
Ara menemani Raka sarapan pagi. Suaminya itu sudah memakai pakaian kantor.
"Kakak koq gak bangunin aku saat penyakit mama kambuh?"
"Aku gak tega bangunin kamu sayang, tidur mu lelap sekali, kamu capek habis ngajarin Cio Cia menggambar semalam! lagi pula sudah ada dokter yang datang menangani mama" Kata Raka seraya memasukan sepotong sandwich ke mulutnya.
"Tapi tetap saja kakak bangunin aku dong, ada yang sakit di rumah masa aku malah tidur enak?" Menatap cemberut.
Raka tersenyum melihat wajah istrinya, secepat kilat ia mengecup bibir istrinya itu.
Cup...
Ara terkejut.
Para pelayan yang tak jauh dari mereka langsung menundukkan kepala senyum senyum sendiri.
"Kakak apa an sih?gak lihat ada pelayan di sini?" Wajah Ara memerah.
"Bibirmu itu selalu menggodaku sayang"
Ara mencubit tangan suaminya.
Raka langsung mengecup kembali bibirnya sebagai balasan.
"Kakak" Jerit Ara kembali kaget mendapat serangan tiba-tiba, dia segera menutup wajahnya semakin malu. Sedangkan Raka tertawa kecil menggodanya.
Dari sudut belakang pak Sam tersenyum melihat tingkah mesra tuan muda dan nona mudanya itu. Dia juga turut bahagia melihat kemesraan dan kebahagiaan majikannya ini.
"Ante, paman..." panggil Cio Cia yang tiba-tiba muncul.
"Kami sudah siaaap ...!"
Di belakang mereka ada Nesa mengikuti.
"Wah.. ponakan paman makin keren aja" seru Raka menyambut keduanya.
"Kalian pasti bisa"
"Pasti dong, ante Ara sudah mengajari kami, ternyata ante Ara pintar melukis ya Cia?"
kata Cia.
"Ante Ara hebat, Ante Ara terbaik !" timpal Cia mengangkat kedua jempolnya pada Ara.
Ara tersenyum senang dan terharu.
Nesa menyerahkan sebuah paper bag.
__ADS_1
"Kamu pakai ini saat menemani mereka, jangan malu maluin mereka dengan pakaian usang mu itu! Cio Cia, mama pergi dulu, kalian harus jadi juara, jangan malu maluin mama" kata Nesa lalu segera melangkah menuju garasi mobil.
Si kembar kembali kecewa, mereka berpikir Nesa akan menemani mereka mengikuti lomba. Ara menyapu pundak mereka.
"Jangan sedih begitu dong, ada ante Ara yang akan temani kalian! kalian harus semangat meski tanpa mama " Raka menenangkan
mereka.
Si kembar mengangguk.
"Sayang aku berangkat dulu"
"Iya kak...!"
Raka mencium kening istrinya dan puncak kepala kedua keponakannya, lalu pergi.
***
Jam 8 Ara dan si kembar telah sampai hotel tempat lomba di adakan. Bangunan ini sangat megah berdiri kokoh dengan tinggi mencapai 260 meter, gedung pencakar langit itu baru selesai di bangun.
Acara lomba tersebut di adakan di lobby ruang teras yang luas berdekatan dengan pintu masuk utama.
Di dalamnya ada tempat duduk, meja dan kursi serta sofa sebagai sarana untuk para tamu yang duduk menunggu.
Para peserta lomba yang terdiri dari anak anak TK dan Paud berkumpul dan bersiap dengan peralatan lukisnya, termasuk si kembar.
Ketua panitia memberi aba-aba lomba akan di mulai dan akan berlangsung selama 45 menit.
dari lobby Ara menyemangati kedua keponakannya itu.
30 menit kemudian nampak iringan mobil memasuki halaman hotel.
Sebuah mobil mewah berhenti di ikuti 5 buah mobil di belakangnya.
Sang sopir segera membuka pintu mobil.
Keluarlah sosok pria tampan memakai stelan jas hitam yang melekat di tubuh tingginya yang kokoh dan kekar, bulu bulu halus nampak tumbuh di kedua pipinya, bibirnya yang tebal seksi berwarna merah muda alami, rahangnya yang kokoh dan kuat menambah ketampanannya dan membuatnya semakin maskulin.
Sontak kehadirannya menarik pengunjung yang ada di lobby. Memandang wajah tampannya dengan takjub seperti artis Hollywood.
"Tampan bangeet" kata mereka terpukau.
Pria tampan itu memandang sejenak pada pengunjung lobby dengan tatapannya yang dingin dan menyelidik, lalu melangkah kembali di ikuti oleh sekretaris pribadinya menuju pintu
masuk hotel.
Sementara pengawal lain yang datang bersama nya di mobil belakang segera keluar dan berbaris rapi dari tangga bawah hingga dekat pintu masuk hotel untuk menyambutnya dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Sekretarisnya memberikan sesuatu benda kepadanya, yaitu kaca mata hitam, lalu segera di pakainya guna menghindari pandangan publik.
Sambil melangkah, ia menoleh sekilas pada para tamu pengunjung yang ada di lobby hotel.
"Apa ada acara di sini? kelihatan ramai
sekali"
"Pihak hotel mengadakan lomba gambar dan melukis untuk anak berprestasi guna mengembangkan bakat mereka, lomba ini di selenggarakan sebelum acara pembukaan hotel anda di mulai!"
" Kenapa aku tidak tau hal ini?"
" Ini ide dari nyonya Rahmia tuan "
Yang di panggil tuan menghentikan langkah .
lalu menatap pria di sampingnya ini.
"Tante Rahmia?" ulang pria tampan ini kembali yang tak lain adalah Rafa Ravendro Artawijaya pada Wisnu sekretarisnya.
Mereka semalam baru tiba di Indonesia guna menghadiri acara pembukaan hotel baru Rafa .
"Iya tuan" Jawab wisnu.
Rafa kembali mengalihkan pandangannya ke arah lobby, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu masuk hotel.
Tapi tiba tiba saja langkahnya kembali terhenti. la memalingkan pandangannya ke lobby hotel, tatapannya berhenti tepat pada seorang wanita yang sedang duduk di sala satu sofa, memakai dress warna peach selutut, berlengan pendek, dengan rambutnya di ikat pendek.
Perempuan itu nampak memperhatikan kedua anak yang sedang asyik membuat lukisan, sambil tersenyum ia memberi semangat. Senyumnya yang manis semakin membuat wajahnya semakin cantik dan menawan.
Saat wanita lain sibuk memandangi dan mengagumi ketampanan Rafa tanpa berpaling sedikit pun, ia malah sedang asyik memberi semangat pada ke dua anak kembar itu dan tidak menyadari kalau pemilik hotel ini sedang menatapnya dari jauh.
Rafa mendesah pelan, hatinya bergetar.
Ia menelan salivanya.
Wisnu mengikuti arah tatapan tuannya.
Dia juga terkejut.
"Tuan, bukankah itu nona muda? adik ipar anda?" ucap Wisnu di sela keterkejutannya.
Rafa kembali menelan salivanya, dia terus menatap pada Ara tanpa berkedip, lalu beralih pada kedua keponakannya yang tampak antusias melukis, Rafa tersenyum sesaat menatap ketiganya bergantian.
Kemudian dia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel.
"Semakin cantik mempesona" batin Rafa tersenyum tipis.
__ADS_1
*****