
...Happy Reading....
Seminggu berlalu, Rafa balik ke rumah sore hari.
"Kau sudah pulang nak?" Seru Maya saat keluar kamar melihat Rafa hendak naik ke tangga bersama Rizal dan Wisnu.
Rafa menghentikan langkah, begitu juga Wisnu dan Rizal yang berada di belakangnya.
Mereka segera membalikkan tubuh menatap ke arah datangnya suara. Maya mendekati mereka.
"Selamat siang Tante." sapa Rizal mendekat pada wanita paruh baya itu, memeluk dan cipika cipiki.
Wisnu memberi hormat dengan menundukkan kepala.
Rafa memeluk mamanya setelah Rizal.
"Mama mau keluar?" tanyanya kemudian.
"Iya, mama ada janji sama teman-teman mama."
"Tante cantik sekali, makin hari makin terlihat muda dan cantik." kata Rizal berseloroh.
"Kamu bisa aja, udah keriput begini di bilang muda." Maya menepuk lengannya pelan.
Rizal terkekeh.
"Pasti mau arisan sama teman teman geng kan?"
Maya tersenyum"Seperti biasa__" jawabnya membenarkan perkataan Rizal.
"Mama jangan terlalu sibuk di luar, nanti sakit lagi." kata Rafa.
"Iya Nak, mama tahu."
"Si kembar mana?" tanya Rafa melihat keadaan rumah yang tampak sunyi. Biasanya ke dua bocah itu menyambut kepulangan nya dengan senang.
"Seperti biasa, bermain di kamar Ara." jawab Maya."Mama pergi dulu." kata Maya sekaligus pamit.
Dia membalikkan badannya melangkah meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Maya, Ketiganya kembali meneruskan langkah ke atas menuju ruang kerja Rafa.
Wisnu melangkah terlebih dahulu membuka pintu untuk tuannya dan Rizal.
Rafa menghentakkan pantatnya di kursi kerja seraya menghela nafas panjang. Dia menyadarkan kepala leher dan punggungnya sejenak pada kursi.
"Berikan laporan kerja rumah sakit bulan ini!" katanya kemudian.
Rizal segera mengeluarkan berkas dari dalam tasnya."Ini hanya salinan ringkasannya saja." katanya membuka berkas itu dan di letakkan tepat di muka Rafa.
"Daddy, Daddy__!" terdengar suara dari arah ruang baca perpustakaan. Mereka terkejut. Baru menyadari ternyata ada orng di ruangan ini.
Muncul si kembar yang terlihat senang dan gembira.
__ADS_1
Serentak mereka menoleh pada bocah
bocah itu. Berlari mendekat.
Rafa segera berdiri dan melebarkan ke dua tangannya. Cio Cia segera masuk ke dalam pelukannya, lalu mencium kedua pipi Rafa bergantian. Rafa berdiri menggendong keduanya.
"Daddy sudah pulang?" tanya Cia.
Rafa mengangguk sambil mencium kening keduanya bergantian.
"Anak anak pintar, kalian ada di sini?" tanya Rizal menyentuh ke dua hidung si kembar.
"Iya paman dokter, kami sudah lama di sini! Kami bersama ante Ara. Ante Ara mengajari kami cara membaca dan menulis dengan cepat melalui buku panduan." jawab Cio berusaha berbicara dengan jelas.
Wajah Rafa mengernyit mendengar penuturan itu.
"Oh ya? Terus mana ante Ara nya?" tanya Rizal. Dia mengambil Cio dari gendongan Rafa.
"Tuh, ada di dalam." tunjuk Cio ke arah ruang baca perpustakaan.
Sedangkan Cia asik membelai dan mengecup wajah Rafa yang di tumbuhi bulu bulu halus.
Ara yang masih merapikan buku segera melangkah mendekat ke arah mereka.
Rizal yang melihat kedatangannya terpukau.
"Adik ipar, kau makin cantik dan bening!" katanya melihat Ara memakai baju pendek ungu, celana selutut berlengan pendek. Pas dengan usianya yang masih muda. Rambut yang panjang terurai indah di bawah bahu tanpa di ikat, dengan jepitan rambut di samping menghias rambutnya.
Rafa menatap Ara tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian dia membalikkan tubuh membelakangi.
"Selamat sore dokter, sekretaris Wisnu." sapa Ara pada mereka.
"Selamat sore Nona muda." jawab Wisnu.
Ara menatap punggung Rafa yang membelakanginya. Dia menoleh pada Rizal. Bertanya dengan gerakan tangan. Menanyakan keadaan Rafa.
Rizal yang mengerti dengan tatapan mata Ara segera memberi isyarat dengan jari tangannya membentuk kata π yang artinya keadaan Rafa baik baik saja.
Ara menarik nafas lega, lalu kembali menatap punggung Rafa
"Selamat sore kakak ipar," sapanya perlahan.
Tak ada jawaban, Rafa asik menciumi jari jemari Cia yang menari nari di wajahnya.
"Cio Cia, kita ke kamar Ante ya, belajarnya dilanjutkan di kamar Ante." sambung Ara kembali berkata pada si kembar.
"Gak apa apa Ra, kalian belajar saja di ruang baca!" kata Rizal.
"Nanti kakak ipar gak akan fokus bekerja. Begitu juga anak anak, mereka gak akan fokus belajar." kata Ara menjelaskan. Karena dia tahu si kembar pasti akan menempel terus pada Rafa dan akan membuat kakak iparnya tidak fokus bekerja.
"Iya, Nanti kalian bisa main main sama Daddy lagi. Daddy masih ada pekerjaan!" kata Rizal mengerti maksud perkataan Ara.
"Ayo sayang __ kita ke kamar Ante!" ajak Ara kembali.
__ADS_1
Cio segera turun dari gendongan Rizal.
Cia yang masih ada dalam gendongan Rafa menyodorkan ke dua tangannya pada Ara
"Ante gendong." pintanya.
"Cia jalan saja sayang, kasihan Ante gendongnya keberatan." Rizal menimpali
"Gak mau, Cia mau di gendong Ante. Tadi juga kesini di gendong sama ante." Cia merengek memaksa.
"Gak apa apa dok." Ara menunjukkan ekspresi tidak keberatan."Ayo sayang, turunlah. Nanti Ante gendong." kata Ara kembali meminta Cia turun.
"Tapi ingat Ara, kamu jangan keseringan menggendong mereka, nanti dada mu sakit."
kata Rizal memperingatkan. Karena si kembar bukan anak kecil usia satu dua tahun lagi.
Cia tak mau turun, terus menyodorkan kedua tangannya. Rafa segera membalikkan tubuhnya menghadap pada Ara. Matanya langsung melihat pada wajah Ara.
Dia menatap Ara yang melihat pada Cia.
"Sayang, sini sama Ante." kata Ara, kemudian mendekat sambil menyodorkan ke dua tangannya untuk mengambil bocah itu dari gendongan Rafa.
Saat tubuhnya semakin dekat, Rafa berkata:
"Wisnu, gendong si kembar ke kamar Raka dan Ara." kata Rafa tanpa mengalihkan tatapannya pada Ara.
Langkah Ara terhenti mendengar perkataannya, dia menatap wajah Rafa.
Keduanya saling menatap.
Ara menurunkan pandangannya pada perut Rafa yang terluka. Lalu turun ke arah paha Rafa. Dia ingin bertanya dengan keadaan luka Rafa, tapi tidak berani.
Wisnu segera mendekat pada tuannya.
"Cia di gendong sama paman Wisnu saja, Cia anak pintar jadi harus nurut kata Daddy." kata Rafa pelan tanpa mengalihkan tatapannya pada Ara yang di lihatnya sedang mengamati luka lukanya.
"Baik Daddy." jawab Cia lemah dengan wajah cemberut. Dia menurut ketika Wisnu meraih tubuhnya dari gendongan Daddy nya.
Wisnu juga mengendong tubuh Cio, lalu melangkah keluar.
"Permisi kakak ipar, dokter." kata Ara pada Rafa dan Rizal
"Silahkan cantik." kata Rizal dengan godaannya. Ara seger keluar menyusul Wisnu.
"Dia benar benar cantik, dan sangat bening. Manis melebihi gula dan madu. Bayangkan saja kalau tubuh mungilnya selalu mengendong kedua keponakanmu itu setiap hari, bisa patah tulang belakangnya nanti. Belum lagi di tambah beratnya tubuh Raka yang selalu menimpanya!" celetuk Rizal tertawa kecil.
Rafa menghentak meja kerja dengan keras
"Sebaiknya kau jelaskan maksud dari laporan ini." tak suka dengan candaan Rizal.
Rizal kaget. Dia mendengus sinis menatap dengan ekor matanya"Oke bos...!"
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, kopi, vote, rate bintang lima dan juga kopi ya biar author tambah semangat untuk Up. Masukan juga ke favorit β€οΈ