
...Happy Reading....
Sophia memeriksakan tangan dan kakinya pada dokter pribadi keluarga dan juga tukang urut profesional.
Saat di parkiran butik Azahra tadi, dua orang lelaki berwajah sangar datang tiba-tiba dan mencegatnya. Kedua pria memakai serba hitam memaksanya masuk ke dalam mobilnya dan memelintir kedua tangan dan kakinya dengan kuat hingga terdengar tulang yang bergeser dan patah. Dia menjerit jerit kesakitan tetapi mulutnya di bekap kuat sehingga tidak ada seorang pun yang mendengar jeritan kesakitan dan lolongannya. Sophia tidak berdaya melawan dua kekuatan manusia bertubuh tegap berotot, dia terbaring lemah tak berdaya.
Entah siapa kedua manusia hitam itu. Tapi salah seorang di antara mereka berkata dengan garang seakan ingin menelan dirinya hidup hidup.
"Beraninya kau menyakiti Nona Muda kami yang sangat berharga," katanya kasar dengan tatapan menakutkan.
"Siapa mereka? Siapa yang mereka sebut Nona Muda? Apa si cupu jelek buruk rupa itu?" batinnya."Mana mungkin si cupu itu seorang Nona Muda? Dia hanya seorang pelayan butik Bu Nesa, mana mungkin seorang nona muda bekerja sebagai pelayan. Terus kalau bukan dia siapa lagi? Karena hanya dia yang ku sakiti tadi."
"Kalau memang dia orangnya, lalu siapa dia sebenarnya? Apa dia yang menyuruh kedua preman Itu membalas menyerang ku ? atau Dion yang menyuruh?" tanyanya pada diri sendiri. Dia mengingat perkataan Sonya yang mengatakan kalau si cupu itu adalah wanita yang sangat di cintai Dion.
"Akhhhh....!" Sophia berteriak geram karena tidak mendapatkan jawaban. Dia akan mencari tahu siapa Ara sebenarnya, si Nona Muda yang sangat berharga itu.
.
.
Seperti perkataan Rafa di telpon tadi, dia datang menjemput istrinya di butik setelah selesai shalat isya. Rafa memasuki butik secara diam-diam, melihat istrinya yang berdiri membelakanginya.
Sebelumnya dia memberikan isyarat pada orang orang disitu, Ines Sonya dan Cindy yang asik bercengkrama di sofa untuk diam tidak memberitahukan kedatangannya.
Mereka sangat terkejut melihat kedatangan Rafa dan berdecak kagum melihat langsung ketampanan suami teman mereka ini dari jarak dekat. Staf langsung menunduk melihat kedatangannya.
Saat ini Ara sedang menempel dan menjahit beberapa hiasan Payet Mutiara pada gaun pengantin bersama Nesa. Nesa kaget melihat kedatangan adiknya dengan langkah mengendap seperti maling mau mencuri.
Rafa segera meletakkan jari telunjuk di bibir sebelum kakaknya itu keceplosan bicara.
Setelah dekat Rafa langsung memeluk perut istrinya.
"Sayangku," ucapnya lembut, selanjutnya memberikan beberapa kecupan di pipi kanan, leher dan bahu Ara.
Ara terkejut, reflek memutar tubuhnya.
"Kak?" mata membulat.
Rafa langsung mengecup bibirnya cepat.
Ara kembali terkejut dengan wajah memerah.
"Malu dong kak, di lihat orang, lepas ah!" menarik wajahnya.
"Mana? Aku nggak lihat siapa siapa di sini, hanya kita berdua." Rafa pura pura melirik ke sana kemari melihat lihat isi ruangan, lalu kembali mengecup bibir istrinya.
"Ish__." ujar Ara kesal dan cemberut.
Ines, Cindy, Sonya serta staf karyawan senyum senyum melihat romantisnya Rafa yang menjahili Ara. Mereka pura pura sibuk bercanda.
Rafa semakin mempererat pelukannya. Lalu mengangkat tubuh Ara ala koala dan memberi banyak ciuman di wajah, tidak perduli dengan orang orang di situ.
"Turunin aku, malu ah ___." Ara semakin kesal dan memukul mukul bahu Rafa. Nesa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang begitu Bucin dan kecanduan pada Ara. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya mengabaikan kedua adiknya itu.
"Sayang, aku merindukanmu." kata Rafa manja.
"Kita kan baru bertemu beberapa jam lalu. Lepas dong kak, ada teman teman ku di sini, aku malu." Ara semakin kesal menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Kan sudah ku bilang gak ada siapa siapa di sini sayang, hanya kita berdua saja." kata Rafa dan kembali mencium bibir Ara.
Lalu dia memeriksa tangan istrinya sesaat.
"Apa tanganmu baik baik saja? Apa ada rasa sakit yang kamu rasakan?" memeriksa kedua tangan istrinya, lalu di kecup kecup lembut.
Dahi Ara mengerut.
"Kenapa kakak menanyakan tanganku? Apa dia tahu kejadian yang menimpaku tadi?" batinnya.
Ara menoleh pada ketiga temannya.
Ketiganya memberi isyarat dengan gelengan kepala. Mereka juga malah kaget mendengar Rafa menanyakan tentang tangan Ara. Itu artinya suami sahabat mereka ini tahu kejadian buruk yang menimpa Ara yang dilakukan Sophia.
Rafa membawa istrinya ke ruang pribadi Ara. Ara mulai tidak tenang."Ngapain kita kesini?"
"Aku merindukanmu sayang. Kamu juga rindu kan sama aku? Tadi katanya di telepon begitu," meraup bibir Ara seraya membuka pintu ruangan dengan satu tangannya. Masuk lalu mengunci. Dia membawa tubuh Ara ke ruang kamar tidur yang ada di ruangan itu.
Ara menarik wajahnya karena kesulitan bernafas. Dia terkejut melihat sudah berada di ruang kamar, karena dari tadi matanya terpejam menikmati ciuman suaminya.
Ara jadi tidak tenang.
"Ngapain kita masuk ke sini?"
"Tentu mau melepaskan rindu kita sayang." Rafa tersenyum genit.
"Jangan, di luar ada teman teman ku, masa kita tinggalkan mereka di sana." menahan tangan Rafa yang sudah masuk ke dalam blusnya.
Rafa tak mengindahkan perkataan istrinya,
bibir dan lidahnya menjalar di leher dan telinga Ara.
"Akhh!" Ara melenguh merasakan sensasi nikmat, apalagi ada remasan lembut di kedua buahnya.
Rafa duduk di pinggir ranjang dan memangku Ara di hadapkan padanya. Lalu memasukkan wajahnya kedalam blouse Ara yang longgar dan melahap kedua buah kencang dan segar itu.
Lenguhan kembali keluar dari mulut Ara. Matanya terpejam dan kedua tangan menjambak lembut rambut Rafa. Dia menikmati, tapi tetap merasa tidak tenang mengingat ke tiga temannya yang berada di luar.
"Kak, sudah dong. Aku lapar, teman teman ku juga belum makan, kami janjian mau makan di luar setelah kakak datang," keluh Ara. Dia menjerit-jerit kecil karena merasakan gigitan gigitan kecil di atas pucuknya.
Rafa menarik wajahnya keluar setelah puas menikmati kedua buah segar itu.
"Sayang, buah mu makin kencang dan besar, Aku sangat suka." menyentuh bibir Ara lembut menatap sayu.
"Kencang dan lembek kakak tetap gak pernah puas. Udah deh buahnya, aku lapar." rengek Ara cemberut.
Rafa terkekeh.
"Baik sayang, mari kita makan. Wisnu udah beli makanan dari luar. Teman temanmu pasti sementara menikmatinya,"
Ara terkejut."Benarkah? Syukurlah!" ucap Ara senang. Dia jadi rindu pada suaminya ini meski ada di depannya. Keinginan anehnya muncul lagi."Tutup mata kakak sekarang." katanya.
"Untuk apa?" dahi Rafa mengerut.
"Udah tutup aja, diam ya jangan bergerak, tangannya juga diam jangan nakal."
Rafa terkekeh....
Makin bingung dengan tingkah istrinya yang semakin aneh tapi membuatnya gemas, dia segera memejamkan mata.
Ara memperbaiki posisi duduknya di pangkuan suaminya, lalu menatap setiap bagian wajah suaminya dengan hangat. Pertama tama dia mengecup kening Rafa lembut terus kedua mata, hidung, pipi, dagu dan bibir, mengecup bibir berulang kali. Sungguh dia sangat rindu dengan bagian bagian wajah suaminya ini. Rafa menggeliat, tangannya yang memeluk pinggang Ara mulai bergerak nakal kebawah di antara kedua paha Ara.
Ara segera menahannya.
"Tangannya diam dong, jangan nakal, kan udah di bilangin tadi," ucapnya kembali dengan cemberut.
"Sayang, aku gak tahan kalau kamu sentuh begini." Rafa ngeles cemberut.
"Jangan menggangguku. Aku ingin menikmati dengan tenang, boleh nggak? diam ya?" memelas.
Rafa mengalah dan menarik tangannya.
"Baiklah sayang, lakukan sesukamu, tapi ingat aku tidak akan tahan dan jangan salahkan aku nantinya."
"Ihh mesum terus isi kepalanya," menarik kuat hidung suaminya.
Rafa kembali terkekeh, mengecup dagu Ara sekilas, lalu memejamkan mata dan memeluk pinggang ramping Ara.
Ara kembali memegang wajah suaminya dan menciumi bibir suaminya lembut dengan sesukanya. Berlanjut pada tengkuk telinga dan leher suaminya, hingga mengeluarkan lenguhan lembut dari mulut Rafa karena merasakan sensasi nikmat.
Ara membaringkan tubuh Rafa, lalu dia duduk di atas perut suaminya. Dia melihat milik suaminya yang menegang dari balik celana kantornya, wajah yang kemerahan dengan otot otot menegang menahan hasrat dan birahi. Ara tersenyum.
Tangannya membuka kancing kemeja Rafa sampai perut di selingi kecupan kecupan dan ciuman lembut dari leher dada hingga ke perut.
Erangan berulang keluar dari mulut Rafa.
"Sayang, aku gak kuat lagi." merasakan sentuhan bibir dan tangan Ara ditubuhnya.
"Sayang, aku benar benar tidak tahan!"
Ara mengangkat wajahnya dan menatap wajah suaminya yang tegang tersiksa. Ara tersenyum.
"Diam, tahanlah, sedikit lagi selesai, kakak udah janji tadi akan diam," kembali melanjutkan kecupan dan ciuman bagian perut dan pusar. Lama dia menikmati bagian itu, setelah puas dia berhenti dan turun dari tubuh Rafa.
"Udah kak, aku udah selesai dan puas. Mari kita keluar, aku lapar banget," mengelus perutnya.
Rafa membuka matanya.
"Kenapa hanya sampai di perut sayang? lanjutin dong sampai ke bawah! Adik kakak butuh sentuhan juga nih," membawa tangan istrinya menyentuh ke milik.
Ara bergidik dan menarik tangannya.
"Aku hanya butuh bibir sampai perut! Lainnya gak mau. Udah ah, aku mau keluar! Aku gak enak terlalu lama meninggalkan teman teman ku," Ara turun dari ranjang dengan cuek tak peduli dengan penderitaan Rafa.
Tapi Rafa cepat menarik tubuhnya berbaring lalu di tindihnya.
Ara kaget."Kak, teman teman ku menungguku,"
"Hanya satu macam sayang. Siapa suruh kamu menggodaku." ucap Rafa dengan wajah yang tidak bisa di tebak karena tersiksa. Tanpa banyak bicara, dia menyerang Ara.
Ara yang hanya memakai blouse dan rok pendek selutut, membuat Rafa cepat menguasai tubuh istrinya tanpa repot.
"Kak.....,"
"Maaf Sayang, sungguh aku tidak akan mampu menahannya." Segera membungkam mulut Istrinya yang menggerutu kesal. Dia mulai menikmati tubuh Ara dari atas hingga ke kaki, depan dan belakang. Tubuh mungil itu dibolak-balik.
Selama sejam lebih Rafa bermain, di lakukan berulang kali. Hingga Ara tertidur makin lemas dengan kedua ujung matanya yang basah.
"Sayang maafkan aku." mengecup mata Ara yang terpejam. Matanya menelusuri setiap bagian tubuh indah istrinya yang polos tanpa sehelai benang.
"Semua keindahan ini hanya milikku!" gumamnya.
"Kamu pasti sangat lapar sekarang, maaf ya sayang," menyentuh dan mengecup perut Istrinya, meraba raba lembut.
Dahinya mengerut melihat perut Ara yang terlihat berubah di matanya. Tidak rata, sedikit menonjol seperti orang yang kenyang.
"Katanya sangat lapar, tapi kenapa perut kamu mengembang begini?"
Tatapan Rafa beralih pada kedua buah Ara. Dia juga merasa aneh dengan kedua buah itu, makin kencang dan besar, sudah seperti berukuran 40D. Perlahan di rangkum dalam genggamannya. Sudah tidak muat lagi dalam genggamannya. Begitu juga dengan pinggul dan bokong Ara makin besar dan padat. Tubuh ini makin indah dan seksi, hingga membuatnya semakin kecanduan dan ingin terus menikmati.
"Apa mungkin karena dia makannya banyak sampai BB nya naik?" batinnya menatapi tubuh Ara, mengingat Istrinya banyak makan dengan porsi yang banyak.
"Akhhhh...." Rafa mendengus kesal area selatannya tegang lagi. Karena tak tahan, dia kembali menindih tubuh Ara yang tertidur dan melakukannya lagi.
"Maafkan aku sayang!" hanya tiga kata itu yang bisa di ucapkan untuk dapat meredam kekesalan Ara. Dan hanya dengan mendengar ketiga kata itu hati istrinya akan luluh dan selalu memaafkan perbuatannya.
Dia semakin jatuh cinta dengan sifat lembut Ara yang tidak marah dan dendam. Seperti apa yang di lakukan Sophia tadi, Ara tidak memberi tahukan kepadanya dan malah di tutupi. Rafa mengetahuinya atas laporan anak buah Wisnu yang di tugaskan menjaga Istrinya dari jarak jauh.
Sungguh dia sangat marah setelah mendapat laporan itu. Tak tanggung-tanggung dia memerintahkan untuk mematahkan tangan dan kaki Sophia. Sampai membuat wanita itu tidak akan bisa berjalan dan melakukan aktivitas selama beberapa hari jika kedua kaki dan tangannya tidak mendapatkan perawatan medis dan pijatan yang baik.
.
__ADS_1
.
Setelah makan malam, Wisnu menyuruh sopir Kantor untuk mengantar Ines Cindy dan Sonya pulang. Wisnu memberitahukan pada ke-tiga gadis itu kalau Nona mudanya sudah tertidur. Ketiga gadis itu mengerti dan faham.
Setelah mengantar Sonya.
"Pak, aku akan turun di jalan X saja," kata Cindy pada sopir.
"Baik Non."
"Kamu turun di apartemen kak Dion?" tanya Ines.
"Iya Nes, aku akan nginap di sana. Aku udah janji untuk membuat sarapan pagi buat kak Dion. Gimana kalau kamu ikut aku saja. Kita nginap di apartemen kak Dion malam ini, dari pada kamu tidur sendiri di kost. Lagi pula besok pagi kita nggak punya kegiatan apa apa di kampus." ajak Cindy kembali.
Ines tampak berpikir.
"Apa Kak Dion nggak marah?"
"Kenapa harus marah! Justru kak Dion senang kita nginap di apartemennya."
"Tapi gimana nanti kalau si nenek sihir itu tahu kita menginap di rumah kak Dion? Pasti dia akan membunuh kita. Ara saja di pelintirin tadi sama dia," Ines kembali kesal mengingat kelakuan buruk Sophia pada Ara.
"Dia gak akan tahu kalau kita diam! Udah, kamu nggak usah cemaskan hal itu." ujar Cindy Kembali memegang tangan Ines karena merasa pusing.
Ines menatapnya lekat.
"Cin, kamu baik baik saja? Kamu tambah kurus Cin!"
"Aku baik Nes, emang kamu lihat aku gimana?"
"Kamu gak menyembunyikan apa apa kan?" Ines balik bertanya.
"Memangnya apa yang harus ku sembunyikan?" Cindy balik nanya meski saat ini hatinya tidak tenang.
"Aku hanya merasakan dan melihat hal yang aneh pada dirimu."
Cindy tersenyum kecil.
"Terimakasih sudah sangat peduli padaku! Kau dan Ara memang sahabat terbaikku, aku sangat senang dan beruntung di pertemukan dengan orang baik seperti kalian." katanya terharu.
Ines juga menatapnya terharu, keduanya saling berpelukan.
"Jangan menyembunyikan apapun dari kami ya? Kau tahu kan aku dan Ara sangat menyayangimu. Kita sudah seperti saudara. Masalah mu masalah kami, begitu juga sebaliknya, jadi terbukalah pada kami," ucap Ines.
Cindy mengangguk tersenyum haru. Dia semakin erat memeluk Ines."Aku juga menyayangi kalian," ucapnya lirih.
Mobil memasuki kawasan apartemen. Mereka segera turun."Terimakasih pak." kata mereka pada sopir Kantor. Lalu menuju lift membawa mereka ke tempat Dion dengan tangan menenteng kresek berisi makanan dus yang sengaja di bawah Cindy untuk Dion.
"Cin, kak Dion tahu nggak kita ke sini?" tanya Ines.
"Nggak, aku gak kasih tahu. Aku gak mau bangunin dia, mungkin dia sekarang udah tidur!"
"Terus gimana kita masuk?" begitu tiba di pintu apartemen.
"Aku yang buka pintunya," seraya menempelkan sebuah kartu pemindai.
Pintu terbuka, Cindy segera menarik tangannya kedalam.
"Kamu punya kartu akses masuknya Cin?"
"Iya, aku kan udah biasa di sini. Sekretaris kak Dion juga tahu, pak Toni, hanya kami bertiga yang tahu." Cindy menjelaskan.
Ines mangut mengerti.
Suasana sedikit gelap tapi keadaan ruangan bisa di lihat, Ines memperhatikan sekelilingnya.
"Apartemen kak Dion mewah amat. Gede lagi."
katanya takjub.
Cindy hanya tersenyum.
"Di lantai atas kamar kak Dion, dan tuh yang di bawah tangga adalah kamarku. Yang di sebelah sana kamar untuk tamu. Nanti kita tidur di kamar ku saja." menjelaskan kamar di apartemen ini.
"Aku mau langsung tidur saja Cin, aku ngantuk," kata Ines menguap.
"Ya sudah, jamu ke kamar saja! Aku mau mengecek kak Dion dulu, siapa tau dia belum tidur dan mau memakan makanan ini,"
Ines mengangguk dan segera melangkah ke kamar Cindy.
Cindy melangkah menaiki tangga menuju kamar kakaknya. Perlahan dia membuka kamar Dion yang tidak terkunci, masuk dengan pelan. Keadaan kamar yang agak gelap, dilihatnya Dion sedang berbaring di tempat tidur. Cindy mendekat ke tempat tidur. Dia memperhatikan wajah Dion yang tampak keringatan dan gelisah, bergerak gerak kekanan dan ke kiri menyebut nama seseorang.
"Apa kakak sedang bermimpi?" gumamnya. Dia naik ke tempat tidur, mendekat dan menyentuh lengan Dion.
"Kak, bangun...!" menekan lengan Dion.
"Ara...!" ucap Dion dalam tidurnya. Dia terlihat semakin gelisah.
Wajah Cindy mengernyit."Ara? Kak Dion lagi mimpi Ara?"
"Kak, bangun, bangun kak," menekan Kembali lengan Dion. Dion tiba tiba menarik tangannya kuat, hingga tubuhnya terjerembab menempa tubuh Dion.
Dion memeluk tubuhnya erat.
"Ara...!" Dion langsung mengecup bibirnya Mengira itu adalah Ara.
Cindy terkejut."Kak, ini Cindy bukan Ara! Sadar kak!" kata Cindy sedih. Ternyata kakaknya masih memikirkan Ara hingga terbawa sampai ke dalam mimpinya.
"Bangun kak...!" menepuk wajah Dion berulang.
Perlahan Dion membuka matanya, kesadaran mulai jernih. Dia mengumpulkan nyawanya sembari memperhatikan orang dalam pelukannya.
Cindy mengangguk.
"Iya, aku Cindy bukan Ara." Cindy berusaha melepaskan pelukan tangan Dion.
Dion menatapnya dalam dalam.
"Cindy? Apa yang telah ku lakukan?" melihat Cindy di atas tubuhnya.
Cindy mendengus kesal.
"Apa yang aku lakukan? Kakak tuh cium bibir aku tau nggak? Apaan sih nyium nyium sembarang?" merenggut kesal.
"Kakak lagi mimpi in Ara, nyebut namanya berulangkali sambil ngecup ngecup bibir aku. Kakak mengira aku adalah dia," ucap Cindy kembali dengan kesal.
Dion membuang nafas kasar.
"Lepaskan tangan kakak, aku sesak nih!"
Dion menyadari keadaan mereka. Buru buru melonggarkan pelukannya.
Cindy segera bangun.
"Menyebalkan, kakak ngambil ciuman pertama ku tau nggak?" sambil menyentuh bibirnya dengan wajah cemberut.
Dion kaget, dahinya mengerut mendengar ucapannya."Ciuman pertama?"
"Maaf Cin," ucap Dion merasa bersalah. Dia segera bangun.
"Maaf, maaf! Seharusnya ciuman pertamaku ini untuk suamiku nanti sebagai hadiah kado saat malam pertama kami," menggerutu semakin kesal. Tapi kemudian dia menyadari perkataannya. Dia segera memalingkan wajahnya ke sebelah.
Dion tersenyum seraya mengacak rambut adiknya ini. Adiknya ini sangat menggemaskan saat sedang marah.
"Maaf Cin, kakak benar benar nggak sadar. Kamu kan adikku, itu hanya ciuman kakak pada adiknya, jadi bibirmu tuh masih suci,"
Cindy menatap tajam dan mendengus kesal.
Dion tertawa kecil, gerakan cepat mengecup pipi kiri adiknya ini. Cindy melotot dan menghapus bekas bibir Dion di pipi.
"Biasanya juga kan aku selalu cium pipi kamu Cind."
Cindy mendengus kesal.
"Kakak masih memikirkan Ara? Hingga sampai terbawa ke mimpi gitu? Sampai kapan sih kak? Kakak harus ikhlasin dia, Ara tuh udah sangat bahagia sama suaminya." kata Cindy memperhatikan dirinya.
Dion tak menjawab, dia duduk dan menyandar pada dasboard ranjang.
"Udah makan belum? Aku bawain makanan buat kakak!" tanya Cindy. Tak ingin membahas tentang Ara, karena hanya akan membuat Dion terluka.
"Aku gak berselera Cin," jawab Dion lemas.
Cindy mendesah pelan.
"Kak, berusaha lah untuk melupakan Ara. Dia udah sangat bahagia dengan suaminya. Tuan Ravendro sangat mencintainya. Aku melihatnya di depan mataku, dan sepertinya Ara juga mencintai suaminya! Mereka berdua saling mencintai dan sangat bahagia,"
"Kakak udah ikhlasin, mungkin karena kakak bertemu dengannya tadi hingga kepikiran sama dia," Dion menyapu peluh di wajahnya.
"Jangan sampai hanya karena kepikiran sama Ara membuat kakak tidak makan. Kakak harus jaga kesehatan, bentar lagi mau nikah."
"Bukan karena Ara, karena memang malas makan. Kecuali makan masakan kamu."
"Ya sudah, kalau gitu aku masakin. Kakak tunggu bentar." Dia tahu Dion malas makan dan hanya mau masakannya karena bawaan kehamilannya.
"Ini udah tengah malam. Nanti besok pagi saja! Kamu pasti capek, aku gak mau kamu kenapa kenapa lagi." Dion menahan tangan Cindy saat hendak berdiri.
"Gak apa-apa, dari pada kakak tidur dengan perut kosong," Cindy hendak turun, tapi lagi lagi di tahan Dion.
"Nanti aja Cind, kakak lagi malas makan saat ini. Kamu di sini saja, temani kakak."
"Temani kakak tidur?"
"Iya, entah kenapa kakak suka dekat dekat sama kamu."
"Mungkin karena kita tidak akan bisa dekat dan sama sama seperti ini lagi. Kan sebentar lagi kakak mau nikah sama Sophia." jawab Cindy. Ternyata apa yang di rasakan Dion sama seperti dirinya, ingin dekat dengan Dion, dan merasa nyaman dan tenang.
"Jangan membahas pernikahan. Aku pusing." Dion membuang nafas kasar. Dia menarik tangan Cindy untuk berbaring di sampingnya. Dia menurunkan tubuhnya dan berbaring. Kepala Cindy di letakkan di atas lengannya. Keduanya tidak canggung tidur bersama karena memang sudah terbiasa seperti ini, tidur satu ranjang. Tidak ada perasaan apapun selain kakak dan adik.
Cindy yang ngidam tubuh Dion tentu saja senang dan merasa tenang, nyaman tidur dalam dekapan ayah dari anak anak dalam kandungannya. Rasa mual dan tidak mengenakan yang selalu menyiksanya, menghilang. Dia berulang kali menghirup aroma wangi tubuh Dion, sembari tangannya mengelus dada Dion. Hal sama yang di rasakan Dion, nyaman berada di dekat Cindy.
"Oh ya kak, aku kesini sama Ines, dia sedang tidur di kamarku!"
Dahi Dion mengerut."Ines?"
Cindy mengangguk."Aku meminta dia menginap di sini dari pada pulang ke kostnya sudah larut begini!"
"Gak apa apa dia nginap dia sini," kata Dion seraya mengelus lengan Cindy. Hidungnya sesekali mencium puncak kepala Cindy.
"Kalian kesini naik apa?" tanyanya.
"Di antar sama sopir kantor suami Ara!"
Dion teringat sesuatu, dia segera bangun setengah badan dengan tangan memompa kepalanya. Kepala Cindy jadi bergeser ke bawah ketiaknya.
Dion terus menatap wajah Cindy."Apa pipimu masih sakit?" melihat ke pipi Cindy. Dia meraba lembut pipi halus tapi terlihat lebam kebiruan.
Cindy menggeleng.
"Tadi aku udah minum obat antibiotik, di kasih kak Nesa."
__ADS_1
"Sophia nggak macam macam lagi kan sama kamu?"
"Nggak, dia pulang selang beberapa menit setelah kakak kembali tadi."
Dion masih memperhatikan pipi itu, dan tiba tiba saja dia mendaratkan satu kecupan lembut di lebam biru itu.
Cindy terkejut. Jantungnya jadi berdegup kencang.
"Maaf, semua salahku hingga kamu mendapatkan kekerasan itu." ucap Dion menyentuh bagian lebam itu.
Cindy jadi melow dengan perhatian ini. Hatinya terasa bahagia.
"Iya semua karena kakak. Kakak keras kepala susah di atur. Akhirnya aku yang kena dampaknya." Cindy kesal.
Dion tersenyum."Salahmu, karena memaksa. Aku gak mau terus di paksa."
"Kok malah nyalahin aku?" Cindy kesal, dia mendongak ke atas untuk melihat wajah Dion. Tidak sengaja bibirnya malah menyentuh bibir Dion, karena Dion juga sedang menunduk melihat kepadanya. Keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing. Kedua netra itu tak berkedip saling menatap. Jantung mereka berdegup kencang.
"Tuh kan, kakak cium aku lagi!" kata Cindy ketus memutus kontak mata mereka. Tidak tahan bertatapan lama, hatinya semakin tidak karuan.
"Kok malah nyalahin kakak? Kan kamu yang nyelonong duluan?" imbuh Dion.
"Seharusnya kakak menghindar dong!" suara Cindy meninggi.
"Mana sempat, kamu mendongak tiba tiba begitu." Dion tidak mau kalah. Keduanya malah jadi bertengkar dan saling menyalahkan.
"Kakak tuh ya, enak banget ngambil ciuman pertama aku." sungut Cindy mencubit dada Dion.
"Heh, aku kan tidak sengaja. Aku lagi mimpi buruk tadi."
"Mimpi buruk apaan nyium nyium begitu,,, itu mah mimpi indah." Cindy menatap judes.
Dion jadi senyum senyum melihat kekesalannya. Dia semakin gemas."Ya sudah, kalau kamu terus nyalahin kakak dan tidak menerima kalau kamu yang salah, maka kakak akan benarkan perkataan kamu. Kakak akan melakukannya dengan sengaja." katanya licik, Selanjutnya dia langsung mencurahkan banyak kecupan di pipi, kening, hidung, mata dan bibir Cindy. Paling di banyakin kecupan di bibir Cindy tak perduli Cindy yang berontak sambil mengomel. Akhirnya Cindy pasrah menerima segala bentuk ciuman itu, karena dia mulai mual melakukan banyak pergerakan perlawanan. Beberapa saat kemudian Dion menghentikan ciumannya, Dia membawa Cindy ke dalam pelukannya. Keduanya kembali berbaring berpelukan."Kakak menyayangimu." bisik Dion di susul kecupan lembut di kening.
"Aku juga sayang sama kakak." balas Cindy.
Keduanya berpelukan beberapa saat, hingga akhirnya Cindy menarik diri dan bangun sambil memperbaiki blusnya yang tersingkap ke atas.
"Mau kemana? tidur saja di sini." kata Dion, matanya melihat dada Cindy yang besar. Aneh menurutnya, semakin besar tidak sama seperti dulu.
"Aku mau memasak untuk kakak." Cindy turun dari ranjang.
"Tidak perlu." tolak Dion.
"Aku dengar perut kakak berbunyi. Kakak tunggu saja di sini, gak lama kok."
Dion ikut turun.
"Kakak temani kamu. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu."
Keduanya segera keluar dan turun ke bawah sambil berpegangan tangan. Dion yang melihat lagi lebam di pipi Cindy teringat Sophia.
"Wanita itu benar benar kasar dan arogan!" kata Dion, menyentuh pipi Cindy.
Mereka tiba di dapur.
Cindy membuka kulkas."Salah kakak sendiri keras kepala. Dia wajar berpikir buruk dan marah melihat keadaan kita tadi! Kakak sih.... menyebalkan sekali. Nggak mau dengar dan nurut perkataan ku!" katanya kesal.
Dion terkekeh. Dia mendekati Cindy yang berada di depan kulkas.
"Kakak kan udah bilang gak mau tapi kamu maksa terus!" Dia menatap wajah Cindy sambil senyum senyum."Sophia juga keterlaluan menilai dan menuduh kita. Memangnya dalam pikirannya kita mau melakukan apa dengan posisi begitu?" tanyanya dengan dahi mengerut menatap lekat Cindy.
"Tahu ah pikir aja sendiri!" kata Cindy dengan wajah masam. Dia segera berbalik, menghindari tatapan mata Dion yang penuh tanya dan seolah menggodanya.
"Yang jelas, aku yang menanggung kemarahannya." katanya ketus.
Dion terkekeh mendengarnya. Dia mendekat dan memeluk Cindy dari belakang."Maafkan kakak Cin, sudah membuat pipi dan hatimu sakit." Dia mengecup bahu dan pipi Cindy. Entah kenapa rasa ingin dekat dengan wanita ini sangat kuat. Dia kembali mencium bahu Cindy, menyerap aroma wangi tubuh adiknya ini.
"Sudah ah! Jangan menggangguku! Aku mau masak! Kakak mau makan apa?" kata Cindy seraya membuka kulkas. Mulai merasa aneh dengan ciuman itu. Tubuhnya merinding dan geli.
"Mie kuah sama sosis aja Cin," kata Dion melihat mie. Tanpa melepas pelukannya di perut Cindy.
"Berapa bungkus?"
"Satu saja! Tapi kalau kamu mau, masaklah lebih!"
"Aku masih kenyang. Kakak saja yang makan!" Cindy meraih sebungkus mie, telur, sosis.
"Kak, lepas dong, aku sulit bergerak!" kata Cindy risih kesulitan bergerak karena pelukan Dion tidak mau lepas, padahal hati dan tubuhnya nyaman dengan pelukan itu.
"Nggak, kakak mau peluk kamu terus. Kakak suka!" kata Dion. Dia segera mengangkat tubuh Cindy dan membawanya ke dapur..
"Apa yang kakak lakukan?" Cindy kaget. Untung saja bahan makanan yang di pegang tidak lepas. Dion mendudukkan di kitchen set.
"Kamu duduk saja! Biar kakak yang masak! Kakak gak mau kamu kenapa napa lagi." kata Dion. Dia mendaratkan satu kecupan di kening Cindy, lalu mengambil mie dan lainnya di tangan Cindy, setelah itu mengambil wajan.
Cindy meraba keningnya. Dia merasa heran dengan tingkah kakaknya ini. Tapi hatinya senang di perlakukan manja begini. Dia senyum senyum melihat pergerakan Dion yang tampak lincah memasak. Sekali kali Dion melihat kepadanya sambil tersenyum. Cindy jadi tidak tenang, jantungnya berdegup kencang. Melihat wajah tampan kakak sepupu sekaligus ayah anak anaknya.
Cup.....satu kecupan mendarat di bibirnya membuyarkan lamunannya. Cindy kaget. Lalu melihat Dion yang senyum senyum. Dia gak nyangka Dion akan mencium bibirnya lagi.
"Lagi mikirin apa?" tanya Dion sambil mengaduk mie di baskom.
Cindy jadi salah tingkah. Dia senyum senyum sendiri tanpa menjawab. Yang jelas saat ini hatinya berbunga-bunga dan jantung berdegup semakin kencang.
.
.
Ara mengucek matanya di tempat tidur. Lalu memperhatikan sekelilingnya.
"Kamar rumah pribadi?" gumamnya, dia kembali mengingat kejadian tadi, yang di lakukan suaminya di kamar butik.
Ara meraih ponselnya dan melihat jam, sudah jam satu dini hari.
"Kakak di mana?" melihat sampingnya kosong.
Ara segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk bersih bersih, dia mengguyur tubuhnya. Setelah mandi dia shalat malam sebentar, lalu keluar karena perutnya sangat lapar.
Di meja makan sudah tersedia makanan kesukaannya, siomay sambal kacang dan kuah.
Ara tersenyum senang.
"Nona muda sudah bangun?" sapa Narsih yang muncul dari dapur.
"Iya buk, aku sangat lapar, terimakasih ya sudah menyiapkan ini semua," segera duduk dan mulai menyantap makanan.
"Tuan Rafa yang menyiapkan ini semua untuk nona."
"Kakak yang masakin?" Ara kaget.
"Iya Nona."
"Terus kakak di mana?"
"Tuan lagi diruang gym,"
"Oh iya, kalau gitu saya ke sana, tolong ibu bawain makananku ke sana ya?"
"Baik nona."
Ara segera menuju ruang gym sambil membawa sepiring siomay kacang dan di makannya sementara berjalan.
Di dapatnya Rafa sementara melakukan push up, Ara tersenyum.
Pelan pelan dia naik dan duduk di atas punggung suaminya.
Rafa terkejut.
"Sayang? Udah bangun?" merasakan beban di atas punggungnya, Aroma wangi tubuh istrinya tercium oleh hidungnya.
"Kuat nggak nampung aku?"
"Kuat sayang, tubuhmu ringan banget, di hitung ya sayang." kata Rafa terus menurunkan dan menaikkan tubuhnya, keringat semakin banyak membasahi tubuhnya.
Ara asyik makan di atas punggungnya dengan kaki bersila sambil menghitung turun naiknya tubuh suaminya. Dia tidak menyangka begitu kuat dan tangguhnya suaminya ini.
"Makasih ya kak udah masakin makanan kesukaan aku, ini enak banget!" ucapnya.
"Makasihnya nanti aja di kamar," ucap Rafa sambil tersenyum.
Wajah Ara langsung berubah.
"Ih, mulai lagi, aku gak mau! Aku mau tidur di kamarnya buk Narsih aja,"
Rafa tertawa kecil.
Narsih datang membawa makanan di bantu dua pelayan, di letakkan di meja sofa.
"Terimakasih! Ibu dan lainnya silahkan istirahat saja," ucap Ara.
Mereka menundukkan kepala sesaat lalu segera keluar dari ruangan itu.
Ara turun dari punggung suaminya, meminum air, dan mengambil seporsi lagi siomay kacang. Lalu kembali duduk di punggung suaminya, sesekali me lap keringat suaminya dengan handuk.
"Kakak belum capek?"
"Bentar lagi sayang, ini udah masuk hitungan ke 800," terus mendorong badannya ke atas dengan kekuatan tangan.
"Aku berdiri ya kak ?"
"Jangan sayang, nanti kau jatuh, duduk saja !"
Rafa memperingatkan.
"Dari pada berdiri mending turunlah, berbaringlah di depan wajahku, aku pengen ngecup bibirmu." katanya kembali.
"Nggak mau ah, nanti macam lagi lagi!" gerutu Ara.
Rafa terkekeh.
Ara segera turun menuju sofa dan duduk menikmati makanannya.
Rafa segera mengakhiri push up nya Setelah hitungan ke 10000. Dia meraih botol minum dan minum sepuasnya, lalu me lap keringatnya yang semakin banyak keluar.
Dahinya mengerut melihat makanan yang hampir habis. Dia memasak makanan cukup banyak untuk porsi lima orang, dan makanan itu hampir habis hanya di lahap Ara seorang diri.
Rafa segera duduk dan menaruh Istrinya di pangkuannya.
"Enak sayang?"
Dia tidak menyangka Ara sangat suka dengan masakannya.
Ara angguk angguk kepalanya. Rafa memegang wajah Istrinya, lalu mengecup bibirnya lembut, sekaligus melap saus kacang yang belepotan di bibir istrinya dengan lidahnya, hingga akhirnya berakhir dengan ciuman lembut dan lama lama semakin panas.
Tanpa di sadari Ara, tubuhnya sudah di gendong suaminya ke kamar mandi gym. Rafa memaksanya mandi bersama. Dan Rafa kembali melakukannya lagi sampai dia merasa puas, dan Ara hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya.
*****
Tinggalkan jejak ya...
__ADS_1