
Ara mengerjap kan kedua mata mendengar suara memanggil namanya. Semakin jelas dia melihat wajah di depannya, kesadarannya kembali normal.
"Kakak ipar?" ucapnya pelan meyakinkan wajah orang berada di atas wajahnya.
"Ya, ini aku." jawab Rafa menatap wajahnya. Rafa tersenyum seraya menyapu lembut wajah Ara.
Ara buru buru melepaskan pelukannya dan segera mundur. Dia bingung melihat Rafa ada di depannya.
"Kakak sudah pulang? Bukannya berada di Malang?" karena setahunya Rafa pergi ke malang dan akan kembali dua hari lagi seperti kata Pak Sam.
"Aku baru sampai." kata Rafa. Dia kembali memegang kedua tangan Ara.
"Wajah mu basah. Apa kamu menangis?" tanyanya meski dia tahu Ara sedih.
"Aku?" Ara menunjuk diri sendiri, gugup. Lalu meraba wajahnya yang basah.
Rafa mengangguk.
Ara tersenyum."Iya, aku merindukan kak Raka." jawabnya, melap sisa air matanya di pipi.
"Sempurna sekali akting mu. Berusaha tegar dan kuat seolah-olah tidak ada kesedihan dan tidak terjadi apa-apa." batin Rafa melihat senyum yang di buat paksa untuk menutupi kesedihan.
"Ara, apa ada hal lain yang membuat mu menangis?" Rafa mencari tahu. Dia ingin Ara jujur.
Ara sedikit gugup."Apa maksud kakak?" kembali tersenyum pura pura tidak mengerti maksud pertanyaan kakak iparnya ini.
Rafa memegang wajahnya.
"Apa ada yang menyakitimu?" tanyanya menatap lekat.
Ara membuat wajahnya pura pura kaget."Siapa? Nggak ada kok, aku baik baik saja." kata Ara seraya melepaskan tangan Rafa dari wajahnya. Tapi Rafa malah menarik tubuhnya dan di peluk.
Ara jadi risih."Lepas kak. Jika ada yang masuk dan melihat kita dekat begini, nggak baik." Katanya melepaskan tangan Rafa di belakang pinggangnya. Tapi pelukan itu begitu kuat.
"Tidak ada yang berani masuk kesini, ada Wisnu di luar." bisik Rafa lembut di depan wajah Ara yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya.
"Tetap aja kita nggak bisa begini." kata Ara semakin risih dan merasa tidak nyaman dekat gestur tubuh mereka menempel tanpa celah seperti ini. Rafa yang notabenenya adalah kakak iparnya. Hatinya tidak tenang dan merasa canggung dengan kedekatan mereka begini. Karena ini sesuatu yang sangat tidak baik. Ara menarik tubuhnya dan berusaha melepas tangan kekar Rafa.
Pelukan Rafa malah semakin erat. Ara semakin risih dengan bagian tubuh atas mereka yang merapat. Kedua buahnya yang tidak menggunakan bra, menekan dan bergesekan dengan dada Rafa. Dia segera membalikkan tubuhnya membelakangi Rafa. Berusaha sekuat tenaga melepas pelukan tangan Rafa di perutnya."Jangan dekat begini kak, tolong lepas."
"Aku gak akan lepas. Kau masih tetap tidak mau bicara padaku?" kata Rafa memeluk. Dia menyingkap rambut belakang Ara lalu mengecup tengkuk Ara lembut.
"Kak..." Ara kaget, tubuhnya bergidik.
"Bicaralah...." kata Rafa kembali.
"Bicara apa?" dahi Ara mengerut.
"Kenapa kau menangis?"
"Sudah ku bilang aku merindukan suamiku."
"Kenapa kau masih merindukannya, ini sudah setahun kepergiannya. Tapi kau masih terus meratapinya." kembali mendaratkan kecupan di leher kanan Ara, lalu membalikkan tubuh Ara kembali menghadapnya.
Ara semakin tegang dan tidak nyaman. Dia meraba lehernya.
"Benarkah kau menangis karena merindukan Raka atau karena ada sesuatu yang lain?" Rafa mendesak terus agar mau jujur dan tidak menyembunyikan apa pun darinya.
__ADS_1
"Lepas dulu." pinta Ara memelas. Kembali tidak nyaman dengan gestur tubuh mereka.
"Kenapa? Bukannya tadi kau yang meluk aku duluan?" Rafa tahu Ara tidak memakai bra, karena sejak tadi kedua benda kenyal itu bergesekan di dadanya. Dua ****** bulat keras sangat terasa menyentuh kulitnya Dan itu membangkitkan hasrat dan gairahnya. Matanya sesekali melihat kedua buah segar yang menyembul terpahat dari belahan pakaian tidur. Di rasakan padat dan kencang. Juga leher jenjang Ara yang putih, tulang selangkanya, ketiaknya yang putih mulus tanpa bulu, tertangkap oleh matanya.
Nafas dan jantung Ara berdetak cepat. Ara meletakkan kedua tangannya di antara dadanya dan dada Rafa, tapi Rafa memegang kedua tangannya. Tak memberi penghalang pada tubuh mereka.
"Kak__! jangan seperti ini." Ara semakin tidak tenang, dia bahkan merasa malu. Wajahnya memerah. Menghindari tatapan mata Rafa yang terlihat lain.
Rafa tak menggubris perkataannya.
"Masih tetap tidak mau bicara?" membawa wajah Ara menatapnya. Matanya liar melihat bibir dan mata Ara. Sejujurnya dia lebih gelisah dan tersiksa dengan kedekatan ini dari pada Ara. Bagian pribadinya sudah aktif.
"Aku sedang bermimpi melihat kak Raka."Jawab Ara."Lain kali kalau aku sedang tidur, kakak jangan dekat-dekat, jauhi aku. Supaya aku gak akan macam-macam sama kakak. Sekarang lepaskan pelukan kakak, kita bicara sambil duduk saja." sambung Ara seraya memundurkan tubuh atasnya kebelakang.
Tapi Rafa menahan tubuhnya dan memeluk kuat. Ara mendesah sedih. Seharusnya dia tidak tidur di ruang ini, dengan pakaian terbuka begini. Lagi pula mana dia tahu Rafa akan pulang mendadak begini? Setahunya akan kembali besok lusa.
"Sudah ku bilang tidak akan ku lepas sebelum kamu bicara! Mau ngomong atau aku paksa?"
Kata Rafa memberi ancaman.
Mata Ara mendelik, dahinya mengerut. Tidak mengerti maksud perkataan kakak iparnya
ini. Tiba tiba Rafa mengangkat tubuhnya dan membawanya ke meja kerjanya. Kemudian di dudukannya di sana.
Ara kaget.
"Kenapa kakak meletakkan aku di sini?" ingin turun, tapi Rafa menekan dan mengurung tubuhnya dengan menopang kedua tangannya di atas meja samping kiri-kanan pinggul Ara.
Tubuh Ara langsung tegang, sesaat dia mengingat kejadian yang dilakukan Rafa padanya di meja kerja kantor perusahaan.
"Jangan terlalu kuat di remas, paha mu terbuka dan terekspos." ucap Rafa melirik ke bawah, melihat paha putih mulus Ara yang terlihat. Rafa menelan saliva."Apa kau ingin menggodaku dengan itu?" kata Rafa dengan tatapan berat. Juga nafas berat.
Ara terbelalak. Dia langsung menoleh ke bawah, paha putih mulusnya terlihat, karena dasternya tersingkap ke atas. Secepatnya dia langsung menurunkannya. Lalu mendorong kuat tubuh Rafa.
"Jangan seperti ini kak! Ini nggak baik." wajah sedih takut."Di bawah ada kak Levina kekasih kakak. Lebih baik kakak temui kak Levina. Dia datang jauh-jauh dari singapura hanya untuk bertemu kakak." sambung Ara kembali berusaha mendorong.
Cup... Rafa mengecup cepat bibirnya.
Ara terperanjat. Melongo. Dia tidak menyangka Rafa akan mencium bibirnya. Sementara Rafa punya kekasih, bahkan kekasihnya ada di rumah ini.
"Masih tetap nggak mau ngomong?" Rafa menatap matanya lekat.
Ara balas menatapnya dan masih terdiam. Mencerna apa yang baru di lakukan Rafa tadi.
Melihat tatapan mata Rafa yang sulit di tebak.
Cup... cup...! Rafa Kembali mendaratkan dua kecupan.
Ara kembali kaget dan langsung menutup mulutnya. Jantungnya berdebar kencang. Semakin takut.
"Apa yang kakak lakukan?"
"Kalau gitu ngomong lah, apa yang mama lakukan padamu?" Rafa mengangkat dagunya.
"Nggak ada. Mama hanya menegur aku agar jangan pulang malam, nanti aku sakit. Sama seperti kemarin kemaren bila mama menegurku terlambat pulang__hanya itu." kata Ara cepat dan menghindari tatapan mata Rafa.
"Kau pikir aku percaya?" kata Rafa tak berpaling dari wajah yang terlihat takut ini.
__ADS_1
"Aku gak bohong. Aku juga salah, pulangnya kemalaman." kata Ara kembali, suara serak. Tak ingin mengatakan sejujurnya perlakuan Maya dan Levina yang sangat menyakitinya.
"Kakak baru pulang pasti capek. Lebih baik kakak istirahat. Aku juga mau ke kamar ku, mau tidur." sambung Ara kembali.
Rafa menatap ke dua mata teduh yang tampak berair."Pasti sakit kan?" bisik Rafa.
Ara menatapnya. Tak mengerti bisikan itu.
Rafa menunjuk dadanya."Hatimu, dengar perkataan mama dan levina yang menyakitkan." ucapnya.
Ara segera mengulas senyum menutupi kesedihannya. Lalu menggeleng."Hatiku baik baik saja." katanya serak.
Rafa memegang wajahnya, menatap gelembung air mata yang siap tumpah. Isak tangis yang berusaha di tekan agar tidak keluar dapat di rasakan dari gemuruh kesedihan dalam dada.
Rafa segera meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Kau ingin menyembunyikan apa dariku? Kau ingin menutupi kesalahan mama lagi?" bisik nya pelan.
"Aku tahu apa yang mereka lakukan padamu. Aku tahu bagaimana sedih dan sakitnya hatimu saat ini." bisiknya kembali dengan Rafa lembut.
Isak tangis Ara lolos keluar mendengar ucapan itu. Air matanya mengalir jatuh.
"Kak, aku boleh minta sesuatu nggak?" pintanya.
Rafa mengangguk.
"Katakanlah, apa pun akan ku berikan."
"Izinkan aku kembali ke rumah orang tua ku.
Aku ingin pulang ke rumah orang tua ku." Katanya terisak.
"Aku sudah tidak berhak lagi tinggal di sini. Kak Raka sudah tidak ada." bisik Ara sendu, matanya semakin basah.
Rafa terkejut," Tidak, aku tidak akan mengizinkan mu." katanya segera dengan tegas.
"Kak Raka sudah tidak ada, Suami ku sudah meninggal. Aku tidak berhak lagi tinggal di rumah ini." kata Ara kembali di sela Isaknya.
Rafa melepas pelukannya dan memegang wajah Ara. Wajah itu penuh air mata.
"Apa mama yang meminta mu pergi dari rumah ini dan kembali ke rumah orang tua mu?" menatap tajam.
"Tidak. Jangan menyalahkan mama." jawab Ara sambil geleng-geleng kepala."Memang sudah sepantasnya aku tidak tinggal di rumah ini. Aku__!" kata katanya terpotong oleh ucapan Rafa.
"Tempat mu di sini, di rumah ini. Aku tidak akan mengizinkanmu kembali ke rumah orang tua mu. Kau tidak akan kemana mana. Aku menginginkanmu tinggal di rumah ini selamanya. Aku juga sudah berjanji pada Raka akan menjaga mu. Kau tanggung jawabku. Selamanya akan menjadi tanggung jawabku. Jangan meminta hal itu lagi!"
Ara semakin tersedu, menunduk, menyembunyikan air matanya. Rafa kembali memeluknya."Menangis lah jika ingin menangis. Menangis lah sepuas mu, jangan di pendam. Aku bisa merasakan kesakitan yang kamu rasakan." ucapnya pelan.
Ara kembali isak dengan air mata semakin membanjir. Dia menangis lepas menumpahkan segala kesedihan dan kepahitan yang menyakitkan hati.
Rafa terenyuh, iba. Kedua matanya ikut basah mendengar tangisan ini. Dia semakin kuat memeluk tubuh mungil ini. Hatinya marah dan kecewa. Dia mendengus geram.
"Mama, Levina__ kalian sudah kelewat batas." ucapnya dalam hati. Dia tidak habis pikir kenapa mamanya sangat tidak menyukai Ara.
Padahal betapa baiknya wanita ini. Kebaikannya benar benar tulus
...Bersambung....
__ADS_1