Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 265


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah dari cafe, mereka langsung mengunjungi makam Ayirin dan ayah Wisnu, suami Rani. Azham dan Azhar yang sudah di beri tahu saat usia mereka 4 tahun tentang ibu mereka yang sudah tiada, Saat kedua bocah itu duduk di sekolah taman kanak-kanak dan mulai pintar, mereka mulai menanyakan keberadaan ibu mereka pada Wisnu, Rani dan Winda.


"Ayah, nenek, Bibi! Teman teman Azham dan Azhar punya ibu, kenapa kami tidak punya ibu?" tanya mereka dengan polosnya.


"Teman teman kami selalu di antar sama ibu mereka ke sekolah, kenapa hanya Nenek dan bibi Winda terus yang selalu ngantar dan menjemput kami?" tanya mereka.


"Saat perayaan hari ibu di sekolah, Azham dan Azhar tidak di temani ibu, kemana ibu ayah?" tanya mereka.


Masih banyak lagi pertanyaan yang di lontarkan anak anak itu tentang ibu mereka membuat Wisnu Rani dan Winda sedih dan mengharu biru. Hingga akhirnya mereka menjelaskan dengan pelan sesuai pemahaman Azham dan Azhar yang masih anak anak.


Dan semakin lama saat usia mereka terus bertambah, bocah-bocah itu mulai tahu maksud perkataan ayah, Nenek dan Winda yang mengatakan kalau ibu mereka sudah berada di surga bersama Allah. Mereka yang telah di ajarkan shalat lima sejak usia dini, mengirimkan doa buat Ayirin setiap selesai shalat. Wisnu selalu menceritakan hal-hal baik tentang Ayirin pada kedua anaknya, sehingga anak anak itu selalu mengingat almarhumah ibu mereka dan tak henti mengirim doa.


Azham dan Azhar melihat sebuah nama yang tertulis nama Ayirin Binti Darmawan pada sebuah batu Nisan.


"Itu rumah ibu." seru mereka berlari lari kecil ke makam Ayirin yang tampak bersih.


Wisnu menyewa tukang bersih pekuburan untuk membersihkan makam Ayirin dan ayahnya setiap hari. Kadang juga dia membersihkan kedua makam itu saat berkunjung seorang diri.


Untuk pertama kali Azham dan Azhar berkunjung ke makam ibu mereka.


"Assalamualaikum ibu." ucap keduanya tersenyum senang seraya menyapu tanah pekuburan dan batu nisan ibunya. Menaburkan bunga dan juga menaruh sebuket bunga.


Tak ada kesedihan di wajah mereka. Karena kesedihan itu pernah menghiasi wajah mungil polos mereka saat pertama kali tahu ibu mereka sudah tiada. Kini di wajah mereka terhias senyum bahagia karena bisa berkunjung dan melihat langsung makam ibu mereka.


"Ibu, Ini Azham." kata Azham memegang Nisan Ibunya.


"Dan ini Azhar." sambung Azhar menunjuk dirinya. Keduanya tersenyum haru.


"Kami berdua anak anak ibu. Maaf ibu, baru sekarang bisa mengunjungi ibu. Karena tempat tinggal kami jauh sekali dari sini. Setiap saat kami selalu merindukan ibu, juga mengirimkan ibu doa. Kami selalu meminta kepada Allah agar menjaga ibu dengan baik, memberi ibu makan yang enak, pakaian yang indah, tempat tidur yang nyaman dan juga rumah yang bagus untuk ibu tinggali. Kata ayah, nenek dan bibi Winda, ibu adalah orang baik, Allah pasti menjaga ibu dengan baik." kata Azham.


"Ibu lihat ini__." Azhar memperlihatkan sebuah foto Ayirin yang tersenyum manis.


"Ibu sangat cantik, Azhar sayang sama ibu." sambungnya kembali.


"Azham juga sayang sama ibu! Azham dan Azhar akan selalu sayang sama ibu meski ibu tidak bersama kami."


Wisnu mendesah sedih, kedua matanya sudah basah mendengar celoteh kerinduan kedua anak ini pada ibu mereka. Rani juga meneteskan air mata karena tidak tahan mendengar ungkapan hati kedua cucunya pada menantunya.


Perlahan Wisnu, menyentuh batu nisan istrinya."Sayang, ini anak anak kita. Aku beri mereka nama seperti keinginanmu, Azham dan Azhar. Maaf sayang, baru bisa membawa mereka mengunjungimu sekarang. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang baik, pintar dan rajin beribadah. Kata ibu dan Winda, mereka selalu mendoakan dirimu setelah shalat. Kau senang kan sayang? Kita di dianugerahi anak anak Sholeh dan sayang pada orang tuanya. Kau lihat wajah mereka? Mereka lebih mirip dirimu dari pada aku." Kata Wisnu tertawa kecil, sedih dan haru.


Azham dan Azhar kembali berbicara pada makam dan nisan Ibunya. Mengungkapkan rasa sayang, cinta dan terima kasih mereka pada ibunya yang telah berjuang antara hidup dan mati saat koma demi mereka sewaktu di dalam kandungan, seperti cerita Rani pada mereka.


Setelah puas melepas rindu pada Ayirin, mereka juga ziarah ke makam ayah Wisnu.


Wisnu memberi tahu kalau makam ini adalah makam Kakek mereka, suami Rani nenek mereka. Anak anak itu mengerti, lalu ikut menyapa kakeknya dan mengirim doa.

__ADS_1


Selanjutnya mereka mengunjungi orang tua Ayirin, yang merupakan kakek dan nenek Azham dan Azhar.


Azham dan Azhar melepas rindu pada kakek dan neneknya. Orang tua Ayirin dan juga kedua adiknya sudah beberapa kali berkunjung ke Amerika kala mereka rindu ingin bertemu si kembar secara langsung.


Kapan saja mereka ingin bertemu si kembar, Wisnu selalu membiayai perjalanan mereka. Wisnu juga membantu membiayai kehidupan orang tua Ayirin sampai sekarang dan juga menyekolahkan adik adik Ayirin yang kuliah mengambil jurusan kedokteran, menggantikan cita cita Ayirin yang ingin menjadi dokter.


Setelah dari rumah orang tua Ayirin, mereka pulang ke rumah pribadi Wisnu untuk istrahat.


Selain apartemen, Wisnu juga memiliki rumah pribadi yang sudah di siapkan untuk ibu dan anak anaknya.


Masih ada satu tempat lagi yang ingin di kunjungi si kembar, tapi karena capek dan mengantuk, Wisnu menyuruh mereka untuk istirahat.


***


Saat ini Ara dan sedang menemani ibu mertuanya berkunjung ke mesjid Agung Artawijaya dengan memakai dress long dan jilbab syar'i seperti Maya.


Mesjid yang megah dan indah. Di bangun Tuan besar Artawijaya sewaktu dia masih hidup. Dan kembali di Renovasi oleh Rafa menjadi Mesjid yang lebih indah dan megah bisa menampung hingga 50.000 Jamaah. Letak mesjid tersebut berada tidak jauh dari rumah utama. Di bangun di area lingkungan masyarakat. Agar dapat di gunakan oleh masyarakat umum untuk beribadah.


Mesjid tersebut memiliki fasilitas umum yang lengkap, fasilitas ramah anak, fasilitas disabilitas, fasilitas perpustakaan, mempunyai pengurus mesjid, beberapa imam, Khatib, Muazin dan juga remaja mesjid yang di beri gaji.


Sudah menjadi kebiasaan seperti tahun tahun sebelumnya, beberapa bulan sebelum menjelang bulan suci Ramadhan dan lebaran, Maya selalu mengecek fasilitas keperluan ibadah Mesjid yang perlu di tambahkan, diganti, di perbarui atau hanya sekedar di perbaiki. Dan saat ini dia sedang melakukan rapat di aula mesjid bersama para pengurus mesjid membahas tentang hal itu.


Ponsel Ara bergetar. Dia segera mengambil benda pintar itu dari dalam tasnya.


"Ma, kak Rafa telepon." bisiknya pada Maya.


Ara segera bangkit dan melangkah menjauh.


"Assalamualaikum Kak."


"Waalaikumsalam sayang. Jadi ikut mama ke mesjid?"


"Iya, ini kita lagi di sini."


"Kamu baik baik saja sayang?" Rafa yang selalu mengkhawatirkan keadaan Ara.


"Alhamdulillah aku baik baik saja. Kakak sudah di rumah?"


"Di jalan pulang sayang. Nanti aku akan jemput kamu di masjid, tunggu saja disitu."


"Baik kak, sekalian kita shalat ashar di sini ya?"


"Baik sayang. Kamu mau di bawakan apa? Ada sesuatu yang ingin kamu makan? Atau ada yang kamu inginkan?"


Ara tampak berpikir, memikirkan apa yang dia inginkan. Beberapa saat kemudian dia tersenyum.


"Ada kak, tapi akan ku katakan setelah kakak sampai di sini. Kakak baik baik di jalan ya?"

__ADS_1


"Iya sayang, aku pasti selalu menjaga diriku untukmu. Aku mencintaimu!" Terdengar kecupan dari seberang.


Ara tersenyum.


"Love you too kak,"


Sambungan telepon terputus. Ara tersenyum.


Ara kembali duduk di dekat Maya. Kembali mendengarkan dan menyimak pembahasan Mesjid. Hingga satu jam berlalu Rafa datang dan ikut duduk bergabung bersama mereka sebentar. Azan waktu shalat ashar berkumandang, pertemuan pun di akhiri.


"Sayang, kau semakin cantik, anggun dan bersahaja dengan pakaian ini." ucap Rafa kagum dan terpukau melihat wajah istrinya yang cantik bersinar dan cocok dengan balutan hijab yang menutup kepalanya.


"Benarkah?" Ara tersenyum senang mendapat pujian dari suaminya.


"Tentu saja, apa pun yang kau pakai pasti akan terlihat indah di tubuhmu. Karena kecantikan yang kamu miliki bukan hanya dari wajah dan fisikmu. Tapi juga dari hatimu, jiwamu dan kepribadianmu yang di penuhi oleh banyak kebaikan, ketulusan, cinta dan kasih sayang." ucap Rafa menatapnya lembut. Lalu mengecup bibir istrinya sesaat.


Ara jadi senyum malu-malu mendapatkan pujian dan kecupan lembut suaminya.


Rafa jadi tertawa kecil melihat wajah merah merona istrinya. Sungguh menggemaskan di matanya. Dia ingin mencium kembali, tapi Ara cepat menutup mulutnya dengan tangan.


"Udah ah, kita lagi di mesjid." katanya seraya melirik ke kanan kiri.


"Hanya kecupan sayang, di sini juga nggak ada orang kan?" Rafa mengalihkan ciumannya pada kening istrinya.


"Katakan, apa yang kamu inginkan dariku? Katanya ada yang kamu inginkan tapi akan kamu katakan setelah aku sampai di sini." tanya Rafa mengingat sesuatu yang di inginkan istrinya.


Ara tersenyum mengingat apa yang di inginkan.


"Apa sih sayang? Senyum senyum begitu?"


Rafa penasaran melihat senyuman manis di wajah istrinya. Terlihat seperti menggodanya. Seandainya saja tidak di tempat ini, dia pasti sudah mencurahi banyak ciuman di wajah manis menenangkan ini.


"Aku ingin kakak melakukan sesuatu, apa kakak mau melakukannya?" kata Ara tersenyum.


"Apa pun akan kulakukan untukmu sayang. Asalkan satu, jangan meminta ku untuk meninggalkan mu." Meraih pinggang ramping istrinya." Katakan, apa yang kau inginkan?" memegang lembut wajah istrinya, menatap penuh cinta.


"Aku ingin kakak yang mengimani shalat Ashar Nanti. Aku ingin kakak yang memimpin shalatnya." bisik Ara tersenyum menatap wajah suaminya. Sesaat dia menyentuhkan hidungnya pada hidung suaminya. Lalu melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Setelah itu dia melangkah pergi menuju tempat pengambilan air wudhu untuk perempuan.


"Cepat kak, tinggal beberapa menit lagi waktunya." kata Ara sedikit keras dari jauh melihat Rafa yang bengong di tempatnya setelah mendengar keinginannya.


15 menit berlalu, shalat ashar pun di laksanakan. Sebagai imam Rafa Ravendro Artawijaya seperti keinginan AZAHRA Radya Almira. Suaranya sangat merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Allah.


Ya, apa pun akan di lakukan Rafa untuk menyenangkan hati istrinya. Juga sebagai bentuk cinta dan kasih sayangnya pada wanita bermata teduh memiliki hati lembut dan banyak kebaikan.


Seperti itulah kehidupan suami istri dari kalangan konglomerat kelas atas ini, yang punya segalanya tapi hanya menjalani hidup penuh kesederhanaan. Hidup mereka hanya di penuhi cinta, kasih sayang dan berbagi kebaikan pada sesama yang membutuhkan.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2