
"Selamat pagi Ra." sapa Sonya yang baru saja tiba. Dia meletakkan tasnya di meja kerja.
"Selamat pagi." jawab Ara tersenyum.
"Udah lama Ra?" menatap Ara
"Baru aja, 5 menit yang lalu." kata Ara kembali.
"Kamu kemari di antar taksi langganan mu lagi ya?" memperhatikan wajah Ara.
Ara mengangguk tersenyum sambil memeriksa laporan keuangan perusahaan yang di berikan Frans kepadanya.
"Rajin amat kamu Ra. Apel pagi saja belum, lo udah mulai kerja." ujar Sonya memerhatikan berkas di depannya.
"Dari pada hanya duduk diam, gak tahu mau apa Son, pergunakan waktu kosong. Lagi pula ini tetap aku kerjain setelah apel pagi." kata Ara kembali sambil tersenyum.
Sonya ikut tersenyum dan bangkit dari duduknya mendekat ke meja Ara. Dia kagum dengan Ara. Rajin bekerja, dan cerdas.
"Kali ini laporan keuangan apa lagi yang di beri pak Frans?" berdiri dekat di samping Ara dan mencondongkan tubuhnya ke depan melihat berkas di depan Ara. Lalu ke layar komputer.
"Laporan bulanan dari perusahaan cabang 1 dan 5. Serta laporan keuangan dari anak perusahaan di daerah A." jawab Ara sambil mengetik pada keyboard komputer.
Sonya melihat dan membaca sejenak, karena saking dekatnya dengan tubuh Ara, hidungnya
mencium parfum Ara.
"Parfum mu wangi banget Ra."
"Terimakasih." jawab Ara tersenyum dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Sonya kembali ke meja kerjanya dan duduk.
"Ra...," panggilnya sambil menopang dagu.
Hmm? Ara melihat sekilas lalu kembali ke komputer.
"Ternyata Presdir sudah tidak bersama Levina. Menurut kabar yang aku lihat dari infotainment, sekarang pimpinan kita sedang menjalin hubungan dengan Tania, artis cantik yang lagi naik daun itu." ujarnya dengan mimik wajah bersemangat.
"Enak ya jadi bos, banyak wanita yang ngejar. Gak pusing biar pisah sama satu wanita! Mati satu tumbuh seribu. Putus pagi ini, siang udah dapet pengganti baru." katanya dengan bibir mengerucut, wajah masam.
Ara tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Padahal ya Ra, mereka sudah lama menjalin hubungan, entah kenapa bos malah meninggalkannya. Apa mungkin karena Tania atau ada wanita lain?" kata Sonya lagi.
"Cepat berbaris, pimpinan sedang menuju kemari." kata sala satu staf sekretaris.
Mereka segera bangkit berdiri, lalu bergabung dengan karyawan lain, berbaris rapi sesuai fungsinya masing-masing.
Tidak lama kemudian Rafa datang bersama Wisnu dan Moly. Semua menyapa dengan sopan dan hormat sambil menunduk.
Seperti biasa Rafa berhenti di depan barisan staf HRD dan mencuri pandang melihat istrinya yang berdiri diam agak menunduk. Ara tidak pernah melihat padanya saat dia datang seperti ini dan berdiri di depan barisan karyawan.
Sementara Sonya memperhatikan dengan mencuri pandang dengan kilat. Berulang kali hal itu dilakukan, melirik dan mencuri pandang pada bosnya. Dia sengaja mengambil barisan paling depan setelah sebelumnya membujuk dan merayu sala satu staf karyawan agar mau berpindah posisi dengannya. Hal itu di lakukan karena ingin memastikan sesuatu.
"Perhatian semua," kata Moly.
"Untuk acara ulang tahun perusahaan, akan di undur. Karena pimpinan akan ke luar negeri ada urusan yang sangat penting. Kami akan memberitahu kembali kapan jadwal pelaksanaannya! Cukup sekian pemberitahuan hari ini, terimakasih." Moly mengakhiri penyampaiannya.
Setelah Rafa pergi, barisan pun bubar. Masing masing segera menuju meja kerja. Ara kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Sonya memperhatikannya diam diam.
"Jadi kamu wanitanya Presdir?" batinnya menatap tak berkedip wajah Ara yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya.
"Berarti yang aku lihat tadi memang benar. Dan aku bisa memastikan dari wangi parfum yang kamu pakai sama wanginya dengan parfum Presdir. Wangi parfum bos menempel di pakaianmu saat kalian berciuman di dalam mobil tadi." batinnya kembali.
Waktu ke kantor tadi, Sonya singgah di toko kue. Saat hendak masuk ke mobil miliknya, Sonya tidak sengaja melihat Wisnu yang baru keluar dari mobil. Terus membuka pintu mobil bagian depan dengan sedikit terbuka. Dia mengira Wisnu membukakan pintu mobil untuk Rafa. Sonya sangat senang karena berpikir bisa melihat pimpinannya itu secara dekat.
Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat pimpinannya di dalam mobil, sedang berciuman dengan seorang wanita. Dia melihat semua apa yang di lakukan Rafa pada wanita itu. Memeluk dan mencium penuh gairah. Dan ciuman itu di hentikan saat si wanita kesulitan bernapas dan perlu oksigen. Dia melihat semua apa yang terjadi di dalam mobil.
Sonya semakin terkejut dan terbelalak saat melihat siapa wanita itu, yang ternyata adalah Ara. Saat Ara turun dari mobil dan menuju taksi mang Saleh yang menunggunya di depan.
__ADS_1
Setelah taksi yang di naikin Ara berjalan, mobil pimpinannya juga segera bergerak di belakang taksi Ara, mengikuti dari jarak jauh.
Dan tadi saat di barisan, hidungnya mengendus mencium aroma wangi parfum pimpinannya yang sama dengan Ara. Matanya juga sempat melihat pimpinannya itu sedang mencuri pandang melihat kepada Ara yang berada di belakang.
"Ada hubungan apa di antara kau dan pimpinan? Apa kau kekasihnya? Atau wanita simpanannya?" batinnya kembali.
"Son, boleh aku pinjam tip-X mu?" seruan Ara membuyarkan lamunannya.
Sonya kaget dan gugup.
"Tentu Ra..," jawabnya reflek. Segera mengambil benda itu dari laci meja.
"Ini Ra__" menyodorkan ke depan.
Ara segera menerimanya, mata Sonya menatap pada dua cincin mewah di jari Ara saat menerima tip-X.
"Makasih Son ...," ucap Ara tersenyum.
Sonya mengangguk.
"Pantas saja cincin yang di pakainya sangat mahal dan mewah, ternyata Itu dari tuan Ravendro. Tapi itu cincin apa? Pertunangan kah?" batinnya kembali.
"Tapi tak ada berita pertunangan maupun pernikahan tuan Ravendro. Bahkan saat dia masih bersama Levina pun tak tersiar kabar pertunangan mereka. Levina sempat memamerkan tentang pernikahannya dulu,
tapi tidak ada klarifikasi dari Presdirnya. Malah bosnya membantah isu pernikahan itu dan mengatakan hubungannya bersama Levina sudah berakhir hampir dua tahun yang lalu. Dan mengenai pernikahan yang di sebarkan oleh Levina, adalah pernikahan Levina dengan orang lain, bukan dengan dirinya." batinnya lagi.
"Mungkin kah itu hanya cincin pemberian Presdir sebagai wanita simpanannya? Tapi masa sih Ara adalah wanita Presdir? Begitu banyak wanita cantik dan seksi mengejarnya, Menginginkan dirinya dengan menggunakan berbagai caranya, kenapa malah memilih Ara? Dan masa iya bos punya wanita simpanan? Karena dia pria tertutup, dingin pada wanita, angkuh dan pemarah. Tidak sembarang dekat apalagi berhubungan perempuan. Apa semua Itu hanya bohong? Yang aslinya bos suka main perempuan dan sala satunya adalah Ara?" berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
Sonya kembali memperhatikan Ara.
"Apa yang membuat pimpinan tertarik kepadanya?" menatap Ara dengan menyelidik.
Rambut keriting dengan poni tebal, garis kening tebal hitam yang di garis asal dan kacamata tebal. Tapi kulitnya putih mulus bersih, body goals, seksi dan indah. Semakin di tatap dalam dalam dan cermat, ada kecantikan dari balik kaca mata tebalnya.
Di matanya, Ara gadis yang sangat baik, cerdas, sederhana, pendiam, ramah dan murah senyum, rajin beribadah, sedikit ngomong bicara seadanya, bicaranya pelan dan lembut, suka membantu. Banyak karyawan yang menyukai dirinya karena sifatnya yang Altruisme itu.
Dalam seharian 5 Sampai 6 orang yang meminta bantuannya. Dan Ara dengan senang hati membantu tanpa mengeluh. Dia sendiri terkadang selalu meminta bantuan Ara.
Tapi sayangnya Ara gadis cupu dan kampungan di lihat dari penampilannya yang sederhana. Sangat jauh dari level seorang Ravendro, pengusaha muda tampan, sukses tajir melintir banyak di gilai, di inginkan wanita berkelas, cantik seksi termasuk dia sendiri. Dia sangat mengagumi ketampanan Rafa. Dan karena itu dia meminta magang di perusahaan ini.
Waktu terus bergulir. Jam istirahat tiba. Para karyawan menuju kantin, ada juga yang masih di meja kerja. Dan ada yang lebih memilih duduk berkumpul sambil ngobrol.
"Ra, ayo ke kantin." ajak beberapa karyawan.
"Iya, nanti saya akan menyusul."
"Mau shalat dulu?"
"Iyah buk," jawab Ara sopan.
"Baiklah, kami duluan ya ?"
Ara mengangguk tersenyum. Sonya bangkit dari duduknya, setelah membereskan atk di mejanya. "Ra, yuk ke kantin." ajaknya.
"Kamu duluan aja Son. Aku mau dzuhur dulu." mengambil mukena di dalam tas.
"Aku tunggu kamu aja Ra, aku malas pergi sendiri." kata Sonya.
"Ya udah, bentar ya?" Ara segera menuju ruang tersendiri yang telah di sediakan Rafa untuk tempat dia shalat, agar tidak turun naik keburu waktu habis dan membuat dia tidak sempat ke kantin.
7 menit berlalu, datang seorang penjaga keamanan mendekat ke meja Ara.
"Permisi, apa ini meja kerja Nona Azahra Radya Almira?" tanyanya pada Sonya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sonya mengangkat kepala dan melihatnya.
"Iya benar, ini meja kerjanya. Dia sedang shalat. Ada apa pak?"
"Ada titipan untuknya."
"Berikan pada saya, nanti akan saya sampaikan padanya." kata Sonya.
Penjaga keamanan segera meletakkan paper bag kecil di tangan Sonya, lalu dia segera pamit pergi.
__ADS_1
Sonya menengok ke dalam paper bag, isinya ternyata ponsel milik Ara. Sonya segera meletakkan paper bag itu di meja Ara dan kembali sibuk dengan gadgetnya.
Tiga menit berlalu terdengar bunyi dari paper bag Ara. Sonya mengambil ponsel dari paper bag untuk melihat siapa yang menelepon.
Tapi ternyata bukan panggilan masuk hanya pesan masuk. Mata Sonya melihat isi pesan yang muncul di layar.
"Sayang, sudah shalat?" pengirim kakak ipar.
Wajah Sonya mengernyit. Dia ingat pesan yang masuk di HP Ara lalu, yang mengatakan kalau dia sangat merindukan Ara dan menyuruh Ara datang ke ruangannya. Pengirim kakak ipar.
Dan sekarang pengirim pesan ini juga sama dengan yang dulu. Jadi pengirim pesan pesan ini adalah presdir? gumam Sonya.
Dan kakak ipar? Apa presdir kakak iparnya?
Bunyi pesan masuk kembali membuat Sonya kaget.
"Sayang, jangan lupa makan ya dan minum obatmu, aku mencintaimu."
Sonya terbelalak.Tangannya gemetar. Dia segera memasukkan ponsel Ara, jantungnya berdegup kencang. Sonya tidak tahu harus berbuat apa. Dia masih terkejut dengan isi pesan itu. Antara percaya dan tidak.
"Presdir mencintainya?"
Sonya segera menuju ruang tempat Ara shalat setelah pikirannya tenang. Dia juga merasa heran, sejak Ara magang di tempat ini, ruang shalat ini di sediakan. Padahal ada mushalla di lantai 53. Yang di sediakan untuk karyawan.
Di lihatnya Ara sudah selesai shalat, duduk dan melipat mukena.
Sonya segera mendekat dengan pelan, tanpa memanggil, karena ada beberapa karyawan yang masih melaksanakan shalat. Dia tidak ingin suaranya mengganggu orang yang sedang beribadah..Saat berada di belakang Ara dan hendak menyentuh pundaknya, Sonya kembali terbelalak melihat tanda merah dan ungu di tengkuk dan leher kanan Ara. Dia melihat dengan jelas karena rambut Ara di cepol ke atas. Mungkin karena mengambil air wudhu membuat Ara mengikat rambutnya ke atas.
Sonya terkesiap, dia segera mundur sebelum Ara mengetahui keberadaannya. Sonya segera memposisikan dirinya berdiri di pintu masuk, sambil terus menatap Ara.
"Apa presdir yang membuat tanda Kiss mark sebanyak itu?" ingatannya melayang apa yang di lihatnya tadi pagi, saat Rafa mencium Ara di dalam mobil. Ciuman bukan hanya di bibir, tapi juga pada tengkuk, telinga dan leher Ara.
Degup jantung Sonya semakin kencang, pikirannya entah kemana. Bunyi pesan masuk kembali mengagetkan nya. Dia kembali sadar dari lamunannya. Setelah memenangkan diri sesaat, dia segera memanggil Ara pelan.
"Ra... Ara..." suara di rendahkan.
Ara menoleh.
"Son, Tunggu bentar,"
Ara segera melepas jepit rambut, mengurai rambut keritingnya ke samping kiri kanan, dan sebagian di urai ke depan begitu melihat Sonya mendekatinya. Pergerakannya itu tidak luput dari mata Sonya. Dia tahu Ara mengurai rambutnya untuk menutupi tanda di lehernya.
Ara segera bangkit berdiri dan mendekatinya.
"Maaf ya kelamaan menunggu."
"Gak juga sih Ra. Ini ada yang menitip sesuatu untuk mu, aku lihat kedalam sepertinya ponselmu." menyerahkan paper bag ke tangan Ara.
"Aku sengaja menyusul mu kemari karena sejak tadi ponsel Itu berbunyi. Mungkin saja ada telepon penting atau pesan yang masuk." sambungnya kembali.
Ara menerima paper bag."Makasih, ini memang ponselku. Semalam rusak. Saat ke kantor tadi, aku menitipkan di tempat servis. Aku meminta untuk di antar ke kantor jika sudah di perbaiki." ujar Ara.
"Ya sudah, di buka saja, mungkin ada hal penting, sejak tadi berbunyi terus." kata Sonya.
Ara mengangguk, dia Segera memasukkan kata sandinya, tanggal lahir Rafa yang memang sengaja di tulis Rafa. Sedangkan ponsel Rafa menggunakan tanggal lahirnya.
Ara menjauh sedikit dari Sonya setelah melihat siapa pengirim pesan, dia segera membalasnya sesaat, lalu memasukkan kembali ke paper bag.
"Ayo Son, kita ke kantin."
"Udah selesai?" menatap wajah Ara yang tidak ada reaksi apapun setelah membaca pesan dari itu. Seharusnya wajah itu terlihat senang dan bahagia mendapat pesan cinta dari orang yang mencintainya. Tapi ini wajah Ara terlihat biasa.
"Dari siapa Ra? Kekasih ya?" Sonya menggoda dan sedikit mencari tahu.
Ara tersenyum."Bukan, ayo ke kantin, nanti waktu istirahatnya habis."
Alis Sonya terpaut.
"Kalau bukan dari kekasih berarti benar kau hanyalah simpanan presdir? Simpanan kakak ipar mu? Apa presdir kakak ipar mu? Apa kau adik ipar dari Presdir? Dan kalian menjalin hubungan terlarang?" batinnya kembali.
Dia segera mengikuti langkah Ara dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih yang masih setia. Tinggalkan jejak dukungan ya