Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 222


__ADS_3

...Happy Reading....


Setelah melaksanakan shalat subuh,


Cindy langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Dion. Dia menyumbat ke dua lubang hidung dengan tisu agar tidak mencium bau rempah dan masakan. Tak cukup hanya itu, dia juga memakai masker.


Nasi goreng + telur orak-arik yang di tambahkan irisan sayur jamur wortel jagung dan keju. Di tambah sandwich, roti bakar, pancake, susu, jus dan teh jahe muncul di kepalanya sebagai sarapan untuk kakak sepupunya itu. Dengan penuh perjuangan akhirnya sarapan pagi berhasil dibuat.


Cindy menata di atas meja makan. Dia tersenyum puas melihat hasil karyanya yang tertata rapi. Setidaknya ini yang bisa di lakukan untuk membalas kebaikan kakak sepupunya selama ini, hanya dengan membuatkan makanan. Kemarin kemarin dia juga seiring memasak untuk Dion, tapi hanya nasi goreng saja. Kali ini entah kenapa dia ingin membuat sesuatu yang berbeda dan lebih untuk Dion.


"Waktunya membangunkan kakak untuk sarapan. Sekalian aku juga mau pamit pulang." katanya seraya membuka tali celemek yang terikat di belakang pinggangnya. Di lepas dan di gantung pada tempatnya. Cindy berbalik. Tubuhnya menabrak sosok Dion yang berdiri tepat di belakangnya. Cindy terkejut dan hampir jatuh jika Dion tidak memegang ke dua lengannya.


"Astaga, kakak bikin kaget saja." ucapnya sambil mengelus dada.


"Kamu yang terlalu serius sehingga tidak menyadari keberadaan ku." jawab Dion seraya melepaskan pegangannya.


Cindy menatap kesal dengan bibir mengerucut. Tapi kemudian dia tersenyum setelah melihat penampilan kakak sepupunya ini.


"Wahh, kakak keren banget!" menatap wajah Dion lebih lama "Semakin tampan." lanjutnya kemudian. Hidungnya mencium aroma wangi parfum di tubuh Dion"Wangi lagi." pujinya kembali.


Dion terkekeh menanggapinya.


Cindy menarik tangan Dion dan di dudukan pada kursi makan.


"Aku sudah siapkan sarapan untuk kakak. Silahkan di nikmati. Aku gak tahu bagaimana rasanya, tapi tolong hargai ya usahaku." Cindy meletakkan piring dan sendok di depan Dion.


"Ayo, silahkan di cicipi."


Dion menatap semua makanan satu persatu. "Terimakasih." ucapnya tersenyum seraya melihat sekilas pada Cindy. Cindy membalas dengan senyuman.


"Makanlah, aku mau ke kamar dulu." katanya. Dia segera ke kamar tanpa menunggu sahutan dari Dion. Dia mengambil tas dan handphonenya. Lalu kembali ke meja makan.


"Kamu gak makan?" tanya Dion sembari mengunyah.


"Tadi aku udah mencicipi saat memasak. Kakak sarapan saja. Aku mau pulang." kata Cindy.


"Temani aku makan sebentar, duduklah." Dion menarik tangan Cindy duduk dan di dudukkan pada sampingnya.


"Tapi aku masih ada sesuatu yang harus ku kerjakan." Cindy memelas berbohong lagi untuk menghindari makanan ini. Dia khawatir berlama-lama di depan makanan ini akan membuat perutnya mual.


"Ini masih setengah tujuh, masih terlalu pagi. Aku akan mengantarmu pulang." kata Dion. Dia mengambil sepotong sandwich. "Makanlah," Dion menatapnya sekilas lalu meneguk susu.


Cindy gelisah."Aku sudah kenyang kak." katanya berbohong.


"Benarkah? Aku melihatmu sejak tadi memakai masker. Bagaimana bisa makan dengan keadaan seperti itu?"


Cindy kaget ternyata Dion memperhatikannya sejak tadi.


"Aku kan sedang diet. Aku mengantisipasi agar tidak banyak makanan yang masuk ke dalam mulut ku. Makanya aku pakai masker." gugup sambil mengurai senyuman. Lagi lagi berbohong.


"Sudah ku katakan hentikan diet mu. Tubuhmu kurus kering," kata Dion nada tegas.


Cindy terdiam.


"Ambilkan pancake nya." ujar Dion melihat wajah takutnya.


Cindy bergerak cepat, segera mengambil lalu menyerahkan apa yang di minta kakaknya.


Dia tersenyum melihat makanan yang tersisa sedikit. Dion menyantap makanan dengan lahap. Padahal ini hanya sarapan pagi tapi kakaknya makan sangat banyak.


Segelas susu, jus, secangkir teh jahe juga di habiskan. Tidak sia sia dia memasak.


"Kenapa senyum senyum begitu?" tanya Dion memerhatikan senyumannya.


Cindy kaget dan gugup. Senyum hilang seketika dari wajahnya.


"Aku senang, Kakak menghabiskan semuanya. Kakak makannya banyak dan lahap. Apa masakan ku enak?" tanyanya kembali tersenyum.


"Lumayan___." jawab Dion sambil melap bibir dengan tissue. Dia juga heran kenapa bisa makan sebanyak ini dengan lahap. Ingin mengambil terus dan menyantap. Dia merasa makanan yang di buat Cindy enak dan lezat.


"Terimakasih." ucap Cindy tersenyum senang. "Bentar kak, aku ke kamar dulu. Aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal." katanya berbohong. Perutnya terasa mual seperti di aduk aduk. Dia berjalan cepat ke kamar, masuk toilet dan muntah.


"Sampai kapan aku akan merasakan ngidam jahat begini?" gumam nya lirih. Dia segera membasuh wajahnya yang keringatan. Lalu berjalan keluar. Langkanya terhenti di depan meja hias. Dia menatap tubuhnya di cermin.


"Benar kata kak Dion. Aku memang tidak terawat. Wajahku kelihatan tua dan jelek." keluhnya sedih. Tapi kemudian dia tersenyum seraya mengelus perutnya.


"Nggak apa-apa biar kelihatan tua, demi kamu sayang. Gak apa-apa biar mama gak terawat dan gak cantik lagi seperti yang di katakan papamu." Cindy melihat perutnya dan terus mengelus.


"Mama udah gak sabar pengen ngeliat kamu hadir dan melihat dunia. Cepatlah tumbuh besar di perut mama ya? Biar kamu cepat lahir dan menemani mama." bisiknya haru dan bahagia.


Dia memeluk perutnya sejenak. Meski sudah berusia 2 bulan setengah belum terlihat bentuk buncit perutnya. Perutnya masih terlihat rata dan ramping.


Cindy mengalihkan pandangannya ke atas, tepat di wajahnya. Dia meraba raba wajahnya. Memperhatikan setiap bagiannya. Dari kening, mata, hidung, bibir, pipi, dagu, terus turun ke leher jenjangnya yang putih tapi kurus tak berisi, tulang selangka dan sekitarnya nampak menonjol keluar. Cindy meraba raba semua itu.


"Belum puas kau menatap wajah dan tubuh jelek mu itu?" terdengar suara dari pintu.


Cindy terkejut langsung berbalik.


Dia tidak menyadari Dion memperhatikan apa yang di lakukan sejak tadi.


"Kak Dion?" kaget. Melihat Dion bersandar pada tiang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Kamu sedang apa?" Dion melangkah masuk mendekatinya.


"Ya tuhan, apa kak Dion mendengar apa yang ku ucapkan tadi?" batin Cindy cemas.


"I-i itu, bukan apa-apa kak." jawabnya segera, gugup.


"Aku hanya memperhatikan wajah dan tubuh ku di cermin. Kakak benar, aku kelihatan tua dan jelek." mengurai senyuman.


"Kakak mau ke kantor? Pergilah. Aku akan pulang naik taksi, kakak nggak usah antar aku. Nanti telat ke kantor." Cindy cepat mengalihkan pembicaraan.


"Ayo___!" melangkah melewati Dion.


Dion menahan lengannya ketika dia lewat, lalu di tarik agak kuat hingga tubuh Cindy terbalik dan menempel di tubuhnya. Keduanya saling bertatapan. Dion melingkar kan ke dua tangannya di pinggang Cindy.


"Kak...!" ucap Cindy hampir tak terdengar. Dia jadi tidak tenang dengan kedekatan ini.


"Ya tuhan, ada apa denganku? Ada apa dengan hatiku? Dulu aku selalu dekat seperti ini dengan kak Dion, tapi tidak merasakan apa pun. Tapi kenapa ini beda? Apa karena bawaan kehamilan ku? Jujur hatiku tenang dan merasa enak dekat dengan kak Dion. Rasa mual dan muntah juga menghilang. Apa itu juga karena bawaan dari bayiku? ya tuhan, buang perasaan ini dari hatiku. Dia kakakku, aku adiknya. Ini sesuatu yang sangat tidak pantas." batinnya sendu menatap mata Dion.


Dia melepaskan diri, tapi Dion menahan semakin kuat memeluk pinggangnya hingga tubuh mereka merekat tanpa celah.


"Kak, lepas__" tidak tenang dengan posisi mereka. Kedua tangannya di letakkan di antara dadanya dan dada Dion.


"Katakan dulu, apa yang kau lakukan tadi? Apa yang kau ucapkan?" menatap dalam mata Cindy.


"Iya, tapi lepas dulu. Lihat nih posisi kita dekat begini!" melirik ke bawah, ke arah dada mereka yang bersentuhan.


"Memang kenapa kita dekat begini? Kamu adikku, aku kakakmu! Kita sudah biasa dekat seperti ini!" kata Dion ikut melirik ke dada mereka. Buah Cindy yang menempel di dadanya.


"Sekarang katakan, apa yang kau ucapkan tadi?" mengabaikan gestur tubuh mereka.


"Bukan apa apa__." jawab Cindy gugup, panik.


"Aku melihat mu senyum senyum senang sambil menyentuh perutmu. Kau mengucapkan sesuatu dengan perasaan haru dan bahagia." kata Dion melihat ke dua mata Cindy.


Cindy tiba tiba tertawa kecil.


"Tentu saja aku bahagia, karena diet ku berhasil. Perutku semakin rata dan pinggang ku ramping." katanya kembali berbohong.


"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku?" Dion menatap lekat.


"Menyembunyikan apa?" Cindy balik bertanya."Maksud kakak apa? Coba kakak lihat perut ku, dan sentuh lah. Semakin rata bukan? Makanya aku sangat senang."

__ADS_1


Cindy membawa tangan Dion. Lalu di letakkan pada perutnya. Dion meraba perut Cindy. Meraba bagian ramping tubuh adiknya ini. Tubuh Cindy merinding merasakan elusan di perutnya ini. Seolah Dion menyentuh bayinya. Cindy terharu dengan mata berkaca.


"Papamu menyentuh mu nak." batinnya lirih.


Secepatnya dia berbalik karena matanya sudah basah. Tak ingin Dion melihat kesedihan di matanya. Dia mengambil ponselnya di atas meja rias dan secepatnya menekan kedua matanya. Lalu segera berbalik menatap Dion.


"Kakak sudah merasakan perutku kan? Gimana? Semakin ramping bukan?" mengulas senyum.


Dion tidak menjawab. Hanya menatap seolah merasakan ada sesuatu yang di sembunyikan Cindy.


"Sekarang kita pergi, aku ada urusan penting pagi ini." kata Cindy kembali, lalu melangkah keluar tanpa menunggu Dion yang masih terdiam di tempat.


"Tunggu di depan, kakak ambil tas kerja dan handphone dulu." kata Dion tiba tiba. Dia tidak ingin bertanya lagi.


"Oke," Cindy menuju meja makan.


Dion naik ke atas.


Sambil menunggu Dion, Cindy membersihkan meja makan. Terdengar bel berbunyi dan ketukan berulang. Cindy menghentikan pekerjaannya dan berjalan ke tangga, dia menengok ke atas


"Kak, ada tamu di depan." teriaknya dari bawah tangga.


"Kakaaaak....!" panggilnya kembali lebih keras.


"Sebentar, kau buka saja." sahut Dion dari atas. Dia juga mendengar suara bel itu, tapi masih membereskan berkas laporan kerja.


Cindy segera melangkah menuju pintu


"Siapa ya?" gumamnya.


Lalu segera membuka pintu. Di lihatnya seorang wanita berdiri di depan pintu dengan posisi memunggunginya.


"Maaf, siapa ya?" sapa Cindy sopan.


Wanita itu langsung membalikkan tubuh. Dia terkejut melihat Cindy di depannya. Tapi segera dia mengendalikan keterkejutannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Cindy, dia malah melangkah masuk melewati Cindy.


Cindy kaget."Maaf, anda siapa?" bertanya agak kesal karena tamunya tidak sopan nyelonong masuk sembarangan. Dia mengikuti langkah wanita itu.


Wanita Itu kembali tidak mengindahkan pertanyaannya. Matanya memperhatikan sekelilingnya, melihat setiap sudut ruangan bangunan ini. Lalu berbalik menatap Cindy.


"Justru aku yang bertanya, kau siapa? Kenapa kau berada di apartemen ini?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. Dia tidak menyangka ada wanita lain di apartemen tunangannya ini.


Dahi Cindy mengerut. Dia semakin kesal, tapi masih tetap berusaha bersikap tenang.


"Maaf, apa anda tidak salah masuk rumah orang?" katanya menatap tajam.


Baru kali ini dia mendapat tamu tidak sopan begini. Cantik cantik tapi tidak beradab dan tidak punya etika dalam bertamu.


Wanita itu tersenyum sinis, seolah mengejek.


"Tentu tidak. Aku sangat tahu ini apartemen tunangan ku."


Cindy kaget mendengar ucapannya. Tunangan? batinnya.


"Sebaiknya katakan saja siapa anda dan ada urusan apa. Anda masuk rumah orang sembarangan, tanpa memperkenalkan diri dan bicara yang nggak masuk akal." kata Cindy mulai tidak sabar.


Alih alih menjawab pertanyaan, Wanita itu malah tertawa kecil.


Dion nampak turun dari tangga.


"Siapa Cin?" tanyanya sambil buru buru turun.


Keduanya segera mengalihkan pandangannya pada Dion.


"Halo sayang." sapa wanita itu pada Dion. Langkah Dion terhenti menuruni tangga setelah melihat wanita yang menegurnya. Wajahnya berubah datar seketika.


Sementara Cindy, kaget mendengar wanita itu memanggil Sayang pada Dion.


Wanita itu mendekat pada Cindy.


"Aku, tunangannya Dion. Pemilik apartemen ini." katanya tegas menekan dengan tatapan tajam.


Cindy terperangah.


"Tunangan?" dahi mengerut, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Dion yang mendekati mereka. Wanita yang tak lain adalah Sophia itu kembali menatap Cindy.


"Kau tidak percaya dengan apa yang kukatakan?" tersenyum sinis.


"Baiklah, biar ku perkenalkan diriku agar kau tidak penasaran. Aku adalah Sophia, tunangannya Dion." katanya Kembali


dengan bangga.


Kali ini dahi Cindy mengerut. Dia teringat dengan nama itu, nama penelpon yang tertera dalam layar ponsel Dion semalam. Cindy langsung tersenyum setelah mengingatnya.


"Oh, jadi kau Sophia?" katanya kemudian. Lalu menoleh pada Dion.


"Maaf, aku tidak tahu. Seharusnya kau segera memperkenalkan diri dengan menyebut namamu." katanya kemudian mengulas sedikit senyuman.


Sophia tersenyum sinis. Menatapnya dengan menyelidik dari atas hingga bawah. Memperhatikan wajah dan tubuh Cindy yang terlihat jelek di matanya.


"Kau pasti pembantu di rumah ini ya?"


Cindy tersentak, kata kata itu menusuk hatinya. Tapi tetap berusaha tenang, bahkan dia segera mengurai senyuman.


"Jaga ucapan mu Sophia. Dia Cindy, adikku, keponakan papa." kata Dion agak keras menatap tajam mendengar Cindy di katakan pembantu. Begitu dekat, dia segera berdiri di samping Cindy.


Sophia kaget.


"Keponakan Tuan Alkas? Berarti pengaruhnya masih kuat di keluarga Alkas.Tapi syukurlah kalau dia adalah sepupu Dion," batinnya, mengira Cindy kekasih Dion.


Sophia segera memasang senyuman pada Cindy.


"Maaf, aku tidak tahu! Oh ya, aku ingat sekarang, kau adalah wanita yang selalu mendampingi Dion di setiap Dion menghadiri acara dan pertemuan bukan? Tapi kenapa penampilan mu sangat beda sekarang? Sampai sampai aku tidak mengenalmu waktu masuk tadi. Makanya ku pikir kau adalah pembantu di sini." sengaja menyebut kata pembantu lagi.


Cindy menelan ludah, dadanya terasa sesak.


"Maaf, aku kebelakang dulu, silahkan kalian bicara. Kak, aku mau membereskan meja makan dulu." katanya melihat menoleh pada Dion.


"Ya silahkan, sebaiknya begtu karena aku ingin sekali bicara dengan tunangan ku." ujar Sophia dengan senyuman manis mengejek.


Cindy segera melangkah meninggalkan mereka, menuju meja makan. Dia segera meraih piring bekas makan Dion.


Dalam langkah menuju dapur."Tunangan?" batin Cindy sedih."Ada apa dengan hatiku? Kenapa hatiku sakit mendengar kata itu? Kenapa dadaku terasa sesak?" batinnya. Dia menatap kosong ke depan dengan mata berkaca-kaca, dadanya bergemuruh kuat menahan kepedihan. Perlahan dia menyentuh perutnya.


"Cindy, kendalikan dirimu, kendalikan hatimu! Jangan punya perasaan apa pun pada kakakmu. Yang terjadi di Paris hanyalah sebuah kesalahan. Kenapa kau jadi parno begini? Yang kau rasakan sekarang adalah bawaan dari bayimu, bukan karena perasaan yang lain." ucap Cindy menenangkan dirinya sendiri.


Cindy memejamkan mata menahan kesedihan. Entah apa yang di rasakan, semua terasa campur aduk. Dia ingin sekali menangis. Tapi menangis untuk apa? Air matanya sudah merembes jatuh di kedua pipi sebelum pertanyaan pertanyaan itu terjawab.


Dion menatap Sophia tajam.


"Kenapa kau kemari?"


Sophia mendengkus kesal mendengar pertanyaan itu, merasakan ketidaksukaan Dion pada dirinya yang datang ke sini.


"Sayang, aku kesini untuk menjemputmu, apa kau lupa tentang pembicaraan kita semalam? Papa dan mama mengundangmu untuk sarapan pagi di rumah. Kami menunggu kamu, tapi kau tak kunjung datang. Aku menghubungimu berulang kali tapi tidak di angkat, jadi aku merendahkan diriku dengan menyusul mu kemari."


Dahi Dion mengerut, dia melupakan janjinya semalam."Maaf, aku lupa."


"Ya sudah sayang, kita pergi sekarang ya ke rumah orang tua ku?"


"Aku sudah sarapan Sophia. Nanti saja makan siang katakan pada tuan Abimanyu. Aku sudah makan banyak tadi, aku harus ke kantor sekarang."


Sophia menelan ludah pahit kekecewaan. Sungguh dia sangat kesal dengan penolakan ini setelah capek capek datang kesini terlalu pagi. Tapi dia tidak bisa memaksakan keinginannya. Kali Ini dia harus mengalah dan merendam kekecewaan. Karena dia tahu Dion adalah orang yang keras dan tidak bisa di paksa. Dion bukan orang yang mudah di atur dan tidak mudah di kendalikan dan di genggam. Apalagi dia tahu Dion tidak setuju dengan pertunangan terpaksa ini.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan telepon papa mama dulu, supaya mereka berhenti menunggu kedatangan mu." kata Sophia.


"Iya sebaiknya begitu. Segera hubungi orang tua mu agar mereka tidak menunggu kedatangan ku. Aku jadi merasa tidak enak pada ayahmu. Sampaikan permohonan maaf ku." kata Dion mendengar ucapan Sophia.


"Gak apa-apa sayang, papa mamaku pasti akan mengerti. Aku akan telepon mereka dulu untuk segera sarapan." ucap Sophia tersenyum manis. Setidaknya Dion masih menyadari kesalahannya dan meminta maaf.


Dion mengangguk.


"Aku mau menemui Cindy dulu." dia melangkah ke dapur. Di dapatnya Cindy baru selesai mencuci piring.


"Cindy." memegang bahu adik sepupu nya ini setelah berada di belakang Cindy.


Cindy kaget, dia segera berbalik."Kakak?"


Dion menatap matanya yang terlihat sembab.


"Kau baru menangis?" tanyanya.


Cindy terkejut, dia segera mengurai senyuman."Nggak!" menggeleng kepala.


"Apa kata kata Sophia tadi menyakiti hatimu?"


"Kata kata yang mana? Apa aku pembantu di rumah ini?" tanya Cindy masih terus tersenyum."Dia nggak salah kok. Kakak juga ngatain aku tua dan tidak terawat bukan?"


Dion segera meraih pinggang Cindy dan di peluk."Kakak hanya bercanda kok Cin, biar kamu berhenti diet dan ngerawat diri dan penampilanmu lagi."


"Aku tahu." ucap Cindy tersenyum. Keduanya menatap beberapa saat. Mata Cindy melihat dasi Dion yang miring. Dia segera memperbaikinya.


"Kakak kok nggak kasih tahu kalau udah tunangan? Ternyata cepat sekali kakak melupakan Ara." katanya kembali.


Dion membuang nafas kasar.


"Ini kemauan papa. Aku baru pertama kali bertemu Sophia dan itu semalam. Acara tunangannya semalam dan tidak ku ketahui sama sekali. Aku tidak kuasa menolak melihat kesehatan papa. Semalam papa sakit, penyakitnya kambuh. Mau tidak mau aku nurut."


"Ohh gitu...!" Cindy manggut-manggut mengerti."Aku doakan yang terbaik buat hubungan kakak dengan Sophia." menepuk nepuk lembut dada Dion.


Dion kembali membuang nafas kasar.


Cindy melingkarkan kedua tangannya di bahu Dion. Keduanya seperti pasangan suami istri. Tangan Dion yang masih melingkar indah di pinggang Cindy, tubuh tampa celah dan saling menatap.


"Kak, berusahalah untuk membuka hati dan menerima Sophia. Aku yakin suatu hari nanti kakak pasti akan menyukainya, bahkan akan mencintainya." kata Cindy melihat kegusaran di wajah Dion.


"Aku gak tahu Cin. Aku tidak mau memikirkannya. Sudahlah, gak usah membahas ini lagi. Oh ya, aku kesini mau memberikan sesuatu ke padamu." Dion mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya.


"Ini buat kamu." katanya.


"Untuk aku?" Cindy terkejut melihat kartu berwarna hitam, dengan pinggiran emas.


"Iya, kamu simpan ini dan gunakan jika kau butuh sesuatu."


"Tapi__." Cindy gugup tidak percaya Dion memberikan kartu kredit untuknya.


"Sudah, aku gak suka penolakan." kata Dion tegas. Dia meletakkan benda tipis itu ke tangan Cindy.


"Aku tidak butuh ini, uang yang selalu kakak berikan setiap bulan udah lebih dari cukup kok. Sebagian malah ku tabung!" menaruh benda itu di telapak tangan Dion.


"Sebentar lagi kamu wisuda. Dan sudah pasti memerlukan biaya yang banyak. Aku tidak akan lagi mentransfer uang ke rekening mu setiap bulan. Gunakan kartu itu untuk keperluan kuliahmu, kebutuhan hidupmu, atau apa pun yang kau butuhkan. Kode PINnya tanggal lahir mu. Simpan baik baik, jangan sampai jatuh." kata Dion sembari menaruh di saku baju Cindy.


Cindy terdiam, perasaan sedih dan haru menyeruak di hatinya. Dari dulu Dion selalu baik padanya.


"Ayo kita berangkat, aku ada rapat pagi ini."


kata Dion menarik tangan Cindy yang masih bengong.


Alih Alih mengikuti langkah Dion, Cindy segera memeluk Dion dari belakang.


Matanya basah.


Dion berbalik. Cindy kembali memeluk.


"Hey....kamu kenapa menangis." Dion mengelus punggung Cindy.


Cindy tak menjawab, kesedihan semakin membuncah.


Dion menghela nafas pelan, lalu membalas memeluk Cindy. Keduanya saling berpelukan tanpa menyadari sepasang mata memperhatikan mereka.


"Kakak terlalu baik padaku."


"Jangan bilang begitu. Itu sudah kewajiban ku karena kamu adikku."


"Tapi hanya adik sepupu." kata Cindy.


Dion merenggangkan pelukan mereka. Keduanya saling menatap. Dion tersenyum. Lalu perlahan mengecup kening Cindy lembut."Aku sudah mengganggapmu seperti adik kandung ku sendiri." Dia melap pipi Cindy yang basah oleh air mata.


"Cin, boleh kakak minta sesuatu darimu?"


Cindy mengangguk.


Dion memegang wajah Cindy, mengelus lembut pipi mulus itu.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku.


Jika kau ada masalah beritahu aku, jangan menutupinya dariku. Jika kau butuh sesuatu beri tahu aku. Kalau kau sakit, beritahu aku. Jangan memendamnya sendiri, dan tolong hentikan diet mu itu. Aku tidak ingin kau sakit! Mulailah untuk merawat diri dan penampilan mu. Gunakan kartu itu untuk semua kebutuhan hidupmu."


Air mata Cindy kembali mengalir. Dia kembali memeluk Dion."Seandainya aku bisa jujur kak, seandainya aku bisa mengatakan padamu, keadaanku begini karena sedang mengandung anakmu! Aku bukan sakit atau lagi diet, tapi karena sedang hamil anakmu." ucap Cindy tapi hanya di dalam hati. Isak tangisnya kembali pecah tidak bisa di tahan.


Dion mengelus punggung dan mengecup puncak kepalanya adik sepupunya ini. Dia sengaja memberi Cindy kartu kredit karena merasa khawatir dengan keadaannya. Mungkin saja Cindy sedang menderita suatu penyakit tapi dia tidak mau memberi tahu pada orang lain. Atau mungkin saja Cindy kekurangan uang untuk biaya perawatan tubuhnya.


Jika pemikirannya itu benar, kenapa Cindy tidak terbuka padanya? Padahal dia sudah berulang kali mengatakan pada Cindy untuk selalu jujur dan terbuka dalam hal apapun.


Sophia mendekati mereka.


"Kalian kenapa? Apa yang terjadi?"


Keduanya kaget.


Cindy buru buru melepaskan pelukannya. Melap air mata.


"Kak, aku berangkat ke kampus dulu."


"Aku akan mengantarmu, kita pergi sama sama." kata Dion.


"Tidak perlu kak. Aku tidak ingin merepotkan kakak, nanti kakak telat ke kantor. Aku akan naik taksi saja. Kakak pergi saja dengan Sophia." tolak Cindy.


"Kebetulan Cin, aku tadi ke sini naik taksi. Kau bisa pakai taksi itu untuk mengantarmu ke kampus. Aku rasa taksinya masih menunggu di bawah." sela Sophia segera.


"Permisi kak!" kata Cindy alih alih menanggapi perkataan Sophia. Segera melangkah menuju pintu keluarga.


"Hati hati di luar Cin, jangan telat makan!" kata Dion.


"Iya...!" jawab Cindy agak keras karena jaraknya sudah jauh.


Sophia menatap Cindy aneh.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis?"


"Bukan apa-apa, ayo kita pergi. Aku ada rapat pagi ini." ujar Dion. Seraya beranjak melangkah.


Sophia mengikuti dari belakang dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Pikirannya sedikit terganggu dengan kedekatan kedua kakak adik ini. Dia tidak menyangka Dion sangat menyayangi dan begitu perhatian pada adik sepupunya itu.


Bersambung.


Terimakasih yang masih

__ADS_1


setia dengan karya author 😘😘


Jangan lupa dukungannya ya....


__ADS_2