Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 260


__ADS_3

Dua hari berlalu tak ada kabar dari Wisnu.


Dia menghilang seperti di telan bumi setelah kejadian di undang kepala sekolah.


Ayirin bahkan sudah menanyakan ke guru dan kepala sekolah tentang keberadaannya.


Mereka mengatakan Wisnu hanya setengah jam berada di ruang kep, setelah itu kembali ke ruang kelas.


Mengenai pemanggilannya ke ruang kepala sekolah, hanya ingin mengkonfirmasi tentang pekerjaan sampingan yang selalu di lakukan setelah pulang sekolah.


Ayirin tak fokus belajar, dia selalu gelisah dan mendapat teguran dari guru. Berulang kali dia di keluarkan dari kelas.


"Wisnu, kamu di mana?" gumam Ayirin sambil menangis tertahan.


Rafa memperhatikan dirinya.


Rafa adalah sosok pribadi yang tidak mau ambil pusing dengan urusan orang lain, tapi pada Wisnu dia juga penasaran kemana Wisnu pergi?


Kenapa dua hari ini tak terlihat batang hidungnya?


Apa kelompok geng mafia itu kembali memburunya?


Ada hubungan apa dia dengan para berandalan itu? Dan barang apa yang mereka buru dari dirinya? batin Rafa.


Meski bertemu dengan Wisnu dalam situasi yang buruk, tapi Rafa merasa tertarik dengan dirinya.


Keberanian serta semangat nya yang keras dalam melawan kejamnya kehidupan.


Seperti bagaimana tangguhnya dia melawan para preman berjumlah 4 orang seorang diri. Meski tendangan, pukulan dan sabetan senjata tajam mengenai tubuhnya, dia tetap bertahan dan menyerang dengan membabi buta hanya mengandalkan sepotong besi.


Rafa sendiri terkena sabetan pisau di perut karena lebih banyak musuh yang harus di ladeninya seorang diri.


Tapi meski perlawanan yang tidak seimbang, para berandalan itu berhasil mereka lumpuhkan dan lari tunggang langgang.


Lamunan Rafa buyar ketika masuklah empat jagoan sekawan tukang palak, perisak yang selalu melakukan perundungan pada siswa penakut, lemah dan miskin di sekolah ini.


Tapi mereka selalu lolos dari hukuman sekolah.


Tubuh mereka yang tinggi kekar dengan tatapan tajam dan sangar membuat siswa siswi takut dan sebisa mungkin menjauhi dan tidak ingin mencari masalah dengan mereka.


Geng mereka yang di ketuai oleh Jimmy paling kejam dan sadis saat melakukan perundungan.


Dengan kacung setianya Aldo, Karlos dan Irene yang juga merupakan kekasihnya.


Sudah banyak siswa yang menjadi korban perundungan oleh mereka, tapi tak ada satu pun yang mau mengadu.


Walaupun sekilas nggak logis, ada beberapa alasan mereka takut mengadu.


Pertama takut tidak di percaya, kedua takut di anggap pengecut, ketiga takut kalau si perisak kembali merundung dan melakukan penyiksaan.


Irene tiba tiba jatuh tersungkur ke lantai.


Saat berjalan sala satu kakinya tersangkut pada kaki Ayirin.


Irene menjerit keras sambil memegang bokong dan punggungnya.


Ayirin dan seisi ruangan terkejut, melihat ke arah dirinya yang masih duduk lantai.


Ayirin secepatnya bangkit dan mendekatinya.


"Irene, kamu gak apa-apa?"


"Gak apa-apa moyang lo?" Irene membentak kasar.


"Kaki lo itu dari pada bikin celaka orang mending potong aja."


"Benar tuh.. potong aja..." timpal Jimmy menatap sinis padanya.


Wajah Ayirin langsung berubah pias mendegar ucapannya.


"Maaf Irene, aku benar-benar gak sengaja. Aku gak tahu kalau kakiku keluar dari kotak mejaku dan menghalangi jalanmu. Aku benar-benar nggak sengaja. Maafin aku ya.." katanya memelas seraya membantu Irene berdiri.


Tapi Irene menepis tangannya kuat lalu mencengkram kerahnya, menarik dan membanting keras tubuhnya ke lantai.


Giliran Ayirin yang menjerit kesakitan.


"Hey cupu, bawa kesini air minummu dan bekal siangmu." seru Irene pada siswi berkaca mata tebal.


Gadis itu tersentak di antara ketakutannya dan segera mengambil apa yang di minta Irene.


Takut dan gemetar dia menyerahkan kotak makannya dan botol airnya.


Irene meraih benda itu dari tangannya lalu mendorong tubuhnya hingga menabrak keras meja. Si cupu meringis sakit tapi diam tak berani membalas bahkan menatap pun terlalu takut. Ini bukan yang pertama kali kotak makannya di jadikan sampah oleh Irene.


Irene mendekati Ayirin, membuka kotak makanan, lalu di sirami air minum, dikocok kocok.


Ayirin menatapnya dari bawah dengan takut dan cemas.


"Apa yang kamu lakukan Irene?" tanyanya, dia sudah dapat memperkirakan apa yang akan di lakukan Irene padanya.


Irene hanya tersenyum menyeringai.


Ayirin hendak bangkit berdiri tapi dengan kasar Aldo dan Karlos menahan tubuhnya tetap berlutut.


"Kau belum sarapan pagi kan?" Irene kembali membuka kotak makan.


"Nih makanlah... gratis untukmu..." Irene menumpahkan makanan ke kepala Ayirin pelan pelan, terus beralih pada bahunya. Lalu melempar kasar kotak makanan dan botol air kepangkuan Ayirin.


Mereka tertawa terbahak-bahak.


Ayirin memejamkan mata dengan kedua tangan meremas kuat. Rambut dan seragam sekolahnya kotor seketika. Lantai juga ikutan kotor.


Semua yang ada di ruang kelas hanya menonton dengan wajah iba, tak yang berani membantu.


Malah sebagian dari mereka segera keluar dari ruangan dengan rasa takut.


Ayirin terus diam, meski saat ini dadanya bergemuruh kuat menahan amarah. Dia hanya bisa diam dan terisak.


Percuma melawan, karena lebih kejam dari ini yang akan dia dapatkan.


Ayirin berusaha kuat menekan kemarahan dan air matanya.


Ke empat jagoan perisak itu masih menertawainya.


Jimmy mendekati Irene, memeluk pinggangnya.


"Kau hebat sayang, kau memang benar benar wanitaku." mengecup pipi kanan Irene.


Irene tersenyum bangga mendapatkan kecupan dari lelaki pujaannya ini.


Matanya menangkap sesuatu di bawah kolong kursi.


"Bentar Jim, aku mau mengambil sesuatu dulu." melepaskan pelukan Jimmy.


Lalu merunduk mengambil ponsel Wisnu yang jatuh dari sakunya saat dia jatuh tersungkur tadi.


Ayirin yang melihat pergerakannya terkejut melihat ponsel Wisnu dalam genggaman tangannya yang berusaha di sembunyikan.


Ayirin sangat tahu dan mengenal itu adalah ponsel Wisnu.


Ayirin segera bangkit berdiri.


"Irene..itu ponsel Wisnu kan?" menunjuk tangan kanan Irene.


"Aku tahu itu adalah ponsel Wisnu. Kenapa ponselnya ada padamu?"


Irene tersenyum menyeringai


"Kau pikir hanya suamimu itu yang punya ponsel jelek dan murahan kayak gini?" menaruh


Ayirin mendekatinya.


"Tapi aku sangat tahu itu adalah ponsel Wisnu, berikan padaku..aku ingin melihatnya." berusaha mengambil benda pipih itu dari tangan Irene.


"Apa apaan lo...ini bukan punya suami lo..." sentak Irene seraya mendorong tubuhnya kuat.


Ayirin hampir jatuh seandainya saja tubuhnya tidak tertahan pada meja Rafa.


Ayirin yang sedari tadi menahan airmatanya, akhirnya tidak tahan lagi membendung tangisnya. Dia menangis terisak-isak.


" Katakan di mana Wisnu..kalian pasti tahu di mana Wisnu kan? ini sudah hari ketiga dia menghilang tanpa ada kabar. Sementara.. ponselnya ada pada kalian. Katakan di mana Wisnu Jimmy?...apa yang kalian lakukan padanya?" berkata keras menatap tajam pada Jimmy.


"Sembarangan aja lo ngomong.. mana ku tahu si dekil bodoh itu berada? aku nggak tahu menahu tentang suami dongo lo itu...." Jimmy balik membentaknya.


"Aku yakin kalian pasti melakukan sesuatu yang buruk padanya. Selama ini kau selalu memaksanya melakukan pekerjaan kotor, kau selalu merundung dan menyiksanya. Katakan di mana Wisnu Jimmy?" teriak Ayirin semakin keras. Dia mendekati Jimmy dan menarik tangan Jimmy.


"Kau apakan dia Jimmy, kau sembunyikan di mana dia? ponselnya ada pada kalian. Itu artinya kalian tahu tentang keberadaannya.." kata Ayirin di sela sela tangisnya. Dia menatap tajam dengan amarah pada lelaki arogan ini.


Jimmy mendengus geram, dia melepas kasar tangan Ayirin. Dan berbalik mencengkram kuat kerah baju Ayirin hingga tubuh mungil Ayirin terangkat tak menyentuh lantai.


"Sebaiknya jaga omongan lo baik baik.. kalau tidak lidah busuk lo itu aku potong." kata Jimmy menekan suaranya, menatap tajam melotot, seakan ingin menerkam Ayirin hidup hidup.


Lalu dengan kekuatan penuh dia mendorong tubuh Ayirin kebelakang.


Tubuh Ayirin terhempas melayang ke belakang tepatnya ke arah jendela yang terbuka lebar.


Sebagian siswi menjerit.


Melihat tubuhnya mendekat ke arah jendela.


Mereka dapat memastikan tubuh itu pasti akan keluar dari jendela dan akan jatuh dari gedung bertingkat tiga ini.


Tapi sebelum tubuh Ayirin masuk ke lubang jendela, tangan Rafa cepat menarik kuat tubuhnya.


Ayirin menjerit jerit ketakutan dengan tubuh gemetar lemas. Dia mengira tubuhnya sudah jatuh melayang ke bawah dan hancur.


Rafa segera mendudukannya, mengeluarkan air minum dari tasnya kemudian memberikan pada Ayirin.


"Minumlah...!" hanya satu kata, lalu kembali ke tempat duduk.


Kembali sibuk pada ponselnya.


Jimmy mendengus geram, dia tidak menyangka ada yang berani melawannya.


Sementara siswa lain tersenyum lega pada Ayirin yang selamat, dan menatap takjub dan bangga pada Rafa yang telah menyelamatkan Ayirin dengan aksinya yang memukau.


Jimmy menendang meja di sebelah dengan geram, dia melangkah mendekati ke tempat duduk Rafa yang tengah menunduk. Aldo dan Karlos mengikuti dari belakang.


Dia ingin sekali mematahkan tangan Rafa yang telah berani menyelamatkan Ayirin.


Tapi sebelum tangannya menyentuh kulit Rafa, guru pengajar masuk.


Masing masing segera menuju tempat duduk, begitu juga dengan Jimmy dan anteknya.


Jimmy menatap sinis dan sikap menantang pada Rafa, lalu perlahan menuju tempat duduknya.


Ayirin juga segera duduk, dia menoleh kebelakang sejenak.


"Terimakasih...!" ucapnya pelan pada Rafa yang sedang menatap pada guru di depannya.


Rafa mengalihkan pandangan kepadanya.


"Sekali lagi terima kasih telah menyematkan hidupku." ucap Ayirin kembali dengan wajah menunduk, lalu segera berbalik menatap ke depan.


Rafa menghela nafas panjang, lalu kembali menatap ke papan tulis.


Waktu terus bergulir, hingga masuk jam istirahat.


Empat panggilan tak terjawab serta dua pesan masuk membawa kaki Rafa melangkah keluar dari ruang kelas dan turun ke bawah.


Dia menuju lobi sekolah.


Di sana sudah duduk menunggu seorang lelaki seumuran dirinya memakai pakaian Casual.


Rizal.. menyusul dirinya dan ikut pindah ke sekolah ini. Hanya saja Rizal baru bisa datang hari ini, itu pun dia belum masuk sekolah hanya sekedar mampir saja untuk melihat sekolah barunya.


Sebelumnya mereka mengenyam pendidikan di sala satu SMA yang juga ada di kota ini.


Mereka terlibat obrolan serius, sesekali terdengar tawa dari mulut mereka.


"Permisi kak.." terdengar suara dari samping mereka.


Keduanya segera menoleh.


Seorang anak perempuan kira kira berusia 14 tahun memakai pakaian seragam SMP dengan tas sekolah di belakangnya.


"Ada apa dek?" tanya Rizal.


Rafa menatapnya lekat, sesaat wajah ini mengingatkan dirinya pada seseorang.


Wisnu... Wajahnya mirip Wisnu.


Wajah ini di liputi kesedihan dan kecemasan.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Rizal kembali.


"Aku sedang mencari seseorang, tapi aku takut masuk ke dalam. Apa aku boleh bertanya pada kakak berdua?"


Rizal segera mengangguk.


"Tentu saja."


"Kakak berdua kelas berapa? aku kesini mencari kakakku. Namanya Wisnu Adi Nugroho. Dia duduk di kelas 12X..." kata gadis kecil itu dengan lirih.


Rizal memandang Rafa.


"Rafa, apa kau mengenalnya? bukankah kau juga dikelas itu?"


"Benarkah kakak sekelas dengan kak Wisnu? Apa kak Wisnu ada dikelasnya?" tanya gadis kecil itu dengan ekspresi senang.


Tanpa sadar dia memegang tangan kanan Rafa.


"Kak, bawa aku pada kak Wisnu. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Ayah dan ibu mencarinya. Sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah, ayah sangat mencemaskannya. Nomor telepon nya susah di hubungi. Tolong bawa aku pada kakakku. Aku harus membawanya pulang...ayah sangat ingin bertemu dengannya. Penyakit ayah tambah parah karena mencemaskan dirinya. Tolong pertemukan aku dengan kakakku kak...," pintanya dengan air mata yang sudah jatuh.


Keduanya kaget melihat dia yang sudah menangis.


"Hey gadis kecil..jangan menangis...tenangkan dirimu, kami akan membantu mu. Kamu duduk dulu dan katakan siapa namamu?" Rizal berusaha menenangkannya.


"Winda kak.." jawab gadis kecil itu seraya melap ingus, sekalian airmatanya.


Lalu segera duduk di kursi yang di tepuk Rizal.


Rizal memberi minum padanya.


"Hey Rafa, cepat kamu hubungi kakaknya, Wisnu. Suruh dia kemari. Jika kau tidak punya nomor teleponnya, hubungi ketua kelasmu dan minta dia menyuruh Wisnu ke sini." Rizal kembali menatap Rafa.


"Winda..." terdengar panggilan dari belakang mereka.


"Kak Ayirin..," Winda bangkit dari duduknya mendengar suara Ayirin.


Ayirin mendekatinya, membawanya ke sebelah.


"Kakak udah bilang ke kamu jangan datang ke tempat ini.. bahaya." memegang kedua bahu Winda.


"Tapi aku ingin mencari kak Wisnu. Penyakit ayah semakin parah karena memikirkan kak Wisnu terus." Winda kembali menangis.


"Kakak sedang berusaha mencarinya, katakan kepada ayah jangan cemas dan memikirkan kak Wisnu. Sekarang kamu pulang dan katakan pada ayah kak Wisnu ada di sekolah, ayah jangan mencemaskan dirinya lagi. Dan kakak mohon kamu jangan datang kesini lagi. Kakak akan menghubungi mu jika sudah ada kabar dari kak Wisnu."


"Tapi aku takut berbohong kak...giman jika ayah tahu? ayah pasti akan sedih dan semakin khawatir...ayah juga akan kecewa padaku."


"Kakak juga nggak ingin kamu berbohong Wind...kita terpaksa melakukan demi kesehatan ayahmu.." Ayirin memeluknya karena merasa bersalah telah mengajari sesuatu yang tidak baik.


Ayirin melepaskan pelukannya.


Dia kembali memegang bahu Winda dan menatap lekat.


"Kak Wisnu sudah dua hari tidak masuk sekolah. Pasti ada sebabnya sehingga dia tidak masuk seperti itu. Tapi kamu jangan khawatir, kakak sudah mendapatkan petunjuk orang yang mengetahui tentang keberadaannya. Setelah pulang sekolah, kakak akan menemui orang itu dan bicara padanya."


"Benarkah yang kakak katakan?"


"Iya Wind, sekarang kamu pulang, dan berilah alasan sebaik mungkin pada ayahmu. Kamu anak pintar...kau pasti tahu caranya untuk menenangkan ayah.."


"Baik kak..aku akan pulang, segera kabarin aku ya ?"


Ayirin mengangguk tersenyum sambil menyapu puncak kepala gadis itu.


"Ayo..kakak antar ke depan."


Winda mendekat pada Rafa dan Rizal yang pura pura acuh dengan mereka.


"Kak, terimakasih minumnya. Kalau kakak ketemu kak Wisnu.. tolong katakan padanya untuk pulang." katanya menatap Rafa dan Rizal bergantian.


Rizal tersenyum kecil


"Tentu Winda...kami akan menyampaikan pesanmu jika bertemu dengannya." katanya kemudian.


Winda berbalik mendekati Ayirin. Kemudian mereka segera berjalan menuju jalan raya.


Rafa menatap kepergian mereka dengan beberapa pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.


"Ada apa sih sebenarnya Rafa? siapa Wisnu itu?" tanya Rizal.


Rafa diam tak menjawab masih dengan lamunannya.


"Hey Rafa, aku sedang bicara dengan mu." sentak Rizal kembali.


****


Di sebuah gedung kosong.


Sala satu ruang kosong.


Terlihat seorang pria memakai seragam sekolah yang sudah robek terkoyak. Dia tergantung terikat dengan kedua tangan di atas, keadaannya memprihatinkan.


Luka luka kecil dengan darah segar terdapat di wajahnya yang lebam dan membiru. Begitu juga di sekujur tubuhnya.


Wisnu.... sudah tiga hari ini di sekap oleh geng mafia karena telah menghilangkan 200 gram ****.


Wisnu yang sama sekali tidak tahu menahu tentang barang haram itu yang di sembunyikan oleh seorang pada dos makanan paket.


Wisnu bekerja sampingan setelah pulang dari sekolah sebagai grabfood di sebuah resto.


Dia tidak menyangka resto yang di ketahuinya hanya sebagai tempat menyediakan dan menyajikan makanan, ternyata juga sebagai pemasok N******.


Dan kini dia dia sekap, disiksa, di aniaya untuk mengatakan keberadaan barang tersebut.


Barang tersebut baru di ketahuinya di sisipkan di dalam paket dus makanan.


Wisnu yang sama sekali tidak tahu menahu tentang barang tersebut tentu saja bingung dan mengelak.


Wisnu berpikir mungkin saja paket dus makanan tertukar dengan dus makanan lain dan tidak sengaja di berikan pada pelanggan lain.


Tapi kelompok geng mafia itu tidak percaya padanya dan terus memaksanya untuk memberikan barang tersebut. Wisnu di tuduh berkomplot dan bekerja sama dengan pihak kepolisian yang telah menolongnya pagi itu, Rafa.


Terdengar ponsel berdering dari dua orang penjaga Wisnu.


"Bagaimana?" suara dari seberang.


"Nihil bos...."


"Brengsek, paksa dia. Perlihatkan kedua foto yang akan ku kirimkan."


"Baik bos."


Kedua anggota geng mafia bertubuh besar kekar berotot itu menyiram air ke tubuh Wisnu yang terdiam.


Wisnu yang baru beberapa saat lalu merasakan penyiksaan kini mulai di bangunkan kembali.


"Bangun brengsek, cepat katakan kau berikan pada siapa barang itu? Kau dari pihak mana? kau bekerja pada siapa? jtangan mempersulit dirimu... sepertinya kau sangat suka dengan penyiksaan."


"Bedebah kalian...aku sudah katakan tidak tahu menahu tentang barang laknat itu. Kenapa kalian tidak percaya padaku? meski aku mati pun...kalian tidak akan mendapatkan informasi apapun karena aku memang sama sekali tidak tahu." kata Wisnu lemah.


Pukulan dan tendangan kembali mendarat di wajah dan tubuhnya. Hingga dia kembali terdiam dengan darah mengalir dari mulut dan hidungnya.


Sala seorang geng mafia menarik menarik rambut belakangnya kuat sehingga wajahnya yang tertunduk terangkat, lalu memperlihatkan layar ponselnya.


"Buka matamu dan lihat ini baik baik.


Bos mengirimkan sesuatu yang manis untuk mu, hahaha."


Wisnu perlahan membuka matanya.


Di antara penglihatannya yang kurang jelas, dia berusaha melihat gambar pada layar ponsel Itu.


Dia terkejut melihat dua orang perempuan pada benda pipih itu... Ayirin dan Winda.


Seketika darahnya mendidih, amarahnya memuncak.


"Bajingan kalian..jangan sentuh mereka. Mereka tidak tahu apa pun." teriaknya keras.


sambil meronta berusaha melepaskan ikatannya, tapi percuma.


Kedua anggota geng mafia itu tertawa terbahak-bahak.


"Makanya cepat katakan di mana barang itu Brengsek." membentak keras lalu kembali memukuli Wisnu.


Setelah itu pergi meninggalkan Wisnu yang berteriak teriak menyebut Ayirin dan Winda sambil menangis.


"Aaaaaaarkhh...," Wisnu berteriak keras penuh amarah. Dia terisak-isak kecil memikirkan keselamatan Ayirin dan adiknya yang kini di incar oleh mereka.


Sudah berulangkali dia berusaha melepaskan diri dari ikatan ini tapi sangat sulit karena terborgol dan terikat rantai.


Kedua tangannya bahkan sudah luka karena gesekan dari rantai yang berusaha di lepas.


*****


Rafa mengendarai mobilnya menuju pulang ke apartemennya dengan kecepatan sedang.


Di sampingnya Rizal sedang asyik terbuai menikmati alunan lagu dari group band Westlife.


Di tengah perjalanan, melewati tempat yang agak sunyi matanya tidak sengaja melihat sekelompok orang sedang mengelilingi perempuan.


Dia menjalankan mobilnya pelan pelan.


Setelah di perhatikan dengan teliti perempuan itu ternyata Ayirin, dan yang berhadapan dengannya adalah Jimmy dan para kacungnya.


Tubuh mereka agak terlindung dari sebuah pohon besar.


Ayirin yang setelah pulang sekolah menemui Jimmy untuk menanyakan kembali di mana Wisnu. Dia sangat yakin mereka tahu keberadaan Wisnu dengan melihat ponselnya di tangan mereka.


Terjadi adu mulut dan adu tenaga di antara dia dengan Irene. Sehingga akhirnya Jimmy memukulnya keras dan pingsan, Kemudian di masukkan ke dalam bagasi oleh Aldo dan Karlos. Lalu secepatnya mereka meninggalkan tempat itu.


*****


Malam hari di sebuah gedung tersembunyi jauh dari keramaian kota, tempat yang di gunakan menyekap Wisnu dan Ayirin.


Di salah satu ruang agak luas dan tidak terlalu terang tapi cukup mengenali wajah seseorang, terdengar suara hentakan musik dugem dengan kilatan lampu disko yang menyorot berputar putar dan lampu ambience yang menempel di dinding. Ruang itu mirip seperti sebuah diskotik yang di gunakan untuk pesta N****** oleh geng mafia.


Di dalamnya terdapat beberapa stel sofa yang terletak di setiap sudut. Di atas meja tersedia beberapa minuman dan cemilan.


Beberapa wanita bertubuh seksi dengan pakaian terbuka tampak meliuk-liuk kan tubuh mengikuti hentakan musik bersama pasangannya.


Bukan hanya sekedar pesta N****** tapi juga pesta ****.


Terlihat sepasang manusia yang saling tindih di atas sofa dalam pengaruh miras dan N***** dengan tubuh telanjang tanpa perduli dengan orang orang di sekitarnya. Gemuruh nafas yang memburu cepat, ******* dan erangan mereka berbaur bersama hentakan hentakan musik yang keras.


Di sudut lain terlihat juga beberapa pasangan yang asik bercumbu tanpa rasa malu.


Yang lain asyik dengan minumannya.


Yang lain sedang menikmati barang haram dengan cara menyuntiknya pada tubuh mereka, menghirup lewat rokok ada juga yang langsung menelannya. Setelah beberapa menit kemudian meraka terlihat mulai merasakan sensasi rasa nikmat dan sensasi rasa tenang yang tinggi.


Sepertinya para geng ini baru saja merayakan ulang tahun bos mereka yang sedang duduk kursi kebesarannya di dampingi dua wanita seksi.


Beberapa orang tamu bisnisnya memberi ucapan selamat.


"Hey Simon, Apa lelaki itu sudah buka mulut?"


"Si bedebah itu sangat keras kepala, aku sudah menyiksanya, dia tetap tutup mulut." jawab lelaki yang bernama Simon, ketua geng mafia.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengajaknya bergabung di sini? ajaklah mereka untuk menikmati hiburan pesta kelahiran mu, pasti tambah seru dan heboh." menatap Simon menyeringai penuh arti.


Simon mengerti arti tatapan itu. Dia segera memberi kode pada anak buahnya.


Dalam waktu 10 menit anak buahnya kembali sambil membawa tubuh Wisnu dan Ayirin ke dalam ruangan itu.


Kepala Wisnu dan Ayirin ditutupi kain sehingga tidak bisa melihat ruang ini. Ke dua tangan mereka juga terikat di belakang.


Keduanya di dekap secara terpisah,


Wisnu tidak mengetahui keberadaan Ayirin yang ikut di sekap bersama adiknya di ruang terpisah.


"Buka..." Simon memberi isyarat untuk membuka penutup kepala mereka.


Penutup kepala keduanya di buka.


Wisnu dan Ayirin mengerjapkan mata untuk memperjelas penglihatan.


Keduanya terkejut begitu saling melihat.


"Ayirin.."


"Wisnu.."


Ucap mereka hampir bersamaan. Mereka saling mendekatkan tubuh. Ayirin tersenyum senang melihat Wisnu. Tapi kemudian Wajahnya langsung mendung melihat keadaan tubuh Wisnu penuh luka. Karena tubuh bagian atas Wisnu terbuka tidak memakai kemeja seragam lagi.


Terlihat jelas beberapa luka dan juga tanda tanda lebam membiru.


"Apa yang terjadi padamu Wisnu?" ucapnya sendu.


"Aku tidak apa-ap, kamu tenang, jangan menangis." menenangkan Ayirin.


Ayirin mulai menyadari kalau hilangnya Wisnu ternyata di culik dan di sekap, sama seperti dirinya.


Tapi kenapa?


"Tempat apa ini Wisnu? Kenapa mereka menculik kita?" tanya Ayirin mengamati sekelilingnya seperti tempat diskotik.


Ayirin menjerit saat matanya melihat sepasang manusia yang saling bercumbu dan bercinta tanpa busana. Dia cepat menyembunyikan wajahnya di lengan Wisnu.


Jeritannya membuat beberapa orang tertawa menyeringai.


Dari pintu masuklah tiga pasang muda mudi.


Jimmy, Aldo, Karlos bersama kekasih mereka.


Jimmy dan Irene duduk bergabung bersama Simon.


"Jimmy adikku....."


"Hay kak..." sapa Jimmy pada Simon.


Keduanya berpelukan setengah badan.


"Jimmy, jadi kau dalang semua ini?" Wisnu menatapnya tajam.


"Untuk apa kau menyekap kami seperti ini? lepaskan kami."


Jimmy menatap menyeringai


"Kalau kalian ingin bebas, Cepat beritahu di mana barang itu."


"Berulangkali telah ku katakan, aku sama sekali tidak tahu..aku bahkan tidak pernah melihatnya. Kenapa kalian tidak percaya padaku?"


"Kau pikir aku bodoh? Kau menyerang anak buah ku bersama temanmu si brewok itu. Kau bekerja untuknya kan?Barang itu kau beri padanya kan? Kalian bekerja sama dengan pihak kepolisian kan?" kata Jimmy keras, lalu melempar botol ke arah mereka.


Ayirin menjerit, Wisnu bergerak cepat di depan Ayirin menghalangi pecahan botol mengenai tubuh Ayirin.


Ayirin menggigil ketakutan. Dia mulai menangis.


Jimmy bangkit dari duduknya mendekati Ayirin.


Dia menarik tubuh gadis ini hingga berdiri.


"Jangan sakiti Ayirin. Dia tidak tahu apa pun." kata Wisnu memelas.


"Sepertinya kau sangat mencintai kekasihmu ini." kata Jimmy tersenyum menyeringai.


Tangan kirinya bergerak ke kerah Ayirin, lalu perlahan membuka kancing seragam sekolah Ayirin.


Ayirin berontak menghindar, tapi Jimmy menahan tengkuknya kuat.


"Apa yang kau lakukan Jimmy, hentikan!" teriak Wisnu keras. Dia cepat bangkit berdiri. Tapi betisnya di tendang kuat dari belakang oleh anak buah Simon, sehingga dia jatuh berlutut kembali sambil mengeram kesakitan.


Sementara Ayirin menangis ketakutan dengan tubuh gemetaran saat Jimmy melepas paksa kemejanya. Tubuh atasnya terlihat.


"Hentikan Jimmy, pukul aku saja, siksa aku semau kalian, tapi jangan sentuh Ayirin, jangan sakiti dia..," pinta Wisnu berteriak di sisa sisa tenaganya. Karena sesungguhnya dia sangat lemah. Selain karena tubuhnya sakit penuh luka dan lebam..dia juga belum merasakan makanan selama di sekap.


Tubuhnya lemah tak bertenaga.


"Aku ingin melihat tubuh indah kekasihmu ini Wisnu, kalian juga pasti mau kan?" kata Jimmy memandangi orang orang di sekitarnya.


Mereka tertawa sekaligus mengiyakan pertanyaan adik bos mereka ini.


"Bajingan kau Jimmy. Biadab kalian." teriak Wisnu geram.


Mereka semakin tertawa.


Ayirin semakin kuat menangis.


"Wisnu, tolong berikan saja apa yang mereka minta." katanya terisak Isak pada Wisnu.


"Percayalah padaku Ayirin, aku sama sekali tidak tahu tentang barang itu.Tidak mungkin aku lebih mementingkan barang itu dari pada dirimu. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu."


Wisnu berkata meyakinkan dengan tatapan sedih.


Ayirin semakin keras menangis.


Irene bangkit dari duduknya mendekati Jimmy sambil mengarahkan ponselnya pada Ayirin.


Dia mengambil video tubuh Ayirin yang kini hanya memakai rok dan bra. Belahan dadanya yang tampak menyembul sebagian dari balik bra-nya menjadi tontonan mata lelaki.


"Apa yang kau lakukan Irene..?" Ayirin langsung membelakangi Irene.


Irene menarik tubuhnya kuat kembali menghadap ke kamera.


"Jangan lakukan itu Irene... hentikan." teriak Wisnu keras.


Dia berdiri cepat dan mendorong tubuh Irene sehingga wanita itu jatuh, begitu juga dengan Ponselnya.


Jimmy mendengus geram melihat kekasihnya jatuh, dengan gerakan cepat dia melayangkan tendangan keras ke rahang Wisnu. Wisnu jatuh tersungkur di lantai dengan darah mengalir di mulut, hidung bahkan telinganya.


Ayirin menjerit, berjalan mendekati Wisnu.


tapi Irene menjambak rambutnya kuat ke belakang.


Jimmy memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepas ikatan Wisnu.


Setelah ikatan lepas dia memberi perintah


"Hajar dia...."


Lima orang anggota geng mafia bertubuh kekar langsung menghajar Wisnu dengan pukulan dan tendangan.


Wisnu tak mampu melawan meski ikatannya telah lepas. Dia berusaha melindungi wajah, dada dan perutnya.


"Wisnu.. Wisnu.... hentikan Jimmy, hentikan." teriak Ayirin histeris. Dia berontak dalam pegangan Irene dan berlari ke arah Wisnu yang di gebukin.


"Jangan mendekat Ayirin. Tetaplah di situ." teriak Wisnu di antara ketidak berdayaannya.


Ayirin tetap berlari mendekat dan langsung menerobos masuk. Dia memeluk tubuh Wisnu.


Akhirnya dia juga terkena tendangan di tubuhnya. Dia menjerit-jerit kesakitan.


Tak ada ampun atau belas kasihan untuk mereka.


Wisnu mengeram kuat, dia segera menindih tubuh Ayirin di bawahnya melindungi dari tendangan yang datang silih berganti.


Hingga akhirnya mereka terkapar tak berdaya.


Jimmy mengangkat tangannya, penyiksaan berhenti.


"Apa kau puas sayang?" menoleh pada Irene.


Irene tersenyum manis penuh kelicikan.


Dia membisikkan sesuatu di telinga Jimmy.


Jimmy kaget..tapi kemudian tersenyum kecil


dan mengangguk.


"Sepertinya sangat mengasyikan jika mereka menjadi tontonan seluruh jagad Maya." kata sambil membayangkan sesuatu.


"Sudah pasti sayang, lakukan apa yang membuatmu senang." Jimmy mengecup kuat bibirnya.


Lalu dia membisikkan sesuatu pada anak buahnya.


Anak buahnya mengangkat tubuh Wisnu dan Ayirin di bawah kehadapan mereka.


"Cukup Jimmy, apa lagi yang kau inginkan dari kami?" kata Wisnu lemah.


"Kekasihku sedang hamil muda, dia menginginkan sesuatu dari kalian sebagai hiburan, dan kalian harus menuruti keinginannya." kata Jimmy lalu memberi isyarat pada anak buahnya.


Dua orang anak buah Jimmy mendekat pada Wisnu, lalu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya secara paksa dan kasar.


Wisnu berusaha memuntahkan nya, tapi mulutnya segera di bekap kuat dan tengkuknya di tarik ke bawah hingga dia menengadah ke atas.


Mereka juga menyuntikkan sesuatu ke lengan Wisnu dengan cepat.


Irene tertawa senang melihat Wisnu telah menelan obat perangsang itu.


"Apa yang kau berikan padaku Jimmy?" Wisnu batuk batuk kecil.


"Kau akan tahu beberapa menit lagi." Jimmy tersenyum sinis.


Irene bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Ayirin yang tergeletak tak berdaya di samping Wisnu. Tangan kanannya memegang sebuah gunting kecil.


Ayirin berusaha bergerak, tapi tubuhnya terlalu sakit dan kemah.


Wisnu segera menarik tubuh Ayirin kedalam pangkuannya melihat gelagat yang tidak baik dari Irene.


"Mau apa kau Irene? jangan sakiti Ayirin. Sudah cukup kalian menyiksanya."


Irene menatapnya sinis penuh arti.


"Tenanglah...aku tidak akan menyakitinya. Aku tidak sejahat itu kok. Aku hanya ingin membantumu supaya nanti kau tidak perlu repot-repot lagi membuka pakaiannya." ucapnya tersenyum lebar.


Dahi Wisnu mengernyit.


Irene kembali tertawa. Lalu dia menggunting tali bra Ayirin dan juga pengaitnya.


Benda itu jatuh. Sehingga kedua buah Ayirin terlihat.


Wisnu terkejut segera menutup dada Ayirin dengan kedua tangannya. Lalu menghadapkan tubuh Ayirin kepadanya.


Ayirin menangis sesenggukan... menangisi dan meratapi keadaan dirinya, nasib mereka berdua yang di perlakukan secara tidak manusiawi.


"Biadab kau Irene, kau wanita tidak punya hati, Ayirin sama seperti dirimu, kau tega mempermalukan kaum mu sendiri."


Irene malah tertawa lebar.


"Wisnu apa yang akan terjadi pada kita? apa kita akan mati di sini?" ucap Ayirin menatap Wisnu sambil menangis lemah.


"Semua salahku Ayirin, tapi percayalah padaku. Aku tidak melakukan pekerjaan yang buruk. Seharusnya aku tidak bekerja di restoran itu. Aku tergiur dengan upahnya yang besar." Wisnu menatap sendu padanya.


Ayirin mengangguk lemah tersenyum.


"Kau tidak bersalah Wisnu... semua salahku. Karena keinginan ku ingin menjadi seorang dokter membuatmu terjebak dalam bisnis kotor mereka. Aku percaya padamu. Apapun yang akan terjadi pada kita, aku akan menerimanya. Walaupun nanti mati di sini bersamamu, aku ikhlas. Tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan kita di sini...tidak akan yang akan menolong kita."


"Kamu jangan bicara buruk Ayirin, percayalah tuhan pasti akan menolong kita." ucap Wisnu menyapu air matanya.


Wisnu mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Rasa panas mulai menjalar di tubuhnya. Dia gelisah dan tidak tenang, pandangannya mulai kabur.


Dia merasakan sesuatu yang tidak biasa, libidonya naik, gairah yang menjalar di tubuhnya, terutama aliran darah yang menjalar pada miliknya.


"Sepertinya sudah mulai bereaksi sayang, mari kita mulai pesta yang sesungguhnya." kata Irene pada Jimmy, dia tersenyum senang melihat perubahan pada diri Wisnu.


Perlahan Wisnu mulai menyadari apa yang terjadi pada dirinya.


"Bajingan kalian." sentaknya agak keras menatap tajam pada Jimmy dan Irene.


Ayirin yang memeluk leher Wisnu dengan tubuh lemahnya


"Ada apa Wisnu? kau kenapa?" katanya lemah hampir tak terdengar.


"Mereka memberiku obat perangsang Ayirin."


"Apa?" Ayirin terkejut.


"Jangan bergerak sedikitpun Ayirin, jangan melakukan gerakan apa pun, diam ...." kata Wisnu kembali dengan tubuh menegang gelisah merasakan hembusan nafas Ayirin di tengkuknya dan dekapan kedua tangan gadis itu di lehernya. Dia berusaha kuat menahan dan mengenyahkan libidonya yang terus meningkat agar tidak terangsang dengan tubuh Ayirin yang setengah telanjang dan sedang memeluknya.


"Cepat mulai pestanya Wisnu..." teriak Jimmy.


"Jangan lakukan ini pada kami Jimmy. Ini sangat tidak manusiawi..."


"Cepat lakukan....atau kau ingin para anjingku yang menikmati setiap lekuk tubuh kekasihmu?" sentak Jimmy keras memotong ucapannya dengan tatapan menyeringai.


Ayirin tersentak mendengar ucapan Jimmy.


Dia langsung memeluk kuat tubuh Wisnu membuat tubuhnya melekat kuat pada Wisnu.


Wisnu mengerang merasakan dada Ayirin.


tangannya mengepal kuat menekan hasratnya yang semakin menggila.


"Kau tetap akan bertahan? Baiklah...." Jimmy tersenyum sinis seraya memberi kode pada seorang wanita seksi mendekat pada Wisnu.


"Kau layani dia...dan kalian... berdua.. bawa wanita itu ke sofa, pakai sesuka hati kalian." menunjuk pada Ayirin.


Wisnu dan Ayirin terkejut.


Wanita seksi yang merupakan penari telanjang mendekati Wisnu, begitu juga dua anak buah Jimmy mendekat menarik tubuh Ayirin dari Wisnu. Wanita seksi memeluk Wisnu dari belakang, tangannya mengusap dada dan bisep perut Wisnu lembut membuat Wisnu mengerang.


"Tidak... lepaskan aku," berusaha kuat menahan hasratnya dan menghentakan kuat tangan wanita itu yang membuka pengait celananya.


Sesaat kemudian dia tersentak mendengar jeritan Ayirin di atas sofa. Dia segera menoleh dan melihat seorang anak buah Jimmy hendak memperkosa Ayirin, menarik paksa rok cidi Ayirin hingga lepas.


"Wisnuuu tolong aku...," Ayirin menjerit histeris berusaha menepis tangan anak buah Jimmy yang menjamah tubuhnya.


"Ayirin..." teriak keras Wisnu. Dia mendorong kuat tubuh wanita seksi dan berlari cepat pada Ayirin sambil menahan sakit di area selangkangannya. Dia mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan langsung menendang kuat tubuh anak buah Jimmy yang menindih tubuh kekasihnya.


Pria itu jatuh terjungkal ke sebelah.


Ayirin bangun dengan tubuhnya yang tampak sehelai benang, dia langsung memeluk Wisnu ketakutan dan gemetaran menyembunyikan tubuh polosnya.


"Setan kau Jimmy, Laknat kau, biadab kalian semua..." teriak Wisnu keras penuh amarah memeluk Ayirin.


Teriakannya malah mengundang tawa mereka.


"Cepat lakukan bajingan...." Jimmy balas meneriakinya.


"Bunuh aku Wisnu, cekik leherku. Aku tidak mau hidup dalam kehinaan. Lebih baik aku mati dari pada hidup dalam kehinaan. Mereka semua telah melihat tubuhku, seluruh dunia akan melihat kita dalam kehinaan...," Ayirin memegang kedua tangan Wisnu dan di bawanya ke lehernya.


"Bunuh aku cepat...lebih baik aku mati di tangan mu dari pada...."


Wisnu cepat menutup mulutnya. Dia memeluk tubuh Ayirin kuat.


Wisnu menangis. Menangis dan juga marah karena ketidak berdayaannya melindungi wanita yang di cintai.


"Matilah kalian...ayo silahkan. Hahaha..." Jimmy bangkit dari duduknya dan mendekati mereka.


"Dan adikmu yang akan menerima dan menanggung segala kehinaan kalian."


"Hahhaha.... Jimmy tertawa seperti orang gila seraya memperlihatkan foto Winda yang di sekap di ruang sebelah di jaga oleh empat orang anak buahnya.


Wisnu dan Ayirin terbelalak.


"Winda.."


"Terkutuk kau Jimmy.." umpat Ayirin menatap sangat tajam penuh kemarahan pada mereka berdua.


"Kalian ingin tubuh kecilnya di cabik cabik oleh ke empat anjingku itu? hah? hahahaha..!" Jimmy semakin tertawa menggila.


Ayirin menangis terisak.


Wisnu meraung keras.


Hingga beberapa menit kemudian, di bawah ancaman Jimmy demi menyelamatkan Winda, mereka terpaksa melakukan hubungan badan dengan di tonton oleh seisi ruangan di bawah kerlap kerlip lampu disko dan suara dentuman hentakan musik yang keras.


Semuanya pada sakit jiwa dan merasa senang menikmati tontonan adegan panas gratis sambil menikmati botol botol minuman, bergoyang tertawa bahagia dalam pengaruh alkohol dan Nar****.


Irene dan Jimmy merekam aksi mereka lewat Video sambil tertawa puas.


Bahkan kedua manusia bejat tak punya hati dan sudah sakit jiwa itu melakukan hubungan intim tanpa rasa malu karena terangsang melihat adegan panas Wisnu Ayirin.


Sejam berlalu ....


Terdengar teriakan keras dari luar.


"Markas kita di serang, markas kita di serang, markas kita di serang." Lalu terdengar bunyi alarm sebagai tanda bahaya.


Semuanya terkejut dan panik di antara ketidak sadaran pengaruh alkohol dan Pengaruh N******. Musik dan lampu disko berhenti seketika.


Lampu ruangan dinyalakan.


"Ambil senjata kalian...cepat..." teriak Simon begitu keluar dari ruangannya yang saat itu sedang asyik dengan dua wanita seksinya.


Jimmy dan Irene terkejut mendengar suara alarm tersebut. Keduanya segera memakai pakaian dan berlari ke arah Simon.


Sekelompok manusia berpakaian hitam dan memakai topeng hitam menyerang mereka dengan membabi buta.


Pertempuran terjadi.


Saling serang menyerang.


Wisnu yang mendengar teriakkan itu cepat bangun dan memakai celananya. lalu membangunkan Ayirin. Matanya mencari kesana kemari pakaian Ayirin tapi tak ada.


Sala seorang topeng hitam melemparkan sehelai kain panjang kepadanya.


Tanpa pikir panjang Wisnu cepat melilitkan kain tersebut ke tubuh Ayirin.


"Ayirin, kita harus cepat keluar dari tempat ini. kuatkan dirimu." Wisnu menepuk nepuk ke-dua pipi ayirin yang tampak lemah. Dia sendiri masih gerah karena pengaruh obat perangsang belum hilang.


"Cepat ikuti kami..." kata anggota topeng hitam itu kembali.


"Siapa kalian?" Wisnu menatapnya.


"Jangan banyak tanya, ayo cepat sebelum kesadaran mereka kembali dan jumlah yang banyak."


"Kau?" perlahan Wisnu mengenal suara itu meski masih dalam pengaruh obat perangsang.


Dia menatap lekat wajah yang tertutup topeng hitam di depannya ini. Dia kenal dengan suara ini meski baru dua kali bertemu.


Wisnu tidak mengenal namanya tapi dia ingat dengan suaranya. Orang yang telah menolongnya di mesjid.


"Wisnu, kita harus menyelamatkan Winda.." kata Ayirin lemah teringat pada Winda.


Dia menjerit merasakan perih dan sakit pada miliknya saat bangkit berdiri.


Wisnu terkejut.


"Ayirin, Kau kenapa?"


"A aku tidak apa-apa, ayo cepat selamatkan Winda."


"Apa kau bisa berjalan?" tanya Wisnu yang mengerti kesakitan di rasakan Wisnu pada milik ayirin. Lampu tiba tiba menyala. Wisnu melihat darah di pembungkus sofa. Darah perawan ayirin.


"Ayo cepat pergi dari sini." kata Rafa kembali dengan keras, si pria bertopeng itu.


( Saat menolong Wisnu inilah Awal Rafa membentuk Kelompok Geng Topeng hitam. Dengan beranggotakan orang-orang yang berhasil di kalahkan dalam pertarungan di ring tinju, gulat bebas, karate, taekwondo, dan pertarungan bebas lainnya, bahkan balap liar. Saat itu jumlah anak buahnya baru mencapai 78 orang).


"Aku baik Wisnu, kamu jangan khawatir." kata ayirin berusaha kuat.


Secepatnya mereka keluar dari ruang itu mencari ruang di sekapnya Winda. Wisnu yang mengetahui ruang itu menuntun jalan.


Sementara Rizal bersama anggota topeng hitam lainnya sedang baku hantam, saling serang dan membalas membabi buta di depan pintu masuk utama.


"Jangan biarkan mereka lolos, tutup pintu gerbang dan pintu utama." teriak Simon.


"Siapa yang menyerang kita kak? mereka dari geng mana?" tanya Jimmy panik. Sementara Irene ketakutan memegang lengannya.


Simon sendiri bingung dengan penyerangan ini, karena dia tidak tahu dengan geng mafia ini. Baru pertama kali dia mengetahui dan berhadapan dengan geng topeng hitam ini.


Wisnu Rafa dan Ayirin berjalan cepat ke ruang di sekapnya Winda.


Begitu pintu di buka, empat senjata rahasia melayang ke arah mereka.


Mereka terkejut tak sempat menghindar.


Tapi Rafa yang sudah biasa menghadapi hal semacam ini dengan gerakan cepat menangkis dengan pedangnya.


Sayangnya satu meleset dan menancap di lengan kiri Wisnu.


Wisnu memekik kesakitan. Darah mengucur ke lantai. Ayirin menjerit jerit ketakutan di belakangnya.


Simon Jimmy dan Irene yang berada di ruang Winda sudah memastikan kalau Wisnu akan datang menyelamatkan adiknya.


15 orang Anak buah Simon mengelilingi mereka setelah mendapat isyarat dari bosnya.


Ayirin ketakutan memegang lengan kanan Wisnu kuat.


Rafa segera menyerahkan pedangnya pada Wisnu. Dan dia sendiri mengeluarkan dua pisau belatinya.


Wisnu mencabut pisau yang menancap di lengannya sambil mengerang kuat menahan sakit.


Dia merobek sedikit kain di bagian bawah yang menutupi tubuh Ayirin, lalu di ikatkan pada luka di lengannya.


"Habisi mereka...," teriak Jimmy.


Anak buahnya langsung menyerang Wisnu dan Rafa begitu mendengar perintah.


Pertarungan pun terjadi.


Rafa melemparkan pisau belatinya dan menancap di dahi dua anak buah Simon.


Kedua anak buah itu jatuh terkapar di lantai. Secepatnya Rafa mengambil pedang sala satunya dan menyerang membabi buta ke arah Jimmy dan Simon.


Di sebelahnya Wisnu juga menyerang tanpa memerhatikan keselamatan dirinya yang berusaha melindungi Ayirin. Dia menyerang nekat tanpa perduli apa apa lagi. Beberapa bagian tubuhnya terkena beberapa sayatan pedang, tapi tak di perduli kan.


Api kemarahan dan dendam menguasai jiwa dan pikirannya.


Dia menerobos ke pertarungan Rafa bersama kakak beradik itu.


"Dia milikku.. berikan dia padaku." tunjuk nya kuat pada Jimmy dengan tatapan tajam menyeramkan. Lalu dengan cepat dia melompat menyerang Jimmy. Terjadi pertarungan di antara mereka.


Rafa tinggal meladeni Simon dan beberapa anak buahnya.


Sementara Ayirin cepat melangkah mendekati Winda yang terbaring pingsan dengan kedua tangannya di ikat.


"Win.. Winda.. bangun win...." menepuk nepuk kedua pipi Winda. Dia segera melepaskan ikatan Winda.


Irene yang melihatnya langsung berlari mendekatinya. merebut Winda dari Ayirin.


Terjadi pergulatan di antara mereka.


Ayirin kalah tenaga, di tambah lagi dia hanya mengenakan selembar kain yang menutupi tubuhnya. Dia lebih fokus menjaga dan mempertahankan kain itu agar tidak lepas dari tubuhnya. Hingga akhirnya pukulan demi pukulan mendarat ditubuhnya.


Irene tertawa penuh kemenangan sambil duduk di perut Ayirin. Seperti orang kesetanan dia hendak menancapkan pisau di perut Ayirin, tapi sebuah pisau yang di lempar Wisnu menancap di dahinya. Dia jatuh terguling di samping Ayirin.

__ADS_1


Ayirin segera bangun


"Irene....," teriak Jimmy melihat tubuh Irene terkapar di lantai dengan mata melotot.


Dia menatap penuh kemarahan pada Wisnu. Lalu menyerang Wisnu membabi-buta.


Rizal yang sudah berhasil melumpuhkan musuh di luar segera masuk bersama anggota topeng hitam lainnya dan berjaga jaga.


Tidak butuh waktu lama Rafa berhasil melumpuhkan Simon dan anak buahnya.


Wisnu juga berhasil melumpuhkan Jimmy. Jimmy terkapar dengan perutnya yang terkena sabetan pedang.


Wisnu juga penuh luka ditubuhnya, tapi dia masih bisa bertahan.


Dia melorotkan tubuhnya dan berlutut dengan pedang masih di tangannya. Nafasnya memburu cepat tak beraturan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya bercampur dengan darah.


Rafa segera memberi isyarat pada Rizal untuk membereskan tempat sebelum polisi datang.


Dan juga menyuruh membawa tubuh Winda yang masih pingsan pengaruh obat bius.


Ayirin perlahan mendekati Wisnu.


Dia ikut berlutut di depan Wisnu.


Keduanya saling berhadapan, tersenyum sedih.


Wisnu segera mendekap tubuhnya, memeluknya erat.


Ayirin menangis dalam pelukannya, menangis bahagia.


Beberapa saat kemudian mereka segera bangkit berdiri. Ayirin terbelalak melihat sosok di belakang Wisnu yang mengayunkan sebuah kayu berat.


"Awas Wisnu....," teriaknya buru buru.


Dengan cepat dia mendorong tubuh Wisnu ke samping...dan


Bugh.... kayu besar itu mendarat kuat di kepalanya. Perlahan tubuhnya jatuh terkapar di lantai.


Wisnu segera berbalik,


"Ayirin..." dia terkejut melihat tubuh Ayirin di lantai. Sesaat matanya melihat ke arah sampingnya, melihat Jimmy sedang menyunkan kembali kayu itu kepadanya.


Dengan gerakan cepat Wisnu mendorong kuat pedang yang masih di pegangnya ke arah belakang. Pedang itu langsung masuk menembus perut Jimmy.


Kayu di tangan Jimmy terlepas jatuh, di susul dengan dirinya jatuh ambruk di lantai.


Darah membasahi lantai di area perutnya.


Sesaat kemudian terdengar raungan keras dari mulut Wisnu sambil memeluk tubuh Ayirin yang diam tak bergerak. Dia berteriak teriak histeris memanggil nama Ayirin.


Rafa dan Rizal terkejut. Keduanya yang saat itu sedang berada di ruang pesta tadi mengumpulkan barang bukti segera berlari cepat dan masuk kembali ke ruang Wisnu dan Ayirin.


Ayirin segera di larikan ke rumah sakit karena Rizal masih merasakan denyut nadinya.


Ayirin mendapat penanganan medis.


Pengaruh pukulan keras benda tumpul di kepalanya membuat pembuluh darah di bagian otak dan tengkorak bagian dalam pecah. akibatnya darah mengumpul dan membeku pada otak dan tulang tengkoraknya.


Para dokter sudah melakukan berbagai cara bahkan melakukan operasi tapi belum ada tanda-tanda kesadaran dari Ayirin.


Dokter mengatakan Ayirin mengalami kerusakan jaringan otak menyeluruh karena otaknya mengalami pendarahan, pembengkakan, dan tulang tengkoraknya patah.


7 bulan telah berlalu, ayirin masih tetap dalam tidurnya yang panjang. Hanya menunggu keajaiban dari tuhan untuk membuat dia sadar dari komanya.


Dan dokter tidak lagi melakukan operasi kembali karena takutnya akan berdampak pada janin yang sedang kandungnya.


Saat ini usia kandungannya Ayirin sudah masuk usia 7 bulan.


Wisnu dengan sabar dan setia menemaninya.


Berbagai usaha dan upaya terus dilakukan untuk membuat Ayirin sembuh dan bangun dari tidurnya yang panjang, tapi tetap belum ada tanda apa pun yang di perlihatkan Ayirin.


Hingga pada suatu malam saat Wisnu sedang tidur di dekat bednya, Ayirin datang di dalam mimpinya.


Ayirin menangis dan memeluknya. Tapi tangisan Ayirin adalah tangisan bahagia. Berulangkali Ayirin membelai rambut Wisnu dan menenangkan Wisnu yang sedang menangis memeluknya.


Ayirin meminta agar Wisnu segera menyelamatkan anak anak mereka karena waktunya tidak banyak lagi.


Keesokan harinya Wisnu langsung memberitahukan perihal mimpinya pada ibunya dan juga orang tua Ayirin.


Sore hari setelah Wisnu selesai mengikuti ujian akhir sekolah. Dia langsung menikahi Ayirin di rumah sakit setelah mendapat restu dari orang tua Ayirin. Dengan di saksikan oleh ke dua orang tua masing-masing, juga Ayah Rafa tuan Artawijaya, Rafa, Rizal, petugas KUA serta dokter yang menangani Ayirin. Proses ijab kabul berlangsung lancar meski di selimuti kesedihan dan keharuan.


Wisnu memasangkan cincin pernikahan di jari manis Istrinya, lalu mencium keningnya.


Keesokan harinya dokter segera melakukan operasi SC pada Ayirin. Semuanya berjalan lancar. Kedua bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat dan sehat meski lahirnya secara prematur.


Wisnu membaringkan kedua anaknya di atas tubuh Ayirin yang sedang tidak sadar. Kedua tangan Ayirin di usapkan lembut di kepala si kembar. Dia menatap wajah Ayirin dengan senyum bahagia.


"Ayirin Istriku..... ini anak anak kita sayang. Terimakasih sudah menghadirkan mereka kepadaku. Aku berjanji padamu akan membesarkan anak anak kita dengan baik. Menjadikan mereka anak anak yang akan selalu mengingat dan merindukan ibu mereka." ucapnya sendu dengan air mata mengalir deras. Dia mengecup kening dan bibir Ayirin lembut.


Selang beberapa menit kemudian Dokter menyatakan Ayirin meninggal dunia.


Ayirin di makamkan di pekuburan umum dekat dengan makam ayah Wisnu.


Ayah Wisnu meninggal kena serangan jantung dan asma saat mengetahui Wisnu dan Winda di culik dulu.


Tidak ada yang mengetahui tentang kehamilan Ayirin saat dirumah sakit, selain mereka dan juga dokter serta suster yang menanganinya.


Setelah lulus sekolah, mereka bertiga melanjutkan kuliah di Amerika.


Si kembar ikut di bawah serta ke Amerika atas keinginan Rafa. Biar si kembar aman bersama mereka di sana.


Ibu Wisnu dan Winda juga di ajak ke Amerika untuk menemani dan menjaga si kembar.


Winda melanjutkan sekolah di sana.


Sejak saat itu Wisnu mengikuti Rafa.


Wisnu menjadikan Rafa tuannya karena telah menyelamatkan dirinya berulangkali dan menolong kehidupan keluarganya.


Tuannya yang mempunyai sikap dingin tegas dan keras, tapi mempunyai hati yang sangat baik.


Rafa di sela sela kuliahnya terus memperluas dan mengembangkan usaha bisnisnya dengan Wisnu di sampingnya, menemaninya dengan setia.


Meski mereka kuliah dan tinggal di Amerika, sesekali Wisnu mengunjungi makam Ayirin dan ayahnya saat tuannya berkunjung ke Indonesia


untuk urusan pekerjaan atau berkunjung ke rumah utama.


Kadang juga ibunya dan Winda ikut.


Tapi Kadang juga mereka berdua datang sendiri.


Setelah mereka menyelesaikan kuliah Pascasarjana, mereka balik ke Indonesia.


Si kembar tetap tinggal di Amerika hingga kini bersama nenek dan bibinya.


Dan sampai saat ini Wisnu belum membuka hati untuk wanita lain. Dia masih setia dengan cinta pertamanya, Ayirin...


(Berakhir sudah cerita tentang masa lalu Wisnu).


Dan Ara.. selama mendengarkan cerita suaminya menangis terus. Dia tidak menyangka ternyata sekretaris pribadi suaminya ini memiliki masa lalu yang kelam, mengalami kehidupan yang keras dan kejam bersama dengan wanita yang di cintainya hingga akhirnya di pisahkan oleh kematian.


Tangisnya semakin keras mengingat almarhum suaminya Raka. Mengingat cinta mereka berdua yang juga terpisahkan oleh kematian.


*******


Pagi hari.


Kediaman Raymond Alkas


Terdengar jeritan keras dari kamar mandi.


Dion yang saat itu sedang mengatur berkas dan tas kerjanya terkejut.


Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi dan langsung masuk.


"Cindy..kamu kenapa?" tanyanya cemas.


Cindy langsung menutup tubuh depannya dengan handuk. Dia terkejut melihat kedatangan Dion. pasalnya dia tidak memakai apapun.


"Kakak ngapain ke sini? cepat keluar."


"Aku mendengar jeritan mu, makanya aku masuk...aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"Aku baik baik saja.. sekarang keluarlah."


"Terus kenapa kamu menjerit tadi?"


"Nggak ada apa apa....aku hanya melihat kecoak tadi."


"Kecoak? mana ada kecoak di rumah ini?"


"Benaran ada kecoak tadi, tapi udah berlari ke sana. Sekarang kakak keluar, aku mau mandi."


"Kamu pikir aku mudah di bohongi?" Dion mendekat dan memegang tangannya.


"Katakan ada apa? kamu sedang hamil Cin, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga janinmu." kata Dion dengan suara mulai tinggi.


"Lepas ah..jangan pegang pegang." sentak Cindy sambil menghentakkan tangan Dion hingga lepas.


Dion terkejut dengan sikap kasar yang tidak biasanya ini. Dion berusaha untuk tenang.


"Apa payudaramu sakit lagi?"


"Nggak... nggak ada yang sakit pada tubuhku, kalau pun ada aku bisa mengatasinya sendiri. sekarang keluarlah... aku mau mandi."


Dion mendesah berat dengan dahi mengernyit.


"Kamu kenapa sih Cin? apa kamu lagi kesal sama aku? apa kamu marah sama aku karena menolong Bela semalam?"


Hah? Cindy tersenyum kecut.


"Untuk apa aku marah? kenapa aku harus marah? memangnya apa yang kakak lakukan dengan Bela hingga aku harus marah? hah? Bukannya kemarin sudah ku katakan kalau aku nggak masalah apapun yang kakak lakukan padanya. Sekarang keluar, aku mau mandi." teriaknya kembali agak keras.


"Cindy..." sentak Dion keras.


Cindy langsung terdiam dengan nafas memburu cepat.


Keduanya saling menatap tajam.


Cindy tidak tahan bertatapan lama seperti ini. Air matanya mau tumpah. Segera dia melilitkan handuk pada tubuhnya.


"Kalau kakak nggak keluar, biar aku saja.." katanya dengan bibir gemetaran, lalu segera melangkah.


Dion tersadar "Cin... Cindy..."


Dion berusaha menggapai tubuhnya, tapi Cindy menepis tangannya dan cepat melangkah keluar dari kamar mandi.


Dia masuk ke kamar ganti.


Secepatnya memakai dress pendek dan syal untuk menutupi tanda merah di lehernya.


Entah kenapa ada tanda seperti itu di lehernya dan entah siapa yang membuatnya.


Makanya dia kaget dan menjerit.


Dia segera keluar dari kamar setelah meraih ponsel dan tas selempangnya.


Saat keluar dia melihat Bela dan Dwi mau menuruni tangga.


Kedua gadis itu juga melihatnya.


"Halo Cind...." sapa Dwi memberikan senyuman.


"Halo juga Dwi.." balasnya dengan senyum setengah.


"Kamu kok turunnya sendirian? kak Dion mana?" tanya Bela melihat ke pintu kamar.


"Kak Dion sementara bersiap siap."


Oohh.. mulut Bela membulat.


"Kami duluan ya Cin?" kata Dwi.


"Oke...."


Keduanya segera turun.


Masih sempat di lihatnya Bela memberikan senyuman padanya... tapi senyuman dengan makna lain... senyuman sinis mengejek.


Cindy mendengus kesal.


Lalu segera menuju tangga dan turun.


Sementara Dion tertegun beberapa saat di kamar mandi, memikirkan sikap Cindy yang tidak biasa.


Apa itu karena pengaruh dari kehamilannya juga? batinnya.


Dion mendesah kasar, dia segera keluar dari kamar mandi menyusul Cindy Ingin mengajaknya bicara baik baik.


Dia tidak ingin Cindy memendam kesal dan amarah yang nantinya akan membuatnya stres dan berpengaruh pada janin dalam kandungannya.


Tapi dia tidak dapat menemukan Cindy di kamar maupun kamar ganti.


"Apa dia memang sedang marah padaku? dia bahkan tidak mandi demi menghindariku." gumannya Dion semakin bingung.


******


Seperti isi pesan yang di terima tadi subuh dari Cindy, Ines segera menuju ruang kediaman Raymond Alkas. Semalam Cindy mengirimkan pesan mengajaknya untuk berkunjung ke rumah Ara pagi ini, tapi baru sempat di bacanya tadi subuh.


Tentu saja Ines sangat senang, karena kebetulan dia juga ingin sekali bertemu dengan Ara. Dia ingin mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu karena berkat Ara dia bisa bekerja di perusahaan RA Group.


Semalam Wisnu mengirim pesan padanya menyuruhnya untuk datang ke kantor pusat RA Group.


Ines turun dari taksi yang berhenti tepat di halaman depan pintu masuk.


Cindy yang sudah tahu keberadaannya menunggu di halaman depan pintu masuk.


"Cindy..." teriak Ines agak keras seraya tersenyum senang. Dia langsung mendekati Cindy.


"Ines..." keduanya saling berpelukan.


Cindy memeluknya kuat.


"Terimakasih ya Nes atas apa yang lo dan Ara lakukan pada gue. Kalau bukan karena kalian berdua, entah bagaimana nasib ku dan juga anak anakku nanti."


"Udah Cin, gak usah ngucapin apa pun. Kami melakukan itu karena kami sayang sama sama kamu."


"Uuummm.... Ines.. aku juga menyayangi kalian." Kembali memeluk Ines penuh haru.


Dari atas Dion melihat ke arah mereka.


"Tapi Nes, lo dan Ara tahu dari mana kalau aku hamil?"


"Nanti aja aku ceritakan saat kita bersama Ara nanti, biar seru." kata Ines sambil tersenyum. "Tapi aku kecewa banget sama lo, punya masalah seberat itu malah di sembunyikan pada kami. Nggak mau berbagi sama kami." kesal dengan wajah manyun.


Cindy kembali memeluknya.


"Maaf Nes, aku nggak bermaksud begitu." merasa bersalah.


"Iya sudah.. sudah. Kami mengerti kok." Ines mendengus pelan.


Cindy tertawa kecil, lalu melepaskan pelukannya. Dia segera mengajak Ines masuk ke dalam.


Mereka langsung menuju ruang makan.


Di sana sudah ada Raymond Alkas, Dinda, Dwi dan Bela.


"Ines.." sapa Dinda begitu melihatnya.


Ines tersenyum.


"Selamat pagi tante.. Om." Dia segera menyalami tangan Dinda dan Ray.


"Sarapan lah bersama kami... silahkan duduk."


kata Dinda di sela sela makannya.


"Iya tante, trimakasih."


"Ayo Nes, duduklah.." Cindy ikut mempersilahkan untuk duduk.


Ines segera duduk sambil melihat ke arah Dwi dan Bela.


"Mereka adalah Dwi dan Bela. Dwi keponakan tante, dan bela temannya Dwi. Mereka baru datang dari Australia kemarin. Dan kalian berdua...ini Ines sahabatnya Cindy dan Dion." kata Dinda saling memperkenalkan mereka.


Ines, Dwi dan Bela.. ketiganya saling menyapa dengan senyuman.


"Kamu turun sendirian tadi Cin? mana kakakmu?" Ray buka suara di sela makannya.


"Iya pa, soalnya aku menunggu Ines tadi.


Kak Dion kutinggalkan masih bersiap siap."


Kata Cindy seraya duduk.


"Bagaimana, apa dia mau pergi ke rumah utama Artawijaya?"


Cindy hendak menjawab, tapi terhenti dengan perkataan Bela.


"Itu kak Dion datang." seru Bela melihat kedatangan Dion.


Dia langsung bangkit berdiri menyambut kedatangan Dion dengan senyuman manis.


"Silahkan duduk kak.." menarik kursi Dion.


"Kamu tidak perlu repot-repot Bela." kata Dion segera duduk.


Dia menoleh pada Cindy yang tampak acuh mengambil irisan apel hijau tanpa melihat ke arahnya.


Dinda memperhatikan sikap mereka berdua yang masih sama seperti semalam. Ines juga merasa aneh melihat sikap Cindy yang acuh pada Dion dan juga sikap Bela pada Dion yang berlebihan. Tanpa perduli dengan keberadaan Cindy di dekat Dion.


"Aku gak merasa di repotin kok, aku malah senang melakukannya. Semalam kak Dion juga telah menolong ku." kata bela kembali.


"Ya sudah, kami duduk saja, aku mau makan." Dion membuka piringnya.


"Kak Dion mau makan apa? biar ku ambilkan."


"Gak usah, biar aku ambil sendiri, kamu terus kan makan mu."


"Bel, cepat habiskan makananmu, nanti kita ketinggalan pesawat." sela Dwi seraya menarik tangannya untuk duduk.


Bela segera duduk dengan wajah cemberut, tapi diam-diam melirik Cindy sambil tersenyum tipis.


Cindy menghela nafas panjang. Dia segera bangkit dari duduknya.


"Permisi ma, pa...aku mau membuat susu dulu di dapur."


Dia segera melangkah sambil membawa irisan apel dan mangganya.


Dion mendengus pelan sambil meletakkan pisau dan garpunya.


Dia kembali membuang nafasnya kasar, lalu memijit mijit keningnya kuat, menahan kekesalannya yang mendalam akan sikap Cindy.


5 menit kemudian Cindy balik dengan segelas susu di tangan.


Dia segera duduk dan kembali mengambil irisan buah mangga. Sikapnya masih seperti tadi, diam dan acuh tanpa menoleh sedikit ke sebelah kirinya...sumainya.


"Kamu kok makan mangga muda dan apel hijau terus sejak tadi, apa kamu nggak merasa ngilu dan asam?" Bela kembali buka suara melihat Cindy sedari tadi tak menyentuh makanan dan hanya makan mangga apel terus.


Saat itu Cindy sedang meneguk susunya.


Jadi Ines yang menjawab.


"Soalnya Cindy sedang hamil."


"What ?" Bela terbelalak, matanya membulat.


Dia batuk kecil karena tersedak.


"Jadi Cindy sedang hamil?"


"Iya..dia ngidam mangga muda." lanjut Ines sambil tersenyum senang sekilas melihat keterkejutan di wajah bela, yang bercampur dengan rasa tidak suka.. itu yang di tangkap oleh matanya.


"Jadi Cindy sedang hamil anak kak Dion? kenapa gue baru tahu? Sialan..." dengus Bela dalam hati.


Dia menatap tajam pada Cindy yang asik memakan buah mangganya.


"Papa sudah selesai, kalian harus segera bersiap. Kita akan ke rumah tuan Artawijaya 10 menit lagi." kata Raymond tiba tiba.


Dia segera bangkit berdiri.


"Kamu juga harus ikut Dion."


"Tidak pa, sudah ku katakan semalam, aku tidak mau ikut."


Cindy langsung menoleh padanya dan menatap tajam.


"Dion, dengarkan papa mu nak..." Dinda angkat bicara.


"Aku gak bisa ma... lebih baik aku ke kantor saja."


Raymond tak menggubris ucapannya, dia segera melangkah ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu. Dinda juga melangkah menuju kamar mau mengambil sesuatu yang sudah di persiapkan untuk Ara.


Bela dan Dwi bangkit dari duduknya.


Mereka juga sudah selesai makan.


Bela mendekati Dion.


"Kak Dion mau ke kantor? aku dan Dwi numpang ke bandara ya? boleh ya kak?"


Cindy tersenyum kecut, dia menatap pada Dion yang juga sedang menatapnya.


"Tentu boleh bel, pergilah..dari pada kalian repot repot naik taksi. Tolong kakak antarkan mereka ke bandara."


"Lalu bagaimana dengan kunjungan kalian ke rumah tuan Artawijaya? paman menginginkan kak Dion ikut." kata Dwi.


"Kunjungan itu tidak penting bagi kak Dion, jadi pergilah kalian bersamanya."


"Kalau begitu kita naik mobilnya kak Dion saja." kata Bela tersenyum senang.


"Aku mau ngambil tas di kamar dulu Bel..."


"Tolong ambilkan punya aku juga Wi..."


Dwi segera berlari ke arah tangga.


Sementara Cindy dan Dion masih saling bertatapan dengan kekesalannya masing masing.


Bela tiba tiba menyentuh dasi Dion.


"Sorry..dasi kak Dion sepertinya miring." katanya dengan wajah tersenyum manis.


Cindy dan Dion kaget. Tapi kemudian Cindy tersenyum lebar.


"Terimakasih ya Bel, sudah begitu perhatian pada kak Dion. Aku memang tidak sempat mengurusnya tadi saat dia bersiap." katanya tanpa mengalihkan tatapannya pada Dion, lalu dia menoleh pada Ines


"Ayo Nes, kita tunggu paman dan tante di dalam mobil." kemudian segera bangkit berdiri dan melangkah cepat keluar menuju parkiran.


Rasa rasanya dia ingin berteriak kencang dan menangis keras. Air matanya sudah tumpah di kedua pipinya.


Ines bangkit berdiri, dia mendekat pada Dion yang tampak berdiri tegang dengan wajah memerah, rahang mengeras menahan berbagai luapan emosi yang menguasai hatinya.


"Permisi kak Dion," ucap Ines pamit, dia melirik sekilas pada Bela yang tampak tersenyum manis pada Dion.


*****


Mohon maaf para readers karena author baru bisa up πŸ™

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia dengan karya author 😘


Jangan lupa like hadiah rate vote dan komennya, biar author tambah semangat untuk up terus 😊


__ADS_2