
Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Ara melihat pramugari sedang menyiapkan minuman dan makanan ringan di meja tempat Rafa dan relasi bisnisnya duduk. Sedari tadi telinganya mendengar pembicaraan yang serius dari mereka. Terkadang terdengar gelak tawa.
"Sayang, Mau makan atau minum sesuatu ?" tanya Raka melihat Ara yang sedang memperhatikan arah kakaknya.
"Nggak kak, aku nggak ingin makan dan minum. Oh ya, kakak ipar lagi bersama siapa? sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting." Ara menjawab sekaligus bertanya.
"Itu relasi bisnis kakak yang baru, sala satu CEO dari Amerika bersama sekretaris dan asistennya. Dan sudah pasti mereka sedang membicarakan perihal bisnis. Mereka ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kakak. Itulah kenapa kakak mengajak kita pulang tiba-tiba, karena dia ada pertemuan mendadak seperti ini. Dan pagi ini kak Rafa juga ada pertemuan penting dengan perwakilan dari dubai." Raka menjelaskan alasan kepulangan mereka secara mendadak, karena Rafa tadi meneleponnya mengatakan hal itu.
Ara manggut-manggut mengerti dengan mulut mengerucut. Dia baru tau sekarang, ternyata kakak iparnya memang seorang pekerja keras.
Ara kembali mengarahkan wajahnya melihat ke arah meja kakak iparnya, memerhatikan wajah tamu bule itu.
Rafa yang secara diam-diam memperhatikan Ara melihat kepada mereka, segera melihat pada gadis itu. Ara cepat cepat memalingkan wajahnya dan berbalik ke depan. Rafa tersenyum tipis.
Tidak berapa lama kemudian Pramugari kembali mendekat ke arah mereka, setelah sebelumnya tadi datang membawa bantal dan selimut buat mereka. Wanita cantik itu tersenyum ramah dan sopan sambil membawa makanan, minuman dan snack.
"Terimakasih mbak." ucap Raka.
"Sama sama tuan, apa anda berdua butuh sesuatu ?"
"Tidak ada." jawab Raka segera.
Sang pramugari tersenyum manis lalu segera pergi meninggalkan mereka. Ara memperhatikan makanan yang tertata rapi di meja depan mereka. Makanan dan minuman yang sama seperti di meja kakak iparnya.
"Apa kakak yang meminta ini semua?" tanyanya menoleh pada Raka.
"Tidak. Mungkin kak Rafa yang nyuruh mengantarkan pada kita." Jawab Raka sambil meneguk air putih.
Ara kembali menengok kearah belakang kanannya, dia melihat Rafa dan para tamunya sedang menikmati makannya dan tetap asyik mengobrol. Dan pramugari itu sedang duduk di kursi bagian belakang mereka.
Ara menarik nafas pelan lalu menghembuskan juga pelan.
"Makanlah sayang." ucap Raka padanya.
"Aku gak berselera kak. Aku gak lapar dan malas makan." Ara menatap semua makanan itu dengan tidak berselera. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena dia memang tidak ada nafsu makan. Apalagi di jam jam seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa juga pramugari gak nanya dulu kalau kita butuh makanan atau tidak? Langsung datang bawah aja, kan mubazir kalau gak di makan begini." kata Ara kembali. Tapi dia kagum akan pelayanan di dalam pesawat ini.
Setiap 10 menit sekali pramugari itu selalu datang menghampiri mereka untuk menanyakan apa mereka butuh sesuatu.
Raka tersenyum mendengar ucapannya.
"Kak Rafa pasti yang nyuruh ngantar semua ini. Mungkin kak Rafa mengira kamu butuh makanan dan minuman. Karena kamu sering melihat ke arah mereka saat pramugari meletakkan makanan mereka."
Dahi Ara mengernyit.
"Aku hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan dan juga melihat wajah relasi bisnis kakak ipar. Bukan melihat makanan mereka."
Raka tertawa kecil, lalu mengecup pipi kanan istrinya kuat. Ara yang bingung jadi ikutan tertawa dan membalas menyerang. Hingga akhirnya terjadi aksi kecup kecupan di antara mereka dan saling menggelitik di selingi gelak tawa hingga menarik perhatian dari tamu relasi bisnis Rafa.
Mereka memperhatikan kemesraan yang di lakukan pasangan suami-istri muda ini.
"Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Keduanya masih muda.Terutama adik ipar anda tuan Ravendro, dia masih belia." ucap sala satu di antara mereka yang melihat Ara yang sementara berada di pangkuan Rafa, berusaha membalas dan menyerang suaminya dengan mengecup pipi, bibir Raka, terus menggelitik telinga Raka dan menggigit kecil. Lalu di balas oleh Raka.
Rafa ikut bahagia melihat kemesraan kedua adiknya ini, meski ada sesak terasa. Selanjutnya mereka kembali meneruskan obrolan bisnis mereka.
"Oh ya kak, di mana kak Nesa, aku tidak melihatnya duduk bersama kita." tanya Ara yang teringat Nesa. Karena dia tidak melihat keberadaan Nesa di kabin pesawat.
Wajah Ara melongo
"Di sini ada ruang kamarnya juga?" tanyanya seakan kurang percaya dengan apa yang ia dengar.
Raka tersenyum mengangguk. Dia melihat rasa keingintahuan yang terlihat dari wajah istrinya.
Raka memegang wajah istrinya lembut.
"Sayang, pesawat ini punya kak Rafa." katanya pelan, membuat wajah Ara kembali melongo.
"Kamu pasti bertanya kenapa kita bisa langsung masuk tanpa melalui prosedur. Dan kenapa hanya ada kita di dalam pesawat ini? Karena pesawat ini adalah jet pribadi kak Rafa." Raka kembali menjelaskan sambil menatap lekat wajah cantik istrinya. Ibu jari kirinya mengusap pipi mulus dan bibir istrinya dengan lembut. Sementara tangan kanannya memegang tasbih. Raka mendekat dan mengecup benda kenyal alami itu, menciumnya sesaat dengan lembut. Ara membalasnya. Ciuman itu berhenti setelah 60 detik. Tanpa mereka sadari menarik perhatian Rafa dan tamunya.
"Pesawat ini di gunakan untuk mempermudah perjalanan bisnisnya kak Rafa, baik untuk keluar daerah maupun luar negeri." kata Raka kembali.
"Kalau kau ingin tidur dengan nyaman pergilah ke ruang kamar tidur, di dalamnya ada toilet pribadi. Tapi di luar juga ada toilet yang di sediakan untuk tamu. Ada juga dapur kecil untuk menyimpan dan menyiapkan makanan." sambungnya kembali panjang lebar menjelaskan isi dalaman pesawat mewah ini.
__ADS_1
"Pasti mahal banget ya kak, lihat aja interiornya sangat mewah. Aku selalu membaca beberapa majalah bisnis deretan pengusaha miliarder Indonesia yang mempunyai jet pribadi mewah, dari merk, jenisnya sampai harganya yang fantastis. Beberapa orang di sebutkan, tapi sebagian lagi nggak, karena menjaga privasi." ujarnya pelan.
Ara berpikir apa sebagian pengusaha yang tidak mau di sebutkan namanya itu termasuk kakak iparnya juga? Karena ia melihat kepribadian kakak iparnya yang sangat tertutup dari publik dan selalu menjaga privasi dari khalayak umum, baik kehidupan pribadinya dan juga pekerjaannya. Bahkan dia sendiri tidak tahu mengenai perusahaan kakak iparnya itu.
Tapi mungkin saja kakak iparnya itu termasuk salah satu dari deretan pengusaha miliarder itu, di lihat dari beberapa properti mewah miliknya, beberapa tunggangan mewah serta jet pribadi mewah ini. Juga dirinya adalah seorang CEO di perusahaan miliknya dan juga memiliki perusahaan cabang dan anak perusahaan di berbagai daerah tanah air sampai luar negri. Dia juga melihat juga dari karakter kakak iparnya yang notabene seorang pekerja keras. Sudah pasti memiliki segala sesuatu yang berbaur mewah.
Raka kembali tersenyum.
Cup ....dia mengecup sekilas bibir istrinya.
Ara terkejut, lamunannya buyar seketika. Dia tersenyum malu. Raka kembali mengecup bibirnya berulang. Dan terakhir mencium kening istrinya. Jika saja hanya mereka berdua, dia pasti akan kembali mencium bibir istrinya.
"Kalau bosan, pergilah ke ruang kamar, ada TV di sana, kakak mau sholat dulu." katanya kemudian.
Ara melihat jam tangannya. Sudah mau masuk jam tiga pagi.
"Aku di sini saja mau temani kakak." katanya seraya turun dari pangkuan suaminya.
Raka segera berpindah tempat duduk, menyendiri di kursi sebelah. Tepat di depan tempat duduk kakaknya. Lalu segera berwudhu dengan cara tayamum.
Rafa menoleh ke arahnya, dia sudah tau apa yang akan di lakukan oleh adiknya itu. Rafa segera mengisyaratkan kepada tamunya secara sopan untuk menutup mulut sejenak.
Ara tersenyum bahagia memandang ke arah suaminya yang sedang melakukan shalat. Dia mengucap syukur kepada Allah karena telah memberinya suami yang berakhlak baik, lembut, penyayang, sholeh dan taat beribadah.
Rafa dan teman bisnisnya menatap kembali
ke arah mereka berdua bergantian.
"Tuan Ravendro, ternyata tuan Raka benar. Di balik topeng dan kecupuan adik ipar anda, tersimpan sebuah wajah yang cantik mempesona. Pantas saja kalian menutupi wajah itu dengan topeng dan tidak memperlihatkan ke publik. Maafkan atas kelancangan ku tuan Ravendro, karena telah berani menatap adik ipar anda." ucap CEO dari Amerika itu menundukkan kepalanya sesaat.
Rafa mengangguk tersenyum. Dan terus menatapi Raka dan Ara bergantian. Keduanya memang pasangan yang sangat serasi. Sholeh dan Sholehah.
*******
Jangan lupa like , vote dan komentarnya ya
βΊοΈππππ
__ADS_1
Terimakasih untuk pembaca setia novel
Rafa Dan Ara πβΊοΈπ