Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 259


__ADS_3

Pertama kali Rafa bertemu dengan Wisnu secara tidak sengaja.


Saat itu mereka masih duduk di bangku SMA kelas tiga.


Saat masih sekolah, Wisnu mempunyai seorang wanita yang sangat dia cintai,


bernama Ayirin.


Ayirin juga juga mencintai Wisnu.


Rasa suka di antara mereka tumbuh dari cinta monyet saat masih SD. Berlanjut ke SMP hingga masuk remaja SMA.


Keduanya berasal dari keluarga ekonomi bawah yang sangat sederhana.


Untuk menyambung biaya hidup dan sekolahnya, Wisnu bekerja keras setiap pulang sekolah.


Dia tidak ingin membebankan biaya hidup dan sekolahnya pada ibunya yang banting tulang membiayai sekolah adik perempuannya dan juga biaya pengobatan ayahnya yang menderita penyakit **** ****.


Ibunya yang bekerja menyewakan jasanya sebagai buruh cuci dan tukang masak, juga sebagai penjahit keliling dari rumah ke rumah.


Jika mendapatkan uang lebih dari hasil kerjanya, Wisnu menyimpannya sedikit dan sebagian diberikan pada ibunya untuk biaya makan sehari hari dan untuk membeli obat ayahnya. Wisnu bekerja keras untuk bisa sekolah dan menjadi orang sukses agar kelak bisa menaikan derajat orang tuanya.


Wisnu dan Ayirin merupakan siswa yang cerdas. Sehingga mereka bisa masuk sekolah bergensi dengan beasiswa prestasi dari pihak yayasan pendidikan.


Ayirin, yang merupakan gadis manis, baik, santun dan cerdas memiliki cita cita ingin menjadi seorang dokter yang nantinya bisa berguna untuk membantu mengobati masyarakat yang kurang mampu.


Airin sudah menyampaikan keinginannya pada orangtuanya, tapi apa daya tangan tak sampai ayahnya hanya seorang tukang ojek dan juga masih membiayai kebutuhan sekolah dua adiknya. Orang tuanya hanya bisa memberi doa semoga cita citanya terkabul.


Akhirnya Airin mengemukakan cita citanya itu pada Wisnu. Dan Wisnu sebagai laki laki yang mencintainya tentu ikut mendukung tujuan baiknya.


Wisnu semakin giat bekerja tak perduli dengan waktu dan statusnya sebagai seorang pelajar.


Niatnya ingin mengumpulkan uang sebanyak banyak demi mewujudkan cita-cita Airin.


Apa pun akan di kerjakan selama itu halal dan bisa menghasilkan pundi pundi rupiah.


Dia bekerja keras setelah pulang sekolah, berlanjut malam bahkan sampai pulang subuh.


Sebagai siswa yang berasal dari ekonomi bawah, serta hanya mengandalkan beasiswa pendidikan, mereka selalu di bully Oleh siswa siswa yang statusnya kelas atas.


Mereka kerap kali mendapatkan perundungan. Di rendahkan, di permalukan dan di sakiti.


Bahkan hanya sebuah candaan saja bisa membuat mereka mendapatkan kekerasan. Bukan hanya mereka yang selalu di bully dan mendapat perundungan, tetapi ada juga sebagian Siswa yang merasakan kekerasan fisik, verbal maupun psikologis sampai merasa tertekan, trauma dan tak berdaya.


Rafa... yang sudah sejak kelas satu SMA sudah tertarik dan belajar tentang bisnis yang di promosikan lewat internet, website, marketplace, pasar produk dan lebih penting dipromosikan ke sesama pebisnis.


Tidak hanya meluaskan ke sesama media, dia juga memasarkan produk usaha bisnis nya melalui pasar media untuk menarik minat para konsumen setelah terlebih dahulu mempelajari strategi strategi pemasaran.


Rafa tidak merasa minder dan malu dalam melakukan promosi produk usahanya.


Dia berdiri sendiri tanpa meminta bantuan ayahnya atau menumpang pamor dari nama besar ayahnya yang merupakan seorang pengusaha bisnis terkenal.


Dua kali jatuh dan gagal tidak membuatnya patah semangat. Dia kembali bangkit dan terus mencoba, dengan terus mempelajari strategi promosi dan pemasaran dunia bisnis.


Hingga akhirnya usaha bisnisnya mulai beroleh hasil. Usaha bisnis sudah merambah ke pasar produk. Dan dia juga telah memiliki beberapa klien bisnis.


Saat itu Rafa baru pulang dari perjalanan bertemu dengan dua orang klien bisnisnya di arena tinju. Kebiasaan mereka sembari membicarakan bisnis dan juga mempromosikan produk usaha masing masing. Mereka menyelingi dengan adu kekuatan otot di ring tinju...Tinju yang bukan hanya mengandalkan tangan...tapi semakin lama menggunakan tangan dan kaki untuk menyerang dan bertahan.


Kadang juga mereka melakukan gulat, bertarung dengan menguji ilmu karate dan taekwondo.


Dan siapa yang menang, maka dialah yang terkuat dan menjadi sang penguasa.


Adzan subuh berkumandang, membuat Rafa singgah sejenak di sebuah mesjid.


Meskipun hidup di dunia yang keras dan kejam serta mengikuti alurnya... Rafa tetap tidak lupa akan kewajibannya pada sang khalik.


Karena sejak kecil ayahnya menanamkan nilai-nilai agama kepada dia, Nesa dan Raka.


Nasehat ayahnya..di mana pun kau berada, apa pun yang kau kerjakan jangan sampai kau meninggalkan shalatmu.


Setinggi apapun ilmu pengetahuan mu tentang dunia, tidak akan melebihi Kemuliaan dari ilmu agamamu yang kelak akan menyelamatkan mu di akhirat nanti.


Selesai mengerjakan shalat dua rakaat itu, Rafa segera keluar menuju mobilnya.


Mesjid sudah sunyi.


Saat masuk, duduk dan hendak mengunci pintu mobil..pintu mobilnya tiba tiba di buka paksa.


Lalu masuklah seorang laki laki dengan keadaan yang berantakan, nafasnya memburu cepat, keringat banyak membasahi wajah dan tubuhnya.


"Tolong aku..," ucap laki laki itu yang tak lain adalah Wisnu, sambil sesekali menengok ke belakang dengan nafas tersengal sengal.


Darah Segar mengalir di hidung dan bibirnya yang pecah.


Rafa terkejut dengan keberadaan dirinya di dalam mobilnya, dan juga melihat keadaan Wajahnya yang babak belur hampir semua di penuhi darah.


50 detik berlalu, segerombolan preman tampak muncul berlarian cepat dari arah belakang mobilnya.


"Cari bajingan itu cepat." teriak sala seorang dari para gerombolan preman bertato dan berwajah seram itu.


Tangan mereka memegang senjata tajam dan benda keras tumpul.


Wisnu yang melihat kemunculan mereka yang semakin dekat... tidak tenang, cemas dan takut. Dia cepat melorotkan tubuhnya ke bawah menyembunyikan di jok kursi.


Dia menatap pada Rafa yang juga sedang menatap tajam ke padanya.


"Tolong aku, ku mohon." pintanya sekali lagi pada Rafa.


Gerombolan preman semakin dekat.

__ADS_1


Rafa memperhatikan mereka dengan teliti, menghitung jumlah mereka.


Semuanya berjumlah 13 orang.


"Mereka berjumlah 13 orang...Kau mampu berapa?" tanya Rafa melihat sekilas kepadanya lalu melihat kembali ke arah belakang mobilnya.


Dahi Wisnu mengernyit mendengar ucapannya.


"Apa kau ingin berlari dan bersembunyi terus ?" tanya Rafa kembali.


"Keluarlah.. hadapi mereka.. jangan jadi seorang pengecut."


Rafa mengambil sesuatu dari laci mobilnya,


di pasang pada wajahnya...kumis dan jenggot palsu.


Lalu dia memakai rambut palsu dan topi untuk menutupi wajahnya.


Setelah itu dia keluar dari mobil.


Dia mengambil sesuatu dari bagasi mobilnya, dua buah besi berukuran setengah meter.


Pandangannya di alihkan ke para preman yang celingukan ke sana kemari mecari cari...dan semakin dekat pada mobilnya.


Rafa mengetuk mobilnya dengan besi..


"Keluarlah.. hadapi mereka, aku tidak ingin mobil ku hancur. Aku belum lama membelinya." katanya agak keras.


Wisnu yang bingung dan masih di landa rasa takut segera mengikuti ucapanya.


Dia segera keluar dan menutup pintu kembali.


Rafa melemparkan satu besi kepadanya dengan gerakan cepat, yang langsung di tangkap dengan gerakan cepat pula oleh Wisnu meski hampir saja terlepas.


Rafa tersenyum tipis.


"Bajingan itu di sana...," teriak seorang preman begitu melihat Wisnu.


"Tangkap dan habisi dia...ambil barang yang ada di tubuhnya."


Seperti di komando para preman itu berlari cepat ke arah mereka sambil mengacungkan barang tajam di tangan mereka.


"Sambut mereka.." kata Rafa menoleh pada Wisnu.


Wisnu seperti terhipnotis oleh kata kata Rafa.


Wajahnya memerah dengan rahang mengeras.


Tangan kanannya semakin kuat memegang besi, dan tangan kirinya terkepal kuat. Semangat dan kekuatan tubuhnya kembali.


Lalu dengan gerakan cepat dia berlari menyambut kedatangan musuh musuhnya.


Perkelahian terjadi, saling baku hantam.


2 lawan 13.


Perkelahian yang tidak seimbang.


Beberapa saat berlalu, ayam mulai berkokok, bertanda pagi telah datang.


Perlahan lahan langit mulai terang, alam pun ikut terang, matahari mulai muncul dari ufuk timur menebar cahayanya yang hangat ke penghuni alam jagad raya.


*****


Sekolah SMA.


Rafa memasuki koridor sekolah menuju ruang kelasnya dengan langkah santai. Semua siswa yang di lalui nya menatap takjub dan terpukau pada wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi atletis dan proporsional.


Dia yang mempunyai sikap dingin, hanya cuek dengan tatapan tatapan nakal itu.


Ini hari ketiga dia sekolah di tempat ini, karena dia merupakan siswa baru pindahan.


Rafa meletakkan tasnya dan segera duduk.


Dia kembali menjadi pusat perhatian dan tatapan siswa di ruang itu.


Rafa acuh dan hanya fokus pada benda pintarnya yang terisi oleh usaha bisnisnya.


Hanya satu orang siswi yang tidak tertarik dengan pesonanya.. Ayirin.


Yang duduk tepat di depannya.


Airin yang terlihat gelisah dan tidak tenang di tempat duduknya sesekali menengok ke pintu sedang menunggu Wisnu yang sudah dua hari tidak masuk sekolah.


Beberapa menit lagi guru akan masuk, pelajaran akan di mulai Wisnu belum juga muncul.


Satu menit berlalu, masuklah Wisnu dengan langkah terburu buru.


Ayirin langsung tersenyum senang dan lega.


Langkah Wisnu berhenti melihat Rafa yang sedang menunduk menatap pada ponselnya.


Dia kaget melihat lelaki yang telah menolongnya ini adalah siswa di sini dan malah satu kelas dengannya.


Merasa di perhatikan seseorang, Rafa mengangkat wajahnya.


Rafa juga kaget melihatnya, tapi tidak di tampakan, hanya dahinya yang mengernyit melihat lelaki ini yang ternyata seorang siswa yang satu sekolah bahkan sekelas dengannya.


Rafa kembali menunduk, fokus pada ponselnya.

__ADS_1


Sedangkan Wisnu segera mengambil tempat duduknya di dekat Ayirin.


Begitu dia mendudukan pantatnya, dia langsung di serang berbagai pertanyaan oleh Airin.


"Kamu kenapa dua hari ini nggak sekolah Wis? kamu nggak memberi kabar padaku, aku sangat khawatir. Dan ini..muka kamu kenapa bengkak dan memar begini?" tanya Ayirin sedih mengamati wajahnya dengan teliti.


"Apa kamu berkelahi lagi? apa kamu di pukuli lagi? apa ada yang nyakitin kamu lagi?" suara Ayirin mulai serak, matanya berkaca-kaca melihat lebam lebam dan bengkak membiru di wajah Wisnu.


"Nggak Ay..aku apa apa..aku baik baik saja. Kamu nggak usah sedih gitu." Wisnu menenangkan dirinya. Dia memegang ke dua tangan gadis itu.


"Terus selama dua hari kemarin kamu nggak masuk sekolah kemana aja? ponselmu susah di hubungi, kamu juga nggak ngabarin aku. Kamu tahu aku sangat cemas padamu. Aku bolak balik ke rumah mu, mengecek dirimu tapi kata adikmu kau belum pulang." Ayirin mulai menangis, air matanya sudah jatuh, tapi segera di hapus.


"Ay..jangan nangis, yang penting kan aku sudah di sini...kamu lihat kan aku nggak apa apa..aku baik baik saja dan ada di depanmu. Udah..nggak usah ngomong lagi, nggak usah sedih, nggak enak di di lihat dan di dengar teman teman." bisik Wisnu seraya menoleh pada semua teman teman nya yang berada di tempat duduk mereka.


Ada yang acuh, ada juga yang menatap pada mereka, ada juga yang tidak senang sambil mencibir.


Dia juga melihat sekilas pada Rafa di belakangnya yang terlihat acuh masih dengan menunduk pada benda pintarnya.


Tapi Rafa mendengar obrolan mereka.


"Wis..aku tidak ingin menjadi dokter lagi, aku pikir itu hal yang sangat mustahil bagi orang miskin seperti kita." bisik Ayirin.


"Aku tidak ingin membuat dirimu susah dan mengalami hal buruk. Setelah kita lulus nanti...aku tidak akan kuliah...aku akan mencari pekerjaan...."


"Tidak Ay..kau harus kuliah dan menjadi seorang dokter. Aku akan bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita mu...kamu jangan khawatirkan diriku..aku akan baik baik saja." Wisnu cepat memotong ucapannya.


Dia menyapu lembut air mata kekasihnya ini.


"Aku sudah menabung sedikit demi sedikit untuk mu..aku hanya berharap tuhan memberiku fisik yang sehat agar bisa terus bekerja untuk mendapatkan uang banyak buat biaya kuliah mu nanti...kamu harus tetap semangat dan fokus pada impian mu...aku ingin kau menjadi wanita yang sukses, agar tidak ada lagi yang menghina dan merendahkan dirimu....menghina kita... dan orang tua kita." kata Wisnu kembali meyakinkan dirinya.


"Tapi Wis, impian aku hanya menjauhkan kita, membuatmu tidak fokus lagi sekolah, membuatmu sibuk bekerja, menyusahkan mu, membuatmu terluka seperti ini....aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu....dan kehilangan dirimu. Kita sudah 7 tahun bersama. Segala kepahitan hidup kita lalui bersama, aku....!" ucapannya terpotong.


Sebuah buku tebal yang di pukul kan keras di meja membuat ucapan Ayirin putus. Bukan hanya dia dan Wisnu yang kaget tapi juga seisi ruangan mendengar bunyi keras dari benda tersebut.


"Hey dongo.. kalau ingin pacaran keluar sana. Ini tempat untuk belajar bukan untuk mesra mesraan." teriak keras seorang siswa sambil menatap tajam dan sinis pada mereka berdua.


Semua siswa mengalihkan pandangan pada siswa tersebut yang berdiri di dampingi oleh ketiga temannya dan satu perempuan.


"Nggak usah di ladenin..," bisik Ayirin menyentuh tangan Wisnu.


Wisnu segera diam mendengar ucapannya.


"Wisnu Adi Nugroho, silahkan datang ke ruang kepala sekolah." terdengar suara dari alat sound sistem yang menggema di seluruh penjuru gedung megah ini.


"Sekali lagi panggilan di tujukan pada Wisnu Adi Nugroho..."


Wisnu dan Ayirin kaget.


"Wis... nama lo di panggil tuh.." kata siswa lain pada Wisnu.


"Wis, itu nama kamu di panggil..?" kata Ayirin.


"Ada apa Wis? kenapa kamu di undang ke ruang kepala sekolah?" Ayirin tidak tenang.


Wisnu juga gelisah dan cemas.


"Aku nggak tahu Ay..." dia segera bangkit berdiri. Sekilas dia menoleh pada Rafa yang tetap pada posisinya.


"Aku temani kamu ya..," Ayirin ikut bangkit.


"Nggak usah..kamu di sini saja. Aku akan cepat kembali."


"Tapi aku gak tenang Wis, perasaan ku gak enak."


"Udah.. nggak apa-apa. Percaya sama aku. Aku gak melakukan hal buruk kok." Wisnu menyapu lengannya pelan. Lalu segera melangkah pergi keluar dari ruang kelas.


Ayirin Semakin tidak tenang dan gelisah di tempat duduknya. Sementara di depan guru sedang mengajar. Dan Wisnu juga belum kembali setelah hampir sejam berlalu.


Dia sudah mencoba menelpon dan mengirim pesan tapi belum ada balasan


"Ya tuhan.. apa yang terjadi pada Wisnu? tolong jaga dan lindungi dia." ucapnya pelan.


Dia khawatir mengingat Wisnu tidak masuk sekolah sudah dua hari.


Apakah itu yang membuat dia di undang oleh kepala sekolah? batinnya.


"Ayirin.. keluar kau dari pelajaran ibu. Pergi dan berdirilah di luar." kata ibu gurunya. Akhirnya kata itu keluar dari mulut ibu gurunya Setelah tiga kali menegurnya yang tidak fokus belajar dengan pikirannya kemana mana.


Ayirin kaget.


"Selama pelajaran ibu, kau tetap di luar jangan coba masuk dan menguping." kata gurunya kembali.


"Keluar lo..ganggu orang belajar aja. Cepat susul kekasihmu itu." cibir beberapa siswa yang tadi kasar padanya.


Ayirin hanya menelan ludah pahitnya.


Dia segera bangkit berdiri, tapi kemudian dia menoleh pada Rafa di belakangnya.


"Hay.. bolehkah aku minta tolong? jika temanku Wisnu datang, suruh dia menelpon aku ya? biar aku tahu dia sudah berada di kelas. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif sejak tadi. Aku akan pergi mencarinya... tolong ya?" bisiknya pelan dengan wajah memelas.


Rafa hanya menatapnya sesaat, lalu kembali fokus ke depan.


Ayirin segera melangkah keluar kelas.


Ada untungnya juga dia di suruh keluar agar bisa menyusul dan mencari Wisnu ke ruang kepala sekolah.


Setengah berlari dia menuju ruang kepala sekolah, hatinya sungguh tidak tenang.


******

__ADS_1


Happy Reading πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2