
Setelah makan malam.
"Karena nak Ines sekarang sudah menjadi istri Wisnu, maka nak Ines akan tidur di kamar Wisnu." kata Rani.
Ines terkejut, tapi kemudian tersenyum. Ingin menolak tapi tidak ingin membuat hati ibu Rani kecewa. Dia canggung dan risih untuk tidur sekamar dengan Wisnu.
Rani bisa menangkap adanya penolakan dari mata Ines. Dia mengerti Ines merasa canggung risih tidur sekamar dengan Wisnu.
Rani akan berusaha untuk mendekatkan keduanya agar terus bersama selamanya tanpa ada kata berpisah apalagi cerai mengingat pernikahan di antara mereka berdua tidak ada rasa cinta. Rafa mengatakan padanya, Ines menikahi Wisnu karena demi Azham dan Azhar. Jika kedua anak itu sudah bertambah besar maka Ines akan meninggalkan Wisnu. Ines juga mengajukan syarat pernikahan untuk tidak ada sentuhan fisik di antara keduanya dan tidak akan mencampuri urusan masing-masing.
Tapi Rani ingin pernikahan keduanya langgeng selamanya hingga ajal memisahkan.
"Sudah malam, waktunya untuk istirahat.
Wisnu, ajak istrimu ke kamar." kata Rani kembali pada Wisnu.
"Tapi bu, bagaimana dengan anak anak? Biarkan aku tidur sama mereka. Mereka pasti membutuhkan ku." kata Ines. Menolak secara halus untuk tidak tidur di kamar Wisnu.
Karena tujuannya menikah hanya karena si kembar.
"Mereka akan tidur dengan ibu. Ibu juga sudah kangen sama mereka. Sudah beberapa hari ini tidak tidur bersama mereka. Sudah, sebaiknya kalian ke atas saja dan istirahat. Kalian pasti capek. Ayo Wisnu, ajak Ines ke atas."
"Ta-tapi bu....!"
"Silahkan Nona Ines." kata Wisnu memangkas ucapan Ines.
Ines menatap wajahnya. Wisnu segera merangkul pundaknya
"Ibu juga harus segera istirahat. Kami permisi ke atas dulu." katanya pada Rani.
Lalu segera melangkah sambil memegang kuat pundak Ines membawanya menuju tangga.
Tentu saja Ines kaget dengan perlakuannya.
"Diamlah, tetaplah seperti ini sampai kita hilang dari pandangan ibu. Aku tidak ingin ibu mengetahui pernikahan kita yang hanya pura pura demi anak anak! Aku hanya ingin menjaga hati ibu. Mengertilah." bisik Wisnu menekan suaranya.
Ines tertegun mendengar ucapannya. Akhirnya dia mengalah dan membiarkan tangan Wisnu memeluk pundaknya. Mereka berjalan dengan tenang sampai tiba di dalam kamar.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu. Kita Akan berpura pura dekat seperti ini di depan ibu dan anak anak. Aku tidak ingin melihat mereka sedih dan kecewa." kata Wisnu setelah menutup pintu kamar dan menarik tangannya dari bahu Ines.
Ines membuang nafas panjang. Meski terlihat dingin dan kejam ternyata pria ini memiliki sisi lembut dan sangat menjaga hati ibu dan anak anaknya.
Ines melangkah menuju pakaiannya yang masih tersimpan di dalam koper.
"Di ruang ganti ada lemari kosong. Simpan pakaian mu di lemari itu." kata Wisnu mendekat ke arahnya. Dia segera mengangkat dua koper besar berisi pakaian dan barang-barang Ines, lalu di bawanya keruang ganti.
Ines memperhatikan sejenak apa yang dia lakukan, mengangkat kopernya yang berat dan besar. Lalu segera mengikuti Wisnu dari belakang.
"Terimakasih." ucapnya.
Wisnu tak menjawab. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang keringatan.
Ines masih mengatur pakaiannya hampir sejam, lalu masuk kamar mandi untuk bersih-bersih juga. Karena sejak tadi memakai gaun pengantinnya dan dirasakan gerah.
Dia teringat gaun pengantin mewah yang di berikan Ara untuknya. Tapi sayangnya tidak bisa dia kenakan karena pernikahan mereka yang hanya sederhana sesuai keinginannya sendiri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Ines keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Di dapatnya Wisnu berada di atas ranjang sedang sibuk dengan laptop dan berkasnya.
Ines bingung mau tidur di mana. Tidak mungkin dia tidur di ranjang yang sama dengan pria itu.
Wisnu hanya menoleh sekilas padanya. Lalu kembali fokus ke laptop. Hal itu membuat Ines kesal karena Wisnu tidak peka dengan dirinya yang bingung mau tidur di mana.
Akhirnya Ines mengambil bantal dan membawanya ke sofa. Lebih baik dia tidur di sofa saja.
Sebelum dia membaringkan tubuh, terdengar suara dari Wisnu.
"Kau tidak boleh tidur di sofa. Tidurlah di ranjang."
Ines kaget mendengar perkataannya.
"Tidur di ranjang? Bersama dengan anda? Ogah__aku gak mau. Kecuali kalau Anda menyingkir dari situ. Aku tidak mau tidur seranjang dengan anda!"
"Kamu jangan berpikir buruk dulu. Aku tidak punya maksud apa apa. Sebelumnya Azham dan Azhar selalu datang ke kamarku, bahkan kadang tidur bersama ku. Bagaimana jika mereka datang melihat kita tidur terpisah, terus mereka laporkan pada ibu? Kadang ibu juga selalu datang melihatku. Bagaimana jika ibu melihat mu tidur di sofa?"
"Jadi maksud Anda kita berdua akan tidur di atas ranjang?" ucap Ines terhenyak mendengar kata-katanya.
"Kau Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu." jawab Wisnu.
Ines tetap tidak bisa terima dan menuruti kata kata pria yang telah menjadi suaminya ini.
Bagaimana jika nanti mereka berdua khilaf.
Itu mungkin bisa saja terjadi. Mengingat Wisnu selalu mimpi buruk. Lalu memeluk dan mencium dirinya seperti kemarin.
"Nggak ah, aku gak mau. Kemarin saja Anda mimpi buruk terus meluk meluk dan cium aku. Nanti anda mimpi lagi dan melakukannya. Aku sudah kehilangan ciuman pertama ku karena anda. Aku tidak mau lagi kehilangan yang lain lain....!!!" keluh Ines cemberut sambil menyilang kan ke dua tangannya di depan dada.
Tetap ngotot mau tidur berpisah.
"Kau jangan khawatir, itu tidak akan terjadi lagi. Tidurlah di ranjang, aku mau melanjutkan pekerjaanku." katanya menatap wajah Ines yang masih duduk di sofa.
Ines masih mematung mendengar perintahnya.
Wisnu mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajah mereka secara tiba-tiba.
Ines kaget dan segera menarik mundur wajahnya. Dia menatap mengernyit wajah yang sangat dekat di depannya.
"Tapi bagaimana jika kau yang melakukan khilaf dan menyentuh tubuhku?" kata Wisnu menyeringai dengan suara rendah menatap kedua mata Ines lekat.
Ines melongo.
"Itu tidak akan terjadi.....tidak akan pernah terjadi!" sentak Ines tegas seraya mendorong wajah Wisnu dengan telapak tangannya.
"Jangan dekat-dekat, jaga jarak." katanya sinis.
Lalu dia segera meraih bantal dan bangkit berdiri berjalan menuju ranjang. Dia segera berbaring setelah mengatur tempat tidur dengan memberi jarak posisi tidur mereka. Kemudian menatap sesaat pada Wisnu dengan kesal. Lalu segera berbaring dan menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya.
Wisnu hanya diam menatap dengan apa yang dia lakukan. Lalu segera duduk meneruskan kembali pekerjaannya. Sesekali dia melihat ke arah Ines yang tampak sudah tertidur.
"Usianya masih terlalu muda. Kau harus bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidupnya dan harus mengerti, mengalah, bersabar dengan sikap dan kelakuannya. Tapi ibu yakin dia wanita baik, punya sisi keibuan yang lembut dan menyayangi anak anakmu." ucapan Rani kepadanya muncul di benaknya.
Wisnu kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya.
__ADS_1
Hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari dia berhenti, karena pekerjaannya telah selesai.
Wisnu menatap sejenak pada Ines. Lalu turun ke bawah untuk minum air. Saat melangkah dia teringat Ines yang merasa kehausan di tengah malam. Dia balik lagi ke dapur dan mengambil sebotol air dan naik ke atas.
Wisnu menatap tubuh Ines yang posisinya sangat dekat di bibir ranjang. Dia segera mengangkat tubuh Ines sedikit ke tengah khawatir jatuh. Lalu segera di selimutinya. Setelah itu dia ikut berbaring di samping Ines.
Wisnu menatap langit langit kamarnya.
Untuk pertama kalinya dia tidur dengan seorang wanita berdua di atas ranjang.
Pikirannya melayang pada Ayirin.... lalu beralih pada Ines. Dia menatap jari manisnya yang melingkar cincin pernikahannya dengan Ayirin dan juga Ines.
Dia tidak menyangka akan menikah dengan sahabat Nona mudanya hanya karena sukanya anak anaknya pada wanita ini. Wisnu kembali melihat wajah yang sedang tertidur nyenyak di sampingnya ini. Menatap dalam-dalam wajah polos alami yang tertidur sangat tenang. Semakin lama di tatapi, dia semakin mendapatkan raut wajah manis dan cantik di sana. Bibirnya yang tipis dan mungil berwarna pink tertutup rapat. Wisnu segera mengalihkan matanya dari benda kenyal itu.
Dia mendesah kasar dan menelan ludahnya.
Menghilangkan pikiran pikiran buruk yang merasuk otaknya. Segera dia memejamkan mata mencoba untuk tidur.
Sejam berlalu Ines terbangun dari tidurnya.
Dia menggeliat sambil menguap. Perlahan dia membuka mata. Dia terkejut melihat sebuah wajah yang sangat dekat di depannya. Setelah lebih jelas di lihatnya adalah wajah Wisnu yang tertidur.
Dan apa ini? kakinya menempa pada perut Wisnu. Tangan kanannya berada di dada Wisnu memeluk. Dan kepalanya berbantal di lengan Wisnu.
Dia meninggalkan bantal kepala dan bantal peluknya di belakang dan malah memeluk Wisnu.
Ines terperanjat, tersadar dan segera bangun. Hampir saja dia berteriak keras bila tidak segera membekap mulutnya.
Ines menunduk ke bawah memeriksa pakaian dan tubuhnya. Syukurlah tak ada yang berubah dan tak ada yang aneh aneh terjadi pada dirinya.
"Kenapa aku bisa tidur memeluknya?" gumamnya kaget dan bingung.
"Apa dia yang melakukannya? atau aku sendiri yang tanpa sadar memeluknya dalam tidurku?" gumamnya kembali menatap pada Wisnu.
"Ya ampun___!" Ines mengusap kasar wajah dan rambutnya.
Dia yang melarang Wisnu dekat dekat dan jaga jarak malah dia yang mendekati dan memeluk pria ini.
"Apa dia tahu aku memeluknya? Ya tuhan, semoga saja tidak!" batinnya.
Ines mendekatkan wajahnya pada wajah Wisnu, seraya melambaikan tangan untuk memastikan kalau pria ini benar-benar tertidur. Tak ada gerakan apa pun dari bagian-bagian wajah Wisnu. Hanya suara dengkuran nafasnya yang terdengar masuk keluar hidung dan mulut.
"Ah... syukurlah dia benar-benar tertidur. Mau di taruh di mana wajahku jika sampai dia tahu aku tidur memeluknya?" gumamnya lega.
"Semua juga salahmu sekertaris menyebalkan...aku sudah bilang tidak ingin tidur bersama di ranjang, kamu sih maksa maksa aku dengan membawa nama ibu dan anak anak." omelnya kesal menatap Wisnu.
Dia menatap Wisnu semakin kesal, bahkan geram. Tapi perlahan wajah kesal menghilang dan berganti mengernyit menatapi lekat wajah Wisnu yang tadinya terlihat menyebalkan kini terlihat tampan di matanya.
Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tebal merah. Alisnya juga yang tebal, rahangnya yang persegi bergaris kuat membuatnya terlihat maskulin.
"Tampan sih, tapi sayangnya dingin, angkuh, sombong, pemarah. Pokoknya lo itu pria jutek paling menyebalkan yang pertama gue temuin." katanya kesal menatap sinis.
Ines segera menarik wajahnya mundur, lalu turun dan meminum air di nakas. Setelah itu dia keluar menuju kamar si kembar untuk melihat anak anak itu.
Wisnu senyum senyum sendiri dengan mata terpejam begitu mendengar suara pintu tertutup.
__ADS_1
Bersambung.
Maaf baru bisa up π