
Jam 6 tepat Ara sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Cio dan Cia. Dia menunggu si kembar tiba. Ara tidak sabar untuk bertemu dengan kedua bocah itu. Dia sangat rindu.
Tidak berapa lama, mobil si kembar berhenti di depan mereka. Ucil yang sudah kembali bekerja setelah di hubungi Wisnu. Ucil sangat bersyukur sekali.
Bukan hanya Ucil yang di pekerjakan kembali, tetapi juga beberapa pelayan dan penjaga keamanan rumah utama yang sempat di pecat Rafa.
Wisnu segera menjemput si kembar dari dalam mobil, lalu mengantarkan ke dalam mobil tuannya.
Si kembar melonjak senang begitu melihat Ara di dalam.
"Anteee... " keduanya berteriak senang dan menghambur memeluk Ara.
Ara menangis menyambut mereka. Dia memeluk kuat kedua bocah itu yang kini sudah duduk di kelas 1 SD. Tak henti-hentinya dia mencium kedua bocah itu.
Rafa memperhatikan pertemuan mereka penuh keharuan.
Cio dan Cia menangis.
"Ante kok perginya lama? Ante juga nggak nelpon nelpon kami. Kami sangat merindukan Ante." Cia menangis mengadukan kesedihannya.
"Maafkan ante sayang." Ara menciumi pipinya.
"Apa kami nakal hingga ante pergi?" Cio menimpali.
"Tidak sayang, Cio sama Cia anak baik kok." Ara kembali memeluk mereka.
"Terus kenapa Ante pergi? Perginya juga gak pamit pada kita." keluh Cio kembali.
"Ante perginya mendadak karena ada urusan penting." jawab Ara berbohong.
"Ante nggak akan pergi ninggalin kita lagi kan?" Cio memeluknya erat.
"Iya, ante jangan pergi seperti paman Raka." sambung Cia ikut memeluk dan menangis.
"Nggak sayang, Ante nggak akan tinggalin kalian, kita akan sama sama lagi. Ante janji." Ara mengusap kepala mereka lembut. Lalu dia melepas pelukannya dan menatap kedua bocah itu.
"Sekarang Cio sama Cia sekolah dulu ya? Sebentar lagi masuk tuh."
"Cia nggak mau masuk sekolah. Nanti Ante pergi lagi. Cia mau sama ante terus." Cia ngambek.
"Iya, aku juga mau di sini sama Ante." timpal Cio dan kembali memeluk Ara.
"Cia Cio sayang, ante nggak akan pergi. Percaya kan sama ante? Ante janji." kata Ara meyakinkan mereka.
"Benar?"
"Tentu sayang." Ara mencium pipi mereka berdua.
"Lihat nggak siapa yang ada di sebelah Ante? Kalian belum menyapa Daddy lho." Ara menoleh pada Rafa yang di acuh kan si kembar karena terlalu senang bertemu dirinya.
Si kembar segera menghambur pada Rafa.
"Selamat pagi Daddy." sapa keduanya mencium pipi Rafa.
"Pagi sayang, kalian ke sekolah dulu ya, ante Ara juga mau kerja. Nanti malam kalian bisa bertemu Ante lagi dan tidur bersama."
"Benar Daddy?"
Rafa mengangguk tersenyum.
Keduanya melonjak senang.
"Nanti bacain dongeng yang banyak ya ante?"
"Tentu sayang, sekarang ke sekolah dulu ya?Belajar yang baik, jangan lupa makan siang."
"Baik ante, Cia akan makan yang banyak." kata Cia sangat semangat.
Ara tersenyum terharu kecil melihat tingkah lucunya. Dia segera mencium kedua pipi bocah itu sebelum mereka turun.
"Dada Ante__Daddy."
"Dada sayang...." Ara dan Rafa melambaikan tangan. Wisnu mengantar mereka sampai di depan wali kelas yang menunggu.
"Sudah senang sekarang?" tanya Rafa menatap istirnya yang tampak tersenyum bahagia melihat si kembar yang telah menjauh.
Ara menoleh pada Rafa. Dia mengangguk sambil tersenyum. Rafa segera meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Mereka sangat menyayangimu sayang! Jangan buat mereka kecewa dan sedih!" ucap Rafa.
Ara mengangguk pelan.
Selanjutnya Ara ke kantor menggunakan taksi online Mang Saleh. Mang Saleh sudah tidak menggunakan motor ojek online lagi, tapi mobil taksi online. Ara senang melihat perubahan taraf hidup yang lebih baik pada Mang Saleh. Mobil taksi itu pemberian Rafa guna mengantar kemana pun Ara pergi. Karena Rafa tahu Istrinya itu lebih suka naik motor ojek dan taksi. Wisnu melarang Saleh memberitahukan hal itu kepada Ara.
.
.
Hari berlalu dengan cepat. Setiap hari Ara belajar beradaptasi dengan tempatnya magang dan juga para karyawannya. Banyak yang menyukainya karena jiwa sosialnya yang suka membantu. Tapi ada juga yang tidak menyukai nya, karena terlalu dekat dengan Moly dan selalu di perlakukan secara khusus oleh manager HRD itu. Ara memilih untuk tidak menanggapi. Ara juga sangat lega karena sampai detik ini tak ada yang mengetahui status dan hubungan pribadinya dengan Rafa, hanya Wisnu yang tahu.
"Ra, kamu masih ingat sama bu Meri staf sekertaris yang menegur mu waktu kau datang terlambat di hari pertama mu magang dulu?" bisik Sonya bertanya mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Ara.
Ara mencoba mengingat, lalu dia mengangguk"Iya, aku ingat. Ku dengar dia di pindahkan ke kantor cabang 2 kan?"
"Ternyata tidak Ra, dia bukan kena mutasi! Tapi di pecat." bisik Sonya kembali.
Ara terkejut."Di pecat?"
Sonya mengangguk."Aku juga baru dengar kabar itu kemarin, para karyawan kantor membicarakannya secara diam-diam saat pulang kantor." ujar Sonya kembali.
"Kenapa dia di pecat?" tanya Ara penasaran.
"Ku dengar pengaruh mood pimpinan yang gak baik,"
"Kok bisa? Kan bukan bu Meri yang melakukan kesalahan? Terus kenapa dia pecat?" tanya Ara bingung.
"Entahlah Ra__! Sebelum kau datang magang di sini, banyak karyawan yang di pecat hanya karena melakukan kesalahan kecil. Untunglah kau datang setelah suasana hati pimpinan membaik." kata masih Sonya berbisik.
"Sebelum aku Magang di sini?" gumam Ara. Dia merasa ada hal yang aneh.
"Apa karena aku pergi waktu itu hingga membuat kakak ipar marah lalu melampiaskan pada orang lain?" batin Ara.
"Makanya Ra, jangan sampai kita melakukan kesalahan kalau tidak ingin di tendang dari sini." ujar Sonya membuyarkan lamunannya.
"Heh kalian berdua, apa yang kalian bicarakan saat jam kerja begini?" tiba tiba ada suara dari depan, yaitu suara Moly. Pura pura menegur keduanya.
Ara dan Sonya terkejut. Keduanya melihat ke arah suara. Terlihat Moly berdiri bersama Rafa, Frans dan Wisnu yang sedang memperhatikan mereka. Ke empat orang penting di perusahaan ini sejak tadi memperhatikan mereka, tapi tidak di sadari oleh keduanya.
Ara dan Sonya gugup dan kelabakan. Keduanya segera menunduk dan sok sibuk.
__ADS_1
Antara takut dan senang Sonya berbisik pada Ara.
"Presdir Ra, kamu lihat kan? Dia tampan sekali. Wajahnya udah bersih gak brewokan lagi." Sonya senang dapat melihat pimpinannya dari jarak dekat.
Ara meletakkan jarinya di bibir, memberi isyarat untuk diam."Mereka masih memperhatikan kita!" katanya berbisik.
Sonya segera meret's mulutnya. Lalu kembali fokus ke berkas di depannya.
Rafa tersenyum senang melihat istrinya. Dia sangat merindukan wanita itu. Dia kembali melangkah menuju ruang kerja di ikuti Wisnu Moly dan Frans.
"Kakak sudah pulang?" batin Ara setelah kepergian mereka. 5 hari ini Rafa pergi ke luar negeri. Dan selama 5 hari itu dia tidur bersama si kembar yang selalu datang ke apartemen.
Waktu istirahat tiba.
Sonya berdiri mendekati Ara yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hp Ara tiba tiba bergetar, muncul sebuah pesan masuk. Sonya tanpa sengaja melihat pesan yang muncul di layar tampilan.
"Aku sangat merindukanmu sayang." pesan pertama.
"Datanglah ke ruangan ku." pesan kedua menyusul.
Dahi Sonya mengerut, tapi dia berpura-pura seolah tak melihat.
Ara segera mengambil ponselnya, dan segera berdiri menghindar sedikit, lalu membaca pesan yang masuk. Setelah itu dia memasukkan ponselnya ke saku.
"Ra__ke kantin yuk." ajak Sonya.
"Son, aku gak bisa temani kamu kali ini. Aku masih ada urusan sedikit, maaf ya?" katanya menolak halus. Dia merasa tidak enak.
"Ya udah, gak apa-apa. Aku pergi dulu."
Ara mengangguk.
Sonya segera melangkah pergi.
"Aku sangat merindukanmu, pesan dari siapa itu?" batin Sonya teringat pesan yang masuk di ponsel Ara yang sempat di tangkap oleh matanya.
"Datanglah ke ruangan ku! Berarti yang mengirim pesan itu kerja di sini?" batinnya kembali di sela langkahnya.
Beberapa kali dia melihat Ara masuk keluar ke ruangan Moly, direktur keuangan dan kadang ke ruang pimpinan bersama Moly.
Tidak mungkin dari ketiga orang itu yang mengirimkan pesan padanya, lalu siapa? batin Sonya penuh tanya.
Setelah kepergian Sonya, Ara segera membalas pesan Rafa.
"Jangan mengirim aku pesan kayak gitu lagi kak." dia khawatir kalau-kalau Sonya melihat isi pesan tadi.
"Nona Azahra." terdengar suara Moly.
"Iya buk." Ara sedikit kaget.
"Aku tahu ini waktu istirahat. Bolehkah aku minta tolong padamu? Tidak lama kok!"
"I iya bu, gak apa-apa." jawab Ara.
"Tolong antar berkas ini ke ruangan pimpinan ya." Moly meletakkan sebuah berkas di tangannya.
"Eh? I iya buk__" Ara gugup, kenapa bisa kebetulan begini? Kakak ipar juga menyuruh aku ke ruangannya.
Ara tidak tahu kalau sebenarnya Moly tahu tentang hubungannya dengan Rafa sebagai suami istri. Ara mengira Moly tahu hubungannya dengan Rafa hanya sebatas kakak ipar.
"Baik buk." Ara jadi ikut tersenyum mendengar Moly berkata seperti itu.
"Terima kasih." Moly kembali melangkah menuju ke ruang kerjanya.
Ara segera melangkah ke lantai atas tempat ruang kerja Rafa. Sedikit ngos ngosan setelah melewati tangga yang lumayan banyak.
Ara mengetuk pintu beberapa kali, lalu segera masuk dan menutup pintu. Dia kaget saat tubuhnya di peluk dari belakang. Ternyata Rafa sudah menunggunya di belakang pintu.
"Kakak ipar?" terkejut.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Rafa memeluknya erat, lalu membalikkan tubuh Ara dan menekan di pintu, menyentuh bibir Ara dan mendaratkan ciuman.
"Jangan kak, nanti ada yang masuk." kata Ara di sela sela ciuman Rafa, nafasnya menderu tak beraturan.
"Tak ada yang berani masuk di ke sini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu." kata Rafa. Dia mengambil berkas di tangan Ara dan melempar nya sembarangan, lalu kembali menyerang bibir Ara.
Ara terkejut melihat berkas berserakan di lantai. Lenguhan tertahan keluar dari mulutnya saat merasakan tangan Rafa lolos masuk ke dalam bra dan menyentuh buahnya bergantian. Sementara mulut Rafa menjelajah di lehernya, memberi kecupan kecil.
"Kak, jangan...." menahan tangan Rafa yang membuka kancing bajunya dengan gerakan cepat, dengan bibirnya yang tak berhenti bermain di leher dan telinganya.
"Nanti kakak akan tersiksa lagi." kata Ara memperingatkan.
Rafa tak memperdulikan ucapannya, dia mengangkat tubuh Ara dan membawanya ke kamar pribadi. Dia mengunci pintu dan membaringkan tubuh Ara di atas ranjang.
"Jangan di teruskan kak, nanti kakak akan tersiksa lagi." Ara kembali memperingatkan dirinya yang nantinya akan tersiksa karena hasrat yang tidak akan tersalurkan.
"Aku tahu sayang, aku gak apa-apa! Aku akan menahannya." kata Rafa membuka semua pakaiannya yang hanya menyisakan bokser pendek ketat. Terlihat milik pribadinya yang mengembang di dalam sana. Lalu dia segera mendekati tubuh Ara dan melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya. Ara merasa malu dengan keadaan tubuhnya yang polos.
Sementara Rafa menatap nanar keindahan di depannya. Dia tahu apa yang di lakukan nya ini akan membuatnya tersiksa. Dia sengaja melakukan ini untuk merangsang hasrat dan birahi Ara. Selama ini dia berusaha keras mencari tahu apa penyebab Ara tidak mau di sentuh pada bagian pribadi miliknya, kenapa Ara menolak melakukan hubungan suami-istri.
Rafa mulai menyentuh Ara dengan takjub meraup bibir istrinya, menyesap manisnya benda kenyal yang membuatnya candu. Tangannya tak nganggur, menyentuh lembut leher, tengkuk punggung dan bokong Ara dengan gerakan sesual untuk membangkitkan gairah Ara. Rafa mengangkat tubuh Ara dan membawanya ke atas ranjang. Di baringkan di sana, lalu mendidih tubuh Ara Dia menatap penuh cinta mata teduh istirnya
"Sayang, apa kamu marah aku melakukan ini?" ucapnya lembut. "Aku janji tidak akan menyentuh bagian penting milikmu;jika kau belum siap! Tapi biarkan aku menyentuh dan menikmati bagian tubuhmu yang lain." ujarnya sambil membelai wajah Ara dengan lembut, terus merambah ke dada Ara menyentuh kedua bongkahan yang putiknya tampak mengeras. Memainkan kedua putik itu dengan menjepit, di pilin dengan jari. Setelah puas bermain dengan jari jemarinya, Rafa menggantinya dengan mulutnya.
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Ara tak kalah lidah tak bertulang itu bermain lembut berganti liar pada bongkahan dan putiknya. Jari jemarinya menjambak rambut Rafa. Nafasnya turun naik tak beraturan.
Rafa tersenyum mendengar suara lembut keluar dari mulut Ara. Dia semakin gencar dan rakus menikmati bongkah itu. Tak lupa dia menekankan miliknya pada milik Ara yang terhalang oleh benda segi tiga berenda. Rafa berharap dengan melakukan sentuhan sentuhan seperti ini bisa merangsang hasrat dan birahi Ara, lalu Ara akan memohon padanya untuk meminta yang lebih dari sekedar sentuhan ini.
Rafa tiba tiba mengangkat tubuh Ara dan menaruhnya di atas pangkuannya setelah dia duduk. Dia kembali mencium bibir Ara, meloloskan lidahnya membelit dan bermain liar di dalam rongga mulut Ara. Bagian bawah milik mereka saling menyentuh dan menekan akibat pergerakan. Tentu saja hal itu semakin membuat hasrat mereka semakin menjadi jadi. Ara pun tak sadar mengimbangi ciuman Rafa, hingga membuat permainan bibir itu semakin panas. Rafa sengaja nenekan dan menggesek kuat miliknya ke segitiga Ara.
Dia dapat merasakan segitiga itu sudah basah.
"Kak__" ucap Ara dengan nafas berat memburu cepat. Jemarinya semakin kuat mencengkram rambut Rafa yang semakin buas di dadanya. Juga gesekan cepat di bawah sana. Miliknya terasa berdenyut dan sesuatu terasa akan tumpah keluar dari dalam sana, tapi berusaha di tahan. Dia tidak ingin merasakan kenikmatan sendiri sementara Rafa tersiksa karena tidak akan mendapatkan pelepasan.
"Meminta lah sayang, katakan kalau kau sudah tidak tahan." batin Rafa dalam hati.
Sementara Ara merasakan kebahagiaan dan di buat melayang indah dengan kenikmatan yang di beri Rafa. Tapi dia tetap sadar dan menahan hasrat sekuat hatinya. Dia mencari cara untuk menghentikan aksi panas suaminya ini. Sungguh dia belum siap untuk melakukan hubungan intim dengan Rafa.
"Kak_!"
"Ya sayang." jawab Rafa di sela ciumannya. Dia berharap Ara akan meminta lebih karena sudah tidak tahan.
"Aku__aku lapar." kata Ara lemah.
Gerakan Rafa terhenti, terdiam beberapa saat mendengar perkataan Ara__ Lapar? Rafa mengira Ara akan mengatakan sudah tidak tahan lagi dan ingin meminta di masuki. Tapi ternyata malah mengatakan lapar. Rafa mengumpat kesal di dalam hati sekaligus tersenyum. Dia tidak habis pikir dengan apa yang di rasakan Ara yang tidak terpengaruh sama sekali dengan sentuhannya. Sementara dirinya sangat tersiksa menahan hasrat yang semakin menggebu-gebu.
Rafa menghela nafasnya dalam-dalam penuh kekecewaan. Tapi dia tidak akan memaksa Ara. Perlahan dia bangun dari tubuh istrinya.
__ADS_1
Ara cepat menutup kedua bagian intimnya dengan kedua tangan.
"Kenapa di tutupi sayang, aku sudah melihat semuanya berulang kali, bahkan mencicipinya." kata Rafa menggoda. Dia berusaha tenang, meski saat ini dia sangat pusing dan tersiksa karena hasrat seksnya kembali menggantung tidak tersalurkan.
Ara mengalihkan pandanganya, malu.
"Pakaianku tolong ambilkan, aku mau ke kamar mandi. Kita juga belum shalat dzuhur." kata Ara melihat wajah Rafa yang frustasi karena tersiksa dengan miliknya. Dia merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? dia belum siap.
"Kita mandi dulu setelah itu shalat, terus makan siang." kata Rafa. Dia mengangkat tubuh Ara membawanya ke kamar mandi. Mengguyur tubuh mereka di bawah air shower. Ritual mandi yang di selingi sentuhan nakal.
Ara yang tidak tega melihat Rafa yang begitu tersiksa menahan segala hasratnya, melakukan sesuatu yang biasa di lakukan pada Raka dulu. Cara yang di lakukan pada Raka untuk membuat almarhum suaminya itu mencapai pelepasan tanpa harus kerja keras dan tidak membuat jantungnya lemah.
20 menit Ara bermain dengan cara itu, hingga akhirnya keluar erangan keras dari mulut Rafa karena orgasme. Dia ******* dengan perasaan lega dan bahagia.
"Sayang, terimakasih." ucapnya dengan perasaan senang dan lega.
.
.
Rumah utama.
Maya membuka pintu kamar Raka dan Ara. Sudah lama kamar itu kosong tak ada yang menempati karena Ara tak tinggal lagi di rumah ini, sejak dia menyuruh Ara pergi meninggalkan rumah pagi itu. Meski sudah kosong, kamar itu tetap bersih dan rapi karena setiap saat di bersihkan.
Maya memperhatikan sekelilingnya dengan segala keharuan dan kesedihan.Terdapat banyak kenangan Raka dari Raka remaja menempati kamar ini sampai Raka menikah dengan Ara.
Dengan tangan gemetaran Maya mengambil foto Raka dan Ara, menyentuh lembut wajah keduanya.
"Maafkan mama nak, yang terlambat mengakui pernikahan dirimu dengan Ara. Maafkan mama yang terlambat menerima Ara sebagai istri mu dan juga sebagai menantu di rumah ini. Maafkan mama yang tidak menyadari kebaikannya, cinta dan kasih sayangnya yang tulus pada kita." Air mata Maya menetes jatuh.
"Kamu benar nak, Ara memang wanita yang sangat baik dan sempurna. Anak sekaligus Istri yang Sholehah, menantu yang sangat baik. Maafkan mama karena telah memperlakukannya buruk selama ini! Mama sangat menyesal. Biarkan mama yang akan menanggung semua dosa dosa mama terhadap kalian berdua." ucapnya kembali dengan bibir bergetar.
"Nak, Ara masih sangat mencintaimu, merindukanmu meskipun kau sudah sangat lama pergi meninggalkannya. Ara tidak bisa lepas dari bayang-bayang dan segala kenangan indah bersamamu di kamar ini. Dia meratapi terus kepergian mu." kata Maya kembali.
"Untuk membuatnya lepas dari segala kenangan tentang dirimu, mama menyuruh dia pergi dari rumah ini, agar dapat melupakan segala kenangan indah bersama dirimu di rumah ini. Mama tidak bermaksud mengusirnya dari rumah ini. Mama ingin Ara kembali melanjutkan hidup dan merasakan kebahagiaan lagi." air mata Maya semakin banyak jatuh.
"Dengan membuatnya pergi dari rumah ini, akan membuat dirinya dapat melupakan dirimu perlahan lahan. Dan seiring berjalannya waktu dia akan membuka hatinya pada kakakmu, mencintai kakakmu dan menerima kakakmu sebagai suaminya dan juga menerima pernikahan mereka."
"Nak, Kakakmu Rafa telah menikahi Ara, istrimu. Melanjutkan tanggung jawab mu untuk menjaga dan melindungi istrimu, memberinya kebahagiaan! Kamu jangan khawatir, Ara hidup bahagia bersama kami. Istirahat lah dengan tenang. Rafa, mama dan kami semua menjaganya dengan baik, memberikan cinta dan perlindungan sama seperti yang kau berikan! Mama mohon doakan agar Ara bisa mencintai kakakmu, doakan agar Ara dan kakakmu secepatnya bersatu dan hidup bahagia. Karena dia tidak dapat melupakan mu, dia tidak bisa lepas dari segala kenangan indah bersama mu!"
"Nak, meski kau telah pergi, segala kenangan mu akan selalu tersimpan indah di hati kami, kau akan selalu ada di hati kami. Tidurlah, istirahatlah dengan tenang dalam pangkuan kasih sayang Allah. Mama menyayangimu selamanya." mengecup wajah Raka yang tampak tersenyum menatapnya. Maya meletakkan kembali bingkai kecil itu ke meja nakas, lalu segera keluar di iringi Sam dari belakang.
flash back.
Kembali ke kejadian waktu Ara pergi dari rumah utama secara sembunyi sembunyi tanpa memberi tahu siapa pun. Pagi itu, Ara datang ke kamar maya setelah Rafa pergi ke kantor. Ara memohon dan meminta maaf pada Maya karena telah menikah dengan Rafa tanpa persetujuan dan doa restu dari ibu mertuanya itu.
Maya sebenarnya datang ke yayasan menyaksikan pernikahan mereka, tapi dia terlalu malu untuk menunjukkan dirinya di depan Ara, di depan semua orang, terlebih lagi di rumah allah. Dia hanya melihat dari jendela mesjid prosesi ijab kabul Rafa dan Ara. Bahkan sebelumnya dia masih sempat melihat Rafa memohon kepada Ara untuk bersedia menikah dengannya. Meski hanya melihat melalui jendela, Maya memberikan doa dan restunya untuk mereka berdua. Dia tidak mau melakukan kesalahan lagi sama seperti yang dilakukan pada Raka. Dia merestui pernikahan Rafa dan Ara, juga mendoakan kebaikan untuk pernikahan mereka. Meski Rafa dan Ara telah menikah, dia tahu Ara tidak akan melupakan Raka. Segala kenangan Raka akan terus membayangi hidup Ara jika dia masih tinggal di kamar itu. Dan tidak akan bisa membuat Ara mencintai Rafa. Oleh karena itu saat Ara datang meminta maaf padanya pagi itu, dia berkata akan memaafkan Ara dan juga akan menerima Ara sebagai istri Raka dan Rafa, menerima Ara sebagai menantu di rumah Ini dengan syarat__ Ara meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah mansion Rafa.
Maya melakukan itu agar Ara akan terbiasa melupakan Raka dan segera membuka hati untuk Rafa. Tapi Maya tidak mengatakan alasannya itu pada Ara.
Ara yang sangat ingin pernikahan dengan Raka di restui Maya tentu saja menyetujui permintaan Maya. Ara senang akhirnya Maya menerima dirinya sebagai istri Raka dan menantu di rumah ini meski Raka sudah tidak ada lagi. Ara sangat senang akhirnya Maya menganggapnya sebagai menantu. Ara yang telah setuju dengan syarat Maya segera pergi pergi dari rumah utama saat itu juga. Tapi Ara tidak tinggal di rumah Rafa. Karena Ara belum bisa menerima dan tidak mencintai Rafa. Dia takut akan membuat Rafa kecewa dan marah.
Ara berkata akan tinggal di panti. Tapi Maya tidak setuju, karena itu akan berdampak buruk pada hubungan Ara dan Rafa. Maya menghubungi Rahmia adik kembarnya untuk membawa Ara tinggal bersama dirinya sementara waktu sampai Ara melupakan Raka.
Rahmia bersedia membantu dengan senang hati setelah mendengar alasan dan rencana Maya. Dia juga sangat senang Ara tinggal bersamanya. karena mengingat Ara dulu pernah menyelamatkan hidupnya. Jadi selama sebulan lebih itu Ara tinggal di villa barunya yang berada di dekat pantai. Villa baru yang di belinya dan belum di ketahui Moly.
Mengenai Ara pergi secara diam-diam masuk dalam bagasi mobil si kembar, Maya tidak mengetahui hal itu. Mungkin saja itu rencana Ara, agar Rafa tidak akan menyalahkan orang rumah karena kepergiannya. Begitulah kenapa Ara pergi dari rumah. Dan selama Ara pergi dari rumah, tinggal di villa Rahmia, Ara dan Maya sesekali berkomunikasi lewat telepon
Flash end
"Nyonya besar." panggil Sam membuyarkan lamunan Maya.
Maya menghela nafas, lalu menoleh pada Sam."Ada apa?"
"Nona Ara sudah menelepon anda dua kali."
"Kirim pesan padanya, untuk datang ke butik setelah pulang kerja."
"Baik Nyonya."
Hari ini dia akan bertemu dengan Ara, setelah sebulan lebih tidak bertemu.
.
.
Gedung RA Group.
Berulang kali Rafa menelepon Ara tapi tidak di angkat, pesannya juga hanya di baca tanpa di balas. Sudah tiga hari ini Ara sengaja menghindarinya sejak apa yang terjadi di kamar mandi tiga hari lalu, cara Ara membuatnya menuntaskan hasratnya, membuat dia mencapai pelepasan dan mendapatkan kepuasan tanpa melakukan hubungan Suami-istri.
Bukan hanya di kantor Ara menghindarinya, tapi di apartemen dan rumah mansion.
Sudah tiga hari ini mereka bahkan tidak tinggal dan tidur bersama. Jika Rafa pulang ke apartemen, Ara akan pergi tidur di rumah mansion. Jika Rafa pergi menyusulnya ke rumah mansion, Ara akan secepatnya ke apartemen dan mengunci diri di sana.
Ara seperti itu karena terlalu malu bertemu dengan Rafa.
Rafa sendiri senyum senyum sendiri bila mengingat hal yang di lakukan oleh Ara saat itu. Dia sangat senang dan bahagia setiap kali mengingat kejadian di kamar mandi itu. Dia tak menyangka Ara sangat lihai melakukan hal itu. Rafa kembali senyum senyum mengingat hal itu, mengingat wajah merah semu Ara yang menahan malu setelah melakukannya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu, tolong jangan menghindari ku." tulis Rafa kembali mengirimkan pesan pada Ara.
Pintu di ketuk. Lamunannya buyar.
"Tuan, Nona muda telah kembali pulang. Nona mengirim pesan akan bertemu dengan seseorang setelah pulang kerja." kata Wisnu menyampaikan pesan Ara.
Rafa tersenyum."Lagi lagi dia memberi alasan untuk menghindar dariku." batin Rafa sembari tersenyum.
"Dia bertemu siapa?" tanyanya kemudian.
"Nona tidak mengatakannya. Nona naik taksi Mang Saleh. Saya akan mencari tahu pada Mang Saleh."
"Apa kau memasang alat pelacak pada taksi langganannya itu?"
"Iya tuan. Kita akan segera mengetahui dengan siapa Nona bertemu. Dua orang kita sedang mengikuti Nona."
"Bagus. Jaga istriku dengan baik Wisnu."
"Baik tuan." Wisnu segera beranjak dan keluar karena ingin mengerjakan sesuatu.
Rafa kembali membayangkan Ara. Dia sungguh tidak mengerti kenapa istrinya lebih memilih naik taksi untuk mengantar dia pergi ke mana-mana dari pada menggunakan mobil mobil pribadi mewahnya. Dia bekerja keras selama ini untuk menyenangkan keluarganya, terutama Ara__wanita yang paling di cintainya dan sangat berharga baginya.
Di saat banyaknya para wanita memamerkan pasangannya, segala kemewahan miliknya, kekayaan dan jabatan pasangannya, Tapi Ara lebih menutup diri dan menyembunyikan status dirinya sebagai istrinya. Di saat para wanita lain sibuk menghabiskan uang untuk segala kemewahan dan gaya hidup yang glamor, Ara lebih memilih menggunakan uang untuk amal dan sedekah. Bahkan hingga saat ini istrinya itu belum menggunakan uangnya sepersen pun untuk keperluan pribadinya. Meski Rafa sudah memberi kekuasaan penuh untuk penggunaan semua uang, aset kekayaan dan harta miliknya kepada Ara.
Ara seorang wanita mandiri dan pekerja keras. Setelah berhenti dari pekerjaan menjadi pelayan kafe dan guru privat, Ara memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjual hasil karya seninya dari melukis dan membuat jasa desain grafis yang di promosikan lewat media sosial dan internet. Hasil kerjanya lumayan besar, makanya Ara tidak menggunakan uang Rafa. Karena uang yang di dapat dari hasil kerjanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nesa juga selalu memberi bayaran padanya setiap kali Nesa meminta ide untuk membuat desain rancangan model pakaian, gaun pengantin dan aksesoris. Nesa membayarnya lebih, meski Ara sudah menolaknya.
...Bersambung....
Terimakasih yang sudah mampir π
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya...
__ADS_1