Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 174


__ADS_3

Rafa duduk di sofa bed kamarnya hanya dengan memakai celana bokser pendek di lapisi jubah tidur yang di ikat asal pada


perutnya. Pandangannya menatap lurus pada tubuh Ara yang berbaring di ranjang tidurnya di tutupi selimut tebal dari kaki hingga pipinya. Ara yang tertidur dengan Posisinya yang berbaring miring membuat Rafa dapat melihat sebagian wajahnya yang mengarah kepadanya.


Sudah sejam yang lalu Ara tidur dan Rafa terus menatapnya. Sesekali terdengar suara cegukan dari mulut Ara meski ia sedang tertidur nyenyak. Itu karena sebelum tidur Ara banyak menangis sehingga terbawa sampai tidurnya.


Rafa membuang nafas pelan mengingat kejadian di bawah guyuran air shower tadi. Ara menangis ketika dia terus menyerang tubuhnya. Tangisan kuat serta perlawanan yang Ara berikan tidak menyurutkan hasratnya untuk terus mencumbui tubuh gadis itu. Hingga akhirnya Ara kelelahan sendiri tak punya kekuatan lagi untuk beradu otot dan tenaga dengannya. Kekuatan Ara melemah, Ara kelelahan sendiri hingga akhirnya pasrah dengan apa yang dia lakukan.


Tak puas mencumbu Ara di kamar mandi, dia melanjutkan kembali di atas ranjangnya. Tak perduli dengan tangisan Ara yang memintanya untuk berhenti. Dia ke canduan. Dan berhenti sampai gadis itu tertidur.


Dia mendengar Ara terus berkata"Jangan sentuh millik ku, jangan sentuh kehormatanku "


Ara terus mengucapkan kata-kata itu di sela sela tangisannya. Hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis dan rasa ngantuk yang menyerang.


Rafa kembali membuang nafas berat. Lalu mengusap wajahnya kasar mengingat apa yang di lakukannya pada Ara. Perlahan dia bangkit menuju nakas mengambil handphonenya. Lalu mengetik pesan dan mengirimkannya. Kemudian mematikan alarm Subuh.


Perlahan dia merangkak naik ke tempat tidur membaringkan tubuhnya di samping Ara.


Menatap wajah Ara yang tertidur pulas, dengan ujung mata yang basah.


Rafa terus menatap wajahnya tak berkedip .


"Jangan sentuh milik ku." terdengar lagi suara dari mulut Ara. Kata kata itu terbawa hingga ke alam tidurnya.


Rafa menyentuh bibirnya lembut dan mengecupnya sesaat.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang." bisiknya pelan. Merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan. Perlahan dia memejamkan mata karena netranya terasa berat dan lelah. Tak lama dia pun tertidur.


****


Pagi menyapa.


Para penghuni rumah megah dan besar itu mulai bangun satu persatu. Tak terkecuali Maya dan Levina. Mereka terkejut ketika mengetahui Rafa sudah kembali. Mereka tidak mengetahui kepulangan Rafa semalam. Karena yang mereka tahu Rafa akan kembali nanti esok hari. Ketakutan mulai terlihat dari wajah masing masing. Kepulangan Rafa yang tiba tiba sudah pasti karena perlakuan buruk yang mereka lakukan pada Ara. Tapi siapa yang berani melapor kan pada Rafa?


Maya dan Levina mengintrogasi setiap pelayan dengan ancaman dan hukuman supaya mengaku.Tapi mereka tetap bersikeras mengatakan tidak melaporkan pada Rafa.


Maya dan Levina semakin cemas dan mempersiapkan diri, tapi Maya tidak takut.


Mereka sudah menyiapkan bukti bukti untuk membela diri dan juga untuk mengusir Ara dari rumah ini dan juga dari hidup Rafa.


Waktu menunjukkan pukul 06.30, mereka sudah siap di meja makan. Makanan sudah di hidangkan di atas meja dan tertata rapi, tinggal menunggu penguasa rumah ini turun.


"Tidak biasanya tuanmu seperti itu. Apa yang membuatnya kesiangan bangun ?" tanya Maya.


"Tuan capek dan mengantuk karena bekerja semalaman." jawab Wisnu, lalu segera kembali ke atas.


Hal itu membuat Maya dan Levina menarik nafas lega, setidaknya untuk sesaat. Karena dari tadi mereka cemas dan tidak tenang.


Mereka segera memulai menyantap sarapan pagi setelah Wisnu kembali ke atas.


Levina merasakan keanehan melihat Ara juga tak turun, dia berbisik pada Maya mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Mungkin dia masih tertidur karena capek dan lelah bergadang semalaman menangis," bisik Maya padanya.


Sementara di kamarnya, Ara menggeliat di atas tempat tidurnya. Tubuhnya terasa pegal, otot otot nya terasa sakit dan kaku. Dia memperhatikan sekelilingnya, sadar telah berada di kamarnya sendiri. Dia mengumpulkan kesadarannya mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Setahunya Rafa membawa dirinya ke kamar Rafa, tepatnya di atas ranjangnya dan mencumbuinya di sana. Tapi kenapa dia sekarang berada di sini?


Ara membuka selimutnya untuk melihat tubuhnya, memakai daster yang sudah berubah. Apa kakak ipar yang membawa ku kesini? Apa dia juga yang mengganti pakaianku? batinnya.


Ara jadi pusing memikirkannya, hanya air matanya yang kembali mengalir mengingat apa yang di lakukan Rafa padanya semalam.


Dia meraih handphonenya.


Apa? terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Berarti aku ketiduran dan tidak melaksanakan shalat subuh? gumamnya.


Dengan cepat dia bangun dan masuk kamar mandi.


"Mereka pasti sudah menungguku untuk sarapan."


Saat membuka pakaian, Ara terkejut melihat keadaan tubuhnya di cermin kamar mandi. Tubuhnya penuh dengan tanda merah. Sebagian berwarna keunguan. Dadanya sesak, air matanya kembali jatuh di kedua pipinya. Dia menangis mengingat cumbuan Rafa hingga membuat tubuhnya banyak tanda seperti ini.


Ara segera mengguyur tubuhnya. Matanya di rasakan sakit dan bengkak karena banyak menangis. Bibirnya juga di rasakan bengkak dan tebal. Karena kakak iparnya menyerang dengan brutal tanpa henti. Ara kembali terisak mengingat kejadian kejadian itu.


Secepatnya dia menyelesaikan ritual mandinya.


Sudah pasti dia akan kena marah lagi karena turun terlambat. Tapi kenapa pak Sam tidak datang memanggilnya ? Biasanya pelayan itu akan datang ke kamarnya memanggil untuk sarapan pagi.


******

__ADS_1


Segini dulu halunya saya. Tinggalkan jejak dukungannya ya....


__ADS_2