
...Happy Reading....
Di sebuah Bar.
"Brengsek, sepertinya kau memang sengaja menghindari ku Rafa." umpat Levina geram.
"Siapa wanita yang kau temui itu? apakah dia alasanmu menjauhiku selama ini?" Levina meremas kuat gelas yang berada dalam genggamannya dengan penuh amarah.
Semalam, seorang anak buahnya memberi informasi kalau Rafa sedang berada di restoran X, bertemu dengan seorang wanita Jepang.
Dengan cepat dia menuju ke restoran itu, tapi begitu sampai di sana, dia tidak menemukan Rafa. Dia bertanya pada bagian resepsionis dan manager restoran tentang keberadaan Rafa, Mereka mengatakan Rafa tidak membuat janji bertemu atau makan di tempat itu. Namanya juga tidak terdaftar sebagai tamu atau pengunjung. Sementara kata orang suruhannya, dia benar benar melihat Rafa masuk ke tempat itu bersama Wisnu.
Levina merasa Rafa sudah mengetahui kedatangannya, makanya Rafa segera pergi dari tempat itu untuk menghindari dirinya.
"Brengsek kau Rafa, aku pasti akan menemukanmu. Aku tidak akan melepaskan mu. Kau adalah milikku, hanya milikku. Tidak akan ku biarkan wanita manapun mengambil mu dariku."
Levina meneguk minumannya sampai habis lalu melempar gelas itu ke lantai dan pecah berkeping-keping.
.
.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ara yang saat itu sedang menerima materi.
"Assalamualaikum kak, ini Tito. Ada hal penting yang ini aku sampaikan."
"Tunggu sebentar, kakak sementara di ruang kelas. Nanti kakak telepon." balas Ara cepat.
"Baik kak." jawab Tito
__ADS_1
Ara mengangkat tangan kanan meminta izin ke toilet. Dia segera menelpon Tito begitu sampai di toilet.
Terlibat pembicaraan di antara mereka.Tito mengatakan kalau Raka mentransfer sejumlah uang yang ke rekening panti. Jumlahnya cukup banyak.
Ara terkejut.
"Apa kak Raka tau kalau aku lagi butuh biaya untuk panti? Atau Ines dan Cindy sudah cerita padanya?" batin Ara setelah pembicaraan dengan Tito selesai.
Dia ingin menelepon Raka tapi takut mengganggu, Raka pasti lagi kerja. Tapi karena di dorong rasa keingintahuannya, akhirnya dia menelpon suaminya.
"Assalamualaikum kak."
"Sayang, wassalamu'alaikum." suara Raka dari seberang.
"Apa aku mengganggu?" tanya Ara.
"Gak sayang, ada apa? Apa kamu merindukan ku?" Raka menggoda dari seberang. Dia mengubah panggilan ke video, hingga terlihat wajah cantik istrinya di layar ponsel.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang. Aku aku segera pulang jika urusan di sini selesai."
"Ada apa sayang? Kenapa menghubungi ku? Apa kau perlu sesuatu?" kata Raka kembali.
"Terima kasih ya atas bantuannya." kata Ara pelan dengan perasaan haru.
Raka terdiam sejenak. Memikirkan kenapa Ara mengucapkan terima kasih padanya. Dia teringat uang yang di kirim ke panti. Raka tersenyum."Terima kasihnya nanti begitu aku sampai di rumah. Kau tahu, di sini aku sangat merindukanmu." goda Raka kembali dengan berbisik.
Ara tersipu semakin tersipu malu.
"Kakak tau dari mana?"
__ADS_1
"Karena kamu gak mau ngomong, jadi kakak telepon Tito. Kakak paksa Tito karena dia juga gak mau ngomong sama seperti kamu. Kamu tuh ya kalau butuh sesuatu bilng dong sayang! Kakak tidak senang kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak. Lagian kenapa kartu kredit yang kakak kasih tidak kamu gunakan? Kamu bisa pakai uang di situ jika butuh sesuatu untuk kebutuhan panti, juga kebutuhan mu. Kamu dengar?"
"Maaf, aku hanya gak ingin membebani kakak. Kakak sudah terlalu banyak membantu aku."
"Kamu tuh istri ku sayang. Beban atau masalah mu Adalah tanggungjawab ku. Gak perlu sungkan dan takut seperti itu untuk mengatakan jika perlu bantuan ku."
Ara tersenyum haru."Terima kasih kak."
"Minta maaf dan terimakasihnya nanti setelah kakak pulang." Raka kembali menggoda. Membuat semburat merah muncul di wajah Ara.
"Tapi sepertinya kakak tidak bisa pulang malam ini. Banyak pekerjaan dan tidak akan selesai sampai nanti malam."
"Gak apa apa. Selesaikan dulu pekerjaannya. Kakak jaga diri di sana yah? jaga kesehatan, jangan lupa minum obatnya."
"Siap sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintai kakak."
"Sudah dulu ya sayang? Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." balas Ara tersenyum. Telepon di matikan.
Saat menuju ke ruang kelas, Ara teringat sesuatu.
"Ya tuhan, aku lupa menelepon kakak ipar." Ara menepuk jidatnya. Lupa menelepon Rafa.
"Tapi aku tidak punya nomor telponnya."
Ara ingin menelpon Raka, untuk meminta nomor Rafa, tapi di urungkan. Raka pasti lagi kerja. Dia sudah menelponnya tadi. Dan tidak mau mengganggunya lagi.
"Nanti aku tanya sama pak Sam saja di rumah." gumamnya. Ara melanjutkan langkah menuju kelas.
__ADS_1
Bersambung.