Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 209


__ADS_3

Moly sibuk mempersiapkan gaun yang akan di gunakan Ara sebentar malam.


Beberapa butik terkenal di kota ini telah di hubungi nya, dan mereka sudah mengirimkan berbagai model rancangan terbaik yang elegan dan mewah, tapi tak satupun yang memikat hati Moly.


"Memang acara apa sih kak ?" tanya Ara yang penasaran dengan acara pertemuan penting yang akan di ikuti oleh suaminya dan juga dirinya sebagai istri pendamping.


Dia memperhatikan wajah Moly yang sangat serius menatap layar ponsel memilah milih model gaun yang dikirimkan para desainer.


"Ini acara sangat penting sayang, pertemuan yang hanya setahun sekali di adakan. Dan hanya khusus di hadiri oleh para miliarder dan kalangan orang-orang berduit di dunia, termasuk tuan Ravendro, suamimu itu. Mereka memang sudah memiliki jadwal khusus tahunan untuk bertemu dan berkumpul setiap tahun." menjawab pertanyaan Ara.


"Tahun tahun kemarin tuan Rafa selalu datang menghadiri tanpa pasangan, hanya Wisnu yang selalu menemaninya. Tapi tahun ini dia sangat bahagia karena sudah ada dirimu sayang." Moly tersenyum menatapnya.


"Makanya dia menyuruhku mencarikan gaun yang indah untukmu. tsepertinya dia akan memperkenalkan istri cantiknya ini pada seluruh dunia. Di sana kau akan berkumpul dan bergabung bersama ribuan istri pejabat publik, bahkan ada kerabat kerajaan, istri para CEO, akademis, media, para artis dan bintang film Hollywood." kata Moly Kembali sambil memegang dagu Ara lembut.


Ara terhenyak.


Dia menatap Moly dengan mata menyipit dahi mengerut.


"Tapi aku takut dan tidak berani kak, mengikuti meeting di kantor saja tubuhku gemetaran, apalagi acara forum dunia seperti itu , bisa bisa aku pingsan di sana. Aku gak ikut saja ya? aku khawatir akan membuat kakak ipar malu, tolong katakan padanya aku gak mau ikut." meminta memelas.


Moly memegang kedua tangannya


"Ara sayang, apa kamu tega membiarkan suamimu ke sana sendirian tanpa pasangan ? dia pasti akan di hujat dengan puluhan pertanyaan yang menyakitkan hatinya lagi oleh teman temannya."


"Maksud kakak ?" Ara menatap tak mengerti.


"Semua tamu datang membawa pasangannya masing-masing, tapi suamimu, setiap tahun selalu datang sendiri. Dia menjadi bahan olokan dan ledekan teman teman bisnisnya dengan berbagai pertanyaan mereka karena tidak punya partner."


"Kau tahu pertanyaan seperti apa yang mereka lontarkan pada suamimu? tuan Ravendro mana kekasih anda? kenapa datang sendirian lagi? tuan Ravendro kau masih belum menikah juga ? ya ampun ! mana kekasihmu? mana istrimu? padahal kau sangat tampan, tapi kenapa kau belum laku juga ? kenapa kau masih suka menjomblo? lihat dirimu, umurmu tidak muda lagi. Cepatlah menikah sebelum keburu tua dan beruban, apa anda masih menunggu kiamat? tiap tahun selalu datang sendiri , apa gak malu? sepertinya kau sangat suka dengan status jomblo mu itu ya ?" kata Moly menirukan gaya bicara orang orang yang mempertanyakan status rafa di tahun tahun kemarin.


Ara jadi tertawa kecil mendengarnya.


"Mereka suka sekali mengolok-olok suamimu lalu menertawakannya bersama-sama, coba bayangkan Ra, bagaimana marah dan malunya suamimu , wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dia ingin sekali menerkam dan membungkam mulut mereka dengan tinjunya. Tapi kenyataannya memang seperti itu kan? jadi gak boleh marah." kata Moly kembali dengan wajah serius menahan tawa.


Ara kembali tertawa sambil memegang perutnya.


"Kak Moly serius? ini lucu banget kak,"


"Benaran Ra, aku gak bohong. Nanti kau tanyakan langsung pada suamimu, aku yakin wajahnya pasti akan memerah lagi seperti kepiting rebus."


Mereka kembali tertawa bersama.


"Tapi kak, dulu kan kakak ipar punya kak Levina sebagai kekasihnya, mereka menjalin hubungan cukup lama, kenapa kakak ipar gak ajak kak Levina sebagai pendampingnya?" tanya Ara yang teringat pada Levina sebagai kekasih suaminya dulu.


"Tentu saja karena tuan Rafa tidak yakin akan hati dan cintanya pada Levina. Bahkan tuan Rafa tidak pernah mengajaknya ke acara pertemuan penting para CEO di tanah air."


"Terus kenapa kakak ipar nggak ngomong saja tentang perasaan hatinya pada kak Levina ? kasihan kak Levina menunggu dan berharap terus selama ini untuk menjadi istrinya."


"Tuan Rafa sudah jujur dan menjauhinya, tapi Levina saja yang tidak tahu diri ngejar terus ..ngejar duit suamimu maksudnya. Meski udah selingkuh sana sini tetap gak tahu malu, gak tahu diri menghubungi tuan Rafa dan minta di nikahin." kata Moly ketus


"Udah ah kak, jangan membahas kak Levina lagi, nambah dosa kita." kata Ara memalingkan wajahnya ke sebelah.


Moly terkekeh mendengar ucapannya.


"Waktu pertemuan tahun lalu yang di adakan di London, Sebenarnya tuan Rafa ingin mengajak dirimu untuk menjadi pasangannya, tapi kau sedang berduka, karena Raka baru saja meninggal. Dan karena kehadirannya datang seorang diri tanpa pasangan lagi, maka membuat dirinya kembali menjadi pusat perhatian canda tawa dan ledekan para tamu, sungguh memprihatinkan keadaan suamimu saat itu ! Hahaha...."


"Sudah ah kak, perutku sakit tertawa terus." ucap Ara menekan perutnya karena kembali di buat Moly tertawa.


Moly tertawa kecil.


"Jadi Ra... kau harus menemaninya malam ini, aku sangat yakin kau bisa menjadi partner terbaiknya. Kau sangat cerdas, biasa tampil di depan umum dan menguasai bahasa asing, kau juga sudah berlatih beberapa tarian. Jadi tidak ada yang perlu kau takutkan." kata Moly sambil bangkit dari duduknya.


"Dan sekarang aku akan mengajarimu etika makan untuk jamuan acara resmi." menarik tangan Ara menuju meja makan bundar


yang di atasnya sudah tertata peralatan makan yang lengkap.


"Ikuti gerakan tubuhku ya Ra..." kata Moly.


"Iya kak ..."


"Dengar sayang, sopan santun di meja makan menunjukkan intelektualitas seseorang, jadi saat kau duduk, tegakkan tubuhmu, jangan bersandar pada sandaran kursi, jangan meletakkan siku pada meja makan, dan menggunakan serbet pada pangkuan." kata Moly dengan gerakan tubuh.


Ara mengikuti apa yang di lakukan Moly dengan baik.


"Bagus, cara dudukmu sudah tepat. Saat jamuan makan di mulai, jangan berbicara atau ngobrol, kunyah makananmu dengan mulut tertutup. Saat batuk atau bersin tutup mulut dengan serbet, jangan memainkan peralatan makan, jangan meniup niup makanan yang masih panas sebaiknya di aduk aduk saja. Jangan menerima telepon dan memperbaiki riasan wajah, kamu faham sayang ?"


Ara mengangguk


Selanjutnya Moly memperlihatkan susunan peralatan makan di atas meja dan cara mengatur peralatan makan setelah selesai makan.


******


Rafa menunggu istrinya yang sedang berpakaian di kamar, sambil berbincang dengan Rizal Wisnu dan Moly mengenai acara yang akan mereka hadiri sebentar lagi.


Selang beberapa saat Ara segera keluar dari kamarnya dan turun dari tangga perlahan dengan sedikit kikuk.


Agak risih dia memakai gaun yang di persiapkan Moly untuknya, karena terbuka di bagian atas yang memperlihatkan bahu dan sedikit dadanya.


"Nona muda sangat cantik." ujar buk Narsih saat melihat Ara turun dari tangga.


Rafa, Rizal, Wisnu dan Moly mengalihkan pandangan mereka mengikuti tatapan mata Narsih.


"Adik ipar ku, kau benar-benar sangat cantik mempesona, kau juga seksi." ujar Rizal terpukau.


Sedangkan Rafa tercengang.


Wisnu segera berbalik dan segera keluar dari ruangan sebelum mendapatkan kemarahan dari tuannya.


"Jangan menatap istriku Rizal." teriak Rafa sambil melempar kuat ponsel yang di pegangnya pada Dokter muda itu.


Untung saja Rizal masih sempat menangkap benda pintar itu. Kalau tidak, benda tipis harga selangit itu hancur retak atau malah wajah tampannya yang akan penyok.


Rafa segera melangkah cepat menyambut istrinya sambil melepaskan jasnya dan di pakaikan untuk menutupi dada dan bahu istrinya.


"Pakaian apa ini Moly? aku menyuruhmu mencari gaun yang indah, bukan terbuka seksi seperti ini." berkata keras menatap tajam pada Moly.


" Apa kau ingin memperlihatkan tubuh istriku pada seluruh dunia?"


"Seksi bagaimana bos ? sama kok seperti punya Moly, hanya warnanya saja yang beda." kata Rizal menyamakan gaun Moly dan Ara yang modelnya beda sedikit.


Gaun Moly lebih terbuka, karena bukan hanya bagian dada, tapi juga pada bagian punggungnya juga terbuka .


Sedangkan gaun Ara hanya terbuka bagian bahu dan dada atas saja.


"Carikan gaun yang lain Moly."


"Gak sempat bos, waktunya udah mepet, aku idah sediakan blazer untuk menutup bahunya ! pakai Kembali jas mu." Moly mendekati mereka.


Memperbaiki rambut Ara yang panjang bergelombang kecoklatan.


Dia membawa sebagian rambut Ara ke depan . di uraikan pada samping kiri kanan menutupi dada Ara.


"Nah, ini dah bagus kok. kamu sangat cantik, anggun dan elegan sayang. Kalian berdua sangat cocok dan serasi, ayo kita pergi, nanti telat." sambung Moly kembali.


"Gaun istrimu gak terlalu terbuka, coba ingat bagaimana model gaun yang di gunakan oleh wanita wanita di pertemuan tahun tahun kemarin? mereka bahkan sudah seperti orang yang tidak memakai pakaian." Rizal menambahkan sambil mendesis.


"Maksud dokter ?" tanya Ara dengan dahi mengerut, dia tertarik dengan ucapan Rizal.


"Bukan apa-apa sayang, kamu gak usah dengarkan perkataannya." Rafa segera menarik tangan istrinya membawanya turun ke bawah.


Rizal dan Moly tertawa kecil melihat wajah Rafa yang kelabakan.

__ADS_1


"Ayo sayang." Rizal memberikan lengannya pada Moly, Moly segera mengalunkan tanganya lalu mereka berdua ikut turun menyusul bos mereka.


*****


Mobil berhenti tepat di depan pintu hotel yang gedungnya sangat tinggi dan megah.


Ara deg degan melihat hamparan karpet merah dan juga banyaknya fotografer dan kameramen yang menyoroti ke mobil mereka.


"Kak, aku deg degan." katanya gugup dan gelisah, keringat dingin nampak timbul di keningnya.


Rafa tersenyum, dia segera melap lembut butiran butiran kecil berwarna bening itu, memperbaiki posisi rambut istrinya yang tergerai menutupi sebagian dadanya,


lalu dia memegang kedua tangan istrinya.


"Tenanglah sayang, ada aku di sampingmu. rileks dan santai saja. Sekarang atur nafas mu." dia dapat merasakan jantung istrinya berdetak kencang.


Ara menarik nafas panjang kemudian di tahan beberapa detik kemudian di hembuskan selama mungkin, hal itu di lakukan berulang kali sampai dia merasa tenang.


"Sudah tenang ?" menatap wajah yang cantik


di depannya, dia tidak menyangka wajah ini semakin cantik dan menawan setelah mendapat sentuhan sedikit makeup yang polesan Ara sendiri.


Ara menggangguk.


Rafa tersenyum, dia mengecup sejenak bibir istrinya, lalu segera turun dan berputar ke pintu sebelah, dia segera membuka pintu samping mobil, menyodorkan tangan kanannya pada istrinya. Ara langsung menyambut tangan suaminya dan segera keluar dari mobil.


Mereka langsung di bidik puluhan kamera dan fotografer, keduanya sukses membuat publik tercengang dan terpukau. Pasalnya kali ini Ravendro datang menggandeng wanita cantik,


berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, hanya datang seorang diri.


Rafa dan Ara sejenak berdiri bergaya seadanya sambil menebar senyuman dan kemesraan yang di buat Rafa. Kameramen dan fotografer terus membidik mereka.


Rafa terus menggenggam tangan kiri istrinya, sesekali memeluk pinggang istrinya.


Lalu mereka segera melangkah berjalan menelusuri hamparan karpet merah dengan masih di ikuti sorotan lampu kamera, dan berhenti setelah mereka masuk lift untuk membawa mereka ke tempat pertemuan.


Setelah kepergian mereka, datang lagi tamu berikutnya dan berikutnya. tdan setelah itu Raymond Alkas dan istrinya yang turun dari mobil, di susul Dion dan Cindy bersama.


Tidak ada bedanya dengan tamu lainnya, mereka juga langsung di sorot lampu kamera .


Setelah menekan angka paling teratas, Rafa langsung menekan tubuh istrinya ke dinding lift dengan tiba-tiba, lalu segera menciumi bibir istrinya. Dia sudah tidak tahan melihat bibir sensual istrinya, serta keindahan tubuh istrinya yang begitu sangat menggodanya.


Ara terkejut mendapat serangan tiba-tiba.


"Apa yang kakak lakukan ?"


"Tubuhmu sangat menggairahkan sayang, aku tidak tahan melihatnya." ucap Rafa di sela sela ciumannya dan juga gerakan tangannya yang bergerak liar area dada dan paha.


"Tapi Kita sedang berada di dalam lift kak."


"Aku tahu sayang," Kembali ******* bibir istrinya dengan rakus.


Dada ara bergemuruh kuat, bukan karena menikmati apa yang di lakukan suaminya, tapi karena khawatir dan takut kalau nanti ada pengunjung lain yang masuk dan melihat.


Ara mendesah tertahan merasakan kecupan Kecupan dan jilatan yang sudah merambah ke tengkuk, leher dan turun ke dadanya.


Juga tangan nakal suaminya yang menjalar mengelus lembut paha dan semakin masuk kedalam.


"Hentikan kakak....!" menahan tangan Rafa hingga tas cantiknya jatuh.


Debaran kuat dadanya yang turun naik tak beraturan malah membuat Rafa terangsang dan langsung m******i ke dua buahnya dengan rakus. Ara mendesah tertahan menggigit bibirnya.


"Cukup kak, cukup. Nanti ada yang masuk dan melihat kita seperti ini." meremas rambut suaminya, tapi Rafa tidak mengindahkan ucapannya, dia terus melahap kedua buah istrinya. Tangannya semakin liar di bawah.


Ara semakin mendesah.


Tapi dia juga semakin gelisah dan cemas, terpaksa dia mengigit telinga suaminya kuat.


Dia menatap wajah istrinya yang terlihat tegang, khawatir dan takut.


Kedua ujung matanya yang basah mau menangis.


Rafa merasa bersalah.


"Ini lift private sayang, hanya khusus untuk orang orang penting." ucapnya lembut seraya menekan pelan kedua ujung mata istrinya yang basah dengan ibu jarinya.


"Kalau kakak masih ingin melakukannya, aku mau pulang saja. Aku gak ikut." kata Ara kesal menangis kecil.


Rafa tersenyum, dia menyapu lembut dua tetes air mata yang sudah jatuh di pipi istrinya.


"Aku sangat takut bagaimana nanti ada orang masuk dan melihat apa yang kakak lakukan," lanjut Ara terisak-isak.


Rafa segera menangkup wajah istrinya.


"Sayang, gak akan ada yang masuk, karena aku sudah memastikan hal itu. Aku juga gak mungkin menyentuh tubuhmu dan memperlihatkannya ke orang orang." kata Rafa dan kembali mengecup bibir istrinya.


Lalu segera memperbaiki rambut dan juga pakaian istrinya yang di buat berantakan.


"Salahmu sendiri berpakaian seksi begini, mengundang birahiku. Aku menahannya sejak tadi dari rumah. Tubuhmu sangat indah dan menggairahkan." bisiknya Kembali dengan tatapan mata menggoda.


"Kakak yang kelewatan, saat aku memakai pakaian tertutup pun .. kakak tetap mengatakan, sayang... tubuhmu sangat menggairahkan." keluh Ara kesal.


Hahaha ...


Rafa tertawa kecil, dan segera mengecup kuat bibir istrinya dengan gemas.


"Sayang, apa sebaiknya kita pesan kamar hotel saja? aku sungguh tidak tahan." bisiknya memelas dengan wajah meminta.


Dia sangat berharap istrinya memenuhi keinginannya, karena dia tidak tahan dengan miliknya yang sudah lama mengeras di bawah sana.


Dia menyentuh kan ke paha istrinya.


Ara terkejut dan merinding.


Rafa mendekatkan hidung mereka.


"Kita sudah tiga minggu di sini, tapi belum sekalipun melakukan apa yang menjadi harapan mama."


"Sekali saja sayang, aku mohon." meminta dengan sangat, menatap pupil mata istrinya.


"Sekali saja ...aku benar-benar gak tahan, boleh ya sayang ?" kembali menekan miliknya di paha istrinya


Ara kembali merinding.


Jantungnya berdetak lebih cepat mendengar permintaan sekaligus permohonan suaminya. Entah sudah berapa banyak suaminya menuntut ini darinya, tapi dia tetap menolak. Dan suaminya juga tetap sabar dan tidak akan memaksa jika dia berkata belum siap.


Ara menarik nafas pelan, ada kesedihan yang menyeruak di hatinya.


Perlahan dia mengecup lembut bibir suaminya .


"Baiklah kak..." ucapnya kemudian.


Rafa terperangah "Benarkah sayang ?"


terkejut sekaligus senang seakan tidak percaya mendengar jawaban istrinya.


Ara mengangguk pelan.


"Tapi kak ..." kata Ara menangkup lembut wajah suaminya.


"Aku tidak ingin melakukannya di sini, aku ingin kita melakukannya di rumah utama atau rumah pribadi. Bisakah kakak bersabar sebentar sampai kita pulang ke Indonesia? masa udzur ku juga masih sehari lagi, ini baru hari ke enam. aku belum bersih."

__ADS_1


Rafa mengangguk ngangguk cepat sambil tersenyum senang dan bahagia, dia segera memeluk tubuh istrinya.


"Tentu sayang, aku akan melakukan keinginanmu, aku akan menurutimu !sayang ...aku sangat senang dan bahagia sekali." mengecup ngecup kening dan bibir istrinya bergantian.


"Kalau begitu kita akan pulang setelah acara ini ! aku akan segera menyuruh pak Sam dan buk Narsih untuk segera bersiap siap." kata Rafa sangat antusias, tidak sabar ingin kembali secepatnya ke tanah air untuk melakukan malam pertama mereka.


Ara mengangguk tersenyum, dia terharu, sedih, merasa bersalah, berdosa melihat wajah bahagia suaminya.


Sudah sangat lama dia membuat suaminya tersiksa dan menderita karena penolakannya yang terus menerus.


Pintu lift terbuka.


Rafa segera meraih tas kecil istrinya di lantai, lalu segera menarik tangan istrinya keluar. Berulang kali dia membawa tangan istrinya itu ke mulutnya, di cium dan di kecup.


Sungguh dia sangat bahagia saat ini.


Tidak berapa lama mereka memasuki pintu ballroom yang di jaga oleh penjaga keamanan.


Ara terkesima melihat pemandangan yang di dalam sana.


Ruang ballroom yang megah dan memiliki detail interior yang mewah dan sangat indah.


Ruangan yang luas dapat menampung hingga 2 ribu tamu undangan.


Di dalam sudah banyak tamu undangan penting yang hadir, duduk berkelompok kelompok mengelilingi setiap meja bundar yang berukuran besar.


Kaki Rafa dan Ara Kembali melangkah di atas karpet merah dengan kilatan cahaya kamera dari fotografer dan kamera.


Dari panggung ballroom, dua MC menyambut kedatangan mereka dengan menyebutkan status dan jati diri mereka. Kedua MC menyambut kedatangan mereka dengan sopan


"Para hadirin yang saya hormati, tamu penting selanjutnya pada malam hari ini adalah salah satu pengusaha besar dunia yang tak asing


lagi bagi kita semua. Selamat datang tuan Rafa Ravendro Artawijaya dari perusahaan


RA Group dari negara Indonesia." sambut sang MC dengan sangat antusias.


"Sepertinya tahun ini sudah ada yang berbeda dari tuan Ravendro Artawijaya. Pada pertemuan penting malam ini, beliau datang di dampingi oleh sosok wanita yang sangat cantik dan anggun." sambung sang MC Kembali?


Ucapan MC membuat para tamu yang hadir mengalihkan pandangannya ke belakang, tepatnya pintu masuk ballroom. Pasalnya sang Ravendro Artawijaya tidak pernah membawa pasangan selama ini. Dan hal itu selalu menjadi guyonan mereka. Kini sang MC mengatakan dia datang di dampingi pasangannya, tentu saja hal itu membuat mereka terkejut dan penasaran dengan sosok cantik yang di katakan sang MC.


"Sosok wanita cantik mempesona ini adalah Ny Azahra Radya Almira Artawijaya, Istri dari tuan Rafa Ravendro Artawijaya."


Ara tercengang, kaget mendengar status dirinya di sebut kan, langkahnya terhenti, senyuman di wajahnya langsung memudar, genggamannya semakin kuat di tangan suaminya.


Rafa dapat merasakan hal itu ...


Ara menoleh kepadanya sesaat dan pura pura tersenyum.


"Ayo sayang ...." kata Rafa tersenyum dengan raut wajah memelas meminta agar Ara jangan dulu mempertanyakan hal ini sekarang.


Rafa memegang pinggang istrinya, lalu mendekatkan wajahnya di telinga istrinya,


mengecup kepala bagian samping istrinya, seolah memamerkan kemesraan.


Padahal yang sebenarnya dia sedang membisikan sesuatu yang membuat Ara kesal dan takut.


Ara segera menghiasi wajahnya dengan senyuman manis, di tebarkan pada semua tamu undangan.


"Sekali lagi kami ucapkan Selamat datang untuk Tuan dan Ny Rafa Ravendro Artawijaya."


Ucap sang MC Kembali.


Rafa dan Ara melangkah masuk ke dalam saling berpegangan tangan.


Rafa sesekali melambaikan tangan pada semuanya.


Terdengar tepukan meriah dari tamu undangan.


Sebagian besar para undangan mengucapkan selamat dari tempat duduk dan berdecak kagum atas kecantikan istrinya.


Tak sedikit juga yang terlihat acuh dan menatap judes pada mereka, karena merasa patah hati setelah mengetahui Rafa sudah menikah dan melihat betapa cantiknya istrinya. Dan mereka itu adalah kaum hawa pengagum ketampanan Rafa sekaligus pengejar cinta Rafa.


Sang MC menguraikan harta kekayaan Ara dan juga usaha usaha bisnisnya, baik yang berada di tanah air dan juga luar negeri.


Tentu saja hal itu kembali membuat Ara tercengang, dia tersedak dan batuk kecil.


"Harta kekayaan? bagaimana bisa aku punya kekayaan sebanyak itu? malah usaha usaha bisnis itu sudah merambah ke luar negeri?" batin Ara menoleh sekilas pada suaminya,


sambil melangkah dan tersenyum.


Rafa semakin kuat memegang tangannya sebagai isyarat untuk terus berjalan dan tersenyum. Kalau berhenti, maka dia akan menciumi istrinya di depan para tamu seperti ancaman yang di bisikan tadi.


Dari meja samping agak ke depan terlihat Moly dan Rizal melambaikan tangan ke pada mereka.


Rafa dan Ara menaiki panggung ballroom seperti tamu lainnya sebelum mereka datang,


tujuannya untuk memperlihatkan mereka pada tamu undangan yang berasal dari penjuru dunia, terlebih pada tamu rekan bisnis yang baru bergabung dalam organisasi mereka.


Kilatan cahaya kamera menyorot ke arah mereka.


Rafa melambaikan tangan dan tidak berhenti tersenyum sambil terus memeluk pinggang istrinya. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, berdiri sendiri dengan tatapan dingin dan tajam.


Ara terkejut setelah melihat para tamu dari depan, sebagian tamu wanita dengan pakaiannya yang sangat terbuka dan super seksi. Ada yang sudah terlihat setengah belahan dadanya dan tidak memakai bra, ada yang terlihat pinggang punggung perutnya, yang tertutup hanya PD nya saja.


"Jadi ini yang maksud perkataan dokter Rizal tadi?" batinnya.


Setelah mendapat isyarat dari sang MC Rafa segera mengajak istirnya turun dari panggung ballroom menuju tempat duduk mereka, yang di sana sudah banyak duduk teman teman seprofesinya sesama CEO bersama istri dan sebagian masih berstatus kekasih.


Keduanya langsung di sambut dengan jabatan tangan dan ucapan selamat oleh mereka.


Istri Istri para CEO yang sebagian berasal dari negara asing dan juga dari Indonesia menyambut selamat datang kepada Ara bergabung dalam kelompok organisasi mereka yang tentunya berbeda dengan kelompok suami suami mereka.


Ada juga beberapa istri para CEO itu dari kalangan Artis tanah air yang selalu di lihat Ara di televisi. Mereka menyambut Ara dengan hangat.


Ara tidak menyangka akan bisa melihat mereka bahkan bergabung bersama mereka.


Tidak butuh waktu yang lama, Ara langsung akrab dan dekat dengan mereka, dan itu karena dia bisa berbahasa Inggris, dan berbicara dengan lancar.


Rafa juga terlibat pembicaraan serius dengan teman temannya, tapi dia tetap fokus pada istrinya, yang juga terlibat pembicaraan penting dengan teman teman barunya tentang dunia bisnis.


Sang MC Kembali menyambut kedatangan tamu yang lain satu persatu.


Hingga akhirnya giliran tamu penting Konglomerat Raymond Alkas yang di sebut.


Sama seperti tamu tamu penting lainnya, mereka di sambut dengan hangatm


Tuan Raymond Alkas dan Ny Raymond Alkas tersenyum melambaikan tangan.


Semua para tamu undangan mengenal mereka, terkecuali yang baru bergabung.


Dion berdiri di samping mamanya, dan Cindy berdiri di samping tuan Alkas, pamannya.


Tuan Alkas merupakan kakak sepupu mamanya Cindy.


Beberapa saat kemudian mereka berempat segera melangkah menuju panggung ballroom.


*******


Terimakasih atas like dan votenya πŸ™πŸ˜˜


Jangan bosan bosan pada karya author, dukung terus ya😘

__ADS_1


__ADS_2