingga akhirnya hari ini, dia merasa sepertinya tuhan membantu dirinya untuk membalaskan dendamnya dengan menculik tiga wanita itu dengan mudah. Sekali tepuk, bukan hanya dua...tapi tiga lalat mati. Dia berhasil dan mendapatkan celah menculik ketika wanita itu sekaligus.
Mengenai hubungannya dengan Bela tak ada hubungan sama sekali. Dia mengajak Bela bekerja sama setelah melihat sikap Bela pada acara pesta syukuran jabatan Dion sebagai Direktur Utama. Dia melihat Bela menyukai Dion, dan sangat membenci Cindy, Ara dan Ines.
Dia yang ikut hadir di acara tersebut dengan menyamar, menjadi partner sala satu tamu penting. Dan tentu saja dengan iming-iming tubuhnya untuk bisa menjadi partner ceo tersebut. Apa pun akan di lakukan untuk bisa membalaskan dendamnya.
Dan sekarang ketiga wanita tersebut berada dalam genggamannya. Tentu saja dia sangat senang sekali.
Tadi, sebelumnya dia dan Bela telah menelanjangi ke tiga wanita itu, kemudian di rekam dalam video yang akan di sebarluaskan ke media sosial.
Dia ingin seluruh dunia melihat ketiga tubuh polos istri para penguasa itu sama seperti dirinya dulu yang viral di media sosial entah di lakukan oleh siapa dan menyebar cepat ke jutaan orang yang sedang online termasuk temannya sesama artis, hingga menjadi perbincangan buruk publik dan membuat karirnya hancur.
"Nona Tania, kita kedatangan tamu!" lapor salah seorang anak buahnya yang baru saja masuk.
Lamunannya buyar seketika.
"Cepat sekali datangnya!" ucapnya tersenyum miring.
"Cepat persiapkan penyambutan mereka!" katanya kembali.
*****
__ADS_1