
"Maksud kak Nesa apa berkata seperti itu?
Akan dapat masalah sama seperti mba Sita jika dirinya masih mengurus si kembar. Apa kak Rafa akan memberi hukuman juga pada kak Nesa jika aku masih mengurusi si kembar?" Ara terus membantin. Dia semakin bingung dengan sikap Rafa.
Ara menaiki tangga dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
Sampai di anak tangga atas terdengar pintu kamar dibuka. Tepatnya pintu kamar Rafa. Seketika Ara tidak tenang, deg degan.
"Itu pasti kakak ipar," batinnya was was. Dia segera berjalan cepat menuju kamarnya sebelum di lihat oleh Rafa.
"Ara__." seseorang memanggil namanya dari belakang. Membuatnya terkejut, langkahnya terhenti. Ara terdiam di tempatnya. Jantung berdegup kencang, takut......!
"Jangan jangan kakak ipar yang memanggil," pikirnya. Pelan pelan Ara membalikkan tubuhnya. Setelah melihat orangnya, dia lega, senyuman langsung mengembang di wajahnya. Bukan Rafa tapi Dokter Rizal."Dokter Rizal." sapanya senang dan lega.
Ara segera mendekati dokter Rizal
"Selamat pagi dokter, apa kabar?"
"Pagi Nona manis. Setelah melihat wajah cantik mu aku semakin sehat dan kuat." jawab Rizal berkelakar sambil mengangkat tangan kanannya πͺ
Ara tertawa kecil.
"Dokter bisa aja. Syukur Alhamdulillah masih di beri nikmat kesehatan oleh Allah!" ucapnya. "Oh ya, dokter masih pagi ada di sini, memang ada yang sakit ya?" tanya Ara dengan wajah mengernyit.
Sebelum Rizal menjawab, pintu kamar Rafa terbuka. Lalu keluarlah Rafa dan Raka, disusul oleh Wisnu.
"Tuh, yang sakit datang, kakak ipar mu." tunjuk Rizal pada Rafa.
Hati Ara kembali tidak tenang melihat Rafa yang berjalan mendekati mereka bersama Raka dan Wisnu.
"Dokter, aku ke kamar dulu mau mengambil ponsel. Permisi." pamitnya buru buru untuk menghindari Rafa. Tapi langkahnya terhenti dengan suara Raka."Sayang __!"
Raka melangkah cepat mendekat dan memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Aku mau ke kamar, mau ngambil ponsel." kata Ara pelan seraya melirik sekilas pada Rafa yang menatapnya. Ara buru buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sementara Rafa tahu, dia ingin mengambil ponsel hanya alasan untuk menghindar dari dirinya.
"Nanti saja. Oh ya kau dan dokter Rizal lagi ngobrol apa tadi?" tanyanya. Lalu mencium leher Ara karena tergoda dengan aroma wangi dari tubuh istrinya ini.
"Kamu wangi banget sayang!" ucap Raka kembali mendaratkan kecupan di leher istrinya. Ara jadi salah tingkah. "Jangan kak, malu ah __!" bisik Ara dengan wajah yang merah merona. Dia tertunduk malu.
"Habisnya tubuhmu wangi banget sayang." Raka tersenyum menggoda semakin memeluk erat perut Ara. Dia meletakkan dagunya di bahu istrinya.
"Hey hey, nggak lihat apa ada orang di sini?" Rizal menatapnya tajam dan kesal.
"Sembarangan bermesraan. Kalian keterlaluan. Tega amat pada kami para jomblo!" lanjut Rizal kembali.
Raka terkekeh. Sedangkan Rafa hanya diam menatap kemesraan mereka.
"Sayang, apa kau tidak menyapa kak Rafa?" kata Raka. Membuat tubuh Ara lemas seketika. Ara menatap wajah Rafa yang tampak dingin dan pucat.
Rafa hanya menatapnya tanpa membalas. Lalu segera melangkah menuruni tangga.
Wisnu buru buru menyapa Ara, lalu mengikuti langkah tuannya.
"Hey bos, kau sungguh tidak sopan sekali!" seru Rizal kepadanya.
"Adik ipar, dia orangnya memang seperti itu. Benar benar menyebalkan tuh orang," kesal Rizal sambil memonyongkan bibirnya pada Rafa yang sudah berada di bawah bersama Wisnu.
Raka dan Ara tersenyum melihat kelakuan lucunya itu. Rizal memang orang yang humoris, suka sekali bercanda.
"Kak Rafa sedang tidak sehat sayang, mungkin karena itu dia malas ngomong." kata Raka.
"Kakak ipar sakit apa?" Ara terkejut, karena seingatnya semalam baik baik saja. Tapi dia lega Rafa tidak menyingung kejadian semalam di kamar so kembar.
__ADS_1
"Hanya tidak sehat. Ayo kita turun." ajak Raka.
Mereka bertiga segera menuruni tangga menuju meja makan, di mana sudah duduk Rafa dan Maya.
"Ayo sarapan dulu dokter." seru Maya melihat kedatangan mereka.
"Sepertinya gak bisa tante. Aku ada operasi pagi ini dan harus segera bersiap! Aku langsung pulang saja." jawab Rizal tersenyum.
"Ya sudah, kapan kapan sarapan lah bersama kami." kata Maya.
"Pasti tante!"
"Hati hati di jalan dokter." kata Ara pelan.
"Tentu adik ipar ku yang cantik." balas Rizal seraya menyentuh hidung Ara, lalu ia menepuk bahu Raka."Jangan lupa minum obatnya ya?" katanya berbisik. Raka mengangguk tersenyum.
"Mari aku antar ke depan dokter." kata Wisnu.
Sementara Ara segera duduk pelan pelan tanpa melihat ke arah kiri dan kanannya.
"Hey bos, aku pamit dulu." kata Rizal pada Rafa yang hanya diam di tempat duduknya.
"Lukanya cukup parah, kau harus sering-sering mengganti perbannya, dan pastikan dia meminum obatnya." kata Rizal di sela sela langkah kakinya.
"Baik dokter." jawab Wisnu.
"Wisnu, cobalah bicara dengan tuan mu. Dengan luka separah itu seharusnya dia harus ke rumah sakit!" katanya lagi.
"Aku akan mencobanya dokter."
"Hey kawan, bukan hanya mencoba. Tapi paksa dia. Tuan mu itu banyak kekurangan darah! Apa yang terjadi dengannya semalam sampai terluka separah itu? Tidak biasanya dia membawa luka besar dan separah itu padaku, Apa kalian kekurangan anggota? Ataukah dia sudah tidak jago lagi dalam bertarung?"
Tak ada jawaban. Wisnu terus melangkah.
__ADS_1
Rizal mendengus kesal, lalu segera masuk ke dalam mobilnya karena hanya mendapat anggukan dari Wisnu. Entah apa yang di sembunyikan kedua temannya itu darinya, dia dapat merasakan hal itu.
Bersambung.