Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 156


__ADS_3

Rafa bukan hanya menyediakan pakaian untuknya tapi juga mukena, sajadah dan Al-Qur'an. Karena dia tahu Ara selalu meluangkan waktu membaca Alquran setelah sholat.


Pintu di ketuk.


Lalu masuklah seorang wanita yang usianya hampir setengah abad.


"Selamat malam nona muda." ucap pelayan itu sopan.


"Ya, selamat malam." jawab Ara sambil tersenyum, dia sedang melipat mukena.


"Saya kepala pelayan di rumah ini. Nama saya Narsih. Saya kesini di perintahkan oleh tuan Rafa untuk memanggil anda. Tuan Rafa sedang menunggu anda di ruang makan." kata Narsih menjelaskan maksud kedatangannya juga kedudukannya di rumah ini.


"Oh Iya buk Narsih, tunggu sebentar ya." kata Ara.


Narsih memperhatikan yang di lakukan nona mudanya, meletakkan mukena di atas ranjang, dan juga Rekal Al-Qur'an di atas meja.


Ara mengambil handphone dan tas ranselnya.


"Mari buk." ucapnya pada Narsih.


Mereka berjalan melewati koridor.


"Oh ya buk, kita lewat mana?" tanya Ara.


"Ada dua pilihan untuk menuju ruang makan. Bisa menggunakan lift dan tangga. Nona pilih yang mana, nanti saya akan menuntun jalannya." kata Narsih.


"Ruang makannya ada di lantai berapa ?"


"Ruang makan ada di lantai 4, tepat di bawah kita nona, dan kita berada di lantai 5, lantai terakhir." jawab Narsih menjelaskan.


"Kalau begitu kita turun pakai tangga saja."


"Baik nona muda." Narsih menuntun jalan di depan.


Tidak berapa lama mereka tiba di ruang makan. Rafa sedang duduk dengan gagahnya di kursi makan kebesarannya.


"Duduklah di sini." kata Rafa menunjuk kursi di sebelah kanannya.


Ara mendekat.


Wisnu menarik kursi untuknya.


Ara segera duduk.


"Terimakasih." ucapnya.


Wisnu menundukkan kepala sesaat lalu segera kembali ke tempat semula, yaitu di belakang tuannya.


Ara memperhatikan sekelilingnya, para pelayan nampak berdiri berjejer rapi dengan kepala tertunduk.


Ara tersenyum begitu melihat Sita.


"Mbak sita," panggilnya pelan.

__ADS_1


Dia hendak berdiri, tapi Rafa menahan tangannya.


"Tetaplah di tempatmu, kita akan segera makan malam." menatapnya.


"I iya kak," jawab Ara pelan dan segera diam.


Dia menoleh sejenak pada Sita dan tersenyum. Sita membalas senyumannya.


"Kakak ipar," kata Ara pelan


"Hmm? Ada apa?" jawab Rafa melihatnya sekilas, lalu kembali fokus menuangkan susu ke gelas.


"Terimakasih ya sudah mempekerjakan mbak Sita kembali. Ku kira aku tidak akan bertemu mbak Sita lagi." kata Ara.


Tak ada jawaban dari Rafa. Rafa meletakan gelas susu di depan Ara.


"Tadi siang kau tidak sempat makan, kau pasti lapar. Jadi malam ini kau harus makan lebih banyak." kata Rafa kembali.


Ara diam tak menjawab, dia hanya mengangguk, tak mau membantah atau bicara apapun. Karena terlalu banyak bicara akan ada konsekuensinya.


"Kau ingin makan apa?" tanya Rafa.


Ara memperhatikan menu yang tersedia.


Dia menelan ludah, bingung mau pilih yang mana, karena dia tidak berselera dengan semua makanan itu.


Tapi dia tidak punya pilihan untuk menolak.


"Yang mana?" Rafa mengulang perkataannya sambil menatap Ara yang hanya diam.


"Nasi?"


"Nggak usah, sup aja." tolak Ara.


"Kau tidak akan kenyang kalau hanya makan air dan sayur saja." kata Rafa menatapnya tajam.


"I iya, pakai nasi kak..." ucapnya segera sebelum keadaan memburuk.


Rafa segera mengambilkan nasi dan sup.


"Kak, biar aku saja."


Rafa tak memperdulikan perkataannya.


Dia mengambil dua kali lipat nasi dan sup secukupnya.


"Makanlah, kau harus menghabiskannya." ucap Rafa.


Ara menelan ludah dengan wajah meringis melihat makanan yang membumbung tinggi seperti gunung merapi yang siap menyemburkan lahar panasnya.


Melihatnya saja dia sudah merasa kenyang.


Rafa tersenyum tipis melihat ekspresi wajahnya."Jangan hanya fi lihat, cepat makan."

__ADS_1


Perlahan Ara mulai mencicipi sup, lalu memasukkan nasi, sedikit sedikit dia mendorongnya dengan air.


Sungguh membutuhkan kerjasama yang baik antara air dan susu untuk menghabiskan semua makanan itu.


Entah sudah berapa gelas air ditambah susu yang di habiskan untuk mendorong makanan itu supaya bisa melewati tenggorokannya dan masuk kedalam perutnya.


Wajahnya sampai berkeringat banyak.


"Kakak ipar, aku mau pulang, ini sudah malam, orang rumah pasti mencari ku." kata Ara begitu selesai makan.


"Aku sudah beri tau pak Sam dan mama kalau kau sedang bersamaku." kata Rafa sambil menyantap makanannya.


"Aku sudah janji sama Cio dan Cia untuk tidur bersama mereka dan membacakan dongeng. Aku akan menelpon mang Saleh untuk menjemput ku di sini."


Rafa membuka botol vitaminnya, lalu mengambil sebutir.


"Buka mulutmu...." katanya alih alih menanggapi perkataan Ara.


Ara menggeleng sambil menutup mulutnya.


"Aku tidak mau meminumnya, nanti aku pingsan lagi. Aku gak mau tertidur di sini, aku mau pulang ke rumah utama." dia mengingat kejadian tadi, meminum suplemen itu dan akhirnya membuatnya tidak sadarkan diri dan tertidur lama di kamar Rafa


"Buka___" gertak Rafa dengan suara di tekan.


"Aku nggak mau tertidur lagi di sini." kata Ara masih menolak.


"Aku tidak suka di bantah Ara. Ini perintah ku yang terakhir, buka mulutmu...," gertak Rafa suara meninggi dan tatapan semakin tajam.


Wajah Ara Cemberut, kesal, sedih bercampur jadi satu dengan perintah yang seperti mengintimidasinya. Perlahan dia membuka mulut.


Rafa segera memasukkan vitamin.


"Kak, aku mau pulang." pintanya lagi pelan dengan memelas setelah selesai meminum vitamin itu.


"Kenapa kau ingin sekali pulang? Apa kau takut tidur di ranjang ku? Dan kau takut akan melakukan sesuatu di luar kesadaran mu lagi?" kata Rafa menatapnya lekat.


Ara terbelalak, dia cepat bangkit dan tanpa sadar membekap mulut Rafa.


"Kakak, kecilkan suaranya." ucapnya sambil melirik ke arah pelayan dan juga Wisnu. Wajahnya langsung merah merona. Malu.


"Lepaskan tanganmu, kau sudah mulai berani padaku?" sentak Rafa memegang tangannya kuat.


Ara tercengang dan gugup.


"Ma- maaf kak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tiba tiba saja melakukannya." ucapnya pelan seraya menarik tangannya dari genggaman Rafa.


Ara mendengus kesal, lalu duduk kembali dan diam.


Rafa tersenyum tipis melihatnya.


...Bersambung....


Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, hadiah dan komentarnya yaa πŸ™

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah mampir πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2