
...Happy Reading....
Tania memukul permukaan wastafel dengan kuat, melampiaskan kemarahan dan rasa sakit. Matanya menyorot tajam menatap wajahnya di cermin.
"Siapa wanita itu? Siapa wanita yang di ciumnya itu?" kedua tangan terkepal kuat.
"Siapa wanita yang bisa menyentuh, memeluk, mencium tubuh Rafa dengan bebas." geramnya kuat.
Banyak wanita yang mengejar Rafa, ingin menjadi wanita dan kekasihnya termasuk dia sendiri. Begitu mengagumi dan sangat mendamba pengusaha muda tampan sukses itu. Tapi jangankan untuk bisa menjadi kekasihnya, untuk bisa dekat dan menyentuh permukaan kulitnya saja sangat sulit. Tapi wanita itu? Tania kembali mengeram kuat, membayangkan Rafa menciumi wanita itu dengan penuh gairah tak perduli dengan keberadaan mereka di toilet umum. Bahkan melakukan hal mesum di dalam kamar mandi. Dia tidak menyangka Rafa bisa melakukan hal rendah itu. Karena setahunya Rafa adalah pria yang sangat kharismatik, berwibawa, tertutup, sangat menjaga image dan reputasinya, tidak sembarang dekat wanita apalagi bersentuhan dengan wanita. Rafa pria dingin dan angkuh terhadap wanita. Semenjak masih bersama Levina saja, Rafa tidak pernah dan tidak mau mencium Levina di tempat terbuka seperti itu. Tapi dengan wanita itu?
"Aaargghhhh." Tania kembali memukul permukaan wastafel dengan geram mengingat apa yang di lihatnya tadi.
"Rafa sudah tidak bersama Levina sudah sangat lama. Apa wanita itu kekasih barunya?" gumamnya lagi. Tapi setahunya Rafa tidak pernah dekat dengan wanita manapun setelah meninggalkan Levina.
"Aku harus mencari tahu wanita itu, aku tidak rela Rafa di miliki wanita lain. Sudah lama aku mengejar dirinya. Aku tidak akan mundur dan menyerah pada wanita sialan itu."
Tania tersenyum sinis. Mengingat kembali hal mesum yang di lakukan Rafa tadi.
"Kau pria munafik Rafa, kalau kau menginginkan sentuhan dan kehangatan, aku bisa memberikannya dengan senang hati. Kau benar-benar munafik, ternyata kau juga sangat butuh sentuhan dan hangatnya tubuh wanita."
"Aku harus mencari tahu wanita itu." Tania bergegas keluar dan masuk kembali ke toilet tadi, tapi Rafa dan wanita itu sudah tidak ada di sana. Tania menengok ke atas, memeriksa apa ada kemera cctv terpasang, tapi rusak. Begitu juga CCTV yang berada di depan pintu masuk toilet.
Tentu saja telah rusak, karena Wisnu mengatasi sudah benda pemantau itu.
Tania segera melangkah ke luar mencari Rafa untuk mencari Rafa. Dia celingukan mengarahkan pandangannya ke sekeliling Mall. Siapa tahu saja Rafa masih bersama wanita itu di luar. Tania tersenyum lega melihat Rafa bersama dengan wanita itu. Mereka tampak berbincang dengan beberapa rekan bisnis Rafa. Ada juga Moly dan Wisnu bersama mereka.
Tania segera mendekat pada mereka, mencuri pandang pada wanita itu. Berdiri di sebelah Moly. Tania melihat wajahnya dengan cermat. Dia mengingat ciri wanita itu, tinggi semampai, ramping, kulit putih rambut keriting panjang terurai, memakai jeans biru dan kemeja coksu lengan pendek.
"Yaa memang dia orangnya." katanya dalam hati.
"Hay Tania, kau dari mana saja, aku pikir kau sudah pulang." seru Moly melihat dirinya.
Tania sedikit gugup. Lalu segera mendekat."Aku tadi pergi ke toilet." katanya sambil melirik pada Rafa. Tapi Rafa tidak memperhatikannya dan terus bicara pada rekan bisnisnya.
"Tuan Ravendro, saya pamit dulu.Terimakasih atas souvernirnya." kata wanita itu pada Rafa.
"Terima kasih atas kunjungannya Fani. Dan terima kasih juga untuk sesuatu yang terjadi pada kita tadi." Rafa tersenyum sambil menoleh ke arah toilet dengan sedikit malu.
__ADS_1
"Aku sangat menyukainya." sambung Rafa kembali sambil tersenyum menggoda.
Senyum wanita itu melebar.
"Aku juga sangat menyukainya tuan. Kapan kapan kita buat rencana untuk ketemu lagi." kata wanita bernama Fani suara lembut nada mendayu. Senyum manis tak lepas dari wajahnya.
"Dengan senang hati. Aku akan segera menghubungi mu!" Rafa membalas senyumannya.
Tania memaki dalam hati melihat tatapan keduanya yang saling menggoda. Terlebih lagi mendengar janji mereka akan bertemu kembali.
"Ternyata nama wanita itu Fani. Apa menariknya dia? Biasa saja tak ada yang istimewa__jelek dan kampungan. Aku lebih cantik dan seksi. Tapi Kenapa Rafa tertarik kepadanya?" batinnya sembari memerhatikan melihat wanita itu dari atas hingga bawah.
"Lihat saja__aku akan memberimu pelajaran." batinnya kembali tersenyum menyeringai menatap kepergian wanita itu.
"Tania, kamu dari mana tadi? Kau belum menjawab pertanyaan ku." Moly kembali menegurnya.
"Tadi aku ke toilet, mencari tuan Rafa. Aku melihat dia salah masuk toilet wanita."
"Benarkah? Toilet sebelah mana? Soalnya aku tidak melihat mu?" ujar Rafa.
Tania merutuk kesal."Tentu saja kau tidak melihat dan mendengar suaraku. Karena kau sedang enak enak mesum tanpa tahu diri dan tak punya rasa malu," batinnya kesal.
"Tentu saja pak Rudi, mari silahkan."
"Silahkan pak." Wisnu juga mempersilahkan.
Mereka beranjak pergi. Meninggalkan Tania tanpa kata. Dan itu membuat Tania kesal karena tidak di hargai.
"Tania, apa kamu masih ingin di sini? Aku juga akan pergi karena masih ada pekerjaan di kantor." kata Moly.
"Sebentar Moly, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?" dahi Moly mengerut.
"Siapa wanita yang bersama kalian tadi?"
"Wanita yang mana?"
__ADS_1
"Yang baru saja pergi."
"Namanya Fani. Aku tidak mengenalnya secara dekat, mungkin dia teman Tuan Rafa. Aku baru mengenalnya saat di kenalkan oleh tuan Rafa tadi." kata Moly.
"Ada hubungan apa mereka? Sepertinya mereka dekat." tanya Tania mencoba mencari tahu hubungan Rafa dan Fani. Mungkin saja Moly tahu.
"Aku tidak tahu. Aku pun baru melihatnya tadi. Sudah ya, aku pergi dulu."
"Baiklah Moly, aku juga mau pergi, ada yang harus aku selesaikan."
"Oke, sampai ketemu lagi, bye___!" Moly segera beranjak pergi.
Tania juga bergegas pergi, sedikit berlari masuk ke dalam Lift untuk mengejar wanita yang bernama Fani. Dia melihat dari atas wanita itu turun menggunakan tangga eskalator.
Di parkiran, wanita yang bernama Fani itu terkejut. Saat dia hendak masuk mobil tubuhnya di dorong kuat ke dalam. Dia terjerembab dan dahinya membentur setir mobil. Dia meringis kesakitan.
"Siapa kau?" Fani berusaha untuk bangun dan melihat orang yang menyerangnya.
"Kau? Kenapa kau menyerang ku?" kaget setelah mengingat wajah Tania.
Tania tersenyum menyeringai, dia kembali mendorong tubuh Fani kuat, lalu memutar tangannya ke belakang. Fani menjerit kesakitan merasakan tangannya terasa patah.
"Ini peringatan untukmu. Jauhi tuan Ravendro, jangan coba coba mendekatinya lagi. Menjauhlah darinya selama lamanya." katanya bengis wajah sangar. Lalu mendorong kuat tubuh Fani hingga kepalanya membentur pintu sebelah. Fani kembali menjerit kesakitan.
Tania segera menutup pintu mobil dengan keras. Memperhatikan sekelilingnya, lalu segera melangkah pergi dengan terburu-buru.
Sedangkan wanita yang bernama Fani itu tersenyum menyeringai menatap kepergiannya. Ternyata apa yang di pikirkan Tuannya, Wisnu benar. Tania akan menyerang Ara, Istri bos besar mereka, Rafa. Wanita yang di lihat oleh Tania di toilet tadi berciuman dengan bos mereka.
Bisa saja Fani membalas perlakuan Tania, bahkan mematahkan tulang tulang wanita itu. Tapi dia menahan diri karena teringat perintah Wisnu untuk tidak membalas perlakuan
jahat Tania demi Istri bos mereka, Ara.
...Bersambung....
Terimakasih yang masih setia dengan
Rafa dan Ara π
__ADS_1
Tinggalkan jejak dukungan ya, like, komentar, vote, rate bintang lima, hadiah Kopi dan masukan ke favorit β€οΈ.