Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 146


__ADS_3

Jasad Raka di bawa langsung ke rumah utama menggunakan ambulans. Rizal yang mendapat telepon dari anak buah Wisnu langsung cepat menuju lokasi mesjid sambil menghubungi rumah sakit agar cepat membawa ambulance dan alat alat kesehatan.


Selama perjalanan Rizal menangis dan mengutuk dirinya karena lalai menangani penyakit Raka, dia mengira kondisi kesehatan Raka sudah membaik.


Meski sudah di pastikan meninggal, Rizal tetap menggunakan alat defibrilator untuk mengirimkan kejutan listrik ke jantung Raka berulang ulang, tapi tetap tidak ada aktivitas listrik jantung, jantung Raka tetap tidak berdenyut.


"Rakaaa ..." desisnya lirih sambil menangis .


"Kita baru berpisah beberapa jam, bercanda dan berpelukan. Tapi kenapa kau malah secepat ini pergi, huuuhuuuuu..Rakaaa" dia


memeluk tubuh Raka yang tertutup kain putih.


Nesa yang berada dalam pelukan Rafa semakin keras menangis mendengar ucapannya.


Rafa memeluk erat tubuh kakaknya, sangat erat, seakan takut kakak perempuannya itu akan pergi meninggalkannya sama seperti Raka.


Dadanya bergemuruh kencang, Isakan tangisnya terdengar meski sudah di tekannya sekuat mungkin.


Berita kematian Raka langsung banjir dan viral di sosmed, seseorang telah menggunggahnya. Banyak netizen yang mendoakan dan terharu dengan kondisi kematian Raka yang meninggal dengan keadaan Husnul khatimah. Bahkan ada beberapa ustadz yang sering wara wiri di stasiun televisi memberikan komentar dan mendoakannya.


Mobil memasuki pintu gerbang utama.


Sudah banyak karangan bunga duka cita berdiri rapi di depan pagar bertuliskan ucapan belasungkawa dan doa yang berasal dari berbagai pihak.


Saat memasuki halaman, para penjaga keamanan serta pelayan rumah berlutut memberi hormat sambil menangis menyebut nyebut "Tuan Muda Raka."


Maya yang sudah di beri tahu kabar kematian anaknya menangis histeris, shock dan jatuh pingsan berulang-ulang.


Sam dan para pelayan juga tak berhenti menangis, mendapat berita kematian tuan muda mereka yang secara mendadak membuat mereka sangat terkejut dan merasa tak percaya.


Terutama Sam yang sangat terpukul, karena baru beberapa menit yang lalu dia berbicara dan melihat wajah tuan mudanya di layar telepon.


Seisi rumah, semua penghuni rumah megah itu berduka dan sangat terpukul.


Karena bagi mereka Raka adalah sosok yang baik, santun, perduli dan tidak pernah membedakan orang dari status dan derajatnya.


Mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu utama.


Begitu banyak para pelayat yang terlihat di halaman dan di dalam rumah megah itu.


Mereka terlihat sedih dan sebagian menangis saat jenazah Raka di turunkan dari mobil dan di bawah masuk ke dalam rumah.


"Ya Allah, Almarhum orang yang sangat baik, kami bersaksi akan hal itu. Masukan dia ke dalam surgamu." terdengar suara dari mereka. Berbagai ucapan dan doa yang baik mereka ucapkan.


Para pelayat itu bukan hanya tetangga kompleks mereka, sahabat sahabat Raka, serta rekan rekan bisnis Rafa.


Tapi sebagian besar adalah orang orang yang mendapat kebaikan dari Raka semasa ia hidup.


Semasa hidupnya Raka banyak melakukan hal-hal baik dan rajin bersedekah, bukan hanya pada orang orang terdekatnya saja, tetangga tetangganya, sahabatnya tapi juga di berbagai tempat. Seperti berbagai mesjid, berbagai panti asuhan, panti jompo, orang orang miskin, orang fakir, bahkan orang susah yang mempunyai banyak hutang pun. Dan masih banyak lagi yang mendapat uluran tangan kebaikan darinya.


Kebaikan itu di lakukannya sudah sangat lama. Bahkan beberapa panti asuhan, panti jompo dan berbagai mesjid membeberkan almarhum sudah hampir 10 tahun menjadi donatur tetap.


Saat melihat dan membaca kematian Raka di sosial media, mereka sangat terkejut, sedih menangis, mengirim doa dan datang berbondong-bondong ke rumah almarhum


untuk mengantar kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


Maya menyambut jenazah Raka dengan tangisan histeris, dia memeluk menciumi tubuh anaknya.


"Raka, bangun nak, jangan tinggalkan mama. Rakaaa... " ucapnya di sela sela tangisannya. Rizal berusaha menenangkan dan memegang kuat tubuh wanita paruh baya itu agar tidak jatuh pingsan lagi.


Nesa juga kembali menangis histeris memeluk tubuh adiknya.


Cio dan Cia yang berada di tempat itu ikut menangis. Mereka yang belum tahu arti tentang kematian, tetapi mereka menangis karena pamannya tak kunjung bangun dan bergerak ketika mereka bangunkan.


Nesa memeluk tubuh kedua anaknya berderai air mata, dia teringat almarhum suaminya.


Di lantai atas ..

__ADS_1


Perlahan Ara membuka kedua matanya, dia melihat langit langit ruangan yang ada di atasnya. Dan semakin jelas kalau saat ini dia berada di dalam kamarnya.


"Ara, kau sudah bangun? syukurlah." ucap Ines lega yang berada di dekatnya, ada juga Cindy duduk di dekatnya.


Kedua sahabatnya itu terkejut ketika melihat kematian Raka yang banjir di sosmed.


Mereka langsung teringat Ara .


Tanpa pikir panjang mereka segera menuju rumah Raka, karena mereka mengingat Ara tak punya siapa-siapa apalagi keluarga dekatnya yang menghibur.


"Kalian ada di sini ?" ucap Ara setelah jelas melihat wajah orang yang ada di sampingnya yang terlihat sedih.


"Kamu yang sabar ya Ra...."


"Kak Raka.." desis Ara langsung teringat suaminya.


"Kakaaak ... " dia menjerit dan kembali menangis, dengan cepat dia turun dari tempat tidur dan berlari keluar.


"Ara, Ara....." panggil Ines dan Cindy mengejarnya.


Ara berlari cepat dan menuruni tangga


"Kak Rakaaa ..." jeritnya keras memanggil nama suaminya dengan berlari menuruni tangga.


Semua mata mengarah kepadanya begitu mendengar jeritannya.


"Ara ..." Rizal langsung berdiri mendekat


kearahnya.


Tubuh Ara gemetaran melihat jasad suaminya yang berbaring tertutup kain putih di kelilingi oleh para pelayat.


Ara menubruk tubuh suaminya yang sudah mau di mandikan.


"Kakak, bangun kak, banguunn ! jangan tinggalkan aku ...aku mohon " ucap Ara histeris memeluk tubuh suaminya.


Rizal mendekat memegang pundaknya.


"Ara, tenangkan dirimu."


"Dokter.. selamat kan kak Raka dok ! selamatkan suamiku, siapa tahu ada keajaiban dari Allah. Cepat periksa suamiku dok, selamat kan dia." ucap Ara di sela sela tangisannya. Dia menepuk nepuk dada Rizal sambil memohon dengan tangan di depan dada


"Aku mohon selamatkan suamiku, huuuu.. " menarik narik tangan Rizal memeriksa suaminya.


Tangisannya yang menyayat hati membuat para pelayat di dalam ruangan besar dan luas itu ikut menangis.


Maya dan Nesa yang ada dalam pelukan Rafa tak kuasa membendung tangisan mereka,


mereka kembali menangis histeris memanggil manggil Raka.


Rizal diam terpaku sambil menangis, dia segera memeluk tubuh Ara kuat .


"Kuatkan hatimu, ikhlaskan kepergiannya." ucapnya lirih.


"Dokter .....akhaaaaa aaaaa " Ara semakin kuat menangis dan memeluk kuat tubuh Rizal.


"Ara ..." panggil seseorang pelan di belakangnya .


Perlahan Ara melepas pelukannya dan berbalik .


"Ustadz ?" ucapnya lirih setelah tahu siapa yang memanggilnya.


Ustadz Arif Rahman, guru ngaji Raka dari kecil bahkan sampai dia dewasa, Raka masih tetap meminta bimbingan dari ustadz Arif.


Ustadz Arif tersenyum meski terlihat ada guratan kesedihan di wajahnya.


"Sabarlah, tenangkan dirimu. Semua musibah yang terjadi sudah menjadi ketentuan Allah ! kita harus ikhlas menerimanya." ucap ustadz Arif menenangkan seraya menepuk pelan bahu Ara.

__ADS_1


"Raka pernah berkata, kau adalah istri yang baik dan seorang muslimah sejati. Dia sangat bangga dan bersyukur memiliki dirimu ! kau orang yang kuat, tabah akan segala cobaan dan musibah yang menerpa, jadi kuatkan dirimu dan ikhlaskan kepergiannya ...hhmm ?" ustad Arif menatap matanya dengan sedih.


Air mata Ara semakin membanjir keras, tubuhnya bergetar hebat menahan tangisan.


Rizal memegang kedua pundaknya memberikan kekuatan.


"Kau sudah tau kan tidak baik meratapi kematian seseorang dengan sangat berlebihan, dan tidak baik juga membiarkan mayit terlalu lama di kebumikan." ucap ustadz Arif kembali


Ara mengangguk dalam isakan tangisnya.


"Jadi kuatkan dirimu, kita harus segera mengurusnya dan mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir." sambung ustadz Arif kembali.


Ara kembali menangis menggigit bibir bawahnya kuat mendengar kata terakhir ustadz Arif.


Sebagai orang yang telah di tanamkan ilmu agama sejak kecil, dia sudah tahu tentang ketentuan Qada dan Qadar yang merupakan takdir Allah yang tidak bisa di hindari. Karena kematian merupakan kepastian, setiap mahluk yang bernyawa akan merasakan ajalnya.


Sewaktu ayahnya meninggal dulu, dia menangis histeris karena tak bisa menerima kematian ayahnya. Dia menangisi kematian ayahnya selama berhari-hari di kuburan bahkan sampai tertidur di sana.


Hingga ibunya berkata sambil menangis


"Tangisan yang di barengi ratapan, bisa menjadi penyebab di siksanya mayit dan akan sulit baginya untuk masuk surga meski dia adalah hamba Allah yang baik." ucap ibunya.


Ara menarik nafas pelan, dia menyapu air matanya, meski air mata itu mengalir lagi.


Dia menatap ustadz arif .


"Baiklah ustadz, kita harus segera mempersiapkan segala keperluan kakak dan mengantarkan ia keperistrahatannya yang abadi." ucap Ara pelan.


Ustadz Arif tersenyum, dia segera menyuruh mempersiapkan pemandian jenazah.


Perlahan Ara berlutut di samping jasad suaminya, mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.


Masih terisak-isak dengan air mata yang terus mengalir tak mau berhenti meski ia berusaha menahannya.


"Kak, kau tahu betapa aku sangat menyayangi dan mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku, aku ingin kita selalu bersama selamanya sampai kita menua bersama ! tapi ternyata.. rasa sayang dan cintaku tidak melebihi cinta dan kasih sayang Allah kepada kakak. Allah lebih menyayangi dan mencintai kakak sehingga dia memanggil dirimu untuk kembali kepadanya, agar kau tidak merasakan sakit lagi." ucap Ara terbata bata di sela isaknya.


"Maafkan aku yang terlalu berlebihan menangisi kematianmu, yang tidak rela dan tak bisa menerima kepergian mu, dan tidak terima dengan takdir Allah, maafkan aku kak ! tidurlah... dan beristirahatlah dengan tenang di tempat yang paling indah di surganya Allah." ucap Ara kembali seraya membelai lembut wajah suaminya.


"A-aku ...rela dan ikhlas melepas dirimu..... kembali kepelukan sang Khaliq." lanjutnya kembali. Lalu membacakan beberapa doa sembari mengecup kening, kedua mata dan kedua tangan suaminya.


Maya dan nesa juga melakukan hal yang sama, menciumi kening Raka terakhir kali dengan linangan air mata.


ibu dan anak itu saling berpelukan di sisi Raka.


Perlahan Rafa mendekat dan duduk di samping jasad adiknya.


Dia menyentuh tangan adiknya yang bersidekap di dada dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya membelai dahi hingga kepala Raka dengan lembut .


"Adikku, meski kita jarang bersama, kau tahu kakak sangat menyayangimu. Kakak tidak ingin kau pergi secepat ini, tapi Allah lebih berhak atas dirimu, karena dia sayang dan mencintaimu ! beristirahatlah dengan tenang. Jangan mencemaskan milikmu yang sangat berharga, kami akan menjaganya dengan sangat baik, kakak berjanji padamu." ucapnya lirih dan sendu.


Dia mengecup pelan kening Raka, lalu segera menutup wajah adiknya dengan kain putih.


Dia menoleh pada Ara di sampingnya yang terisak-isak menahan tangis dengan kepala menunduk.


Perlahan dia menyentuh bahu Ara, lalu membawa tubuh mungil itu kedalam


pelukannya, di peluknya dengan erat.


Dia sangat tahu, wanita ini adalah milik satu satunya Raka yang sangat berharga, yang selalu membuat Raka cemas dan sekuat tenaga menjaganya.


Rafa semakin kuat memeluk tubuh Ara untuk memberi kekuatan.


********


Happy reading 😊


Terimakasih bagi yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like, hadiah, vote dan komentarnya ya πŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2