
Sampai di kantin terlihat kerumunan para karyawan yang berkumpul di satu titik tempat. "Ada apaan sih kok pada ngumpul begitu?"
ucap sonya.
Ara juga ikut memperhatikan kerumunan itu.
Terdengar jeritan histeria dari mulut karyawan.
"Ada artis yang datang ya?" ucap Sonya kembali melihat mereka berebut mengambil foto pada seseorang yang berada di tengah mereka.
"Ayo Ra kita lihat." ajak Sonya yang penasaran.
"Waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi Son. Nanti kita gak akan sempat makan siang." ujar Ara.
"Kamu benar Ra....ya udah, kita ambil makanan saja."
Mereka segera mengambil makanan.
"Nona Ara ya?" tanya pelayan kantin.
"Iya, ada apa ya?" Ara balik bertanya.
"Ini ada pesanan makanan buat Nona. Saya di suruh memberikan ini untuk makan siang
Nona." kata pelayan itu kembali sambil menyerahkan nampan berisi beberapa menu makanan sehat dan bergizi tinggi. Berbeda dari makanan yang di sediakan kantin.
Ara dan Sonya saling berpandangan dengan dahi mengerut.
"Dari siapa buk?" tanya Ara kembali seraya menerima nampan.
"Gak tahu Non, saya hanya di telpon untuk menyiapkan ini dan memberikannya pada Nona saat istirahat."
"Oh iya buk, terimakasih." ucap Ara. Mereka segera menuju meja makan tak ingin bertanya lagi.
"Dari siapa Ra?" Sonya penasaran.
"Aku juga gak tahu." jawab Ara sambil mengangkat ke dua bahu. Dia menatap makanan itu. Keduanya segera duduk. Ara menatap makanan itu, masih penasaran siapa yang yang menyiapkan ini untuknya. Terdengar ponselnya berbunyi. Ara segera mengambil benda pipih itu.
"Di makan dong sayang, jangan hanya di lihat. Habisin ya? Setelah itu jangan lupa di minum vitaminnya. Apa tubuhmu masih lemas?" pesan Rafa dari seberang.
"Kakak ipar? Jadi dia yang menyiapkan makanan ini?" batin Ara.
"Dan dia bisa tahu apa yang aku lakukan? Apa dia ada di sini?" batinnya kembali seraya
melihat lihat ke samping kiri kanan muka belakang.
"Lagi lihat apa Ra?" tanya Sonya yang memperhatikan dirinya.
"Ah nggak, hanya sedang melihat seseorang." jawab Ara refleks.
"Apa makanan itu di pesankan oleh presdir untuknya?" batin Sonya saat melihat Ara membaca sesuatu di ponselnya.
Kembali terdengar bunyi nada pesan masuk.
"Gak usah nengok sana sini. Aku gak ada di situ, makan saja." Rafa kembali mengirim pesan.
"Tapi kok kakak bisa tahu apa yang aku lakukan? Emang kakak di mana?" balas Ara buru buru.
"Aku lagi di bali sayang. Aku sudah bilang kan mau ke Bali? Aku melihatmu dari kamera CCTV. Oh ya, malam aku pulang! Sayang, aku di sini sangat merindukanmu."
Wajah arah senyum dan merah merona. "Apa kakak sudah makan?" balasnya.
"Aku belum lapar sayang. Habisnya sarapan tadi pagi sangat banyak protein dan gizinya."
Dahi mengerut.
"Kakak kan cuma makan sepotong ikan salmon saat sarapan tadi? Masa sih belum lapar?" ketik Ara cepat.
"Bukan salmon sayang, tapi bibirmu sewaktu ku lahap tadi di mobil. Itu membuat perutku kenyang dan menambah kekuatanku."
Mata Ara membulat, wajahnya kembali memerah."Ih, mulai lagi deh biar lagi jauh. Udah ah, aku mau makan." tersipu malu.
Rafa tersenyum di seberang, melihat wajah istrinya."Iya sayang, makanlah. Makan yang banyak, habiskan susunya. Aku akan kembali bekerja, aku mencintaimu, Cup..,"
Ara kembali tersenyum, segera dia mematikan ponsel dan menyimpannya.
"Cieee...dari pacar ya?" goda Sonya yang melihat raut wajahnya.
Ara kaget karena ternyata Sonya memperhatikannya."Bukan..." jawabnya salah tingkah.
"Hey jangan bohong, wajahmu itu tidak dapat menyembunyikannya, tersenyum malu-malu dengan pipimu yang merah merona. Biasanya kalau raut wajah wanita seperti itu dia sedang jatuh cinta, senang, bahagia, karena mendapat pujian, godaan rayuan dari kekasihnya." kata Sonya tertawa kecil.
Ara kembali salah tingkah.
"Nggak kok Son, kekasih apaan! Udah ah, yuk makan, kita habiskan sama sama makanan ini. Terlalu banyak." mengalihkan pembicaraan.
"Pasti makanan ini di berikan kekasihmu kan?" goda Sonya kembali.
"Sonya....udah dong. Jangan menggodaku terus." kata Ara semakin malu.
Sonya tertawa kecil. Dia berhenti menggoda.
Keduanya segera makan.
"Hay gadis manis rambut keriting." terdengar seruan dari depan mereka.
Ara tetap asyik menikmati makanannya karena dia tidak tahu kalau sapaan itu di tujukan pada dirinya.
Sonya menoleh ke arah suara itu, dia terkejut saat melihat siapa yang menatap ke arah mereka.
"Dokter Rizal Prasetya?" ucapnya terbelalak
Dokter Rizal nampak dikerumuni para karyawan dan pelayan kantin yang berebut mengambil foto dengan dokter tampan idola mereka itu. Dokter kesehatan yang sering mereka lihat di acara televisi membagikan info kesehatan.
"Jadi kerumunan itu karena ada dokter Rizal?"
ucap Sonya kembali. Dia juga sangat fans dengan dokter muda tampan ini.
Ara menghentikan makannya, saat mendengar perkataan Sonya.
"Dokter Rizal?" gumamnya bertanya.
"Iya Ra, dokter tampan yang selalu wara wiri di televisi itu lho, sala satu dokter artis Indonesia. Lihat, dia sedang menatap pada kita." ujar sonya kembali, dia segera bangkit menuju ke arah Rizal.
Dahi Ara mengerut, lalu menoleh. Dia terkejut melihat dokter Rizal ada di sana. Sedang menatap kepadanya sambil tersenyum.
"Dokter Rizal? Ternyata dokter Rizal yang di dikerumuni oleh karyawan karyawan itu?"
gumam Ara.
Dia memberikan senyuman pada Rizal. Sonya sedang mengambil foto dengannya.
"Halo Nona manis rambut keriting berkacamata tebal." ujar Rizal melangkah mendekatinya.
"Boleh aku duduk di sini?" tersenyum mengedipkan mata pada Ara.
__ADS_1
"Silahkan dokter." kata Ara mempersilahkan.
"Oke Nona Nona cantik dan manis, sudah ya acara futu futunya, saya mau makan dulu." kata Rizal berseloroh pada para karyawan yang masih mengikutinya, dia meminta maaf.
Para karyawan segera berhenti mengikutinya.
Mereka kembali ke meja makan masing masing. Tapi masih tetap mengambil foto Rizal dari tempat duduk mereka dan melakukan live. Membagikan keberadaan dokter Rizal di kantor mereka.
Rizal segera duduk di depan Ara.
"Halo adik ipar ku yang cantik." bisik Rizal.
Ara tersenyum.
"Halo juga dokter. Aku terkejut dokter ada di sini. Aku gak tahu kalau dokter yang dikerumuni oleh meraka." kata Ara tersenyum.
Rizal terkekeh.
"Bagaimana kabarmu? Suamimu yang menyuruh ku kesini. Katanya kau tidak sehat, makanya aku mampir kesini." masih berbisik.
"Kakak ipar terlalu berlebihan, aku hanya lemah tadi. Tapi udah fit kembali setelah makan dan juga meminum vitamin."
"Syukurlah." ucap Rizal.
Sonya datang dan duduk, dia sangat senang sekali melihat Rizal duduk di meja makan mereka.
"Halo dokter, aku sala satu penggemarmu, Sonya Pratiwi! Kalian terlihat akrab, apa kalian saling mengenal?" menatap Ara dan Rizal bergantian.
"Halo Sonya, terima kasih ya sudah menjadi penggemar ku. Aku dan Nona manis rambut keriting ini memang saling mengenal."
"Benarkah? Ara kok gak ngomong sama aku? Kan bisa cepat ngambil foto sama dokter tanpa saling berebut."
"Kebetulan Nona manis rambut keriting ini sala satu pasien ku yang sering berkunjung ke rumah sakit tempat aku bekerja. Makanya aku kenal sama dia." jawab Rizal.
"Oohh gitu." Sonya manggut-manggut mengerti.
"Kalau gitu boleh ya aku foto sama dokter? Mumpung dokter di sini, aku juga mau minta tanda tangan dokter. Aku senang sekali bisa ketemu dan bicara langsung sama dokter idolaku. Aku akan membaginya di akun sosmed ku. Mau ku pamerkan pada teman teman ku. Aku yakin mereka pasti iri dan menangis." kata sonya penuh antusias.
Ara dan Rizal tertawa kecil.
"Baik Nona Sonya! Ayo Nona manis rambut keriting, ikutlah bersama kami." menatap pada Ara
"Gak usah dok, kalian berdua saja." tolak Ara.
"Ayo Ra__" Sonya menarik tangannya paksa.
Mereka segera mengatur posisi, lalu Sonya segera mengambil beberapa foto. Foto mereka bertiga dan juga foto hanya dia dengan Rizal. Lalu di unggahnya di group dan beberapa akun media sosialnya.
Ponsel Rizal berdering, dia segera membaca pesan yang masuk, dari Moly.
"Aku sudah di ruangan ku." pesan yang di kirim Moly. Kebetulan Moly sedang mengerjakan sesuatu di luar untuk mengganti Rafa yang sekarang ini sedang berada di bali mengunjungi perusahaan cabangnya sekaligus meluncurkan sala satu produk miliknya di kota itu.
"Baiklah sayang, aku segera ke sana." balas Rizal. Dia bangkit berdiri.
"Nona Nona, aku ke atas dulu sebentar, mau ketemu temanku. Kebetulan dia sudah sampai." ujarnya menatap Ara dan Sonya.
"Baik dokter." jawab Ara dan Sonya bersamaan sambil tersenyum.
Rizal segera beranjak pergi, setelah mengedipkan sebelah mata pada Ara.
Ara melanjutkan makannya, Sonya sibuk dengan ponselnya. Membaca komentar komentar yang banyak membanjiri unggahannya.
Dia membuka kiriman video di group yang di kirim sala satu temannya, video itu masuk sejak semalam tapi belum sempat di lihat karena dia baru membuka akun media sosialnya.
Semakin lama melihat, dia terkejut melihat seseorang di sana.
"Ra, ini bukannya kamu? Coba lihat deh." katanya menunjuk pada video yang di lihatnya. Dia men jeda saat terlihat wajah Ara.
Ara memperhatikan, dia juga ikut terkejut. "Ternyata kejadian semalam sudah viral di sosmed?" batinnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai terlihat dalam perkelahian itu?" menatap serius pada Ara.
Ara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Kemudian segera menceritakan kejadian yang terjadi pada mereka semalam.
"Dan pria yang bersama kamu ini ?" Sonya memperhatikan dengan jelas wajah orang yang berkelahi melawan para preman.
"Pria ini bukannya Dion Alkas?" ucapnya sambil menatap wajah Dion lekat yang berada di layar ponselnya.
"Iya. Dia menemani kami semalam. Apa kamu mengenalnya?" Ara balik bertanya.
"Ya iyalah dong Ra...wanita mana sih yang tidak mengenal pria tampan dan cerdas ini? Banyak wanita cantik mengenal dan mengejarnya."
Mata Ara menyipit menatap Sonya.
"Dia kakak kelasku di kampus." katanya kemudian.
"Kakak kelas?" Sonya mengulang kalimat Ara, kaget.
"Iya." Ara mengangguk.
Sonya tertawa.
"Maksud mu dia kuliah di kampusmu?"
"Iya, benar. Emang kenapa sih? Kamu sepertinya kaget." kata Ara.
"Ya jelaslah gue kaget, karena dia sudah menyelesaikan kuliah Pascasarjana nya di Amerika. Terus ngapain lagi coba kuliah di kampusmu?"
Dahi Ara semakin mengerut.
"Masa sih?"
"Iya dong Ra, masa aku bohong. Setahuku Dion bekerja di perusahaan milik ayahnya DRA Group dan menjabat sebagai wakil direktur utama. Dia juga pewaris tunggal dari perusahaan ayahnya itu, karena dia merupakan anak tunggal satu satunya. Nama lengkapnya adalah Dionel Raymond Alkas. Sudah lama ayahnya menyerahkan dan mewariskan kepemimpinan perusahaan DRA group itu kepadanya, tapi dia masih menolak entah apa alasannya." kata Sonya menjelaskan.
Ara terkejut.
"Jadi kamu nggak tahu tentang Dion?" Sonya menatapnya.
"Aku nggak tahu, Aku mengenal dia dari Cindy, temanku. Cindy itu adik sepupu kak Dion. Kata Cindy kak Dion pindahan dari salah satu universitas Bandung dan melanjutkan kuliah di kampusku. Hanya itu yang aku tahu." kata Ara. Dia juga terkejut setelah mendengar penjelasan dari Sonya.
Sonya kembali tertawa.
"Dionel Alkas, apa yang membuatnya menyamar menjadi mahasiswa di universitas itu? Apa ada wanita yang dia kejar di kampus itu? Apa ada wanita yang dia sukai di kampus itu? Sampai rela menjadi mahasiswa kembali?" katanya di sertai pertanyaan.
Ara mengangkat bahu."Aku tidak tahu kalau soal itu. Karena aku gak pernah melihat dia dekat dengan perempuan di kampus, kecuali hanya kepada kami bertiga. Atau mungkin kami tidak melihatnya saat dia bersama wanita yang disukainya. Lagi pula itu juga kan urusan pribadinya, privasinya. Gak mungkin di perlihatkan pada kami dan juga orang lain." jawab Ara.
Ara semakin heran dan bingung, kenapa Dion menyembunyikan identitasnya kepada dia dan Ines. Wakil direktur utama dan pewaris tunggal DRA Group? Kalau Cindy pasti sudah tahu mengenai Dion karena Dion adalah sepupunya. Tapi kenapa Cindy tidak mengatakan status Dion yang sebenarnya pada dia dan Ines? Dan apa benar Dion menyamar menjadi mahasiswa karena mengejar wanita yang kuliah di kampus itu?
Tapi siapa? batin Ara. Karena dia tidak melihat Dion dekat dengan wanita di kampus selain mereka bertiga. Jika datang ke kampus, Dion hanya menyambangi mereka bertiga, setelah itu pulang jika sudah selesai mengikuti mata kuliah.
"Tapi Son....kok kamu tahu banyak tentang kak Dion?" bertanya pada Sonya.
Sonya membuang nafas berat.
"Aku tahu Ra....aku sangat tahu tentang dia. Karena dulu aku sempat di jodohkan sama dia."
__ADS_1
Ara kembali kaget."Di jodohkan?"
"Iya Ra, kebetulan ayahnya sahabat karib kakek aku. Waktu SMA kami sudah di jodohkan tanpa sepengetahuan Dion, hanya aku yang tahu. Aku menyukainya karena dia tampan, cerdas dan pekerja keras, tapi ternyata dia tidak menyukaiku. Dia tidak mau di jodohkan dengan aku. Dia menolak ku dengan halus dan meminta maaf. Setelah itu dia ke Amerika melanjutkan studi di sana. Dia termasuk pria yang dingin pada perempuan, dia tidak sembarang bergaul dengan perempuan. Aku gak pernah melihat dan mendengar kalau dia punya kekasih. Dia juga tidak suka terlalu dekat dengan wanita, kecuali setelah melihat dia bersama kalian semalam." kata Sonya panjang lebar menjelaskan.
"Apa jangan-jangan Dion menyukai sala satu di antara kalian? Antara kau dan Ines?" batin Sonya menatap wajah Ara Lekat.
Karena hal yang mustahil melihat Dion dekat dengan wanita apalagi sampai menemani ke pasar malam dengan masih memakai pakaian kantor.
"Ataukah wanita yang di kejar Dion itu justru
kamu Ra? Melihat Dion berkelahi bertarung nyawa seorang diri sampai terluka parah demi menyelamatkanmu dari serangan preman preman itu." batin Sonya kembali tak bergeming menatap Ara.
"Ra.....Apa Dion tidak pernah cerita atau memberi tahu pada kalian tentang wanita yang sukanya? Yaah...dia kan dekat dengan kalian, mungkin aja dia cerita sesuatu pada kalian." bertanya pada Ara.
"Oh iya Son, Semalam kak Dion mengatakan kalau dia sedang mencintai dan mengagumi seorang wanita, bahkan tergila-gila pada wanita itu dan ingin menjadikannya istri dan ibu dari anak anaknya! Katanya sudah lama dia menyukai dan mengejar wanita itu." kata Ara teringat perkataan Dion semalam mengenai wanita yang di cintainya.
"Oh ya? Benarkah?" terkejut
Ara mengangguk.
"Siapa wanita itu, apa dia mengatakan padamu?"
"Nggak, dia nggak kasih tau ke aku. Tapi katanya wanita itu sederhana, cantik, manis, cerdas, baik dan lembut. Pokoknya wanita itu wanita yang sempurna di matanya."
"Terus...apa wanita itu menerimanya? Apa mereka sudah jadian dan menjalin hubungan?"
Ara menggelengkan kepalanya.
"Belum Son. Kak Dion terlalu takut untuk mengungkap perasaan pada wanita itu."
"Kenapa?"
"Kata kak Dion dia khawatir wanita itu akan menolaknya, terus sedih dan kecewa, lalu tidak ingin lagi berteman dengannya. Karena wanita itu berteman dekat dengan kak Dion! Kak Dion takut wanita itu malah akan menjauhinya. Sementara dia tidak mampu jauh dan berpisah dari wanita itu." kata Ara menjelaskan.
Kini giliran Sonya yang terkejut.
"Wanita itu berteman dengan Dion?" batinnya.
"Berarti gak salah lagi, wanita itu antara
kau dan Ines. Karena hanya kalian wanita yang aku lihat berteman dan sangat dekat dengan Dion." batinnya kembali.
"Son,.Waktu istirahat sudah habis. Yuk kita ke atas, nanti telat lagi dan kena marah." kata Ara melihat para karyawan beranjak satu persatu keluar dari kantin.
"Ayo Ra..." Sonya ikut berdiri. Menatapi Ara dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepala.
Ruang kerja Moly.
"Sayang...." seru Rizal begitu masuk di ruangan kekasihnya. Mereka saling berpelukan melepas rindu, saling kecup mengecup hingga akhirnya berakhir dengan ciuman panjang. Dan baru berhenti saat mendengar telepon dari Rafa yang memperhatikan kelakuan mereka dari kamera CCTV. Rafa memaki mereka melakukan hal yang tidak senonoh di kantor.
Rizal mendengus kesal, tapi setelah Rafa mematikan telepon, dia kembali menyerang Moly meski Moly sudah menolak dan melarangnya. Rizal baru menghentikan cumbuannya saat mendengar langkah kaki para karyawan.
Sementara di bali, Rafa tidak terlalu fokus dengan peluncuran produk barunya. Untung saja ada Wisnu yang selalu bisa di andalkan.
Rafa pikirannya hanya tertuju pada Ara. Menghayal dan membayangkan istrinya, yang bergerak lincah di atas tubuhnya dengan permainannya yang lembut dan indah. Dia sangat senang Ara mulai menyentuhnya, membalas ciuman dan sentuhannya meski belum sampai ke hubungan intim.
Rafa tersenyum senyum tanpa menyadari keadaan dan menjadi pusat perhatian beberapa rekan bisnisnya.
"Sayangku, aku sangat merindukanmu, aku benar benar merindukan sentuhan mu." gumamnya tanpa sadar. Membuat orang yang berada di dekatnya kaget dan melongo mendengar ucapannya itu. Mereka saling berpandangan sambil tersenyum melihat tingkahnya seperti orang yang tidak waras.
Memang cinta bisa membuat orang gila dan bodoh.
Mereka mengarahkan tatapan pada wisnu dengan mata mengandung pertanyaan akan sikap penguasa besar ini.
Wisnu segera mendekat dan berbisik pada tuannya dengan menyentuh tangan Rafa. Rafa segera tersadar dari lamunan indahnya dan kaget setelah melihat semua mata menatap heran dan tak bergeming kearahnya.
"Ada apa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Ayo lanjutkan kembali Wisnu." berkata seolah-olah tidak terjadi apa-apa untuk menutupi kebodohannya.
"Wisnu, aku ingin istirahat. Kau lanjutkan saja acaranya, dan suru manager untuk mengantar makanan ke kamarku." sambungnya kembali.
"Baik tuan, saya akan mengantar anda dulu."
"Tidak perlu, kau di sini saja tangani mereka."
"Baik tuan." jawab Wisnu patuh.
Rafa pamit pada mereka dengan alasan kurang sehat. Dia segera menuju lift untuk membawa nya ke kamar pribadinya. Sesampai di kamar, dia langsung melepas pakaiannya dan menyisakan celana bokser. Kemudian mengambil ponsel dan melangkah masuk ke dalam bak merendam diri di sana, sambil menatap keindahan laut kuta. Tapi baginya keindahan alam pantai itu masih kalah jauh dengan keindahan tubuh dan kecantikan istrinya.
"Sayangku, kau sedang apa sekarang ?" gumamnya memikirkan Ara.
Dia segera menyalakan ponselnya dan melihat video rekaman CCTV yang sedang berlangsung di meja kerja istrinya. Dia tersenyum melihat istrinya yang nampak sedang mengerjakan sesuatu di komputer. Sesekali istri nya memperbaiki kacamatanya yang melorot. Rafa tersenyum kecil.
Tapi kemudian dia mendengus geram saat melihat seorang staf sekretaris memberikan beberapa berkas kepadanya untuk di kerjakan.
"Periksa dan selesaikan secepatnya."
"Baik buk, tapi saya harus menyelesaikan ini dulu. Pak Frans sedang menunggu laporan ini."
"Baiklah, tapi jangan kelamaan."
"Iya buk, saya akan mengusahakan Secepatnya." kata Ara tersenyum sopan.
"Brengsek, mereka pikir istriku babu di situ seenaknya menyuruh menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri. Lihat saja nanti." Dia segera mengirim pesan pada Moly. Lalu kembali menatapi istrinya yang serius bekerja.
Ketukan pintu membuatnya kaget. Terdengar suara manajer restoran yang mengantarkan makanan. Rafa segera keluar dari buth up memakai bathrobe. Lalu melangkah menuju pintu, dan segera membukanya. Dia melihat manager dan dua pelayan membawa troli yang berisi makanan.
"Masuklah dan letakkan di dalam." katanya sambil melangkah masuk.
"Baik tuan." jawab sang manajer sopan.
Mereka segera mengikuti langkah Rafa kedalam dan menuju ruang makan.
"Aku akan makan nanti, kalian tidak perlu menunggu ku, keluarlah....dan tutup pintunya." memberi perintah pada manager.
"Baik Tuan."
Rafa kembali melepas bathrobe, lalu masuk ke dalam bath dan merendam tubuhnya. Sang manajer pamit setelah mengatur makanan dan menutup pintu seperti perintahnya tadi. Rafa segera menekan tombol remote control untuk mengunci pintu kamarnya. Lalu kembali memandangi istrinya pada ponsel. Setelah puas memandangi istrinya dia memejamkan mata, membayangkan wajah manis dan tubuh indah Ara dengan senyuman di wajahnya.
Beberapa berlalu, sepasang tangan memeluk bahunya dari belakang. Rafa yang saat itu sedang mengkhayalkan Ara, hilang kesadaran dan membiarkan kedua tangan itu menari nari di kedua pundaknya. Dia membayangkan kedua tangan itu adalah milik Ara. Rafa menikmati sentuhan pijatan jari jemari istrinya dengan mata terpejam.
Setelah puas bermain di area pundak lengan hingga kepala, kedua tangan itu mulai menjalar masuk menyentuh dada bidangnya yang terendam air busa.
Rafa semakin menikmati sentuhan lembut jari jemari itu, terdengar ******* lembut dari mulutnya. "Sayang, tanganmu mulai nakal lagi, awas ya....aku akan memberimu hukuman." ucapnya pelan di antara desahannya sambil tersenyum.
Gerakan tangan ini berhenti mendengar ucapannya, kemudian bergerak lagi menjalar mulai turun ke perut. Dengan cepat Rafa menangkap kedua tangan itu karena merasa aneh dan sadar. Dia menarik kedua tangan itu kuat sehingga pemiliknya jatuh terjerembab di atas tubuhnya.
Rafa kaget saat merasakan sesuatu jatuh di atas tubuhnya di sertai jeritan manja. Dia tersadar dan segera membuka mata. Betapa terkejutnya dia melihat wajah Tania berada sangat dekat dengan wajahnya, sedang tersenyum manis menggoda. Dan bukan wajah istrinya yang ada dalam khayalannya.
"Kau?" Rafa terbelalak. Sangat terkejut menatap dengan sorotan tajam.
...Bersambung ...
Jangan lupa like komen dan hadiah nya ya
โบ๏ธโบ๏ธ๐
__ADS_1