
Selepas subuh Ara ziarah ke makam almarhum suaminya, Raka. Hal yang selalu ia lakukan setiap hari Jum'at.
Menyapa dengan hangat serta mendoakan orang yang telah memberinya banyak cinta dan kasih sayang setelah ayah dan ibunya serta yang membuat dia merasakan cinta pertama kali pada seorang lelaki.
Selain mendoakan Raka, dia juga selalu menyempatkan diri berkunjung ke makam almarhum ayah mertuanya dan juga Revan, suami Nesa, menyapa dan mengirimkan doa untuk mereka.
Di dekat taman belakang ada sebuah garasi besar. Ara belum pernah datang dan melihat isi dalaman tempat itu, yang kata alamarhum suaminya dulu, bangunan itu adalah tempat penyimpanan koleksi kenderaan kenderaan mewah milik kakaknya, Rafa.
Ara merasa tertarik untuk menyambangi tempat itu.
Segera dia melangkahkan kakinya menuju bangunan itu.
Matanya melongo, membulat besar setelah melihat isi dalaman bangunan itu, mulutnya berdecak kagum.
"Istriku di mana ?" tanya Rafa pada Wisnu.
Saat ini mereka sedang berada di ruang gym. Dia tidak mengetahui Ara pergi ke makam suaminya. Yang dia tahu Ara turun ke dapur untuk berbaur dengan para pelayan.
Dia tidak dapat melarang Istrinya untuk menginjakkan kakinya ke dapur, karena keinginan istrinya yang memaksa untuk membantu para koki memasak dan karena dia memiliki jiwa memasak.
"Nona muda ziarah ke makam tuan muda." jawab Wisnu.
Dahi Rafa yang mandi keringat mengerut, dia lupa kalau hari ini adalah jari Jumat.
Kebiasaan istrinya mengunjungi makam Raka , ayahnya dan Revan jika ada waktu.
Serta mengunjungi panti Asuhan dan ziarah ke makam orangtuanya.
"Dan sekarang nona muda sedang mengunjungi garasi taman belakang." kata Wisnu kembali dengan sopan.
Gerakan tubuh Rafa yang melakukan full up terhenti bersamaan dengan telepon seluler Wisnu berdering. Wisnu segera meraih ponselnya dalam saku.
Dari montir servis yang ditugaskan merawat koleksi kenderaan mewah tuannya di garasi belakang.
Wisnu Segera mengangkat teleponnya .
"Halo..."
"Assalamualaikum sekretaris Wisnu." suara hangat Ara dari seberang.
"Waalaikumsalam nona muda." Jawab Wisnu. Lalu segera menyerahkan benda pipih itu pada tuannya.
Rafa bangkit berdiri, menyapu keringat di wajah dan tanganya dengan handuk, lalu menerima ponsel Wisnu.
"Assalamualaikum sayang," sapanya dengan nafas memburu cepat.
"Waalaikumsalam, kakak aku ada di garasi taman belakang. Aku pengen naik motor gede, kakak cepat kesini ya ...aku tunggu. GPL...titik !"
Kedua alis Rafa terpaut
"Apa tuh GPL sayang?"
Ara tertawa kecil dari seberang
"Gak Pake Lama kakak, udah ya aku tutup teleponnya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." balas Rafa senyum senyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia yang tidak begitu tahu bahasa gaul anak anak muda sekarang.
"Wisnu, belajarlah kau bahasa gaul seperti itu, supaya kita tidak akan ketinggalan zaman dan terlihat seperti orang udik." katanya pada Wisnu.
Wisnu terkejut
"Baik tuan." jawabnya spontan, meski itu terdengar konyol baginya.
"Dan...undur agendaku hari ini." lanjut Rafa kembali menatap sesaat padanya.
"Baik tuan."
Rafa segera masuk ke kamar mandi dan cepat membersihkan diri hanya dalam beberapa menit, mengingat kata GPL yang di ucapkan istrinya. Setelah itu dia segera turun sambil membawa jaketnya, jaket istrinya dan sepatu sport istrinya.
Dengan langkah cepat dia menuju taman belakang, di ikuti Wisnu.
Dua orang montir servis kenderaan mewahnya menundukkan kepala begitu melihat dia masuk garasi.
"Kakak...," seru Ara memanggilnya.
"Sayang...." di lihatnya istrinya sedang duduk di sala satu motor besarnya.
Tempat ini merupakan penyimpanan koleksi mewah kenderaan roda empat dan roda dua miliknya, yang jarang skali di gunakan,
bahkan sejak dia pulang dari Amerika, belum pernah di naikin.
Rafa segera mendekati istrinya
Ara tersenyum gembira menyambutnya dari atas motor besar.
"Kak, aku pengen naik motor ini."
"Iya sayang." kata Rafa seraya mengecup keningnya sesaat .
"Turun dulu, pakai jaket sama sepatunya ya?" lanjutnya.
Ara mengangguk, dia segera mengalunkan satu tangannya di leher suaminya.
Rafa segera menggendongnya membantu menurunkannya, lalu memakaikan jaket dan sepatu sport istrinya, untung saja saat ini Ara memakai pakaian Casual, jadi tak perlu lagi balik ke kamar berganti pakaian.
Wisnu segera memeriksa motor gede itu dengan teliti. Meski sebelumnya para montir servis sudah memeriksa dan mengatakan aman untuk di gunakan. Wisnu tetap ingin memeriksa sendiri, dia tidak mau menganggap sepele untuk keselamatan tuan dan nona mudanya.
Setelah mendapat isyarat darinya, Rafa segera memakaikan helm pada istrinya terus menaikkan tubuh istrinya ke belakang, lalu dia sendiri segera naik.
"Kakak bisa nggak bawanya?"
"Tentu dong sayang." kata Rafa sambil memakai helm .
"Tapi aku nggak pernah lihat kakak pakai kendaraan yang berada di sini sebelumnya."
"Waktu pertama kali membeli, aku sudah berulangkali menggunakannya,"
"Ohh gitu..." Ara manggut-manggut dengan mulut mengerucut .
"Kita kemana sayang ?"
"Gak tahu kak, aku hanya kepengen mencoba naik motor ini aja."
"Ya udah, aku yang nentuin ke mana kita pergi, pegangan ya, peluk pinggangku,"
"Jangan ngebut ya kak? pelan pelan aja,"
"Iya sayang, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu," mengelus paha Istrinya pelan.
Ara segera merapatkan tubuhnya di punggung suaminya, lalu memeluk erat perut suaminya.
Rafa menarik gas, perlahan lahan kenderaan roda dua itu bergerak berjalan menuju taman dan keluar ke jalan raya di ikuti Wisnu dan dua orang montir, dengan menggunakan motor yang sama.
"Yeeeee.....!" teriak Ara antusias sambil mengangkat satu tangannya ke atas dan satu tangannya memegang bahu suaminya.
Rafa tersenyum lebar melihat keseruan Istrinya dari kaca spion.
Hembusan angin dingin pagi hari menerpa tubuh mereka.
Ara kembali merapatkan tubuhnya.
"Kita kemana kak ?"
"Ke panti asuhan sayang ! kamu ingin ziarah ke makam orang tuamu kan?" kata Rafa sambil memegang satu tangan istrinya.
"Aku bisa pergi sendiri kak ! kakak kan kerja !"
"Aku sudah memundurkan jadwal kerjaku hari ini. Setelah dari rumah orang tuamu aku akan ke kantor." mengelus tangan istrinya yang memeluk perutnya.
"Enak juga naik motor seperti ini, bisa dekat dan di peluk terus sama kamu sayang." ujar Rafa tersenyum menggoda dari balik helmnya.
"Ih.. mulai mesum lagi." kata Ara dengan wajah masam.
Rafa tertawa kecil, dia membawa tangan istrinya ke atas dan di kecup kecup.
"Fokus kak !"
"Iya sayang !"
Selama perjalanan Rafa singgah di beberapa tempat, pegunungan dan pantai.
Menikmati keindahan dari pesona kedua alam itu, mengambil beberapa gambar foto bersama istrinya dengan pose mesra.
Ara melonjak senang melihat keindahan pantai di pagi hari, serta melihat keindahan alam bawah dari atas pegunungan, hamparan pepohonan hijau bahkan keindahan laut terlihat dari atas, rumah rumah penduduk dan bangunan besar dan megah yang tampak mengecil.
Bukan hanya di pantai dan pengunungan, di setiap tempat yang di anggap indah, mereka berhenti dan menikmati keindahannya dengan penuh rasa syukur.
Wisnu juga mengabdikan momen perjalanan indah tuan dan nona mudanya dalam rekaman video dan foto, dia ikut senang melihat kebahagiaan dari kedua orang yang sangat baik padanya dan menghargai dirinya meski hanya seorang pelayan.
Selama 4 jam menempuh perjalanan karena banyak singgah, akhirnya mereka sampai di Pantai Asuhan sekaligus pondok pesantren, sekolah madrasah Ibtidaiyah, madrasah Tsanawiyah, madrasah Aliyah tempat menimba ilmu agama bagi anak-anak.
Suasana tampak hening dan tenang karena anak anak sedang belajar.
Rafa dan Ara langsung mengunjungi makam orang tua Ara di dampingi ustadz Arif dan mbok Imah yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Membersihkan pekuburan yang memang sudah bersih karena selalu di rawat, kemudian menyapa serta mengirim doa.
"Ayah ibu, terimakasih sudah menghadirkan bidadari cantik lembut berhati malaikat ini ke dunia ! aku sangat beruntung memilikinya, aku berjanji pada kalian, akan selalu membuatnya tersenyum dan bahagia, memberikan segenap cinta dan kasih sayangku pada putri kalian selama aku bernafas," kata Rafa tulus di dalam hati seraya menyentuh nisan orang tua Ara bergantian.
Dia memeluk dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang di depan makam kedua orang tua Ara.
Setelah itu mereka kembali ke Asrama, ke kamar Ara, Mandi dan mengganti pakaian, sarapan sejenak.
Lalu pergi ke kantor sekolah menyapa para
guru pengajar, para ustadz dan ustadzah.
Menyapa para anak anak asuhnya di setiap ruang kelas, yang menyambutnya dengan senang dan gembira seraya memanggilnya IBU. Karena bagi mereka Ara adalah ibu kandung mereka, karena telah menyelamatkan hidup mereka di jalanan dan memberikan cinta dan kasih sayang seperti seorang ibu kandung. Mereka sangat menyayangi Ara, setiap Ara datang mereka berebutan memeluk dan mencium tangan Ara.
Selanjutnya Ara menyapa para lansia yang tinggal di bangunan tersendiri dan juga para perawat perawat mereka, para orang tua itu juga sangat menyayangi Ara karena telah memberikan tempat tinggal yang layak dan memenuhi kebutuhan hidup mereka saat mereka di terlantarkan oleh anak anak kandung mereka. Tidak semua di terlantarkan, sebagian dari orang tua itu tinggal di panti jompo tersebut karena faktor ekonomi dan tidak punya keluarga.
Terakhir Ara melihat dan memberi makan kucing kucing peliharaannya di tempat penampungan tersendiri.
Lalu mereka masuk ke ruang kerja Ara sebagai pendiri dan pemilik Yayasan Pendidikan Islam ini, untuk istrahat.
"Capek sayang?" tanya Rafa mendengar desahan kecil dari mulut istrinya.
Iya kak, tapi aku senang !" kata Ara tersenyum seraya melepas sepatu platnya.
"Terimakasih ya kak, atas pemberiannya." ucap Ara kembali, teringat pada barang barang kebutuhan anak anak panti yang di turunkan dari mobil kontener tadi. Semua barang barang itu di pesan Wisnu dalam perjalanan kemari atas perintah tuannya sebagai oleh oleh untuk anak anak.
Rafa hanya tersenyum, lalu menggendong dan membawa tubuh istrinya ke tempat tidur yang ada di ruangan itu, ruang istrahat yang tidak terlalu besar, hanya berukuran 5x5m, tapi memiliki fasilitas lengkap termasuk kamar mandinya.
Mereka berbaring saling berhadapan, kepala Ara berbantal di lengan suaminya.
Rafa mengecup kening istrinya lembut.
"Kamu sedang memikirkan apa sayang ?" ucapnya melihat istrinya terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ara membuang nafas panjang hingga menerpa di wajah suaminya.
"Aku sedang memikirkan seseorang yang sangat baik dan berhati mulia." katanya pelan.
"Seseorang yang sangat baik?" tanya Rafa dengan mata menyipit.
Ara mengangguk.
"Siapa ?" tanya Rafa kembali, penasaran.
"Hamba Allah. Aku sangat mengaguminya, sudah lama aku mencari tentang dirinya." jawab Ara kembali.
Rafa mendesah pelan, wajahnya langsung berubah. Dia tidak menyangka kalau istrinya sedang mengagumi seseorang. Kalau perempuan tidak mengapa. Tapi kalau seorang pria ? tentu dia tidak bisa menerimanya dan itu sangat bermasalah baginya.
"Siapa dia? apa seorang wanita...atau pria?" menatap lekat wajah istrinya.
"Aku gak tahu kak, aku belum pernah bertemu dengannya, makanya aku memberi nama Hamba Allah kepadanya."
Rafa menarik nafas lega, karena jenis kelamin orang itu belum pasti, tapi kenapa istrinya mencari dan mengagumi seseorang yang tidak pernah bertemu dengannya? apa yang telah di lakukan orang itu pada Ara? batin Rafa.
"Kenapa kau memberinya nama seperti itu ? memangnya kebaikan apa yang telah di lakukannya kepadamu hingga membuatmu begitu mengaguminya dan mencari keberadaannya ? dan....bagaimana kalau dia adalah seorang pria?" tanya Rafa bertubi-tubi dengan tatapan penuh menyelidik.
Ara tertawa kecil, dia dapat menangkap ada nada kecemburuan dari balik pertanyaan suaminya.
"Biasa aja deh nanya nya kak, gak usah cemburu gitu." mengecup sekilas bibir suaminya.
Rafa menggerutu.
"Aku nggak suka kamu mengagumi orang lain selain aku sayang, apa pun alasannya, gak boleh, cukup aku saja yang kamu kagumi di dalam hati dan hidup mu." menekan kata katanya.
Ara kembali tertawa kecil?
"Ih kakak .. terlalu berlebihan deh. Aku bahkan tidak tahu apa dia seorang wanita atau pria." mencubit kedua pipi suaminya agak kuat.
Rafa mendengus kasar
"Beruntunglah kalau dia seorang wanita,tapi kalau ternyata dia seorang pria, maka akan ku keluarkan semua organ organ tubuhnya ! aku gak rela dan tidak terima istriku mengagumi lelaki lain selain aku," katanya tegas dengan tatapan tajam mengandung kekesalan yang mendalam, kedua tangannya terkepal kuat di depan mata Ara.
Ara mendesis kesal dan mengigit kecil tangan itu.
Sakit... tapi tidak di perdulikan Rafa, karena saat ini dadanya di kuasai cemburu dan emosi yang meluap.
"Dan aku akan membelanya, aku akan melawan kakak untuk menyelamatkan hidupnya." kata Ara ketus dengan bibir mengerucut menatap balik tajam kepadanya.
Rafa terhenyak, semakin gusar dan kesal bahkan mulai marah.
"Ngomong apa barusan? berani ya kamu melawanku?" memegang rahang istrinya kuat.
"Aku akan melawan kakak, menyelamatkan hidupnya dari kecemburuan seseorang yang berlebihan." kata Ara kembali menekan kata katanya, menantang tatapan kemarahan di mata suaminya yang hanya setengah jengkal dari wajahnya.
Ingin rasanya dia tertawa keras melihat wajah yang di penuhi kecemburuan dan emosi ini.
"Seseorang? aku suamimu sayang aku bukan orang lain ! aku wajar dan berhak cemburu." kata Rafa agak keras.
"Ihh kakak, gak usah teriak teriak gitu deh, aku gak budeg." kata Ara kesal menutup kupingnya.
Rafa semakin kuat memegang rahangnya.
"Gak usah kamu mikirin orang itu lagi, gak usah mengaguminya hilangkan dia dari pikiran dan hatimu, entah dia wanita atau bajingan brengsek. Buang dia jauh jauh dari kepala, mata dan hatimu mulai detik Ini. Kalau tidak aku akan memberimu hukuman, faham ?" kata Rafa kembali dengan suara keras, matanya menyorot tajam pada mata Ara.
"Gak mau, kali ini aku gak akan ngikutin kemauan ataupun perintah kakak." Ara tak mau kalah.
"Lepas kak ...sakit tahu...." dia memegang tangan Rafa di dagunya.
Rafa segera melepaskan pegangannya.
__ADS_1
"Kakak menyakiti ku..." ucap Ara dengan suara serak, sedih. Memegang dagunya yang sakit.
Rafa mendesah pelan, merasa bersalah melihat wajah mendung istrinya.
"Sayang, maafkan aku, aku tidak sadar melakukannya ...!" ingin menyentuh wajah istrinya.
Tapi Ara cepat menepis tangannya.
"Jangan pegang pegang, jangan sentuh." kata Ara cemberut, sambil mundur kebelakang.
Rafa terkejut
"Sayang... maafkan aku ! aku sedang emosi tadi, salahmu sendiri membuatku cemburu." merendahkan suaranya, menenangkan emosinya.
"Kakak cemburunya berlebihan, aku sudah katakan belum pernah melihat orang itu." merungut kesal
"Tapi bagaimana jika orang yang kau kagumi itu adalah seorang lelaki ? aku gak terima. Aku sangat mencintaimu sayang, aku tidak bisa terima kau mengagumi dan membagi perhatian mu pada lelaki lain ! gak rela aku, gak sudi aku ! seharusnya kau tahu dan mengerti hal itu." ujar Rafa kembali memberi penjelasan dengan suara di rendahkan.
Dalam keadaan marah bagaimanpun hatinya akan luluh, jika sudah melihat kesedihan dan air mata istrinya.
"Kemarilah ...!" katanya kemudian melebarkan tangannya
"Kemarilah sayang...aku ingin memelukmu." ujarnya kembali lembut dan membujuk.
Ara geleng geleng kepala
"Gak mau, kakak pasti marah marah lagi dan menghukum aku. Pokoknya aku akan terus mencarinya." kata Ara dengan masih cemberut dan sedih.
Rafa membuang nafas kasar.
Rasa kesal dan marah kembali memenuhi hatinya, tapi sekuatnya di tahan karena tidak ingin membuat istrinya takut dan menangis. Rafa semakin heran, bukan hanya sikap istrinya saja yang berubah aneh dan membingungkan, tapi kini istrinya sudah berani membantah dan melawan dirinya tanpa takut.
Rafa segera bangun dan duduk bersandar pada bantal .
"Baiklah jika itu mau mu, tapi ingat.. sebagai suamimu aku gak rela dan ridho ! kau tidak mendengarkan ku, membantah ucapanku hanya karena mengagumi lelaki lain ! dan kau tahu hal itu akan membuat dosa pada dirimu, dosa mu kepadaku dan juga kepada Allah." kata Rafa menggunakan senjata pamungkasnya untuk membuat istirnya patuh pada perkataannya.
Ara terkejut mendengar perkataan suaminya,
wajahnya semakin mendung dan memerah.
Dia mendesah sedih, pertanda dia akan menangis. Perlahan dia bangun dari tidurnya dan segera duduk di pangkuan suaminya,
memeluk dan menekan wajahnya di leher suaminya.
"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud seperti itu, sama sekali nggak ! aku hanya mencintai kakak, sungguh aku hanya mengagumi kakak seorang ! kenapa kakak selalu ragu kepadaku , selalu marah dan cemburu seperti itu ? harusnya kakak percaya padaku. Aku sangat mencintai kakak... " mengecup ngecup lembut leher suaminya.
"Hanya kakak lelaki yang aku cintai dan aku kagumi. Aku bersumpah, aku nggak bohong ,.... Allah tahu kok isi hatiku !" ucapnya pelan dengan suara serak kembali memeluk leher suaminya.
Rafa tersenyum senang penuh kemenangan
tapi juga ada keharuan yang menyeruak di hatinya. Kalau melihat tingkah istrinya manja polos seperti ini membuat ia gemas dan ingin sekali memeluk dan menciumnya.
"Entah siapa dia, Aku hanya mengagumi kebaikan hatinya. Kebaikan hatinya yang hanya Allah saja yang tahu ! Aku sangat ingin bertemu dengannya, aku ingin berterimakasih padanya untuk segala kebaikannya selama ini, bahkan hingga detik ini. Dan entah sampai kapan kebaikan itu akan terus di berikan pada anak anak asuhku, pada anak anak panti ini."
"Jujur kak, aku bahkan selalu mendoakan dirinya di setiap sujud ku. Agar Allah selalu melimpahkan kesehatan, perlindungan, umur yang panjang, keselamatan dunia dan akhirat kepadanya, melipat gandakan rezekinya beribu-ribu lipat atas kebaikannya selama ini karena telah membangun tempat seindah dan semegah ini, serta menjadi donatur tetap dan selamanya untuk panti Asuhan ini," tutur Ara panjang lebar menjelaskan.
"Semoga Allah memberikan surganya kepada sang dermawan itu, karena telah membangun surga seindah ini untuk anak anak yatim-piatu, anak anak miskin, anak anak terlantar yang kurang beruntung ! juga memberi makan dan pendidikan yang sangat layak untuk mereka, memberi tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan hidup bagi para lansia." lanjut Ara kembali dengan suara serak karena terharu atas kebaikan sang donatur yang tidak di ketahuinya ternyata adalah suaminya sendiri, Rafa.
Rafa terhenyak, terdiam sesaat mencermati siapa yang di maksud istrinya.
Lalu dia tersenyum kecil, karena mulai tahu dan mengerti siapa hamba Allah dan sang dermawan yang di maksud istrinya.
"Jadi hamba Allah yang di kagumi nya itu adalah aku?" batin Rafa, dia kembali tersenyum.
Ingatannya melayang pada status Istrinya yang di unggah di sala satu akun media sosial istrinya, yang di bacanya dulu sewaktu Istrinya masih bersama Raka.
Ucapan terimakasih serta keinginan istrinya untuk bertemu dengan sang dermawan, hamba Allah... yang telah mendonasikan uang yang banyak untuk pembangunan panti asuhan serta menjadi donatur tetap untuk panti Asuhannya, keinginan istrinya untuk bertemu hanya untuk mengucapkan terimakasih sebagai rasa syukur mewakili anak anak panti.
Ara mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan tatapan sedih.
"Kakak, Aku hanya mengagumi kebaikannya, mengagumi kemuliaan hatinya ! seandainya Allah memberikan kesempatan kepadaku dapat bertemu dengannya, aku ingin berterima kasih padanya ! hanya itu.. sungguh." katanya sendu.
Kedua ujung matanya sudah basah.
"Bisa nggak kakak carikan dermawan itu untukku? kalau kakak udah dapat orangnya, sampaikan ucapan terima kasihku dan juga rasa syukur anak anak panti kepadanya." pintanya kembali.
Rafa tersenyum terharu, tersentuh dengan ucapan istrinya. Dia mengelus ngelus lembut punggung istrinya. Menatap lekat mata teduh yang memancarkan ketulusan dan keikhlasan hati yang murni.
"Sayang .... pemberian yang tulus tidak butuh ucapan terimakasih dan balasan apapun. Jika niatnya memberi karena lillah, maka baginya cukup Allah saja yang tahu semua amal
jariyahnya itu. Mungkin karena hal itu, sang dermawan tidak ingin menunjukkan jati dirinya pada kalian dan menjadi donatur rahasia." menjelaskan maksud dirinya tidak ingin di ketahui Ara sebagai donatur.
"Dan bukan hanya karena Allah sayang, tapi karena aku mencintaimu, hatiku tergugah melihat perjuangan kerasmu , pengorbanan mu, kepedulian mu menyelamatkan hidup anak anak yang tidak beruntung itu." guman Rafa di dalam hati.
Ara angguk angguk kepala.
"Mungkin kakak benar. Sudah pasti maksud sang dermawan itu seperti yang kakak katakan, karena sudah selama ini dia tidak datang ke tempat ini dan menunjukan dirinya kepada kami ! baiklah ...aku tidak akan mencarinya lagi, biarlah Allah yang membalas kebaikannya. Aku dan anak anak cukup mendoakan yang terbaik untuk balasan semua kebaikannya selama ini." katanya menyerah pasrah.
Rafa tersenyum, lalu mengecup dagunya.
"Doamu sudah lebih dari cukup sebagai ungkapan rasa terimakasihmu kepadanya.
Tapi karena kau sudah jujur padaku maka aku akan membiarkanmu untuk mengagumi dirinya, kagumi dia sepuas hatimu, pujalah semaumu di setiap saat, setiap waktumu. Aku tidak masalah sayang, tapi ingat ya.. hanya dirinya seorang, bukan para donatur dan dermawan lain, mengerti ?"
Dahi Ara mengerut mendengar ucapannya.
Tadi melarang dan marah marah, sekarang malah di izinkan? batin Ara menatap wajah suaminya lekat dengan bingung.
"Kakak aneh deh !" ucapnya dengan mata menyipit.
"Kok aneh?" Rafa pura pura bingung.
"Ya jelaslah aneh ...tadi kakak marah marah, sekarang malah menyuruhku untuk mengaguminya bahkan menyuruhku untuk memujanya, jelas saja aku merasakan keanehan dan sesuatu yang janggal." kata Ara menatap dalam-dalam.
Ara memegang wajah suaminya .
"Aku jadi curiga ..!" katanya kemudia menyelidik kedua mata suaminya.
Rafa tertawa kecil di dalam hati .
"Curiga apa ?"
Ara tersenyum kecil dan jahil. Dia turun dari pangkuan suaminya dan juga dari ranjang.
"Nggak ah, aku gak akan mengaguminya lagi apalagi memujanya. Aku akan membuang dia dari hati dan pikiranku. Mungkin saja orangnya pria tua, jelek, bau, bodoh, botak dan perut buncit kayak keledai." kata Ara dengan wajah manyun.
Rafa terkejut.
"Apa katamu? sembarangan kalau bicara, beraninya kamu ngatain aku seburuk itu?" sentak Rafa keras tanpa sadar, dia langsung
turun dari ranjang dan menangkap Ara.
Ara secepatnya menghindar dan tertawa terbahak bahak karena suaminya tanpa sadar mengakui dirinya sebagai sang donatur.
Rafa tertegun sesaat di tempatnya menyadari perkataannya membuat jati dirinya sebagai donatur rahasia terungkap.
Dia mengakui kepintaran istrinya dan betapa cerobohnya nya dirinya masuk dalam perangkap jebakan perkataan istrinya.
Rafa tersenyum kecil, dia mengalihkan pandangannya mencari keberadaan istrinya yang tidak ada di depannya, segera dia membalikkan badannya ke belakang.
Sebuah kecupan lembut mendarat tiba tiba di bibirnya, lalu menyusul tubuh Ara melompat naik ke atas tubuhnya dan kedua tangannya bergelayut di lehernya.
Di antara keterkejutannya, Rafa cepat memeluk dan menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh.
Ara segera melabuhkan banyak Kecupan dan ciuman di wajah suaminya .
"Aku tidak tahu kata kata apalagi yang harus ku sampaikan sebagai ucapan terimakasih ku dan juga anak anak kepada kakak." lanjut Ara kembali menatap sedih bahagia kedua mata suaminya.
Rafa tersenyum terharu.
"Kalau begitu nggak usah ngomong apa apa lagi sayang ! sudah terlalu banyak doa terbaik yang selalu kau ucapkan, setiap saat kau pinta ke pada Allah untukku." ucapnya seraya mengecup kening istrinya lembut.
Ara kembali memeluk leher suaminya.
Rafa membalas pelukannya dengan cinta, berulangkali dia mengecup bahu istrinya, membelai punggung istrinya lembut .
Melihat istrinya senang dan bahagia seperti ini membuat dirinya juga bahagia, karena kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaannya.
Dia semakin memeluk tubuh wanita yang sangat di cintainya ini....dan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya dengan hangat penuh kasih sayang.
"Kamu istrahat dulu ya sayang? tadi kan katanya capek? aku gak ingin kamu sakit." ucap Rafa beberapa saat.
Ara mengangguk, Rafa membawanya ke atas ranjang, dia segera berbaring.
Lalu menarik tubuh istrinya berbaring di sampingnya berbantal di lengannya, keduanya kembali berbaring saling berhadapan .
Rafa menelusuri setiap bagian wajah cantik ini dengan jari telunjuknya lembut.
Ara tersenyum, kembali mengecup mengecupi wajah suaminya.
"Kakak nggak pulang saja? kakak kan harus kerja." menatapi wajah tampan suaminya .
"Setelah shalat jum'at aku akan kembali sayang, apa kau masih ingin di sini?" jawab Rafa mengelus lembut pipi istrinya dengan belakang jari jemarinya, wajah istrinya semakin bersinar dan mempesona.
Dahi Ara tampak mengerut bertanda dia sedang berpikir.
"Boleh nggak Cio dan Cia di bawah kesini, mereka sangat suka tempat ini."
"Kau ingin mereka datang dan menemanimu
di sini ?"
"Iya, aku juga lupa pamit pada mereka tadi, mereka pasti nyari aku." keluh Ara teringat kedua bocah bocah lucu itu.
"Baiklah sayang, aku akan meminta izin kak Nesa dan menyuruh ucil dan pak Sam membawa mereka ke sini." kata Rafa tersenyum terharu dengan perhatian dan kasih sayang Istrinya pada kedua keponakannya. Meski berada di panti Asuhan bersama dengan anak anak asuhnya, istrinya tetap ingat pada kedua bocah-bocah itu.
Ara tersenyum senang.
"Terimakasih kak..." mengecup tangan suaminya lembut.
Rafa menunjuk bibirnya untuk di kecup .
Ara menatap dengan wajah masam, meskipun selalu dan setiap saat di curahi ciuman, suaminya ini tetap gak akan puas.
Rafa tersenyum kecil, dia memegangi dagu istrinya, mendekatkan wajahnya dan mengecup ngecup bibir merah merekah alami istrinya lembut, lalu beralih lebih intens lagi mencium dan mengisap rahang, dan bibir atas bawah Istrinya bergantian. Di matanya istrinya semakin menggairahkan dan mempesona. Aura kecantikannya makin hari makin terlihat memesona dan membuatnya mabuk kepayang.
Ara memejamkan matanya tak membalas,
karena bisa lain ceritanya kalau dia melayani ciuman ini, sementara waktu shalat jumat sejam lagi, dia hanya mengatakan jangan melakukan yang lebih.
Dan selanjutnya dia membiarkan suaminya menciumi wajah, leher dan merangkum kedua buahnya sampai suaminya puas, mendekap tubuhnya dan entah sampai kapan akan merasa puas, karena Rafa tidak akan pernah puas dan bosan untuk menikmati keindahan tubuh istrinya.
******
Segala bentuk persiapan pernikahan Dion dan Sophia sudah rampung.
Tempat pelaksanaannya di sebuah gedung mewah.
Sophia yang sangat ingin menjadi istri Dion sangat antusias mempersiapkan segalanya dengan sangat sempurna tanpa kekurangan apapun.
Dia sudah tidak sabar menunggu dan menantikan moment spesial bahagia dalam hidupnya, yang tinggal menghitung jam.
Terutama ketidak sabarannya menjadi istri dan nyonya Dionel Raymond Alkas, pewaris tunggal DRA Group. Apalagi setelah menikah nanti, Dion akan menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan perusahaan. Dan melalui rapat umum pemegang saham, Abimanyu Widjaya ayahnya, akan mendukung dan memilih Dion menjadi presiden direktur DRA Group berikutnya menyingkirkan pesaing lainnya, karena ayahnya memiliki saham tertinggi di perusahaan tersebut dari beberapa pemilik saham lainnya.
Rumah megah kediaman Raymond Alkas juga tampak sibuk mempersiapkan acara yang akan gelar sebentar malam, meski mereka hanya dari pihak laki laki tetap sibuk mempersiapkan untuk kelancaran proses acara.
"Cindy, apa Dion punya nomor telepon yang lain ? hubungi kakakmu, dan suru dia kembali secepatnya." kata Dinda pada Cindy.
Sejak tadi dia gelisah karena Dion belum pulang ke rumah, teleponnya juga sangat susah di hubungi.
"Gak ada tante, hanya satu itu nomor kak Dion yang ada padaku, aku juga sudah menghubungi berulang kali tetap belum aktif, pesanku juga belum terbaca."
Dinda semakin gelisah dan tidak tenang.
Dia mondar mandir kesana kemari tak tentu arah.
orang-orang suruhannya yang di perintahkan mencari Dion di apartemennya dan juga tempat tempat yang biasa dia datangi, tempat dia nongkrong mengatakan tidak menemukan Dion di tempat tempat itu.
Cindy juga jadi tidak tenang,.dia juga bingung mencari kakak sepupunya itu ke mana lagi. Matanya ikut bergerak kesana-kemari mengikuti gerakan tubuh Dinda yang mondar mandir, dan itu membuatnya pusing dan mual.
"Cin, kamu gak usah lihat lihat mamanya kak Dion." kata Ines yang memperhatikan dirinya
yang tampak berkeringat.
Ines ikut datang lebih awal untuk menemaninya karena khawatir dengan keadaannya.
Tapi alasan yang di katakan pada cindy dia ingin datang bersama Cindy karena dia tidak punya partner.
Cindy segera bangkit berdiri mengikuti tarikan tangan Ines.
"Ayo Cin kita keluar !" kata ines.
"Tante,.kami keluar dulu. Kami akan berusaha mencari keberadaan kak Dion." ucap Cindy pada Dinda.
"Kalau sudah ada kabar mengenai kakakmu cepat hubungi tante dan suru dia segera pulang ! sebelum pamanmu kembali, dan jangan sampai pamanmu mengetahui ketidak beradaannya di rumah ini." ujar Dinda.
"Iya tante..." kata Cindy kembali, lalu segera melangkah menuju pintu utama, berjalan kesana-kemari di teras hingga halaman dan tempat parkir melihat lihat kemunculan Dion.
"Kak Dion kemana sih?" rungutnya gelisah.
Dia tahu Dion sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin di ganggu.
"Cind, coba hubungi asisten kak Dion,siapa namanya? pak Toni kan?" ucap Ines.
"Aku sudah menghubunginya Nes, tante Dinda juga sudah ! kata pak Toni, kak Dion tidak bersamanya. Kak Dion pergi tanpa pamit darinya. Bahkan pak Toni juga sedang sibuk mencarinya sekarang. Aku khawatir Nes jika paman Ray sampai tahu dia belum kembali, paman Ray pasti akan marah besar Dan itu akan berdampak buruk pada kesehatannya." kata Cindy menatapnya lekat.
"Ya ampun Kak Dion, ada di mana kakak sekarang? kenapa keras kepala sekali sih ? kenapa tidak mengerti juga kalau pernikahan ini untuk menyelamatkan masa depan perusahaan dan juga diri kakak?" ucap cindy kembali pada dirinya sendiri. Dia meremas remas ponselnya agak kuat.
Perkataannya membuat Ines meyakini kalau ayah dari bayi yang di dalam kandungannya buka anak Dion. Di lihat dari kekhawatiran Cindy yang menunggu kepulangan Dion dan keinginan Cindy yang sangat mengharapkan Dion menikah dengan Sophia tanpa ragu dan tanpa ada kesedihan terlihat dari wajahnya.
"Terus kalau bukan kak Dion ayah dari bayimu, lalu siapa ?" guman Ines bertanya di dalam hatinya menatap perut Cindy yang terlihat menonjol sedikit yang berusaha di tutup blazer panjangnya.
Cindy tiba tiba berhenti mondar mandir seraya mengangkat jari telunjuknya.
"Jika kak Dion tidak dapat di temukan di semua tempat, jangan jangan dia berada di..." ucapannya tergantung. Dia teringat satu tempat.
"Di mana Cin ?" tanya Ines dengan mata menyipit .
"Ikut aku Nes ..!" Cindy segera menarik tangannya.
Mereka berjalan cepat menuju jalan raya mencari taksi.
"Pelan pelan Cind, nanti perutmu sakit lagi !" tegur Ines melihat Cindy jalan terburu-buru.
Cindy menganggap Ines hanya tau kalau dia sakit perut karena diet, bukan karena sedang hamil.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, perutku baik baik saja. Pak, antarkan kami ke kawasan apartement X secepatnya." katanya pada sopir.
Taksi segera bergerak berjalan.
"Cind, itu bukannya tempat apartement lamamu ?" tanya Ines.
"Iya Nes !"
"Kamu yakin kak Dion ada di sana? bukannya tempatmu itu sudah lama kosong ?"
"Iya, tapi entah mengapa filing ku mengatakan kak Dion ada di sana." kata Cindy seraya menekan nekan pelipisnya.
Dia semakin pusing setelah naik taksi ini .
Perutnya terasa di aduk aduk dan akhirnya ... Uweeek.. Uweeek..dia muntah muntah di jendela mobil.
Ines terkejut dan langsung menepuk nepuk punggungnya.
Sopir taksi melihat dari kaca spion.
"Maaf pak, teman saya mabuk kendaraan." ujar Ines pada sopir.
"Aduh neng, mobil saya jadi kotor kena muntah."
"Maaf pak, maaf ! nanti saya akan kasih ongkos lebih untuk mencuci mobil bapak." kata Ines kembali.
"Boleh neng kalau gitu." kata sang sopir dan kembali fokus ke depan.
Ines mengelus ngelus punggung Cindy yang kepalanya tersandar pada pintu mobil, keringat dan air mata tercampur membasahi wajahnya .
matanya terpejam karena masih merasa pusing.
Ines mengambil tissue di dalam tasnya, tapi dia lupa membawanya .
Dia segera membuka tas selempangnya Cindy memeriksa tissue, di dalam tas itu ada buah mangga yang tinggal setengah, beberapa obat dan vitamin yang di pasti kan Ines itu adalah obat hamil dan vitamin Cindy .
dan terakhir Ines melihat kertas pemeriksaan kehamilan.
Perlahan Ines mengambil kertas itu seraya menoleh pada Cindy yang masih tersandar di pintu mobil dengan mata masih tertutup.
Dia segera melihat dan memeriksa kertas hasil USG itu .
Hah ?? matanya melongo lebar setelah membacanya. Usia kandungan 14 minggu ( tiga bulan 2 minggu ) dan.... kembar? Ines kembali terbelalak seraya menutup mulutnya yang terbuka lebar.
Cindy hamil anak kembar ?
Dengan cepat Ines memasukkan kembali kertas itu dan memposisikan ke tempat semula . dia segera mengambil tissue dan mengunci Kembali tas Cindy dengan tangan sedikit gemetar, lalu menyapu keringat di wajah Cindy dengan pelan pelan.
Dia menatap sedih wajah sahabatnya ini.
pantas saja tubuhnya semakin kurus, tak berselera makan, tak ada nafsu makan.
Tenyata dia sedang hamil anak kembar.
"Cindy, sungguh malang nasibmu, betapa menderitanya dirimu, betapa tersiksanya kau merasakan beban kehamilan mu seorang diri ! kenapa kau tidak membaginya pada kami ? kenapa kau menyembunyikan kepada ku dan Ara?" batin Ines.
Tak terasa air matanya mengalir melihat keadaan sahabatnya yang sekarang sedang melawan rasa tersiksa akibat muntah karena pengaruh ngidam hamil muda yang di rasakan.
Tidak berapa lama mobil berhenti di kawasan apartemen. Ines segera membayar ongkos lebih.
"Cind, kita udah sampai. Kamu udah baikan ? yuk kita turun." Ines membangunkannya dengan menepuk pipinya.
Perlahan Cindy membuka matanya, memijat mijat kening dan matanya sejenak. Sekuat mungkin menenangkan diri, lalu membuka mobil.
Ines ikut turun mengikut di belakangnya untuk memegangi dia turun.
"Kamu bisa jalan ?" tanyanya memegang lengan kanan Cindy.
Cindy mengangguk
"Iya Nes ..aku udah baikan kok..kamu gak usah khawatir." katanya lemah.
"Biar begitu, aku akan tetap memegang mu, kamu pasti masih merasakan pusing. aku gak mau kamu jatuh."
Cindy tersenyum terharu.
"Terimakasih Nes !" terharu dengan kebaikan sahabatnya ini.
Ines mengangguk dan membalas senyumannya .
Mereka segera berjalan menuju lift dan masuk .
lift berhenti di angka yang di tekan, pintu terbuka, mereka segera keluar. Menyusuri koridor setiap unit apartemen.
Langkah mereka berhenti tepat di depan pintu sebuah apartemen, apartemen Cindy yang lama, sempat di kontrakannya dulu tapi Dion menarik kembali dan mengembalikan uang si pengontrak.
"Kita masuk bagaimana Cin? pintunya terkunci."
"Aku akan mencoba membuka dengan kode akses pin yang lama." kata Cindy segera menekan angka kelahirannya, pintu terbuka.
Keduanya saling bertatapan tersenyum.
"Artinya kak Dion ada di dalam Nes, Karena hanya dia yang tau kode PIN pintu ini." kata Cindy kembali.
"Ayo kita masuk !" ajaknya kemudian.
Mereka segera masuk perlahan lahan setelah menutup pintu kembali.
Mereka memperhatikan sekelilingnya, fasilitasnya masih sama seperti dulu, belum ada yang berubah, dan semuanya masih terawat bagus.
Apartemen ini hanya satu lantai, memiliki dua kamar lengkap dengan kamar mandi dan balkon, memiliki ruang tamu, ruang tv dan makan bersambungan dengan dapur.
Apartemen ini di beli Dion untuk Cindy sewaktu Cindy masuk semester dua. Saat itu Dion sedang menyelesaikan kuliah Pascasarjananya di Amerika dan bekerja di perusahaan cabang papanya di sana.
Ines dan Ara sudah sering datang ke sini jadi mereka tahu keseluruhan setiap sudut ruangan ini beserta isinya.
Mereka menelusuri setiap ruangan dan kamar tamu, tapi kosong.
Cindy membawa kakinya melangkah ke kamarnya yang dahulu. Ines mengikuti dari belakang, keduanya diam melangkah tanpa kata.
Perlahan Cindy membuka pintu setengah, keduanya masuk pelan pelan. Mereka melihat ranjang kosong, tapi di atas sofa tunggal tergeletak sebuah jas, tuxedo dan dasi, di belakang pintu juga tergeletak sepatu dan kous kaki.
Keduanya kembali saling berpandangan.
"Mungkin kak Dion ada di balkon." kata Cindy dengan suara rendah, dia segera melangkah menuju balkon dengan langkah lambat.
Di balkon ada sebuah sofa tunggal panjang yang bisa di stel, duduk dan di luruskan.
Cindy mendekat perlahan, dia melihat Dion sedang berbaring setengah duduk dengan tangan bersidekap di dada, kakinya saling menempa silang, memakai celana kantor dan kemeja kantor abu abu yang di lipat sebatas lengan.
Keduanya menatap tak bergeming wajah tampan Dion yang sedang tertidur dengan tenang tanpa ada beban .
Ines memberi isyarat untuk membangunkan,
Cindy mengatakan tunggu sebentar, dia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Dinda yang mengatakan keberadaan Dion.
Lalu dia melangkah semakin dekat ke sofa, mencondongkan tubuhnya kedepan, tangannya bergerak hendak menyentuh tangan Dion untuk membangunkan.
"Kak Di.....!" belum selesai panggilannya,
tangannya cepat di tangkap dan di cekal kuat oleh Dion, karena Dion merasa ada yang hendak menyerangnya.
Cindy menjerit kesakitan, tubuhnya jatuh terjerembap di atas dada Dion karena tarikan kuat kakak sepupunya itu.
Di belakangnya, Ines juga terkejut melihat Cindy jatuh.
"Awww..!" Cindy meringis merasakan pegangan kuat di tangannya.
"Cindy ?" seru Dion setelah mengenali suara itu dan melihat wajah kesakitan Cindy yang berada dekat di depan wajahnya.
keduanya saling menatap.
"Iya kak, aku Cindy, aduh... sakit kak ... lepas."
Dion tersadar dan langsung melepaskan cekalannya, lalu perlahan bangun dan membantu mendudukan Cindy di pinggir sofa. Dia juga segera duduk di samping gadis itu.
"Maaf Cin, kakak nggak sengaja. Kakak pikir ada yang hendak nyerang kakak tadi dalam tidur." kata Dion memeriksa tangan Cindy yang sakit.
"Nyerang apa an, aku hendak membangun kan kakak tadi." rungut Cindy kesal.
Dion menatapnya lekat, lalu memandangi Ines yang menyapa tersenyum padanya .
"Kalian berdua ngapain ke sini ?"
"Kakak masih tanya juga mau ngapain ?" Cindy menatapnya tajam.
"Kakak masih ingat kan malam ini kakak akan menikah? kakak nggak lupa kan? semua orang pada heboh nyariin kakak tau nggak ? tante Dinda sangat gelisah dan khawatir mencari cari kakak kesemua tempat. Nomor kakak nggak bisa di hubungi." kata Cindy agak keras dan kesal.
"Ayo kita pulang sekarang." berdiri dan menarik tangan Dion.
Tapi Dion menahan kuat tangannya.
"Ayo dong kak, tinggal 4 jam lagi waktunya dan masih banyak yang harus kakak persiapkan." kata Cindy semakin kesal.
Dion mendengus kesal.
"Kakak gak yakin dengan pernikahan ini Cin, aku gak menginginkannya, aku tidak menyukai Sophia."
"Aku setuju, aku juga nggak suka sama sifatnya yang arogan, angkuh dan sombong." timpal Ines
"Ines..." teriak Cindy.
"Kak Dion nggak cocok sama nenek lampir itu. Kak Dion orang baik, sementara dia kasar dan sombong." cibir Ines kembali.
"Masih banyak wanita baik dan lembut di luar sana." lanjut ines ketus.
"Diam Nes .. seharusnya kau bantu aku. Diam di situ jangan bicara lagi atau pergi sana duduk nonton TV aja." teriak Cindy kembali.
Ines mencibir, lalu memplester mulutnya.
diam berdiri dengan mulut di monyongkan.
Cindy kembali menatap pada Dion
"Jangan keras kepala dong kak, kakak sudah tahu betapa berartinya pernikahan ini untuk kelangsungan masa depan perusahaan, nasib karyawan, untuk paman Ray, juga masa depan dan karier kakak." memegang tangan Dion.
"Kesampingkan ego kakak. Cobalah untuk membuka hati pada Sophia,.aku yakin kakak akan menyukainya pelan pelan." lanjutnya lagi dengan suara serak dan sesak di dada.
Dion membuang nafas kasar
"Aku gak mau, semua kekacauan dan masalah yang terjadi dalam perusahaan adalah kesalahan papa sendiri."
"Berhentilah menyalahkan paman Ray, paman juga pasti tidak ingin terjadi masalah pada perusahaan. Semua sudah terjadi, sekarang tinggal cara kakak menyelamatkan kebangkrutan perusahaan, anggap saja sebagai balas budi kakak pada orang tua. Turutin kemauan mereka dengan menikahi Sophia, Ayo kita pergi....!" Cindy kembali menarik tangannya.
"Ayo kak, kita harus segera sampai di rumah sebelum paman Ray kembali. Paman akan marah besar jika mendapati kakak tidak berada di rumah, dan itu akan berdampak buruk pada kesehatan paman Ray. Apa kakak mau penyakit paman kambuh lagi? tidak ada gunanya juga kakak menolak pernikahan ini sekarang, karena pernikahan ini sudah tersebar di seluruh kalangan teman-teman bisnis paman, teman teman kakak dan juga teman teman bisnis orang tua Sophia. Undangan pernikahan sudah tersebar dari beberapa hari yang lalu. Dan waktunya tinggal menghitung jam. Bayangkan bagaimana malunya orang tua Sophia jika pernikahan ini sampai batal, dan pikiran kan bagaimana kekacauan yang lebih buruk lagi akan terjadi pada perusahaan paman. Orang tua Sophia pasti akan menabuh gendang perang pada paman Ray dan akan menarik semua saham pada perusahaan paman dan akan menghancurkan perusahaan paman Ray. Coba kakak pikirkan itu baik-baik." ujar cindy panjang lebar menjelaskan.
Dion meremas kuat rambutnya, semaki gusar dan kesal.
"Ayo mohon dong kak, aku mohon. Kita pulang sekarang ya.." pinta Cindy kembali seraya menarik tangan Dion kuat.
"Aduh..." ucapnya tiba tiba sambil memegang perutnya yang sakit, dia segera belari menuju toilet dan muntah muntah di sana.
Terlalu banyak bicara dengan penuh emosi membuatnya kembali pusing dan mual.
"Cindy !" teriak Ines dan Dion bersamaan. Mereka segera mengejar Cindy ke toilet kamar.
Cindy muntah muntah terus di wastafel sambil memegang perutnya.
Dion segera menahan tubuhnya, menepuk nepuk punggung pelan.
"Cin, kamu baik baik saja ?"
melihat tangan dan kaki Cindy gemetaran
Ines kelabakan dan ketakutan,.dia menyapu wajah Cindy yang keringatan dan basah airmata.
"Cindy..." keluhnya sedih, melihat penderitaan sahabatnya.
"Perutmu sakit lagi ?" ucap Dion, dia segera mengangkat tubuh Cindy dan membawanya ke tempat tidur, dia melepaskan blazer gadis itu dan segera membaringkannya.
"Aku akan menelpon dokter Rido untuk memeriksa perut mu." kata Dion sambil mengambil ponselnya.
Cindy kelabakan.
"Nggak usah kak, aku udah pergi memeriksa ke dokter kemarin, aku hanya kena asam lambung tinggi." dia langsung bangun.
"Sakit perutku tidak apa apa, ini sudah biasa aku rasakan. Sebentar lagi sakitnya akan reda. Sebaiknya kita pergi saja dan pulang ke rumah kakak, pernikahan kakak lebih penting."
"Kamu lebih penting dari pernikahan itu, diam di tempat mu jangan bergerak. Tunggu sampai dokter Rido datang memeriksa mu." sentak Dion, kembali meletakkan ponselnya ke telinga. Cindy semakin tidak tenang dan khawatir, dia cepat mengambil benda pipih itu dan mematikannya.
Dion terkejut dan menatapnya tajam.
"Cindy, kembalikan ponselku."
"Aku benaran gak apa-apa kak ! tanyakan pada Ines,.kemarin dia menemaniku." ucap Cindy sambil memberi kode pada Ines.
Ines jadi kelabakan lagi dan gugup
"Ii iya kak, perut Cindy sakit karena kembung, cukup di olesi minyak telon aja sakitnya akan hilang beberapa saat." ikutan berbohong, padahal dia ingin sekali Dion Segera mengetahui kehamilan cindy biar bisa membantu Cindy untuk keluar dari masalah kehamilannya ini.
"Ines benar." Cindy segera mengambil minyak telon di dalam tasnya dengan hati hati.
Dion menatapi mereka bergantian, lalu segera mengambil telon itu dari tangan Cindy.
Mengangkat blouse Cindy ke atas.
"Kak, biar aku saja yang melakukannya !" ujar Cindy gugup, begitu juga dengan Ines yang terkejut.
"Sudah diam." kata Dion sambil menumpahkan telon di telapak tangannya, lalu di usapkan pelan pelan pada perut Cindy.
Cindy memejamkan matanya merasakan usapan di perutnya, seolah-olah Dion menyentuh bayinya, ke dua ujung mata cindy langsung basah. Dia sangat bahagia, dia menahan tangan Dion sejenak, menekan pada perutnya. Dia ingin lelaki ini memegang dan menyentuh anak anaknya di dalam perutnya, setidaknya untuk terakhir kali.
"Kenapa perutmu tampak besar dan menonjol seperti ini Cin?" ujar Dion memperhatikan dengan teliti perut Cindy.
Cindy terkejut dan langsung membuka matanya.
"Ii itu ..karena pengaruh kembung kak, makanya aku mual dan muntah tadi. Aku kan sudah katakan kalau aku kena asam lambung, nanti juga kembungnya akan hilang jika aku kentut kentut." katanya segera.
Dia langsung menyingkirkan tangan Dion dari perutnya. Lalu menurunkan blousenya dan segera bangun, turun dari ranjang dan memakai blazernya sebelum lelaki ini banyak bertanya tentang perutnya.
"Kak, kita pergi sekarang ya ... tolong jangan membantah dan keras kepala. Aku semakin pusing dan perutku mual beradu mulut terus dengan kakak, aku mohon...ayo kita pergi." pinta Cindy memohon memelas .
Dia segera memakaikan dasi, tuxedo dan jas ke tubuh Dion, lalu menarik tangan Dion kuat keluar dari kamar dan apartemen ini.
Terpaksa Dion mengikuti tarikan tangan gadis itu karena tidak ingin perutnya sakit lagi dan muntah.
__ADS_1
Ines mengikuti dari belakang.
*******