
Badan eksekutif mahasiswa mengadakan pertunjukan Musik dengan penampilan dari Group Band pop rock N roll yang di gawangi oleh para mahasiswa universitas. Mereka melakukanya di sala satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Dengan mengusung tema acara "Amal Sedekah Kemanusiaan" untuk membantu sesama saudara yang membutuhkan. Yaitu donasi untuk seorang warga masyarakat miskin yang menderita penyakit ***** *****. Ara, Ines dan Cindy tergabung dalam organisasi tersebut.
Mereka meminta keikhlasan dari para pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan agar bersedia berbagi sedikit rezeki seraya memperlihatkan foto warga penderita penyakit mematikan tersebut.
Para pemain Band dan Vokalis dari mahasiswa sendiri yang secara bergantian menyumbang lagu guna menarik perhatian para pengunjung untuk menggugah hati mereka.
Kegiatan amal yang sudah berlangsung dari pukul 9 pagi hingga sekarang menunjukkan 11.30 dan akan berlanjut hingga malam hari.
"Itu Cindy ...!" seru Ines melihat wajah Cindy dari kejauhan tengah berlari ke arah mereka.
Cindy tiba di depan mereka dengan nafas memburu cepat.
"Hay Cind....!" sapa teman mahasiswa yang lain. Cindy tersenyum dan membalas sapaan mereka.
"Sorry deh gue telat." kata Cindy kepada mereka. Dia telat datang karena harus membujuk Dion untuk melakukan fitting baju pengantin. Dan akhirnya batal karena Dion bersikeras tidak mau pergi dan malah membawanya melihat apartemennya yang baru.
"Cin, sumbangin lagu nih...ayoo !" kata Friska selaku ketua departemen seni dan budaya.
"Waduh, sorry fris, gue lagi nggak sehat nih. Gue flu dan tenggorokan gue sakit." kata Cindy menolak karena tubuhnya tidak fit. Lemah dan kepalanya pusing.
"Kalau gitu lo aja Ra, gantiin Hana dan Lila.
Keduanya lagi istirahat sedang makan! Suaramu juga indah dan merdu! Ayo cepat, panggung sunyi tuh, nanti para penontonnya keburu bubar dan pergi!" kata Friska menoleh pada Ara.
Ara terkejut.
"Aku nggak ada persiapan nich, terus gue nyanyi apa?"
"Apa aja, yang penting lo segera berdiri di panggung sekarang! Cepat naik...." Friska menarik tangannya.
Terdengar jeritan histeria dan tepukan tangan dari arah panggung. Mereka mengarahkan pandangannya ke arah panggung karena penasaran dengan suara riuh tersebut.
"Ada apa tuh rame rame di panggung?" tanya Ines. Mereka saling melihat.
"Ayo kita ke sana ...!" ajak Ines kembali.
"Hey, tugas kita di sini, masa di tinggalin sih?" kata Ara.
Musik mulai di mainkan dan menggema memenuhi ruang lantai satu itu. Terus beberapa saat terdengar nyanyian suara merdu seorang pria yang membawakan lagu BUKTI / dari Artis Virgoun Tambunan.
Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
Ku tak bisa hidup tanpamu
Ara terkejut mendengar suara merdu itu. Dia
tersenyum karena kenal dengan suara itu. Dengan segera dia berlari ke arah panggung menerobos masuk di antara para pengunjung.
"Kenapa dia?" tanya Friska pada Cindy dan Ines melihatnya pergi tiba tiba.
"Nggak tahu, ayo kita ke sana." jawab Cindy yang juga bingung dengan apa yang Ara lakukan. Mereka segera menyusul Ara.
Ara langsung berdiri di antara para teman temannya dan pengunjung Mall. Dia menatap tak bergeming pada sosok tampan suaminya. Rafa sedang bernyanyi di atas panggung. Rafa langsung menatap kearahnya begitu melihat dirinya muncul.
"Kakak?" desisnya seakan tak percaya.
Dia terhenyak kemudian tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak menyangka suaminya berdiri di atas panggung dan bernyanyi. Rafa memberikan senyuman manis kepadanya.
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Beruntungnya aku
Di miliki kamuuuuuu
Rafa menunjuk kearahnya, kebetulan saja Ines dan Cindy sudah berada di dekatnya. Ada juga beberapa mahasiswi lain yang berada di belakangnya sehingga tidak ada yang curiga arti tunjukkan jemari Rafa padanya.
Kamu adalah bukti
Dari cantik paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kau camkan itu
Kembali terdengar histeria dari para pengunjung yang paling di dominasi oleh para wanita. Keadaan panggung dan penontonnya yang sebelumnya tidak terlalu banyak kini nampak ramai dan meriah setelah melihat sosok pria sangat tampan berdiri bernyanyi di atas panggung dengan penampilan gayanya yang smart Casual di padukan dengan topi hitam dan kacamata mewah membuat nya sangat mempesona dan maskulin di mata para ladies.
"Lagu ini saya persembahkan buat seseorang yang sangat spesial, sangat berharga dalam hidup saya," kata Rafa tersenyum menatapi semua wajah wajah pengunjung yang berada di lantai bawah dan juga lantai atas. Karena ada yang menonton pertunjukkannya dari atas sana. Rafa melambaikan tangan sesaat pada mereka dan segera di sambut mereka.
Dan tatapannya berhenti pada wajah manis, ayu dan cantik, milik seorang wanita cupu berambut keriting dengan memakai kacamata tebal, yaitu Ara. Dia tersenyum pada istrinya.
"Boleh ya saya minta satu orang wanita untuk menemani saya di sini untuk bernyanyi?!" katanya kemudian. Keadaan kembali riuh.
Sebagian para pengunjung wanita dan juga beberapa mahasiswi mengangkat tangan β
"Cieee cieee, suami suami lo romantis banget deh Ra !" celetuk Ines berbisik seraya menggelitik pinggang Ara.
Cindy juga ikut menggodanya. Ara tersenyum malu-malu. Dia tidak menyangka suaminya akan ikut dalam acara amal mereka. Karena setahunya Rafa berada di Singapura dan Malaysia. Karena semalam Rafa mengatakan akan pergi kedua negara itu pagi ini untuk urusan bisnis.
"Ra, maju.... !" kata Cindy mendorong Ara.
"Benar Ra, temani suami lo di sana, sebelum keburu sama yang lainnya!" timpal Ines berbisik.
"Nggak ah, aku malu." Ara menolak, terlalu malu.
"Ngapain malu, tuan Ravendro suami lo sendiri. Lagian gak ada yang tahu kau istrinya, hanya kita aja yang tahu, Ayo cepat!" bisik Cindy Kembali. Ara geleng kepala tetap tidak mau.
"Saya minta kesediaan dari gadis manis berambut keriting untuk menemani saya!" terdengar suara kata Rafa dari atas panggung menunjuk kearahnya. Semuanya pada saling tengok menengok mencari gadis yang di minta Rafa.
"Tuh kan Ra, suamimu manggil lo !" bisik Cindy tertawa kecil.
"Kayaknya sengaja deh Ra !" timpal Ines lagi
tersenyum menggoda.
"Ayo nona cantik Bety la fea, naiklah ke atas panggung." seru Rafa kembali menunjuk ke arahnya. Sontak saja mata para pengunjung mengikuti arah jari telunjuk Rafa ingin tahu si gadis Bety lafea yang di maksud.
Ines dan Cindy kaget mendengar sebutan Betty La Fea yang di sematkan pada Ara. Keduanya langsung tertawa. Begitu juga dengan para mahasiswa dan pengunjung. Ikut tertawa begitu melihat dirinya.
Ara tersenyum semakin malu. Dia menatap cemberut pada suaminya.
"Nona muda, silahkan!" kata Wisnu yang tiba tiba muncul di depannya. Wisnu datang untuk mengamankan perjalanan nona mudanya ke atas panggung bersama beberapa petugas keamanan. Wisnu juga memakai pakaian Kasual sama seperti Rafa.
Suasana semakin riuh melihat Ara melangkah naik ke atas panggung. Banyak para pengunjung wanita cemburu pada Ara karena di pilih oleh Rafa, terlebih lagi para mahasiswi yang sudah tahu tentang Rafa, yang adalah pemilik sekaligus ketua yayasan universitas.
Rafa menyambut istrinya dengan menarik tangannya saat naik ke atas panggung. Dia terus memegang tangan itu tanpa melepaskannya. Ara semakin malu dengan wajah memerah menjadi pusat perhatian pengunjung. Dia menunduk dan menutupi sebagian kedua pipinya dengan rambut Superminya.
"Siapa nama anda nona manis rambut keriting?" tanya Rafa dengan senyuman menggoda. Ara tak menjawab malah semakin menunduk.
"Nona, angkat kepalamu, tatap saya, saya sedang bicara dengan anda !" kata Rafa kembali. Ara tetap menunduk.
"Sepertinya nona rambut keriting ini orangnya sangat pemalu!" katanya kembali kepada para pengunjung sambil tersenyum kecil, membuat mereka ikut tertawa kecil dan senyum senyum.
Rafa mendekatkan mulutnya ke telinga Ara.
"Sayang, sudah berulang kali aku katakan jika bicara dengan orang lain harus hargai lawan bicaramu dengan menatap balik wajahnya! Angkat kepalamu, atau mau aku cium di depan meraka?" katanya berbisik.
Ara tersentak dengan mata membulat. Dia langsung mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya.
Rafa tersenyum jahil kepadanya. Ara menatap kesal dari balik kaca tebalnya.
"Nona manis rambut keriting, siapa namamu?" tanya Rafa tersenyum. Suka sekali melihat kekesalan di wajah istrinya itu.
"Seperti yang anda katakan tadi. Nama saya Bety lafea ... Betty la fea versi Indonesia," jawab Ara tersenyum di buat buat lalu melototi suaminya.
Seisi gedung tertawa mendengar jawaban Ara.
Rafa juga tertawa. Tanpa sadar mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir istirnya karena merasa gemas.
Tapi dia tersadar setelah merasakan tangannya cubitan kuat di tangannya yang lakukan Ara. Rafa meringis sakit dan segera menarik mundur wajahnya.
Ara tersenyum senang melihatnya.
__ADS_1
Rafa menatap kesal penuh dendam. Lalu segera memberikan isyarat untuk melanjutkan musik kembali. Dia memegang kembali tangan istrinya.
Suasana kembali berubah romantis ketika dia kembali bernyanyi.
Meruntuhkan egoku bukanlah
suatu hal yang mudah
dengan kasih lembut kau pecahkan
kerasnya hatiku
Beruntungnya aku
Di miliki kamuuuu
(Meletakkan tangan Ara ke dadanya )
Kamu adalah bukti
Dari parasnya cantik dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kau camkan itu
Tolong kau camkan itu
( Menatap mata Ara lekat penuh cinta )
Keduanya saling menatap tersenyum.
Ara tersenyum haru dan sangat bahagia. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Rafa dan berbisik "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," tersenyum simpul dengan wajah merah merona. Lalu menarik tangannya dari genggaman Rafa dan segera melangkah turun ke bawah bergabung kembali dengan Ines dan Cindy. Meninggalkan suaminya yang terdiam mematung mendengar bisikan cintanya.
Rafa terhenyak di tempatnya, dengan mata bulat. Kemudian tersenyum dan tersipu malu. Sungguh hatinya kembali berdebar kencang dan merasakan kebahagiaan yang tiada tara mendengar bisikan cinta dari Istrinya.
Seandainya saja hanya mereka berdua yang berada di tempat itu, dia pasti sudah mencurahi ribuan ciuman cinta kasih pada Istrinya itu.
"Terima kasih atas bisikan manisnya nona betty lafea. Saya sangat tersanjung, ucapan yang sama juga untuk mu nona," kata Rafa beberapa saat kemudian. Dia melihat pada istrinya penuh cinta.
"Emang si cupu lafea ngomong apa sih ?" teriak beberapa leadis penasaran. Karena mereka juga melihat Ara membisikkan sesuatu di telinga Rafa. Dan hal itu membuat mereka semakin iri dan cemburu karena kedekatan mereka yang terlihat romantis, saling berbisik satu sama lain seperti layaknya pasangan benaran.
Rafa tersenyum kecil melihat istrinya yang menatapnya tajam sambil geleng-geleng kepala meminta dia untuk tidak mengatakannya.
"Nona rambut keriting berbisik, Anda sangat tampan tuan! Apa anda sudah ada yang punya?" katanya menatap terus pada Ara yang tampak terbelalak mendengar perkataannya.
Sebagain pengunjung kembali tertawa kecil seraya melihat pada Ara, sebagian lagi hanya senyum senyum.
Ara kembali di buat malu menjadi pusat perhatian orang-orang. Dia menatap kesal pada suaminya mengarang cerita. Tapi itu masih lebih baik dari pada Rafa mengatakan bisikkan yang sebenarnya.
Cindy dan Ines terkekeh di sebelahnya.
"Emangnya kamu nanya gitu ya Ra ?" tanya Ines tertawa cekikikan.
Ara tersenyum malu menggeleng kepalanya.
"Dan jawabannya adalah...!" seru Rafa dari atas panggung.
"Aku punyamu nona manis rambut keriting, aku hanya milikmu seorang! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" sambung Rafa kembali dengan kata kata lembut di sertai senyuman manis penuh cinta. Mengutarakan isi hatinya.
"Apa kau puas dan senang dengan jawabannya nona?" mengedipkan sebelah matanya.
Para pengunjung kembali tertawa karena menganggap itu hanya sebuah guyonan, padahal yang sebenarnya itu adalah sebuah kebenaran.
Sedangkan Ara tersenyum malu-malu mendengar pernyataan suaminya, dia sangat senang dan bahagia. Dia juga lega karena tidak ada yang curiga dengan ungkapan cinta Rafa padanya.
"Ara sayang, suamimu benar benar kereeeen banget, romantis lagi !" kata Ines dan Cindy tersenyum senyum menggodanya. Ara kembali senyum malu-malu. Perutnya tiba tiba berbunyi, tandanya lapar. Dia segera mengambil ponselnya dari saku dan mengirim pesan singkat.
"Udah deh kak, gak usah aneh aneh di atas panggung. Cepat turun, aku sangat lapar!"
"Kamu lapar ya Ra?" tanya Cindy melihat isi pesannya.
Ara mengangguk lemah, Cindy juga merasakan hal yang sama tapi dia tidak nafsu untuk makan.
sama Cindy akan makan berdua!" kata Ines.
"Gak, kita makan sama sama!" kata Ara.
"Gak usah Ra, kami makan berdua saja. Kamu makan sama suamimu saja."
"Nggak apa-apa nih?" tanya Ara.
" Iya benar, nggak apa-apa kok. Santai saja!" kata Cindy kembali. Karena dia sangat menghindari makan bersama, khawatir mereka akan curiga dengan kehamilannya.
Ines juga mengiyakan perkataan Cindy.
"Oh ya, mungkin nanti malam aku gak bisa bergabung lagi, soalnya aku ada urusan penting selepas magrib." ujar Cindy Kembali.
"Kebetulan aku juga sama. Aku ada janji sama kak Nesa malam ini." timpal Ara.
"Berarti aku sendiri dong di sini ? gak seru deh nggak ada kalian!" kata Ines cemberut.
"Kalau kau mau, kau bisa pergi bersama aku aja Nes. Nanti aku akan jemput kamu." kata Ara
"Benar ya Ra? oke deh Ra kalau gitu. Aku mau pergi sama kamu!" Ines melonjak senang.
Ara mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu nanti kalian izin sama ketua BEM ya? Izinin aku juga."
"Aman Ra!" kata Cindy.
"Aku pergi dulu." ketiganya saling berpelukan sejenak, lalu Ara segera pamit.
Di panggung sang MC mengatakan acaranya di break sejenak untuk makan siang dan shalat dzuhur. Rafa tak datang sendiri, dia di dampingi Rektor dan beberapa dekan dan dosen yang menggunakan pakaian biasa agar tidak menarik perhatian.
Dengan pertunjukan vokalnya yang keren, ikut membantu meramaikan kegiatan Amal mahasiswa/i, membuat Dompet Peduli Sedekah terisi banyak. Karena banyak pengunjung yang membagi rezekinya.
Wisnu mendekat dan berbisik sesuatu. Dia memperlihatkan isi pesan dari Ara.
"Kau di mana sayang?" balas Rafa.
"Aku di Lobby kak!" balasan Ara.
"Sopir kantor akan menjemput dan membawamu ke mobil. Tunggulah aku sebentar ya, aku akan segera ke sana!"
"Baiklah!" balasan Ara.
Setelah ngobrol sedikit mengenai kegiatan amal yang di adakan, Rafa segera pamitan pada mereka. Tak lupa Wisnu menyelipkan selembar cek di tangan ke tua BEM untuk membantu gerakan amal yang mereka lakukan.
"Sayang!" Rafa memeluk istrinya begitu masuk ke dalam mobil.
"Kamu lapar ya?" mengelus perut istrinya.
Kemudian di peluknya sedikit lama sambil mencium puncak kepala Ara. Lalu di lepas.
Dia mengecup bibir dan kening Ara sesaat.
"Kamu bisikin apa tadi di panggung ?" tanyanya kemudian sambil tersenyum.
"Apa ya!" jawab Ara dengan dahi mengerut.
Kecupan kembali mendarat di bibirnya.
"Katakan sekali lagi, apa yang kau bisikkan tadi." kata Rafa tersenyum seraya memegang wajah istrinya.
"Aku sangat senang dan bahagia sayang, kau membuat jantungku berdegup kencang tadi."
"Emangnya aku ngomong apa?!" Ara berpura-pura.
Rafa tertawa kecil melihat wajah menggemaskan ini. Dengan cepat dia mengecup kuat leher Ara. Ara mengerang keras. Rafa langsung ******* mulutnya.
Lalu melepaskan beberapa saat.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu! Kamu bisikin itu dan aku sangat bahagia." katanya kemudian mengulangi bisikan Ara di panggung tadi. Dia menyentuhkan hidungnya pada hidung Ara."Sepertinya kausangat mencintai ku ya sayang?" senyum menggoda.
"Aku nggak ngomong begitu. kuping kakak kakak salah dengar ! Aku hanya bilang aku lapar, sangat lapar," Ara mengelak pura pura.
Rafa kembali tertawa kecil dan mengecup bibir ranum itu.
"Kakak sendiri ngapain di sini? Katanya mau ke singapura, tapi kenapa malah muncul di sini dan nyanyi di atas panggung? Pasti mau tebar pesona pada para pengunjung kan? Senang kan di lihatin cewek cewek cantik ?" kata Ara menatap kesal.
Rafa tertawa kecil melihat kekesalan dan kecemburuan ini.
__ADS_1
"Kau ini sangat menggemaskan sayang," Dia
kembali mengecup bibir istrinya, dan akhirnya berlanjut dengan ciuman yang panas karena membalas. Tangannya tak di biarkan menganggur.
Ara mendesah tertahan merasakan sentuhan sentuhan lembut di bagian bagian sensitifnya.
"Udah dong kak, kita sedang berada di parkiran kak..," menahan tangan Rafa.
Rafa tak menggubris perkataannya, dia terus menyerang bibir, leher dan dada Ara dengan sedikit kasar. Sementara satu tangannya semakin liar bawah.
"Akh...kakak !" Ara semakin mendesah. Meremas kuat rambut Rafa, matanya terpejam merasakan jemari suaminya pada milik pribadinya.
Rafa melepaskan penyatuan bibir mereka, lalu menaikan tubuh Ara di atas pangkuannya. Tatapan sayu jantung berdegup kencang.
Ara terkejut menangkap sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Melihat suaminya membuka resleting celananya.
"Kakak mau apa?"
"Aku tidak tahan sayang!" jawab Rafa di sela sela ciuman dan nafasnya yang memburu cepat.
"Tapi kita sedang di parkiran, jangan !" kata Ara panik. Rafa tetap tidak berhenti dan malah semakin menjadi. Ara semakin cemas dan panik.
"Kakak aku lapar, aku sangat lapar, tubuhku lemah," katanya kemudian setelah berpikir keras beberapa saat mencari cara untuk menghentikan suaminya yang di kuasai hasrat gairah. Ara segera membenamkan wajahnya di dada Rafa. Memeluk lemah.
Rafa menghentikan aksinya, dadanya turun naik karena nafasnya yang memburu cepat.
Kamu kenapa sayang?"
"Aku lapar kak, perutku sakit," kata Ara lirih.
"Maaf sayang!" Rafa mengelus rambut dan punggung, menciumi puncak kepalanya.
Dia melihat wajah Ara yang tampak pucat. Rafa merasa bersalah karena lebih mementingkan hasratnya daripada perut istrinya yang lapar.
Dia segera memperbaiki blouse dan bra Ara. terus merets kembali celana jeansnya dan juga celana Ara yang di buka.
"Kita akan segera makan." katanya
mengecup kening Ara, lalu memeluknya dalam pangkuannya. Rafa mengetuk pintu mobil.
Masuklah Wisnu dan duduk di belakang kemudi, lalu segera membawa mereka menuju jalan raya.
"Kamu ingin makan apa sayang ?" meraba perut Ara. Dia mengerang merasakan sakit pada selangkangannya yang masih tegang, apalagi Ara bergerak di atas pangkuannya. Sungguh dia sangat tersiksa oleh hasratnya yang tidak tersalurkan.
"Aku mau makan somay kak," kata Ara.
"Somay lagi?"
Ara mengangguk. Tangannya mengelus-elus lembut dagu Rafa, lalu menjalar ke telinga dan hidung.
Tubuh Rafa semakin menegang merasakan sentuhan yang seakan akan memancing hasrat birahinya itu. Tapi sekuatnya dia menahan.
"Wisnu, kita ke kawasan x !" perintahnya pada Wisnu.
"Baik tuan!"
"Aku nggak ingin makan somay kang Udin." kata Ara.
Dahi Rafa mengerut.
"Terus? Kamu maunya makan di mana sayang?"
Elusan jari jemari Ara berpindah ke dada Rafa, membuat hasrat Rafa kembali bergejolak.
"Aku ingin makan Somay buatan kakak !" katanya pelan sedikit manja.
Rafa melongo mendengarnya.
Terlebih lagi Wisnu, dia tersedak mendengar ucapan nona mudanya. Tanpa sadar dia menginjak rem tiba tiba.
"Maaf tuan!" katanya di sela batuknya. Kembali menjalankan mobil sambil senyum senyum sendiri di dalam hati.
"Apa aku tidak salah dengar dengan permintaan nona muda? Ingin makan Somay buatan tuan." Batinnya. "Jangankan memasak, bahkan tuan Rafa tidak pernah menginjakkan kaki di dapur selama hidupnya sebelum bertemu dengan anda nona," batin Wisnu.
"Sayang, kamu bilang apa barusan ?" tanya Rafa kembali untuk meyakinkan pendengaran nya.
"Aku kepengen makan somay buatan kakak. Aku ingin kakak yang membuat memasaknya,"
kata Ara kembali.
"Tapi aku tidak tahu membuat makanan seperti itu sayang, dan bukan cuma makanan itu, tapi juga makanan makanan lain,"
"Ya kakak cari tau dong bagaimana caranya. Pokoknya aku mau kakak yang memasaknya !"
kata Ara tegas.
Rafa membuang nafas panjang.
"Sayang, gimana kalau aku akan minta pak Sam atau buk Narsih saja yang membuatnya? Kita punya para koki yang handal di rumah." membujuk dengan manis dan lembut.
"Aku gak akan makan kalau orang lain yang membuatnya. Aku hanya akan makan kalau kakak yang memasaknya. Dan ingat, gak boleh ada yang bantu, titik!" kata Ara kembali dengan suara tegas.
"Nanti malah gak enak sayang!"
"Cari tau dong bagaimana caranya biar bisa enak." kata Ara.
"Aku aja usaha keras buat muasin kakak di ranjang," sambungnya kembali hampir tak terdengar.
Rafa terhenyak mendengar ucapan itu. Dahinya mengerut. Sesaat dia terdiam tapi kemudian tersenyum.
"Sayang, apa yang kau katakan tadi ?" walaupun suara Ara kecil, tapi dia masih mendengar dengan jelas gumaman istrinya itu.
"Bukan apa-apa!" Ara menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, senyum malu.
"Sayang, ayo ulangi. Ngomong apa barusan? kau pikir aku budeg dan tidak mendengarnya? ayo ulangi, kalau tidak.... !" tangan Rafa masuk kedalam blous nya, memegang dua buah di sana.
Ara cepat menahan tangannya dan menariknya keluar.
"Kakak ngapain sih? gak lihat sekretaris Wisnu di depan?" bisiknya menatap tajam suaminya.
"Mana? Aku gak lihat dia di sini. Di depan sebelah mana dia ?" seraya melihat lihat keberadaan Wisnu di depan dan sekeliling dalaman mobil.
"Iih kakak...!" Ara mendengus kesal seraya memukul dada pelan.
Rafa tertawa kecil.
"Kakak nggak tuli, tapi buta !" sungut Ara kembali.
Rafa kembali tertawa kecil.
"Aku buta melihat Wisnu, tapi tidak padamu sayang," menciumi bibir istrinya dengan gemas sesaat.
"Baiklah sayang, aku akan menurutimu kemauan mu. Aku akan ku buat makanan yang kau inginkan. Tapi ingat bayarannya ya sayang....!" tersenyum menggoda. Dia mendekatkan mulutnya ke telinganya Ara, mengecup dan menjilati.
"Puaskan aku setelahnya!" bisiknya kemudian dengan senyuman menyeringai.
Ara langsung mengigit ibu jarinya yang kebetulan sedang meraba bibirnya.
Rafa meringis kesakitan, kembali tertawa. Lalu menciumi bibir istrinya sedikit kasar karena gemas. Tidak perduli Wisnu yang fokus menyetir di depan. Dia berhenti setelah melihat Ara kesulitan bernapas.
Rafa semakin bingung dengan tingkah istrinya yang semakin aneh setiap harinya. Semalam saja Ara merajuk dan ngambek saat dia mengatakan akan pergi ke Jepang dan akan menginap semalam.
Ara ngomel ngomel itu kesal.
"Pasti mau bertemu dan melihat lihat wanita yang kekurangan bahan pakaian lagi kan?" kata Ara kesal tidak suka dengan kepergiannya ke dua negara tersebut.
"Aku ada urusan kerjaan sayang, ada projek penting. Kenapa gak percaya sama aku sih? Bagiku hanya tubuhmu yang paling indah dan membuatku bergairah," katanya menjelaskan.
Ara kembali mendengus kesal
"Ya udah pergilah, jangan kembali."
"Sayang...! Jangan gitu dong. Percaya deh sama aku. Aku sangat mencintaimu, cuma kamu seorang sayang yang membuat ku tergila-gila. hanya tubuhmu yang dapat menggoda imanku," kata Rafa memeluk tubuhnya.
Tapi Ara segera melepaskan pelukannya.
"Lepas, jangan sentuh sentuh, jangan peluk dan jangan ngomong sama aku," katanya semakin kesal dan merajuk. Lalu segera mengambil bantal dan melangkah tidur di sofa.
Ngambeknya Ara membuat Rafa membatalkan perjalanan bisnisnya ke malaysia dan Singapura hari ini karena tak ingin menyakiti hati Ara.
Dia langsung menyuruh Wisnu menghubungi Mitra bisnisnya dari kedua negara itu untuk datang ke Indonesia. Ke-dua CEO itu bersedia memenuhi permintaannya karena mereka ingin sekali bekerja sama dengan Rafa. Rafa memberikan pelayanan terbaik baik sebagai ungkapan terima kasih.
Setelah urusan kerja sama itu selesai, dia langsung datang menemui Ara ke Mall setelah sebelumnya datang ke kampus meminta bantuan rektor.
"Sayangku, apa yang terjadi denganmu, setiap hari kau membuat aku makin bingung. Bukan hanya sikapmu yang aneh tapi juga permintaan mu!" batin Rafa menciumi puncak kepala istrinya. Karena dia tahu sifat Ara yang sangat pemalu dan penakut kepadanya.
"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan sayang, apa pun. Tetaplah di sampingku selamanya. Temani aku menjalani hidup ini sampai akhir hayatku." batinnya kembali membelai lembut rambut dan punggung Ara yang sudah tertidur di pangkuannya.
******
Readers tersayang, jangan lupa dukung ya
Like, komentar, hadiah dan vote, makacih ππ
__ADS_1