
Jam satu dini hari Rafa sampai di rumah utama. Dia masuk ke kamar secara perlahan.
Wajahnya mengernyit saat melihat tempat tidur. Di mana ada si kembar yang tidur di sana sambil memeluk tubuh istrinya.
Rafa tersenyum. Dia mendekat, dan pelan pelan memperbaiki selimut ke tubuh mereka.
Lalu mengecup lembut kening ketiga orang yang sangat di sayangnya ini. Dia meraih buku buku di atas kepala Ara, meletakkan di nakas.
Rafa segera ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower selama 20 menit.
Memakai piyama tidur lalu menuju ruang kerjanya. Seandainya tak ada si kembar, dia sudah pasti berbaring di dekat Ara untuk melepas kerinduannya. Tapi dia tidak ingin mengganggu nyenyaknya tidur si kembar dan juga Ara.
Dia kembali meneruskan pekerjaannya. Wisnu sudah di perintahkan kembali ke apartemennya untuk istirahat karena seharian belum memejamkan mata.
Sedangkan dia masih sempat tidur dalam perjalanan pulang tadi.
Jam dua Ara terbangun dari tidurnya. Teringat pada perkataan Rafa yang akan pulang jam 10. Dia memperhatikan sekelilingnya melihat ke arah sofa, tak ada suaminya berbaring di sana.
"Apa kakak ipar belum pulang dari bali ?" gumamnya.
Perlahan Ara turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat malam.
Sesampai di sana, dia melihat pakaian suaminya tergantung. Artinya suaminya sudah pulang.
"Mungkin kakak sedang diruang kerja?" gumamnya kembali.
Setelah menyikat gigi, Ara segera mengambil air wudhu. Lalu melaksanakan shalat malam.
Setelah selesai shalat, dia segera melangkah keluar menuju ruang kerja. Dari luar terlihat lampu menyala.
"Berarti kakak di dalam."
Ara membalikkan tubuh dan turun ke bawah membuatkan kopi untuk suaminya, lalu kembali lagi ke atas. Dia membuka pintu pelan pelan dan masuk.
Di dapatnya Rafa sedang berkutat dengan berkas dan komputer.
Rafa sedikit terkejut melihat kedatangannya
"Sayang ....!" dia segera bangkit berdiri menyambut istrinya.
Ara meletakkan kopi di meja kerja.
"Aku buatkan kopi untuk kakak."
Ara membalas pelukan suaminya yang memeluknya.
Rafa mencium kening dan bibirnya sesaat.
"Kenapa bangun?" Rafa duduk kembali dan membawa Ara dalam pangkuannya.
Kembali memeluk hangat tubuh istrinya sambil menyesap aroma wangi.
"Aku bangun untuk shalat malam. Aku pikir kakak belum pulang, tapi setelah aku ke kamar mandi, aku melihat ada pakaian kakak di sana. Setelah shalat aku kesini dan membuat kopi untuk kakak." kata Ara.
"Terimakasih sayang." Rafa Kembali mencium keningnya.
__ADS_1
Ara meraba raba lembut dada suaminya.
"Kakak nggak capek kerja terus? kan baru pulang, seharusnya istirahat. Nanti kakak sakit."
"Kebetulan waktu di pesawat aku sudah tidur sayang."
"Tapi hanya sebentar." sambung Ara.
"Kamu menghawatirkan aku sepertinya?"
Rafa menatap ke wajahnya sambil tersenyum.
Ara terdiam sesaat sedang berpikir.
"Kalau kakak sakit, gak ada yang marahin aku."
Alis Rafa bertemu mendengar ucapannya. Kemudian dia tertawa dan menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman.
"Nanti gak ada yang jagain aku, lindungi aku dari orang jahat." ucap Ara menutupi wajahnya dengan tangan, untuk menghindari ciuman Rafa.
Rafa memeluk erat tubuh istrinya.
"Aku akan menjagamu meski aku sakit dan tak berdaya."
"Aku selalu mendoakan kakak, sehat terus dan selalu dalam lindungan Allah."
Rafa Kembali tersenyum kecil, membelai lembut pipi istrinya.
"Terimakasih sayang."
"Kakak tidur saja, biar aku lanjutkan pekerjaannya. Kakak beritahukan saja detailnya." Ara turun dari pangkuan suaminya.
"Aku gak ngantuk." Ara segera mengangkat laptop dan berkas, memindahkan nya ke meja sofa.
"Ayo kak, kita kerjakan di sofa saja."
"Kamu bandel lagi dan membantah ucapan ku." Rafa segera mendekat dan menaikkan istrinya ke pangkuannya, di hadapkan ke arahnya.
Lalu mencium bibir istrinya. Ciuman panjang dan dalam berlangsung agak lama karena Ara membalas dengan intens.
Tangan Rafa mulai nakal menjalar masuk kedalam pakaian tidur istrinya, merangkum kedua benda kenyal itu dan mer***s lembut, mem*lin pucuknya.
Terdengar ******* lembut dari mulut Ara.
Ara segera menarik penyatuan bibir mereka.
"Sudah kak, sebaiknya kita kerja saja."
"Bentar sayang, aku masih merindukanmu."
kembali mencium bibir istrinya. Setelah puas dibibir, beralih ke leher jenjang istrinya,
dan terus mer**as dan memilin dada istrinya. Dia sangat suka menggenggam dan bermain dengan kedua benda kesukaannya ini.
Setiap hari makin berubah bentuk, makin kencang dan besar.
__ADS_1
Ara menahan tangan suaminya, menarik tubuhnya ke belakang.
"Sudah dong kak, nanti keburu pagi datang."
Rafa mendesah dengan wajah cemberut.
Ara tersenyum, dia kembali naik dan duduk di pangkuan suaminya.
Menangkup wajah suaminya, memperhatikan setiap bagian wajah suaminya, mengelus lembut ke dua pipi dengan kedua ibu jarinya. Lalu mendaratkan tiga kecupan di bibir.
Lalu dia tersenyum.
"Sangat tampan, pantas saja banyak wanita cantik yang ngejar ngejar dan menginginkannya."
Rafa tersenyum senang dalam hati mendapat pujian itu, karena ini pertama kalinya Ara memuji ketampanannya.
Tapi kenapa dia berkata begitu? Apa dia tahu soal kejadian Tania tadi? Sala satu wanita yang mengejarnya.
Ara mendekatkan wajahnya, kembali mengecup kening mata dan bibir suaminya lembut.
"Terimakasih sudah mencintaiku, menyayangiku, menjagaku, melindungi ku. Aku tidak punya siapa siapa di dunia ini, aku hidup sebatang kara. Tapi kakak selalu ada untukku, dan juga keluarga ini. Kalian semua menyayangiku dan menerima aku apa adanya. Terima kasih kakak ipar, terimakasih suamiku. Aku sangat bersyukur memiliki dirimu, dan juga keluarga ini." katanya pelan dan lembut, lalu kembali mencium kening suaminya, menekan sejenak hidung dan bibirnya di kening suaminya.
Hingga sebuah bongkahan kristal jatuh di pipi Rafa, membuat dia terkejut. Dia langsung memegangi wajah istrinya.
"Sayang, kamu menangis? aku nggak akan maksa lagi, maafkan aku."
Ara tersenyum.
"Aku terharu karena bahagia memiliki kalian dalam hidupku."
"Sayang, aku yang paling bersyukur memiliki dirimu dalam hidup ku." Rafa mengecup keningnya lembut, lalu mengangkat tubuh itu menggendongnya keluar dari ruang kerja.
Ara kaget.
"Lho kak, Kita mau kemana ?"
"Ke kamar sayang, kita tidur saja."
"Terus gimana pekerjaan kakak?"
"Nanti saja, besok aku lanjutin"
Membuka pintu kamar, lalu meletakkan istrinya di atas ranjang.
Dia mengatur posisi Cio dan Cia ke sebelah.
Lalu membaringkan tubuh Ara di dekat Cia.
Dia segera berbaring, meletakkan kepala istrinya di lengannya.
"Nanti kakak jatuh."
"Tidak sayang, masih ada ruang sedikit di belakangku, tidurlah." mengecup kening istrinya lalu memejamkan mata.
Sesungguhnya dia juga merasa sangat lelah dan mengantuk.
__ADS_1
Ara menekan wajahnya di dada suaminya dan memeluk, lalu memejamkan mata.
*****