Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 167


__ADS_3

...Happy Reading....


Ara perlahan melepaskan pelukan Rafa.


Dia memperbaiki kacamatanya, lalu turun dari meja.


"Kak, aku ingin ke toilet." ucapnya pelan.


"Akan ku antar." kata Rafa.


"Nggak usah, cukup beritahu saja arahnya ......" ucapan Ara menggantung. Dia terdiam sesaat karena teringat sesuatu.


"Baiklah__." katanya kemudian. Tak ingin membantah dan mendapat hukuman lagi.


Rafa menarik memegang tangannya mengantar pada sebuah pintu yang bertuliskan 'Toilet'.


Ara segera masuk, menutup pintu dan menguncinya. Dia duduk di atas closed duduk, melepaskan kacamatanya.


Menangkup kan kedua belah tangannya pada wajah, lalu mengeluarkan air mata dan menahan isak tangis dengan menekan suaranya sekuat kuatnya. Ara menutup mulutnya kuat dan menangis sejadi-jadinya.


Entah apa yang di rasakan, hatinya sesak.


Dia hanya ingin menangis meluapkan emosi yang ia rasakan. Meratapi nasibnya, meratapi kepergian suaminya yang tak lagi di samping nya. Meratapi tekanan hidup dan menangisi hukuman yang baru saja dia dapatkan dari kakak iparnya.


Setelah 10 menit mengeluarkan air mata dan luapan emosi dengan tangisan, Ara mengambil tissue yang biasa di pakai untuk mengeringkan ke****an. Melap air mata yang membasahi pipinya. Setelah Itu mengerjap ngerjapkan matanya yang berbulu lentik. Lalu keluar menuju wastafel. Memasang kacamatanya dan mengikat rambutnya agak tinggi. Dia lupa tentang tanda ungu di buat Rafa semalam dan juga tadi. yang tampak berwarna merah dan ungu.


Sebelum keluar pintu toilet Ara menarik ujung bibirnya ke atas untuk membentuk segaris senyum, lalu setelahnya di keluar berjalan dengan langkah gontai.


Ara teringat pada ruangan Moly yang berantakan. Dia harus segera mengaturnya kembali. Di dapatnya Rafa duduk di sofa bersama Moly dan juga Wisnu.


Wisnu langsung berdiri begitu melihat kedatangannya.


Ara menoleh pada meja kerja yang sudah rapi kembali."Bu Moly, maaf telah membuat ruangan anda berantakan." ucapnya pelan.


Moly tersenyum.


"Ah, tidak apa-apa Nona Ara. Sudah hal yang biasa bagi tuan Ravendro mengacaukan ruang ku jika sedang marah. Dia akan senang membuat semua tempat berantakan! Ini tidak seberapa lho, biasanya dia akan melempar semua barang barang bersama orang yang membuatnya marah ke luar ruangan dan jendela." katanya sambil melirik pada Rafa.


Dahi Ara mengerut mendengarnya.


"Sebenarnya bukan kakak ipar yang melakukan, tapi aku. Aku tidak sengaja menjatuhkan barang barang itu saat__"


"Duduklah__" sela Rafa memotong ucapannya sebelum dia menceritakan apa yang telah terjadi di antara mereka tadi.


Ara menelan ludahnya, lalu segera melangkah lunglai ke sofa dan mengambil tempat di dekat Moly.


Moly menatapnya lekat, memperhatikan dirinya sejenak."Nona Ara, kamu seperti orang yang tidak bersemangat, dirimu tidak seceria tadi. Ada apa? Apa tuan Ravendro memperlakukanmu sangat buruk tadi?" Moly menatapnya.


Ara gugup, dia berusaha untuk tersenyum menutupi kegugupannya.


"I- itu__ah tidak bu." ucapnya gugup geleng geleng kepala.


"Rafa, apa kau menyakitinya terlalu dalam? Aku bisa melihat kesedihan dan ketakutan di matanya, meski ia berusaha menutupinya dengan senyuman palsunya ini." batin Moly melirik pada Rafa. Matanya menangkap beberapa tanda merah yang berada di leher Ara yang terbuka. Sebagian tampak tertutup oleh rambut keritingnya yang di ikat asal.

__ADS_1


Moly bisa mengetahui kejadian apa yang terjadi di ruangan ini tadi, serta kemarahan dan hukuman seperti apa yang di berikan Rafa. Karena dia sangat tahu Rafa sangat mencintai Ara.


Moly adalah sepupu Rafa, anak dari Rahmia yang dulu pernah di tolong Ara dengan mendonorkan darahnya. Hanya kurang banyak yang tahu kalau mereka saudara sepupu. Sebab kalau di kantor Moly tetap profesional, menghormati dan melayani Rafa sebagai seorang bos dan pimpinan. Di kantor ini, dia adalah orang kepercayaan Rafa selain Wisnu dan Frans.


Selama Rafa di luar negeri, dia dan Frans yang di percayakan menangani kantor pusat dan juga perusahaan cabang dan anak perusahaan yang berada di berbagai daerah penjuru tanah air.


"Pulanglah, Wisnu akan mengantarmu," kata Rafa pada Ara.


Ara terdiam. Dia memikirkan proposal pengajuannya. Tapi jika dia tidak menurut perkataan Rafa, maka akan di hukum lagi.


Ara mengeluh sedih dalam hati.


Rafa segera bangkit."Wisnu, antar Nona muda mu ke kampus. Perintahkan orang mu untuk mengantar kemana pun dia pergi. Setelah urusan kampusnya selesai, langsung pulang ke rumah utama." titahnya pada Wisnu.


Ara kembali mengeluh sedih dalam hati. Teringat derita pak Kusnadi. Ara menoleh pada Moly yang sedang menatapnya dengan kasihan. Ara memberikan senyuman padanya, senyum paksa. Agar Moly tidak mengetahui suasana hatinya yang buruk.


Perlahan Ara bangkit dari duduknya.


"Kak, boleh kah aku masih di sini? Aku mohon! Aku sedang menunggu pimpinan perusahaan__"


"Aku yang akan mengurusnya. Kau jangan khawatir___" potong Rafa segera.


Ara langsung terdiam. Benarkah apa yang di katakan kakak iparnya? Dia akan mengurus proposal pengajuan dana untuk pak kusnadi? Tapi bagaimana jika proposalnya di tolak oleh pimpinan perusahaan ini?


Wajah Ara berubah sendu memikirkan nasib pak Kusnadi.


Moly semakin kasihan melihatnya. Dia segera bangkit mendekati Rafa


"Tuan Ravendro, boleh kita bicara sebentar?" katanya seraya mengedipkan mata pada Rafa, sebagai kode isyarat untuk menuruti ucapannya.


"Nona Ara, anda duduklah sebentar. Aku ingin bicara sesuatu pada Tuan Ravendro. Tidak lama kok!"


Ara mengangguk."Silahkan buk."


Moly segera melangkah ke ruang yang berada di belakang rak buku. Rafa mengikutinya dari belakang. Moly menekan sesuatu yang membuat rak bergeser sedikit. Lalu dia menarik tangan Rafa masuk ke ruangan yang berada di balik rak besar tersebut.


Ruang kamar tidur Rafa di ruang kerjanya. Hanya mereka bertiga yang tahu.


Tempat yang selalu di gunakan Rafa untuk beristirahat jika terlalu lelah setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaan.


"Rafa, Ara tidak bisa ke kampus dengan keadaannya seperti itu." kata Moly.


"Kenapa? Apa maksudmu?" wajah Rafa mengernyit.


"Apa kau tidak melihat dirinya? Dan apa yang telah kau lakukan padanya? Sehingga membuat dia ketakutan dan sedih seperti itu? Aku bisa melihat itu dari sorotan matanya. Ada kepedihan dan ketakutan di sana. Apa kau terlalu menyakitinya tadi? Hukuman macam apa yang telah kau berikan padanya?"


Cerca Moly.


"Apa maksudmu? Kau pikir aku menyakitinya? Kau pikir aku berbuat kasar padanya?"


"Aku tau kau tidak akan sanggup melakukan hal itu. Maksud aku hukuman yang lain. Aku melihat ada beberapa tanda merah di lehernya, dan aku yakin itu adalah perbuatan mu. Bekas kecupan dan ciuman yang kau tinggalkan."


Rafa terbelalak mendengar ucapan Moly.

__ADS_1


Dia baru menyadari kalau dirinya lepas kendali tadi sampai menciumi Ara tanpa sadar diri.


Tadi pagi dia melihat tanda ungu hasil perbuatannya semalam. Dan sekarang bertambah lagi?


"Hukuman apa itu? Apa hukuman atas kedatangannya kesini tanpa izin darimu? Atau karena luapan kemarahan mu karena mengetahui dia bersama dengan lelaki lain kemaren di salon?"


Rafa mendengus kasar. Dia meninju tembok di atas kepala Moly. Memang di akui hukuman yang di berikan pada Ara tadi bukan hanya karena dia masih kesal dengan adik iparnya itu, tapi juga karena cemburu.


Saat tiba di kantor tadi pagi dia mendapat kiriman beberapa foto dari orang Wisnu.


Foto Ara sedang bersama lelaki lain di salon.


Laki laki itu bahkan memeluk menenangkan dirinya yang sedang menangis, memberikan bahunya untuk Ara.


Seketika amarahnya langsung meluap, darahnya terasa panas dan mendidih karena cemburu. Dan Ara tidak jujur mengenai kebersamaan dirinya dengan lelaki itu kemaren. Dia menganggap Ara menutupi dan menyembunyikannya.


"Rafa, jangan kau perlakukan Ara seperti itu.


Dia bukan gadis kasar dan nakal seperti Levina ataupun perempuan perempuan liar yang mengejar mu di luar sana. Ara gadis yang lemah lembut, penakut, dan pendiam. Tanpa tekanan dan kekerasan. Hanya untuk menatapmu saja dia ketakutan, mendengar kau bicara kasar saja tubuhnya gemetar."


"Semasa hidupnya, Raka memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Sementara kau? Memperlakukannya dengan kasar dan penuh tekanan. Kau terlalu menekannya dengan ancaman dan hukuman."


Moly kembali menatapnya.


"Kau pikir dia ke toilet untuk buang air besar ? Tidak Rafa, tapi dia ke sana untuk menumpahkan kesedihannya, emosi yang di pendam nya sendiri. Dia menangis dengan apa yang kau lakukan padanya sementara dia tidak berdaya melawan mu. Aku tahu itu karena aku juga seorang perempuan yang dapat merasakannya. Dia berpura pura kuat, tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya."


Wajah Rafa mengernyit mendengar ucapannya. Moly memegang Wajahnya


"Rafa, aku paham kau sangat menderita karena sudah terlalu lama memendam rasa cintamu pada Ara. Tapi jangan sampai kau melampiaskan dengan cara menyakitinya dengan hukuman seperti itu. Bagi perempuan seperti Levina, hukuman macam itu membuat mereka senang dan bangga karena bisa berbagi kesenangan denganmu, tapi tidak dengan Ara. Itu malah membuatnya ketakutan dan merasa dia seperti perempuan rendah dan tidak punya harga diri."


"Kalau kau memang mencintainya, sebaiknya kau ungkapan saja cintamu kepadanya. Biar dia tahu. Dengan begitu dia akan menjaga jarak dari lelaki lain, dan akan membatasi pergaulannya."


Rafa memandang Moly tajam.


"Bagaimana kalau dia menolak ku? Kau tau dia sangat mencintai Raka. Meski Raka sudah tidak berada di dunia ini. Setiap malam dia menangisi suaminya. Setiap saat dia datang di kuburan Raka dan menangis di sana. Sementara aku tidak bisa berbuat apa apa untuk menghilangkan kesedihannya." ucapnya gusar.


"Kalau begitu ubahlah dirimu menjadi seperti Raka. Raka yang penyayang, Raka yang lembut, Raka yang tulus mencintai, Raka yang pengertian, Raka yang selalu memberikan kehangatan dan perlindungan. Serta Raka


yang tidak cemburuan, tidak kasar dan emosional. Karena Ara hanya butuh laki laki seperti Raka. Meski kau tawarkan kemewahan seisi dunia kepadanya, dia tidak akan menerimanya, jika semua itu tidak memberikan kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidupnya." kata Moly menatapnya serius.


Rafa membuang nafas kasar. Dia mengusap rambutnya kuat. Membenarkan perkataan Moly dan menyalah kan dirinya.


"Jangan biarkan dia ke kampus dengan keadaan seperti itu. Dia akan menjadi bahan cemoohan teman-temannya bila sampai mereka melihat tanda tanda Kiss Mark mu itu.


Dan jangan sampai tante Maya melihatnya. Kau sendiri tahu mamamu tidak pernah menyukainya. Tante Maya pasti akan semakin menghina dan merendahkannya."


"Ara masih sangat muda Rafa, umurnya saja masih 19 tahun. Di usianya yang masih belia sudah menjadi seorang janda. Dia sangat tertekan dengan statusnya, harus bisa menjaga diri dari pandangan buruk orang. Tapi nyatanya malah kau sendiri yang ingin merusak kehidupannya dengan perbuatan mesumnya itu." ujar Moly kembali.


"Perlakukan dia dengan lembut. Kalau kau ingin segera memilikinya dan takut di miliki oleh orang lain, maka ungkapan perasaan mu pada Ara. Carilah waktu untuk bicara dengannya dari hati ke hati. Kau harus bisa meluangkan waktu lebih banyak dengannya untuk memperlihatkan rasa cintamu. Aku yakin dengan cinta, kasih sayang, dan kelembutan darimu akan membuatnya tidak takut lagi padamu. Bahkan mungkin dia akan menerima dirimu dan juga perasaan cintamu itu."


Moly menepuk pundaknya pelan.


"Ayo keluar. Kita sudah terlalu lama berada di sini dan meninggalkannya." ajak Moly.

__ADS_1


Rafa membuang nafas berat, lalu segera mengikuti langkah Moly.


...Bersambung....


__ADS_2