
Ines berontak, tapi sia sia.
Tenaganya kalah kuat.
Dia juga berusaha berteriak meminta tolong tapi mulutnya semakin di bekap kuat.
Tubuhnya di paksa dan di seret berjalan menuju mobil yang berada tidak jauh di depan mereka.
Saat dekat dengan mobil, dua pria bertubuh kekar, berpakaian hitam tiba-tiba menghadang jalan mereka.
Dua pria yang merupakan anak buah Wisnu yang di tugaskan mengikuti dan melindungi Ines kemanapun kakinya melangkah setelah dia menjadi istri Wisnu.
Mereka yang menukar gelas minum Ines sewaktu di dalam tadi sehingga dia selamat dari minuman yang membangkitkan gairah **** dari rencana kotor Jery dan kawan kawannya.
Langkah Pria penyerang tersebut terhenti, begitu juga dengan Ines.
Mereka memperhatikan wajah wajah sangar di hadapan mereka.
"Siapa kalian?" sentak pria penyerang Ines yang merupakan teman Jery.
"Lepaskan wanita itu." kata sala seorang anak buah Wisnu dengan kasar.
Ines yang merasa kedua pria tersebut berpihak kepadanya kembali memberontak berusaha melepaskan diri.
Kedua anak buah Wisnu langsung bergerak mendekat.
Tapi dengan cepat teman Jery mengambil pisau belati dari saku celananya dan meletakkan di leher Ines.
Sontak keduanya berhenti.
Sedangkan Ines semakin ketakutan.
Teman Jery tertawa dan semakin menahan tubuh Ines kuat.
"Minggir!" sentaknya mengancam kembali dengan menekan pisau ke leher Ines.
Terpaksa kedua pria itu menyingkir pelan pelan demi keselamatan istri tuannya.
Jery yang sedang menunggu di dalam mobil melihat mereka.
Dia segera memberi perintah pada ketiga temannya turun dari mobil dan menyerang anak buah Wisnu. Entah siapa kedua pria itu, dia tidak ingin ada yang ikut campur apalagi sampai menghalangi rencananya.
Setelah ketiga teman Jery turun menghadang anak buah Wisnu, selanjutnya pria yang menahan Ines segera membawa tubuh Ines yang memberontak masuk ke dalam mobil dengan kasar.
Baku hantam terjadi antara anak buah Wisnu dan teman teman Jery.
Jery menahan tubuh Ines di dalam dan menyuruh temannya mengendalikan kemudi.
Lalu mereka meninggalkan tempat itu secepatnya.
Sala satu anak buah Wisnu mengejar tapi di hadang kembali sala seorang teman Jery.
"Bajingan kau Jery, apa mau mu? kenapa kau lakukan ini padaku?" teriak Ines setelah tahu Jery dalang dari semua ini.
Jery tersenyum sinis seraya memegang ke dua tangannya kuat.
"Karena Semua salahmu nona Ines."
Dahi Ines mengerut
"Salahku? apa yang telah ku lakukan padamu? aku baru mengenalmu beberapa saat yang lalu, dan hanya duduk berbincang!"
"Salahkan tubuhmu yang telah menggodaku
__ADS_1
dan membuat ku tegang nona manis. Aku mau dirimu!" kata Jery tegas dengan kata kata di tekan. Jery kembali tersenyum licik menyeringai.
Dia mendekati wajah Ines yang tampak kaget dan tegang. Berusaha mencium bibir Ines.
"Jangn menyentuh ku Jery!" teriak Ines keras dan ketakutan seraya menghindar menarik mundur wajahnya. Jery memegang kasar tengkuknya dan menahan kuat. Terjadi adu otot di antara mereka di atas jok mobil. Ines berusaha melawan tubuh kekar blasteran ini meski tak sebanding dengan kekuatannya.
Dia berteriak teriak keras dan memohon pada Jery.
Jery tak perduli dengan teriakannya dan terus berusaha menjamah tubuhnya yang terus melawannya.
"Sebaiknya kau diam dan menurut saja nona manis. Kau pun pasti menyukaiku kan? sebaiknya kita nikmati saja tanpa paksaan dan kekerasan!"
"Cih.....! bajingan rendah. Kau pikir aku wanita apa?" Ines mengumpat lalu meludahi wajahnya.
Dia menendang milik Jery sekuatnya.
Jery mendengus geram sambil menahan kesakitan memegang miliknya.
Teman Jery segera mengunci pintu otomatis melihat Ines membuka pintu mobil.
Dia menambah laju kecepatan.
Amarah Jery meluap seketika.
Dengan brutal dan kasar dia menarik narik pakaian Ines dan berusaha menjamah dan menciumi wajah dan tubuh Ines.
Sulit bagi Ines melakukan perlawanan dengan ruang yang sempit seperti ini. Ditambah kekuatan nya yang tak mampu melawan pria tinggi kekar brlasteran yang tampak di kuasai amarah dan nafsu melihat bagian bawah tubuhnya yang terekspos karena roknya telah lepas. Untung saja dia masih memakai celana pendek sebagai dalaman. Dan Jery berusaha menarik narik melepaskannya.
Jery melayangkan beberapa pukulan ke wajahnya setiap kali dia berontak melawan.
Ines semakin ketakutan dan menangis menahan kesakitan.
Dia melindungi dirinya dengan menutup tubuhnya yang sudah telanjang karena satu persatu semua pakaiannya telah lepas dan di lempar Jery ke luar. Tak ada yang mendengar teriakkannya karena kurangnya kenderaan yang lewat di tempat itu diwaktu yang sudah masuk tengah malam. Di tambah Jery membekap mulutnya setiap kali melihat lampu cahaya kenderaan dari jauh, jendela kaca yang berwarna hitam tak bisa menembus penglihatan mata dari luar, serta lajunya mobil yang di kemudikan temannya.
Ines duduk di jok mobil menekuk kedua lututnya dan di peluk menutupi dadanya. Tangisannya yang keras meratapi nasibnya dengan penyesalan yang mendalam karena tidak menurut dan membangkang perkataan Wisnu.
Dengan keadaan dirinya yang seperti ini tidak dapat di bayangkan apa yang akan di lakukan Jery selanjutnya padanya. Tak ada lagi yang dapat di perbuat untuk melindungi dan menyelamatkan dirinya dengan keadaan polos seperti ini. Tak akan ada yang menolongnya, kecuali kepada tuhan dia masih berharap dan berdoa.
Sesekali dia memohon belas kasihan Jery.
Tapi Pria itu semakin brutal dan bernafsu melihat tubuh indah polosnya yang di tutupi dengan kedua kakinya.
Di depan teman Jery melihat dari kaca tengah mobil tubuh indah polosnya sambil tertawa lepas dengan raut wajah menahan nafsu.
"Sudah ku bilang lebih baik diam dan menurut, jangan melawan." kata Jery menyeringai seraya membuka kous dan rets celananya dengan cepat. Terlihat miliknya yang tampak mengembung dari balik boxernya.
Dia menatap Ines semakin bernafsu.
Tangisan dan hibaan Ines terdengar indah di telinga nya dan membuat nafsu dan hasrat birahinya semakin bertambah.
"Sikat bro... cepat lakukan, tunggu apalagi! setelah itu gantian. Aku tidak kuat lagi menahannya." kata temannya yang juga sudah tegang.
Ines berteriak teriak keras ketika Jery menurunkan boxernya dan mendekati dirinya, berusaha menciumi bibirnya dan satu tangannya berusaha menurunkan kakinya ke bawah untuk di buka.
"Jangan sentuh aku...jangan sentuh aku bajingan. Brengsek, biadab kau." jeritnya keras dengan air mata mengalir deras.
Tapi tak menyentuh sedikit pun hati Jery yang telah di tutupi nafsu.
Teman Jery tertawa senang melihat tontonan gratis.
Hingga dia membanting setir tiba tiba dan menginjak rem mendadak melihat sebuah mobil yang berada di depannya dan hampir di tabraknya.
Mereka terdiam di antara keterkejutannya. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi di depan.
__ADS_1
Belum hilang rasa keterkejutan, sebuah pukulan benda keras menghantam kuat pada kaca mobil depan hingga retak.
Mereka kembali terkejut dan segera tersadar dengan keadaan.
Sedangkan Ines menjerit jerit menangis semakin ketakutan dan menyembunyikan wajah dan tubuhnya di antara kedua lututnya yang di tekuk di depan dadanya.
Jery mendengus geram menahan amarah dengan apa yang terjadi di depannya. Belum sempat dia menyentuh dan menikmati tubuh Ines sudah ada yang menganggu permainan bejatnya.
Matanya menangkap sosok Pria dengan sebuah besi di tangan yang kembali di layangkan pada kaca mobil samping.
Mereka kembali terkejut.
Jery segera memberi isyarat pada temannya untuk keluar dan melawan Pria itu yang tak lain adalah Wisnu.
Dia sendiri segera bergegas memakai pakaian lalu keluar setelah meraih pistolnya.
Meski sama tinggi dan kekar, tapi tenaga teman Jery kalah kuat dari Wisnu.
Hanya dalam hitungan 60 detik tubuhnya langsung jatuh terkapar.
Jery melayangkan pistolnya ke arah Wisnu yang hanya berjarak tiga meter darinya dan menarik pelatuknya.
Terdengar dentuman bunyi suara tembakan. Kemudian di susul lagi suara dentuman berikutnya.
Ines Semakin menjerit jerit histeris ketakutan di dalam mobil memeluk kuat lututnya. Ingin sekali dia melarikan diri tapi tak ada satupun yang bisa di pakai untuk menutupi tubuh polosnya.
Selanjutnya terdengar suara pekikan entah siapa. Hingga beberapa saat kemudian pintu mobil di dekatnya terbuka.
"Jangan sentuh aku... tolong jangan." pintanya ketakutan tanpa melihat wajah si pembuka pintu. Dia semakin memeluk kuat kedua lututnya dan menutupi dadanya.
Tak ada suara.
Sebuah jas menutupi tubuhnya dan selanjutnya dia merasa seseorang hendak mengangkat tubuhnya.
Ines kaget dan segera mendongak keatas.
Dia mendapati wajah Wisnu yang tampak memerah menahan kemarahan yang sangat mendalam.
Ines menahan tangan Wisnu.
"Menjauh dariku, jangan menyentuhku.... pergi!" mundur dan menggeleng kan kepalanya.
"Jauhi aku.... pergi!" katanya kembali dengan bibir bergetar, karena merasa malu dan jijik dengan tubuhnya.
Dia terlalu malu dan hina menatap Wisnu dengan keadaan dirinya seperti ini yang di anggapnya telah kotor meski Jery belum menyentuhnya.
Kemarahan Wisnu semakin berapi api melihat keadaannya. Melintas kembali dalam ingatannya sosok almarhum istrinya, Ayirin yang di jamah dan hendak di perkosa di depan matanya setelah di telanjangi oleh anak buah Jimmy.
Wisnu tak mengindahkan ucapannya, dia segera meraih dan mengangkat paksa tubuh Ines yang gemetaran dan sangat ketakutan itu.
Di pindahkan ke mobilnya.
Setelah meletakkan tubuh Ines, dia kembali mendekati tubuh Jery dan temannya yang terkapar tak berdaya.
Beberapa detik berlalu terdengar jeritan keras dari mulut keduanya dengan darah yang mengucur dari kedua mata masing masing.
Wisnu mencongkel mata mereka karena telah melihat tubuh polos Ines.
Selanjutnya dia masuk ke dalam mobil, membuka kemejanya dan di tutup kan ke tubuh Ines karena tak cukup hanya jas nya saja.
Lalu segera meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Anak buah Wisnu yang baru datang segera membereskan TKP, dan juga Jery dan temannya yang tergeletak tak bergerak lagi. Entah pingsan atau sudah mati dengan bola mata yang tampak keluar.
__ADS_1
*****
Terimakasih yang sudah mampir, tinggalkan jejak dukungan ya kalau suka π