
Fitting baju pengantin selesai.
"Cindy, mari kita pulang." ajak Dion
"Kak, boleh gak aku di sini dulu sama Ara dan Ines? Aku masih ingin bersama mereka." pinta Cindy kepadanya.
"Sudah dah lama kami gak ngumpul bareng, aku masih rindu sama mereka. Aku janji besok pagi bakalan siapin sarapan buat kakak. Malam ini kakak masak sendiri dulu atau makan di resto yah? Aku mohon izinkan aku di sini sama mereka," pintanya lagi dengan memelas.
Dion terdiam dengan menatapnya
"Boleh ya kak Dion?" pinta Ines dan Ara dari belakang Cindy. Dion menatap wajah mereka satu persatu yang sangat menginginkan persetujuannya."Baiklah Nona Nona."
Jawabnya kemudian, mengalah. Mengingat ketiga sahabat karib ini baru kemarin berkumpul setelah beberapa bulan tidak saling berhubungan.
Cindy, Ara dan Ines langsung tersenyum senang.
Sophia dan Sonya memperhatikan mereka.
Sophia tidak menyangka kalau ketiga gadis itu dekat dengan Dion.
Sophia sebenarnya ingin sekali pulang bersama Dion. Dia ingin sekali berduaan dengan Dion, apalagi setelah insiden tadi di kamar ganti yang membuat Dion marah besar padanya. Dia ingin membujuk dan merayu Dion menghilangkan kemarahan lelaki itu.
Tapi sepertinya laki laki itu sangat marah padanya. Sejak keluar dari kamar ganti dan selesai fitting baju pengantin Dion tidak bicara sama sekali padanya.
Ara Cindy dan Ines mengantar Dion sampai ke pintu."Kak, terimakasih sudah berkunjung ke sini." ucap Ara pelan di selingi senyuman kecil di wajahnya.
Dion tak menjawab, hanya menatapnya sesaat, lalu menoleh pada Cindy.
"Cin, kakak pergi dulu." katanya kemudian,
lalu melangkah.
"Kak Dion." panggil Ara pelan.
Langkah Dion yang menuruni tangga teras terhenti. Ara perlahan mendekatinya, berjalan dan berdiri didepannya.
"Kak, mengenai kejadian yang terjadi di Paris dulu__aku minta maaf! Kekerasan yang di lakukan oleh kak Rafa pada....!"
"Aku sudah melupakannya Ara!" potong Dion cepat, keduanya saling menatap sejenak.
"Aku juga salah Ra, karena__."
"Aku yang salah, kakak nggak salah." kata Ara memangkas ucapan Dion." Seharusnya dari awal aku jujur pada kalian mengenai pernikahan ku dengan kakak ipar ku, kak Rafa dan bukan menyembunyikan dari kalian! Aku merasa sangat bersalah pada kakak. Aku sangat berharap kakak Dion tidak marah dan membenciku! Maaf kan aku." ucap Ara pelan dan sedih.
Dion menatap mata teduh itu dalam-dalam. Netra teduh yang terlihat bersalah."Marah dan membencimu? Bagaimana bisa aku marah dan membencimu Ara? Aku tidak bisa melakukannya. Bahkan setelah kau membuat hatiku terluka, sakit dan menderita, aku tetap tidak bisa marah dan membencimu? Bahkan setelah ku tahu kau sudah menjadi milik orang lain, aku tetap tidak bisa menghilang kan mu dari hati dan pikiranku. Bayanganmu masih saja muncul mengganggu hidupku. Bahkan demi untuk bisa melupakanmu, aku menerima pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan," batin Dion sedih.
"Kak Dion nggak membenciku kan?" tanya Ara melihat Dion hanya diam. Dia menyentuh tangan Dion, membuat pria muda itu tersadar dari lamunannya.
Dari jauh Sophia terkejut melihat kedekatan mereka, dia menatap tajam dan dengki pada Ara.
"Kakak orang yang sangat baik, kakak sudah banyak kali menyelamatkan hidupku! Aku belum pernah sekalipun membalas kebaikan kakak. Bahkan janjiku untuk makan malam bersama kakak pun belum ku penuhi, Aku__"
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" potong Dion tanpa beralih dari netra teduh itu. Alih alih menanggapi perkataan Ara mengenai Janji dinner berdua, dia lebih peduli dengan kebahagiaan wanita ini setelah menikah dengan Rafa.
Ara mengangguk perlahan."Iya, aku bahagia. Suamiku sangat mencintaiku. Dia memberiku banyak cinta, dan kasih sayang! Aku sangat bahagia bersamanya," ucap Ara tersenyum. Dia mengerti kenapa Dion bertanya begitu.
"Terimakasih atas kepedulian kakak pada hidupku! Terimakasih atas semua kebaikan kakak selama ini padaku. Aku sudah menganggap kakak seperti kakak sendiri, sama seperti Cindy dan Ines. Kakak sangat baik pada kami," ucapnya kembali.
Dion mengangguk sambil menelan ludahnya, Hatinya sedikit lega mendengar penuturan itu.
Tanpa sengaja matanya melihat cincin pernikahan di jari Ara. Dia melihat kedua benda indah itu, lalu menyentuhnya.
Ara melihat cincin di jari manisnya.
"Kedua cincin ini adalah cincin pernikahanku. Yang pertama cincin pernikahan ku dengan almarhum kak Raka, dan satunya dengan kak Rafa, kakak iparku. Aku masih mengenakan cincin pernikahan dari kak Raka karena aku sangat mencintainya, tidak bisa melupakannya. Aku ingin selalu mengingat kenangan indah bersamanya bersama cincin ini." kata Ara menjelaskan.
Dia menatap kembali pada Dion sambil tersenyum lebar mata berkaca-kaca.
"Aku tidak menyangka akan menjadi istri mereka berdua."
"Aku nggak tamak kan kak? Menikahi mereka berdua, menjadikan mereka sebagai suamiku? ha-ha-ha__!" kata Ara lagi sambil tertawa.
Dion pun jadi tersenyum lebar mendengar perkataannya.
"Karena itulah salah satu alasan, aku menyembunyikan pernikahanku dengan kak Rafa. Aku tidak ingin di anggap wanita yang serakah, tidak tahu diri karena menikahi kakak beradik." ucap Ara.
Senyum Dion langsung pudar dari wajahnya,
melihat senyuman bercampur kesedihan di wajah wanita yang masih dicintainya ini.
Dion memegang kedua tangan Ara.
"Untuk apa kamu memikirkan penilaian orang, yang penting kedua suamimu menikahi mu karena cinta. Kamu orang yang sangat baik Ara. Tidak semua orang tahu tentang dirimu dan juga kebaikan hatimu. Jadi nggak usah pusing dengan penilaian mereka. Aku lebih bahagia jika kamu bahagia dengan pernikahanmu yang kedua! Aku senang dan lega suamimu sangat mencintaimu! Aku doakan yang terbaik untuk pernikahan kalian," ucapnya sambil tersenyum meski sakit dan sesak di dada.
"Terimakasih. Aku juga turut mendoakan pernikahan kakak bersama Sophia. Semoga pernikahan kalian lancar. Dan nantinya rumah tangga kalian dipenuhi cinta, kebahagiaan," ucap Ara tulus.
__ADS_1
Dion tak menjawab karena dia tahu tidak pernikahan seperti apa yang akan di jalani dengan Sophia, pernikahan yang tidak di dasari cinta tapi hanya keterpaksaan. Dion menatap sejenak wajah menenangkan ini beberapa saat, kemudian melangkah menuju mobil.
"Kak, jas kakak ketinggalan," seru Cindy melangkah cepat ke arah Dion dengan jas di tangan. Lalu menyerahkan pada Dion, Dion segera menerimanya.
"Hati hati di jalan." kata Cindy.
Dion mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Saat hendak masuk matanya menangkap tanda merah dan lima jari di pipi Cindy.
Dion memerhatikan tanda itu sejenak. Dia teringat tamparan yang di lakukan Sophia.
Dion mendengus geram, emosinya kembali menguap. Dia menutup pintu mobil keras. Dia hendak melangkah menemui Sophia tapi tangannya cepat di tahan oleh Cindy.
"Kak, udah...," ucapnya memelas sebab dia tahu apa yang akan di lakukan Dion.
"Gak usah di perpanjang lagi, aku gak apa-apa! Sebaiknya kakak pulang," menatap wajah Dion penuh harap.
"Tapi Sophia sudah kelewat batas Cind, kakak gak terima dia melakukan kekerasan sampai separah ini kepadamu. Ini pasti sakit kan?" kata Dion seraya menyentuh pipi yang tampak merah dan lebam itu lembut.
Cindy mendesah sedih, matanya berkaca-kaca."Tentu saja sangat sakit!" batin Cindy. Dan lebih sakit hatinya. Dia berusaha tersenyum sambil memegang tangan Dion di pipinya.
"Udah gak sakit kok, tadi Ara dan Ines sudah mengompres dengan es batu. Aku juga sudah minum obat pemberian kak Nesa. Sebaiknya kakak pulang ya," membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh Dion agak memaksa masuk ke dalam, kemudian menutupnya kembali.
"Hati hati di jalan." kata Cindy kembali sambil tersenyum, lalu mundur sedikit. Dion membuang nafas kasar. Lalu segera menyalakan mesin dan menjalankan kendaraannya meninggalkan tempat itu dengan kemarahan yang mendalam pada Sophia.
Ara dan Ines mendekati Cindy, lalu memegang ke dua tangannya erat. Mereka menatapi Kepergian Dion sampai hilang dari pandangan mereka.
Ponsel Ara berdering, dia segera meraih ponselnya dari saku celananya.
"Kalian masuk dulu, aku mau terima telepon dulu," Ines dan Cindy mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam.
Ara terlibat pembicaraan dengan si kembar yang menelepon lewat ponsel pak Sam. Beberapa saat telepon di matikan.
Saat dia berbalik dan naik tangga teras, sebuah tarian kuat pada lengannya membuat dia menjerit kesakitan.
Sophia yang sejak tadi memendam kemarahan dan kecemburuan melihat kedekatan mereka mencekal tangannya kuat.
"Apa yang kau lakukan pada calon suamiku? Beraninya kau memegang tangannya, kau ingin menggodanya hah?" sentak Sophia keras memelintir tangan Ara.
"Auwww....!" Ara menjerit kesakitan.
Cindy, Ines dan Sonya terkejut mendengar jeritannya, mereka melangkah cepat keluar.
"Sophia, Apa yang kau lakukan pada Ara? lepaskan dia!" Cindy menarik tangannya Sophia. Tapi Sophia semakin memperkuat pegangnya di tangan Ara. Ara Kembali menjerit kesakitan.
"Jaga ucapan mu sophia, lepaskan Ara, kau menyakitinya." sentak Sonya.
"Beraninya seorang pelayan rendah, cupu kampungan sepertimu menyentuh Tuan muda Alkas," hentak Sophia.
"Hentikan Sophia, hentikan," teriak Cindy menarik tangannya kuat, tapi Sophia mendorong tubuh Cindy kuat, Cindy yang lemah jatuh terjungkal ke bawah, tapi dengan cepat Ines menahan tubuhnya sebelum membentur lantai.
"Diam kau, kau juga sama seperti cupu kampungan ini, kalian berdua wanita wanita penggoda lelaki milik orang," Sophia menunjuk kasar pada Cindy.
Cindy memegang perutnya yang terasa nyeri, kepalanya pusing. Dia ingin muntah.
"Cindy, kamu nggak apa-apa?" Ines menyentuh perut cindy dengan khawatir.
Cindy menggeleng lemah.
"Aku gak apa Nes. Aku hanya pusing dan pengen muntah," Cindy memegang kepalanya.
"Sebaiknya kamu masuk kedalam! Ayo aku antar__!"
"Aku mau me toilet. Kamu di sini saja jangan mengikuti ku, sebaiknya kau bantu Ara." Cindy segera berlari ke dalam karena tidak tahan menahan perutnya yang semakin mual karena ingin muntah.
Ines menatap kepergiannya dengan sedih.
"Lepaskan aku Nona Sophia." jerit Ara.
"Aku akan memberimu pelajaran karena berani menyentuh dan menggoda calon suamiku! Dasar wanita murahan," teriak Sophia keras.
"Apa maksudmu? Aku tidak menggoda calon suamimu Nona."
"Lepaskan Ara sophia," Sonya menatapnya tajam, tapi Sophia kembali memelintir tangan Ara, Ara kembali menjerit jerit kesakitan.
"Jaga ucapan mu nenek lampir, beraninya kau mengatai temanku buruk dengan mulut busuk mu itu! Lepaskan Ara," sentak Ines, dia menggigit kuat tangan Sophia.
Sophia menjerit kesakitan, hingga cekalannya pada tangan Ara lepas. Ines segera mendorong tubuh Sophia kemudian memeluk Ara. Lalu membawa masuk Ara ke dalam.
Sophia memekik karena jatuh tersungkur ke lantai."Sialan kau.... " makinya pada Ines.
Sonya segera menahan Sophia ketika gadis itu hendak mengejar Ines.
"Lepaskan aku Sonya." sentak Sophia keras.
Sonya melepaskan pegangannya.
__ADS_1
"Cukup Sophia, jika Dion mengetahui ini dia tidak akan memaafkan mu, jika Dion sampai mengetahui kau menyakiti Ara dia pasti akan marah besar padamu, dan bisa bisa tidak mau lagi menikahi mu," kata Sonya menatapnya tajam.
Sophia terhenyak.
"Apa yang kau katakan? Bisa bisa Dion tidak akan menikahi ku? Apa maksudmu?"
"Sudahlah Sophia, yang jelas aku katakan sekali lagi padamu jangan pernah menyakiti atau berbuat buruk pada Ara, kalau tidak kau akan menyesalinya," ucap Sonya lagi dengan tatapan tajam penuh peringatan, lalu melangkah.
"Memangnya siapa si cupu kampungan itu?" Sophia menarik tangan Sonya kuat hingga langkah Sonya terhenti.
"Siapa si cupu itu Sonya? Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyentuh dan menggoda Dion," katanya kasar.
Sonya menghentikan langkahnya.
"Namanya Ara, Sophia, berhentilah mengatainya buruk. lagi pula dia tidak menggoda calon suamimu itu, kau saja yang terlalu berlebihan dengan rasa cemburu mu itu. Kau ingin tahu siapa dia? Ara adalah wanita yang sangat di cintai oleh Dion," kata Sonya agak keras dengan tatapan tajam.
Sonya tercengang.
"Apa? si cupu kampungan itu?" kaget, lalu tertawa keras, mengejek.
"Dia punya nama Sophia, namanya Ara, bukan cupu. Hati hati dengan ucapan mu! ah.... sudahlah, aku malas berdebat denganmu, terserah kau. Aku hanya memperingatkan mu jangan berbuat buruk pada Ara," tegur Sonya kembali dengan kesal.
Bukan hanya karena dia wanita yang di cintai Dion Sopiah, tapi karena Ara adalah wanita yang sangat berharga milik Tuan Ravendro Artawijaya, istri yang sangat di cintainya dan di jaga melebihi nyawanya sendiri. Kau .... ayahmu, bahkan bisnis ayahmu akan bermasalah dan bisa saja hancur jika tuan Ravendro sampai tahu kau menyakiti istri kesayangannya, batin Sonya menatap tajam wajah Sopiah yang tertawa mengejek Ara, lalu dia melangkah masuk ke dalam menyusul Ara dan Ines.
Nesa terkejut melihat Ara yang tampak meringis memegang tangannya, dia tidak mengetahui yang terjadi di luar butik karena dia sedang berada di ruang belakang.
"Kau kenapa Ra? kenapa dengan tanganmu?"
"Ini karena__!" ucap Ines, tapi terputus.
"Ah, nggak apa-apa kak, tadi aku menabrak tiang pintu," kata Ara gugup, dia mengedipkan sebelah matanya pada Ines dan Sonya.
"Benar?" tanya Nesa kembali sambil memegang dan memeriksa pergelangan tangan Ara.
"Iya kak, aku tadi jalan nggak hati hati! Udah nggak sakit kok," ujar Ara tersenyum dan bersikap santai.
Ines menatapnya kesal karena tak jujur pada Nesa.
"Kamu harusnya hati hati Ra, jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, Rafa pasti akan memarahiku habis habisan," ujar Nesa masih memeriksa tangan Ara.
Berakhirnya ucapan Nesa, ponsel Ara berdering.
"Siapa?" Nesa menatapnya.
"Kakak ipar!" jawab Ara.
"Tuh kan? Dia pasti dapat merasakan saat dirimu kenapa napa begini. Cepat di angkat, nanti dia marah lagi kalau kelamaan. Kakak ke belakang dulu," kaya Nesa kembali lalu balik lagi ke belakang karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
Ara memberi isyarat pada Ines dan Sonya untuk diam, lalu dia segera mengangkat telepon."Assalamualaikum kak__!"
"Waalaikumsalam sayang. Apa kamu masih di butik?"
"Iya, aku lagi sama kak Nesa dan teman temanku, kakak lagi di mana sekarang?"
"Aku ada di hatimu sayang." kata Rafa pelan dan lembut .
"Ih, mulai lagi deh," ujar Ara tersenyum malu-malu, dia segera menjauh melihat Ines dan Sonya menatapnya tersenyum lebar.
Rafa terkekeh-kekeh dari seberang.
"Aku sangat merindukanmu sayang, apa kamu baik baik saja di sana?"
"Iya, aku baik. Kakak di mana sekarang? Serius dong jawabnya, jangan bercanda!"
"Kenapa sayang? apa kamu merindukan ku?"
"Aku__!" Ara malu malu.
"Aku kenapa sayang? Apa kau merindukan bibirku ?" bisik Rafa pelan menggoda.
Mata Ara membulat, wajahnya memerah semakin malu.
Rafa tertawa dari seberang melihat wajah merah merona istrinya dari kamera cctv.
Tapi apa yang di katakan suaminya memang benar, Ara sangat ingin mengecup bibir dan wajah suaminya saat ini, keinginan itu muncul dari hatinya saat Rafa menelpon.
Sonya dan Ines memperhatikannya. Lalu Ines pamit pada Sonya mau menyusul Cindy di toilet karena dia merasa khawatir.
Ara kembali melanjutkan obrolannya dengan suaminya.
Dan Sonya melangkah ke depan memeriksa Sophia yang berada di luar karena gadis itu belum masuk sejak tadi dan belum pamitan pada Nesa. Tapi di lihatnya Sophia sudah tidak berada di sana.
"Apa dia sudah pulang?" gumam Sonya bingung.
Bersambung.
__ADS_1