
Malam tak berbintang, seorang pria terpaku sendiri di balkon kamarnya, berbaring di atas sofa menatap langit yang gelap. Hanya rembulan malam yang tersenyum menatapnya seakan mengasihaninya yang sedang sedih dan terluka.
Rafa mendesah berat, menekan dadanya dengan kedua tangan. Dadanya di rasakan begitu sesak, sakit. Lama dia bertarung melawan tekanan kesedihan di dalam hatinya. Hingga jatuhlah kristal bening di kedua sudut mata, mengalir membasahi pipinya yang di tumbuhi bulu halus.
Tidak lama kemudian dia bangun berdiri menatap langit dengan sendu, kemudian berteriak dengan emosi.
"Aaaaaaaaaa__Aaaaaaaaaa! Kenapa harus kau yang membuat ku merasakan sakit dan kepedihan ini." Siarannya yang keras seakan memecah keheningan malam. Dia mencengkram rambutnya kuat. Tubuhnya melorot kebawah, dia meletakkan wajah di antara kedua kakinya yang di tekuk, terdengar suara tangis yang tertahan.
Wisnu memperhatikan dari jauh. Hatinya ikut sedih. Untuk pertama kali dalam hidup tuannya menangis dan menetes kan banyak air mata karena wanita. Rasa sakit itu sudah empat bulan lalu menggerogoti hati dan jiwa tuannya seperti sebuah penyakit. Tuannya menangis setiap malam merasakan kepedihan dari hatinya yang terluka. Terluka karena cinta yang tidak bisa di miliki. Hingga membuatnya patah hati, merasakan kesakitan, terluka dan depresi.
Dan entah sampai kapan kesakitan dan kesedihan itu akan hilang. Meski dia sudah melakukan berbagai cara untuk mengobati luka itu dan menghilangkan kesedihan Tuannya.
.
.
Rumah Utama Artawijaya.
Minggu hari, saat libur seperti biasa Cio Cia selalu mengajak Ara dan Raka bermain macam macam permainan. Seperti kejar kejaran, lompat-lompatan, petak umpet dan lainnya. Kadang juga bermain di ruang bermain anak yang di buat Rafa untuk si kembar dengan berbagai macam wahana permainan, mirip seperti play ground.
Kali ini mereka main petak umpet di temani beberapa pelayan biar tambah seru dan rame. Mereka bermain di dalam rumah, karena si kembar lebih suka bermain di dalam rumah. Tepatnya di ruang tengah yang ruangannya sangat luas dan pintu sampingnya berkesinambungan dengan pintu ke arah taman dan kolam.
Giliran Ara yang menutup mata pakai kain tebal dan menebak orang. Raka segera menutup dan mengikatkan kain ke belakang kepala Ara, lalu memutar tubuh Ara beberapa x putaran.
"Ayo sayang, cari dan tebak kami." seru Raka setelah menjauh.
Ara mulai merangkak perlahan sambil menjulurkan ke dua tangannya ke depan meraba mencari musuh musuhnya.
Cio dan Cia tertawa melihat tingkah Ara yang lucu seperti orang buta yang mencari jalan. Para pelayan juga nampak senyum senyum.
__ADS_1
"Ante, Cia di sini. Ayo kemari." seru Cia dari dekat.
Ara segera mencari arah suara Cia yang sepertinya tidak jauh dari samping kirinya. Dia semakin mendekat dan ujung jarinya menyentuh wajah anak di depannya. Ara meraba sebentar sekitar wajah sampai pundak saja, tidak boleh lebih ke bawah.
"Cia? Ini cia kan?" seru Ara senang.
"Ini Cio ante, bukan Cia! Cia tuh lagi dekat sama paman Raka! Hahaha..." kata bocah kecil di depannya itu sambil tertawa, yang ternyata adalah Cio. Lalu cio segera berlari mencari tempat.
"Kena tipu lagi deh." Ara cemberut dengan bibir mengerucut.
Raka, Cio, Cia, dan lainnya menertawakan tingkahnya yang lucu.
Ara kembali maju lagi melangkah pelan pelan. Meraba raba tangannya ke depan.
Pikiran nakal muncul di kepala Raka melihat tingkah istrinya yang lucu dan menggemaskan. Dia senyum senyum mendekat dari arah samping.
"Aku di sini sayang." bisiknya tepat di telinga kanan Ara. Lalu segera menarik diri ke arah samping kiri Ara.
Raka tersenyum nakal melihatnya, lalu dengan gerakan cepat mengecup bibir kiri istrinya itu. Kemudian segera mundur dan menjauh.
Ara melongo tersentak.
"Kakak curang deh." katanya kesal.
"Jangan gitu dong kak, malu di lihat orang." sambungnya lagi dengan wajah cemberut.
Raka dan lainnya tertawa dari jauh.
Para pelayan menahan tawa mereka. Cukup tersenyum melihat tingkah Nona muda dan kelakuan nakal tuan mudanya.
__ADS_1
"Ante, Cia akan beri hukuman paman Raka." teriak Cia lalu mencubit lengan Raka.
"Auw...." Raka meringis kesakitan
" Cia, sakit sayang!" Raka pura pura kesakitan.
"Paman nakal sih sama ante!" kata Cia menatap marah.
Mereka kembali tertawa.
"Iya deh, paman salah! Maaf ya sayang!" teriaknya pada Ara.
Ara senyum."Makasih ya Cia." serunya pada Cia.
"Ayo ante mulai cari lagi." seru Cio.
Ara mulai berjalan merangkak lagi mencari menggapai kan tangannya ke depan.
Sam menyaksikan dari jauh dengan tersenyum. Rumah mewah yang dulunya sunyi kini menjadi ramai, keceriaan dan kebahagiaan yang di tebarkan Ara pada si kembar membuat anak anak itu tersenyum tertawa riang setiap hari.
Maya dan Nesa awalnya marah dengan permainan yang di lakukan Ara dan si kembar di dalam rumah, berisik dan membuat rumah berantakan. Tapi si kembar merengek dan menangis membuat mereka berdua mengalah.
Dari Amerika, sebuah wajah tampan senyum senyum sendiri menyaksikan keseruan permainan mereka yang lucu, dan seru.
Keceriaan seperti itu dulu pernah ada menghiasi rumah megah tersebut saat mereka bertiga masih kecil. Dan semuanya lenyap hilang berganti duka setelah kepergian tuan besar Artawijaya untuk selamanya.
Dan kini keceriaan, canda tawa kebahagiaan, kebersamaan hadir lagi di keluarga itu, menghiasi dan memberi warna baru setelah hadirnya gadis bermata teduh di tengah tengah kehidupan mereka. Wanita berhati lembut yang datang membawa cahaya cinta kasih sayang yang tulus dalam rumah ini dan juga penghuninya.
Wajah tampan itu kembali mengurai senyuman sambil terus memperhatikan permainan seru mereka. Dia ikut senang dan bahagia.
__ADS_1
Bersambung.