
Hampir setengah jam mencari tak kunjung mendapatkan benda itu.
Sang pria memaki dan merutuki Ara.
Dion kesal dan mulai tidak terima.
"Pak, begini saja... kita ambil jalan tengahnya. Sejak tadi kita mencari tapi tak ketemu, saya akan ganti rugi HP bapak." kata Dion.
"Kak, biar aku saja." bisik Ara.
Dion memberi isyarat padanya untuk diam. Dion menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Hey bung, ponselku harganya mahal. Kau tidak akan bisa menggantinya."
"Katakan saja berapa jumlah harganya, saya akan menggantinya ! atau anda pergi saja ke alamat ini, anda bisa mengambil ponsel baru anda di sana, anda tinggal memilih." Dion menyerahkan kartu kecil yang di ambil dari dompetnya.
Pria itu mengambil kertas kecil, menatapnya sesaat, bergantian menatap wajah Dion.
Lalu tiba tiba dia merobek kertas itu.
"Kau pikir semua masalah bisa di selesaikan dengan uang? aku tidak butuh uangmu dan juga ponsel baru. Aku mau ponselku Kembali."
Mereka berempat terkejut.
"Tapi pak, kita sudah mencari nya sejak tadi tapi ponsel anda tidak di temukan, tolong jangan mempersulit kami. Kami mau bertanggung jawab dengan mengganti rugi." kata Cindy menyela.
"Baiklah, kalau begitu sebagai gantinya berikan ponsel kamu." menunjuk Ara.
Hah ?
"Tapi, nggak mungkin pak, di dalam ponsel ku banyak data data penting." Ara terkejut.
"Begitu juga yang ada pada ponselku, kau saja tidak mau menyerahkan ponselmu kan?"
Ara terdiam, gelisah dan takut menatap wajah sangar si pria ini.
Orang orang yang berada di situ mengiyakan permintaan lelaki itu, mereka mendesak Ara untuk menyerahkan ponselnya, biar masalah clear.
Ara mendesah sedih, banyak kenangan indah bersama Raka tersimpan dalam benda itu.
Tapi dia juga tidak ingin mencari masalah dan membuat keributan di tempat itu.
"Cepat berikan ponselmu." bentak lelaki itu. Dia maju hendak mengambil paksa tas Ara.
Tapi cepat Dion menahan kuat tangannya.
"Hentikan." sentak Dion menatap tajam padanya
"Hentikan sandiwara mu, aku tahu ponselmu memang tidak ada, tidak ada benda apapun yang jatuh kebawah sewaktu temanku tidak sengaja menubruk mu, dan bukan dia yang menabrak mu , tapi kau sendiri memang sengaja menabraknya. Kau pikir aku tidak tahu? aku melihat semua perbuatanmu ! kau ingin mencuri ponselnya, tapi keburu dia berbalik dan menabrak mu." kata Dion kasar sambil menunjuk wajah pria itu.
Dion memang melihat hal itu karena dia memperhatikan Ara terus waktu menerima telepon dari Wisnu.
Lelaki itu mendengus geram.
"Apa katamu? kau malah memutar balikkan fakta dan menuduh aku? brengsek kau." dia melayangkan tinjunya pada Dion.
Tapi Dion cepat menghindar.
Ara Ines dan Cindy menjerit, mereka segera menghindar dari tempat itu.
Lelaki itu mendengus geram karena tinjunya hanya meninju angin. Dia kembali mengambil ancang-ancang dan melayangkan pukulan pada Dion, lagi lagi Dion menangkisnya dan memberikan satu pukulan keras di wajahnya.
Lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah, darah segar mengalir dari bibirnya.
Keadaan mulai kacau, semakin banyak pengunjung yang berkumpul dan hanya menjadi penonton tanpa melerai dan memisahkan. tak ada juga yang menghubungi pihak kepolisian, mereka malah mengabdikan pertunjukan itu dengan ponselnya.
Lelaki itu memaki geram sambil meraba bibirnya.
"Sialan, brengsek kau."
Dari kerumunan orang muncul 4 pria berpakaian preman, mereka mengelilingi Dion.
Merupakan teman teman si pria itu,semuanya berwajah sangar dan menakutkan, sekujur tangan mereka di penuhi tato.
"Habisi bajingan ini." perintah si pria itu.
Dion membuka dua kancing kemejanya, lalu merenggangkan kedua tangannya ke atas dan samping kiri-kanan, Terlihat otot otot kekarnya menyembul dari kemejanya.
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, tapi sepertinya kalian lebih suka kekerasan." ujar Dion menatap mereka satu persatu.
Dia memajukan jari telunjuknya ke depan sebagai isyarat mereka maju.
Ara yang cepat berlari mendekat segera memegang tangannya .
"Sudah kak, tidak udah di laden, tidak usah berkelahi, aku akan menyerahkan ponselku !"
"Menyingkirlah Ara, mereka memang sengaja ingin mencari keributan, meski kau serahkan ponselmu, mereka tidak akan membiarkan
kita begitu saja."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kakak, lihat jumlah mereka banyak. Sedangkan kakak seorang diri, sudahlah kak.... aku takut." memelas memegang sala satu lengan Dion yang berotot.
Selesai ucapan Ara, sala seorang di antara mereka maju melayangkan tendangan. Dion segera menyingkir ke samping seraya menarik tubuh Ara cepat.
Tendangan mengenai tempat kosong.
"Serang bajingan brengsek ini, dan ambil ponsel wanita itu, habisi mereka." perintah si pria.
__ADS_1
Ines dan Cindy berteriak teriak minta tolong, tapi tak ada yang mau bergerak untuk membantu. Sala seorang wanita paruh baya berkata orang orang di sini takut untuk ikut campur, karena para preman itu orang orang jahat dan kejam di daerah ini. Tidak ada yang berani dekat atau melawan mereka..Dan mereka juga selalu lolos dari kejaran polisi dan juga hukum.
Mereka biasa mangkal di tempat ini mencari keributan dan masalah.
Wanita itu segera meninggalkan mereka .
anak dari wanita itu berbisik pada cindy.
"Kak, jangan telepon polisi di daerah sini, karena para polisi disini berteman dengan para preman itu." katanya pelan lalu segera berlari mengejar ibunya.
Cindy dan Ines ingat anak itu yang tadi sempat mereka beri makanan ringan dan sedikit uang .
"Terus gimana cin?" ucap Ines gemetar.
"Aku takut menghubungi paman."
"Paman siapa ?"
"Papa kak Dion." Cindy menggigit jarinya berpikir.
"Aku akan menghubungi asisten kak Dion saja." ujarnya kemudian, dia segera mencari kontak asisten sekaligus sekretaris Dion,Toni.
Sementara Dion masih terus meladeni setiap serangan dari para preman itu, dia masih mampu mengimbangi kekuatan para preman itu karena dia jago ilmu bela diri dan rajin berolahraga. Dia menangkis setiap serangan dan sesekali membalas memberikan pukulan dan tendangan.
Sementara Ara terduduk tidak jauh dari belakang Dion.
Tubuhnya sudah jatuh melorot ke bawah karena gemetaran dan ketakutan menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang.
Dia menjerit jerit menangis meminta pertolongan orang orang yang hanya menonton seolah olah menyaksikan pertunjukan gratis.
Ponselnya berdering, membuat dia kaget.
Dengan tangan gemetaran dia mengambil ponselnya dari tas.
Wisnu menelpon, dia cepat mengangkat .
"Halo sayang....!" Rafa yang berbicara.
"Kakak.. huuuuu, huuu...kakaaa. Tolong kami kak." menangis mendengar suara Rafa dari seberang.
Di seberang Rafa panik mendengar suara tangisannya
"Ara ..ada apa? kau kenapa sayang?Araaa ... jawab sayang ada apa? aku sementara menuju alun alun kota. Apa yang terjadi ?"
Ara menjerit keras saat melihat sebuah tangan mengarah kasar padanya hendak merebut ponsel miliknya.
Tapi sebelum tangan itu menyentuh tangannya, kaki Dion menendang kuat kepala preman. Sehingga laki laki itu terjungkal keras ke tanah .
"Ara ..kau tidak apa-apa ?" Dion segera menarik tubuhnya, meraih ponsel Ara yang jatuh menimpa batu. Lalu segera di masukan ke dalam tas Ara, dia tahu benda tipis itu sangat berarti buat Ara, karena menyimpan banyak kenangannya bersama Raka.
Saat Dion sibuk menenangkan Ara, sebuh besi melayang keras di punggungnya.
keduanya jatuh ke tanah.
******
Rafa mendengus geram, kecemasan dan kepanikan melanda dirinya telepon Ara putus. Dia menghubungi kembali tapi ponsel Ara tidak aktif
"Apa yang terjadi dengan istriku wisnu? kenapa dia menangis dan menjerit ketakutan seperti itu, bahkan meminta tolong. Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk padanya."
"Apa kau memasang alat pelacak di ponselnya?"
"Iya tuan, tapi sepertinya sistem GPS nona sudah tidak aktif, karena hp nona sempat rusak dan baru saja di perbaiki."
Rafa kembali mengeram kuat, dia semakin takut dan cemas membayangkan terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Lebih cepat Wisnu dan hubungi orang orang mu yang mengikuti dirinya dan juga yang berada dekat dengan tempat itu. Suru mereka untuk menemukan Ara."
Wisnu segera menambah kecepatan mobilnya yang sudah di atas batas kecepatan rata-rata.
****
Para preman berdiri mengelilingi Dion dan Ara. Di tangan mereka memegang senjata tajam, balok dan besi di arahkan pada keduanya.
Mereka tertawa sinis dan menyeringai.
Dion dan Ara perlahan berdiri. Dion menaruh Ara di belakangnya. Ara semakin gemetaran memegang kemeja belakang Dion. Dia menangis meminta tolong tapi tak ada satu pun yang bergerak maju membantu.
Tidak jauh dari mereka Cindy dan Ines berpelukan, juga dengan tubuh gemetaran .
Sala seorang dari mereka maju, melayangkan balok. Dion menangkis dengan tangan kiri, lalu melayangkan tangan ke wajah menyusul tendangan kuat ke perutnya.
Seorang maju lagi menyabetkan pisau dengan gerakan cepat ke perutnya.
Dion menghindar, tapi pisau itu masih sempat mengenai perutnya sedikit. Darah merembes dari perutnya.
Ara semakin menjerit-jerit keras melihat.
Sala seorang preman bergerak cepat mendekati mendengar jeritannya, sambil mengarahkan pisau ke arahnya.
Tapi dengan cepat Dion menangkap pisau itu dan memegangnya kuat, tangannya robek terluka terkena sabetan pisau ketika benda tajam itu di tarik
Dion yang terluka, Ara yang menjerit kesakitan dan kembali jatuh kebawah saat melihat pisau yang di genggam Dion di tarik kuat, darah langsung menetes jatuh ke tanah.
Terdengar juga jeritan dari Cindy dan Ines serta pengunjung.
Dion menggeram kera, dia mengepalkan kuat tangannya yang terluka lalu di layangkan kuat ke wajah preman itu dengan gerakan cepat.
__ADS_1
Meninju dan ditinjunya Kembali, lalu memutar kepala preman itu hingga jatuh tersungkur jatuh tak sadarkan diri, entah lehernya patah.
Dion mengatur nafasnya yang menderu cepat . keringat membanjir di seluruh tubuhnya, dia meraih pisau milik preman yang berhasil di robohkan.
Lalu di acungkan pada mereka yang tersisa tiga orang, dua orang telah berhasil di robohkan. Satu tangannya menekan perutnya yang banyak keluar darah.
Ketiga preman serentak maju bersamaan,
Dion bergerak melangkah dengan cepat, melompat ke atas. Lalu melempar pisau pada salah satu preman dan juga melayangkan tendangan kuat ke wajah mereka bertiga.
Ketiganya jatuh tersungkur, sala satu dari mereka memekik keras karena pisau yang di lempar Dion menancap di sala satu matanya.
Dari arah jauh terdengar suara langkah kaki berlari-lari mendekat dalam jumlah banyak.
Dion segera memberi isyarat pada cindy dan Ines untuk lari dan sembunyi.
Dia sendiri segera melangkah cepat mendekati Ara, mengangkat tubuh gadis itu ke bahunya, lalu segera berlari menghindari para preman yang berdatangan yang semakin banyak .
Kalau hanya dia seorang diri, dia akan bertahan. Tapi ada tiga gadis yang harus di lindunginya.
"Kejar mereka dan cepat temukan." terdengar teriakan dari sala seorang preman yang sepertinya adalah kepala preman.
Mereka segera berlari berpencar mengejar Dion ara cindy dan ines.
"Kak turunkan aku." seru Ara.
"Apa kamu kuat berlari ?"
"Iya kak, cepat turunkan aku."
Dion segera menurunkan Ara.
Lalu mereka kembali melanjutkan pelarian mereka tanpa tau arah dan tujuan.
Karena mereka tidak tahu dengan tempat ini.
Mereka memasuki sebuah gudang tempat menyimpan aksesoris dan hiasan dekorasi rumah hantu .
Ines menjerit saat melihat pakaian pocong tergantung. Cindy segera menutup mulutnya.
Berbagai aksesoris rumah hantu yang tergantung dan tersimpan di sana. Tengkorak , rambut palsu berdarah, kuburan, pakaian kuntilanak, pakaian tuyul, dan lainnya membuat ruangan ini terlihat menyeramkan dan angker.
"Kak, cepat masuk ke sini." terdengar suara anak kecil dari samping mereka.
Cindy dan Ines kaget dan cepat menoleh.
Anak kecil menunjuk sebuah lemari..Mereka ingat anak itu yang tadi
"Cepat kak ..." seru anak itu kembali.
Keduanya kembali tersentak karena ketakutan.
Lalu segera masuk ke dalam lemari pakaian tempat menyimpan aksesoris dan pakaian para pemain rumah hantu.
Dion dan Ara juga masuk ke ruangan itu.
"Dek, mereka teman kakak." kata Ines.
Anak itu nampak berpikir mencari tempat untuk persembunyian ara dan dion.
"Cepat ke sini." teriak suara agak keras dari belakang mereka.
Wanita paruh baya, Ibu dari anak itu menunjuk lemari usang. Dia nampak mengeluarkan barang barang bekas dari dalam lemari itu.
"Itu ibuku, cepat ke sana." kata anak itu.
Ines dan Cindy memberi isyarat pada mereka untuk sembunyi di sana.
"Cepat temukan mereka, aku yakin mereka lari ke arah sini, ada petunjuk darah mengarah ke area ini." terdengar suara keras dari luar.
Mereka tersentak.
Dion dan Ara segera menuju lemari bekas yang mulai rapuh di makan rayap tapi masih bisa gunakan untuk tempat bersembunyi.
Mereka segera masuk, seukuran dengan tubuh mereka, sesak tapi masih bisa bernafas.
Pintu cepat di tutup.
Lalu ibu dan anak itu menghalangi lemari dengan dus dus bekas, di susun susun di depan pintu lemari. Lalu di atasnya di letakkan barang dan pakaian bekas. Juga beberapa aksesoris yang menakutkan.
hal yang sama juga mereka lakukan pada lemari Ines dan Cindy.
Lalu keduanya segera keluar lewat pintu rahasia setelah pamit dengan berbisik .
Di dalam lemari yang sempit dan gelap Ines gemetaran memeluk Cindy .
"Aku takut Cin, apa hidup kita akan berakhir di sini?" bisiknya sambil menangis.
"Ssst diamlah ...jangan bersuara. Nanti mereka dengar dan menemukan kita, peluk saja aku kalau kau takut." ucap Cindy hampir tak terdengar.
"Silent'kan ponselmu." katanya kembali
Ines segera melakukan apa yang di katakan Cind, sangat sulit bergerak karena ruang yang sempit hanya pas pada tubuh mereka.
Lalu keduanya kembali saling berpelukan di dalam, merendam ketakutan dan saling menguatkan.
********
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia dengan karya Rafa dan Ara π