
Rumah sakit AZ'FA Harapan Mulia
Rizal masuk terburu-buru, beberapa dokter dan perawat menyapanya saat berpapasan. Dia membalas dengan tersenyum, membuat para suster klepek klepek melihat senyum manisnya itu. Tentu saja karena dia memiliki wajah yang tampan, dan sifatnya yang humoris membuat nya di segani bukan hanya dari kalangan dokter dan suster, tapi juga pasiennya.
Rizal berjalan menuju ruangannya di ikuti asisten perawat, sekilas dia melihat sudah banyak pasiennya yang menunggu di ruang tunggu.
Beberapa pasiennya menyapanya dengan hangat begitu melihat kedatangannya, karena sebagian dari mereka adalah pasien tetap dan pasien yang sudah lama di tangani olehnya.
selain jabatannya sebagai direktur dan kepala rumah sakit, dia juga berperan sebagai dokter.
Rizal membalas sapaan mereka dengan senyuman
"Maaf ya saya sedikit terlambat ! semoga hari ini lebih baik dari kemarin, tetap semangat untuk sembuh, salam sehat dan tetap jaga kesehatan!" Rizal selalu memberi kata kata motivasi seperti itu sebelum masuk ke ruangannya.
"Salam sehat" jawab beberapa pasien yang sudah terbiasa mendengar kata-kata motivasi itu.
"Silahkan duduk nona, anda bisa menunggu di sini" kata seorang suster yang baru saja datang bersama seseorang wanita muda.
"Iya terima kasih suster" jawab wanita itu sopan sambil tersenyum.
Rizal menoleh sekilas kearah pasien yang di antar suster tadi.
Matanya mengernyit begitu menatapnya dengan cermat, sosok gadis cantik memakai dress selutut warna coksu model tanpa lengan sehingga memperlihatkan bahunya yang putih, tetapi dress itu memiliki kerah yang melingkari leher sehingga menutupi bagian depan dadanya, rambutnya panjang terurai sebagian kebelakang dan sebagian lagi di urai kedepan guna menutupi sala satu bahunya.
Rizal tersenyum terpukau, sungguh cantik dan sempurna melihat keindahan di depannya.
Di tambah wajah polos alami itu sedang tersenyum manis menyapa para pasien lewat ekspresi wajahnya yang tersenyum.
Untuk kedua kalinya Rizal kembali bertemu dengan gadis ini.
"Nona Ara?" sapanya perlahan.
Wanita yang ternyata Ara itu menoleh ke arahnya.
"Anda nona Ara kan? kita sebelumnya pernah bertemu" kata Rizal kembali sambil mendekat.
Ara tidak jadi mendudukkan bokongnya
ke kursi.
"Iya, saya Ara dokter" jawab Ara segera.
"Apa kamu masih ingat padaku?"
Ara mengerutkan dahinya, sedang mengingat sesuatu.
Lalu ia kembali tersenyum.
"Dokter Rizal kan?"
Rizal mengangguk, lalu memberi isyarat agar Ara mengikutinya masuk ke ruangan kerjanya.
"Silahkan duduk" Rizal ikut duduk di seberang Ara, tepatnya di kursi kerjanya.
Ara segera duduk di depan dokter Rizal, matanya memperhatikan dokter itu yang nampak menulis sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya entah pada siapa hanya dia yang tau.
Beberapa detik kemudian Rizal menyudahi kegiatan ketik mengetik nya, lalu menatap kembali pada Ara, memperhatikan wajah nan ayu itu dengan takjub.
Ara jadi merasa canggung dan menundukkan kepalanya karena di tatap terus seperti itu.
Rizal tersenyum
"Ku kira aku tidak akan bisa melihat wajah cantik dan polos ini lagi" kata Rizal memecah keheningan.
Eh ...? Ara jadi kikuk dan semakin canggung.
Rizal tertawa kecil melihatnya
__ADS_1
"Maaf aku hanya bercanda, sori aku tidak akan menggoda mu lagi nona, tapi aku tidak bercanda dengan wajah cantikmu itu karena kamu memang sangat cantik dan manis" Rizal mengedipkan sala satu matanya.
"Katakan...kau sakit apa?"
"Dokter, bagaimana dengan pasien dokter yang datang sebelum saya? saya merasa gak enak, biar saya mengantri saja dulu, kasian mereka sudah menunggu sejak tadi"
"Kamu jangan khawatir, aku sudah menghubungi teman ku tadi untuk menggantikanku melayani mereka! jadi sekarang katakan apa keluhan mu nona Azahra Radya Almira?" menatap Ara tersenyum.
"Ini kartu namaku, kau tidak perlu datang ke sini jika ingin berobat, ini khusus kuberi untuk mu karena kau gadis yang baik, nanti kalau perlu sesuatu hubungi aku di nomor itu" Rizal memberi kartu namanya.
Ara meraih kertas kecil itu.
"Terimakasih dok ..! Eh dok sebenarnya bukan saya yang sakit"
"Oh ya? lalu siapa ? apa kamu datang bersama seseorang?"
"Iya, dia meminta saya untuk datang terlebih dahulu dan menunggunya di sini"
"Siapa dia? apa teman gadis mu yang bersamamu lalu?"
"Bukan dok, tapi suami saya"
Rizal melongo, sedikit kekecewaan tersirat di matanya mendengar ucapan Ara.
"Kamu sudah menikah?"
"Iya dok" jawab Ara tersenyum
"Tapi bukankah waktu kemarin saat mendonorkan darah kau masih single?"
"Memang benar dokter, tapi tiga minggu setelah itu saya menikah, kekasih saya melamar dan mengajak menikah!"
"Ooh Ara, aku kecewa, aku patah hati! seharusnya aku langsung melamar mu waktu pertama kali kita bertemu" Rizal memasang wajah sendunya seraya meremas remas rambutnya.
Ara tertawa kecil melihat tingkah lucu yang di buat dokter muda ini.
Ara semakin tertawa sambil menutup mulutnya
"Dokter jangan khawatir, suamiku orang yang sangat baik, dia sangat menyayangi dan mencintai ku" katanya kemudian.
"Benarkah?"
Ara mengangguk
"Apa dia se tampan diriku?" celetuk Rizal.
Ara kembali tertawa kecil, lalu mengangguk.
"Sangat tampan dokter, sangat tampan
sedunia, tidak ada yang bisa menandingi ketampanannya juga kebaikannya"
Rizal memasang wajah lesunya
"Sepertinya kau sangat mencintainya, lihatlah kau bahkan memujinya secara berlebihan, mana ada pria yang tampannya sedunia"
Ara terus tertawa kecil, gigi putihnya terlihat.
Rizal memperhatikan wajah itu, jujur sejak pertama melihat Ara dia langsung suka , bukan karena cantik tapi karena Ara juga adalah gadis yang baik, polos tanpa di buat buat.
Dan sekarang meskipun saat ini dia sedang bercanda menanggapi status Ara yang ternyata sudah menikah, ada rasa kecewa terselip di hati kecilnya. Rizal berharap pria yang menjadi suami gadis ini benar-benar mencintainya.
Pintu terdengar di ketuk dari luar, lalu masuklah seorang pria tampan memakai jas abu-abu, yang tak lain adalah Raka.
"Halo dokter" sapa Raka.
"Hey Raka" Rizal agak kaget melihat kedatangan Raka, dia segera berdiri menyalami Raka, adik bosnya.
__ADS_1
Ara segera berdiri melihat suaminya.
"Halo sayang, maaf ya membuat mu menunggu " Raka memeluk dan mencium kening istrinya.
Rizal kembali di buat melongo
"Jadi Ara, Raka ini suamimu?"
Raka melepaskan pelukannya .
"Dokter sering menanyakan istriku bukan?nah..perkenalkan ini Ara istriku, aku gak bohong kan dokter? istri ku sangat cantik bukan ?" kata Raka dengan bangga
"Dia juga sangat baik !" sambung Raka kembali mengecup pipi kiri istrinya.
"Tentu saja, kau benar, dia juga gadis yang baik ! maaf ya tidak sempat datang ke pernikahan kalian"
"Gak apa-apa dokter , Dokter pasti sangat sibuk" lalu menatap wajah istrinya.
"Sayang, apa saja yang kalian bicarakan sebelum aku datang? apa dokter Rizal menggoda mu? soalnya dokter ini sangat suka menggoda wanita wanita cantik"
Ara tersenyum menggeleng .
"Gak kak, dokter Rizal tidak seperti itu, orangnya sopan kok !"
"Aku memang menggodanya, tapi sedikit ! habis istrimu sangat cantik, ku pikir dia masih single, aku kaget setelah tau ternyata dia sudah menikah. Dan lebih kaget lagi setelah tau ternyata suaminya adalah kamu! kamu tau istri mu itu memuji dirimu berlebihan di depanku , suamiku sangat baiklah...sangat tampan sedunia lah...membuat ku ingin muntah" seru Rizal memasang wajah masam dan menirukan gaya orang yang mau muntah.
Raka tertawa, sedangkan Ara tersenyum melihat tingkah lucu sang dokter.
"Sayang, terimakasih ya" Raka mengecup bibir istirnya itu tiba tiba.
"Hey.. hey apa yang kau lakukan, kau sungguh tidak sopan, tidak lihat ada orang di sini ?" sentak Rizal melempar bolpoin ke arah Raka.
Raka menghindar sambil tertawa, sedangkan Ara tersipu malu dan segera menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kakak , apa apaan ah!"
"Dokter kan bisa tutup matanya" ucap Rafa pada Rizal sambil terkekeh.
Rizal kembali melempar gulungan kertas ke arah Raka.
Sesat suasana penuh canda itu berlangsung,
lalu Rizal segera melakukan pemeriksaan pada Raka dan memberikannya resep seperti biasanya. Raka segera menebusnya , meninggalkan Ara sebentar bersama Rizal.
"Seperti katamu, Raka memang anak yang baik, dia punya hati yang penyayang ! dia juga anak yang sholeh, taat beribadah dan gemar sedekah, aku sudah lama mengenalnya dan menganggapnya seperti adik sendiri ! Aku berdoa semoga kalian bahagia selamanya" kata Rizal menatap Ara.
"Terimakasih dokter" Ara tersenyum
"Oh ya dokter ...?"
"Hmmm? ada apa?"
"Bagaimana dengan keadaan pasien tabrakan kecelakaan lalu?"
"Alhamdulillah nyawanya tertolong berkat bantuan mu, keadaannya sudah membaik dan sekarang ia hidup dengan sehat ! kau tahu Ara, pasien itu sangat berterimakasih dengan apa yang kau lakukan bersama teman mu , beliau sangat berharap bisa bertemu dengan mu dan membalas kebaikanmu !"
Ara membuang nafas pelan.
"Syukurlah dok, saya berharap beliau bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia dalam keadaan sehat, itu sudah lebih dari cukup buat saya" katanya tersenyum .
Beberapa saat kemudian Raka datang setelah menebus resep obat. Lalu mereka segera pamit .
Rizal menatap keduanya dengan tersenyum.
"Keduanya memang cocok! suka berbagi dan peduli pada sesama !" gumannya pelan.
*****
__ADS_1