Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 173


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah menumpahkan kesedihan beberapa saat dalam pelukan Rafa dan merasa tenang, Ara melepaskan pelukannya.


"Udah lega?" Rafa menatapnya. Melihat Ara tak lagi menangis.


Ara mengangguk. Rafa menyapu sisa air matanya.


"Mari kita keluar." katanya sambil menurunkan Ara dari meja kerja.


"Kemana?" wajah Ara mengernyit.


Rafa menarik tangannya berjalan.


"Kemana kak?" tanya Ara kembali.


"Turun ke bawah. Kita temui mama dan Levina," kata Rafa sambil membuka pintu.


Ara terkejut. Langkahnya terhenti. Langkah Rafa ikut terhenti.


"Untuk apa menemui mereka larut malam begini? Mama sama kak Levina sedang tidur! Tidak baik menganggu tidur orang." kata Ara.


Rafa tak mengindahkan perkataan Ara. Dia kembali melangkah sambil menarik tangan Ara. Wisnu tampak siaga berdiri di depan pintu bersama pak Sam.


"Wisnu, bangunkan semua orang. Kumpulkan mereka di ruang keluarga." titah Rafa pada Wisnu.


"Baik tuan." Wisnu segera beranjak sambil tersenyum. Sudah waktunya sidang hukuman di tegakkan di rumah ini bagi yang melakukan kesalahan. Sam juga tersenyum senang mendengar perintah Rafa.


Ara kembali kaget. Dia teringat pada perkataan Nesa pada Maya dan Levina. Tanpa sengaja telinganya mendengar saat menaiki tangga."Apa kak Rafa akan menghukum mama dan kak Levina dengan mengusir mereka dari rumah ini?" batinnya. Hatinya jadi tidak enak.


"Berhenti sekretaris Wisnu." katanya segera membuat langkah Wisnu terhenti. Lalu dia menoleh pada Rafa.


"Kak, bolehkah pak Sam kembali ke kamarnya? Ini sudah larut malam. Beliau pasti capek, mengantuk dan butuh istirahat setelah seharian beraktivitas." katanya kemudian.


Sam terperanjat dengan perkataan kepedulian ini."Nona muda, saya baik baik saja. Saya__!"


"Pak Sam, pergilah ke kamar dan istirahat." perintah Rafa memotong Ucapannya.


Sam segera pamit dan undur diri.


"Wisnu, aku menyuruh mu untuk turun ke bawah. Kenapa kau masih berada di sini?" perintah Rafa kembali menatap tajam.


Wisnu kelabakan dan segera berbalik.


"Tunggu sebentar sekretaris Wisnu." kata Ara membuat langkah Wisnu terhenti. Wisnu jadi bingung mengikuti perintah siapa. Dia melirik pada tuannya. Isyarat mata Rafa membuatnya berdiri diam, mengikuti perkataan Ara.


Ara melihat pada Rafa.


Wajah Rafa mengernyit menatapnya.


"Ada apa?"


Ara mengulas senyum sekilas sambil melihat wajah Rafa.


"Maaf, aku tidak bermaksud menentang perintah kakak! Mama dan kak Levina sedang istirahat. Mereka sedang tidur. Ini sudah tengah malam. Lihat ini sudah jam berapa?"


Ara mengambil ponsel Rafa yang berada dalam terlihat di saku kemeja pria itu. Lalu menyalakan layar HP. Dahinya mengerut melihat foto dirinya pada layar tampilan ponsel Rafa. Gambar dirinya saat memakai dress sewaktu di kamar pribadi kantor Rafa. Ara masih ingat Moly yang mengambilnya lalu di kirim pada Rafa. Ara tidak menyangka kalau Rafa akan memakai foto dirinya sebagai tampilan wallpaper ponselnya.


"Ini sudah mau jam 2 pagi." katanya kemudian memperlihatkan jam pada Rafa.


Rafa ikut melihat waktu pada ponselnya. Lalu menatap wajah Ara."Kau sedang ingin menghentikan aku?" Dia mengetahui apa yang ada di pikiran Ara.


Ara geleng kepala dan berpikir lagi.


"Bukan seperti itu kak. Aku hanya memikirkan mama. Saat ini mama sedang tidur nyenyak. Nanti penyakitnya kabuh lagi jika di bangun kan secara tiba-tiba. Aku tidak mau mama kenapa kenapa!" katanya kemudian. Berharap Rafa mengerti.


Rafa mendengus pelan."Mereka pantas mendapatkan hukuman atas apa yang mereka lakukan padamu. Mereka harus membayar setiap tetes air matamu yang jatuh dan membuat hatimu sakit dan terluka. Perbuatan mereka tidak bisa di tolerir lagi." Rafa menatap tajam."Ayo kita turun. Jangan mencoba hentikan ku." kata Rafa seraya memegang kembali pergelangan tangan Ara.


"Cepat turun Wisnu, bangunkan mereka." perintahnya.


Ara bergerak cepat menahan tangan Rafa. Lalu menarik tangan Rafa sedikit kuat masuk ke kembali dalam ruang kerja dan menutup pintu.


Rafa meraih handle pintu dan membukanya.


Ara cepat menarik tangan Rafa dan menutup pintu kembali. Lalu berdiri di belakang pintu menghalangi jalan Rafa untuk keluar.


"Apa yang kau lakukan?" kata Rafa agak keras, menatap tajam. Dia menarik handle pintu tapi Ara menahan tangannya.


"Jangan menghalangiku Ara." sentaknya.


Ara geleng geleng Kepala.


"Minggir__!" sentak Rafa.


"Sudahlah kak!" kata Ara geleng geleng lagi dengan wajah memelas.


"Jangan hentikan aku. Jangan melindungi mereka. Selama ini mama sudah sangat keterlaluan padamu." menyingkirkan tubuh Ara dari hadapannya dan menarik kembali handle pintu. Lagi lagi Ara menghalangi.


"Aku nggak apa apa, benar __hatiku sudah tenang setelah menangis tadi. Tak ada lagi beban di hatiku. Aku mohon sudahlah, jangan di perpanjang lagi. Aku ingin ketenangan dan kedamaian tanpa ada keributan dan pertengkaran di antara kalian." ucapnya pelan memelas, menatap penuh harap agar Rafa luluh.


Rafa terdiam, sepertinya dia harus mencari cara lain untuk memberi hukuman kepada mamanya dan Levina tanpa sepengetahuan Ara.


"Mama hanya sekedar menegurku. Wajar orang tua menegur untuk kebaikan anak anak. Lagi pula, aku yang salah karena pulang malam." kata Ara kembali.


Dia menatap wajah Rafa yang masih terlihat tegang dan kesal. Sepertinya kakak iparnya ini masih marah.


"Sebenarnya aku juga yang salah, hingga membuat mama marah besar." katanya lagi."Mama mengira aku punya kekasih di luar." kata Ara pelan.


Wajah Rafa berubah mendengar perkataan Ara."Apa katamu? Kekasih?"


Ara mengangguk."Mama melihat aku dekat dengan pria Om Om. Juga menjemput dan mengantar ku pulang. Wajarlah mama marah bukan?" kata Ara kembali tidak ingin menutupi apa pun agar Rafa tidak membenci Maya.


Rafa terkejut, matanya membulat.


"Apa kamu bilang? dekat dan di antar seorang pria?"


"Iya. Mama mengira aku ada hubungan sama pria itu hingga membuatku pulang lat ke rumah. Makanya mama marah besar padaku." kata Ara kembali. "Sekarang kakak sudah tahu kan? Jadi gak perlu lagi marah sama mama dan kak Levina!" kata Ara lagi tanpa menyadari suasana hati Rafa saat ini sedang di kuasai amarah besar.


"Aku mau ke kamarku. Aku capek dan mengantuk. Kakak juga baru pulang, pasti capek kan? Pergilah ke kamar dan istirahat. Selamat malam," kata Ara pamit. Dia menarik handle pintu mau keluar.


Rafa langsung sadar dari lamunannya. Dia menarik tubuh Ara kedalam dan menutup pintu keras.


Ara terkejut."Ada apa lagi kak? Aku mau ke kamar. Ini sudah mau pagi, bentar lagi subuh, Aku mau tidur sejenak." melepas tangan Rafa yang memegang bahunya kuat.


"Apa katamu tadi?" Rafa menatap tajam.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar ku untuk istirahat!" kata Ara.


"Bukan itu." sentak Rafa agak keras membuat tubuh Ara bergidik.


"Aku mau tidur sejenak, sebentar lagi subuh."


kata Ara.


"Bukan...." sentak Rafa kembali


"Terus yang mana?" Ara bingung.


Rafa memegang dagunya kuat.


"Sebelum kalimat kau ingin ke kamar dan istirahat." mulai emosi dan hilang kesabaran.


Ara berpikir mencoba mengingat dan akhirnya dia mengerti."Maksud kakak aku dekat sama Om Om dan di antar pulang?" katanya bertanya.


Rafa mengeram, dia mencekal lengan Ara semakin kuat.


Ara meringis merasakan sakit. Dia semakin takut melihat wajah menakutkan di depannya.


Rafa segera melepaskan pegangannya dan beralih meninju tembok. Mendengar Ara asal ngomong sementara hatinya sakit.


Ara kaget dan cepat menunduk menghindari tinju Rafa. Ara bingung dengan sikap Rafa. Tadi sangat lembut, sekarang kasar.


"Benar kamu dekat dan di jemput sama pria lain di luar?" suara Rafa meninggi dengan rahang mengeras menahan amarah.


"Iya__ tapi itu tidak benar. Mama salah paham. Pria itu__!" ucapan Ara terputus.


"Sudah ku katakan berulang kali aku tidak suka kau dekat dan berhubungan dengan pria lain, apalagi sampai bersentuhan. Aku sudah memperingatkan Ara." kata Rafa geram. Amarahnya tambah meluap ketika teringat kejadian lalu saat Dion memeluk Ara di salon.


Ara kaget mendengar perkataannya. Ini bukan hanya luapan kemarahan tapi juga terlihat ada kecemburuan."Apa kakak ipar sedang cemburu saat ini? Apa dia menyukai ku?" batinnya bingung.


"Siapa laki laki itu, hah? Siapa bajingan itu?" teriak Rafa tatapan semakin tajam.


Hati Ara menciut melihat kemarahan kakak iparnya ini, dia semakin takut.


"Wisnu..." Rafa berteriak keras.


Pintu terbuka masuklah Wisnu


"Siap tuan..." tapi Wisnu langsung berbalik, terkejut melihat posisi tuan dan nona mudanya yang sangat dekat tanpa celah.


"Hukuman apa yang pantas di berikan pada laki laki yang berani mendekati dan menjemput Nona muda mu?" tanya Rafa kasar.


"Patahkan tangan dan kakinya tuan." jawab Wisnu asal asalan karena tidak bisa berpikir dengan pertanyaan tiba tiba. Dia sendiri terkejut dengan pertanyaan itu.


"Cari laki laki yang berani menjemput Ara di kampus. Cek semua kamera CCTV di setiap sudut kampus. Setelah kau menemukan bajingan itu, patahkan tangan dan kakinya."


Ara terbelalak. Patahkan tangan dan kakinya? batin Ara. Padahal pria itu hanya orang tua dari anak yang mengikuti les privat darinya.


Sampai segitu kemarahan dan kecemburuan Rafa? Apa pria ini menyukainya? Ara teringat perlakuan Rafa padanya. Suka mencium dan memeluknya tanpa canggung. Perlakuan yang sudah sangat berlebihan dan tidak wajar di lakukan kakak ipar kepada adik ipar. Rafa suka seenaknya memeluk dan menciumnya. Bahkan Rafa berani membawa dirinya ke tempat tidur miliknya, menidurkannya di sana. Sementara Rafa punya kekasih. Apa Rafa menyukainya? Atau karena memang sifatnya yang seorang play boy yang sudah terbiasa dekat dan menyentuh wanita sesukanya? Perlakuan Rafa itu membuatnya sangat takut hingga menjadi salah satu alasannya ingin keluar dari rumah.


"Kenapa kau diam saja Wisnu? Cepat laksanakan perintahku." teriak Rafa kembali dengan keras membuyarkan lamunan Ara.


"Baik tuan." jawab Wisnu sigap.


"Tunggu sekretaris Wisnu." seru Ara.


"Kakak salah paham. Pria itu bukan siapanya aku. Dia adalah __!"


"Aku tidak mau mendengar pembelaan mu kepada bajingan itu__! Berani sekali dia mendekati mu!" potong Rafa dengan seringai tajam.


Hati Ara ciut melihat tatapan menakutkan ini. Tapi dia berusaha untuk kuat dan tenang."Apakah benar itu hukuman bagi laki laki yang mendekati ku?" tanyanya sembari melihat pada Wisnu.


"Iya Nona muda."


"Aku ingin mendengar kembali hukumannya, tolong katakan sekali lagi."BB kata Ara.


Wisnu melongo.


"Untuk apa kau menyuruh Wisnu mengulang kembali hukumannya? Apa kau ingin melindungi bajingan itu?" sentak Rafa kembali menekan tubuh Ara ke dinding.


"Nggak, aku hanya ingin meyakinkan diriku saja! Cepat katakan sekali lagi apa hukumannya sekretaris Wisnu." kata Ara.


"Tangan dan kakinya akan di patahkan Nona muda." kata Wisnu kembali.


Ara mengangguk mengerti.


"Terus hukuman apa yang pantas di berikan kepada pria yang berani meluk dan mencium aku sembarangan dengan menggunakan memaksa ancaman?" tanya Ara melihat Wisnu dan Rafa bergantian.


Rafa dan Wisnu melongo. Terutama Rafa.


"Apa katamu?" Rafa semakin geram dan emosi.


Dia meninju tembok sambil menatap Ara tajam


"Siapa lelaki yang berani melakukan itu padamu? Hah? Siapa yang berani menyentuh tubuhmu? Apakah bajingan itu?" Amarah semakin memuncak hingga ke ubun-ubun, wajah memerah rahangnya mengeras.


Ara menelan ludahnya, takut. Tapi dia berusaha menguatkan hati dan menekan rasa takutnya.


"Cepat katakan apa hukumannya sekretaris Wisnu?" menoleh lagi pada Wisnu.


"Potong tubuhnya menjadi 100 bagian Wisnu." kata Rafa penuh kemarahan."Kau dengar itu Wisnu? Cincang tubuh bajingan itu menjadi 100 bagian dan jadikan sebagai makanan buaya," sambungnya kembali sambil menatap mata Ara tajam yang terlihat ketakutan.


"Baik tuan," ucap Wisnu tegas.


Tubuh Ara bergidik, ngeri mendengar perintah hukuman itu.


Rafa kembali menatap wajah Ara.


"Sekarang katakan, siapa bajingan itu?" menyorot tajam.


Ara meringis kesakitan"Baik, tapi lepaskan dulu pegangan kakak. Ini sangat sakit." katanya merasa sakit pada tangannya yang di pegang Rafa kuat.


Rafa melepaskan cekalannya.


Ara mendekat pada Wisnu, lalu menatap Wisnu.


"Pria yang berani memeluk dan mencium aku seenaknya dengan mengancam itu adalah__" Ara menoleh pada Rafa


"Tuan mu sendiri sekretaris Wisnu, bos mu sendiri," menunjuk Rafa."Jadi cincang tubuhnya menjadi 100 bagian dan berikan pada buaya seperti perintahnya tadi." katanya kembali takut takut.


Rafa dan Wisnu terbelalak. Keduanya terdiam sejenak mencermati perkataan Ara. Tidak lama kemudian Wisnu cekikan menahan tawanya. Tapi kemudian dia cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


Rafa menendang kakinya karena berani menertawainya. Lalu menatap tajam pada Ara. Dia mendengus kasar karena merasa di kerjain. Dia sendiri yang kena batunya dari hukuman yang di buat sendiri.


"Beraninya kau Ara, awas kau..." mendekati Ara dengan tatapan penuh dendam.


"Tapi itu benar." kata Ara seraya menghindari dengan berlari Ara di belakang Wisnu yang memegangi perutnya karena masih menahan tawa.


"Minggir kau Wisnu." Rafa kembali menendang Wisnu dan berusaha meraih tubuh Ara di belakangnya.


Wisnu meringis kesakitan, memegang tulang keringnya yang sakit. Terjadi kejar kejaran di antara Rafa dan Ara mengelilingi tubuh Wisnu.


"Akan ku hukum kau seberat beratnya Ara, lihat saja kalau ku tangkap. Beraninya kau mengerjai ku." ucap Rafa menatap tajam pada Ara.


"Kenapa kakak marah? Bukannya kakak sendiri yang membuat hukumannya?" jawab Ara dengan nafas tak beraturan.


Rafa berhenti mengejar, dia membuka dua kancing kemeja atas dan kancing tangannya lalu di lipat sampai ke siku karena gerah dan keringatan, kemudian kembali mengejar.


"Apa salahku? Aku benar kok nggak bohong.


Kakak suka peluk dan cium aku sembarangan. Jadi kakak harus terima hukuman yang kakak buat sendiri." jawab Ara terus berlari menghindari.


Rafa semakin geram mendengar jawabannya, Dia semakin gencar mengejar. Tapi karena adanya tubuh Wisnu yang di pakai Ara melindungi dirinya membuatnya susah menangkap tubuh gadis itu.


Wisnu pusing sendiri melihat kejar kejaran dia antara tuan dan nona mudanya yang mengelilingi dirinya, matanya ikut berputar putar mengikuti pergerakan tubuh keduanya.


"Cepat tangkap dia Wisnu, jangan hanya diam saja." teriak Rafa keras.


"Baik tuan." Wisnu menangkap tangan Ara yang lewat di depannya.


"Jangan menyentuhnya bajingan." Rafa kembali menendang betisnya dari belakang melihat dia memegangi tangan Ara.


Wisnu kembali menjerit kesakitan. Dia memaki dalam hati karena malah dia yang menjadi korban di sini.


Ara terlepas dan kembali berlari, nafasnya memburu cepat tak beraturan.


"Berhenti Ara," seru Rafa melihat Ara ngos-ngosan dan Keringatan. Pakaiannya tampak basah sehingga lekukan tubuhnya terlihat memahat dari balik pakaian tidur.


"Aku tidak mau, nanti kakak akan menghukum ku." kata Ara yang sedang berdiri di belakang Wisnu. Berulang kali menggapai pintu mau keluar tapi tidak berhasil.


Rafa menyeret paksa tubuh Wisnu ke luar dari ruang kerjanya, karena menjadi penghalang dirinya menangkap Ara. Lalu dia menutup pintu dan menguncinya asal. Kemudian menatap tajam pada Ara yang ngos-ngosan.


"Kakak curang." teriak Ara dengan nafas tak beraturan.


"Kita sudahi kejar kejarannya. Nanti kau kehabisan nafas! Ayo kemari lah." mulai khawatir melihat Ara yang kesulitan bernapas.


Ara geleng geleng kepala dan segera berlari melihat Rafa mendekat. Dia mengira Rafa ingin menangkapnya. Ara bersembunyi di balik rak rak buku, bersandar di sana sambil mengatur nafasnya.


Hening.


Tak ada suara derap langkah kaki berbunyi. Apa kakak ipar sudah berhenti mengejar? batinnya. Dia mengintip ke arah meja kerja untuk melihat Rafa, tapi tak ada. Kemana kakak ipar? Dia mengintip ke arah lain. Tak terlihat Rafa di sana.


Ara kembali mengatur nafasnya yang masih memburu tak beraturan. Keringat semakin banyak keluar membasahi wajah dan tubuhnya. Ara menelan ludah yang terasa pahit. Dia merasa haus, tenggorokannya kering.


Sosok Rafa tiba tiba muncul di depannya membuatnya sangat terkejut. Dia menjerit kaget. Rafa menangkap tubuhnya dan membungkam jeritannya. Suaranya hilang beberapa saat.


"Akhirnya aku mendapatkan mu, sekarang kamu mau lari kemana lagi?" bisik Rafa Setelah melepas ciumannya. Dia tersenyum menyeringai menekan tubuh Ara ke rak buku, lalu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Ara. Menciumi bibir Ara dan semakin menekan tubuh Ara ke rak. Buku buku berjatuhan ke sebelah tidak di pedulikan dan terus m*****t bibir Ara.


Ciumannya berhenti merasakan Ara kesulitan bernapas sambil memukul-mukul dadanya.


Rafa menarik bibirnya dan menatap wajah Ara yang di penuhi bulir bulir keringat.


"Apa yang kakak lakukan?" kata Ara, tidak tenang dan takut dengan ciuman itu.


"Beraninya kamu mengerjai aku?"


"Siapa yang ngerjain kakak? Bukannya kakak sendiri yang mengatakan hukuman itu?" Ara mendorong tubuh Rafa."


"Beraninya kau.....!" sentak Rafa. Dia hendak mencium Ara, tapi Ara segera menghindar dengan berpaling."Baik, aku minta maaf." katanya segera.


"Tolong menyingkir lah, aku mau ke kamar. Aku mau istirahat, aku capek dan mengantuk." pinta Ara dengan nafas tak beraturan. Dia menurunkan tubuhnya dan keluar dari kurungan tangan Rafa, lalu berjalan cepat menuju pintu.


Rafa yang telah menyadari Ara telah Ara, melangkah lebih cepat dan menangkap tubuh wanita itu.


Ara terkejut."Lepas kak. Aku mau ke kamar, aku benar-benar capek dan mengantuk." keluh Ara berontak.


Rafa menatap menyeringai."Kau pikir aku akan melepaskan mu setelah apa yang kau lakukan padaku?" bisik Rafa di depan wajah Ara."Malam ini kau akan bersamaku, itu hukuman untukmu karena terlalu berani menjahili ku," bisiknya kembali dan mendapatkan kecupan tiba tiba di bibir Ara. Ara kembali kaget dan tidak sempat menghindar. Dia kembali terkejut saat Rafa mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kakak mau bawa aku kemana? Turun kan aku, lepas ___!" Ara berontak.


Rafa tak memperdulikan perkataannya. Dia terus membawa tubuh Ara melangkah masuk ke kamar mandi.


"Ngapain kita ke sini?" Ara memegang pinggiran pintu kamar mandi untuk bertahan.


"Jangan seperti ini kak, maafkan aku!" pekik Ara takut.


Rafa melepas jarinya dari tiang pintu dan kembali melangkah masuk. Dia menurunkan tubuh Ara di bawah shower.


"Kenapa bawa aku kemari?" tanya Ara bingung dan berusaha melepas pegangan Rafa.


"Kita akan mandi bersama." ucap Rafa tersenyum sinis.


Ara terbelalak. Deg degan, hati tidak enak, takut."Nggak, aku nggak mau. Aku mau ke kamarku, aku mohon, jangan lakukan ini." berontak.


Rafa menghidupkan shower sambil menahan tubuh Ara yang meronta. Air jatuh menguyur tubuh mereka.


Ara terkejut. "Apa yang kakak lakukan?"


"Kita akan mandi bersama!" kata Rafa jahil. Ara terbelalak."Aku gak mau!" kembali berontak.


Rafa tersenyum sinis. Dia gemas melihat ketakutan di wajah Ara.


"Beri aku hukuman lain." pinta Ara memelas.


Dia bergerak menghindari air, tapi Rafa semakin memeluk tubuhnya kuat sehingga dia susah bergerak.


Ara menyapu air yang mengaliri di wajahnya. Sesekali dia menyesap air dengan lidahnya karena haus. Tubuhnya terasa segar karena tadi kepanasan dan keringatan. Dia menyapu air dari kepala dan wajah berulang ulang.


Rafa memperhatikannya tak berkedip. Lekukan tubuh yang terpahat dan terlihat jelas dari balik gaun tidur yang basah terpampang jelas di matanya. Di tambah lagi dengan gestur tubuh Ara pada tubuhnya yang menempel tanpa celah. Kedua buah milik Ara yang menempel pada dadanya membuat hasratnya membuncah. Dua bulat kecil berwarna pink terlihat jelas. Fantasi liar Rafa muncul. Perlahan dia menyentuh bibir Ara dengan jemari kirinya. Tangan kanannya memeluk menahan tubuh Ara.


Ara terkejut dan membuka mata merasakan sentuhan itu. Dia cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lalu menggeleng kepala mengisyaratkan agar Rafa jangan menciumnya. Dia semakin terkejut setelah menyadari keadaan dirinya yang basah kuyup. Di mana bagian bagian tubuhnya tercetak dan terlihat jelas. Gerakan cepat dia menutup dadanya dengan ke dua tangannya. Dia ketakutan melihat tatapan mata Rafa yang tampak gelap di penuhi kabut birahi. Ara kembali geleng kepala meminta Rafa jangan menyentuhnya.


Siapa yang dapat menahan diri melihat keindahan ini? Rafa menatap liar. Ingin melahap semua keindahan ini dengan kerakusannya.


...Bersambung....


... ...

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah mampir πŸ™ Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya...


__ADS_2