
Cindy menatap buah mangga dalam genggaman tangan kirinya dengan perasaan senang, sementara satu tangannya mengelus perutnya.
Dia baru saja dari dalam minimarket membeli buah yang masih muda itu, terlihat dari kulitnya yang hijau segar.
Sudah tak sabar Cindy ingin segera melahapnya. Tapi betapa terkejut dia saat seseorang mengambil buah mangganya tanpa permisi ketika hendak di masukkan ke dalam mulutnya. Buah itu di ambil dari genggamannya dan berpindah tangan. Seseorang di belakangnya merebutnya dengan gerakan cepat.
Cindy mendengus kesal dan segera berbalik.
Dia melihat seorang pria berdiri membelakanginya sambil memakan buah mangga itu. Pria tersebut memakai jaket dengan penutup kepala hingga dia tidak bisa melihat wajahnya.
Cindy merungut kesal melihat buah mangganya telah tergigit.
"Maaf, kenapa anda mengambil buah mangga ku tanpa permisi? Jika anda menginginkannya mintalah dengan baik baik." katanya kesal menahan emosi.
Pria tersebut tidak menjawab dan kembali menggigit mangga dan mengunyahnya dengan santai. Cindy semakin kesal. Dia cepat menarik kuat lengan lelaki itu hingga mengarah padanya.
Cindy terkejut setelah melihat siapa lelaki ini.
"Kak Dion?" ucapnya kaget.
Dion tersenyum menatapnya masih terus mengunyah. Wajahnya mengkerut dan mengernyit karena memakan buah yang asem itu.
"Iya, ini aku dasar pelit." kata Dion menjitak keningnya.
Cindy meringis tertahan.
"Siapa yang pelit. Kakak merebutnya tanpa permisi. Kalau mintanya baik baik pasti aku kasih." jawab Cindy sambil menekan keningnya yang sakit.
Dion tertawa kecil.
"Aku melihatmu sangat ingin melahapnya. Makanya aku kerjain saja untuk merebutnya saat di depan mulutmu." katanya masih terus tertawa.
Cindy menatapnya cemberut. Dia memukul mukul lengan kakak sepupunya itu kuat.
Dion membiarkan sesaat, lalu segera menangkap kedua tangannya dan menarik tubuh adik sepupunya ini ke dalam pelukannya, memeluknya hangat.
Cindy terhenyak, dia terdiam.
Ada kesedihan dan keharuan menyeruak di hatinya. Kedua ujung matanya langsung basah.
Entah kenapa dia sangat sedih tapi senang dan bahagia di peluk oleh kakak sepupunya ini. Dia merasakan rindu pada kakaknya ini. Perlahan-lahan dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Dion, memeluknya kuat, kedua ujung matanya semakin basah. Cindy ingin sekali menangis, tapi dia menekannya kuat.
Mereka berpelukan cukup lama, melepas kerinduan setelah hampir dua bulan berpisah tanpa kabar dan saling menghubungi satu sama lain.
"Sejak kapan kakak di Indonesia?" tanyanya begitu melepaskan pelukannya.
"Aku baru sampai semalam. Kakak mau beli bahan makanan di sini, tapi gak nyangka malah melihat kamu di sini. Kebetulan banget gak perlu nyari kamu lagi. Udah berhari-hari kakak menghubungi mu tapi gak aktif."
Sebelum membawa Cindy ke apartemennya,
Dion mengajak Cindy membeli bahan-bahan makanan.
"Kamu mau apa Cin? ambillah. Kakak mau ke kasir nih."
"Nggak usah kak,"
"Kok nggak ? Biasanya kau akan memindahkan semua snacks di sini ke apartemen mu."
"Aku mulai program diet kak." tertawa kecil mengingat kelakuannya dulu kalau di ajak belanja seperti ini, keranjangnya pasti akan di penuhi berbagai macam snack dan keperluan kebutuhan hidupnya.
"Diet ?" Dion kaget, gak biasanya Cindy seperti ini. Karena setahunya Cindy adalah orang yang doyan makan, gak pilih pilih makanan dan gak takut gendut, biar makan yang banyak berat badannya tetap tidak akan naik.
Dan kalau lagi belanja seperti ini, Cindy pasti akan minta di belikan ini dan itu yang banyak.
Dan dia tidak bisa menolak karena Cindy adalah adiknya dan selalu membantunya jika di perlukan.
"Ya sudah...ambil buah buahan saja untuk dietmu itu."
"Baik kak." kata Cindy tersenyum senang, dia segera ke tempat buah, mengambil jeruk, mangga muda, bengkoang, jambu air, pepaya dan nenas.
Setelah belanja Dion membawa mobilnya ke apartemennya.
"Kita mau kemana kak?"
"Apartemen ku, sudah lama aku tidak menempatinya." kata Dion sambil menyetir.
Cindy terkejut.
"Apartemen kakak ?"
"Iya, kamu juga sudah lama nggak berkunjung dan bermain di apartemenku bukan? Terakhir kali saat kau mempersiapkan pakaianku saat kita mau ke Paris dua bulan lalu." Dion menoleh ke arahnya sesaat.
"Iya kakak benar." kata Cindy.
"Pasti apartemen kakak sangat kotor sekarang." sambungnya lagi tersenyum.
"Makanya itu aku mengajakmu ke sana, aku ingin kau membersihkannya,.aku juga ingin kau memasak untukku. Aku rindu nasi goreng dan telur ceplok kecap manis buatan mu, nanti kau bikinkan itu ya, aku sangat lapar."
Cindy kembali tersenyum
"Iya kak..."
Dia merogoh kantong jaket Dion.
"Nyari apa?" Dion memperhatikan gerakan tangannya.
"Mangga tadi mana? Aku lihat kakak memasukkannya di saku jaket."
Dion segera mengambilnya di saku lalu menyerahkan padanya. Cindy langsung memakannya dengan lahap.
Wajah Dion langsung kecut melihatnya memakan buah muda itu.
__ADS_1
"Itu asem Cind, kenapa nggak beli yang matang aja, manis kan lebih enak."
"Aku gak suka yang masak, aku sukanya yang muda begini." kata Cindy terus memakannya.
Dion menoleh ke padanya sesaat.
"Aku perhatikan wajahmu pucat, kamu juga agak kurusan, apa kamu sakit ?"
Gerakan mengunyah Cindy terhenti.
"Aku kan lagi diet kak, mungkin karena itu aku kurusan." katanya sambil tersenyum.
"Gak usah diet lagi, nanti kamu sakit. Buat apa kamu diet, kamu nggak gendut kok." Dion menoleh kembali sesaat.
Cindy hanya mengangguk dan kembali menggigit mangganya.
"Kamu nggak tinggal? Ara dan ines mencari mu. Mereka datang ke apartemen mu tapi kau tidak ada. Nomormu juga tidak aktif di hubungi. Aku juga menghubungimu dan mengirim pesan berulang kali tapi tak masuk. Apa kau sudah mengganti nomor telepon mu?" tanya Dion kembali.
Mobil masuk area parkir apartemen. Cindy terdiam mendengar pertanyaan Dion. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya pelan.
"Aku nggak ke mana mana kok, Aku...." ucapnya terbata bata.
"Apa ada masalah?" tanya Dion Kembali menatap dirinya setelah memarkir mobil.
"Ah ... nggak ada kak.." jawab Cindy cepat dan mengurai senyuman.
Dion mendekat ke arahnya, semakin dekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
Jantung Cindy berdetak kencang, nafasnya memburu cepat.
Ini bukan pertama kalinya mereka dekat seperti ini, Tapi kenapa dia merasakan sesuatu yang lain di hatinya? Kenapa jantungnya berdegup kencang begini dekat dengan Dion?
Dion meraba keningnya.
"Hangat. Wajahmu pucat dan kamu lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya, cerewet ngomongin cowok cowok yang kamu taksir, banyak makan, selalu ceria, tertawa." katanya kemudian. Menatap setiap bagian wajah Cindy.
Cindy membasahi bibirnya. Sedikit gugup, Jantung semakin berdegup kencang. Wajah Dio sangat dekat, hembusan nafasnya sangat terasa. Cindy segera menunduk.
Dion tersenyum melihat tingkahnya.
"Kamu kenapa gugup begitu? apa yang kamu sembunyikan?"
Cindy menggeleng.
"Terus kenapa kamu jadi tidak tenang begini? Apa terjadi sesuatu setelah kamu pulang dari Paris? Apa ada masalah? Biasanya kamu selalu menghubungiku, mengirim pesan padaku. Selalu cerewet mengeluh kesah tentang cowok cowok incaran mu. Apa mereka menyakitimu? Apa mereka menolak mu hingga membuat mu menghilang dari dunia nyata dan maya?" kata Dion kembali memperhatikan wajahnya.
Cindy tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Dion, tawa yang di buat. Dia mengangkat wajahnya hingga mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain.
Sekuat tenaga Cindy menahan debaran jantungnya yang kembali berdegup kencang.
"Aku masih di sini kak dan tidak akan kemana-mana. Tanyanya satu satu dong, dan bolehkah kakak menyingkir dari hadapan ku?"
Cindy mendengus kesal.
"Iih menyebalkan, lain kali aku tidak akan cerita lagi pada kakak. Cepat jauhkan wajah kakak, nanti di kira orang kita mau ciuman. Lihat tuh pak satpam sedang menatap ke arah kita. Di sini juga ada kamera CCTV di setiap sudut." melirik sana sini.
"Ciuman?" Dion melongo.
"Kakak nggak ngerasa jarak wajah kita sekarang ?"melototi Dion.
"Nih... hidung dan bibir kita udah nyentuh nyentuh begini." Cindy menekan hidung pada hidung kakaknya.
Dion terkekeh, dia cepat mengecup kening, lalu menarik wajahnya.
"Kita memang biasa seperti ini kan sebelumnya? dekat seperti ini. Aku juga biasa kecup kening kamu sebagai sayangku padamu. Dan sebagian orang di sini termasuk penjaga keamanan tahu kamu adikku." kata Dion sambil membuka pintu mobil.
"Ayo turun." katanya kemudian.
Cindy segera turun dengan jantung berdetak kencang merasakan kecupan itu. Padahal itu bukan kecupan pertama kali yang di lakukan Dion. Sudah banyak kali Dion mengecup, mencium keningnya, puncak kepalanya bahkan ke-dua pipinya, tapi hanya ciuman seorang kakak, dan dia tahu hal itu.
Apa yang di katakan Dion memang benar, kedekatan mereka seperti itu memang sudah biasa bagi mereka. Karen Dion memang menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai adik. Karena Dion anak tunggal tidak punya adik atau kakak. Dari semua saudara sepupu hanya dia yang dekat dengan Dion, bebas ngobrol dan berkeluh kesah apa saja.
Dion biasa tidur di apartemennya, dia pun sebaliknya, terkadang tertidur di apartemen kakak sepupunya ini.
Cindy pun menyayangi Dion sebagai seorang Kakak, karena Dion bukan hanya menganggap nya sebagai adik, tapi Dion juga yang membiayai kuliahnya, kebutuhan hidupnya dan juga membelikan dia apartemen, meski laki laki ini berada di London menyelesaikan kuliah pascasarjana nya dan bekerja di perusahaan cabang orang tuanya yang berada di kota itu,
Dion selalu mentransfer uang ke rekeningnya setiap bulan atau setiap kali dia perlu uang.
Dan hubungan persaudaraan di antara mereka semakin dekat setelah Dion kembali dari London dan bertemu dengan Ara. Dion selalu meminta bantuan padanya untuk mendekati Ara. Tapi kenapa hatinya kini merasakan hal yang lain pada pria itu saat mereka dekat dan saat kakaknya itu mengecup keningnya barusan?
Tarikan ditangannya membuyarkan lamunannya.
"Ayo, melamun saja." kata Dion menarik tangannya. Cindy tersadar dan gugup.
Karena banyaknya barang belanjaan yang di beli, Dion meminta bantuan penjaga keamanan mengantar ke apartemennya dengan menggunakan troli.
Mereka menuju lift. Dion meraih biji buah mangga di tangan Cindy dan membuangnya ke sampah.
"Kenapa di buang sih kak? aku masih ingin memakannya." Cindy kaget dan kesal.
Dion menariknya masuk lift dan menekan nomor teratas.
"Itu tinggal bijinya Cin ...nanti makan lagi yang baru, kakak kan belinya banyak."
Cindy mendengus kesal menatapnya.
"Kenapa Cind? Kamu tidak seperti biasanya, sejak kapan kamu menyukai mangga muda? Setahu aku kamu tidak suka yang asam asam karena kamu punya penyakit asam lambung."
Dion heran dan bingung dengan sikapnya.
Cindy tak menjawab, dia meremas ujung bajunya.
__ADS_1
"Ada apa ?" Dion Semakin bingung melihat sikapnya yang merajuk.
"Apa ada kekasihmu tinggal di apartemen ini? Dan kamu khawatir dia melihat kedekatan kita tadi di mobil? Apa itu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Dion Kembali.
"Kalau memang iya, ajak kakak kepadanya, nanti kakak yang akan jelaskan padanya kalau kita kakak beradik."
Cindy mendesah sedih.
"Bukan karena itu, kakak ngomong apa sih?"
"Lalu apa?" Dion memegang wajahnya. Dia melihat kesedihan di mata gadis ini.
"Apa ada seseorang yang menyakitimu? Apa suami Ara menyakitimu? Apa dia mengancam mu? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu? Karena kata Ara dan Ines kau menghilang sejak kembali dari Paris lalu."
"Nggak kak, Kenapa bawah bawah kakak iparnya Ara?"
"Kali aja Ravendro marah kepadamu mengenai kejadian yang terjadi di Paris malam itu."
"Tidak ada hubungan dengan mereka." Cindy terisak. Dia ingin menangis mendengar kata Paris dan mengingatkan kejadian yang terjadi malam itu. Hatinya sangat sedih dan hancur.
"Lalu kenapa kau sedih seperti ini? Kenapa kamu menangis? Katakan ada apa? Biasanya kau selalu terbuka dan curhat padaku ! Katakan apa yang membuatmu menangis? Kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri, masalah mu adalah masalah ku. Jangan memendam sendiri dan menyembunyikannya dariku, katakan padaku." berkata agak keras dan menekan. Dia menatap wajah Cindy yang sudah basah dengan air mata.
"Atau....apa pacarmu yang bernama Andri memutuskan mu? Apa dia meninggalkan mu dan pergi dengan wanita lain? katakan Cin ..apa itu permasalahan mu? Apa itu yang membuat tubuhmu kurus dan pucat seperti ini?"
Cindy menggelengkan Kepalanya.
"Bukan kak, bukan karena itu. Aku belum jadian dengan Andri. Aku juga gak punya pacar." dada turun naik menahan tangis.
"Terus apa?"
"Aku kesal dan sedih karena kakak membuang biji mangga ku. Aku sangat ingin memakannya. Susah payah aku menghabiskan daging nya tapi kakak malah membuangnya tanpa bertanya dulu padaku." katanya kembali sambil terisak.
Dion kaget mendengar perkataannya.
Sedangkan Cindy kembali terisak. Lift berhenti dan terbuka. Secepatnya Dion memeluk Cindy dan menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya, sebelum ketiga orang yang masuk melihat tangisan kesedihan di wajah Cindy.
Cindy juga segera menekan mulut dan suaranya.
Dion masih terheran-heran dengan kekesalan dan kesedihan Cindy.
"Hanya karena benda bulat lonjong dan pahit itu membuatnya sedih? Biji mangga yang sangat pahit apa enaknya? Sejak kapan dia menyukai biji yang rasanya sangat pahit dan pekat itu? Aneh..." batin Dion.
"Atau Apakah itu sala satu makanan dietnya?"
Mereka segera masuk ke dalam apartemen
Dion. Ruangannya terlihat bersih.Toni sudah membersihkan dengan menggunakan jasa Cleaning servis online sebelum mereka tiba. Jadi mereka tak perlu repot-repot lagi untuk membersihkan.
Sebelum memasak, mereka melaksanakan shalat isya terlebih dahulu. Cindy yang sudah biasa datang ke apartemen Dion sudah tahu setiap sudut ruangan itu dan juga letak peralatannya.
Cindy segera menyimpan bahan makanan di dalam kulkas. Dia tersenyum melihat buah mangga. Dengan cepat dia mengambil dalam kresek dan memakannya, tapi belum sempat dia menggigitnya, buah itu langsung di sambar Dion. Cindy menatapnya kesal.
"Di cuci dulu baru di makan." Dion langsung membawanya ke wastafel, mencucinya lalu memotong motongnya menjadi beberapa bagian. Dia ikut memisahkan bijinya tersendiri.
"Kenapa di potong potong kak ?" kata Cindy terkejut melihat apa yang dia lakukan.
"Biar kamu lebih mudah makannya." Dion meletakkan di depannya.
"Ini juga batunya sudah aku pisahkan dari dagingnya, kamu kepengen sekali memakannya bukan?"
Cindy menatap buah yang sudah di potong potong menjadi beberapa bagian itu dengan kesal tak suka.
"Aku gak mau memakannya, aku nggak suka di Potong potong seperti itu. Aku ingin memakannya secara langsung." katanya dengan suara sendu.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Cindy segera berbalik dan melangkah menuju kamar yang biasa dia tempati jika datang ke sini. Berada di lantai bawah tepatnya di bawah tangga.
Dion Kembali di buat terkejut dan heran dengan sikapnya.
Cindy berbaring meringkuk dan menangis terisak di tempat tidur sambil memegangi perutnya. Dia berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar.
Dia merasakan sakit dan mual di perutnya. Rasa itu datang lagi. Dengan segera Cindy bangun turun dari tempat tidur dan berlari menuju toilet. Lalu "Uweeeeek Uweeek"
Cindy muntah muntah.
Cindy mengeluarkan semua isi perutnya yang isinya hanya buah mangga yang di makannya tadi. Kepalanya terasa pusing, perutnya masih terasa mual, tubuhnya sangat lemah. Dia duduk dan menyadarkan tubuhnya di toilet duduk. Keringat dingin membasahi wajahnya. Nafasnya memburu cepat tak beraturan.
Cindy kembali menangis terisak dengan suara di tekan, duduk sambil memeluk kedua kakinya yang di tekuk.
"Cindy... Cindy ..." Panggil Dion dari luar di sertai ketukan berulang.
Tak ada suara.
"Cindy ... Cindy....!" panggilnya kembali.
"Apa dia sudah tidur ?" batin Dion.
Dion merasa cemas karena sempat mendengar suara orang muntah.
Perlahan dia membuka kamar, untung tidak di kunci. Dion melihat tempat tidur yang kosong.
Dion melangkah ke toilet. Dia terkejut melihat Cindy tertidur dengan kepala di letakkan di atas toilet duduk. Dia juga melihat ada sisa sisa muntahan yang berceceran di wastafel.
"Kenapa dia?" Dion jongkok dan menatap wajahnya, sala satu ujung matanya basah.
Buliran keringat menempel di wajahnya yang pucat. Dion segera melap nya. Lalu mengangkat tubuhnya, membawanya ke tempat tidur, membaringkannya dan menyelimutinya.
"Kamu kenapa Cind? Apa kamu sakit?" mengelus tangan Cindy, seraya memperhatikan wajah dan keseluruhan tubuh gadis itu.
******
Happy reading terimakasih yang sudah mampir ππ
__ADS_1