Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 267


__ADS_3

Gedung perusahaan DRA Group.


Jam setengah 10 Dinda dan Cindy tiba di perusahaan. Mereka di sambut dengan hormat dan sopan. Cindy yang sudah beberapa kali di ajak Dion tidak merasa kaget lagi datang ke sini. Hampir seluruh staff karyawan mengenal dirinya sebagai keponakan Raymond Alkas dan sepupu Dion. Mereka sama sekali tidak tahu kalau sekarang Cindy adalah istri Dion dan menantu Alkas. Kecuali hanya Toni yang tahu.


Toni dan beberapa staf menemani menuju ruang rapat. Dinda memegang tangan Cindy dan berjalan pelan karena mengingat menantunya sedang hamil. Untung saja kandungan Cindy baik baik saja setelah diperiksa Dokter. Dokter memberikan Cindy obat penguat kandungan.


Mereka memasuki ruang pertemuan. Sudah banyak orang yang berada di sana, yang merupakan para pemilik saham tertinggi di perusahaan DRA Group.Terlihat juga Wisnu di sana sebagai perwakilan Tuannya dari perusahaan RA Group. Ada juga ustadz Arif Rahman duduk di sampingnya.


Rafa tidak ikut dan lebih memilih menemani istrinya yang sedang meresmikan beberapa gedung sekolah AZHARA di beberapa tempat.


Raymond Alkas terlihat sedang duduk di ujung tengah meja. Di samping kanan dan kirinya duduk Dion dan adik kandungnya, Reymundo Alkas. DRA Group merupakan perusahaan yang di wariskan ayahnya pada Raymond Alkas. Tapi karena masalah yang terjadi pada perusahaan belakangan ini yang mana banyak mengalami kerugian dan hampir bangkrut, membuat Reymundo ingin mengambil alih perusahaan tersebut seperti pesan ayahnya. Jika Raymond gagal memimpin perusahaan dan tidak membawa menuju kesuksesan, maka hak dan ahli waris dari perusahaan tersebut harus di berikan kepada Reymundo. Di tambah lagi Reymundo juga memiliki saham tinggi di perusahaan itu.Tapi karena Raymond Alkas memiliki seorang putra sebagai ahli waris dan merupakan cucu tertua dari Tuan besar Alkas, maka Dion mempunyai hak atas kepemilikan DRA Group tapi melalui pemilihan Rapat umum pemegang saham. Para pemegang saham yang menentukan siapa yang pantas memimpin perusahaan DRA Group kedepan. Dionel Raymond Alkas atau Reymundo Alkas.


Cindy tersenyum manis begitu melihat Dion.


Senyumnya itu cukup menghilangkan ketegangan pada diri Dion. Dion sangat senang melihat istrinya ada di sini dalam keadaan baik baik saja. Seandainya kalau bukan karena Cindy dan kedua anaknya, dia tidak akan maju mencalonkan diri menjadi Dirut dan pewaris DRA Group. Tapi apapun hasil dari pemilihan ini dia akan menerima dengan lapang dada walau hasilnya terburuk sekalipun untuk dirinya.


Dinda dan Cindy segera duduk pada kursi yang telah persiapkan oleh staf pegawai. Di seberang mereka terlihat istri Reymundo sedang duduk di dampingi oleh ke dua anaknya.


Dinda tersenyum dan menyapa mereka. Cindy mengikuti apa yang di lakukan mama mertuanya. Lalu dia kembali menatap pada suaminya.


Karena Ny Besar dan Ny Muda Alkas telah hadir, maka rapat segera di mulai yang di pimpin oleh Asisten pribadi Raymond. Pemilihan di lakukan dengan melalui voting. Yang dapat dilihat langsung pada layar monitor dan hasilnya bisa di lihat langsung secara live. Masing-masing calon tampak terlihat tegang, begitu juga dengan Raymond, Dinda dan Cindy.


Cindy terus tersenyum lembut penuh cinta pada suaminya untuk memberi kekuatan. Dia berdoa di dalam hati untuk yang terbaik buat kakaknya dan juga perusahaan. Matanya tak lepas dari Dion. Sama halnya seperti Dion, dia juga menatap hangat pada istrinya. Lagi lagi senyuman dari Cindy mampu menenangkan dirinya.


Di layar monitor nilai kedua calon tampak terlihat saling kejar mengejar. Masing-masing para pemegang saham tertinggi memberikan pilihan mereka. Raymond dan Dinda juga memberikan pilihan dengan menekan tombol nama Dion. Nilai Dion lebih tinggi dari angka Reymundo.


Tetapi beberapa saat kemudian Nilai lonjakan presentase Reymundo bertambah tinggi setelah Abimanyu memberikan pilihan kepadanya. Bukan tanpa alasan Abimanyu lebih memilih Reymundo, karena dia memiliki dendam pada Ray dan Dion.


Raymond menghela nafas berat dan kecewa. Dia harus merelakan perusahaan ini pada adiknya. Dinda juga terlihat tidak tenang dan gelisah.


Dion tetap berusaha tenang tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah manis Cindy yang terus memberikan semangat dan energi kekuatan untuknya lewat senyuman lembutnya. Dion menurunkan tatapannya pada perut Cindy. Di mana di situ bersemayam ke dua anaknya. Kedua anak itu semakin menambah kekuatan pada dirinya untuk menerima apapun hasil dari rapat ini. Meski tak terpilih dia akan menerima dengan lapang dada. Dia sudah mempersiapkan sebuah rencana indah untuk keluarga kecilnya jika tidak terpilih dan hengkang dari DRA Group.


Sementara Reymundo dan para pemilik saham yang mendukungnya mulai menghias kan senyum di wajah mereka. Senyum kemenangan.


Sekretaris pribadi Raymond yang memimpin rapat mengatakan masih ada satu pemegang saham yang belum memilih. Jadi peserta di minta untuk bersabar dan jangan dulu menentukan keputusan siapa bakal calon terpilih.


Ruang kerja RA Group


Rafa dan Ara baru saja selesai mengerjakan shalat Dzuhur diruang pribadi Rafa. Rafa mengajak istrinya singgah ke perusahaan setelah selesai meresmikan gedung sekolah.


Saat ini keduanya sedang melakukan tadarus Al-Qur'an sambil duduk di sofa.


Terdengar ponsel Rafa berbunyi. Dia segera meraih benda pipih itu. Satu pesan masuk di kirim Wisnu.


"Katakan kepada mereka untuk menunggu sebentar." balasannya pada Wisnu.


Rafa memperhatikan istrinya yang sangat fasih membaca Alqur'an dengan lantunan suaranya yang merdu. Sungguh dia sangat bersyukur memiliki istri yang rajin beribadah dan rajin membaca Alquran.


Sejak Ara menginjakan kakinya di rumah utama Artawijaya, sejak hadirnya Ara dalam keluarga mereka saat menjadi istri Raka, sangat berpengaruh besar pada bisnisnya, apalagi sejak wanita itu menjadi istrinya. Bisnis dan usahanya semakin sukses dan berkembang pesat. Rezeki setiap saat masuk dari berbagai usahanya, melonjak besar 7 kali lipat dari biasanya.


Rafa sendiri heran dengan bisnisnya yang semakin lancar dan sukses, hingga akhirnya dia menyadari dengan adanya kehadiran wanita ini dalam hidupnya. Wanita yang suka bersedekah, rajin melakukan ibadah shalat fardhu dan Sunnah. Wanita yang sederhana pandai bersyukur, gemar bersilaturahmi dengan orang orang yang mendapat uluran tangannya, selalu mendoakan dirinya dan juga mendoakan orang lain meski tidak di kenalnya. Dia meyakini kehadiran Ara dalam hidupnya yang membuat usaha sukses dan berkembang pesat.


10 menit berlalu Ara mengakhiri tadarusnya.


"Sudah selesai?" tanya Rafa menatapnya lembut.


"Iya kak." Ara melepas mukenanya, di lipat dan di letakan pada rak.


"Kemarilah sayang, aku ingin membicarakan sesuatu." kata Rafa melebarkan kedua tangannya.


"Kakak nggak akan melakukan yang aneh-aneh kan?" tanya Ara melihat suaminya melebarkan tangan begitu. Yang artinya Rafa memintanya untuk duduk di dalam pangkuannya. Dan pada akhirnya akan macam-macam lagi.


Rafa tertawa kecil."Tidak sayang, cepat Kemari, ini sesuatu yang mendesak."


Ara segera mendekat dan masuk dalam pangkuan suaminya. Duduk saling berhadapan. Rafa memeluknya dengan hangat, mencium kepalanya berulang.


"Kakak mau ngomong apa?" tanya Ara seraya meraba dada suaminya.


Rafa mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan video CCTV pemilihan Dirut baru yang sekarang sedang berlangsung di ruang rapat DRA Group. CCTV yang di pasang Wisnu tanpa sepengetahuan siapa pun.

__ADS_1


Ara memperhatikan layar ponsel suaminya.


"Ini Rapat apa kak?" tanyanya yang belum tahu.


"Sayang, saat ini sedang berlangsung rapat pemilihan Dirut baru untuk DRA Group. Rapat yang dihadiri oleh para pemegang saham tertinggi. Calon terpilih adalah putra Raymond Alkas dan Reymundo Alkas."


"Maksud kakak kak Dion?"


Rafa mengangguk."Dan yang satunya adalah adik kandung Tuan Alkas." katanya kembali.


"Terus siapa yang terpilih?" tanya Ara


"Belum di tentukan, karena masih ada satu pemegang saham yang belum memilih. Dan pilihannya akan menentukan siapa calon terpilih yang akan menjadi pemenang dan menjadi pemimpin selanjutnya perusahaan DRA Group." kata Rafa menjelaskan.


"Terus kenapa dia belum menentukan pilihannya?" tanya Ara kembali terus memperhatikan layar ponsel. Dia kaget melihat Cindy di sana. Wajah sahabatnya itu terlihat tegang.


"Kak, ada Cindy di sana." serunya. Dia tersenyum melihat sahabatnya.


"Iya sayang, dia menantu Tuan Raymond Alkas. Sudah sewajarnya dia hadir untuk mendampingi suaminya."


"Aku berharap kak Dion yang terpilih." kata Ara.


"Kau ingin putra Alkas yang terpilih?"


"Tentu saja. Aku ingin melihat senyuman di wajah Cindy! Coba kakak lihat, Cindy tampak tegang dan gelisah. Kasihan kan dia sedang hamil, aku khawatir nanti Cindy stres dan akan berpengaruh pada kandungannya. Aku ingin melihat Cindy bahagia dengan terpilihnya kak Dion. Aku juga yakin kak Dion bisa membawa DRA Group lebih maju dan berkembang. Karena kak Dion orang yang cerdas, bertanggung jawab dan pekerja keras." kata Ara.


"Jadi kau menentukan pilihanmu pada putra Alkas?" kata Rafa mulai emosi karena Ara memuji muji Dion di depannya.


Ara kaget mendengar ucapannya. Dia menatap wajah Rafa."Aku menentukan pilihanku? Kenapa aku?" tanyanya dengan dahi mengerut.


"Sayang, pemegang saham tertinggi yang belum memilih adalah dirimu."


Ara terbelalak."Aku??" matanya membulat dengan jari telunjuk menunjuk dirinya sendiri.


Rafa mengangguk."Iya sayang." Dia segera membalas pesan Wisnu. Secara otomatis Dion menjadi calon terpilih sebagai Dirut DRA Group selanjutnya setelah ustadz Arif meng-klik nama Dion. Ustadz Arif mewakili Ara sebagai pemegang saham tertinggi dari panti asuhan AZAHRA. Dia mendapat perintah dari Rafa untuk mewakili Ara.


Setelah ustadz Arif mengklik nama Dion, Nilai persentase Dion menjadi 60% lebih unggul dari Reymundo yang hanya 40%.


Terlihat senyum haru kebahagiaan dari wajah Cindy, Dion, Ray dan Dinda. Mereka saling berpelukan setelah Asisten Raymond mengumumkan Dion sebagai pemenang terpilih. Dion tak berhenti memeluk Cindy yang mengeluarkan air mata bahagia. Cindy bahagia bukan karena Dion menjadi Dirut selanjutnya. Tapi karena perusahaan tetap menjadi milik keluarga suaminya dan tidak jatuh ke tangan orang lain.


Sementara Reymundo dan para pendukungnya tertunduk lesu, mereka memberi ucapan selamat pada Dion, lalu melangkah keluar dari ruang rapat dengan gontai.


Para pendukung Dion memberikan ucapan selamat dengan menjabat tangan mereka satu persatu. Selanjutnya Raymond Alkas memperkenalkan Cindy sebagai menantu keluarga Alkas, Istri Dionel Raymond Alkas. Raymond juga menyerahkan jabatan dan masa kepemimpinannya pada putranya, Dion.


Ara yang melihat kebahagiaan mereka ikut tersenyum terharu. Matanya berkaca-kaca. Dia tersenyum menatap Rafa. Lagi lagi semuanya karena campur tangan suaminya.


Ara tidak perlu mempertanyakan lagi kenapa dirinya bisa menjadi salah satu pemegang saham tertinggi pada perusahaan DRA Group.


Apa lagi yang harus di lakukan Ara untuk membalas semua yang telah di lakukan suaminya itu? Dia langsung memeluk suaminya. Mencurahi ciuman bertubi tubi di wajah Rafa.


"Kakak, terimakasih, terimakasih!" ucapnya tersenyum terharu menatap suaminya. Lalu kembali mencurahi kecupan di kening, bibir dan kedua pipi Rafa."Aku mencintai kakak, sangat mencintai kakak. Semoga Allah membalas setiap kebaikan yang kakak lakukan." katanya kembali, lalu memeluk Rafa penuh cinta.


Rafa membalas pelukannya. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya sudah cukup baginya. Tak perlu ada balasan apapun lagi.


"Sayang, sudah. Jangan menangis. Nanti akan berdampak pada kandungan mu." Rafa melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah istrinya penuh cinta. Menyapu air mata di kedua pipi lembut itu."Sekarang waktunya kamu tidur, kamu pasti capek kan?"


Ara mengangguk.


Rafa mengecup keningnya lembut, lalu membaringkan tubuh mungil itu dalam pangkuannya. Meninabobokan Ara seperti seorang ayah menidurkan anaknya dalam pangkuan. Sungguh dia sangat mencintai wanita muda ini. Apa pun akan di lakukan demi membuat wanita berharganya ini bahagia.


"Kak, terimakasih ya sudah menerima Ines bekerja di perusahaan kakak." ucap Ara.


"Kau tidak perlu berterima kasih. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu senang dan bahagia."


Ara kembali terharu, dia mengecup dada suaminya.


"Sudah, Sekarang pejamkan matamu. Jangan memikirkan apapun lagi." Rafa mengelus lengannya lembut.


Ara memejamkan mata, tapi kemudian di buka lagi karena teringat sesuatu.

__ADS_1


"Kakak...,"


"Hmmm? Kenapa belum tidur sih? Apa kamu ingin makan?"


"Tidak, aku masih kenyang. Aku ingin mengatakan sesuatu." kata Ara ragu ragu.


"Nanti saja setelah kamu bangun dari tidur."


"Tapi aku ingin mengatakan sekarang." Ara merengek bersikeras memaksa.


"Baiklah. Tapi setelah itu langsung tidur. Sekarang katakan ingin ngomong apa?" Rafa memilih mengalah.


Ara bangun dari posisi tidurnya dan duduk di pangkuan Rafa. Keduanya kembali berhadapan.


"Tapi janji dulu jangan marah." menatap suaminya sambil memberikan jari kelingking kanannya.


Dahi Rafa mengerut dengan permintaan ini.


"Memangnya apa yang ingin dia katakan sampai memintaku untuk tidak marah?" batinnya. Rafa jadi penasaran.


"Baiklah." kata Rafa lalu menunjuk bibirnya.


Ara tersenyum senang. Dia segera mengecup bibir suaminya setelah mendapat isyarat seperti itu. Yang artinya Rafa tidak akan marah dengan apa yang akan di katakan nanti setelah mendapat kecupan seperti itu.


"Ini tentang kak Dion." katanya pelan.


Wajah Rafa mengernyit.


"Aku baru tahu saat mendengarnya dari Sophia, putri tuan Abimanyu." lanjut Ara menatap netra Rafa.


"Ada apa dengannya? Dan apa yang kau dengar dari putri Abimanyu?"


"Kak Dion ternyata__," Ara takut untuk melanjutkan.


"Teruskan__ ternyata apa?" tanya Rafa semakin penasaran.


Ara menelan ludah."Ternyata kak Dion menyukaiku. Dia mencintaiku dan berpura pura menjadi seorang mahasiswa di kampus kakak untuk mendekati ku." kata Ara terburu buru, tapi jantungnya berdegup kencang, takut.


"Tapi percayalah, aku tidak punya perasaan apapun padanya, aku hanya menganggap dia sebagai kakak dan sahabat. Aku bersumpah atas nama Allah," katanya kembali melihat ekspresi wajah datar Rafa. Dia segera menyembunyikan wajahnya di dada Rafa. Takut Rafa akan marah.


Rafa tertegun mendengar ucapannya. Tetapi sesaat kemudian dia mengelus punggung istrinya lembut dan berusaha untuk tenang. Karena sejujurnya saat ini hatinya terasa panas. Dia tidak menyangka istrinya akan berkata jujur. Ara yang terlalu polos tidak mengetahui kalau Dion menyukainya sudah sangat lama sejak masih menjadi istri Raka. Dan Ara mengetahuinya seminggu yang lalu?


Tapi dia senang dengan kejujuran Ara tanpa menutupi apa pun termasuk perasaan Dion.


Ara bingung tidak ada reaksi apapun dari Rafa."Kakak kok diam? Kakak nggak marah kan?" kata Ara pelan. Dia berpikir Rafa marah karena hanya diam.


Rafa menghela nafas panjang, lalu membuangnya."Sebenarnya aku sangat marah, tapi kejujuran mu meruntuhkan amarah ku. Sekarang kau tahu kenapa aku melarang mu dekat dekat dengan putra Alkas? Karena dia menyukaimu, meski kau tidak punya perasaan apapun padanya. Dia menyukaimu saat kau masih bersama Raka"


"Istri kak Raka?" Ara terkejut. Dia benar tidak tahu. Ara seketika bangun dan menatap Rafa.


Rafa mengangguk.


"Awalnya dia tidak mengetahui kalau kau adalah istri Raka! Dia baru tahu saat Raka meninggal dua bulan kemudian. Tapi meski dia tahu statusmu sudah menjadi janda, Dia tetap mencintaimu. Dia terus mencintaimu tanpa tahu kalau kau sudah menikah dengan ku. Dia mengira Karena dia mengira kau belum menikah dengan siapa pun." katanya menjelaskan.


"Sebenarnya dia juga tidak salah mencintaimu, karena dia berpikir kau masih gadis dan belum menikah, karena pernikahan mu dengan Raka tidak terlalu di ketahui publik! Begitu juga dengan pernikahan kita yang tidak di ketahui olehnya. Kesalahan ada pada kita yang tidak mempublikasikan pernikahan. Tapi meski begitu, aku tetap tidak suka dan tidak terima kau dekat dekat dengan pria lain dan di dekati oleh mereka." kata Rafa seraya mengelus lembut pipi Ara.


Ara terkejut mendengar penjelasan suaminya.


"Jadi kakak tahu hal itu?"


"Tentu saja! Sudahlah, jangan membahas ini lagi! Sekarang tidurlah." kata Rafa. Dia mencium kening Ara. Setelah itu membaringkan tubuh Ara di pangkuannya.


Ara pun tak bicara lagi. Hatinya sudah lega mengatakan hal itu. Dia tidak mau menyembunyikan apapun dari suaminya. Tapi ternyata suaminya malah tahu segalanya.


Ara segera memejamkan mata, membawa jari jempol suaminya ke dalam mulutnya. Di hisap seperti lollipop sebagai pengantar tidur. Rafa membiarkan apa yang dia lakukan. Dia mengelus lembut perut Ara dengan hidung tak lepas mencium rambut Ara.


30 menit berlalu, Ara tertidur. Rafa segera memindahkannya ke tempat tidur, lalu menyelimutinya, di susul kecupan lembut di bibir.


"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah." ucapnya pelan menatap lembut wajah polos yang sedang tertidur nyenyak. Lalu segera keluar menuju ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


Bersambung.


Episode 256 belum lolos review ya πŸ™πŸ™


__ADS_2