
Gedung perusahaan RA Group.
Rafa keluar dari ruangan meeting di ikuti Moly dan Wisnu.
"Tuan, para wartawan masih berada di lobby menunggu klarifikasi dari anda!" kata Wisnu di sela sela langkah mereka menuju ruang kerja Rafa.
Rafa membuang nafas berat. Terkait dengan beredarnya video viral dirinya dengan ara di dunia maya. Bahkan video itu sudah di tayangkan di beberapa stasiun televisi dan di muat di beberapa media massa cetak.
Sejak tadi pagi beberapa Wartawan dan Jurnalis menunggu untuk bertemu guna meminta klarifikasi mengenai video mereka yang beredar secara simpang siur.
Mereka mempertanyakan tentang wanita yang bersamanya semalam, yang di sebut oleh pemilik akun tersebut adalah istrinya.
Sementara yang mereka tahu dia belum menikah dan sedang menjalin hubungan dengan model Levina dan artis Tania.
Rafa duduk di kursi kerjanya.
"Kau atasi mereka Moly!"
"Terus apa yang harus ku katakan bos?" Moly kaget di beri tanggung jawab yang menurutnya sulit.
"Apa aku harus jujur kepada mereka kalau kau sudah menikah dan mengungkap jati diri nona Ara sebagai istrimu?" sambung Moly kembali menatapnya lekat. Bingung mau memberi alasan apa ke publik.
"Apa Nona Ara sudah mau mempublikasikan pernikahan kalian ke publik?" rentetan pertanyaan darinya kembali membuat Rafa membuang nafas berat.
Pintu di ketuk.
Ketiganya mengalihkan pandangan ke pintu.
Pintu terbuka dan Masuklah Ara membuat ketiganya terkejut.
Moly dan Wisnu segera berdiri dan menundukkan kepala padanya.
"Sayang," ucap Rafa dengan raut wajah yang masih kaget melihat kedatangan Istrinya tanpa pemberitahuan. Dia segera berdiri dan mendekat pada istrinya. Lalu mengecup kening dan memeluk sesaat.
Ara memperhatikan wajah mereka yang nampak tegang dan serius.
"Ada apa buk Moly? Apa kedatangan ku menggangu?"
"Ah, tidak Nona. Sama sekali tidak." kata Moly sambil mengulas senyum.
"Sayang, kenapa ngomong begitu? Aku malah senang dengan kedatangan mu." Rafa Kembali memeluk hangat.
Rafa menatap wajah Ara penuh cinta.
"Kami sedang membicarakan mengenai video kebersamaan kita semalam yang sudah viral di media dan juga sudah di beritakan di beberapa stasiun TV. Nah, di bawah ada beberapa wartawan dan jurnalis yang datang meminta klarifikasi mengenai kebersamaan kita semalam. Terutama klarifikasi tentang dirimu! Mereka sudah sejak pagi menunggu di Lobby." Rafa menjelaskan pelan pelan.
"Mereka tidak akan pergi sebelum mendapat menjelaskan dari tuan Rafa!" Moly menambahkan."Kami bingung harus menjawab apa!"
"Sayang, kebetulan kau berada di sini, berikan solusi untuk menjawab dari masalah ini!" sambung Rafa.
Ara termenung sesaat. Dia juga berpikir tidak mungkin lagi menyembunyikan status Rafa yang sudah menikah. Karena beberapa pedagang penjaja kaki lima tau kalau Rafa sudah menikah dengannya dan sebagai suaminya. Dan sudah pasti mereka juga sudah melihat video viral mereka itu.
Ara menatapi mereka satu persatu.
"Katakan saja kalau kakak memang sudah menikah, tidak ada gunanya juga di tutupi. Karena sebagian dari para penjual jajanan kuliner itu mengetahui pernikahan kita bukan? Tapi jangan katakan tentang diriku! Tolong cari alasannya ya jika mereka bertanya tentang diriku!" katanya kemudian.
Rafa sedikit kecewa karena Ara tetap menyembunyikan identitas dirinya sebagai istrinya. Padahal Rafa sangat menginginkan publik tahu tentang Ara sebagai istrinya.
"Baiklah sayang!" ujar Rafa mengikuti kemauan Ara.
"Wisnu, segera beritahu mereka, sebentar lagi aku akan turun!" titahnya pada Wisnu.
"Baik tuan!"
"Kak, bolehkah buk Moly dan sekretaris Wisnu yang menangani mereka? Soalnya aku ada perlu sama, bolehkah?!" pinta Ara menimpali dengan senyuman penuh arti.
Moly dan Wisnu mengerti.
"Baik Nona." mereka langsung pamit dan keluar.
Rafa menatap istrinya dengan aneh.
"Ada apa sayang?" tanyanya dengan dahi mengerut.
Ara tersenyum. Dia mengajak Rafa duduk, lalu dia sendiri segera duduk di pangkuan suaminya.
Rafa Semakin bingung.
"Sayang____,"
Belum kelar ucapannya, Ara langsung mengecup bibirnya. Mencurahi banyak Kecupan dan Ciuman di wajah Rafa.
Kening mata hidung pipi bibir dagu di kecup kecup berulangkali dan berhenti setelah ia merasa puas. Rafa masih terdiam belum membalas."Jadi ini maksud Kedatangannya mengunjungi ku?" batinnya.
"Ummm____wangi !" ucap Ara menyesap aroma tubuh suaminya dengan mata terpejam. Dia mengenduskan hidungnya di leher dan dada Rafa. Sembari tangannya meraba-raba bagian itu. Tentu saja sentuhan itu membangkitkan gairah Rafa. Sesuatu di bawah sana sudah aktif.
"Akhh, sayang ___!" de*ahan merdu keluar dari mulut Rafa tak jemari Ara menyentuh dua lembut bulat kecil di dadanya. Entah sejak kapan ke dua tangan mungil tapi nakal itu sudah masuk ke dalam jas dan kemejanya.
Ara menghentikan cumbuannya tiba tiba karena keinginannya sudah tersalurkan. Sementara gairah Rafa sementara sudah berada di ubun-ubun. Ara mengunci kembali kancing kemeja dan jas suaminya.
Ara segera turun dari pangkuan suaminya.
"Silahkan lanjutkan kembali pekerjaan kakak. Maaf ya mengganggu! Aku mau balik lagi ke kampus." katanya tersenyum senang.
Rafa melihat ada kepuasan dan kebahagiaan terpancar di wajah istrinya.
Tapi Rafa tidak terima di tinggalkan sedang dalam masa tegang tegangan begini.
"Sayang __!" segera beranjak dari duduknya.
Ara segera melangkah menuju pintu. Tapi belum sempat tubuhnya keluar, Rafa menarik tubuhnya masuk dan menekan di pintu.
Ara menatapnya dengan wajah mengernyit.
"Enak saja mau pergi setelah membangunkan milikku!" kata Rafa menatap liar wajahnya.
"Kau harus tanggung jawab." kata Rafa dengan tatapan berkabut. Dia membawa tangan Ara menyentuh miliknya yang mengeras. Lalu tanpa pikir panjang dia langsung m*****t bibir dan rahang istrinya. Menciumi wajah dan setiap inci tubuh istrinya dengan dalam dan rakus. Tak memberi kesempatan Ara bicara melakukan penolakan.
Hingga akhirnya mereka melakukannya
__ADS_1
di ruang kerja. Tak puas melakukan di ruang kerja, Rafa membopong tubuh istrinya dan melanjutkan kembali percintaan mereka di kamar pribadi hingga berulang kali dan berhenti sampai dia merasa sangat puas. Dia terus menggauli istrinya meski istrinya itu sudah tertidur karena kelelahan.
Tiga jam berlalu. Rafa keluar dari kamar mandi dengan tubuh kembali segar dan sudah memakai jas yang baru. Dia mendekati tempat tidur dan duduk di pinggir ranjang sambil menatap wajah istrinya yang tertidur pulas.
Rafa tersenyum manis seraya mengelus lembut pipi istrinya.
"Ada apa denganmu sayang?" gumamnya pelan. Heran dan bingung dengan sikap Ara.
Sudah beberapa hari ini terjadi perubahan
yang drastis pada istrinya.
Sikapnya yang tidak menentu dan membuat Rafa bingung dan bertanya-tanya. Karena tidak biasanya. Ara suka sekali menciuminya, memeluknya, duduk di pangkuannya mencumbuinya dengan sangat manja. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang dulu sangat pemalu dan penakut padanya.
Semalam saja saat dirinya tertidur nyenyak, dia terbangun dari tidurnya karena merasakan ciuman dan sentuhan yang di lakukan Ara secara pelan-pelan dan lembut agar tidak membangunkan dirinya. Rafa membiarkan apa yang dilakukannya dan pura pura tidur.
Tadi pagi pun sebelum ke kantor, Ara Kembali menciuminya saat memakaikan dasi. Dan saat dia sudah duduk didalam mobil hendak berangkat ke kantor, Ara masih menciumnya dengan terburu buru.
Meski merasa aneh dan bingung, tapi Rafa senang dan bahagia. Dia berharap Ara melakukan hal itu karena sudah membuka hati dan mencintainya.
Perlahan Rafa mendekatkan wajahnya. Mengecup kening dan bibir istrinya lembut.
memperbaiki selimut, menutupi tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang. Lalu segera keluar dan menutup pintu. Di ruang kerja sudah menunggu Moly dan Wisnu.
"Apa kalian sudah mengurusi mereka?" Rafa menatapi mereka berdua
"Sudah tuan, mereka sudah pergi sejak tadi." jawab Wisnu sopan.
"Baiklah, mari kita pergi Wisnu! Dan kau Moly jaga istriku dengan baik. Saat ini dia sedang tidur!"
"Siap bos!"
Rafa dan Wisnu segera melangkah keluar.
Rafa akan memenuhi undangan dari pemimpin negara ini. Presiden XY mengundang 20 suksesor group konglomerasi raksasa negri ini, termasuk dirinya. Presiden mengundang 20 pebisnis terkaya negeri ini yang akan menjadi motor penggerak ekonomi setidaknya dalam lima tahun ke depan.
.
.
Keesokan harinya.
Di sebuah gerai cafe yang berada di Mall AZFA dua orang wanita muda sedang duduk berhadapan sambil menikmati minuman.
"Thanks ya Ra!" ucap Ines senang mendapatkan handbody dari Ara. Dia mencium aroma wangi dari produk mewah itu berulang kali.
Ara baru saja selesai meluncurkan produk baru Azahra yang ke 4 yaitu handbody, yang di namai Azahra hand and body lotion.
Setelah sebelumnya Meluncurkan Produk Parfum, makeup, perhiasan emas dan berlian miliknya. Dengan model brand Ambassador adalah dirinya sendiri di dampingi Moly dan Nesa, juga para teamnya.
Mereka bertemu ingin membicarakan mengenai Cindy.
"Apa kamu yakin Ra wanita itu adalah Cindy?"
"Aku sangat yakin Nes, itu Cindy. Aku melihatnya masuk kedalam taksi. Hanya saja saat itu aku sedang bersama dengan kak Rafa!" keluh Ara lemah.
"Kamu jahat banget deh Ra, rahasiain pernikahan lo sama kakak ipar lo. Padahal kita udah janji akan saling terbuka dalam hal apapun! Aku jadi canggung temanan sama lo! Lo sekarang adalah istri seorang presdir, istri seorang CEO, istri seorang miliarder, sala satu pengusaha konglomerat tajir melintir di negeri ini."
Ara memukul tangannya pelan.
"Iihhh, ngomong apa sih kau Nes. Baisa aja deh! Tahu nggak, ini lah sala satu alasan kenapa aku gak mau mempublikasikan diri sebagai istri kak Rafa! Kamu gak usah canggung begitu. Aku tetaplah Ara, sahabat kau dan Cindy." katanya tersenyum.
Ines tersenyum, kagum.
"Oke deh Nyonya Rafa Ravendro Artawijaya."
Ara jadi tertawa mendengar perkataannya.
"Terus, gimana dong cara kita ketemu Cindy! Aku yakin banget itu Cindy, nggak salah deh! Aku melihatnya dengan jelas masuk ke dalam taksi!" ucap Ara. Kembali mengalihkan topik pembicaraan mengenai Cindy.
"Itu artinya dia ada di sekitar kita! Tapi kenapa dia menjauh dari kita, menghindari kita. Apa dia sengaja ya tidak ingin berteman dengan kita lagi?" ucapnya sedih.
"Boleh nggak ya aku telepon kak Dion? siapa tahu saja dia sudah dapat informasi tentang Cindy! Tapi aku takut menghubunginya Ra. Aku jadi takut dan canggung padanya setelah tau kalau ternyata dia bukan orang sembarangan!" Ines meminta pendapatnya.
"Lo udah tanyakan pada Sonya nggak?"
"Sudah Nes, Sonya juga belum dapat kabar tentang Cindy!"
"Iiihh... Cindy ... Cindy kamu ke mana sih ! Awas saja kalau ketemu!" kata Ines kesal sambil menumbuk numbuk agak keras meja tempat duduk mereka dengan kesal.
Tanpa sadar pergerakan kakinya yang melebar ke samping membuat seseorang wanita hampir terjatuh karena tersandung pada kakinya. Untung saja salah seorang temannya secepatnya menahan tubuhnya.
Wanita itu kesal dan marah marah
"Brengsek, sialan!" umpatan caci maki terdengar dari mulutnya.
Ara dan Ines terkejut, keduanya segera berdiri.
"Ma_maaf, aku tidak sengaja!" kata Ines segera menyadari kecerobohannya.
Wanita itu mendengus geram dan menatap tajam padanya.
"Maaf katamu?" melototi Ines.
"Kalau aku sampai jatuh dan terluka bagaimana? Apa kau mau tanggung jawab? hah?" katanya agak keras sehingga mengundang perhatian beberapa pengunjung.
"Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Ines merasa bersalah.
"Kalau duduk yang benar dong, dasar ganjen, centil!" umpat wanita itu lagi, yang tak lain adalah Sophia.
Baik Ara dan Ines terkejut mendengarnya umpatannya.
Ara mendekat."Ya Allah mbak, teman saya kan tidak sengaja. Dia juga sudah meminta maaf, kenapa mbak masih harus mengatainya buruk begitu?!" katanya pelan.
Sophia menatapnya tajam dengan wajah memerah menahan amarah. Melihat penampilan Ara yang cupu membuatnya memandang Ara rendah.
"Diam kau cupu, jangan ikut campur! Kalian berdua dasar orang orang kampung! Bikin orang lain susah aja!"
"Kau___I" Ines ingin membalas tapi Ara cepat menahan tangannya. Dia menggeleng kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
Dari jauh terlihat 4 pasang mata memperhatikan mereka.
"Ayo Nes, sebaiknya kita pergi!" bisik Ara.
Sophia tersenyum menyeringai.
Dia mengedipkan sebelah matanya pada ke dua teman wanitanya. Kedua wanita itu segera melangkah berpencar agak jauh ke belakang.
Ara dan Ines segera mengambil barang barang mereka di meja, lalu melangkah dengan buru buru untuk menghindari perdebatan dan juga masalah.
Tapi tanpa mereka sadari Sophia dan kedua temannya merencanakan membalas.
Kedua teman Sophia menyenggol balik kaki ines dan Ara membuat mereka terjatuh.
Terdengar suara bunyi jatuh dan pekikan yang mengundang perhatian beberapa pengunjung. Seketika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.
Sophia dan sebagian pengunjung tertawa.
Ada yang hanya menatap dan menonton.
Kedua teman Sophia dengan cepat kembali bergabung dengan sophia di tempat Ara dan Ines duduk tadi, mereka tertawa dari sana.
Ara dan Ines meraba-raba bagian tubuh
mereka yang sakit sambil meringis karena nyeri di bokong. Tiba tiba dua tangan menjulur ke arah mereka untuk membantu berdiri.
Keduanya segera mengangkat wajah ke depan melihat siapa pemilik tangan kekar tersebut.
"Kak Dion?" ucap mereka hampir bersamaan
setelah melihat wajah orangnya. Keduanya kaget. Selanjutnya mengulurkan tangan pada Dion. Dion segera menarik tangan mereka membantu berdiri.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Dion memperhatikan tubuh mereka dari bawah hingga atas. Ara dan Ines masih terkejut dan diam membisu menatap dirinya.
"Kalian baik baik saja?"
Pertanyaan Dion yang kedua membuat mereka sadar.
"Aku baik baik saja!" jawab Ines segera.
Ara menatap wajahnya dengan masih kaget.
"Aku juga baik. Terimakasih kak___" ucapnya segera.
Dion melihat ke arah lain menghindari tatapan teduh Ara. Lalu segera melangkah menuju Sophia. Dia kesini untuk menemui Sophia makan siang dan menemani belanja keperluan pernikahan mereka. Sebenarnya dia tidak ingin, tapi papa dan mamanya memaksa.
"Kak___!"
Langkah Dion terhenti mendengar panggilan Ara. Ara mendekat sedikit, menatapi punggung Dion yang membelakangi mereka.
"Apa Kakak tahu di mana Cindy berada? Aku dan Ines sudah lama mencarinya. Kami sangat khawatir padanya!" tanyanya pelan dengan suara rendah.
Dion kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaannya. Karena dilihatnya Sophia mendekat ke arahnya. Secepatnya dia melangkah ke arah Sophia.
Ara dan ines saling berpandangan.
"Sepertinya kak Dion juga gak tahu tentang Cindy Ra!" kata Ines.
"Tapi Ra, sikap ka Dion ke kita berubah ya?
Dia bahkan tidak menjawab satu kata pertanyaan mu dan langsung pergi."
Ara tersenyum.
"Mungkin kak Dion lagi terburu buru karena
ada urusan! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Berpikir positif saja! Yuk kita pergi dari sini!"
Keduanya segera berbalik dan melangkah.
Langkah Ara melambat melihat sosok yang tidak jauh di depannya, sedang menatap padanya. Sosok wanita cantik dan anggun itu melambatkan langkahnya. Dan berhenti ketika semakin dekat di depan Ara dan Ines.
Ara menatap sejenak sosok wanita anggun dan cantik di depannya. Sedangkan Ines menatap bingung pada mereka berdua, karena dia tidak mengenal Dinda, mamanya Dion.
Ara mengurai senyuman.
"Tante Dinda." katanya sopan sambil menundukkan kepalanya sesaat sebagai penghargaan dan menghormati Dinda.
"Siapa Ra?" bisik Ines.
"Mamanya kak Dion." Ara balik berbisik.
"Oh___mamanya kak Dion." seru Ines terkejut.
Dia segera menyapa dengan sopan.
Dinda menatap dan membalas senyuman mereka."Kita ketemu lagi Nyonya Rafa Ravendro Artawijaya." katanya perlahan menatap Ara.
Ara terhenyak,.menatap tak berkedip pada Dinda karena Dinda menyebut nama suaminya secara formal dan bukan menyebut namanya. Beberapa detik kemudian Ara mengurai senyuman."Senang bertemu kembali dengan Tante." katanya sopan dan lembut.
Dinda tersenyum, lalu melangkah pergi. Ara membungkuk sedikit ketika wanita itu melewati mereka.
"Ra, mamanya kak Dion kenapa nyebut lo begitu? Apa istri istri para konglomerat selalu menyapa formal seperti itu bila ketemu?" ujar Ines menatap aneh pada Dinda.
Ara tersenyum dan segera menarik tangan sahabatnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Keduanya menuju tangga eskalator.
"Tak ada yang berubah. Dia tetaplah sosok yang santun dan rendah diri!" batin Dinda di sela langkahnya dengan sikap Ara yang sopan dan menghormatinya. Dia berhenti dan berbalik menatap pada Ara dan Ines yang sudah semakin menjauh.
Sebenarnya Dinda dan Dion melihat kejadian yang terjadi di antara mereka tadi.
Melihat perlakuan dan kata kata kasar Sopiah dan kedua temannya pada mereka berdua.
Keduanya sungguh tidak menyangka dengan tempramen Sophia yang buruk.
Dion tidak tahan melihat perlakuan Sophia pada keduanya, apalagi setelah melihat mereka berdua jatuh dan menjadi bahan tertawaan orang. Dia segera melangkah cepat meninggalkan mamanya untuk menolong mereka berdua.
Meski sebenarnya dia sudah bertekad untuk menjauhi dan melupakan Ara. Tapi hatinya tidak mampu berpaling melihat gadis itu menghadapi kesulitan dan di sakiti.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya