Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 43


__ADS_3

Apartemen mewah dan besar di Jakarta, memiliki tiga kamar di lengkapi furniture cantik, mewah impor dari luar negeri yang classy dan elegan.


Terdengar bel berbunyi, seseorang segera membuka pintu setelah melihat siapa yang di luar melalui lubang kecil.


"Halo sekretaris Wisnu." sapa tamu yang menekan bel tadi dengan tersenyum.


"Selamat malam dokter." jawab Wisnu pada tamu yang baru datang .


Dokter Rizal Prasetya, dokter pribadi keluarga Rafa sekaligus dokter yang di percayakan menangani dan menjadi kepala rumah sakit terbesar di kota itu, rumah sakit " Azahra Harapan Mulia" milik Rafa.


Rizal bukan hanya sekedar dokter keluarga Rafa, tetapi juga teman karib Rafa semasa kuliah bersama Wisnu hingga kini.


"Mana tuanmu sekretaris Wisnu." Rizal masuk seraya mendongakkan kepalanya ke lantai dua.


"Tuan Rafa ada di lantai atas dokter."


Wisnu berjalan di depan, menaiki tangga, lalu membukakan pintu sala satu ruangan yang berada di lantai dua, ruang gym.


"Halo tuan Ravendro, CEO paling tampan sedunia." seru Rizal berseloroh begitu masuk dan melihat seorang pria yang sedang melakukan pull up. Tubuhnya yang kekar atletis bermandikan keringat, mengkilap dengan otot otot yang menonjol keluar.


Tubuhnya yang putih nampak kemerahan.


Rafa memang rajin olahraga, melakukan berbagai macam gym untuk menguatkan otot-otot tubuhnya.


"Hey bung, sudah cukup, nanti lukamu tidak akan sembuh." Rizal meletakkan tasnya.

__ADS_1


Rafa menghentikan gerakannya, menerima handuk dari Wisnu, menyapu keringat di tubuhnya. Dua jam lebih dia di ruangan ini.


Kemudian Meneguk minuman air putih yang di sodorkan Wisnu.


"Aku mandi dulu." ucapnya datar pada Rizal


"Ajak dokter Rizal ke ruang tamu." perintahnya pada Wisnu, lalu masuk ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah air shower.


"Ada apa dengan tuanmu?" Rizal menatap Wisnu, dia merasa heran dengan sikap Rafa yang tidak seperti biasanya pada dirinya.


Cuek dan dingin.


Rafa memang mempunyai hati dan sikap yang dingin, tapi tidak pada saat mereka bertiga berkumpul, selalu ada canda tawa ketika mereka bertiga bersama bercerita soal pekerjaan dan wanita.


Tak ada jawaban dari Wisnu, dan Rizal sudah faham sekretaris bosnya ini tidak akan buka mulut.


"Kamu makin tampan bos, tapi ada agak kurusan." Seru Rizal melihat Rafa yang mendekat ke arahnya.


Rafa mendudukkan pantatnya di sofa sebelah,


Wisnu mengambil posisi di berdiri di belakangnya.


"Ada apa kau kemari dokter?" Rafa menatapnya, dengan tatapan dingin


"Aku hanya sekedar mampir ingin melihat keadaanmu, bagaimana lukamu? apa sudah sembuh?" Rizal mendekat memeriksa pergelangan tangan Rafa.

__ADS_1


"Aku baik baik saja seperti yang kau lihat." Rafa menarik tangannya.


"Syukurlah. Ku kira kau sudah kembali ke Amerika. Apa tidak sebaiknya kau menetap di sini saja bos?"


"Kembalilah bila tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku masih ada kerjaan." kata Rafa datar, lalu bangkit dari duduknya.


"Hey bos, kau keterlaluan. Aku belum lama di sini tapi kau menyuruhku pulang? kau bahkan belum memberiku minum." Rizal ikut berdiri.


"Wisnu, beri dokter Rizal minum, setelah itu suru dia kembali." Rafa segera melangkah kan kaki.


"Baik tuan." Wisnu segera mengambil minuman di lemari pendingin lalu menyerahkan pada Rizal.


Rizal melongo dengan sikap Rafa yang semakin dingin pada dirinya.


"Apa apaan tuanmu ini Wisnu, sungguh tidak sopan. Bicara di telepon tidak sopan, secara langsung pun lebih tidak beradab." Rizal mendengus kesal.


"Hey bos tunggu sebentar, aku belum


selesai." Rizal melemparkan minuman secara tiba tiba ke arah Wisnu, lalu segera mengejar Rafa yang sudah menaiki tangga.


Meski terkejut, Wisnu dapat menangkap minuman itu dengan gerakan cepat.


Dia mendengus kesal dengan kelakuan Rizal.


Kemudian meletakkan minuman itu di atas meja, lalu segera menyusul mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2