Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 262


__ADS_3

...Happy Reading...


Dion membuka pintu apartemennya setelah memasukan kartu pemindai, lalu menutupnya dan dikunci kembali, setelah itu dia menurunkan Cindy.


"Aku gak mau ke sini, aku mau ke rumah Ara." kata Cindy sambil menekan tanggal lahir Dion pada kode akses pintu. Tapi sebelum pintu terbuka, Dion segera menyergap tubuhnya dan di bawah ke ruang santai.


"Turun kan aku." pekik Cindy.


Dion segera menurunkan tubuh Cindy. Beralih memegang ke dua tangannya.


"Lepas." Cindy menghentak tangan Dion.


"Kamu gak boleh ke mana-mana sebelum kamu jelaskan dengan sikap mu itu." kata Dion.


"Aku sudah bilang tidak ada apa-apa."


"Lalu kenapa kau mendiami ku? Kau mengabaikan ku, kau mengacuhkan ku Cindy. Artinya kau kesal padaku, kau marah padaku." Dion menatapnya tajam.


Cindy mendengus kesal. Malas berdebat. Dia segera berbalik dan menuju kamarnya.


"Cindy, jawab pertanyaan ku__"


Cindy tak menggubris, dia terus berjalan, hanya air mata yang terus mengalir.


Dion mengejar, meraih tangan Cindy.


Cindy segera berkelit dan melangkah lebih cepat.


"Jangan mengikuti ku." teriaknya sambil me lap air matanya.


Dion tetap mengejarnya. Cindy segera masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu. Dengan cepat Dion menahan pintu dengan memasukkan kakinya di bawah, Untung saja dia memakai sepatu.


Cindy menutup pintu sekuatnya, Dion pun berusaha menahan sepatunya dan mendorong pintu. Akhirnya terbuka karena Cindy tidak mampu melawan kekuatannya.


Dion segera masuk dan memegang kedua tangan Cindy


"Cindy, cukup. Kau jangan seperti ini. Nanti akan berpengaruh pada janin mu." merendahkan suaranya.


"Kalau begitu pergilah dari sini, tinggal kan aku."


"Kau sedang tidak baik baik Cindy. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu dan janin mu. Aku tahu kau marah padaku. Aku ingin kau terbuka padaku, sudah berulangkali aku katakan padamu jangan menutupi apapun dariku. Kakak minta maaf jika telah menyakiti hatimu," Dion membawa kedalam pelukannya untuk menenangkan gadis ini yang terus menangis menahan kemarahan.


Tapi Cindy mendorong tubuhnya"Jangan menyentuh ku." Cindy berusaha melepaskan tangan Dion.


Tapi Dion tetap menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukannya."Aku tidak akan melepaskan mu." memeluk kuat.


"Aku bilang lepas__." teriak Cindy.


"Tidak." Dion bersikeras dan semakin mempererat pelukannya.


Cindy mendengus kesal. Dia mengigit dada Dion kuat.


"Auww..." Dion meringis kesakitan, melepas pelukannya dan menekan dadanya yang sakit.


Dia menatap tajam pada Cindy.


Cindy tidak perduli, dia segera berbalik hendak melangkah keluar, tapi dengan cepat Dion menarik tubuhnya hingga menempel kembali ke tubuhnya.


"Kamu menguji kesabaran kakak Cindy." kata Dion geram, tatapan tajam sulit di tebak. Selanjutnya dia memegang tengkuk Cindy menatapnya dan langsung me**mat bibir Cindy.


Cindy terkejut dengan mata membulat. Dia menarik wajahnya kebelakang sembari memukul dada Dion. Dion menahan ke dua tangannya kebelakang, satu lagi semakin kuat memegang tengkuk Cindy. Dia terus melahap bibir Cindy dengan liar dan sedikit kasar, Mengulum, menghisap bibir bawah atas bergantian, menyalurkan emosi sekaligus membalas mulut yang berani menggigitnya.


Cindy sulit melakukan pergerakan apalagi melawan. Otaknya berpikir apa yang di lakukan Dion padanya saat ini, yang sekarang sedang mencium bibirnya? Dia bahkan belum percaya kalau Dion sedang menciumnya saat ini, menciumnya dengan liar dan ganas apa yang di lakukan Dion saat ini. Ciuman yang dirasakan bukan hanya ciuman antara kakak dan adik yang seperti di lakukan Dion padanya sebelumnya, atau ciuman yang hanya sekedar meredakan rasa mualnya.


Jantung Cindy berdegup kencang merasakan ciuman yang semakin menggelora, ciuman menuntut lebih, meminta dirinya untuk membalas. Cindy mendesah saat merasakan lidah Dion bermain liar di dalam mulutnya membelit lidahnya. Entah sejak kapan benda lunak tak bertulang itu telah bersarang ke mulutnya. Tubuhnya bergetar, menegang dan kepalanya pusing. Dia mulai terbuai menikmati ciuman yang semakin menggelora. Kelenyar aneh merasuk ke dalam dirinya mengaliri sel sel dalam tubuhnya. Dia melenguh berulang kali.


Tapi kemudian dia tersadar, pikirannya kembali mengingat sesuatu yang menyakiti hatinya, hingga membuat dada sesak, hatinya terluka.


Dia memukul mukul dada Dion."Lepas." berusaha menarik wajahnya ke belakang.

__ADS_1


"Cukup, hentikan__ apa yang kakak lakukan?"


Tangannya yang telah lepas dari genggaman Dion memukul dada Dion dan mendorong kuat.


Terlepas, tetapi Dion kembali meraup bibir Cindy. Menahan ke-dua tangannya. Dia yang sudah dikuasai oleh gairah yang tidak dapat di kendalikan. Cindy mulai lemas, merasakan kepalanya pusing, perut juga mual karena banyak melakukan pergerakan perlawanan.


"Berhenti kak, aku pusing, perut ku mual. Aku mau muntah." kata Cindy kembali di sela ciuman Dion.


Dion yang meski sudah dikuasai oleh naf*u gairah, tersadar dan segera menghentikan ciumannya. Nafasnya memburu cepat.


Cindy menatap tajam."Sudah puas memberi hukuman padaku?" Karena dia tahu ciuman itu adalah ciuman luapan kemarahan Dion padanya karena telah menggigit dadanya.


"Cindy__" Dion terkejut, sadar dengan ciuman kemarahannya. Dia melihat bibir Cindy yang tebal dan pucat. Apa sebrutal itu dia memberi hukuman?


"Cukup, Aku tidak terus mau berdebat." kata dengan suara lemah, wajah memerah mata berkaca-kaca. Lalu dia segera berbalik dan meninggalkan Dion yang mematung.


Cindy melepas tas dan syal dengan buru buru lalu di lempar asal ke tempat tidur. Dia cepat berlari ke kamar mandi sambil menekan perut.dan menutup mulut. Karena dia benar benar ingin muntah.


"Cindy, maafkan kakak Cind." Dion yang sadar dari lamunannya mengejar Cindy ke kamar mandi.


"Cindy __!" melihat Cindy yang muntah muntah.


"Pergi, tinggalkan aku, pergilah dari sini." kata Cindy lemah di sela memuntahkan makanan yang hanya air liurnya saja.


Langkah Dion terhenti.


"Kakak khawatir dengan mu Cindy." keluh Dion sedih dengan sikap Cindy yang semakin tidak menghindarinya.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Pergi." teriak Cindy keras. Dia kembali memuntahkan apa yang sudah berada di tenggorokannya. Perutnya semakin di aduk aduk.


Dion termangu. Bahkan Cindy mulai berani meneriakinya. Tapi dia tetap mendekati Cindy.


Dadanya sesak, hatinya sedih dan iba melihat penderitaan Cindy yang muntah muntah dengan tubuh meringkuk


"Cindy," menepuk punggung Cindy pelan pelan, di panik.


Cindy terus memuntahkan apa yang ada dalam perutnya karena rasa mual terus mengaduk aduk perut dan tenggorokannya.


Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang gemetaran. Dion menahan tubuhnya dari belakang dengan memeluk perutnya agar tidak jatuh, karena di lihatnya kedua kaki Cindy gemetaran. Dan Satu tangannya di gunakan memegang rambut Cindy yang terurai terkena muntahan.


"Maafkan aku." keluh Dion merasa hatinya sangat perih melihat begitu menderitanya adik sekaligus istrinya karena benan kehamilannya. Kedua matanya bahkan sampai basah.


Beberapa saat Cindy berhenti muntah. Tubuhnya lemas gemetaran, basah dengan keringat.


"Cindy, apa sudah selesai muntahnya?" tanya Dion lembut.


Tak ada jawaban, hanya suara nafas Cindy yang terdengar memburu cepat. Dia menopang tubuhnya dengan menekan ke dua tangan pada pinggiran wastafel, meski Dion saat ini ikut menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Melihat Cindy yang sudah tidak muntah lagi, Dion perlahan membalikkan tubuh Cindy menghadap kepadanya.


Wajah pucat itu penuh keringat dengan matanya yang terpejam karena masih pusing.


Dion menekankan tubuhnya ke tubuh Cindy yang tersandar di wastafel agar tubuh kurus itu tidak jatuh melorot ke bawah. Dengan gerakan cepat memperbaiki ikatan rambut Cindy yang berantakan.


Selanjutnya Dion memegang tangan Cindy.


Dion merasa iba melihatnya, wajah kurus pucat pasi dengan bibirnya yang gemetaran.


Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya. Tak ada lagi kekuatan pada tubuh adiknya ini untuk di gunakan berdebat dan melawan dirinya seperti tadi.


Dion tampak memikirkan sesuatu yang sering di lakukan Cindy padanya setelah muntah seperti ini. Biasanya setelah muntah begini, Cindy akan memeluknya, mencium aroma tubuhnya untuk menenangkan diri dan suasana hatinya. Tapi kali ini tidak. Sepertinya Cindy memang marah padanya.


Dion tersenyum, memikirkan sesuatu untuk menggoda istrinya ini.


"Cindy, bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya meski di tahu jawabannya adalah tidak.


Cindy diam tak menjawab dengan mata yang masih terpejam


Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy"Apa kau tidak ingin memeluk kakak?" bisik nya lembut.

__ADS_1


Ada ekspresi halus yang terlihat dari wajah Cindy mendengar pertanyaan itu. Dia mengerti maksud pertanyaan Dion.


"Nggak." jawabnya segera dengan lemah, entah karena gengsi atau masih marah.


Dion kembali tersenyum.


"Kenapa? Biasanya habis muntah begini kamu paling suka meluk dan mencium aroma tubuh kakak."


"Nggak mau lagi." Cindy berkilah dengan wajah sendu. Padahal sebenarnya dia ingin sekali memeluk, tapi berusaha di tahan. Makanya dia memejamkan mata agar tidak melihat tubuh Dion.


Dion kembali tersenyum.


"Benar nggak mau?" tanyanya kembali sembari membuka kancing kemejanya satu persatu, setelah itu di lepas pelan pelan dan di biarkan jatuh melorot ke bawah.


"Aku udah bosan." jawab Cindy serak.


Dion ingin sekali tertawa lepas mendengar jawaban itu. Jawaban palsu yang tidak sesuai dengan hati.


"Bosan? Benarkah?" menatap wajah Cindy yang masih terpejam.


"Kenapa sih nanya terus? Minggir, aku mau berbaring, kepalaku pusing." Cindy mendorong lemah tubuh Dion..Tapi kemudian dorongan itu berhenti ketika merasakan kulit tubuh Dion yang bersentuhan dengan tangannya.


Perlahan dia membuka mata. Netranya langsung di suguhkan dengan bahu yang lebar tegap, dada bidang berotot. Dan sedikit melihat kebawah, matanya kembali di suguhkan dengan perut kotak kotak seperti roti sobek. Entah terhipnotis atau telah hilang rasa kesalnya, dia menatap sejenak tubuh maskulin ini dari leher hingga ke perut. Tubuh yang sangat menenangkan dirinya dan membuat nyaman saat mual mendera.


Kedua telapak tangannya bergerak, menyentuh lembut menelusuri setiap otot otot bisep dari tubuh kekar ini. Dari tulang selangka, berlanjut ke dua buah Dion. Dua jari telunjuknya menekan nekan dua putik yang tampak mengeras, memilin, memelintir lembut. Wajahnya tersenyum karena senang mendapatkan mainan baru. Dia terus memainkan ke dua putik itu tanpa menyadari si empunya yang tersiksa menahan segala rasa yang bergejolak. Puas pada putik, sentuhannya turun ke perut, menekan setiap kotak roti sobek. Berlanjut menyentuh pusar yang di kelilingi oleh bulu bulu halus. Dia kembali tersenyum sembari membuat garis melingkar mengelilingi area itu. Sungguh sangat menyenangkan dan membuat hilang semua rasa yang tidak mengenakkan pada tubuhnya. Tapi gerakan jarinya tiba tiba berhenti tak kala dia tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia menarik tangannya, kemudian menengadah ke atas melihat wajah Dion yang saat itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di tebak.


Keduanya saling bertatapan lekat.


Cindy mengeluh sedih, lalu menundukkan wajahnya karena malu. Dion memegang tangannya, kemudian di bawah untuk menyentuh dan mengusap dadanya.


"Apa kau masih tetap tidak ingin memeluk dan menghirup aroma tubuh kakak?" bisik Dion kembali.


Terdengar lenguhan kesedihan dari bibir Cindy.


Dion mengangkat dagunya pelan. Dia mengamati setiap bagian wajah ini dan berhenti pada bibir ranum yang masih bengkak. Perlahan Dion membawa tubuh kurus ini ke dalam pelukannya. Dipeluknya hangat penuh kasih sayang."Maaf kan kakak." bisik lembut andaikan dia memang telah membuat kesalahan hingga membuat Cindy marah."Kakak minta maaf jika telah menyakiti hatimu!"


Isak kecil keluar dari mulut Cindy. Dia segera memeluk Dion. Air matanya membasahi dada Dion yang telanjang.


"Kakak mohon jangan bersikap seperti itu


lagi ya?" kata Dion mengecup puncak kepalanya.


Tak ada jawaban. Cindy hanya menangis dan semakin kuat memeluk dan menekan wajahnya. Dia juga bersalah mendiami Dion karena alasan yang tidak jelas, kecemburuan pada Bela? Rasa apa itu? Seharusnya dia tidak menghadirkan rasa seperti itu di hatinya, karena hubungannya dengan Dion dan juga pernikahan mereka adalah sesuatu yang terpaksa karena kehamilan, bukan karena cinta. Dia tidak berhak marah dan cemburu pada Dion yang ingin dekat dengan wanita manapun.


Berpelukan dalam waktu yang lama membuat rasa ingin menyendiri itu kembali muncul dalam hati Cindy, itu bukan keinginannya, tapi keinginan cabang bayi yang ada di dalam perutnya. Sadar atau tidak, dia kembali menyentuh dengan telapak tangan sembari mendusel ndusel wajahnya ke leher, dan dada Dion. menghirup aroma wangi tubuh yang membuatnya candu.


Dion tersenyum kecil, menunduk kebawah, melihat Cindy yang mengendus hidungnya menyesap aroma tubuhnya dengan telapak tangan yang nakal menjalar ke perutnya.


Darah Dion berdesir, tubuhnya semakin menegang saat merasakan kecupan kecupan lembut yang di daratkan pada dada dan perutnya. Tanpa sadar dia mengerang, sembari mencengkeram lembut rambut Cindy.


"Cindy." suara berat.


"Bentar kak, sedikit lagi. Aku belum puas." Cindy terus mencium aroma tubuhnya dan meraba raba lembut dada Dion.


"Salah kakak sendiri membuka pakaian begini dan memperlihatkannya padaku, membawa tanganku menyentuhnya." kata Cindy kembali dengan santainya tanpa tahu keadaan Dion yang tersiksa di atas sana.


"Kakak tidak akan bisa tahan kalau kau sentuh seperti ini Cind__!" mengelus punggung Cindy lembut berusaha menekan hasratnya.


Sentuhan jemari Cindy turun lagi ke perut, di selingi kecupan kecupan lembut.


Dion kembali mengerang tanpa sadar kali ini suarnya agar keras hingga membuat Cindy kaget mendengarnya. Gerakan Cindy terhenti. Tanpa sadar matanya melihat celana kantor Dion yang tampak mengembang. Cindy bukan gadis bodoh yang tidak tahu itu apa. Sadar telah membangkitkan sesuatu yang berada di balik celana itu, seketika dia menaikan tubuhnya ke atas. Setelah sejajar, dia melihat wajah Dion yang memerah dan sangat tegang.


"Kak..." belum selesai dia bicara, Dion menarik tengkuknya, juga pinggangnya lalu melahap bibirnya. Cindy kembali terkejut tidak bisa mengelak dari serangan yang tiba-tiba.


Dion semakin memperdalam ciumannya dengan liar, membuat Cindy mengeluarkan desahannya.


Dion mengangkat tubuh Cindy tiba tiba ala koala dan membawa ke tempat shower tanpa melepaskan pangutan bibirnya. Dan Entah kenapa Cindy diam tak melawan seperti tadi. Dia membiarkan apa yang di lakukan Dion. Cindy kaget merasakan air shower yang jatuh ke tubuhnya. Di lihatnya Dion masih terus menikmati bibirnya dengan rakus, kedua tangan kelayapan liar pada tengkuk, leher, punggung dan bokongnya. Cindy yang sejak tadi menahan diri berusaha agar tidak terbuai, mulai goyah. Kepalanya pening merasakan kelenyar aneh mengaliri sel dalam otaknya yang terhubung pada milik intinya. Cindy mulai membalas ciuman Dion. Melingkar kan ke dua tangan di bahu Dion mengimbangi ciuman kakaknya. Kepala mereka saling memutar kanan kiri saling me****t satu sama lain. Suara decapan bibir terdengar berbaur dengan guyuran shower. Lidah mereka saling beradu dan membelit. Cukup lama keduanya bertukar saliva.


Jilatan Lidah Dion merambah ke telinga Cindy bermain di caping telinga Cindy. Terus turun ke leher Cindy. Dion terus mengecup, menjilat bagian jenjangnya putih ini, mengisap kuat hingga menyedot meniggalkan beberapa tanda merah. Bahkan dia menggigit kecil sampai meninggalkan bekas gigitan. Sungguh gairahnya tidak dapat di kendalikan lagi. Dia melupakan status Cindy yang meski adalah istrinya, tapi juga adiknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2