
Rafa yang mendengar nama Raymond Alkas di sebut langsung mengarahkan pandangannya ke depan. Dia mendengus pelan, melihat Dion di sana. Sedangkan Dion belum menyadari keberadaan Ara di dalam ruangan ini karena banyaknya tamu undangan. Tapi dia dapat memastikan kalau Rafa hadir dalam pertemuan tahun ini sama seperti tahun sebelumnya.
Tuan Alkas segera turun dari panggung ballroom di ikuti istri dan anaknya menuju tempat duduk yang berada di depan sisi kanan.
Setelah semua tamu undangan penting hadir, acara segera di mulai dengan mengambil tema acara Politics and Busines. Pertemuan seperti ini selalu di adakan untuk mendiskusikan masalah penting yang di hadapi dunia termasuk kesehatan dan lingkungan. Pertemuan di lakukan di dalam ruang tersendiri yang berada di sebelah ballroom yang hanya di ikuti tamu lelaki terpilih dan beberapa wanita yang memiliki jabatan sebagai CEO. Istri dan anak perempuan tidak di izinkan untuk bergabung.
Sementara menunggu suaminya, Ara berbincang bincang dengan tamu wanita sambil menikmati makanan bersama. Dia juga di kenalkan kepada kelompok organisasi lain.
Dari tempat duduknya, Dinda melihat Ara tanpa sengaja. Wanita anggun itu agak terkejut melihat keberadaan Ara.
"Cindy__!" panggilnya pada Cindy yang sedang menikmati makanannya.
"Ya tante." Cindy menghentikan makannya dan menoleh kepadanya.
"Wanita yang memakai gaun hijau di sebelah sana bukannya Ara?" menunjuk dengan jari yang sedikit dijulurkan ke arah tempat duduk Ara. Cindy mengikuti gerakan telunjuknya.
Cindy kaget melihat Ara."Iya benar, itu Ara tante." Cindy senang. Dia tersenyum melihat Ara.
"Tante, Bolehkah aku ke tempat Ara?" pinta Cindy meminta izin."Aku gak punya teman ngobrol di sini!" lanjutnya kembali.
"Tapi ingat, jaga sopan santun mu di depan wanita wanita yang bersama dengan Ara. Mereka bukan orang sembarangan dan merupakan tamu penting." kata Dinda.
"Aku mengerti tante." kata Cindy. Lalu segera bangkit berdiri.
"Kembalilah sebelum pertemuan pamanmu selesai. Dan tolong kamu cari tau Ara kesini bersama siapa?" bisiknya di depan wajah Cindy.
"Baik tante!" kata Cindy sambil mengangguk.
Dia segera melangkah menuju tempat Ara.
Karena terlalu senang melihat pada Ara, tanpa sengaja dia menyenggol lengan pelayan wanita yang sedang membawa nampan berisi minuman.
Cindy terkejut, begitu juga dengan pelayan.
Untung gelas dan minuman tidak lepas dan jatuh. Pelayan itu segera membalikkan tubuhnya membelakangi Cindy, pura pura sibuk mengatur posisi gelas di atas nampan.
"Maaf, saya tidak sengaja." kata Cindy padanya.
"Eh__tidak apa mbak, saya juga minta maaf karena kurang fokus berjalan. Permisi." kata pelayan itu menunduk, lalu segera beranjak pergi menghindari Cindy.
Cindy tertegun menatap kepergiannya. Dia seperti kenal dengan suara itu. Dan samar samar dia sempat melihat sekilas wajahnya.
"Suaranya familiar di telinga gue, kayak gue kenal.Tapi siapa ya? Cepat banget dia pergi, seolah menghindari gue!" batinnya.
Cindy Kembali teringat tujuan langkahnya.
Dia segera mendekat ke tempat Ara.
"Permisi__!" ucap Cindy sopan. Dia tersenyum kepada mereka yang duduk. Semua mata menoleh kepadanya.
Ara terkejut melihat dirinya.
"Cindy?" seru Ara kaget. Dia bangkit dan segera memeluk sahabatnya dengan senang. Cindy juga ikut senang dan menyambut pelukannya.
Dari jauh Dinda memperhatikan mereka. Dia bukan tidak tahu dengan siapa Ara datang kesini. Dia hanya ingin memastikan lebih jelas. Apa Ara memang datang bersama Ravendro seperti dugaannya, atau bersama dengan orang lain.
Ara memperkenalkan Cindy pada teman-teman barunya. Lalu dia meminta izin ngobrol sebentar dengan Cindy di tempat sebelah.
"Nggak nyangka kita bertemu di sini! Lo cantik banget Ra, sumpah__aka hampir nggak mengenalmu! Dan lo juga terlihat seksi dengan gaun indah ini!" bisik Cindy mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda melihat gaun indah Ara yang mewah dan elegan.
Ara jadi ikut tersenyum dengan malu.
"Benar pakaian aku seksi? Sebenarnya aku juga agak risih dengan gaun ini." keluh Ara.
"Nggak terlalu juga kok Ra! Hanya bagian dada dan bahu lo aja yang terbuka, tapi udah ketutup sama rambut panjang lo, jadi aman kok!" kata Cindy segera agar sahabatnya ini tidak merasa canggung dan tidak percaya diri dengan gaunnya.
"Oh ya, lo kesini sama siapa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Sama kak Rafa __kakak ipar ku. Kau sendiri?" jawab Ara.
"Aku kesini di ajak kak Dion, paman dan Tante Dinda."
"Ohh, jadi kak Dion juga di sini sama orangtunya?"
"Iya, paman Ray dan kak Dion sedang mengikuti pertemuan tertutup sekarang. Aku sedang duduk sama tante Dinda. Secara tidak sengaja tante Dinda melihat dirimu dan dia menanyakan apa itu benar kau."
"Terus, di mana Ny Alkas Sekarang?" tanya Ara.
"Tuh..." Cindy menunjuk ke arah Dinda
yang juga sedang melihat pada mereka.
Ara segera memberikan senyuman ramah sebagai sapaan yang langsung di balas oleh Dinda.
"Ra, foto yuk, terus kita kirimkan ke Ines." ajak Cindy.
"Boleh, aku jadi rindu sama dia!"
__ADS_1
Cindy segera mengambil beberapa foto mereka. Lalu dikirimkan pada Ines. Dia juga mengirim sebuah foto pada Dinda setelah membaca pesan chat masuk dari tante nya yang meminta satu foto mereka.
"Jangan di unggah ke sosmed ya Cind?" kata Ara.
"Nggak kok, aku hanya mengirimkan pada Ines dan tante Dinda!"
"Tante Dinda?" wajah Ara mengernyit.
"Iya, barusan dia chat meminta satu foto kita."
"Untuk apa?"
"Mungkin saja tante Dinda ingin melihat wajah cantikmu dari dekat." kata cindy tertawa kecil. Ara juga jadi ikutan tertawa.
Ruang pertemuan tertutup
Dion merasakan ponselnya bergetar di saku celana. Dengan gerakan pelan dia segera mengambilnya. Dua pesan masuk dari mamanya.
"Ara ada di sini! Dia datang bersama tuan Ravendro." Dion sedikit kaget dengan wajah mengernyit. Pesan kedua gambar foto Ara bersama Cindy. Dion kembali tersenyum menatapi wajah Ara yang sangat cantik anggun mempesona.
Dia mengarahkan pandangannya pada Rafa. Yang saat itu juga sedang menatap tajam kepadanya.
Rafa juga baru saja mendapat pesan masuk dari Moly. Yang di kirim pada ponsel Wisnu. Wisnu segera memperlihatkan pada dirinya.
"Bos, Istrimu sedang bersama dengan teman kuliahnya, Cindy. Sepupu Dionel Raymond Alkas, putra tuan Raymond Alkas." kata Moly dalam pesannya.
Moly juga mengirimkan foto Ara yang sedang duduk bersama Cindy.
Rafa dan Dion saling menatap tajam satu sama lain seolah sedang menguji kekuatan mata elang masing-masing.
Setelah dua jam berlalu, diskusi tertutup selesai dengan lancar. Dengan mendapatkan hasil yang sesuai di harapkan oleh yayasan organisasi.
Mereka segera keluar dari ruangan pertemuan dan bergabung duduk kembali bersama pasangan masing-masing. Saat keluar, Dion memperhatikan Ara sesaat.
Dia tersenyum dan terpukau melihat kecantikan dan penampilan wanita pujaannya itu. Dia semakin bertekad ingin memiliki Ara.
Acara selanjutnya adalah acara santai dan hiburan. Alunan musik mengalun indah. Beberapa pasangan segera turun ke lantai dansa. Yang lain sedang menikmati makanan, sambil mengobrol santai. Ada juga yang tampak berbicara serius soal bisnis dan pekerjaan.
"Sayang, apa kau sudah makan?" tanya Rafa pada Ara.
"Iya kak, tadi aku makan sama temanku, Cindy! Ternyata dia juga ada di sini!" kata Ara tersenyum senang.
"Teman kampusmu itu?"
"Iya__" jawab Ara di selingi anggukan.
"Sama paman dan tantenya, juga kakak sepupunya!"
Rafa manggut dan tersenyum mengakui kejujuran istrinya yang tidak menyembunyikan apapun darinya, termasuk keberadaan Dion di tempat ini.
"Kakak sudah makan?" Ara balik bertanya.
Rafa tersenyum mengangguk sambil menyingkap beberapa helai rambut yang berada di pipi istrinya. Dari jauh Dion dan Dinda memperhatikan mereka.
"Ma, aku ingin menyambangi Ara!" dia mendengus sinis melihat perlakuan manis Rafa pada Ara.
"Tapi ingat, jangan membuat keributan dan masalah." bisik Dinda.
Dion mengangguk. Tapi saat hendak bangkit dari duduknya, dia melihat Ara berdiri.
Rafa mengajak istrinya ke lantai dansa yang di ikuti oleh lainnya.
Rafa memeluk pinggang ramping istrinya.
Begitu juga dengan Ara, segera meletakkan kedua tangannya dibahu suaminya. Keduanya mulai bergerak mengikuti irama musik sambil menatap dengan senyuman. Rafa melirik sekilas ke tempat duduk Dion. Pemuda itu sedang menatap tajam tak bergeming pada mereka.
Rafa memeluk sedikit kuat pinggang Ara, hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Dia menyentuhkan hidungnya pada hidung Ara sambil tersenyum.
"Kak, apa ini nggak berlebihan? Kita sangat dekat seperti ini!" kata Ara merasa tak nyaman dengan kedekatan mereka.
"Kenapa? Kita pasangan suami istri sayang." jawab Rafa acuh.
Rafa mendekatkan hidungnya ke mulut
istrinya.
"Aroma nafas mu sangat wangi sayang! Aku sangat ingin mencicipinya." menatap bibir sensual istrinya.
"Jangan macam-macam kak, kita sedang berada di tempat umum." kata Ara menatap tajam menangkap maksud tidak baik dari perkataan itu
Rafa tersenyum renyah."Hanya ingin mengecupnya sayang." bisik Rafa. Lalu dengan cepat mendaratkan bibirnya ke bibir Ara. Dia menekan sedikit lama untuk di perlihatkan pada Dion. Karena dia mengetahui saat ini Dion sedang memperhatikan mereka melalui laporan Wisnu yang di sampaikan lewat alat kecil yang menyumbat lubang telinganya yang berhubungan langsung dengan Wisnu.
Tanpa sadar Dion mengeram, kedua tangannya mengepal kuat sampai bergetar.
Rahangnya mengeras menahan Amarah dan cemburu.
__ADS_1
Dinda juga tercengang melihat apa yang di lakukan Rafa pada Ara.
"Lihatlah tuan Ravendro bersama pasangannya, mereka sangat romantis dan mesra!" ujar beberapa rekan bisnis Raymond Alklas.
"Cindy, ada hubungan apa antara Ara dan kakak iparnya?" bisik Dinda pada Cindy yang masih terbelalak melihat pada Ara.
"Cindy." bisik Dinda Kembali sambil menyentuh lengannya.
Cindy tersadar, dia tergagap
"A_ada apa tante?" kaget.
"Kau lihat kan seberapa dekatnya mereka? Ada hubungan apa di antara mereka? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Dion?"
"Hubungan mereka hanya sebatas kakak ipar dan adik ipar. Hanya itu yang ku ketahui!" jawab Cindy masih tetap melihat pada Ara.
"Kau yakin?"
Cindy mengangguk cepat.
"Iya Tan, Selama ini Ara selalu terbuka padaku dan Ines. Kami saling terbuka satu sama lain dalam hal apapun! Ara tidak mengatakan kalau punya hubungan dekat dengan kakak iparnya! Aku juga melihat hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik ipar, tidak Lebih." ujar Cindy.
Sejujurnya dia juga sangat kaget melihat Rafa mengecup bibir Ara tadi dan melihat tubuh mereka sangat dekat layaknya pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta.
"Apakah Ara menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi gak mungkin, karena selama berteman, Ara selalu terbuka kepadaku dan ines dalam hal apapun. Begitu juga aku dan Ines yang selalu terbuka padanya! Kita bertiga selalu jujur!" batinnya.
Dion tiba tiba bangkit berdiri. Dinda cepat menahan tangannya.
"Kendalikan dirimu." bisik Dinda menekan suaranya.
"Jangan membuat papamu malu." melihat api cemburu dan kemarahan di mata anaknya.
Dion kembali duduk dengan kemarahan yang semakin mendalam.
"Dion, apa kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka? Keduanya sangat dekat sekali nak, ini bukan lagi hubungan antar kakak dan adik ipar!"
"Aku tahu perlakuan laki laki itu terhadap Ara MA. Laki laki itu selalu menekan dan mengekang hidup Ara. Dia mengikat hidup ara di bawah ancaman dan kendalinya." kata Dion ketus sambil memandang tajam pada Rafa.
"Apa maksudmu?" tanya Dinda tidak mengerti.
"Aku yakin mereka dekat sekarang ini karena terpaksa! Ravendro pasti mengancam Ara untuk patuh mengikuti semua keinginannya. Seperti apa yang dilakukannya pada Ara saat ini!"
Dinda terhenyak.
"Apa benar itu Cindy?" menatap Cindy Lekat.
"Mu_mungkin saja tante. Karena Ara selalu ngomong pada aku dan Ines, kalau dia sangat takut pada kakak iparnya itu." jawan Cindy terbata bata.
"Ara sangat mencintai almarhum suaminya Ma. Tidak mungkin dia mencintai dan menjalin hubungan dengan Ravendro. Di jari manisnya masih melingkar cincin pernikahannya dengan Raka Rahardian. Bahkan dalam tidurnya pun Ara masih bermimpi memanggil manggil suaminya. Dia sangat merindukan dan mencintai almarhum suaminya." sambung Dion Kembali.
Cindy merasa kasihan melihat kakak sepupunya. Dia tahu Dion sangat menyukai Ara. Tapi dia tidak ingin mengatakan kepada Ara karena dia juga menjaga perasaan Ara sebagai seorang sahabat. Dia tahu Ara sudah mengganggap Dion seperti kakaknya sendiri, sama seperti dirinya dan Ines.
Perlahan dia menyentuh tangan Dion.
"Tenangkan hati dan pikiran kakak. Sebentar nanti, aku akan mempertemukan kakak dengan Ara!" bisiknya. Dia menatap wajah Dion yang di penuhi amarah dan rasa cemburu.
Di lantai dansa.
Satu lagu sudah berakhir. Lanjut dengan lagu berikutnya. Rafa dan Ara masih di lantai dansa.
"Kenapa senyum senyum begtu?" tanya Ara merasa aneh melihat senyuman di wajah suaminya.
"Aku sedang mengkhayalkan malam pertama kita sayang. Aku semakin tidak sabar menantikannya." bisik Rafa.
Ara jadi salah tingkah dan langsung menundukkan kepala.
"Sayang, angkat kepalamu, tatap aku. Mari kita bicarakan tentang malam pertama kita." bisik Rafa kembali dengan menggoda.
"Ih kakak...Apa an sih." Ara mendesis kesal dengan wajah cemberut.
Rafa tersenyum dan mengecup puncak kepalanya. Lalu dia berbisik di telinga istrinya.
"Sayang, saat bersama Raka dulu, kau suka style seperti apa? Biar aku siap siap untuk mempelajarinya."
Ara terbelalak.
"Diam lah kak, ini hal yang memalukan." sentak Ara menatap tajam. Lalu kembali menekan wajahnya di dada Rafa.
Rafa tertawa kecil. Tidak berhenti menggoda.
"And, How many round can you be strong? Kasih bocoran ke aku sayang, biar aku akan menyiapkan fisikku sekuat mungkin!" bisiknya dengan tatapan mesum.
Ara mengangkat satu tangannya dan menutup mulut Rafa."Dasar mesum, mesum, mesuum!" jeritnya kesal tapi suara rendah.
Rafa kembali tertawa. Dia mempererat pelukannya di sela gerakan tarian mereka yang asal asalan. Sesekali mengecup puncak kepala Ara. Lampu kamera menyorot terus ke arah mereka. Dan juga pandangan para tamu yang tertuju pada mereka tanpa mereka sadari.
...Bersambung ...
__ADS_1