
Wisnu melarikan Lamborghini warna hitam dengan kecepatan sedang, untuk mengusir kebosanan, ia memutar sebuah lagu dari Lewis Capaldi " Someone you loved "
Sedangkan Rafa nampak menyandarkan kepalanya pada jok kursi mobil dengan mata terpejam.
Wisnu melirik sebentar dari kaca tengah,
sebagai orang yang paling dekat, dan selalu bersama setiap saat, hanya dia yang tahu tentang kehidupan dan masalah yang di hadapi tuannya.
Layar ponselnya menyala, dia segera meraih benda tipis itu, nama Levina tertera di sana.
"Cih.. wanita tidak tahu diri." ucapnya ketus seraya mematikan panggilan telepon, dan menonaktifkannya.
Dia tak ingin tidur tuannya terganggu dengan panggilan panggilan telepon tak bermanfaat dari wanita itu.
Karena setiap panggilan dan pesan dari Levina isinya rayuan gombal yang berujung pada duit.
Baginya Levina adalah perempuan murahan yang tidak tahu diri, tidak punya malu dan harga diri. Sudah berkhianat dan selingkuh masih saja mencari dan menghubungi tuannya.
Wisnu menambah sedikit volume musik dan kembali memfokuskan diri ke depan.
Tidak lama mobil mewah itu memasuki kawasan apartemen mewah milik tuannya yang berada di pusat kota dekat dengan kawasan CBD .
Apartemen yang dinamakan AZ'FA adalah salah satu properti milik Rafa dengan tipe unit 3BR di dominasi oleh tipe tiga kamar tidur dengan fasilitas yang mewah . sistem keamanan 24 jam, private lift lobby terbuka, setiap unit terdapat dua lift di lengkapi dengan water view di dalam di setiap unitnya .
Selain Itu apartemen yang dekat dengan sekolah internasional, rumah sakit, dan sejumlah shopping mall itu menyediakan fasilitas kolam renang, lapangan tenis, fitness center, sauna, child care, maid servis, laundry servis hingga handycam service dan masih ada lagi fasilitas lainnya guna memuaskan para penghuninya.
Dan hunian untuk Rafa, dia membangun tersendiri di lantai bawah secara terpisah tidak menyatu, berjarak 300 m dari bangunan apartemennya karena ada beberapa alasan.
Tapi dia juga memiliki satu unit apartemen di lantai paling teratas, tapi kadang di tempatinya.
__ADS_1
Yang di tempati adalah huniannya yang berada di bawah, yang akses masuknya melewati jalan tersendiri berada di belakang menggunakan lorong rahasia yang tidak di ketahui orang luar kecuali dia, Wisnu, Rizal, Moly, pak Sam dan Narsih.
Tak banyak yang tahu tentang apartemennya itu, termasuk Raka, mamanya, Nesa dan juga Levina tidak mengetahuinya. Yang mereka tahu hanya apartemennya yang berada di lantai teratas.
Rafa membuka pakaiannya hingga menyisakan boxer, lalu segera masuk kamar mandi, dia merendam tubuhnya sesaat di dalam buth yang penuh busa, lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Ada rasa perih di rasakan pada perut dan pahanya begitu perban di buka, luka jahitan yang belum sembuh benar terkena air, padahal Rizal selalu memperingatkan agar jangan sampai kena air dulu. Di tambah lagi dia tidak meminum obatnya, membuat lukanya tidak kunjung kering dan sembuh.
Rafa segera keluar setelah membersihkan tubuh dari atas hingga bawah.
Wisnu yang nampak sudah berganti pakaian kasual dengan tubuh yang sudah fresh memberikan handuk kecil pada tuannya, dia memperhatikan luka tuannya yang sudah tertutup oleh jahitan benang tanpa perban lagi.
Rafa memakai celana boxer pendek sepaha dan kous T-shirt O putih polos tipis berbahan halus dan lembut sehingga membuat tubuh kekarnya berotot terlihat terpahat dari luar,
dia segera duduk di atas sofa menyandarkan tubuhnya.
Wisnu segera berlutut di depannya dengan kotak obat, dia mengeluarkan kasa spons, plester dan cairan antiseptik untuk mengganti perban tuannya.
Rafa hanya menarik nafas, dia mengerti akan kekhawatiran sekretaris pribadinya ini pada dirinya.
"Ambilkan aku air minum."
"Baik tuan." melangkah ke lemari pendingin,
dan meraih sebotol air mineral lalu menyerahkan pada tuannya
"Tuan, pak Haryanto tadi mengirimkan pesan."
Rafa meneguk minuman, lalu menatap pada sekretarisnya ini.
__ADS_1
"Apa katanya ?"
"Tuan Raka membayar semua tagihan makan malamnya." agak ragu Wisnu menjawabnya.
Dia melihat kekecewaan yang langsung terlihat dari wajah tuannya.
Rafa menghembuskan nafas berat, bangkit menuju tempat tidurnya.
Dia merebahkan diri dengan meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, lalu memejamkan mata.
Wisnu memperhatikan, dia tahu apa yang kini
di pikirkan dan di rasakan oleh tuannya.
Perlahan dia mendekat.
"Tuan, ada rekaman video juga yang di kirim pak Haryanto, rekaman video dari ruangan dinner tuan muda dan nona Ara."
Rafa langsung membuka mata dan menoleh pada Wisnu yang berdiri dekat tempat tidurnya.
Dia segera bangun dan menerima ponsel yang di sodorkan oleh sekretaris pribadinya itu.
"Apa pihak restoran melihat rekaman ini?" menatap tajam pada Wisnu.
"Tidak tuan, mereka tidak akan seberani itu, anda tidak perlu cemas, saya bisa memastikan hal itu. Dan rekaman itu juga sudah di hapus oleh pak Haryanto."
"Pergilah, istrahat kan dirimu."
"Baik tuan." Wisnu menundukkan kepalanya, lalu berjalan mendekati pintu dan keluar menuju kamar lain yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
*****
Happy Reading ππ