Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 263


__ADS_3

...Happy Reading....


Rumah pribadi Artawijaya, pukul 08.30.


Seperti permintaan istrinya untuk dibuatkan sarapan pagi, Rafa sibuk di dapur sejak dua jam lalu hingga terciptalah masakan favorit istrinya. Rafa segera menatanya di meja makan. Lalu, dengan masih menggunakan celemek, Rafa segera melangkah menuju kamar dengan menggunakan tangga.


Sementara di bawah Raymond Alkas baru saja tiba yang di sambut oleh Wisnu.


Perlahan Rafa membuka pintu kamar dan segera masuk. Di dapatnya istrinya masih tertidur. Dia naik ke atas ranjang pelan pelan.


Ikut berbaring di samping Ara. Dipandanginya wajah istrinya dalam dalam, Rafa tersenyum.


Perlahan dia mengecup lembut bibir istrinya.


Sebenarnya Ara sudah bangun saat subuh tadi, tapi Rafa memintanya untuk tidur kembali karena permainan mereka hingga sampai jam dua pagi, terus di lanjutkan dengan shalat malam, makan, mendengarkan cerita masa lalu Wisnu, dan shalat subuh. Sudah pasti istrinya capek dan mengantuk, untuk itu dia meminta Ara tidur kembali.


Rafa membelai wajah Ara lembut, menatap penuh cinta. Wajah polos tanpa dosa.


Tubuh Rafa turun kebawah sejajar dengan perut Ara. Dia mengusap lembut perut istrinya. Menatap perut yang terlihat jelas dari gaun tidur yang transparan.


"Anak anak ayah, udah bangun belum di dalam? Kalian lagi ngapain? Kalian pasti lapar kan? Tunggu sebentar ya, ibu kalian masih bobo." katanya pelan, lalu di kecupnya perut istrinya lembut berulangkali sambil di bacakan beberapa surah pendek.


Ara terbangun dari tidurnya, merasakan pergerakan dan sentuhan pada tubuhnya.


Dia kaget melihat Rafa berada di perutnya. Dengan mata mengerjap sembari mengumpulkan nyawanya, dia melihat ke bawah, pada perutnya.


"Kak__" panggilnya melihat Rafa di sana. Dia membawa tangan kanannya mengelus rambut Rafa.


Rafa mendongak keatas mendengar panggilan itu."Sayang, sudah bangun?" segera menaikan tubuhnya ke atas.


Ara mengangguk tersenyum.


"Selamat pagi kak."


"Pagi sayang." Rafa mencium keningnya lembut. Ara memejamkan mata sesaat.


"Kakak lagi ngapain di perut aku?"


"Ngajak anak anak ngomong sayang."


"Oh ya? Emang mereka bilang apa?" mata mendelik.


"Mereka mengucapkan selamat pagi dan bilang kami lapar ayah, terus aku jawab, sabar ya ibu lagi bobo nih."


Ara tertawa sehingga terlihat deretan giginya yang putih. Rafa segera mengecup bibirnya, lalu menciumnya sesaat.


"Jangan menciumiku kak, aku belum sikat gigi."


"Mulutmu Wangi kok sayang." mencium mulut istrinya dan kembali menciumnya.


"Sudah ah, nanti macam macam lagi." Ara segera menutup mulutnya dengan tangan.


Rafa tersenyum lebar.


"Habis, bibirmu sangat menggoda sayang, membuatku tak tahan dan ingin terus menikmatinya."


Ara mendesis kesal. Dia melihat celemek di tubuh suaminya."Kakak kok pakai celemek?"


"Aku baru selesai masak sayang."


"Masak?" dahi Ara mengerut.


"Iya, masak makananmu. Kamu lupa semalam minta di bikinin sarapan pagi ini?"


"Aku lupa, terimakasih ya, udah repot repot." Ara mengecup kening suaminya lembut sebagai ucapan terimakasih.


"Itu saja?"


"Apa lagi?" dahi Ara mengerut.


"Itu tidak cukup sayang!" Rafa meraup bibirnya dan melu**tnya beberapa saat, di lepas melihat Ara kesulitan bernapas. Sungguh bibir ini membuatnya candu.


"Udah, aku mau ke kamar mandi." kata Ara dengan nafas tersengal.


"Baik sayang." Rafa bangun dari tidurnya, lalu bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Ara ala koala.


"Aku jalan saja."


"Biarkan aku menggendong mu sayang." berjalan ke kamar mandi.


Ara tak protes lagi karena tidak akan menang."Sekarang jam berapa?"


Rafa melihat jam tangan mewahnya."Jam 9 sayang."


"Jam 9?" Ara kaget.


"Iya, ini udah lewat sarapan pagi, kamu pasti lapar kan?"


Ara mengangguk. Dia memang sangat lapar.


Rafa segera menurunkan di dalam buth yang sudah di beri air hangat dan aroma therapy. Lalu membuka gaun tidur Istrinya. Matanya di suguhkan dengan keindahan lekukan tubuh istrinya.


Dia mengecup bahu, leher dan punggung istrinya sambil meremas buah besar sesaat.


Ara cepat menahan tangannya."Kak__!" cegah Ara khawatir akan berlanjut ke tahap panas.


"Iya sayang, maaf." Rafa tak meneruskan, dia tahu tubuh Ara lemas dan milik pribadinya masih sakit karena permainannya semalaman. Dengan telaten Rafa segera memandikan tubuh indah itu. Setelah itu membawanya ke Walk In Closet, memakaikan telon, vitamin pada rambut, memakaikan handbody ke sekujur tubuh, bedak, pakaian terakhir mengeringkan rambut dengan hair dryer. Setelah itu dia segera menggendong tubuh Ara ala koala keluar dari kamar.


"Kak, aku jalan saja!"

__ADS_1


"Nanti kamu capek sayang,"


"Kita kan turun pakai lift."


"Tetap saja kamu akan berdiri dan kakimu pasti pegal dan keram."


Ara manyun manyun, dia tidak akan bisa menang kalau berdebat terus. Rafa tersenyum dan segera mengecup bibir yang mengerucut. Lift terbuka, mereka segera keluar.


"Kak, terimakasih ya sudah memasak untukku. Aku menyayangi kakak."


"Aku lebih menyayangimu sayang." mengecup lagi.


"Aku yang lebih sayang kakak." ucap Ara balas mengecup.


"Pokoknya kakak yang lebih sayang dan mencintaimu." ucap Rafa tak mau kalah.


"Ih kakak, pokoknya aku yang lebih sayang, Titik." kata Ara mulai kesal.


"Iya deh sayang, kamu yang lebih." ucap Rafa mengalah karena tidak ingin melanjutkan perdebatan yang akan memancing emosi istrinya. Tapi dia sangat senang dan bahagia sekali, Ara sangat menyayanginya.


Ara tersenyum senang, dia mengecup bibir suaminya lembut, Rafa pun membalasnya. Mereka saling kecup kecupan tertawa kecil di sela langkah Rafa.


Langkah Rafa melambat tak kala melihat beberapa orang yang duduk sofa sedang memperhatikan mereka tanpa berkedip.


Raymond Alkas, Dinda, Dion, Cindy dan Ines memperhatikan mereka saat keluar dari lift.


Mendengarkan perdebatan mereka, melihat kecupan dan ciuman yang mereka lakukan tanpa bergeming.


Rafa lupa kalau pagi ini dia kedatangan tamu.


Rafa masih menatap mereka dan berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Ara. Dia yang belum menyadari keberadaan Ray dan lainnya. Ara segera mengikuti pandangan suaminya. Dia terkejut melihat Dinda dan lainnya yang sedang menatap pada mereka berdua dengan senyuman di wajah, kecuali satu wajah yang terlihat datar, Dion.


"Kak, turun kan aku." Dia bergerak untuk turun. Tapi Rafa belum melonggarkan pegangan tangan pada bokong Ara.


"Kak_!"


"Diam sayang, kita belum sampai di meja makan."


"Aku jalan saja, turunkan aku, aku mohon!" pinta Ara penuh harap. Dia yang merasa malu menjadi tatapan mereka."Please deh kak__!" Ara memelas wajah puppy eyes.


Pelan pelan Rafa segera menurunkan Istrinya.


Dia memegang tangan Ara lalu melangkah mendekati Raymond Alkas yang segera berdiri begitu dia mendekat.


"Selamat pagi Tuan dan tnyonya Ravendro Artawijaya." Sapa Raymond Alkas.


"Selamat pagi!" balas Rafa.


Dinda Cindy dan Ines ikut menyapa. Kecuali Dion yang hanya diam menatap, meski Ray sudah memberi isyarat dengan menyenggol lengannya. Dion menatap kebahagiaan dari pasangan suami istri ini.Ternyata benar, keduanya memang saling mencintai dan hidup bahagia.


"Cindy, Ines!"


"Ara..." ucap Cindy dan Ines bersamaan.


Mereka saling berpelukan bertiga begitu berhadapan. Berpelukan seperti Teletubbies.


"Cind, bagaimana keadaan mu? Kamu baik baik saja?" Ara memindai badan Cindy dari atas hingga bawah. Lalu dia menyentuh perut Cindy."Apa ponakan ku baik baik saja?" tanya Ara kembali.


Cindy mengangguk sedih, haru."Araaa__" Cindy kembali memeluk Ara. Dia menangis mengingat kebaikan sahabatnya ini. Ara dan Ines ikut menangis. Ketiganya kembali berpelukan sedih haru.


"Terimakasih Ara, terimakasih atas kebaikan mu padaku.Terimakasih atas perhatian kalian berdua kepadaku. Kalian memang sahabat terbaikku. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik kalian." ucap Cindy di sela tangisnya.


Mereka yang melihat ikut sedih dan terharu.


"Sayang, kamu harus sarapan dulu." sela Rafa.


Ketiganya saling melepaskan pelukan mendengar ucapan Rafa.


Ara mendekat pada Dinda dan Raymond.


"Selamat pagi Om, Tante." ucapnya sopan seraya mengalami tangan keduanya dan di ciumnya.


Baik Dinda dan Raymond Alkas terkejut dengan apa yang dilakukannya.


"Selamat pagi kak Dion. Aku ucapkan selamat atas pernikahan kakak dengan Cindy. Semoga pernikahan kalian selalu di limpahi kebahagiaan. Aku juga mengucapkan selamat atas kehamilan Cindy. Insyaallah anak anak kalian menjadi anak anak yang sholeh dan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya." ucap Ara menatap Dion dan Cindy bergantian.


"Terimakasih." ucap Dion datar.


"Nyonya Ravendro, kami juga mengucapkan selamat atas kehamilan anda. Kami ucapkan selamat kepada anda berdua." ucap Dinda melihat Rafa dan Ara bergantian.


Cindy dan Ines juga mengucapkan selamat atas kehamilannya. Ketiga gadis itu tampak bahagia.


Dinda mengambil sesuatu di meja Sofa


"Ini hadiah kecil dari kami untuk anda Nyonya, harganya tidak seberapa. Saya harap anda menyukainya." kata Dinda tersenyum pada Ara.


Ara menerimanya dengan senang.


"Terimakasih Tante, aku pasti suka. Tante nggak usah sungkan begitu kepadaku. Bersikap biasa saja kepadaku, anggap aku seperti Cindy dan Ines." kata Ara merasa canggung karena Dinda terlalu menghormatinya dengan memanggilnya Nyonya.


Dinda menanggapi dengan senyuman meski hatinya takjub dengan kerendahan hati anak ini.


"Tuan dan Nyonya Alkas, kalian bisa menunggu sebentar, aku mau menemani istriku sarapan. Wisnu akan menemani kalian." kata Rafa pada Raymond.


"Silahkan Tuan Ravendro, kami tidak keberatan untuk menunggu." kata Ray.


"Oh ya Tante, Om, ikut lah bersama kami untuk sarapan. Mari kita sarapan sama sama, Ayo kak Dion, Cindy, Ines!" ajak Ara menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


Dinda ini bicara untuk menolak karena mereka telah sarapan dari rumah, tapi batal dengan ucapan Rafa.


"Seperti yang kalian tahu, Istriku sedang hamil muda, aku tidak suka keinginannya di tolak. Jadi bergabung lah bersama kami untuk sarapan " kata Rafa segera.


Ara kaget mendengar ucapan suaminya, nada memaksa dan menekan. Dan dia tidak bisa ngomong apa apa kalau nada bicara suaminya sudah seperti itu.


Ara melihat Dinda dengan tatapan penuh arti, wanita dewasa itu mengerti arti tatapan itu, dia segera tersenyum dan mengangguk kecil.


Rafa segera menarik tangan Ara menuju meja makan. Wisnu segera mempersilahkan Ray dan lainnya mengikuti Tuan dan Nona mudanya. Mau tidak mau Raymond dan Dinda mengikuti ajakan Ara untuk makan, begitu juga Dion Cindy dan Ines.


Dion meraih dan menggenggam tangan Cindy. Cindy kaget, dia menoleh pada Dion di sampingnya. Dion mengabaikan tatapannya, dia membawa tangan Cindy ke bibirnya dan di kecup. Lalu membawa adik sekaligus istrinya ini melangkah dengan tangan masih menggenggam. Cindy bingung dengan sikap kakaknya, tapi hatinya senang.m dan merasa bahagia.


Mereka sampai di meja makan yang besar. Sudah ada Narsih, koki dan para pelayan berdiri rapi dengan menunggu kedatangan mereka.


Rafa segera menarik kursi untuk Ara, Ray menarik kursi Dinda, Dion menari kursi Cindy.


Dan untuk Ines....?


"Silahkan Nona Ines." ucap Wisnu menarik kursi untuknya.


Ines kaget, tapi kemudian dia segera duduk.


"Terimakasih." ucapnya melihat sekilas pada Wisnu. Wisnu hanya menundukkan kepala sesaat lalu mengambil posisi berdiri di belakang Tuannya.


Rafa segera melepas celemek yang sedari tadi terpasang di tubuhnya. Narsih langsung menerimanya. Rafa mengatur makanan yang di buat untuk Ara. Di letakkan di depan istrinya.


Narsih dan para koki menyiapkan makanan lainnya, di pisahkan dari makanan yang di masak oleh tuannya untuk Nona muda mereka.


"Silahkan di nikmati makanannya! Maaf tuan dan Nyonya Alkas, makanan yang ini khusus saya buat untuk istri saya. Kebetulan istri saya ingin makan masakan buatan suaminya. Jadi anda silahkan nikmati makanan yang di siapkan oleh para koki." Rafa menjelaskan dengan bangga. Bangga mengatakan pada mereka dapat membuat makanan untuk istrinya, apalagi di depan Dion.


Mereka sempat terkejut mendengar penjelasan itu, lalu melihat makanan di depan Ara yang merupakan buatan Rafa.


"Ah, kami mengerti tuan Ravendro. Anda hebat sekali bisa membuat makanan untuk istri tercinta anda.Tidak semua suami bisa memasak untuk istrinya, tapi anda benar-benar luar biasa." kata Ray.


"Anda terlalu berlebihan Tuan Alkas, Tapi terimakasih atas pujiannya. Silahkan di nikmati makanannya." kata Rafa.


Semuanya segera mengambil menu masing masing.


"Mau makan yang mana sayang?" tanya Rafa menatap istrinya.


"Biar aku sendiri saja, kakak makan saja." Ara merasa canggung.


"Udah diam, aku tidak ingin tanganmu capek meraih ini dan itu." protes Rafa.


Ara diam tidak berani membantah. Dia merasa canggung di perlakukan terlalu berlebihan apalagi di depan tamu, tapi dia tidak bisa membantah ucapan suaminya.


"Aku mau sate ayam." katanya kemudian.


"Baik sayang, pakai nasi?"


Ara mengangguk pelan.


Kali ini Rafa memasak sate ayam saus kacang, ayam panggang mentega dan gurame saus tiram. Dia sibuk melayani istrinya makan tanpa perduli dengan tatapan mata orang orang di depannya. Meminumkan susu, air, di sertai elisa mengelus lembut punggung Ara. Sesekali menyuapi, sesekali melap saus kacang dibibir Ara dengan jarinya, kemudian dijilatnya. Perlakuannya kepada Ara tetap sama di meja makan, meski ada orang di depan mereka dan saat mereka hanya berdua, dia tetap memperlakukan dan melayani Ara dengan romantis. Dan hal itu tidak lepas dari tatapan para tamunya.


"Kakak makanlah." Ara menyuapkan makanan ke mulut suaminya. Sedari tadi Rafa belum menyentuh makanan dan hanya sibuk melayani dirinya. Ara tahu kalau tidak di suapi, suaminya pasti tidak akan makan dan hanya akan sibuk melayaninya terus.


Tentu saja Rafa sangat senang mendapat suapan dari Ara di depan tamunya, terutama di depan Dion. Dia segera menerima suapan tangan istrinya sambil tersenyum manis


"Enak banget sayang." mengunyah makanan.


"Tentu saja, makanan buatan kakak memang ter enak." Ara memberikan dua jempolnya.


"Terimakasih sayang." Rafa senang dengan pujian itu, lebih lagi di dapatkan di depan tamu.


Ara mengangguk tersenyum.


Dion yang memperhatikan mereka, tiba tiba menyuapi sepotong ikan salmon pada Cindy.


"Ini bagus untuk pertumbuhan janin mu." Entahlah, dia hanya ingin memberi perhatian BB juga pada istrinya, bukan karena panas atau sakit hati pada keromantisan Rafa dan Ara.


Cindy sempat kaget dengan perlakuan Dion, tapi kemudian dia segera membuka mulut seolah mengerti maksud perlakuan Dion."Terimakasih kak." katanya canggung.


Dion mengangguk tersenyum."Kamu harus berusaha makan lebih banyak, karena anak kita hanya menerima asupan makanan dari tubuh mu." katanya lembut.


Seolah mengerti, baik Dinda, Ray dan Ines hanya tersenyum dengan perlakuan Dion pada Cindy, meski mereka bingung.


Dan Rafa? hanya acuh dengan apa yang di lakukan Dion, bahkan tidak melihat perlakuan Dion pada Cindy. Dia hanya fokus menyuapi dan melayani istrinya.


Dalam waktu 20menit, sarapan itu berakhir. Ara menghabiskan tiga porsi makanan dengan lahap. Ara kekenyangan menyandarkan punggungnya di kursi. Rafa tersenyum senang, dia mengelus lembut perut istrinya.


"Kenyang sayang?"


"Iya kak."


Rafa segera melap tangan istrinya dengan tisu basah dan Ara hanya bisa diam menerima apa pun yang di lakukan suaminya meski merasa risih dan malu pada penghuni meja makan.


Acara makan selesai.


Rafa mengajak Raymond Alkas ke lapangan golf miliknya yang berada di belakang bangunan ini. Sambil bermain golf tentu saja sekaligus membicarakan tentang pekerjaan, sekaligus Ray mengucapkan terimakasih atas batuan Rafa. Dion mengikuti ayahnya dan hanya mendengar apa yang mereka bicarakan. Sesekali tatapan datarnya beradu dengan tatapan datar Rafa. Sungguh kalau bukan karena keinginan Cindy, dia pasti tidak akan datang ke sini.


Sedangkan Ara mengajak Dinda dan dua sahabatnya ke taman hias yang berada dekat dengan lapangan golf. Mereka asyik ngobrol dan bersenda gurau. Mereka paling banyak membicarakan tentang kehamilan. Dinda memberikan beberapa penjelasan seputaran kehamilan sebagai orang yang telah berpengalaman mengalami masa kehamilan dan melahirkan.


Sesekali mereka mengalihkan pandangan ke lapangan golf memperhatikan suami suami mereka di sana.


Ines mengucapkan terimakasih kepada Ara karena telah membuatnya di terima bekerja di perusahaan RA Group. Ara kaget mendengar ucapan Ines, karena dia belum meminta hal itu pada suaminya, rencananya nanti hari ini. Tapi ternyata suaminya sudah lebih dulu mengetahui keinginannya dan menerima Ines bekerja dikantornya.


Ara tersenyum manis melambaikan tangan pada suaminya yang kebetulan sedang melihat kepadanya sambil tersenyum.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2